Pages

30 June, 2015

[Review buku] To kill a mockingbird

Judul: To kill a mockingbird
Penulis: Harper Lee
Penerbit: Qanita
Dimensi: 536 hlm; 20,5 cm; Edisi gold cetakan I oktober 2010
ISBN: 978 602 8579 34 6

"Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya... hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya."

Semua berawal saat ayahnya, Atticus Finch memutuskan menjadi pengacara pembela seorang berkulit hitam--Tom Robinson--yang dituduh memerkosa anak gadis keluarga Ewell--seorang kulit putih. Perlahan Scout dan Jem merasakan ada hal yang berbeda. Kota kecil mereka, Maycoumb County ternyata tak seperti yang mereka kira selama ini. Ketenangan yang biasa mereka dapatkan perlahan berkurang. Banyak kecaman hingga ancaman mewarnai mereka. Sebab stigma negatif di kita kecil seperti Alabama pada tahun 60an masih begitu kuat, bahwa bila ada orang berkulit hitam melawan orang berkulit putih, maka ia pasti kalah.

Dengan sudut pandang seorang gadis kecil berusia delapan tahun, penulis mengemas dengan apik isu politik apartheid (perbedaan warna kulit), keadilan, dan prasangka manusia. Melalui tokoh sang ayah, Atticus, meskipun single parent, berusaha membesarkan kedua anaknya dengan cinta kasih, serta menanamkan hati nurani dan moral tentang keadilan dari perilaku kesehariannya yang tidak membedakan seseorang dari latar belakangnya. Pengacara yang berusaha untuk menegakkan keadilan, sejak dalam pikiran hingga perbuatan. Juga ada twist lain yang disiapkan penulis dan tak pernah disangka, mengenai tetangga pemalu mereka dalam suatu insiden, yang membuat Scout belajar bahwa hidup tidaklah melulu sesuai prasangka kita, hitam dan putih.

Mengenai judul yang sempat membuat saya bertanya-tanya, akhirnya saya temukan dalam halaman 179. Pengingkaran sepihak terhadap Tom si kulit negro, diibaratkan bagai membunuh seekir burung mockingjay--sejenis murai bersuara merdu--yang tak mengganggu hidup manusia. Dan itu dosa.

Akhirnya saya mengerti, mengapa novel klasik ini begitu kuat dan tak lekang oleh zaman. Sebab isinya selalu relevan dan begitu jujur, tanpa diksi yang berlibet. Ringan, bermakna dalam, dengan penggambaran karakter yang kuat, serta setting yang tegas, seakan semua sifat manusia diwakilkan dalam kota kecil tersebut. Sayangnya, sang penulis yang berhasil memenangkan pulitzer karena novel ini, hanya melahirkan satu novel ini saja sepanjang hidupnya. Sungguh masterpiece!

Saya mengapresiasi 5 dari 5 bintang.

"Hanya karena kita telah tertindas selama seratus tahun sebelum kita memulai melawan, bukanlah alasan bagi kita untuk tidak berusaha menang." (Hlm. 153, Atticus)

"Keberanian adalah saat kau tahu kau akan kalah sebelum memulai, tetapi kau tetap memulai dan kau merampungkannya, apa pun yang terjadi. Kau jarang menang, tapi kadang-kadang kau bisa menang." (Hlm. 219, Atticus)

"Tidak perlu menunjukkan semua yang kita ketahui. Itu bukan sikap perempuan terhormat--kedua, orang tak suka kalau ada orang lain yang lebih tahu dari diri mereka. Itu membuat mereka sebal. Kita tak bisa mengubah mereka dengan berbicara secara benar, mereka harus mau belajar sendiri, dan kalau mereka tak mau belajar, tak ada yang bisa kita lakukan kecuali tutup mulut atau berbicara dengan bahasa mereka." (Hlm. 243, Calpurnia)

"Terkadang aku merasa gagal total sebagai orangtua, tapi hanya aku yang mereka punyai. Sebelum Jem melihat siapa pun, dia melihatku lebih dulu, dan aku menciba menjalani hidup supaya bisa balas menatapnya... jika aku bersekongkol untuk hal seperti ini, terus terang aku tak akan mampu menatap matanya, dan bila itu terjadi aku tahu aku akan kehilangan dia. Aku tak ingin kehilangan dia dan Scout karena hanya mereka yang kupunya." (Hlm. 519, Atticus)

Meta morfillah

#Day30 Konsisten

Semua hal besar atau pun kecil itu mudah, bila dilakukan sekali-sekali. Yang sulit adalah bila dituntut untuk konsisten. Terutama konsisten dalam perkataan dan perbuatan. Walk the talk.

Seperti ajang #nulisrandom2015 ini... tak terasa sudah 30 hari kita lewati. Saya sendiri agak kurang disiplin dalam memposting tulisan, meski itu disebabkan sinyal yang kurang mendukung. Tapi, tetap saja saya merasa malu pada diri saya. Janji pada diri sendiri jauh lebih berat. Inilah yang sedang saya tumbuhkan dalam jiwa saya. Apresiasi dan disiplin akan hal-hal yang positif, meski dianggap remeh.

Menulis random selama 30 hari ini, membuat saya kembali teratur mengisi blog saya. Meski kadang saat saya membaca kembali yang saya tulis, terasa sangat random. Itu semua kilasan pikiran dalam otak saya. Otak yang terasa begitu penuh, bila tak dikeluarkan dalam sebuah tulisan.

Tak penting untuk kualitas saat ini, bagi saya, taraf saya adalah memperbanyak kuantitas dan kecintaan dalam menulis. Seakan menulis dan membaca adalah nafas. Saya ingin lama-lama terbiasa dengan udara tulisan.

Akhirnya, berakhir sudah program 30 hari #nulisrandom2015 ini, tapi insyaa allah tidak akan berakhir bagi saya. Saya akan tetap memecut diri saya untuk menghasilkan #1hari1tulisan. Semoga teman-teman juga berhasil menjaga terus kekonsistenan ini. Senang berteman dengan penulis, dan terima kasih untuk teman-teman baru di NulisBukuCommunity.

Meta morfillah

#Day29 Move on

Mau pergi sejauh apa pun, menghindar sebisa apa pun, bila akar penyebabnya belum disembuhkan, ya akan terus sakit.

Memang banyak yang bilang, cara terbaik dan tercepat untuk move on adalah jatuh cinta lagi. Tapi aku kurang setuju. Menurutku, sembuhkan dulu lukamu, baru kaumulai lagi jatuh cinta. Sebab bila tidak kausembuhkan dulu, besar kemungkinan kamu malah akan menyakiti cinta yang baru dengan kenangan lamamu.

Sering kujumpai, sudah move on tapi belum forget on. Berarti belum sembuh benar lukanya. Ini seperti tangan yang terluka, memaksa untuk berjabat tangan. Yang ada kamu semakin menyakiti dirimu.

Sembuhkan, meski butuh waktu. Sebab, cinta sejati tak akan pernah terlambat, ia akan selalu tepat. Tak perhitungan akan waktu. Percayalah, bila ia memang benar cinta sejatimu, ia pasti datang. Jangan gegabah, jangan memaksa. Sederhana saja, bila kalian tidak bersatu, ya berarti kalian bukan jodoh.

Meta morfillah

#Day28 Sudut pandang

28 Juni hari ini
Memang tidak hujan, tidak seperti kata Sapardi yang mengidentikkan Juni dengan hujan.

Tapi aku melihat banyak hujan dari dua bola mata beberapa kawan. Sebab hari ini istimewa. Acara berbuka bersama laskar langit. Anak-anak pilihan yang diberi ekstra ujian dengan diambilnya orangtua mereka sebelum tunai tugasnya. Ada banyak pembelajaran dari rangkaian hari ini. Selalu penyakit yang sama, koordinasi dan komunikasi. Semakin kompleks ketika kita memutuskan untuk bersinergi dengan pihak lain. Keikhlasan akan beragam khilaf yang terjadi karena ragamnya individu, ragamnya kepentingan, dan gesekan perasaan dituntut menjadi lebih besar.

Tahun yang berbeda bagi saya. Sebab, tahun ini saya sengaja ingin total larut di dalamnya. Tanpa beban karena pekerjaan. Tentu ada kelebihan dan kekurangan dibanding tahun lalu saat saya masih bekerja. Betapa perbedaan ini benar-benar membuat saya tersenyum dan menumbuhkan tenggang rasa yang lama terpendam. Saya kembali merasakan posisi saat saya masih mahasiswa, belum punya gaji, namun banyak waktu, dan tekanan di posisi itu. Sebab, saat saya bekerja tekanan itu tidak tampak. Makanya saya lebih banyak diam saat banyak yang melihat dari persepsi orang bekerja. Saya pernah di posisi itu. Pas sekali, di sebuah buku saya dapatkan kata-kata yang ingin saya lontarkan bagi mereka yang hanya berpikir dari sudut pandang mereka sendiri. Yang mungkin sudah lupa saat mereka meniti tangga kesuksesan dahulu.

"Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya... hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya." (Harper Lee - To kill a mockingbird)

Mungkin, saat kita sudah banyak menelaah dengan beragam sudut pandang, kita akan lebih banyak diam. Berusaha mengambil jalan keluar terbaik. Berusaha bijak, meski rasanya tenggorokan melesak.

Meta morfillah

#Day27 Buku

Kamulah yang paling setia menemaniku, terutama kala aku sakit
Memberi penghiburan saat aku tak berdaya
Mengajakku berkelana tanpa banyak wacana
Memberiku nasihat kala aku tersesat
Mengajak hatiku berbincang saat gamang
Mengizinkanku sejenak keluar dari menjadi-diriku ke seseorang-di-dalam-cerita
Memberi banyak warna dalam hitam putih pikiranku

Bahkan meski kamu begitu buruk dan tak layak,
Aku tetap mampu mengambil pembelajaran darimu
Bahkan aku berharap bahwa dia yang kelak menemaniku pun mencintaimu
Lebih bagus lagi, bila dia yang melahirkanmu dari tangannya
Gemar menulis dan lapar membaca
Mungkin selamanya, akan selalu ada cinta segitiga di antara kita
Aku, dia, dan buku.

Meta morfillah

#Day26 Dengarlah

Sayang, kalau ada tempat yang begitu gaduh, mungkin itu adalah kepalaku.
Beragam pikiran membelukar membentuk hutan aksara yang seringkali mati sebelum dilahirkan.
Mati karena waktu yang tak tepat,
Mati karena perilakumu,
Tapi lebih sering mati karena keberanianku yang menguap.

Sayang, kalau ada tempat bersembunyi paling sembunyi, mungkin itu adalah hatiku.
Beragam rasa kusimpan di sana, bahkan dari orang yang amat kusayangi.
Rasa itu tumbuh, menjalar, beranak-pinak, hingga mati kukubur sendiri.
Di sanalah kepengecutan dan keberanian bersatu padu,
Di sanalah jutaan kenangan kumorfinkan,
Di sanalah inspirasi kubekukan.

Sayang, kekeraskepalaanku dalam keheningan terkadang begitu kuat,
Apakah kaumampu membantuku mencairkannya?
Apakah kaumampu berbagi riak kata, perjalanan rasa, dan kisah denganku?
Sering aku meragu akan hal itu, mencemaskan kamu yang tertipu wajah aku-baik-baik-saja-padahal-nyatanya-tidak

Sayang, mampukah kamu mendengar apa yang tidak kukatakan?

Meta morfillah

25 June, 2015

#Day25 Butuh waktu

Menata kehidupan butuh waktu.

Terkadang waktu begitu progresif tak henti maju. Terkadang waktu melambat, meminta kita beristirahat sejenak. Memang tidak pernah mundur. Sebab waktu hanya mengenal kata maju. Hanya kecepatan dan percepatannya yang berbeda.

Hidup kita, bila terus-menerus dibiarkan akan berbahaya. Tenggelam dalam rutinitas dan seakan begitulah semuanya seharusnya. Perlahan menjadi lupa bersyukur atas yang dinikmati, kita menjadi robot, dan merasa bahwa apa yang kita dapat sudah seharusnya. Kita butuh waktu sejenak untuk melihat lagi, apakah hidup kita sudah tertata sesuai dengan blue print yang Allah mau? Sesuai tujuan hidup kita yang diridhai Allah?

Jangan takut bila sesekali kita perlu melambatkan kecepatan hidup kita. Menjenakkan pikiran dan panca indera kita, agar lebih peka untuk bersyukur. Bersyukur atas segala karunia dan bersyukur atas segala ujian. Bukankah Allah telah memberikan kita kesempatan hidup hingga sejauh ini? Berapa banyak yang tidak sesuai kemauan kita, namun digantinya lebih baik?

Menata kehidupan butuh waktu, jangan tergesa dan tersesat dengan fatamorgana kesuksesan. Carilah kesuksesan yang sejati, yang tak lekang oleh waktu dan mudah hilang seiring hilang sebab.

Meta morfillah

#Day24 Keberanian

Dan aku menemukan keberanianku pada ketakutanmu--pada rasa percayamu bahwa aku akan tetap ada di sampingmu. (Fahd Djibran)

Gelap. Tidak ada lampu jalan satu pun. Malam telah larut dan semua orang sudah asyik dengan mimpinya masing-masing. Tinggal mereka berdua. Pulang kemalaman dari ibu kota.

"Kak, aku takut."

Dalam hatinya, sang kakak juga takut. Tapi bila ia mengakui ketakutannya, ia khawatir adiknya akan memaksa menetap di sana sampai pagi. Sementara ibunya sendirian di rumah, pastilah sedang mengkhawatirkan mereka.

"Tenang saja, kita bacaan. Gak usah takut, De!" Kakak menenangkan adiknya dan hatinya yang makin deg-degan.

"Tapi, kan, di depan juga ada kuburan di kiri kanan. Seram banget ka, mending kita tunggu subuh aja." Sang adik mengingatkan satu hal yang semakin memberatkan langkah kakaknya.

"Bacaannya makin kencang pas lewat sana, De. Kasian ibu, kalau kita gak pulang."

Dengan matanya, sang adik menunjukkan keberatannya.

"Hayoo, De. Kan, ada kakak."

Dengan berat, sang adik akhirnya mengikuti langkah kakaknya sembari membaca dzikir.

***

Semua orang pasti pernah takut. Punya rasa takutnya masing-masing. Tapi pernah juga kan, di suatu kondisi di mana kamu juga sebenarnya takut, tapi berhasil mengalahkan ketakutanmu karena orang yang memercayaimu.  Keberanian itu kamu dapatkan dalam ketakutan mereka yang memercayai bahwa dirimu mampu melindungi mereka. Persis seperti sang kakak dalam cerita di atas.

Ada banyak orang yang pernah seperti itu. Pernahkah kita berpikir, bahwa kita mungkin pernah menjadi salah satu alasan bagi keberanian orang yang kita sayangi? Seperti ayah, ibu, pasangan, hingga keluarga kita. Pada awalnya, mereka bukanlah pemberani, tapi karena rasa percaya kamu pada mereka dan rasa cinta mereka pada kamulah yang membuat mereka menjadi pemberani.

Meta morfillah

24 June, 2015

[Review buku] Notes from Qatar

Judul: Notes from qatar
Penulis: Muhammad Assad
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Dimensi: xlv + 312 hlm, cetakan kedelapan januari 2012
ISBN: 978 979 2791 945

Dua puluh delapan artikel yang membahas pengalaman penulis yang mungkin terlihat sederhana tapi bermakna besar. Semua kisah diambil dari blog penulis, dan dinamakan notes from qatar disebabkan penulis menuliskannya dari qatar, tempat penulis menyelesaikan S2nya.

Garis besar isi buku ini seputar kiat mendapatkan beasiswa luar negeri, dahsyatnya sedekah, bersyukur, menjadi entrepreneur, mengalah bukan berarti kalah, hukum memelihara anjing serta bertato, emansipasi wanita abad 21, misteri jodoh dan menikah muda, adversity quotient, berbakti pada orangtua, hukum karma, menghargai pembantu, hukum berjudi, membentuk generasi tangguh, make friends everywhere, ramadhan sebagai akselerator, dukungan terhadap penulis, hukum merokok, tiga kata ajaib: maaf; tolong; dan terima kasih, dan ditutup dengan success with value.

Berbeda dengan buku motivasi lainnya. Pilihan kata yang digunakan penulis begitu ringan, mengalir, memotivasi dengan unsur agama (memasukkan beragam ayat dan hadis) tapi tidak seperti diceramahi, sarat pesan namun tak terkesan menggurui. Beragam foto yang dilampirkan membantu saya memvisualisasikan apa yang saya baca. Meski menurut saya terlalu banyak testimoni dan komentar blog yang lebih baik tidak ditampilkan, juga beberapa typo, tapi saya tetap suka isinya.

Saya apresiasi 5 dari 5 bintang.

"Dalam kadar tertentu, membandingkan diri dengan orang lain itu baik jika niatnya untuk pengembangan diri, dalam artian orang yang kita bandingkan adalah sebagai benchmark kita menuju kesuksesan. Tapi kalau membandingkan yang membuat kita menjadi kufur nikmat, itu BAHAYA." (Hlm. 57)

"Hati-hati dengan ucapan. Bukankah begitu banyak hal bisa terjadi hanya dengan ucapan? Orang bisa bunuh-bunuhan hanya karena sakit hati diejek teman. Pria dan wanita juga bisa sah jadi suami istri hanya dengan ucapan (ijab qabul). Bahkan, orang ingin masuk islam pun cukup hanya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat." (Hlm. 199)

"Quitter never win and winner never quit!" (Hlm. 281)

"Value yourself and the world will value you with its own way!" (Hlm. 304)

23 June, 2015

#Day23 Orangtua

"Kamu ini masuk angin sudah ke dalon. Ke tulang. Gak bisa disembuhin satu kali, minimal tiga kali urut. Untung loh, kamu masih hidup. Kalau gak kuat ya bisa meninggal langsung. Ke dokter biasanya dirawat, diinfus dan diberi pereda sakit bisa sampai dua minggu. Jatuhnya ini ke jantung. Makanya kamu sesak nafas dan sulit berjalan. Untungnya lagi, kamu tahan kayak mamamu."

Kayak mamamu...

Ujung kalimat yang terdengar indah, membuatku tersenyum meski lemah. Bangga... dibilang kayak mamaku.

***

Selain Rasulullah SAW dan ummahatul mukminin, idolaku tentu saja bapak dan mama. Sosok nyata yang kuteladani hidup hingga meninggalnya. Sosok yang begitu dekat.

Bagiku, orangtua adalah saingan terberat seorang anak. Mengapa? Karena semua pencapaian anak harus lebih sukses dari pencapaian orangtua mereka yang berhasil membesarkan kita hingga seperti ini. Minimal sekali, kita harus mampu mencapai apa yang dicapai orangtua kita saat ini. Dari segi agama, pekerjaan, keluarga, semua hablumminallah dan hablumminannaas, orangtua telah mencontohkan. Karakter bapak yang cool, tidak banyak bicara, meneladankan perilaku. Karakter mama yang bawel, perhatian, dan tetap setia serta konsisten meneladankan perilaku. Dari merekalah, terbentuk diri kita yang saat ini. Karakter yang berbeda, menemukan penyatuannya pada diri kita. Tak aneh, bila kita kadang bersikap lembut namun tegas, kuat namun sesekali rapuh, dan beragam paradoks lainnya.

Maka, saat dibilang mirip dengan orangtuaku (selain wajah tentunya, sebab aku bukan anak tetangga hehe)... bagiku itu adalah sebuah pujian. Minimal, ada sebagian yang bisa kucapai sesuai pencapaian mereka terdahulu. Bahkan akan sangat membanggakan bila sifat-sifat positif unggulan mereka yang melekat pada kita. Seperti sabar, kuat, berpikiran lurus, amanah, baik, dan lainnya.

***

Seperti anak gadis pada umumnya, pada bapak aku menemukan cinta pertama. Sosok lelaki yang bisa melindungi, menyayangi dan membimbingku. Pada mama aku menemukan cinta sejati. Cinta yang tak lekang oleh waktu. Cinta yang tak pernah habis dan selalu menjadi muara pembaruan energi anak-anaknya.

Mungkin memang sudah terprogram dalam setiap diri orangtua secara otomatis bahwa kasih sayang mereka pada anaknya ibarat air yang selalu mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah. Begitu mudah. Niscaya. Sedangkan, bagi seorang anak... itu adalah hal yang berat, sebab harus melawan arus. Mencoba memberikan cinta dari tempat rendah ke tempat yang lebih tinggi. Butuh banyak usaha. Tidak mudah, namun bukan berarti tidak mungkin.

Meta morfillah

[Review buku] Halaqah cinta

Judul: Halaqah cinta
Penulis: @teladanrasul
Penerbit: QultumMedia
Dimensi: vi + 302 hlm, 14 x 20 cm, cetakan pertama februari 2014
ISBN: 978 979 017 280 7

Kembali saya membaca sebuah buku yang provokatif untuk menikah. Dalam blurbnya, buku ini menjanjikan 6 hal penting yaitu 7 manfaat menikah yang bisa membuatmu lebih bahagia dan sukses dunia akhirat, 7 masalah yang membuat seseorang telat nikah dan solusinya, 8 aspek perbaikan diri biar cepat ketemu jodoh yang kamu inginkan, 7 hikmah saat berikhtiar mencari jodoh biar kami nggak gampang putur asa dan tetap optimis, 9 rahasia yang memudahkanmu berjalan menuju gerbang pernikahan serta tip-tip praktis menjemput jodoh sesuai anjuran rasulullah.

Secara garis besar buku ini dibagi menjadi enam bab. Bab pertama berjudul menikah apa untungnya? Lalu dijelaskan dalam tujuh sub judul yakni menapaki jalan sunnah, menghindarkan diri dari maksiat, sebagai wujud ibadah kepada allah, dua keutamaan untuk suami dan istri, mendapatkan keturunan yang saleh-saleha, menikah kunci rezeki, dan menikah itu menenteramkan. Di bab dua berjudul Tunggu apa lagi? Berisi tujuh sub judul yakni belum punya pekerjaan tetap, belum dapat izin orangtua, parno takut ini-itu, belum nemu yang cocok, nggak pede, ingin berbakti dulu sama orangtua dan pengalaman buruk di masa lalu. Di bab tiga berjudul Mau yang terbaik. Berisi delapan sub judul yakni perbanyak baca syahadat, ibadah sebanyak-banyaknya, terus memperbaiki akhlak, jaga kesehatan, berlelah-lelah mencari rezeki, bentuk kebiasaan terbaik, terus belajar, dan terus tebar kebaikan untuk sesama.

Di bab keempat berjudul Kalau jodoh tak kunjung datang. Berisi tujuh sub judul yakni lihat sisi terangnya, hasbunallah wa ni'mal wakil, badai pasti berlalu, jangan lelah berharap, jangan bersedih allah bersama kita, ujian untuk kebaikan kita dan merelakan demi yang terbaik. Di bab kelima berjudul Mau cepat nikah? Berisi sembilan sub judul yakni perbanyak tobat, kuatkan keyakinan, perbaiki doa kita, bahagiakan orangtua, mulai nabung, bantu sesama, perhatikan penampilan dan pergaulan, mendoakan teman, dan hilangkan ego. Terakhir di bab enam berjudul Bulatkan tekad. Berisi sepuluh sub judul yakni Kalau cinta jangan diam kalau siap jangan menunda, setiap amal tergantung niatnya, sampaikan maksud kepada orangtua, menentukan pilihan, ta'aruf, mempertimbangkan lamaran, khitbah, akad, walimah, dan mencintai seperti nabi.

Secara garis besar isinya cukup menarik, diselingi beberapa kisah, ilustrasi gambar dan kata bijak, hadis serta ayat yang mendukung. Hanya saja, ada cukup banyak typo yang mengganggu kenikmatan membaca. Secara pengemasan pun cukup cantik. Saya mengapresiasi 4 dari 5 bintang.

"Menjaga pandangan, pendengaran, dan perkataan ibarat menggenggam bara api yang masih menyala. Sulit bukan main." (Hlm. 8)

"Ingatlah bahwa mapan sesungguhnya hanya ada di surga. Mau semapan apa? Di surgalah kita akan mendapatkan kemapanan. Semua yang kita inginkan ada. Di dunia, mapan itu tergantung kelapangan hati kita untuk bersyukur." (Hlm. 65)

Meta morfillah

[Review buku] Halaqah cinta

Judul: Halaqah cinta
Penulis: @teladanrasul
Penerbit: QultumMedia
Dimensi: vi + 302 hlm, 14 x 20 cm, cetakan pertama februari 2014
ISBN: 978 979 017 280 7

Kembali saya membaca sebuah buku yang provokatif untuk menikah. Dalam blurbnya, buku ini menjanjikan 6 hal penting yaitu 7 manfaat menikah yang bisa membuatmu lebih bahagia dan sukses dunia akhirat, 7 masalah yang membuat seseorang telat nikah dan solusinya, 8 aspek perbaikan diri biar cepat ketemu jodoh yang kamu inginkan, 7 hikmah saat berikhtiar mencari jodoh biar kami nggak gampang putur asa dan tetap optimis, 9 rahasia yang memudahkanmu berjalan menuju gerbang pernikahan serta tip-tip praktis menjemput jodoh sesuai anjuran rasulullah.

Secara garis besar buku ini dibagi menjadi enam bab. Bab pertama berjudul menikah apa untungnya? Lalu dijelaskan dalam tujuh sub judul yakni menapaki jalan sunnah, menghindarkan diri dari maksiat, sebagai wujud ibadah kepada allah, dua keutamaan untuk suami dan istri, mendapatkan keturunan yang saleh-saleha, menikah kunci rezeki, dan menikah itu menenteramkan. Di bab dua berjudul Tunggu apa lagi? Berisi tujuh sub judul yakni belum punya pekerjaan tetap, belum dapat izin orangtua, parno takut ini-itu, belum nemu yang cocok, nggak pede, ingin berbakti dulu sama orangtua dan pengalaman buruk di masa lalu. Di bab tiga berjudul Mau yang terbaik. Berisi delapan sub judul yakni perbanyak baca syahadat, ibadah sebanyak-banyaknya, terus memperbaiki akhlak, jaga kesehatan, berlelah-lelah mencari rezeki, bentuk kebiasaan terbaik, terus belajar, dan terus tebar kebaikan untuk sesama.

Di bab keempat berjudul Kalau jodoh tak kunjung datang. Berisi tujuh sub judul yakni lihat sisi terangnya, hasbunallah wa ni'mal wakil, badai pasti berlalu, jangan lelah berharap, jangan bersedih allah bersama kita, ujian untuk kebaikan kita dan merelakan demi yang terbaik. Di bab kelima berjudul Mau cepat nikah? Berisi sembilan sub judul yakni perbanyak tobat, kuatkan keyakinan, perbaiki doa kita, bahagiakan orangtua, mulai nabung, bantu sesama, perhatikan penampilan dan pergaulan, mendoakan teman, dan hilangkan ego. Terakhir di bab enam berjudul Bulatkan tekad. Berisi sepuluh sub judul yakni Kalau cinta jangan diam kalau siap jangan menunda, setiap amal tergantung niatnya, sampaikan maksud kepada orangtua, menentukan pilihan, ta'aruf, mempertimbangkan lamaran, khitbah, akad, walimah, dan mencintai seperti nabi.

Secara garis besar isinya cukup menarik, diselingi beberapa kisah, ilustrasi gambar dan kata bijak, hadis serta ayat yang mendukung. Hanya saja, ada cukup banyak typo yang mengganggu kenikmatan membaca. Secara pengemasan pun cukup cantik. Saya mengapresiasi 4 dari 5 bintang.

"Menjaga pandangan, pendengaran, dan perkataan ibarat menggenggam bara api yang masih menyala. Sulit bukan main." (Hlm. 8)

"Ingatlah bahwa mapan sesungguhnya hanya ada di surga. Mau semapan apa? Di surgalah kita akan mendapatkan kemapanan. Semua yang kita inginkan ada. Di dunia, mapan itu tergantung kelapangan hati kita untuk bersyukur." (Hlm. 65)

Meta morfillah

22 June, 2015

[Review buku] Perjalanan rasa

Judul: Perjalanan rasa
Penulis: Fahd Djibran
Penerbit: Kurniaesa publishing
Dimensi: 204 hlm, cetakan kedua januari 2013
ISBN: 978 602 7618 10 7

Lima puluh satu cerita pendek yang  memiliki keterkaitan unik. Semua kata terakhir dalam cerita sebelumnya, akan menjadi judul cerita selanjutnya. Meski tidak berhubungan secara isi, tapi hal ini merupakan sesuatu yang sangat menarik, unik, dan nilai lebih buku ini. Beragam rasa diceritakan semacam sebuah perjalanan. Menemukan, mencari dan berusaha sampai pada jawaban. Dengan bahasa yang ringan, indah namun tetap bermakna dalam, penulis menyadarkan kembali pada hakikat kesejatian. Beragam analogi dari ayat kitab suci, lagu, kutipan buku atau perkataan orang terkenal, digunakan dalam menegaskan apa yang ingin disampaikan.

Sayangnya, ada banyak typo yang cukup mengganggu dalam kenikmatan membaca buku ini. Secara cover pun, saya kurang tertarik bila tak mengenal nama penulisnya. Tapi, secara isi... saya menyukai cara menulis fahd djibran. Saya juga suka membaca blog dan beragam tulisannya di facebook. Terasa lebih dekat dan nyata dalam keseharian. Saya mengapresiasi 4 dari 5 bintang.

"Cara Tuhan tidak mengabulkan sebagian doa kita adalah untuk mengabulkan doa-doa kita yang lainnya." (Hlm. 50)

"Tetapi, Adam, perempuan lebih suka diberi kepastian--bukan harapan yang setiap hari menerbitkan keraguan." (Hlm. 75)

"Nikmatilah semuanya. Sambutlah bayi-bayi yang dilahirkan. Peganglah tangan orang yang kamu sayangi. Relakan kepergian orang yang kamu cintai. Jatuhlah pada cinta dan bangunlah sebagai manusia yang berjalan di atas keyakinannya sendiri. Berlututlah pada keagungan. Bentangkanlah sayap saat seseorang menjatuhkanmu dari ketinggian--terbanglah seperti burung mencintai angin. Berjalanlah seperti seorang ayah yang menuntun putrinya. Berbahagialah seperti anak-anak. Waspadalah seperti pertama kali belajar berjalan. Dengarkanlah nyanyian angin. Jadilah air hujan yang membawa kehidupan baru bagi tanah-tanah yang kering. Jadilah matahari yang berani terbit dan siap untuk tenggelam. Jadilah seseorang yang membuat dunia jadi berbeda. Jadilah dirimu sendiri:  Kita bukan apa-apa, dan bukan siapa-siapa, sampai kita mewakili pikirab dan perasaan kita sendiri." (Hlm. 86)

"Mengapa kita tak pernah mengucapkan terima kasih pada diri kita sendiri--atas hal-hal baik, juga hal-hal buruk, yang sudah kita lakukan sejauh ini? Terima kasih telah selalu bertahan, dan telah selalu memutuskan untuk kembali berjalan... Yakinlah, kita telah dan akan selalu baik-baik saja." (Hlm. 147)

Meta morfillah

#Day22 Mati yang kuinginkan

Kalau aku harus mati hari ini, aku ingin berada di samping orang yang kusayangi dan menyayangiku.

Itulah yang sempat terpikir saat aku  dalam ambang batas sisa kekuatanku kemarin. Ya, aku terserang demam. Kelelahan yang amat sangat dan lemahnya perhatian terhadap hak tubuhku sendiri membuatku harus menuai akibatnya. Segala rencana pun buyar. Dengan sisa kekuatanku, aku memutuskan untuk pulang. Satu hal yang aku sadari, aku tidak butuh dokter. Aku butuh mama. Meski sempoyongan, dunia serasa bergoyang tiap kali aku melangkah dan gelap pekat membuatku harus berhenti sesekali. Aku tetap melanjutkan perjalanan menuju rumah. Pulang. Satu kata yang memotivasiku untuk bangkit lagi dan berjalan.

Sesak nafas yang kurasakan dan pening di kepala, serasa dihantam godam membuatku berpikir yang tidak-tidak. Bagaimana jika aku mati sekarang? Belum pernah aku berpikir demikian dalam sakitku. Tapi, kali ini berbeda. Demam yang kurasa lain dari demam-demam yang pernah kualami. Di bulan ramadhan, saat yang lain sedang beribadah puasa. Aku yang sedang tidak berpuasa, justru diberikan sakit yang tidak biasa. Dalam keputusasaan karena perjalanan menuju rumah yang kurasa begitu lama, aku merapal sebuah kalimat dalam sela zikirku. Ya allah, jika aku harus mati hari ini... aku mohon agar aku berada di dekat orang yang kusayangi dan menyayangiku. Dan terlintas wajah mama di rumah.

Sesampainya di rumah, mama langsung panik melihat keadaanku yang lemas dan terduduk di depan pintu. Tak kuat lagi berjalan. Dilepaskannya semua beban yang kubawa, dibalurkannya minyak tawon agar badanku hangat, dikompresnya kepala dan mataku yang panas, dan dipijatnya aku dengan lembut hingga aku tak sadar lagi. Beragam igauan dan rintihan membuat tidurku tak nyenyak. Saat aku tersadar, kondisiku belum membaik. Nafasku masih terasa begitu berat. Mama memutuskan untuk mengerik. Menurut mama, aku masuk angin yang sudah ke dalam tulang. Harus dikerik tiga kali. Aku yang sudah tak kuasa hanya bisa pasrah. Kuterima segala upaya mama menyembuhkanku. Juga segala nasihatnya untuk menjaga diriku. Mengingatkanku tentang bagaimana mau membantu orang lain, jika menjaga diri sendiri saja tidak becus.

Seharian aku membuat mama sibuk. Sibuk mengingatkanku makan, membuatkanku makanan yang mudah dicerna, memberiku obat, mengompres kepalaku, membalurkan minyak angin dan menghangatkanku dengan air panas. Dalam ketakberdayaanku, aku berkata pada tuhan... sungguh aku belum siap mati... tapi, bila memang ini saatnya, aku akan berterima kasih, sebab kau matikanku dalam keadaan dekat dengan orang yang kusayangi dan juga menyayangiku. Bukan dalam keterasingan, kesendirian apalagi kesepian. Rasanya, mati seperti inilah yang kuinginkan. Mati dalam keadaan tersenyum menahan sakit,  namun tetap hangat dalam pelukan orang yang kusayangi dan juga menyayangiku.

Meta morfillah

#Day21 Jodoh

Akan tiba saatnya, dia sendiri atau bersama keluarganya bertamu ke rumahmu. Memberikan sebuah kepastian yang kamu tunggu-tunggu. Sebab ia sadar, bahwa bukan kedekatan yang menimbulkan harapan namun menerbitkan keraguan yang kamu butuhkan. Melainkan kepastian akan sebuah hubungan. Bahwa dengannya, semua berbeda. Tidak mau disamakan seperti teman-teman pada umumnya. Sebab ia ingin menjagamu secara purna, bukan sebatas sahabat.

Akan tiba saatnya, dia sendiri atau bersama keluarganya datang bertamu ke rumahmu. Membuat hatimu begitu luap akan kegembiraan. Hingga kata-kata seakan terpenjara dan kamu menjadi bisu seakan lupa beragam kosakata. Kegembiraan yang meluap, seringkali membuat kita menjadi kosong. Suatu hari yang selama ini kamu angankan menjelma nyata. Jantungmu deg-degan luar biasa. Seakan baru kali ini kamu melihat wajahnya. Baru kali ini kamu mengenalnya. Sebab, sekian lama kedekatan kalian tak berarti apa-apa hingga dia datang bertamu ke rumahmu. Mewujudkan sesuatu yang kamu impikan.

Akan tiba saatnya, dia sendiri atau bersama keluarganya datang bertamu ke rumahmu. Menyatakan kesiapan menjadi penjagamu di hadapan tuhan dan keluargamu. Seseorang yang kelak akan kaunamai: Jodoh.

Meta morfillah

#Day20 rahasia perasaan

Semoga tuhan mendekatkan semua rahasia perasaan pada jawabannya. (Fahd Djibran)

Ada perasaan yang kamu rahasiakan dari semua orang. Bahkan dari ibumu sendiri, yang kamu pernah menjadi satu tarikan nafas saat dalam kandungannya. Benar-benar begitu rahasia. Dalam hal ini, kamu hanya bersekongkol dengan tuhan. Hanya pada tuhan kamu ceritakan hari-hari yang kamu jalani bersama perasaan itu.

Hari-hari yang kadang manis, asam, kecut, bahkan getir. Perasaan yang begitu rahasia namun menjalar ke dalam sendi-sendi hidupmu. Perasaan yang bertanya-tanya dan menuntut sebuah jawaban. Diakah? Akankah dia? Yang namanya selalu kamu sebut dalam doamu. Ataukah dia, yang di tempat lain, tanpa kamu ketahui selalu menyebut namamu dalam doanya. Begitulah ragam rahasia perasaan. Tuhan selalu menjadi muara dan menampung segala rahasia. Maka kamu pun selalu berharap semoga Tuhan mendekatkan semua rahasia perasaan pada jawabannya. Meski mungkin jawabannya tak sesuai harapanmu.

Meta morfillah

20 June, 2015

[Review buku] Perempuan pencari tuhan

Judul: Perempuan pencari tuhan
Penulis: Ade a.k.a Rindu
Penerbit: QultumMedia
Dimensi: xvi + 204 hlm, 14 x 21 cm, cetakan ketiga januari 2013
ISBN: 978 979 017 2067

Buku motivasi islam ini mengingatkan saya pada buku Menggapai Impian karya Masriyah Amva di Kompas. Tentu saja berbeda gaya bahasanya. Rindu lebih bergaya santai khas usia 20-25an. Namun bahasannya mirip, yakni tentang pengalaman keseharian penulis dan orang-orang sekitarnya, luka yang dialami, hingga metamorfosa yang didapat selama mengikuti arus kebaikan yang mendekatkan diri pada Allah.

Secara garis besar buku ini membahas tentang setan sebagai musuh abadi manusia, kehati-hatian mengelola hati, pencarian identitas mengenai siapakah aku? Pembahasan tentang hati yang kosong dan gelap, nyanyian jiwa dan telaga jiwa. Lalu membahas saat jiwa membutuhkan rumah, dengan menyediakan hati yang tenang. Itu bisa didapat dari membaca surat cinta dari allah, yakbi al qur'an, mengingat kematian sebagai koma, bukan titik. Menyikapi saat impian hancur berantakan, meyakini bahwa saya + allah = cukup, mengunduh bahagia dan menyingkap insight kun fayakun. Lalu saat allah hadir dalam bahasa cinta, penulis mengajak kita memahami hakikat cinta dan kedewasaan, patah hati, saat terasa sendiri berdiri di ujung jalan, indahnya perpisahan, berterima kasih pada luka, dan jangan menangisi yang bukan milikmu. Terakhir, saat pijakan berada di titik nol, apa yang harus dilakukan? Mendekatkan diri pada Allah, bagi wanita dengan menggunakan hijab, mempertanggungjawabkan nafas yang kita miliki, bersabar dan ikhlas tanpa tepi, melihat kematian menjadi guru kehidupan, simulasi bagaimana bila kita mengintip catatan malaikat pengawas kita, meninggalkan si dia demi DIA, dan mempercayai tangan Allah yang bekerja tanpa terlihat.

Tidak terlalu banyak hal baru yang saya dapati memang dari buku ini. Semua mainstream, namun tetap ada pembelajaran yang dapat saya ambil. Jujur, memang agak sedikit membosankan buku yang seperti ini karena penulis terasa seperti serba tahu, mendadak ustadz. Perlu suatu kondisi yang pas untuk membaca buku-buku bertipe seperti ini. Saya apresiasi 3 dari 5 bintang.

"Manusia yang terang alam kuburnya adalah manusia yang menjadikan bumi allah yang terhampar luas ini sebagai masjid baginya. Kantornya, kampusnya, tokonya, adalah mushalla yang selalu mengingatkan kepada allah. Meja kerjanya dan notebooknya adalah sumur ilmu untuk mengenal allah. Ia memfungsikan tatapan mata dan lidahnya menjadi mata dan lidah yang penuh rahmat. Ia melihat dan berkata-kata dengan kasih sayang dan kelembutan. Pikirannya senantiasa husnuzhan (berbaik sangka). Tarikan nafasnya berhias tasbih. Gerak hatinya adalah doa untuk memohon ampunan. Bicaranya bernilai dakwah. Diamnya zikir. Gerak tangannya sedekah. Langkah kakinya hanya untuk allah. Aktivitas kesibukannya adalah untuk memperbaiki diri, bukan sibuk mencari kesalahan orang lain." (Hlm. 43)

Meta morfillah

[Review buku] Aku, kau & KUA

Judul: Aku, kau & KUA
Penulis: @tweetnikah
Penerbit: Elex media komputindo
Dimensi: xxviii + 196 hlm, cetakan keempat Juli 2013 edisi revisi
ISBN: 978 602 02 1735 2

Buku yang provokatif mengajak kita segera melanggengkan hubungan ke KUA hahah...

Pembahasannya bisa ditebak, tidak jauh tentang nikah. Akun pseudonymnya aja menegaskan hal itu. Mulai dari apa saja yang harus disiapkan sebelum kita meresmikan ke KUA, seperti persiapan mental, emosi, finansial, dilengkapi beberapa pertanyaan yang detail dan cukup membantu di halaman 14, untuk menyamakan persepsi dan mengclearkan informasi dengan pasangan. Lalu berlanjut ke beragam cara menjemput jodoh, dari dunia nyata hingga dunia maya. Bahkan ada mr.z salah satu follower di @tweetnikah yang gigih mencari dari twitter dan ditampilkan dalam buku ini capture-capture usahanya. Juga penjelasan baik buruk pacaran dan ta'aruf, yang tentu saja lebih disarankan untuk ta'aruf. Berlanjut ke cara mendapat restu dari orangtua, memenangkan hati mereka dengan mempelajari karakter mereka. Hal paling penting dalam sebuah hubungan, yakni tentang komunikasi. Berlanjut lagi ke lamaran, wali nikah, mahar, dan resepsi. Beragan cerita hingga kisag nyata yang ditampilkan dalam penyelenggaraan resepsi yang murah dan di bawah sepuluh juta. Sebab yang membuat sulit adalah gengsi kita. Curhatan beragam follower @tweetnikah yang bahkan tak cukup dibalas dalam 140 karakter. Terakhir mengintip pernikahan yang sudah berjalan dan kisah yang memotivasi untuk bertahan dalam mencintai. Ditutup dengan foto-foto follower yang menikah dan berpose dengan kertas bertuliskan @tweetnikah.

Temanya memang mainstream. Tapi pengemasannya menarik, gaya bahasanya ringan dan interaktif. Serta diselingi beragam ilustrasi, capture, foto, puisi dan kisah motivasi. Salah satu puisi yang paling saya suka ada di halaman 96. Membuat saya suka dan mengapresiasi buku ini 5 dari 5 bintang.

"Membuktikan cinta adalah dengan melamar dan menikahinya dengan resmi. Dan itu dilakukan oleh laki-laki dengan mendatangi keluarga wanita yang dia cintai, bukan dengan meminta wanita menyerahkan kehormayannya untuk membuktikan cinta." (Hlm. 67)

Ingat kalimat khas pemberi harapan palsu? "Santai, lihat saja nanti. Kita jalani dulu..." Sebenarnya yang enggak dia ucapkan adalah "Kita jalani aja dulu, siapa tau sambil liat kanan kiri dapat yang lebih baik dari kamu." (Hlm. 90)

"Tapi engkau tidak mengenal aku..."
"Untuk itulah seluruh sisa hidupku. Mengenalmu..." (hlm. 112)

Meta morfillah

[Review buku] Analogi cinta berdua

Judul: Analogi cinta berdua
Penulis: Dara Prayoga
Penerbit: Bukune
Dimensi: iv + 184 hlm, 13 x 19 cm, cetakan pertama Mei 2014
ISBN: 978 6022 201267

"Orang yang jatuh cinta itu  keinginannya sederhana: berdua dalam cinta."

Dalam buku ini, oka mengajak kita menapaki lagi rasa dan fase-fase saat memulai memutuskan berdua. Mulai dari pedekate, nembak, jadian, beragam hal norak yang dilakukan saat berdua, berantem, hingga berakhir ke dua kesimpulan:

"Berdua untuk bahagia, atau berakhir terluka."

Oka menyadarkan bahwa berdua bukan berarti permasalahan akan terselesaikan. Malah, muncul masalah-masalah baru yang mungkin kondisinya akan terasa lebih buruk daripada ketika masih sendiri dulu. Belum lagi saat ada godaan dari luar. Fase saat kalian gak sejalan, lalu orang baru nampak lebih menjanjikan dibanding pasangan sekarang. Itulah yang diceritakan oka dalam buku ini, dengan mengisahkan kisah asmaranya bersama Tarisha.

Secara tampilan, pengemasannya cukup bagus. Tapi secara isi, bagi saya biasa saja. Penulis memang mencoba melucu di beberapa part, tapi hal itu sudah terlalu mainstream. Sehingga bagi saya sudah tak menarik. Mungkin jenis bacaan ini cocok untuk remaja dan kalian yang ingin membaca bacaan ringan.

Saya apresiasi 3 dari 5 bintang.

"Nggak ada yang tahu kalau seseorang yang pernah kita kenal di masa lalu, mungkin akan jadi 'seseorang' di masa depan. Seseorang yang berharga." (Hlm. 14)

"Sebaik-baiknya move on adalah jatuh cinta lagi." (Hlm. 16)

"Perbuatan seseorang itu seperti cermin terhadap apa yang sebenarnya dia rasakan dan butuhkan. Orang yang periang banget, kemungkinan besar dalam hatinha justru betul-betul butuh dihibur. Sama seperti orang yang mengerti. Orang yang paling mengerti sesungguhnya adalah yang paling butuh dimengerti." (Hlm. 69)

Meta morfillah

19 June, 2015

[Review buku] Norwegian wood

Judul: Norwegian wood
Penulis: Haruki murakami
Penerbit: KPG
Dimensi: iv + 550 hlm; 11.5 x 19 cm; cetakan kelima november 2009
ISBN: 978 979 9100 337

Dua belas jam saya menamatkan novel tebal ini. Meski agak lelah, tapi rasa penasaran membuat saya terus bertahan hingga akhir. Well, akhirnya saya paham kenapa teman-teman saya begitu memuji novel ini. Membacanya begitu mengalir, diksinya ringan namun sarat, sesekali saya menemukan ironi dan kekonyolan yang membuat saya tertawa, penggambaran yang tidak terlalu vulgar dan emosinya terasa ke pembaca, hingga tanpa sadar saya sudah menamatkannya. Dan ending yang tak terduga serta menimbulkan rasa penasaran saya, membuat saya membaca kembali bab pertama. Tapi tetap tidak saya temukan apa jawabannya. Berbahagiakah watanabe? Dengan siapa? Dengan midori, atau hidup sendiri?

Berawal dari lagu berjudul Norwegian wood karya beatles yang didengarnya di pesawat saat usianya 37 tahun, Toru watanabe terkenang akan gadis cinta pertamanya, Naoko, yang juga merupakan kekasih mendiang sahabatnya, Kizuki. Perlahan kenangan melintas dan cerita bergerak dengan alur mundur ke tahun 1968 saat ia berusia 20 tahun. Masa-masa ia kuliah di tokyo, terlibat kisah persahabatan yang pelik, seks bebas, beragam pemberontakan mahasiswa, nafsu hingga rasa hampa yang menggerogotinya. Beragam orang masuk dan keluar dalam hidupnya. Ada Midori, gadis dengan semangat dan keceriaan yang mengalir meski hidupnya rumit. Ada Nagasawa dan Hatsumi, pasangan yang kadang mengingatkannya pada saat kebersamaan dengan naoko dan kizuki dahulu. Ada reiko, teman sekamar naoko di rumah rehabilitasi, yang memiliki masa lalu berat namun berhasil sembuh dan bertahan hingga delapan tahun di sana. Semua memberinya warna kehidupan yang beragam di usianya yang baru 20 tahun. Hingga watanabe harus memutuskan, manakah yang akan ia pilih, masa depan dengan midori ataukah masa lalu dengan naoko.

Novel yang membuat saya agak bermuram setelah membacanya. Menyayangkan mengapa bunuh diri di negara yang disiplin seperti jepang terasa sangat biasa. Tokoh watanabe yang berusaha menjaga kesetiaannya, meski ia teyap menjalani hidup dengan caranya, dan tidak mendapatkan apa yang diinginkannya. Endingnya... terasa menusuk. Meski ada beberapa typo yang cukup mengganggu, saya suka dengan cerita ini. Juga penulis menunjukkan saya beberapa novel karya penulis hebat lainnya, yang memang tak asing sebab sering dipuji dalam komunitas buku. Begitulah, buku-buku bagus akan mengantarkan kepada buku-buku bagus lainnya. Saya apresiasi 5 dari 5 bintang.

"Kau anggap saja kehidupan ini sebagai kaleng biskuit. Di dalam kaleng biskuit itu ada bermacam-macam biskuit, ada yang kamu sukai, ada pula yang tak kamu suka. Dan, kalau terus memakan yang kamu suka, yang tersisa hanya yang tidak kamu suka. Setiap mengalami sesuatu yang menyedihkan aku selalu berpikir seperti itu. Kalau yang ini sudah kulewati, nanti akan datang yang menyenangkan, begitu." (Midori, hlm. 472)

"Jangan putus asa, kita urai satu per satu benang kusut yang ada di dunianya. Dalam kondisi tanpa harapan sedikit pun, pasti di situ ada jalan keluarnya. Jika di sekitar kita gelap gulita, tak ada cara lain kecuali menunggu sejenak agar mata kita terbiasa dengan kegelapan itu." (Reiko, hlm. 485)

Meta morfillah

[Review buku] Aleph

Judul: Aleph
Penulis: Paulo Coelho
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Dimensi: 315 hlm, 20 cm, cetakan pertama Mei 2013
ISBN: 978 979 22 946 6

"Aleph, titik di mana segala sesuatu berada di tempat serta waktu yang sama." (Hlm. 93)

Aleph adalah huruf pertama dalam bahasa ibrani dan arab. Pengertian aleph dalam buku ini sendiri adalah semacam perjalanan trans untuk mencari sebuah jawaban atas konflik yang belum selesai di masa lalu atau inkarnasi sebelumnya. Dalam buku ini, penulis menceritakan pengalaman Alephnya bersama seorang gadis bernama Hilal.

Berawal dari kejenuhan yang dirasakan penulis di usianya yang kelima puluh sembilan. Ia merasa tak ada lagi yang bisa dilakukan. Karirnya bagus, rumahnya cantik, hidupnya sangat mapan, menjalani pernikahan hampir seperempat abad dengan istri yang dicintai dan mendukungnya. Melalui pesan tersirat dari J. (Saya curiga J. yang dimaksud oleh penulis adalah jesus, tuhannya sendiri. Sebab, hingga akhir penulis tidak mengungkapkan siapa J. Misteri dan terasa terlalu bijak sebagai manusia.) yang menyarankan penulis untuk melakukan perjalanan, suatu hari saat pertemuan yang dihadiri banyak penerbit, penulis secara insting menyetujui tur beberapa negara hingga jadwalnya dua bulan ke depan mendadak padat. Awal perjalanan, sang istri sempat menemani lalu akhirnya membuat keputusan untuk membiarkan suaminya menjalani sendiri perjalanannya agar ia lebih meresapi dan menemukan apa yang ia cari. Meski ada sedikit kekhawatiran terhadap ramalan yang diucapkan seorang cenayang yang mereka temui di perjalanan. Bahwa sang suami harus berhati-hati terhadap orang Turki. Perjalanan pun berlanjut, lalu saat di moskow, penulis bertemu dengan seorang gadis muda berusia dua puluh satu tahun, pemain biola berbakat. Hanya melalui tatapan, tapi begitu membekas. Seakan mereka telah mengenal lama. Awalnya tanda itu dihiraukan ileh penulis, namun kegigihan sang gadis bernama Hilal tersebut mengusik pencarian terdalam yang sedang dilakukan oleh penulis. Siapa sangka, bahwa ternyata melalui sang gadis itulah penulis berhasil mencapai kondisi alephnya dan menemukan jawaban atas pencariannya.

Beberapa cerita, saya temukan sudah dibagikan penulis dalam bukunya "Seperti sungai yang mengalir" dan perjalanan ini sendiri mengingatkan saya pada karya penulis sebelumnya yang berjudul "Sang Alkemis". Menurut saya, buku ini begitu memiliki makna yang dalam tentang tuhan, filosofis dan agak berat. Membutuhkan fokus yang tinggi untuk mencerna makna tiap kalimatnya. Saya apresiasi 3 dari 5 bintang.

"Sekarang aku hanya butuh kau memelukku, tindakan yang sudah dikenal sejak kita mengenal kemanusiaan, tindakan yang lebih penting dari penyatuan dua tubuh. Pelukan berarti: aku tidak merasa terancam olehmu; aku bisa merasa rileks, merasa betah, merasa dilindungi dan berada dekat seseorang yang memahami aku. Konon, setiap kali kita memeluk seseorang dengan hangat, umur kita bertambah sehari." (Hlm. 196)

"Seperti Santiago, anak gembala di salah satu bukuku, kadang kau harus berkelana sampai jauh untuk menemukan apa yang sesungguhnya berada di dekatmu. Saat hujan kembali menyentuh bumi, hujan itu membawa benda-benda yang berhubungan dengan udara. Hal yang magis dan luar biasa selalu berada bersamaku dan bersama semua orang di seluruh semesta ini sepanjang waktu, namun kadang kita melupakannya dan perlu diingatkan, sekalipun kita harus melintasi benua terbesar di dunia dari ujung ke ujung. Kami membawa kembali harta karun yang mungkin akan terkubur lagi, lalu kami harus kembali berangkat mencarinya. Itulah yang membuat hidup menarik--percaya pada harta karun dan pada mukjizat." (Hlm. 292)

Meta morfillah

[Review buku] Seperti sungai yang mengalir

Judul: Seperti sungai yang mengalir
Penulis: Paulo Coelho
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Dimensi: xv + 303 hlm, cetakan ketiga januari 2013
ISBN: 978 979 22 8156 9

Seperti sungai yang mengalir berisi kumpulan renungan dan cerita pendek Paulo Coelho dalam hidupnya. Sebanyak 102 judul yang berkisah tentang kehidupan, kematian, cinta, takdir, pilihan, dan lainnya yang berujung pada satu kesimpulan: mencari makna kehidupan. Beberapa ada yang serius, ada yang ringan, dan hampir semuanya memiliki makna yang dalam.

Melalui buku ini pula, saya lebih mengenal sosok paulo. Bagaimana jalan hidupnya, yang penuh liku dan sempat terjebak dalam kehidupan pragmatis sebagaimana orang biasa, sebelum akhirnya menemukan panggilan jiwanya sebagai penulis dan peziarah santiago de compostela. Saya melihat rangkaian perjalanan hidup dan iman sang penulis hingga akhirnya menjadi seperti saat ini. Sosok yang menurut saya cukup religius. Berkali ia menampakkannya dalam pilihan kata "ksatria cahaya", "peziarah" dan terbuka dengan agama mana pun meski ia tetap memilih katolik.

Salah satu cerita di halaman 252 buku ini, yang berjudul 'Sepasang Permata', mengingatkan saya akan kisah Ummu Sulaim dan Abu Thalhah di buku Bahagianya Merayakan Cinta karya Salim A Fillah halaman 404 yang lebih lengkap. Betapa, ada irisan yang sama antara agama yang berbeda dalam sebuah kisah. Semoga yang membaca lebih menitikberatkan pada hal positifnya, dibanding fokus pada perbedaannya.

Bagi yang menyukai buku atau kisah-kisah motivasi, buku ini begitu cocok. Sebab memang ada banyak cuplikan kisah dari berbagai agama, kebiasaan, negara, yang dituliskan di sini. Saya apresiasi 3 dari 5 bintang.

"Pada saat-saat demikian, hanya satu jalan yang bisa ditempuhnya, yakni pantang mundur. Terus berdoa, entah karena kewajiban ataupun rasa takut, atau karena alasan lainnya, yang penting teruslah berdoa. Teruskan saja, walau semua kelihatannya percuma.
Malaikat yang bertugas menerima doa Anda, sekaligus bertanggung jawab atas suka cita iman, telah pergi sejenak. Tetapi dia akan segera kembali, dan dia hanya akan bisa menemukan Anda kalau dia mendengar doa atau permintaan yang terucap dari mulut Anda." (Hlm. 160)

"Kita semua memulai perjalanan bersama-sama, berbagi persahabatan dan kegembiraan; namun lambat laun kebahagiaan yang mula-mula itu berganti menjadi tantangan-tantangan yang berat: rasa capek, bosan, kebimbangan-kebimbangan mengenai kemampuan-kemampuan kita. Kita perhatikan beberapa orang teman sudah menyerah di dalam hati. Mereka masih mengayuh sepeda, lebih karena mereka tidak bisa berhenti begitu saja di tengah jalan. Dan jumlah mereka semakin banyak, mengayuh di samping kendaraan pendukung--namanya adalah rutinitas--mengobrol di antara mereka sendiri, memenuhi kewajiban-kewajiban mereka, namun tidak lagi membuka mata akan segala keindahan serta tantangan-tantangan di jalan." (Hlm. 242)

"Kadang-kadang, bila kesepian telah merenggutkan semua keindahan, satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan tetap membuka diri." (Hlm. 289)

Meta morfillah

[Review buku] Dunia Kafka

Judul: Dunia Kafka
Penulis: Haruki murakami
Penerbit: Pustaka Alvabet
Dimensi: 608 hlm; 12.5 x 20 cm; cetakan I juni 2011
ISBN: 978 602 9193 03 9

Buku ini mengisahkan tentang dua plot dan sudut pandang yang berbeda. Plot pertama berkisah tentang Kafka Tamura dengan sudut pandang orang pertama "aku", remaja lelaki berusia lima belas tahun yang kabur dari rumahnya di Nakano, demi menghindari kutukan ayahnya dan mencari ibu serta kakak perempuannya. Dalam pelariannya, ia menemukan tempat penampungan yang tenang di sebuah perpustakaan pribadi di Takamatsu. Kafka menghabiskan waktunya dengan membaca buku dan melatih fisiknya di pusat kebugaran. Hingga suatu hari ia dicari oleh polisi terkait kematian ayahnya. Ia pun bersembunyi di perpustakaan dengan izin Nona Saeki dan menjadi asisten Oshima.

Plot kedua berkisah tentang Satoru Nakata dengan sudut pandang orang ketiga, lelaki tua yang dapat berbicara dengan kucing dan bekerja paruh waktu dengan mencari kucing yang hilang. Pada suatu kasus, demi membawa kembali seekor kucing yang hilang, ia terpaksa membunuh seorang pria misterius. Kasus ini membuatnya harus pergi dari rumahnya dan menyelesaikan sebuah misi. Ia yang tak dapat membaca dan menulis disebabkan sebuah kecelakaan saat ia berusia sembilan tahun, terbantu oleh kehadiran seorang supir truk bernama Hoshino. Pelariannya pun membawanya ke kota yang sama dengan kafka. Nakata dan kafka memang berbeda dunia, tapi di alam metafisik keduanya saling terhubung dan begitu pula yang terjadi dalam realitas sesungguhnya.

Dengan kutukan Oedipus complexs yang menjadi inti cerita, novel ini menyuguhkan tentang pencariam identitas, tragedi, takdir, dan pergulatan hidup. Meskipun begitu gaya bahasanya ringan dan menghibur. Di beberapa part tetap saja ada adegan dewasa namun dikemas dengan bahasa yang menurut saya tidak terlalu vulgar.

Kesan pertama saat melihat sampul buku ini begitu menggoda dan membuat saya ingin cepat membacanya. Mengapa? Karena ilustrasi dan warna judulnya mengesankan genre yang saya sukai: thriller, kriminal. Namun saat membuka isinya, agak sedikit kecewa dengan fontnya yang agak rapat dan kecil, serta marginnya yang begitu mepet membuat mata mengantuk tiap kali membaca.

Namun secara isi, saya jatuh cinta. Surealis, thriller dan teka-tekinya begitu menarik dan membuat saya bertahan untuk menyelesaikannya dengan cepat. Hingga ending pun, saya tetap dibuatnya penasaran dan memiliko beragam pertanyaan, seperti tentang ayah kafka, apa yang sebenarnya dianutnya? Apakah ia mato? Lalu perihal kejadian di yamanashi, apa yang sebenarnya terjadi? Apa kaitannya dengan nakata dan mengapa ia yang dipilih? Kecenderungan yang saya lihat adalah murakami suka sekali membuat tokoh utamanya adalah pecinta buku, gemar membaca, juga mengerti musik klasik dan drama yunani. Seperti di Norwegian wood, saya menemukan kisah Euripides dan Aeschylus. Membuat saya penasaran sekali dengan kisah aslinya. Membaca karyanya selalu membuat saya ingin membaca buku-buku yang disebutkan di dalamnya, juga mendengarkan musik yang disebutkan. Saya suka sekali dengan gaya murakami, dan mungkin novel inilah yang lebih saya sukai daripada norwegian wood yang saya baca sebelumnya.

Saya apresiasi 5 dari 5 bintang.

"Kafka, dalam kehidupan setiap manusia, ada suatu titik di mana dia tidak dapat kembali lagi. Dan pada beberapa kasus, itu berarti suatu titik di mana kau tidak dapat maju lagi. Ketika kita tiba pada titik itu, yang dapat kita lakukan hanyalah menerima kenyataan. Dengan cara seperti itulah kita dapat bertahan." (Oshima, hlm. 206)

Meta morfillah

#Day19 Usaha dan doa

Teruslah berusaha, sebab kita tak pernah tahu pada usaha keberapa kita akan berhasil.
Teruslah berdoa, sebab kita tak pernah tahu pada doa yang mana Tuhan akan mengabulkan.

Sore kemarin, ada sebuah chat personal di whatsapp dari nomor tak dikenal. Ternyata itu adalah chat dari pimpinan pusdiklat perpusnas tempat penelitian skripsi saya di tahun 2012. Sudah lama sekali saya dan beliau tak berkomunikasi, karena ponsel saya hilang dan nomor beliau pun ikut hilang. Saya gembira sekali saat beliau menyapa, sebab beliau orang yang sangat baik dan begitu excited terhadap skripsi saya. Apresiasi beliau sangat tinggi. Membuat saya merasa air mata yang tumpah, malam-malam begadang, hingga segala kesulitan yang saya rasakan saat membuat skripsi cukup terobati.

Dalam chat itu, beliau menanyakan kabar saya dan to the point menginformasikan bahwa perpusnas membuka lowongan. Beliau menyuruh saya segera memasukkan lamaran ke sana, meski beliau tidak menjanjikan akan diterima. Beliau mendoakan saya semoga diterima untuk tahun ini atau tahun depan. Saya mengiyakan dengan pasti. Dulu, sehabis lulus pun beliau merekomendasikan saya untuk bekerja di pusdiklat perpusnas. Beliau bilang, beliau suka skripsi dan cara kerja saya. Tapi, saat itu perpusnas belum membuka lowongan dan infonya harus menunggu keputusan MENPAN. Maka saya pun bekerja di tempat lain.

Poin yang ingin saya tekankan adalah bukan tentang pekerjaan. Tidak diterima pun bagi saya tak mengapa. Hanya saja, ada beberapa hal yang membuat saya kembali belajar. Pernah dengar kalimat "Tiap kali kamu merasa beruntung, mungkin itu adalah berkat doa ibumu."?

Saya merasakan hal itu. Betapa Allah menggerakkan hati makhluknya, bapak pimpinan itu, untuk mengingat kembali saya, mahasiswa yang hanya beberapa waktu meminta bantuannya. Siapalah saya? Kontak yang terputus sekian tahun, tiba-tiba tersambung kembali. Siapakah tangan tak kasat mata yang menyambungkannya? Saya merasa bahwa tangan Allah sedang bekerja, menyambungkan tali yang terputus. Dan itu bukan karena upaya saya. Saya yakin ada doa-doa yang bekerja di baliknya. Doa yang serupa benang fibrinogen, menjahit segala yang putus. Doa itu besar kemungkinan adalah doa mama saya, meski tak saya abaikan bisa saja doa orang-orang lain yang menyayangi saya.

Selain itu, perasaan diingat oleh seseorang yang menurut saya cukup bereputasi tinggi, menimbulkan kebanggaan dan haru pada diri saya yang bukan siapa-siapa. Maka saya bayangkan kembali, bagaimanakah rasanya bila diingat oleh Allah, sang maha raja di saat hari akhir nanti. Mungkin bisa mati lagi, saking senangnya. Yaa... bahwa ingatan manusia terbatas, maka saat diingat seseorang, terlebih didoakan, menurut saya adalah hadiah terindah. Jauh lebih indah dibandingkan benda lainnya. Mereka menyisihkan waktu, pikiran mereka untuk mengingat kita.

Terakhir, mengingatkan saya akan usaha saat skripsi. Betapa bagi saya waktu tersulit adalah saat bapak meninggal dan saat skripsi. Sejauh ini... itulah yang begitu saya ingat. Momen di mana saya banyak menangis sendirian di malam hari. Momen di mana, pada dua kejadian itu, saya tak tahan menumpahkan air mata seketika di hadapan mama saya, sebab begitu lelah dan merasa tak berdaya. Tapi, tetap saja saya harus berusaha menghadapinya. Berdoa agar diberi penyelesaian. Yaa... di sinilah sangat terasa perbedaan sebuah karya yang dibuat dengan upaya yang besar. Mungkin, saya memang sudah lupa sebagian isi skripsi saya. Tapi, saya tak pernah lupa konteks saat pembuatannya. Sebuah karya yang dibuat sepenuh hati dan diupayakan dalam kejujuran ternyata akan selalu berkesan pada hati lain. Seperti saat ini. Manalah saya pernah menyangka ada orang yang mengapresiasi skripsi saya sedemikian rupa. Ingat sampai bertahun-tahun dan menjadi jembatan beliau untuk mengingat saya. Inilah yang membuat saya kadang cerewet kepada adik-adik yang belum menyelesaikan skripsinya. Agar mereka tetap berusaha menyelesaikan, tapi tetap jujur. Bahkan meski mereka pada akhirnya harus kompre, saya lebih menghargai bila dibuat dengan jujur. Sebab, bukan isi skripsi yang menurut saya penting sekali. Melainkan proses saat pembuatannya. Di mana kita ditempa harus pandai mengelola waktu, sumber daya, bernegosiasi dengan beragam pihak, memenangkan hati serta emosi dosen dan pihak terkait, dan kemampuan soft skills lainnya. Selesaikanlah apa yang kaumulai. Meski sulit. Meski berat. Bukan untuk siapa-siapa. Melainkan untuk dirimu sendiri. Lalu, pelajari kembali perjalanannya... ambil maknanya, dan jadikan pengingat setiap kali kamu dihadapkan sesuatu yang menurutmu sulit.

Meta morfillah

17 June, 2015

#Day18 Akan ada

Akan selalu ada orang-orang yang merasa lebih tahu akan hidupmu. Lalu mengatur yang terbaik untukmu. Berkali kamu memberikan penjelasan bahwa ada hal-hal yang tidak bisa kamu lakukan karena kamu tidak mau, tidak suka. Memberikan penjelasan pada mereka mulai dari cara lembut hingga cara kasar yakni dengan tak menggubrisnya. Mengabaikan dan menganggap angin lalu. Tapi suara bising itu tetap mengganggu. Dan seringkali kamu terusik, menganggapnya menjadi sesuatu yang menyebalkan.

Lalu ada orang baru yang berusaha menyelami duniamu. Kemudian ia mengajukan pertanyaan atau pernyataan seperti yang diajukan orang-orang sebelumnya. Hal itu membuatmu kesal. Merasa dunia tak mengertimu. Mengapa setelah A harus selalu B? Kenapa tidak bisa diganti dengan 24 alfabet lainnya. Dan itu menyiksamu. Bahkan ia yang mencoba mencintaimu tak memahamimu. Memaksakan pendapat umum.

Akan selalu ada saat-saat seperti itu. Saat di mana kamu harus memutuskan mengikuti suara orang lain atau suara hatimu. Saat di mana kadang kamu merasa gamang akan kebenaran yang selama ini kamu yakini, dasar yang kamu pijaki.

Tuhan memberikan hidup padamu, kamu yang menjalani, dan orang lain yang mengomentari.

C'est la vie.

Meta morfillah

#Day17 Amanah

"Kok, dia sih yang terpilih? Padahal bagusan si fulan, ya."

"Iya, padahal si fulan juga udah usaha keras untuk amanah itu. Sedangkan dia biasa-biasa aja."

Seringkali pernyataan seperti itu terlontar di sebuah forum. Penilaian beragam orang terhadap pemangku amanah yang baru. Kita kadang lupa, bahwa ada makna di balik sebuah peristiwa yang kadang tak terjadi sekehendak kita.

Bukan kamu yang memilih, tetapi Allah yang memilihkan amanah untukmu. Jadi, jangan heran bila terkadang kamu lihat orang yang kamu anggap kompeten bisa mengemban amanah besar. Jangan heran bila ada orang yang berusaha menjauh, menolak amanah tersebut namun tetap saja mendapatkan amanah tersebut. Amanah yang tidak ia inginkan. Sementara, ada orang lain yang berusaha mati-matian ingin mengemban amanah tersebut, tapi tidak pernah mendapat kesempatan.

Jangan dikira mendapatkan amanah berarti sebuah kehebatan. Dahulu, para sahabat bila mendapatkan amanah, selalu mengucapkan "Innalillah" di awal. Mengapa? Sebab, amanah itu sungguh berat. Bahkan gunung pun menolak. Di balik sebuah amanah, ada banyak ujian dan pembelajaran untuk sang pengemban. Bila ia lulus, maka derajatnya akan naik. Tapi bila tidak, maka bersiaplah untuk mempertanggungjawabkannya. Amanah apa pun itu. Kecil mau pun besar. Baik sebagai ketua, koordinator atau pun anggota di struktur kepengurusan lingkup sekolah hingga dunia. Tanggung jawabnya sama.

Jadi, jangan main-main dengan amanah yang sedang kamu emban saat ini. Jangan pernah merasa bahwa itu hal kecil, tidak penting. Sebab, semua peran selalu memiliki arti agar pertunjukan bisa berlangsung. Tunaikanlah amanahmu sebaik-baiknya.

Meta morfillah

15 June, 2015

#Day16 Seperti Fatimah dan Ali

Wanita itu, menyimpan sebuah nama di hatinya. Namun tak memaksa tuhan untuk mewujudkannya. Sejujurnya, ia tidak memiliki ekspektasi apa pun pada hal yang tidak ia kuasai, seperti masa depan. Ia hanya tahu, bahwa ia harus menjadi lebih baik tiap harinya. Membersamai orang-orang baik, agar terpercik kebaikan mereka. Meski kadang kenaifannya muncul, saat dirinya ingin agar nama dalam hatinyalah yang mengejawantah. Tapi ia hanya memendamnya. Cinta dalam hening dan sebuah pernyataan yang ingin dilontarkan pada sang lelaki, "Hanya kamu yang tahu, berapa lama lagi aku harus menunggu."

Lelaki itu, menyimpan sebuah nama dalam hatinya. Meski ia tak ingin mendikte tuhan untuk mewujudkannya. Ia hanya berusaha mencapai kestabilan yang sudah ia ukur. Sambil berharap tiap hari, agar tuhan menjaga nama itu dan menyibukkannya dengan waktu yang panjang untuk dihabiskan bersama orangtuanya, sebelum dihabiskan bersamanya. Sesekali berharap agar nama itu sabar dalam penantiannya. Semoga tak diambil orang. Meski bila itu terjadi, ia akan tetap berusaha baik saja. Sebab, memang ia telah lama membuat nama itu menunggu. Tak ada yang tahu. Ia menyimpan nama itu baik-baik. Terkadang hatinya jeri, saat mendengar ada lelaki lain yang mencalonkan diri. Lalu lega kembali, saat mendengar wanita tersebut masih available. Terpecut untuk cepat melipat waktu dan mendatangi orangtua sang wanita.

Lelaki dan wanita itu... sama-sama tak tahu bahwa rasanya bersambut. Mereka sama-sama merasa tak pernah cukup baik dan pantas mendampingi satu sama lain. Tapi mereka ingin. Mereka saling melihat potensi yang besar bila mereka mewujud dan bersinergi. Hanya saja, di ambang usia... di penghujung waktu... semua harus dimulai. Memang lelaki yang memilih awalnya, tapi pada akhirnya wanitalah penentu. Sang wanita mulai khawatir... sampai kapan ia harus menolak lelaki yang datang? Kapan lelaki yang namanya disimpan di hatinya berani muncul meminta? Ia mulai resah menerka-nerka. Sementara sang lelaki mulai khawatir... segala yang diupayakan nampak tak berarti, bila disandingkan dengan para lelaki yang meminta sang wanita. Keberaniannya ciut. Kapan ia akan meminta? Sampai kapan ia harus memandang dari jauh?

Apakah kisah ini akan seperti Fatimah dan Ali, yang saling memendam rasa yang fitrah, dalam cara yang suci dan berakhir di singgasana yang indah?

Ada banyak kisah... tak selalu semua berakhir bahagia. Menikahi orang yang kamu cintai, adalah sebuah anugerah. Tapi, mencintai orang yang kaunikahi adalah niscaya. Mungkin saja, kita tidak akan pernah mendapatkan pilihan pertama dalam hidup, tapi pilihan keseribu pun akan sama baiknya bila kita menyikapi dengan cara yang tepat.

Semoga kisah kalian semua berakhir indah... seperti fatimah dan ali. Semoga.

Meta morfillah

#Day15 Menerima

Tanpa sadar, kamu telah memiliki bayangan tentang siapa jodohmu. Kriteria minimal membayangi setiap kaumenilai orang yang berpotensi menjadi jodohmu. Pernahkah kanu berpikir, untuk bersiap dengan segala kemungkinan?

Yaa... memang yang baik untuk yang baik. Kamu telah menjaga dirimu dengan baik, pantas saja bila kamu mengharapkan yang minimal baik seperti dirimu. Tapi... bagaimana bila yang kamu dapatkan, justru menjadi ujian bagimu?

Dia yang kamu impikan mampu membersamai pelayaran bahtera rumah tangga hingga stabil menghadapi badai, ternyata seseorang yang baru saja mengeja kebaikan. Seseorang yang justru baru mengenal hal-hal itu dari kamu. Seseorang dengan masa lalu yang kurang baik, mencoba lebih baik semenjak mengenal dirimu. Siapkah kaumenerimanya?

Dia tidak seperti yang kamu bayangkan. Bukan seseorang yang justru kamu bisa mudah bersandar dan bergantung padanya bila ada sebuah masalah, melainkan seseorang yang justru masih perlu kamu bimbing. Saat tertimpa masalah, justru kamu harus dua kali lipat lebih tegar dari sebelumnya. Sebab, ia tak begitu bisa diandalkan. Tapi, ia berusaha. Ia terus berusaha menjadi seseorang yang baik. Hanya saja butuh waktu dan kesabaran dirimu. Siapkah kamumenerimanya?

Atau, jangan-jangan kamulah yang kumaksud dari tadi? Kamulah yang berusaha menjadi lebih baik setelah mengenalnya. Kira-kira, mampukah dia menerimamu?

Coba pikirkan, dalam posisi kamu atau dia. Sudah siapkah menerima jodoh yang seperti itu? Jodoh yang tak sesuai bayanganmu.

Meta morfillah

12 June, 2015

#Day14 Buat Mereka Tersenyum?

Kebaikan itu seperti lingkaran. Ia tidak akan berhenti antara si pemberi dan si penerima, melainkan akan terus berputar hingga ke titik asal. Dan akan terus berputar. Tidak berhenti.

Dalam salah satu komunitas yang saya ikuti, ada sebuah slogan #BuatMerekaTersenyum. Mereka yang dimaksud adalah para anak yatim yang disebut #LaskarLangit. Saya sendiri tersenyum saat membaca slogan itu. Tapi, eh... sebuah penyadaran menghentakkan saya.

"Buat MEREKA tersenyum? Bukannya itu sesungguhnya Buat DIRI KITA tersenyum?"

Ya... menurut otak saya yang tiba-tiba seperti ada lampu yang menerangi, sebenarnya bukan mereka yang dibuat tersenyum. Melainkan diri kita sendiri. Konsep berbagi, setelah saya pikir ulang, sebenarnya adalah untuk kebaikan kita sendiri. Lihat saja para relawan, volunteer, dan beragam aktivis yang rela menghabiskan waktu, tenaga, pikiran, hingga uangnya di sebuah kegiatan atau komunitas sosial. Mereka tidak dibayar, bahkan lebih sering mereka mengeluarkan uang pribadi. Tapi, mengapa mereka rela banget? Ga mengeluh? Malah makin semangat dan kayak bahagia hidupnya? Padahal mah saya yakin, mereka juga banyak masalah. Tapi... ya itu... kenapa mereka malah lebih banyak senyum? Lucu, kan? Gak jadi miskin juga, saat mereka makin sering mengeluarkan uang demi manfaat kebaikan.

Yaa... saya jadi berpikir ulang. Bahwa konsep berbagi sebenarnya adalah untuk kebaikan kita sendiri. Memberikan rasa syukur semakin dalam terhadap apa yang kita miliki. Sehingga membuat kita tersenyum. Bahkan, bukan #BuatMerekaTersenyum melainkan #BuatDirimuTersenyum. Bukan kamu yang memberi, tapi kamu yang diberi. Bukan kamu yang membagi, tapi kamu yang dibagi. Bila kamu pikir, dengan uangmu kamu sudah berkontribusi besar... sebenarnya belum. Coba deh, saat kamu donasi uang, rasakan juga pengalaman terjun langsungnya. Pasti kamu merasa uang itu sangat mudah dan bagian terkecil dari konsep berbagi.

Jangan pernah takut kehabisan saat berbagi. Percaya deh, kebaikan itu tidak pernah berhenti. Dia meluas, melebar dan akan kembali padamu lagi. Bila pun bukan secara langsung padamu, bisa saja kembali dalam kemudahan yang diberikan terhadap orang yang kamu sayangi, atau di saat yang begitu himpit terasa bagimu. Ia kembali sebagai rezeki yang tak disangka. Bukan rezeki berupa uang saja. Rezeki makanan, pakaian, tempat tinggal, bahkan nafasmu. Bisa saja, saat sedang sakit parah, yang mampu menolongmu adalah dokter yang kamu bantu sekolahnya beberapa tahun lalu. Tanpa kamu tahu. Skenario Tuhan selalu lebih indah dari rencana kita.

Kebaikan tidak akan pernah berhenti. Percayalah... ia seperti lingkaran. Tak terhingga. Tanpa akhir. Jangan sepelekan kemampuanmu dalam berbagi, meski hanya sekadar wajah manis, senyum, dan bantu meworo-worokan informasi suatu kegiatan kebaikan.

Meta morfillah

#Day13 "Mama ada di sini"

Malam ini, udaku yang luar biasa sakit. Bila dia sakit, sekeluarga terutama mama langsung bingung dan pusing. Pasalnya, ia tidak bisa mengungkapkan apa yang dirasakannya. Dibawa ke dokter pun, dokter bingung mau kasih tindakan apa. Seperti saat dia sakit gigi dahulu. Giginya bolong, itu pun baru kami ketahui setelah seharian melihat ia kurang nafsu makan. Menyuruhnya buka mulut itu susah sekali. Beragam cara dicoba, seperti aku yang mengambil sikat gigi dan membujuknya membuka mulut di kamar, bilang "Ayo uda, kita sikat gigi."

Memang sedikit berbohong. Dia tak mau membuka giginya juga. Mungkin karena dia pikir ini bukannya saat mandi. Pertama, dia tidak berada di kamar mandi. Kedua, dia tidak telanjang seperti saat mandi. Juga cara mama, memaksa membuka mulutnya dengan jari tangan. Tapi udaku mengatupkan rahangnya rapat. Saat dibawa ke dokter, dokter menyerah. Bagaimana mau memeriksa, bila disuruh membuka mulut saja tidak mau?

Kali ini, uda beberapa kali mengernyit. Sedikit-sedikit menggelinjang. Bulir keringat menghiasi keningnya. Mama langsung pusing dan khawatir. Aku pelan-pelan terpengaruhi khawatir mama dan memerhatikan uda yang kuhitung hampir tiap 3 menit sekali menggelinjang. Kami berdua mencoba memeriksa ala kadar. Pertama yang kami curigai adalah gigi. Mengapa? Sebab gejalanya mirip seperti orang sakit gigi yang menahan sakit. Tapi sepertinya tidak. Mengapa? Sebab saat kami sentuh kepala atasnya, tepat di bagian jambang atas telinga, ia mengernyit hebat. Kami pun berspekulasi bahwa ini adalah sakit telinga. Memang kotoran telinga udaku itu kering. Saat kuusulkan untuk mengorek telinganya pakai alat korek besi, mama menolak. Beliau bilang, harus ke dokter THT. Kami saling menatap masygul. Masing-masing memiliki pikiran yang sama. Apakah kali ini dokternya bisa menghadapi uda? Tapi kali ini kami harus ke dokter. Sebab itu di luar kuasa kami.

Setelah mencari tahu jadwal praktik dokter THT di RS bilangan jakarta pusat langganan kami, ditemukan bahwa dokter THT hanya berpraktik di hari senin hingga kamis pukul 19
00-20.00 WIB. Aku menyarankan mama untuk cari yang di bogor agar lebih dekat, atau dokter praktik mandiri. Tapi mama menolak. Beliau yang berpengalaman di dunia kesehatan, tak mau asal pada anaknya. Jadilah kami akan ke Jakarta hari senin nanti.

Udaku begitu gelisah, meski diberi obat penenang sama mama. Sulit tidur. Lalu, mama pun pindah ke ranjangnya. Menemani sambil menggenggam tangannya. Sesekali mengelap bulir keringat yang timbul di kening karena uda menahan sakitnya. Saat uda terlihat tak tenang, mama berulang kali berkata, "Tenang... sabar ya, Nak. Mama ada di sini."

Setiap mama berkata seperti itu, uda kembali tenang dan tersenyum sambil meringis menahan sakitnya.

Udaku yang tabah, karena dia begitu luar biasa hingga tak mampu mengucapkan apa yang dirasakannya. Ia begitu kuat. Menahan sakit hingga begitu lama, tanpa pernah mengeluh. Paling, ia ganya berbaring saja dan menjadi lebih pendiam saat sakit. Tidak meminta macam-macam.

Mamaku yang selalu ada. Yaa... setiap ada yang sakit, mama siaga dan selalu berkata, "Tenang, mama di sini."

Biasanya juga akan berkata, "Apa yang kamu rasa? Kalau kamu sakit, mama bingung. Cepat sembuh dong, Sayang..."

Lalu yang sakit, tanpa diminta, akan dibelikan beragam makanan yang bisa mempercepat kesembuhannya, meningkatkan nafsu makannya, bahkan kalau meminta sesuatu akan diusahakan pengabulannya. Meski saat itu mama tidak punya uang, ia akan berusaha meminjam demi kesembuhan anaknya.

Aku berpikir...
Mama selalu ada di sini. Di hati dan di samping kami, baik saat senang dan terutama sedih atau sakit. Semoga, aku bisa menjadi sepertinya. Saat ia sakit, aku ingin menenangkannya, meyakinkannya dengan berkata, "Tenang, Ma. Aku ada di sini..."

Semoga... ya Tuhan. Semoga.

Meta morfillah

11 June, 2015

#Day12 Kesiapan

Sebenarnya, kapan kita benar-benar siap menghadapi kematian?

Pertanyaan itu melintas dan mengendap hingga memaksaku untuk menelurkannya ke dalam sebuah tulisan. Tak tahan aku menahan gemanya. Hal ini bermula saat aku telah mematikan lampu kamar di penghujung malam. Saat mama dan udaku telah terlelap dua jam sebelumnya. Tinggal aku yang beberapa malam belakangan keeulitan tidur segera. Yaa... banyak yang berkecamuk dalam pikiranku. Dua pikiran terbesar yang membuatku sulit tidur adalah tentang belum stabilnya keadaan diriku sebab belum mendapatkan pekerjaan tetap di bogor, dan tentang lamaran-lamaran pernikahan yang diajukan. Kautahu, cukup memusingkan ketika di satu sisi (pekerjaan) aku tak memiliki pilihan, di sisi lain (pernikahan) ada beberapa pilihan. Ironis.

Malam ini, aku memandangi wajah mamaku. Dalam remang yang tak terlalu gelap, wajahnya tampak seperti pahatan relief. Ada bagian-bagian yang begitu cekung, menandakan usia telah menyusutkannya. Pipinya yang dahulu penuh dan cantik, kini telah kempot karena sudah tak memiliki gigi. Keriput dan bengkok  tulangnya akibat penyakit remathoid athrotis membuatnya terlihat begitu tua dibandingkan usianya.

Lalu perasaan itu menyergap. Rasa takut kehilangan yang sudah lama tak menakutiku. Membuatku memeluknya, memastikan nafasnya masih ada, jantungnya berdetak meski lemah. Ya... rasa kehilangan. Pikiranku mulai berimajinasi. Macam-macam. Buruk-buruk. Lalu hatiku meminta pada tuhan "Jangan ambil dia, aku belum siap, Tuhan." Pada saat yang sama, suara lain dalam kepalaku bertanya, "Memang kapan kamu akan siap? Setelah stabil dalam bekerja? Setelah menikah?"

Yaa... kesadaran itu cukup menghentakku. Kapan sebenarnya kita siap? Menghadapi kematian. Kematian siapa pun. Terutama orang yang kita sayangi, dan diri kita sendiri. Kali ini, saat mengingat kematian yang niscaya, gundahku menguap begitu cepat. Bukan takut tidak dapat pekerjaan yang menghasilkan, bukan takut tidak menikah selamanya, bukan... bukan itu yang kutakutkan ternyata. Bukan itu ketakutan terbesarku, ternyata. Melainkan... takut kehilangan mamaku. Jauh lebih takut dibanding saat kehilangan bapakku. Mungkin karena usiaku yang masih kecil saat itu.

Meski kadang aku ingin jauh dari mama. Ingin mandiri dan tak diusik kecerewetannya, tapi... bukan berarti aku ingin ditinggalkan olehnya. Aku memang ingin berjarak dengannya untuk membuktikan padanya bahwa gadis bungsunya ini mampu berdiri di atas kaki sendiri. Tapi aku tidak ingin ketiadaannya. Berjarak, bukan berarti tiada, atau meniadakan.

Jadi, hanya syukur yang bisa kupanjatkan pada tuhan. Ia begitu paham, aku belum siap kehilangannya. Dan entah kapan aku akan siap. Meski mungkin tidak akan pernah ada kata siap untuk menghadapinya. Siap di depan kematian.

Meta morfillah

[Review buku] Sebelas patriot

Judul: Sebelas Patriot
Penulis: Andrea Hirata
Penerbit: Mizan media utama
Dimensi: xii + 112 hlm, 20.5 cm, cetakan pertama Juni 2011
ISBN: 978 602 8811 52 1

Bermula dari sebuah foto tua, lusuh, dan berbintik yang ditemukan ikal. Foto itu memotret sosok anak lelaki yang sedang memegang piala, namun ekspresi wajahnya tidak tersenyum. Sepotong gambaran itu ternyata menghubungkan masa lalu sang ayah yang pendiam dan masa depan ikal. Ya... anak lelaki itu adalah ayah ikal. Ayahnya yang irit kata dan lekat pada sunyi senyap. Ayahnya yang begitu pendiam. Manalah ikal menyangka bahwa ayahnya itu pernah menjadi kebanggaan di masa lalunya. Menjadi patriot bersama dua saudara lainnya yang mewarnai nasionalisme terhadap Indonesia lewat olahraga sepak bola.

Anak lelaki yang dipaksa kerja rodi menggantikan ayahnya di parit tambang. Ia menemukan surga dalam sepak bola. Dua kali empat puluh lima menit yang sportif, di mana semua bebas, tidak ada yang menjajah. Sayangnya, semua hal hingga sepak bola adalah politik bagi Van Holden, utusan belanda. Kemenangan yang diciptakan anak lelaki dalam foto tersebut, ia sinyalir sebagai tindakan pemberontakan pribumi kepada Belanda. Dalam perlombaan apa pun, belanda harus menang. Juara renang, juara catur, juara bulu tangkis harus mengalah saat melawan belanda. Sayangnya, tim sepak bola anak itu, sebelas patriot, tidak mau mengalah dan memenangkan pertandingan. Tahukah apa kalian akan hukumannya? Mereka semua disiksa dalam tangsi lalu dibuang. Bahkan untuk anak lelaki itu, lututnya dicederai hingga ia tak bisa lagi main bola selamanya.

Dari kisah yang didapatkan itu, ikal mulai memiliki pandangan yang berbeda terhadap ayahnya dan sepak bola. Ia memupuk mimpi untuk menjadi pemain sepak bola profesional di PSSI. Sayang, kandas saat dua langkah lagi mencapai impiannya tersebut. Dalam putus asa tersebut, ayahnya kembali menyemangati dengan kalimatnya nan bijak,

"Prestasi tertinggi seseorang, medali emasnya, adalah jiwa besarnya." (Ayah, hlm. 61)

Dari sana, ikal tetap menyimpan sebuah mimpi terhadap sepak bola. Bahkan ia memiliki filosofi yang dalam tentang permainan sepak bola (hlm. 97) saat ia berada di Spanyol dan berkesempatan menonton langsung pertandingan real madrid, klub favorit ayahnya. Juga membelikan kaos bola bertanda tangan Luis Figo, pemain sepak bola kesukaan ayahnya.

Secara keseluruhan, novel ini begitu ringan, khas gaya bahasa andrea hirata yang agak melayu dan puitis, namun tetap filosofis. Seperti filosofi buah dalam permainan sepak bola yang membuat saya ngakak.

Hanya saja, sedikit mengejutkan bagi saya, mengapa novel ini kurang tenar. Tidak seperti karya andrea hirata yang begitu booming sebelumnya, hingga dibuat film dan diterjemahkan ke berbagai bahasa dan mengusung konsep global marketing: tetralogi laskar pelangi dan dwilogi padang bulan. Kalau saja karena ketidaksengajaan diskusi mengenai karya terbaru andre hirata berjudul ayah, yang baru terbit, saya tak akan tahu tentang novel ini.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang untuk novel ini.

Meta morfillah

[Review buku] Bahagianya merayakan cinta

Judul: Baarakallaahu laka... Bahagianya merayakan cinta
Penulis: Salim A. Fillah
Penerbit: Pro U media
Dimensi: 534 hlm, 16 x 24 cm, cetakan ketigabelas november 2013
ISBN: 978 979 981 5194

Saat menikah, dalam Islam tamu diharapkan mengucapkan kalimat "Barakallahu laka wa baraaka 'alaika wa jama'a bainakuma fii khaiir.."

Bukan doa 'semoga sakinah mawaddah warahmah' atau 'long last yaa' atau 'semoga bahagia dan lekas punya anak'

Bukan itu semua. Mengapa doa itu yang dipilih? Ternyata ada maknanya. Salim dengan cerdas dan bahasanya yang puitis, indah, namun tetap sarat makna mengurainya menjadi tiga perayaan.

Perayaan pertama, sebait doa 'Baarakallahu laka..." yang berarti semoga allah karuniakan barakah kepadamu. Maknanya adalah, silakan merayakan cinta di tiap detik yang mengundang senyum, tawa dan syukur. Teruslah merayakan cinta dalam kegembiraan dan kesenangan. Sebab memang inilah kurnia allah dalam pernikahan, semoga berkah segala hal yang baik dan menyenangkan, inilah nikmat.

Perayaan kedua, doa 'wa baaraka 'alaika.." yang berarti semiga allah limpahkan keberkahan atasmu. Maknanya adalah rayakan cinta meski ujian menerpa. Bersama barakah, masalah akan menguatkan jalinan. Teruslah rayakan cinta dalam komunikasi yang penuh kemesraan, menghormati para orangtua, memuliakan tetangga, menyambut tamu, menjaga lisan dari dosa, mengupayakan nafkah yang halal, menjaga diri dari kata pisah kecuali karenaNya. Sebab inilah ujian dari Allah atas hal-hal yang kurang kamu senangi saat melayarkan biduk rumah tangga.

Terakhir, bait doa 'wa jama'a bainakuma fii khaiir...' yang berarti semoga allah himpun kalian berdua dalam kebaikan. Maknanya adalah merayakan cinta dalam ibadah yang menghidupkan sunnah, jihad dan dakwah yang menggelora, aktualisasi diri yang memesona dunia, menyambut anak-anak yang akan meramaikan dunia dengan peran-peran kesalehan. Setelah syukur atas nikmat di bait pertama, bersabar atas ujian di bait kedua, maka bersinergilah di bait ketiga.

Ada beberapa bagian di dalam buku yang dinukil dari buku karya penulis sebelumnya, seperti 'Agar bidadari cemburu padamu', dan 'Dalam dekapan ukhuwah'. Hanya saja, agak lucu ketika saya mengingat betapa buku ini saya diamkan beberapa lama disebabkan murabbi saya dahulu melarang membacanya jika belum ada keinginan menikah. Ternyata ini sebabnya, dalam buku ini ada penjelasan tentang malam zafaf dan begitu terasa keinginan penulis agar yang membacanya merasai pernikahan. Semuanya gamblang dijelaskan secara syariat tanpa porno. Dan ternyata, memang buku ini dibuat oleh penulis saat beliau masih mereguk manisnya bulan madu. Pantas saja, terasa indah sekali pernikahan dan keinginan penulis agar yang membacanya juga menyegerakan pernikahan. Yaa... memang di kampus dahulu, ada guyonan bahwa ustad salim ini dikenal sebagai ustad nikah, sebab kampanyenya untuk nikah muda... haha

Secara keseluruhan, saya memberi 4 dari 5 bintang. Sebab, beberapa pengulangan tersebut membuat saya kadang lupa sedang membaca karya penulis yang mana.

Meta morfillah

[Review buku] Manjali dan cakrabirawa

Judul: Manjali dan Cakrabirawa
Penulis: Ayu utami
Penerbit: KPG
Dimensi: x + 252, 13.5 x 20 cm, cetakan kedua september 2010
ISBN: 978 979 91 0260 7

"Jika kebetulan-kebetulan itu terlalu banyak dan cocok satu sama lain... Anda percaya bahwa itu adalah serangkaian kebetulan belaka?" (Jacques, hlm. 17)

"Misteri adalah sesuatu yang jawabannya tak akan pernah kau capai dalam hidup ini. Teka-teki adalah sesuatu yang jawabannya ada dalam hidup ini." (Yuda, hlm. 201)

"Manusia mungkin tidak punya kapasitas untuk mengampuni (barangkali hanya Tuhan yang bisa mengampuni), maka yang bisa kita lakukan adalah berdamai. Berdamai dengan sisi gelap yang tak bisa kita kuasai." (Parang jati, hlm. 207)

Tertulis di halaman belakang sampul novel ini, bahwa novel ini adalah roman misteri - seri bilangan fu. Tokoh utama dalam novel ini berpusat pada Marja, gadis kota yang ringan hati dan terbelah cintanya terhadap dua lelaki, Yuda dan Parang Jati. Jika Bilangan Fu lebih filosofis, seri roman ini lebih merupakan petualangan memecahkan teka-teki. Teka-teki itu berhubungan dengan sejarah dan budaya nusantara, sehingga novel ini ringan membawa pembacanya kembali mengenal khazanah tersebut. Seri bilangan fu selanjutnya akan terdiri roman misteri dan roman spiritualisme kritis.

Masih terkait dengan cerita di novel sebelumnya, yakni bilangan fu. Novel manjali dan cakrabirawa ini menjelaskan detail yang terjadi selama hampir dua pekan Yuda meninggalkan kekasihnya, Marja di Sewugunung bersama sahabatnya, Parang Jati. Bermula dari jelajah alam dan candi bersama, hingga menemani penggalian artefak candi Cwalanarang seorang peneliti dan arkeolog asal Prancis bernama Jacques, Marja menemukan sesuatu hal yang baru. Perlahan tapi pasti, ia menyadari bahwa dirinya jatuh cinta pada Parang Jati, padahal ia sudah berpacaran dengan Yuda. Serta beragam hal yang terjadi membuka mata dan hatinya menjadi lebih peka. Ia menemukan rahasia yang terkubur di balik hutan, kisah cinta yang sedih melibatkan cakrabirawa dan gerwani serta sejarah kelam negeri ini, juga beragam kisah hantu yang bahkan ia temui dan masih menjadi misteri hingga akhir. Puncaknya adalah, saat dirinya berhasil menjawab teka-teki yang berdampak pada manusia lainnya. Beragam kebetulan itu, membuat dirinya berpikir bahwa setiap yang terlibat memiliki arti.

Secara isi, novel ini benar-benar seperti bacaan ringan yang jauh sekali dari gaya awal ayu utami di novel sebelumnya yang kritis, bilangan fu. Tidak banyak hal istimewa yang saya dapatlan selain kisah calon arang dan kerajaan airlangga. Terlalu jauh rasanya bila dibandingkan dengan novel sebelumnya. Terlalu mudah ditebak, fokus lebih ke imajinasi liar Manjali yang menurut saya agak membosankan dan diulang-ulang. Saya tak tahu seri selanjutnya berjudul apa, dan akan dibuat seperti apa. Hanya saja, berharap tidak sedangkal ini. Atau, saya kehilangan objektifitas, karena novel sebelumnya, bilangan fu berhasil membuat saya terpukau dan berharap tinggi?

Saya apresiasi 3 dari 5 bintang.

Meta morfillah

#Day11 Komunikasi

Tidak ada hubungan yang buruk, yang ada hanyalah komunikasi yang kurang baik.

Pernahkah kamu bertengkar dengan orangtuamu? Coba diingat lagi, apa sebabnya? Kamu bilang, orangtuamu tidak mengerti tentang dirimu. Pernahkah kautanyakan lagi, apa yang sesungguhnya orangtuamu pikirkan? Misal, kalian berdebat tentang kamu yang ingin kuliah di luar kota, tapi orangtua tidak mengizinkan sebab tidak ada satu pun kerabat di kota itu yang bisa dititipkan penjagaan atas dirimu. Lalu kalian sama-sama keras kepala. Masing-masing merasa pihaknyalah yang benar. Dalam situasi ketegangan seperti itu, harus ada salah satu yang mengalah untuk mendengarkan. Bukan berarti mengalah itu selalu kalah. Bukan. Tapi mengalah dalam suatu perbedaan pendapat adalah dengan berpikir tenang, mencoba menelaah dari sisi lawan bicara kita. Sebab, bila kita sama-sama ngotot, komunikasi sudahlah tidak sehat.

Tahu kan, apa saja pendukung suatu komunikasi berhasil? Dalam teori sederhananya, harus ada source (sumber), message (pesan), channel (saluran), dan receiver (penerima). Bila keduanya sama-sama ingin didengar, maka keduanya akan menjadi source. Nah, bagaimana bisa akan terjadi komunikasi yang baik, ketika tidak ada yang menjadi receiver?

Dalam semua hubungan... komunikasi berperan penting. Pesatnya teknologi komunikasi saat ini, ternyata bisa memperparah hubungan, bukannya menambah erat. Contoh, dengan asyiknya orang pada gadget masing-masing, lihatlah saat berkumpul. Komunikasi dengan orang sekitarnya menjadi kurang optimal. Kontak mata berkurang, sehingga lawan bicara merasa diabaikan. Lalu masing-masing asyik dengan gadgetnya. Mereka memilih berbicara dengan orang yang jauh jaraknya, yang bahkan tak kamu tahu apakah sedang benar tersenyum saat ia memberikan emoticon senyum. Tak kamu kenal dengan baik, dibandingkan yang ada di sampingmu saat ini. Ironis bukan. Teknologi yang seharusnya mendekatkan yang jauh, dan mengeratkan yang dekat, malah kehilangan kontrol. Mendekatkan yang jauh, dan menjauhkan yang dekat. Berapa banyak hubungan rusak, seperti orangtua dan anak, istri dan suami, teman? Well, this is smart phone era, so please be a smart user!

Ada juga kasus lalainya ibadah akibat asyiknya chatting. Ada lagi kasus rusaknya pertemanan karena komunikasi tertulis via whatsapp yang memang sensitif dan sebaiknya dibicarakan (komunikasi lisan), sebab tulisan tidak memiliki intonasi. Selalu ada perbedaan antara komunikasi lisan dan tulisan. Kamu tak bisa mendeteksi kebohongan dalam tulisan, tidak saat kamu mendengar suaranya.

Begitulah... bila salah satu hubunganmu ada yang sedang kurang baik, maka perbaikilah komunikasimu. Too much information is not good too... I think. You should have space to make your quality time: with your family, friends, and yourself, of course.

So please, don't be a dumb people. Technology is jusqt technology. It's a tools. It depends on you. You have that power: to destroy or to build?

Meta morfillah

10 June, 2015

#Day10 Memaafkan

Memaafkan bukan berarti kalah, lembek, menyerah, dan bodoh.
Memaafkan bukan untuk kepentingan mereka yang dimaafkan. Sebab dengan memaafkan, sesungguhnya kita memenangkan hati dan diri kita. Kita menguasai kembali kebahagiaan kita, dengan melepas energi negatif. Kita membiarkan diri kita tak dikuasai amarah dan sakit hati berkepanjangan yang menyibukkan diri kita dari upaya membahagiakan. Satu menit marah, enam puluh detik kita kehilangan momen bahagia.

Memaafkan adalah berdamai. Berdamai dengan dirimu sendiri. Berdamai dengan hal-hal yang tak bisa kaukendalikan. Berdamai dengan kesadaran bahwa tiada yang sempurna, sama sepertimu.

Setidaknya, bila memang tidak bisa sepenuhnya memaafkan, terlebih melupakan, maka berdamailah. Seperti kutipan kata-kata Parang Jati dalam novel Manjali dan Cakrabirawa berikut.

"Manusia mungkin tidak punya kapasitas untuk mengampuni (barangkali hanya Tuhan yang bisa mengampuni), maka yang bisa kita lakukan adalah berdamai. Berdamai dengan sisi gelap yang tak bisa kita kuasai." (hlm. 207)

Meta morfillah

09 June, 2015

#Day9 Tentang komunitas

Bukan dunianya yang sempit, tapi ukhuwah kita yang meluas. Agnes RT

"Grupnya banyak, tapi isinya sama aja. Orang yang itu-itu lagi."

"Udah ke beragam komunitas, tapi ketemunya dia lagi, dia lagi."

Semakin ke sini, semakin banyak yaa komentar senada seperti itu. Jauh-jauh ikut komunitas pendaki gunung, eh ketemu sama teman di komunitas pecinta buku dan komunitas gerakan cinta lingkungan. Tidak aneh. Sebab, semua orang akan berkumpul dengan yang sepaham.

Saya suka kutipan kalimat pembuka tulisan ini, yang saya dapat dari teman di salah satu komunitas. Ya, saya rasa bukan dunianya yang sempit, tapi ukhuwah kita yang meluas. Sadar tidak? Kita memperluas pergaulan, tapi ternyata orang yang kita temui, kebanyakan orang yang sama, yang kita kenal di komunitas lainnya. Tapi dari sanalah, kita menjadi tahu siapa saja yang aktif, konsisten, dan sesuai tujuan. Pertemuan dalam ragam komunitas itu menjadi semacam saringan. Lalu akhirnya kita tanpa sadar terbantu oleh saringan tersebut. Kita bisa mengenal pribadi dari ragam komunitas yang diikuti. Bisa menyelami karakter saat bersama dalam suatu event terlebih saat bermalam dan ada situasi kritis.

Setiap orang itu ibarat cermin. Cermin akan refleksi dirinya, ia akan berkumpul dengan jiwa-jiwa yang memiliki kesamaan dengan dirinya. Mencintai hal yang sama. Begitulah jiwa-jiwa saling menemukan dan dipertemukan. Tujuan yang sama. Tak jarang, mereka menemukan teman seperjalanan dalam menuju tujuan itu. Cinta yang perlahan menjalar tumbuh dalam sebuah komunitas. Sangat wajar.

Tak wajar adalah bila, ada oknum yang melancarkan serangkaian modus dengan mengikuti beragam komunitas untuk menyebar jaringnya. Tak aneh pula, sebab saya beberapa kali menemui orang seperti ini. Sesungguhnya mereka tak tertarik dengan nilai-nilai komunitas tersebut, melainkan mereka hanya ingin memiliki banyak kenalan sehingga banyak pilihan untuk ditimbang mana yang akan ia jadikan pacar. Lalu rangkaian acara komunitas tersebut disettingnya menjadi acara yang panjang, hingga malam, lalu membuat lupa diri, dan membuat aksinya berjalan lancar. Berganti-ganti kekasih di tiap komunitas. Tiap ada orang baru, akan dia dekati. Bahkan ia akan mengikuti komunitas yang diikuti sang pujaan.

Maka, dari sekian banyak komunitas, tanda ukhuwah kita yang meluas, semoga kita tetap dapat menjaga diri. Jangan jadikan alasan menghabiskan waktu hingga terlena. Meski godaan bersama mereka yang sepaham begitu menggoda.

Meta morfillah

[Review buku] Bilangan fu

Judul: Bilangan Fu
Penulis: Ayu utami
Penerbit: KPG
Dimensi: x + 537 hlm, 13.5 x 20 cm, cetakan pertama Juni 2008
ISBN: 978 979 91 0122 8

GILA!!
Fyuuh.. itu kata yang terlintas saat menyelesaikan novel ini. Kebayang berapa lama nyiapin data, riset serta beragam dukungan dalam melahirkan novel ini. Beragam isu dari agama, feminisme, pewayangan, filsafat, dan lainnya sarat sekali di sini. Pertama saya membaca novel ini, saya merasa agak deja vu dengan dua penulis. Kesan surealis--meski tak sepenuhnya novel ini surealis--yang saya dapatkan di novel ini membuat saya teringat karya Eka Kurniawan di 'Cantik itu luka'. Sedangkan pembahasan agama, mengingatkan saya pada seri supernova karya Dewi lestari, hanya saja bahasa yang digunakan ayu utami lebih berat.

Melalui tiga tokoh utama dalam buku ini, saya mempelajari sedikit tentang babad tanah jawi, legenda dan kaitannya dengan alam, serta ilmu geologi. Adalah Yuda, yang memosisikan dirinya sebagai iblis, seorang pemanjat tebing yang skeptis dan senang sekali bertaruh, serta melecehkan nilai-nilai masyarakat. Lalu Marja, kekasih Yuda, manusia yang bertubuh kuda teji dan berjiwa matahari. Dan Parang Jati, si malaikat, seorang pemuda berjari dua belas yang terbiasa menanggung duka dunia. Kisah mereka berkelindan dan diawali dari sebuah kejadian aneh, yakni kebangkitan orang mati dari kubur hingga penyelamatan perbukitan gamping di selatan jawa.    

Di antara kisah tersebut, ada sebuah misteri tentang bilangan fu. Bilangan yang bila dikalikan satu hasilnya sama dengan satu dibagi bilangan tersebut, dan bilangan itu bukanlah satu. Dari bilangan fu tersebut, tokoh dalam cerita ini menapaktilasi sejarah bilangan yang purba, yang bila dirunut berdampak pada pemikiran manusia sejak zaman pitecantropus erectus. Juga berkelindan dengan legenda dan mitos setempat.

Satu hal yang saya suka ada di halaman 463, saat penulis membuat jarak dengan tokohnya. Ia membuat seakan-akan cerita ini nyata, ditulis oleh yuda dan beberapa catatan parang jati yang dikisahkan dan ditulis ulang oleh ayu utami. Seakan mereka semua hidup. Cara yang menarik untuk menghidupkan semua tokoh dalam tulisannya.

Secara isi, saya suka dengan ide yang diusung oleh sang penulis. Ia menyebutnya spiritualisme kritis, mengangkat wacana spiritual, keagamaan, kebatinan, maupun mistik ke dalam kerangka yang menghormatinya sekaligus bersikap kritis kepadanya, tanpa terjebak dakwah hitam dan putih. Terlepas dari kontroversi muatannya, saya kira membaca novel ini cukup dinikmati sebagai fiksi, bacaan ringan, dan kesungguhan yang diperlihatkan penulis dalam membangun kerangka pikirnya dengan riset. Saya apresiasi 4 dari 5 bintang. Tadinya mau saya beri nilai sempurna, tapi ada banyak kata yang baru saya temukan dan menambah kosakata saya, dan itu mengurangi kesenangan saya. Sebab membuat bingung, harus mencari tahu, dan ketika dipadankan, ternyata bahasanya masih 'terlalu tinggi' buat saya.. hahah... but so far, I really enjoy read this novel!

"Hanya kebaikan yang boleh mewujud hari ini. Kebenaran harus kau pikul agar jangan jatuh ke tanah dan menyentuh bumi, menjelma, hari ini. Sebab, jika kebenaran menjelma hari ini, ia menjelma kekuasaan.
Tapi kau juga tak boleh membuang kebenaran dari pundakmu seperti benda tak berharga. Sebab, jika demikian, maka engkaulah si congkak berhati degil itu.
Kau, sekali lagi, harus memikulnya, agar jangan ia menyentuh tanah dan menjelma kekuasaan.
Mengertikah kau? Kukira tidak. Aku tahu, butuh waktu bagimu untuk mengerti." (Hal. 408)

Meta morfillah

Text Widget

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik