Pages

30 June, 2016

#Day25 Sabar dalam kebaikan

#Day25 Sabar dalam kebaikan

Maka bersabarlah kalian, karena mungkin kalian tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. [Q. S. An nisa (4) : 19]

Penyakit saya kambuh! Dari dulu tiap akhir tahun ajaran baru dan kelulusan siswa, saya selalu merasa sedih dan berat untuk berpisah. Selalu menganggap anak-anak yang menemani saya satu tahun itu adalah anugerah terindah yang pernah saya miliki. Saya mencintai mereka dari kurang hingga lebihnya. Dan agak lama menerima murid baru. Kemungkinan satu bulan baru saya bisa mengenal perlahan dan jatuh cinta lagi pada murid saya. Tiap tahun menyesuaikan dengan jiwa dan karakter baru.

Tapi tahun ini agak berbeda. Sebab ini benar-benar sekolah dengan konsep yang unik sepanjang pengetahuan saya. Jauh berbeda dengan pengalaman saya di homeschooling dulu. Sekolah yang berkembang dan menjelma gigantis dengan impian yang tinggi. Calon sekolah besar. Berani mengambil risiko dan merangkak menuju jalan impian. Meski tertatih, tapi begitu pasti. Maka perubahan dari kelas 2 SD ke kelas 1 SMP bagi saya cukup radikal. Seratus delapan puluh derajat.

Itu pula yang dikatakan para mama saat buka bersama tadi. Macam-macam komentarnya.

"Wah, Bu Meta loncatnya jauh banget! Dari kelas 2 SD jadi wali kelas 1 SMP."

"Iya... ada apa dengan Bu Meta? Pasti Bu Meta di atas rata-rata sampai dipilih sejauh itu dibanding guru yang lain."

"Yaaah... sekarang Bu Meta udah gak bisa ikut kegiatan SD lagi deh. Gak ikut jalan sama anak-anak."

"Ambil hikmahnya aja, Bu. Mungkin Ibu harus lebih serius, Ibu kan becanda muluk, ketawa terus."

Hahaha... banyak yang sayang saya yaa... sampai pada perhatian begitu. Saya sendiri kaget mengapa mereka bisa sampai tahu kabar itu dengan cepat. Tapi apa yang dikatakan para mama memang ada benarnya. Hal terberat adalah saya tidak bisa membersamai kegiatan SD lagi. Yang tadinya hiruk pikuk, senang-senang, tertawa sebab terhibur celoteh lucu nan polos anak-anak, kini harus sedikit berwibawa dan tegas menghadapi anak dengan masa puber dan pencarian jati diri. Meski sepertinya saya akan tetap main ayunan, tetap menggoda anak-anak di SD, tapi... entahlah bagaimana nanti.

Sungguh saya tak suka sebenarnya, tapi... mungkin Allah memang menjadikan banyak kebaikan pada posisi dan amanah saat ini. Membantu saya (terpaksa) menghafal 2 juz Al Quran, hadits arbain, kajian, sirah, bahasa arab, english, sunda, dan lainnya. Saya yang jauh lebih banyak belajar dibanding anak yang akan saya ajar. Yaa... sesuai impian mama saya yang pengin anaknya jadi ustadzah dan guru. Kali aja tahun depan saya masuk AKSI Indos**r.

Jama'ah... oh jama'ah... alhamdulillah 'ala kulli hal

Meta morfillah

29 June, 2016

#Day24 Rumah

#Day24 Rumah

Home= where the HEART is.

Tak peduli bagaimana bentuknya, rumah adalah tempat di mana kamu benar-benar bisa menjadi dirimu. Tempat melepas segala topeng, kepura-puraan hingga penat akan beban dari dunia di luar sana. Tempat di mana dirimu amat dicintai apa adanya, hingga kamu tak malu menelanjangi diri di dalamnya. Sebab segala kisahmu terekam di dalamnya. Setiap bagiannya menjadi saksi jujur dan bagian dalam hidupmu. Kamu akan merasa sangat nyaman meski hanya sendirian di dalamnya. Sebab hatimu ada di sana. Ia menyatu, menerima, dan akhirnya melebur bersama dirimu. Itu semua diawali dengan hati kedua orangtuamu yang memupuk cintanya dan mengalirkan energinya ke dalam rumah. Hingga tak ada bangunan lain senyaman rumahmu, meski infrastrukturnya mungkin melebihi rumahmu saat ini.

Namun, akan ada saatnya kamu harus meninggalkan kenyamanan rumah itu dan memulai membangun bata demi bata, tangga demi tangga sebuah rumah masa depan. Rumah yang harus kamu isi dengan hatimu, demi menyiapkan rumah terbaik bagi penghuninya: pasangan hingga keturunanmu. Kira-kira... rumah seperti apa yang kamu ingin bangun? Rumah penuh cinta hingga malaikat pun senang mendatanginya, atau rumah bagai neraka yang setan pun senang sebab mendapat tambahan teman?

Selamat mempersiapkan rumahmu!

Meta morfillah

#Day23 Ending

#Day23 Ending

Dalam tiga hari ini saya mendapat kabar dari orang-orang dekat saya yang kehilangan orangtua, adik, dan anak mereka. Betapa banyak. Kematian tiga orang bagi statistika hanyalah angka. Tapi bagi tiga keluarga bisa mengubah haluan keluarga tersebut, bahkan khususnya bagi pribadi yang dekat. Dunianya bisa berubah 180 derajat akibat ditinggalkan.

Saya sedih mendengar kabar tersebut. Lebih sedih lagi sebab saya tak bisa takziah disebabkan terhalang jarak, waktu, dan amanah. Saya merasa iba pada keluarga yang ditinggalkan. Tapi sesuatu menyeruak di pikiran saya. Tidak sepatutnya saya merasa iba, sebab mereka adalah keluarga yang beruntung. Ditinggal meninggal saat ramadhan dan sebab sakit adalah sebuah kematian yang insya allah baik. Sebuah keutamaan. Sedangkan saya? Saya tak tahu bagaimana akhir hidup saya nanti. Apakah akan meninggal pada waktu, tempat, dan sebab yang diridhai dan mendapat keutamaan?

Sepatutnya kematian adalah nasihat terbaik bagi yang hidup, yang ditinggalkan. Agar kita berefleksi sudah sejauh dan sebaik apa kita mempersiapkan kematian kita atau akhir hidup kita. Apakah upayanya menuju ke happy ending berlimpah berkah dan nikmat surga, atau sad ending bertubi siksa neraka?

Meta morfillah

27 June, 2016

#Day22 Amanah

#Day22 Amanah

"Positioning SMP kelas 1 adalah Bu Meta. Juga merangkap sebagai wali kelas. Dengan beragam program seperti company profile, temu tokoh, magang, survival, dan live in. Semangat Bu Meta!"

Mendengar pengumuman itu membuat saya begitu takut. Takut akan amanah yang begitu besar dan juga takut mengecewakan mereka yang berekspektasi tinggi pada saya.

"Target khotmil qur'an kelas 1 SMP adalah juz 29, Bu. Haditsnya adalah hadits arba'in. Ada inspirasi pagi, morning activities, kajian dan bahasa. Sebagai wali kelas ibu yang menjaga hafalan mereka dan membuka serta menutup kelas."

Terbayang betapa saya masih tertatih untuk mengejar ketertinggalan yang akan menjadi tanggung jawab saya. Saya butuh percepatan belajar! Bagaimana... bagaimana... bagaimana? Migrain menyerang kepala saya. Saya teringat sebuah ayat dalam Al Quran yang menjelaskan betapa beratnya amanah hingga langit dan gunung pun menolak sebab ia bisa hancur. Tapi... manusia dengan kekerdilannya malah memburu amanah demi tahta, harta, dan cinta. Jujur saja, lemas badan saya menanggapi berita ini. Saya terngiang kata-kata Umar bin Khattab ketika ia didaulat sebagai khalifah pengganti Abu Bakar. Innalillahi... hingga janggutnya basah sebab air mata.

"Ma, aku dipilih jadi guru kelas 1 SMP dan wali kelasnya. Tahun ini adalah tahun pertama, pembukaan SMP baru. Meta takut, Ma..."

"Loh, kenapa takut? Kamu punya Allah... tenang saja, kamu pasti bisa. Banyak doa dan belajar. Jangan tinggalin shalat. Mama doakan kamu bisa."

"Beneran doain ya, Ma. Meta benar-benar enggak kebayang model SMP Islam Ibnu Hajar berbasis STIFIn dan sekolah alam ini mau menghasilkan output seperti apa. Lalu bagaimana nanti kalau Meta mengecewakan dan enggak berhasil?"

"Tenang saja... kamu pasti bisa. Asal jangan lupa sama Allah."

Yaa... kadang reaksi pertama kita adalah mengukur diri secara manusiawi. Hingga merasa amat tak pantas. Kita lupa bahwa ada Allah yang Maha Besar dibandingkan amanah kita. Bismillah... biiznillah. Kita hanya dapat berbuat yang terbaik terhadap amanah tersebut. Sebab kadang yang kita inginkan tak sesuai pilihan, dan kadang yang dipilihkan tak sesuai keinginan.

Meta morfillah

26 June, 2016

#Day21 Tanda kebaikan seseorang

#Day21 Tanda kebaikan seseorang

"Man yuridillahu bihi khairan, yufaqqihhu fiddiiin. Barang siapa yang Allah kehendaki padanya kebaikan, maka Allah akan pahamkan dia dalam masalah agama. H. R. Bukhari."

Membaca hadits ini mengingatkan saya bahwa ada indikator yang memudahkan dalam menilai seseorang. Tanda kebaikannya. Lihat saja apakah semakin hari ia semakin paham akan masalah agama. Mampu menjawab pertanyaan kontemporer dengan lisan hingga amalnya. Menandakan bahwa ia terus menimba ilmu dan mau belajar. Seseorang yang patut diperjuangkan dan disebut namanya dalam doa.

Bukan banyak-banyakan hafalan lalu nyinyir pada yang masih awam. Bukan seseorang yang bergelar ustad lalu merasa puas akan pencapaiannya tersebut yang mengakibatkan ia kembali pada level terbawah. Sebab orang yang merasa pintar adalah orang terbodoh. Berbeda dengan orang yang pintar merasa... merasa bahwa semakin ia mendalami sebuah ilmu semakin terlihat betapa ia kecil dan tak berarti tanpa Tuhannya. Betapa ia semakin tak tahu apa-apa dan tak lebih mulia dari orang lain. Semakin ia tawadhu dan merunduk bak padi yang menguning.

Orang-orang seperti itu... yang kian hari kian jarang. Mendapatinya sebagai guru, bahkan teman adalah sebuah kekayaan. Pada mereka, kita banyak belajar. Maka rezeki bukan saja materi berlimpah, melainkan juga teman yang shalih dan mau mengajak kita ke surga bersama. Adakah teman seperti itu di antara teman-temanmu?

Meta morfillah

[Cerita lirik] Photograph

Loving can hurt sometimes
But it's the only thing that I know
When it gets hard
You know it can get hard sometimes
It is the only thing that makes us feel alive

We keep this love in a photograph
We made these memories for ourselves
Where our eyes are never closing
Hearts are never broken
Times forever frozen still

So you can keep me
Inside the pocket
Of your ripped jeans
Holdin' me closer
'Til our eyes meet
You won't ever be alone
Wait for me to come home

Loving can heal
Loving can mend your soul
And it's the only thing that I know
I swear it will get easier
Remember that with every piece of you
And it's the only thing we take with us when we die

And if you hurt me
That's OK, baby, only words bleed
Inside these pages you just hold me
And I won't ever let you go
~~~
Banyak yang mengupload foto ke dalam media sosialnya. Banyak pula beragam niat saat menguploadnya. Tapi, aku meyakini satu hal. Bahwa semua itu adalah upaya mengawetkan kenangan. Apa pun itu. Terutama yang bahagia. Sebab bila menyakitkan, kebanyakan orang ingin melupakan. Begitulah watak manusia. Menunjukkan betapa ia lemah hingga butuh alat bantu membekukan memori yang ingin ia ingat selamanya. Melalui gambar atau foto.

Meski pada akhirnya ia akan mengalami beragam guncangan kehidupan dan sangat mungkin pada akhirnya kenyataan jauh lebih menyakitkan dan tak selebar senyumnya saat difoto. Tapi... ia akan selalu kembali terpanggil ke masa di mana foto itu diabadikan. Meski ia akan membenci orang yang ada di foto itu, tapi ia akan tetap teringat bahwa ia pernah bahagia dan tak ada masalah di foto itu.

Foto yang kadang tak jujur. Sebab seringkali orang hanya berformalitas tersenyum atau tertawa. Bukankah lucu, pada kamera kita selalu menampilkan sisi terbaik kita.

Kenangan bahkan jauh lebih abadi dibanding pelakunya, manusia itu sendiri. Banyak yang menghibur dirinya dengan melihat kembali album foto masa lalunya. Pun denganku. Saat tak bisa bertemu orang yang kusayangi, tak bisa mengunjungi tempat yang kurindukan, tak bisa mengulang momen bahagia yang diinginkan, saat itulah foto menjadi penghibur dan penyadar untuk bersyukur bahwa aku pernah mengalami masa yang indah, di tempat yang menakjubkan bersama orang yang spesial. Kalau kamu?

*cerita lirik Photograph by Ed Sheeran

Meta morfillah

#Day19 Cincin

#Day19 Cincin

Banyak yang bertanya tentang arti cincin emas polos di jari manis kiri saya. Bagi yang tidak dekat dan tidak bertanya, mereka cenderung mengambil kesimpulan sendiri, bahwa saya sudah bertunangan. Single, but not available. Tapi, bagi yang bertanya akan kaget ketika mengetahui bahwa cincin itu adalah pemberian mama saya, tidak ada simbol hubungan khusus. Sebenarnya ada plus minusnya. Plusnya, saya tidak diganggu orang sebab disangka sudah memiliki pasangan. Minusnya ya ada yang bahkan mengaku pada saya bahwa ia mundur mendekati saya sebab menyangka saya sudah dimiliki. Banyak teman menyarankan agar saya mengganti cincin tersebut dengan yang biasa atau memakainya di jari lain. Sayangnya, cincin itu sudah melekat dengan satu jari itu saja. Tapi justru berkat cincin itu saya bisa menandai seberapa serius seseorang ingin mengenal saya, bukan? Cincin itu adalah tanda cinta dari mama saya, yang juga mampu menjaga saya. Jadi saya kira tak ada masalah dengan cincin emas di jari manis kiri saya.

Lalu hari ini saya mendapat hadiah cincin emas bermata satu dari murid-murid saya. Akan saya kenakan di jari manis kanan saya. Coba kita lihat, apakah kali ini banyak yang menyangka saya sudah menikah? Haha... kadang praduga memang bisa membawa petaka. Semoga tidak ada lelaki bodoh yang mengundurkan diri  untuk menikahi seorang gadis hanya karena cincin di jari manisnya.

Meta morfillah

#Day20 Doa orangtua

#Day20 Doa orangtua

Pernahkah terpikir oleh kita, bahwa kesuksesan kita saat ini atau menjadi apa diri kita saat ini adalah sebab dikabulkannya doa orangtua, kakek nenek, atau moyang kita? Persis sebagaimana Nabi Ibrahim yang berdoa meminta keturunan yang shalih dan menegakkan agama lalu ada Muhammad SAW di garis keturunannya. Doa yang berumur 1400 tahun. Yaa... dikabulkan setelah pendoanya bahkan tiada. Itulah bukti bahwa Allah mengabulkan semua doa kita, hanya dilihat apakah cocok saat ini atau harus ditunda. Apakah membawa maslahat atau mudharat. Sebab salah satu doa yang tidak tertolak adalah doa orangtua pada anaknya, selain doa orang yang berpuasa hingga ia berbuka, doa orang terzhalimi, dan doa pemimpin yang adil.

Semakin saya pikirkan, saya merasakan kebenaran itu. Bahwa diri saya saat ini adalah terkabulnya doa orangtua saya. Beliau ingin sekali agar saya berdomisili di Bogor, bekerja di Bogor--dengan jam kerja yang tidak sampai lembur dan tingkat stressnya tidak terlalu tinggi agar saya mempersiapkan diri bila nanti menikah bisa membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga--khususnya menjadi guru. Yaa... bila saya mengingat-ingat betapa berlikunya pekerjaan saya, serta betapa menghindarnya saya, tapi pada akhirnya saya menuju pada pengabulan doa tersebut. Hal baiknya, Allah merancang skenario hidup dengan cantik. Hingga saya tak memiliki rasa penyesalan dan benar-benar siap menjadi guru. Lika-liku pengalaman bekerja saya sebelumnya ternyata begitu mendukung dan membersihkan diri saya dari segala keengganan saya menjadi guru. Masyaaa Allah...

Maka, betapa dahsyatnya sebuah pengejawantahan doa orangtua. Mintalah banyak dan sering didoakan oleh orangtuamu, selagi mereka masih ada. Manfaatkan pintu surga paling tengah itu. Berbuat baiklah pada mereka agar ridha mereka mengantarkanmu pada ridhaNya. Jangan sampai kamu menyesal saat mereka telah tiada.

Meta morfillah

24 June, 2016

#Day18 Hijau

#Day18 Hijau

Pernah saya baca, angka harapan hidup manusia di lingkungan yang lebih hijau jauh lebih tinggi dibanding lingkungan perkotaan yang hiruk pikuk. Lalu saya teringat kota kelahiran saya yang saya bandingkan dengan kota domisili saya saat ini. Memang sangat berbeda. Udaranya jauh lebih bersih, pemandangannya jauh lebih indah. Setiap saya berangkat kerja, saya akan selalu tersenyum meskipun sering hujan. Sebab saya disuguhi kebesaranNya terus. Lukisan alam yang tak pernah membosankan. Kekokohan gunung dilihat dari perkebunan dan jalan yang banyak ditumbuhi pepohonan. GRATIS!

Nah... saya bayangkan, begini saja sudah bahagia, lalu bagaimana nanti di surga? Dengan deskripsi yang begitu indah di dalam Al Quran. Surga dilukiskan ada air yang mengalir seperti sungai di dalamnya, pepohonan yang akan merunduk memberikan buahnya bagi penghuni surga yang menginginkannya, banyak tamannya, ada telaga kautsarnya, bahkan ada makanan yang rasanya tak terindra oleh kita di dunia. Sebab rasanya begitu lembut, segar, dan murni. Lalu pakaian penghuninya yang dilukiskan bernahan sutera berwarna hijau tebal dan tipis. Bayangkan! Bukankah angka harapan hidupnya jauuuuuuuuhhh lebih tinggi? Yaa... kekekalan di dalamnya begitu menjanjikan.

Masuk akal sekali ketika Rasul berkata dalam candaannya pada seorang nenek, bahwa tidak akan ada nenek-nenek di dalam surga nanti. Sebab semua akan dikembalikan pada usia mudanya, remaja sebaya. Waaah... masya Allah... sudah muda, rupawan pula, tinggal di lingkungan hijau yang indah, hidup kekal, segala keinginan terpenuhi, tidak ada sakit dan lelah. Maka, nikmat mana lagi yang hendak kita dustakan?

Duhai... begitu mendambanya kami akan dirimu, surga. Semoga Allah mengizinkan dan meridhai kami memasukimu. Aaamiin allahumma aaamiin.

Meta morfillah

#Day17 Pergiliran

#Day17 Pergiliran

Ada yang datang, ada yang pergi. Ada yang menetap, ada yang tak akan pernah kembali. Ada yang bersua, ada yang berpisah. Semua ada waktunya. Dipergilirkan sesuai masanya. Tidak akan pernah ada yang abadi di dunia ini. Kita hanya sedang bercanda. Sebab yang abadi dan serius adalah di akhirat sana. Dunia yang sebenarnya. Dunia yang akan kita masuki melalui pintu kematian. Maka, bercandalah dengan baik dan tetap waspada.

Jangan lengah dalam beribadah. Jangan kumal dalam beramal. Jangan terpedaya dalam menikmati dunia. Persis bagai bulan ramadhan saat ini. Jangan sampai kita tidak menyadari, bahwa ia akan segera pergi. Tahu-tahu sudah menjelang sepuluh hari terakhir. Tahu-tahu sudah waktu mudik. Tahu-tahu sudah sibuk menukarkan uang receh untuk bagi-bagi ke bocah. Aduhai... ini bukan tahu bulat, yang dadakan. Semestinya kita punya strategi. Apa yang akan kita lakukan saat pergiliran itu tiba.

Tetap semangat!

Meta morfillah

21 June, 2016

#Day16 Langit

#Day16 Langit

Belajar dari langit, ia tinggi namun tak pernah menyombongkan diri dengan mengatakan bahwa dirinya begitu tinggi. Bahkan ia tunduk pada Tuhannya, menaungi bumi. Memberikan air bila bumi kekeringan. Ia tak sombong juga tak kikir. Meski warnanya berubah-ubah, tapi ia tetap memberikan kesan yang sama bagi pemandangnya: luas dan damai. Menyenangkan memandanginya bahkan di saat tergelapnya pun. Belajar dari langit, bahwa ia sadar di atas langit masih ada langit. Meski tinggi, ia sadar ada yang jauh lebih tinggi darinya.

Lazuardi pagi ini begitu bersih dan cerah, seakan mengingatkan saya untuk memanfaatkan momen ramadhan guna membersihkan hati sebersih-bersihnya agar hidup saya cerah.

Btw, sekarang malam nuzulul quran yaa... malam ke-17 bulan ramadhan. Pantas beda langitnya! So, sudah tilawah berapa halaman hari ini? Sudah khatam dan pahamkah? (n___n)

Meta morfillah

#Day15 Arti hadirmu

#Day15 Arti hadirmu

"Sepi, ya... tidak ada anak-anak."

"Iya. Biasanya pagi begini kita jadi rebutan. Tapi semenjak mereka libur, kita jadi enggak berguna gini."

"Iya, tanpa mereka kita tak ada arti."

Mungkin seperti itu percakapan kedua ayunan di playground. Mereka merindukan tawa anak-anak yang biasanya hadir. Sama seperti gurunya saat ini. Sedang merindu. Tanpa murid, guru tak bermakna. Pun sebaliknya. Kita tak bisa berbangga diri, sombong, mengatakan bisa melakukan semua sendiri. Bahkan orang kaya tidak akan dibilang kaya bila tak ada orang miskin.

Duhai... apalah yang patut kita sombongkan?

Meta morfillah

#Day14 Yang belum paham

#Day14 Yang belum paham

Banyak dari kita yang tidak berasal dari keluarga agamis. Bahkan banyak yang baru meniti agama ini di usia seperlima abad. Berusaha jadi baik. Semangat mendalami setelah bertemu sekian banyak orang yang mengajarkan kebaikan sebagaimana sumur yang tak pernah kering. Kita takjub akan mereka dan menggali dari mana semangat itu. Lalu perlahan kita mengenal pencipta kita, pembawa risalahNya dan beragam kisah yang membuat tergetar haru. Kian hari banyak yang mempertanyakan hal-hal yang menurut kita tak sepatutnya ditanyakan. Seperti pacarmu mana, sudah usia segini masih belum ada pacar yang dibawa ke rumah? Kok kerudungmu makin lebar dan panjang kayak ikan pari? Mengapa sibuk membantu orang lain, padahal keluarga sendiri masih butuh dibantu?

Yang menyedihkan, ketika yang bertanya adalah orang terdekat kita. Orang yang sehari-hari memenuhi kebutuhan kita, memaklumi kesalahan kita, menerima kurangnya diri kita, melindungi kita. Keluarga kita sendiri. Mereka yang belum paham. Menjelaskannya pada mereka kadang membuat kita ingin berteriak, tak sabar. Seharusnya merekalah yang paling mengerti perubahan atas diri kita. Seharusnya mereka tak mengajukan pertanyaan semacam itu. Sebab mereka yang terdekat dan memahami kita. Namun, bila menuruti emosi itu, bisa jadi bukannya cahaya terang yang mereka rasakan atas perubahan kita, melainkan kegelapan. Dakwah akan dipandang begitu rendah. Maka menghadapinya perlu lebih banyak senyum, pelukan, suara lembut, waktu lebih panjang dan sabar. Perbanyak dan perdalam komunikasi dengan mereka. Hingga pada akhirnya mereka akan memaklumi meski belum paham untuk menerima.

Lalu kita pun terus mendoakan mereka, agar yang belum paham diberikan pemahaman.

Meta morfillah

20 June, 2016

[Review buku] Pesona 10 sahabat

Judul: Pesona 10 sahabat
Penulis: Dwi Fahrial
Penerbit: Bina Mitra Press
Dimensi: xx + 230 hlm, cetakan pertama Juni 2005
ISBN: -

Buku ini menceritakan pesona 10 sahabat Nabi SAW yang dijamin masuk surga:
1. Abu bakar As shiddiq
2. Umar bin Khattab
3. Utsman bin Affan
4. Ali bin Abi Thalib
5. Thalhah bin Ubaidillah
6. Zubair bin Awwam
7. Abdurrahman bin Auf
8. Sa'ad bin Abi Waqash
9. Said bin Zaid
10. Abu Ubaidah Ibnu Jarrah

Menariknya adalah buku ini menyajikan profil, keutamaan dan prestasi, pesonanya menurut rasul dan sahabat, serta pesona kisah-kisahnya yang disertai hikmah. Lampirannya juga menambah wawasan, terutama tentang para penguasa saat itu, kronologis 50 tahun pertama dakwah islam, dan nama 110 remaja sahabat nabi.

Namun secara pengemasan menurut saya kurang apik. Seperti dalam penulisan kisah, tidak ada tanda baca. Persis buku cerita anak kelas 2 SD. Besar-besar dan seperti puisi, bukan kalimat. Pun dalam pemilihan katanya.

Saya apresiasi 3 dari 5 bintang.

Meta morfillah

19 June, 2016

#Day13 Doa anak shalih

#Day13 Doa anak shalih

"Yaa Allah, ampunilah dosaku dan dosa ibu bapakku. SAYANGILAH MEREKA SEBAGAIMANA MEREKA MENYAYANGIKU DI WAKTU KECIL."

Doa yang sering kita dengar bahkan sering kita ucapkan sehabis shalat. Tapi, pernahkah kita memaknai artinya lebih dalam? Mengapa kita meminta Allah menyayangi orangtua kita sebagaimana mereka menyayangi kita di waktu kecil? Mengapa tidak sebagaimana mereka menyayangiku saat ini? Bukankah orangtua akan selalu menyayangi anaknya sampai kapan pun?

Memang seperti apa orangtua menyayangi anaknya di waktu kecil? Coba kita amati!

Saat anak kecil, itu adalah saat di mana anak lucu-lucunya, polos, dan begitu suci. Saat di mana anak begitu bergantung pada orangtuanya. Saat di mana orangtua begitu menyayanginya, memberikan yang terbaik dari dirinya, menolerir segala kesalahan anaknya, menghadiahi banyak pelukan, ciuman, hadiah dan ribuan hal positif lainnya.

Saat kecil adalah waktu termesra dan terbaik di antara hubungan orangtua dan anak. Anak yang puas akan kasih sayang di masa kecilnya, kelak akan menjadi orang yang penyayang dan baik juga. Orangtua yang selalu ada di masa kecil anaknya, akan dikenang juga dan ada dalam masa depan anaknya. Itulah mengapa Ali bin Abi Thalib bilang pada usia 0-7 tahun perlakukan anak bagai raja. Turuti segala keinginannya dan berlakulah baik padanya.

Redaksi doa itu, bukankah begitu indah? Seorang anak meminta pada Allah agar orangtuanya disayangi sedalamnya, dimaafkan semua kesalahannya tanpa batas, dituruti segala keinginannya dan diperlakukan terbaik di sisiNya.

Betapa indah! Merangkum segala keindahan dan momen terbaik yang pernah ada dalam hubungan orangtua dan anak.

Meta morfillah

[Review buku] Muslim kok Nyebelin

Judul: Muslim Kok Nyebelin?
Penulis: Satria Dharma
Penerbit: Bunyan (Bentang)
Dimensi: x + 254 hlm, 20.5 cm, cetakan pertama desember 2013
ISBN: 978 602 7888 68 5

Buku ini terbagi menjadi 4 bab utama: Membangkitkan tradisi kemajuan islam, teologi islam yang rasional, beragama secara autentik,  dan beragama lebih membumi.

Gaya bahasa penulis santai dan bermula dari pengamatan keseharian atau diskusi. Hampir sebagian besar tulisan ini adalah pendapat dari sisi penulis. Semacam pertanyaan dan pemikirannya terhadap fenomena seputar islam, baik ritual ibadah maupun muamalah. Namun menurut saya pribadi, buku ini haruslah dibaca oleh orang yang sudah paham tentang Islam. Sebab, agak berbahaya bila pemikiran dalam buku ini dibaca oleh orang awam yang langsung mencernanya bulat-bulat tanpa membaca referensi lain. Penulis menurut saya cukup liberal, amat mengedepankan logika. Saya sendiri sampai kadang berpikir mengikuti alur pikirnya. Hingga kadang menerbitkan ragu yang aneh dan tak nyaman. Makanya buku ini agak lama saya selesaikan, sebab saya membaca buku lain yang mengimbangi pendapat penulis buku ini. Banyak poin yang membuat saya 'ngeri' bila buku ini dibaca oleh orang yang jarang baca buku terutama terkait Islam. Contohnya:

"...umat Islam menyatakan bahwa Adam adalah manusia pertama di dunia. Tentu saja ini tidak benar. Adam bahkan bukan nabi pertama di dunia. Sebelum Nabi Adam ada, telah hidup manusia dalam berbagai komunitas di belahan dunia ini." (Hlm. 60)

"Akan tetapi, kenapa ya, umat Islam takut sekali kalau ucapan selamat natal dapat merusak akidahnya? Kehati-hatian atau kebodohan? Ya karena terpengaruh mitos tadi... kemungkinan akidahnya 'tercemar' hanya karena ucapan selamat natal pada umat nasrani adalah ilusi yang sangat... sangat liar." (Hlm. 130)

"Jadi, kalau ada saintis yang menyatakan perlunya Tuhan dilibatkan dalam teori ilmiah apa pun, itu sungguh ganjil. Itu dua ranah yang berbeda bidang operasinya...  Tidak ada satu pun teori yang bicara tentang kehadiran Tuhan. Teori evolusi dianggap sebagai teori yang kafir. Harun yahya, penentang paling serius dari teori ini, lantas didapuk menjadi 'pahlawan penyelamat akidah' yang selama ini telah dibikin sesat oleh teori evolusi. Sungguh menggelikan sebenarnya." (Hlm. 180)

Tapi, dari buku terburuk pun kita tetap bisa belajar. Saya apresiasi 3 dari 5 bintang.

"Dengan kemampuan membaca yang membudaya dalam diri setiap anak, tingkat keberhasilan di sekolah maupun dalam kehidupan di masyarakat akan membuka peluang kesuksesan hidup yang lebih baik." (Hlm. 6)

"When you speak, your words echo only across the room or down the hall. But when you write, your words echo down the ages." (Hlm. 17)

Meta morfillah

18 June, 2016

[Review buku] Problem at Pollensa Bay

Judul: Problem at Pollensa Bay (Masalah di Teluk Pollensia)
Penulis: Agatha Christie
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Dimensi: 296 hlm, 18 cm, cetakan kelima Juli 2011
ISBN: 978 979 22 7231 4

Agatha Christie identik dengan Hercule Poirotnya yang eksentrik. Tapi di buku ini, dibilang "Parker Pyne" Stories sedangkan pada kalimat pembuka kasusnya diterangkan ada tokoh Poirot di dalamnya. Ada yang membingungkan saya, apakah Poirot dan Pyne orang yang sama atau bukan? Juga pada tokoh Mr. Harley Quin yang misterius dan sedikit surealis. Sebab kehadirannya seperti hantu atau tokoh rekaan psikologis Mr. Satterthwaite?

Ada delapan cerita dalam buku ini:
1. Masalah di Teluk Pollensa
Kasus anak mami yang berusaha memperjuangkan cintanya dengan mendapat restu sang ibu dengan bantuan Parker Pyne.

2. Gong kedua
Pembunuhan lelaki eksentrik yang dikira bunuh diri, namun berhasil dipecahkan oleh Hercule Poirot.

3. Bunga Iris Kuning
Percobaan pembunuhan dengan memakai modus kasus pembunuhan empat tahun lalu yang berhasil dipecahkan oleh Hercule Poirot.

4. Perangkat minum teh harlequin
Percobaan pembunuhan seorang ibu pada anak tirinya yang buta warna, namun berhasil dicegah Mr. Satterthwaite.

5. Misteri regatta
Komplotan pencuri yang menyamar demi mendapatkan berlian Morning Star, yang berhasil ditangkap Parker Pyne.

6. Detektif-detektif cinta
Kasus pembunuhan yang mengambinghitamkan kepala pelayan berhasil diluruskan oleh Mr. Satterthwaite.

7. Lebih penting dari seekor anjing
Ini lebih seperti cerita romansa dan kesetiaan seekor anjing. Tidak ada detektif yang terlibat ataupun pembunuhan meski anjingnya mati.

8. Sekuntum magnolia
Kasus cinta, selingkuh, dan suami yang menjual istrinya demi menyelamatkan diri. Pun tidak ada kasus pembunuhan. Namun saya bertanya-tanya tentang endingnya, sekuntun magnolia yang jatuh itu makna sebenarnya atau kiasan untuk istri yang akhirnya bunuh diri?

Membaca agatha christie dengan beragam tokohnya, terutama poirot, tidak semudah memahami sir arthur conan doyle dan sherlock holmesnya. Kadang saya terjebak pada banyaknya deskripsi dan kurang mengerti khasnya orang Inggris, Amerika, dsb di masa itu--tahun 1930an. Sehingga kadang saya perlu mengulangi untuk memahami fakta dan data yang mengiring hingga sampai ke premis dan konklusi sebuah kasus. Namun, hal itu tak mengurangi kesukaan saya pada karyanya. Tetap menarik dengan cita rasa vintage.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

Meta morfillah

#Day12 Kata-kata

#Day12 Kata-kata

Bunga ini cantik. Bentuknya mengingatkan saya pada partikel salju yang diperbesar. Juga mengingatkan saya pada penelitian tentang kata-kata positif yang membuat struktur air menjadi seindah salju. Sebab dominan tubuh manusia terdiri dari air, maka stimulus positif pun berlaku mendapat respon persis penelitian itu. Kalau tak salah penelitian Masaru Emoto, ya... orang Jepang.

Penelitian yang menyimpulkan bahwa kata-kata memiliki kekuatan. Jika positif, ia akan memberi kekuatan tak terduga yang menghasilkan keajaiban indah. Sebaliknya, kata-kata negatif berkekuatan menghancurkan bahkan meski hal itu indah awalnya. Lalu saya teringat wasiat Sang Nabi, "Janganlah kamu berdebat, meskipun kamu benar. Balasannya adalah surga." Bukan berarti tidak boleh berargumentasi, tetapi bila bukan urusan aqidah, setidaknya tidak ada poin yang perlu diperjuangkan dalam perdebatan. Mungkin sebab dari kebenaran akan menjadi pembenaran, hanya karena debat dianggap sebagai ajang perang kata-kata yang akhirnya membuat pelakunya tergelincir untuk memaksakan kebenaran ada di pihaknya. Sebab seringkali dalam ajang perdebatan, kita tak lagi memikirkan perasaan atau dampak yang dihasilkan dari perkataan yang kita lontarkan. Cara yang kurang baik, bisa menghancurkan kebaikan seseorang persis sebagaimana kata-kata negatif merusak struktur indah air jernih.

Ah, kembali ke realita. Bunga ini membuat saya berpikir banyak tentang kata-kata. Kata-kata secara lisan maupun tulisan. Maaf ya, bila saya pernah khilaf dengan pemilihan kata saya.

Meta morfillah

17 June, 2016

#Day11 Jalan memutar

#Day11 Jalan Memutar

Pernah berpikir bahwa jalan hidup kita rumit dan berkelok-kelok tidak?

Saya sering. Seperti hari ini, saya menyadari bahwa Allah mengantarkan saya pada satu mimpi saya yang lain, namun melalui jalan memutar. Mimpi itu adalah: Naik gunung.

Sejak 2013, saya berkenalan dengan banyak pendaki gunung. Beberapa sangat dekat, bahkan. Hingga kadang saya merasa bahwa saya bagian dari mereka. Saya bisa membayangkan ada di hutan mati papandayan, mereguk segarnya air ranu kumbolo, mengintip matahari di puncak rinjani, meski saya tidak pernah berada di sana. Hampir tiap tahun, dan klimaksnya di bulan agustus. Pendaki banyak yang berlomba ingin merasakan sensasi menancapkan sangsaka merah putih dan upacara 17 agustus di puncak. Itu adalah masa ujian bagi saya. Grup akan ramai membincangkan hal tersebut, namun saya hanya akan diam. Tidak pernah tahu seperti apa rasanya, lelahnya, kepuasannya, dan lainnya. Sering juga saya minta izin left bila tak tahan godaan. Menyebalkan ketika kamu menjadi satu-satunya orang yang tidak terlibat hanya karena izin. Yaa... sudah bukan anak-anak lagi, tapi tetap saja saya milik orangtua saya. Saya harus pergi seizin mereka. Dan entah mengapa pula, mama amat tidak mengizinkan saya naik gunung. Meskipun dengan orang yang sudah amat beliau kenal.

Tahun berganti, saya resign dan berganti kantor serta pindah domisili juga. Mimpi naik gunung tetap ada, meski sisa-sisa. Ternyata melalui perenungan dan pergulatan batin, saya pun harus hijrah total ke kota baru. Saya harus menetap dan bekerja di kota itu tanpa kembali melongok kota kelahiran. Rumitnya lagi, saya harus menjelma sosok yang paling saya hindari sebab saya tahu begitu berat dan mulia tugasnya, dunia akhirat: menjadi guru. Menjadi guru saja sudah sulit, ditambah di sekolah islam yang menuntut kualitas spiritual terjaga dan juga berbasis sekolah alam yang memiliki banyak program dan kegiatan alam.

Genap tujuh bulan, saat saya sedang sibuk mengolah data rapor ada pengumuman. Bahwa guru akan naik gunung ke Gede akhir Juli untuk materi outbound dan SAS. Kalian tahu? Rasanya saya ingin teriak. Bagai pucuk dicinta ulam tiba. Penantian saya selama ini berbuah manis. Mama pun mengizinkan karena memang itu untuk kepentingan dan tuntutan profesi. Tinggal saya sibuk meminjam semua peralatan yang asing di telinga saya.

Well... saya ingin terbahak rasanya. Ketika menyadari bahwa Allah menuntun saya ke mimpi saya, hanya saja jalanNya memutar agak jauh, namun indah. Tanpa perlu saya membangkang pada orangtua, memaksakan diri, dan pergi dengan kawan perjalanan yang salah. Semuanya perfect! Perjalanan ini persis rihlah dakwah dan kesempatan saya tafakur serta tadabbur ayatNya yang bertebaran di alam ini.

Satu kuncinya, PERCAYA PADA ALLAH. Bahwa segala pengorbanan kita akan dibalasnya dengan manis. Hidup kita yang terlihat rumit dari bawah sini, barangkali di atas sana sebenarnya merupakan rajutan kalamNya yang indah. Persis seperti jahitan yang tampak tidak teratur dari bawah, namun sebenarnya membentuk keteraturan sebuah pola dari atas.

Bagaimana, kamu mau percaya?

Meta morfillah

15 June, 2016

[Review buku] Menggali ke puncak hati

Judul: Menggali ke puncak hati (refresh edition 'gue never die')
Penulis: Salim A. Fillah
Penerbit: Pro U Media
Dimensi: 312 hlm, cetakan pertama 2015
ISBN: 978 602 7820 41 8

Buku ini terdiri dari 10 bab yang sebenarnya mengacu pada 10 muwashshafat kader da'wah. Hanya saja dikemas dalam bahasa yang lebih ringan tanpa mengurangi makna dan jauh lebih mudah dicerna bagi saya.

Kesepuluh hal itu adalah:
1. Salimul 'aqidah (selamat aqidahnya) = Menjemput keajaiban dua kalimat
2. Shahihul 'ibadah (benar ibadahnya) = Sayang, izinkan aku menghadap Rabbku
3. Matinul khuluq (tegar akhlaknya) = Tentang akhlaq
4. Mujahidu linafsihi (bersungguh terhadap dirinya) = Cintaku, aku menang selalu!
5. Qadirun 'alal kasbi (mampu memenuhi kebutuhannya) = Siapa takut jatuh kaya?!
6. Qawiyyul jismi (kuat jasadnya) = Allah suka kalau kita perkasa
7. Mutsaqaful fikri (terwawas pikirannya) = Bikin otak selalu ting!
8. Munazham fi syu'unihi (tertata urusan-urusannya) = Atur diri dan berbarislah agar dicintai!
9. Haritsun 'ala waqtihi (menjaga waktunya) = Pedang waktu di leherku
10. Nafi'un lighairihi (bermanfaat bagi selainnya) = Sang bunga tak mampu menahan semerbak wanginya

Jujur saja, kembali saya merasakan beberapa kisah yang diambil di buku karya penulis sebelumnya. Dan memang nyatanya dipadatkan dari buku-buku karya lainnya. Sehingga ada beberapa kisah yang sudah saya tahu. Tapi hebatnya tetap tidak membosankan saya. Sebab pas konteksnya. Banyak pengetahuan baru yang saya dapatkan di buku ini, salah satunya tentang gambaran detail shalat Khauf di halaman 272. Pembeda buku ini dengan buku lainnya karya penulis yang sama adalah di tiap bab ada tabel program capaian intelektual, fisik, dan spiritual dengan waktu rata-rata tiga dwiwulan yang bisa diterapkan pembaca. Sungguh rinci dan membantu program perbaikan diri bagi yang bersungguh-sungguh.

Saya mengapresiasi 5 dari 5 bintang.

"Jalan Allah ini panjang sekali. Untunglah kita tak diwajibkan untuk sampai ke ujungnya. Kita hanya diperintahkan untuk mati di atasnya." (Hlm. 11)

"Rasulullah SAW punya sifat fathanah (cerdas), tapi sifat ini diikuti sifat berikutnya, tabligh (menyampaikan). Menimbun ilmu terkadang lebih berbahaya daripada tak berilmu sama sekali. Menimbun ilmu adalah kubangan kefasikan." (Hlm. 245)

"Dakwah ini, Islam ini, tidak hanya perlu orang shalih. Namun, lebih dari itu, ia sangat memerlukan orang yang bisa--bersedia--ditata." (Hlm. 260)

Meta morfillah

#Day10 Keterbatasan

#Day10 Keterbatasan

Tidak pernah ada yang berharap memiliki keterbatasan. Terlebih seorang ibu, mana pernah menginginkan anaknya memiliki keterbatasan. Tapi, saat ia dianugerahi seorang anak dengan keterbatasan, pilihannya hanya dua: menyalahkan atau menyalakan potensi anak tersebut.

Sungguh tidak mudah pula bagi keluarga yang memiliki anggota dengan keterbatasan. Tapi, dari keterbatasan mereka, keluarga yang mau berpikir akan banyak belajar dan bersyukur. Keajaiban kecil akan banyak mereka perlihatkan. Misal bagi yang lumpuh, ketika tiba-tiba bisa menggerakkan anggota badannya, kita akan sangat bersyukur. Bagi yang tak paham konsep Allah, tiba-tiba ikutan shalat meski tidak tertib, kita bisa trenyuh berderai air mata. Bahkan bila kita sedang menangis, mereka yang tak paham kesedihan tiba-tiba memeluk kita berupaya menenangkan, kita akan merasakan ruh cinta yang tulus mengalir dari dekapannya.

Begitu kecil. Tapi begitu ajaib. Begitu biasa bagi yang normal. Tapi begitu luar biasa dan merupakan momentum bagi mereka yang terbatas. Bahwa dalam segala keterbatasan itu, mereka tetaplah seorang hambaNya yang berhak mendapat kasih sayang, pendidikan, dan hal lain sebagaimana orang normal pada umumnya. Mereka beribadah dengan cara mereka, yang tak kita pahami. Lalu, bagaimanakah dengan kita? Sudahkah kita beribadah dengan baik? Atau malah kita yang sesungguhnya memiliki keterbatasan dengan iman kita?

Meta morfillah

14 June, 2016

#Day9 Yang harus disegerakan

#Day9 Yang harus disegerakan

"Berbuat baik janganlah ditunda-tunda."

Ya... harus disegerakan. Sebab godaan untuk membatalkan niat baik itu sungguh dahsyat. Contohnya sedekah di bulan ramadhan yang jelas-jelas lebih utama pahalanya. Kita tahu ilmunya. Tapi seringkali sebab dientar-entar, tahu-tahu uangnya sudah terpakai membeli hal yang tidak dibutuhkan. Bahkan sering pula saat uang sudah mau masuk kotak amal, terlintas untuk mengurangi besarnya sebab pertimbangan akan banyaknya keperluan kita di bulan ini. Begitulah, godaan syaithan amat banyak untuk menghentikan niat baik kita.

Maka, berbuat baik harus disegerakan. Setelah dipersiapkan, alangkah baiknya langsung diamalkan tanpa dipertimbangkan lagi. Langsung saja. Tak usah takut, anggap itu sebagai rutinitas bulanan kita. Setelahnya, langsung lupakan. Seperti menorehkan jejak di atas pasir, lalu terhembus oleh angin. Tak berjejak.

Meta morfillah

13 June, 2016

#Day8 Kenangan

#Day8 Kenangan

Pernah kudengar ungkapan "Kenangan jauh lebih abadi dari manusia itu sendiri."

Rasanya tepat sekali. Melalui benda-benda yang diwariskan atau foto yang merekam jejak kefanaan manusia. Hingga generasi jauh di bawah kita, yang mungkin tak pernah kita duga akan mencari sosok kita melalui kenangan yang kita tinggalkan. Seperti cucu, cicit, yang bahkan tak sempat bersua dengan kita sebab kita tiada lagi di dunia.

Seiring berlalunya waktu, kenangan tak lagi menjadi privasi dalam album foto keluarga yang teronggok di sudut lemari berdebu. Kenangan bisa kita sebar di dunia. Melalui media sosial. Bahkan berupa status kita, updatean kita sehari-hari di dunia virtual ini. Kenangan bagaimana yang kelak ingin kita bangkitkan? Baik atau burukkah? Pilih dan pilahlah sesuai konsekuensi yang kamu hendaki. Mau mengeluh terus silakan. Mau memotivasi kebaikan terus silakan. Semua terserah Anda. Tapi bersiaplah, itu akan menjadi bagian dari sejarah dan kenangan kita kelak.

Lalu, bagaimana kenangan kita akan ramadhan sebelumnya? Lalu, apa yang ingin kita spesialkan di ramadhan kali ini agar terkenang di ramadhan berikutnya dengan indah?

Ah... manusia, betapa fananya dirimu. Bahkan kau kalah dengan kenanganmu itu sendiri. Menulislah, agar kau abadi... dikenang melintasi jarak, waktu, dan dimensi.

Meta morfillah

12 June, 2016

#Day7 Pembiasaan

#Day7 Pembiasaan

Kapan kali pertama kamu memiliki mukena? Kapan kali pertama kamu shalat? Kapan kali pertama kamu masuk masjid? Kapan pembiasaan ibadahmu dimulai?

Bagaimana perasaanmu di kali pertama itu? Ingatkah?

Mungkin kita sudah tidak terlalu ingat lagi kapan kita memulai semua rutinitas itu. Pembiasaan orangtua kita dahulu dalam mengenalkan Allah pada kita. Tapi, saya yakin bahwa semua pembiasaan itu menimbulkan sebuah rasa senang di hati kita saat itu. Persis anak kecil ini. Ia baru memiliki mukena baru. Berkali ia meminta dipakaikan ulang mukenanya setelah ia lepas saat gerah. Pun saat diajak ke masjid. Ia begitu riang. Meski belum terlalu tertib mengikuti shalat, tapi ia bahagia. Serasa pulang ke rumah yang paling nyaman.

Bahagia... sebab ia diterima lingkungan yang sadar bahwa pembiasaan itu dimulai perlahan. Bahagia... sebab ia dimaklumi perkembangannya hingga nanti ia sadar harus bersikap seperti apa di tempat suci. Bahagia... sebab ia diizinkan berada bersama orang dewasa yang ia cintai, meski sulit ia mengerti mengapa banyak larangan di dunia orang dewasa itu.

Maka pembiasaan... butuh lingkungan yang kondusif. Semoga dengan bulan mulia ini, pembiasaan mengendalikan hawa nafsu kita berjalan lancar. Toleransi semakin dipraktikkan, tidak sekadar digaungkan tanpa penghormatan. Satu bulan pembiasaan menjadi orang yang lebih shalih semoga membuat kita terbiasa shalih di sebelas bulan berikutnya.

Meta morfillah

#Day6 Kekhawatiran dan Doa

#Day6 Kekhawatiran dan Doa

Kekhawatiran itu manusiawi. Seperti Rasulullah di Hari Badar. Saat beliau melihat betapa banyaknya musuh dan rapuhnya kaum muslim yang gentar melihat musuh 3 kali lipat lebih banyak dari mereka. Hingga meluncurlah doa dari bibir yang mulia itu:

"Ya Allah, jika golongan ini Engkau biarkan binasa, Engkau tak akan disembah lagi di muka bumi. Ya Allah, kecuali jika memang Engkau menghendaki untuk tidak disembah lagi selamanya setelah hari ini."

Khawatir yang disandarkan pada Allah. Ia untai ke langit, bukan rebah ke bumi. Menjelma doa nan didengar dan dikabulkan.

Yaa... seringkali kita terlalu khawatir hingga lupa berdoa dan menyampaikannya pada Sang Penyelesai Masalah yang Maha Kuasa. Meski tanpa kita beritahu, Allah adalah Maha Tahu... namun doa bukanlah untuk memberitahu, melainkan untuk berbincang, merayu dan berpasrah padaNya. Kita berdoa untuk menguatkan keyakinan kita, bahwa apa pun yang kita khawatirkan akan terlewati selama Allah menjadi sandaran kita.

Kadang... kita lupa, sesuatu itu kuat bergantung sandarannya. Mungkin, bila kekhawatiran yang manusiawi itu muncul lagi, kita harus mengingat bahwa sesungguhnya kita adalah orang asing di bumi ini. Surga tempat kita berasal, maka langitkan doa kita agar terlepas belenggu manusiawi di bumi ini. Yaa... pada Allah kita bersandar. Pada Allah kita kembali.

Meta morfillah

11 June, 2016

#Day5 Yang terlihat

#Day5 Yang terlihat

"Aku tak menyangka bahwa hidupmu pun cukup berat. Tapi kau tampak tak pernah punya beban. Selalu ceria, seperti tak pernah punya kesulitan dalam hal apa pun, baik finansial, sosial, dan lainnya. Kau selalu memperlihatkan hal menarik dan bahagia dalam hidupmu. Travelling ke beragam tempat, wisata kulineran dan foto-foto tersenyum."

Aku tersenyum simpul, "Untuk apa kuperlihatkan kesedihan dan kegelapan pada dunia, jika aku ingin membuat dunia ini berwarna? Apa yang kuposting di dunia maya ini, bebas bagi yang menafsirkan. Mereka akan menafsirkan semau mereka. Mereka hanya melihat apa yang terlihat. Mengenai apa yang sebenarnya terjadi di foto itu, mereka tak akan pernah mau tahu perjuangannya dan apa yang sebenarnya kulakukan. Untuk apa pula aku menerangkan susah payahnya?"

"Yaa... aku salah tentangmu. Kupikir hidupmu begitu bahagia hingga membuat iri."

"Kebahagiaan itu tidak akan pernah sempurna selama kita belum di surga. Tapi aku selalu percaya bahwa Allah tak akan pernah memberiku sebuah kesulitan tanpa dua kemudahan. Juga... sebab aku dikaruniai keluarga dan teman yang hebat. Jangan menilai orang dengan mudah dari apa yang terlihat, sebelum kamu menapaki dunia yang ia pijak."

Meta morfillah

09 June, 2016

#Day4 Bihun

#Day4 Bihun

Entah sejak kapan ini dimulai, saya pun lupa. Namun beberapa tahun belakangan setiap berbuka puasa ramadhan, saya akan uring-uringan bila belum menyantap bihun dengan sambal kacang. Meskipun saya ikut beragam acara bukber, tetap saja saat kembali ke rumah saya akan mencari penjual bihun bila mama atau kakak saya tidak membuatkan. Pernah pula saya hunting bihun dengan bersepeda di pukul 22.00 bersama sahabat saya, hingga hanya mendapatkan sisa bihun di seorang pedagang di RT yang jauh dari rumah saya. Rasanya ada yang kurang bila tidak menyantap bihun di bulan Ramadhan.

Di Jakarta, saya punya langganan beli bihun seharga Rp 3.000. Namun di Bogor, lagi-lagi saya belum beradaptasi sempurna menemukan penjual bihun yang cocok. Sambal di sini rasanya kalau tidak manis ya asin. Kurang cocok dengan lidah saya yang begitu suka pedas. Saya uring-uringan, tapi saya tahan. Logika saya mengatakan bahwa hal ini tidak bisa dibiarkan sebab akan mengurangi rasa syukur saya pada makanan yang tersedia. Tapi, hati dan rasa saya tetap bermuram. Hingga kemarin, saya belum berbuka dengan bihun.

Pak ustad bilang di kajian tadi siang bahwa doa orang yang berpuasa itu diijabah. Saya dalam hati berdoa semoga ada bihun dengan sambal kacangnya di rumah. Lalu ketika pulang, mama berkata tetangga sebelah memberikan semangkuk bihun dan bakwan beserta sambal kacangnya. Waahh... doa saya didengar!

Bahagia itu sederhana. Sesederhana menginginkan bihun tanpa ekspektasi berlebih lalu dihadirkan. Mungkin, besok saya akan berdoa agar KAMU yang dihadirkan dalam hidup saya. Melengkapi Ramadhan dan hari selanjutnya. Boleh, kan, Allah?

Selamat menanti berbuka. Jangan lupa bersyukur. Jangan lupa Bahahahahagia!

Meta morfillah

Detik menuju pisah

"Bu, kenapa pulangnya cepat sih, setengah 12?"

"Loh, bukannya kalian malah bilang lama? Kalian kan suka bandingin sama teman kalian yang pulangnya jam 11, tapi kalian jam 2. Sekarang dipulangin cepat, malah pengen lama. Kumaha iyeu teh?"

"Jam 1 aja, Bu pulangnya. Bosan di rumah. Enakan di sekolah."

Saya geleng-geleng kepala sambil tersenyum. Lalu mereka berebutan memeluk saya. Seorang murid akhwat berkata pada saya, "Bu... Ibu ikut ke rumahku, yuk!"

"Ada acara apa di rumahmu?"

"Gak ada. Aku pengin ajak Ibu main aja ke rumahku. Aku gemeeeeeeeessss banget sama Ibu."

"Yee... memangnya Ibu boneka bikin gemas!?"

"Iyaa... Ibu tuh lucu. Ibu cepetan dong hamil, biar dedenya bisa main sama kita!"

"Ih mana bisa. Ibu Meta nikah aja belum," jelas murid ikhwan terpintar di kelas.

"Aah... Ayo dong Ibu nikah. Cepetan."

"Aduuh... memangnya nikah kayak mau jalan-jalan? Bisa langsung cepetan. Doakan saja yaa..."

"Aaamiiinn... kita selalu doain ibu kok. Semoga Ibu nikah sama Pak *****"

"ISTIGHFAAAARR!!"

"HAHAHAHAHA"

Lalu malah pipi saya dicubit-cubit dan diserbu pelukan mereka. Ah... tinggal beberapa hari lagi kebersamaan dengan mereka. Setelah itu mereka libur dan kami berpisah. Pasti... akan sangat merindukan mereka. Terpilih untuk masuk dalam kehidupan dan kebahagiaan masa kecil mereka yang giat belajar dan sholih adalah sebuah anugerah. Mungkin nanti, saya hanya akan menjadi salah satu nama yang lupa mereka ingat sebab hanya sekadar hadir 7 bulan dalam periode hidup mereka. Tapi bagi saya, mereka akan hidup selamanya dalam ingatan saya. Anak-anak saya yang hebat. Sebuah kisah klasik untuk masa depan.

Meta morfillah

#Day3 Jalan

#Day3 Jalan

"Bagaimana di kota hujan, Met? Enak ya jalanannya?"

"Enak banget. Tidak ada macet dan lampu merah. Dari aku berangkat sampai nyampe tempat kerja melihat gunung, kebun, dan hijau-hijau. Udaranya sejuk, adem, langit cerah, masyaa allah."

"Wah, enak banget. Pasti kamu betah di sana."

"Masih ada yang kurang. Tidak ada kalian yang kusayang di sana."

Ini adalah foto jalan yang tiap hari saya lalui dan saya sempatkan tadi untuk mengabadikannya.

Seindah apa pun jalan yang kita lalui tiap hari, tidak akan mampu menghibur bila tidak ada teman yang bisa kita ajak bersama ke jalan itu. Minimal untuk kita ceritakan tentang jalan itu. Kita tidak bisa menceritakan betapa birunya langit di sana, dingin dan segarnya udara, memanjakan mata pemandangan yang hijau dan gunung menjulangnya. Kita hanya bisa bercerita pada kesunyian.

Seperti itulah jalan Islam. Itulah sebabnya mengapa kita perlu menyeru (dakwah). Sebab surga terlalu luas untuk kita tempati sendirian. Terlalu indah untuk kita nikmati sendirian. Bukankah kita begitu ingin orang yang kita sayangi ada dan menikmati apa yang kita nikmati? Mungkin, seperti itulah yang dirasakan Sang Nabi hingga ia begitu sedih di akhir hayatnya dan hanya mampu berkata, "Ummati... ummatii..."

Sebab Nabi tahu betapa indahnya jalan Islam berdasarkan Al Quran dan hadits, namun umatnya tetap saja memilih berada di jalan yang semrawut, berpolusi, dan membuat sakit.

Meta morfillah

07 June, 2016

#Day2 Berkah

#Day2 Berkah

Ramadhan membuat banyak orang terlihat lebih sholih. Terbukti dengan barisan jamaah di masjid yang kian bertambah. Banyak pula yang memasang target seperti harus khatam Qur'an 1 kali, shalat berjamaah di masjid terus, rawatib tak lupa, dan lainnya. Memang atmosfer yang tercipta sungguh fastabiqul khairaat... berlomba-lomba dalam kebaikan. Beragam kajian dengan pemateri keren menghiasi layar tv, mimbar masjid dan kita pun berlomba menghadirinya.

Tapi... ada yang perlu dicermati dan diri ini harus sering berkaca. Itu semua adalah ibadah individu, ruhiyah kita sendiri. Lantas bagaimana dengan ibadah sosial kita, ruhiyah sekitar kita? Semoga kita tidak lantas berbangga diri dengan targetan itu hingga lupa bahwa kita menyalahi hak sesama. Misal, saking kita ngejar khatam qur'an, waktu istirahat kerja melewati batasnya karena asyik ngaji. Tarawih dan subuhan di masjid, waktu tidur berkurang, lalu di kantor jadi lemas dan tidak seenergik biasanya hingga banyak pekerjaan yang melewati deadline bahkan terbengkalai. Semoga, kuantitas ibadah yang meningkat tidak membuat kualitas performa diri kita merosot tajam. Menyedihkan, bila kita sibuk pada diri sendiri lalu abai pada sekitar.

Dan tentu saja, bagi yang sudah baik kuantitas dan kualitas ibadahnya, berhati-hatilah pada godaan sombong dan bangga pada diri sendiri. Harus ingat selalu, bahwa segala ibadah yang telah kita lakukan disebabkan ridha dan izin Allah yang memampukan dan menggerakkan hati kita menujuNya.

Cek lagi dan terus cek, berkahkah semua yang telah kita lakukan? Luruskan niat.

Barakah... adalah bertambahnya kebaikan dan manfaat. Semoga Ramadhan kali ini, keberkahannya makin terasa pada diri kita.

Meta morfillah

06 June, 2016

#Day1 Kangen

#Day1 Kangen

Kangen suara azan. Kangen salat tarawih di masjid. Kangen berjamaah di masjid. Kangen sahur mukul bedug. Kangen dengar marbot ngaji via speaker. Kangen jajanan menjelang berbuka.

Semua itu menimbulkan kangen, ketika yang biasanya ada atau dilakukan mesti sirna karena beda budaya dan pemahaman. Tidak ada azan di sini. Tidak ada speaker di masjid sini. Tidak ada jamaah wanita di masjid sini. Tidak ada rame-ramean bangunin orang sahur di sini. Yang ada hanya kesunyian. Mungkin, di sini tempatnya belajar tawadhu. Atau kepompong bagi gadis yang menjaga diri dengan berpuas hati beribadah di rumah sendiri.

Meta morfillah

05 June, 2016

Perpisahan kelas 6 angkatan I

Genap 7 bulan saya mengajar di sekolah ini. Sekolah yang membuat saya banyak belajar, dengan berbagai target hafalan dan pengetahuan umum lainnya. Suatu kebanggaan, saya terpilih sebagai salah satu panitia tim acara perpisahan kelas 6 angkatan pertama. Yaa... event pertama bagi sekolah ini, hingga belum ada rujukan acara harus bagaimana. Meskipun saya tergolong baru, entah apa dasar pertimbangannya atasan memilih saya. Jujur saja, kepanitiaan perpisahan ini cukup menguras tenaga, pikiran dan hati saya. Sebab koordinasi banyak ke luar. Ke komite, ekskul, dan anak-anak dari kelas 1-6. Waktu mengajar saya di kelas agak berkurang. Beruntung saya memiliki partner yang pengertian.

Lalu tepat Sabtu (4/6/2016) lalu acara terselesaikan dengan baik. Meskipun malam sebelumnya saya tak bisa tidur nyenyak dan banyak mengadu pada Allah untuk kelancaran acara, rasanya semua terbayar lunas saat acara berjalan sesuai harapan. Kendala kecil memang ada, namun tak begitu memengaruhi.

Finally... alhamdulillah thanks to Allah SWT.


Nb:

Paman datang (1=1,3,5; 2=1,4,6; 3=2,5,7)

1 2 1. 1 2 1

2 2 1 1 3 3 1 1. 2 2 1 1 3 3 1 1


Meta morfillah

Text Widget

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik