Pages

27 July, 2017

[Review buku] Sekolah anak-anak juara

Judul: Sekolah anak-anak juara
Penulis: Munif Chatib
Penerbit: Kaifa learning
Dimensi: xvi + 196 hlm, 24 cm, cetakan I Mei 2012
ISBN: 978 602 8994 84 2

Buku ini menjelaskan tentang sistem pendidikan yang ideal, di mana sekolah bukanlah tempat untuk menjadikan siswanya sebagai robot. Patuh namun tidak kreatif, pintar hanya dalam kognitif, sementara potensi kecerdasan lainnya tidak dihargai. Sekolah robot hanya menerima masukan anak-anak "cerdas" dan mengolahnya menjadi luaran yang seragam.

Dengan basis multiple intelligences, penulis memberikan contoh aplikasi tentang bagaimana seharusnya lembaga pendidikan berperan. Diawali dengan bab pertama yang menyadarkan bahwa manusia adalah karya terbaik Tuhan, lalu penyadaran akan kehebatan Otak, sebagai sumber kecerdasan manusia, bab ketiga menjelaskan keanekaragaman kecerdasan yang dibagi menjadi 9 oleh Howard Gardner, bab keempat tentang sekolah robot yang belum optimal dalam tes masuk, proses, dan output, ditutup oleh bab lima: kondisi akhir terbaik, tentang beragam kisah keberhasilan tiap Multiple Intelligences. Bahwa guru harus yakin bukanlah murid yang bermasalah, mungkin cara mengajar kita sebagai guru yang belum sesuai dengan gaya belajar anak.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

"Manusia, bagaimanapun keadaannya, jika tak diterima oleh lingkungan terdekatnya, tidak akan berbahagia." (H.27)

"Tak ada satu pun jenis kecerdasan yang lebih baik daripada kecerdasan lainnya. Apa pun bentuk dan jenis kecerdasan yang ditawarkan, sepanjang produk kecerdasan tersebut punya manfaat, maka dalam makna itulah seseorang dikatakan cerdas." (H.109)

"Mengajar adalah sebuah pekerjaan seni tingkat tinggi. Guru adalah seniman pendidikan, yang melukis pikiran anak-anak muda. Mengajar tidak hanya transfer ilmu pengetahuan, tetapi melibatkan kekuatan pikiran, energi pengetahuan yang melimpah, psikologi kesabaran, dan keyakinan bahwa semua anak cerdas dengan multiple intelligences." (H.141)

Meta morfillah

26 July, 2017

Tentang Al Aqsha

"Met, buatlah tulisan tentang Palestina, Al Aqsha!"

"Aku ingin. Tapi aku sedang mendalami rasa."

"Pergilah ke Palestina kalau kau ingin merasakan!" Temanku berkata dengan marah, dikiranya saya bercanda dan main-main.

"Ya, aku ingin ke sana." Saya menjawab dengan datar dan mata menerawang.

Ketahuilah, saya tidak bermaksud bercanda tentang "rasa". Tapi, saya kelu menuliskan tentang mereka. Sebab tiada habis pikir mengapa mereka selalu dijahati. Mengapa mereka diusir dari tanah mereka sendiri? Mengapa mereka tidak bebas beribadah sedangkan mereka tidak mengganggu ibadah yang lain? Mengapa dari dulu hingga sekarang Palestina dan Masjidil Aqsha tidak kunjung Allah berikan rasa aman dalam negeri, Allah menangkan? Mengapa begitu kejam perlakuan orang yang menjunjung Hak Asasi Manusia terhadap wanita, anak, dan bayi? Sampai kapankah ini akan terjadi?

Terlalu banyak MENGAPA dalam pikiran saya, hingga saya begitu ingin mendatangi Palestina. Ingin berbicara dengan bahasa manusia dan ilmu pengetahuan yang mereka agungkan tentang manusia. Bisakah? Akankah didengar?

Menulis itu mudah, tapi menulis di atas penderitaan itu, rasanya bagai saya ikut tersayat. Tulisan saya tidak sekadar fakta, tapi juga rasa. Rasa bagaimana bila itu semua terjadi di negeri yang saya diami saat ini, pada masjid yang saya suka kunjungi, pada keluarga saya, pada diri saya? Masihkah bisa menuliskan kesedihan itu?

Luka mereka, sedih mereka, kesabaran mereka, membuat saya malu... saya tak tahu harus bagaimana menggambarkannya. Saya tak kuasa menjadikan mereka bahan tulisan, sebuah puisi untuk diperdengarkan sementara mereka menerjang nyawa dalam kata-kata saya. Astaghfirullah...

Yuk, bantu doa, donasi, dan apa saja yang kita bisa, bila tak mampu membantu langsung ke sana!

"Bila seonggok kemanusiaan terkapar, siapa mengaku bertanggung jawab? Bila tidak ada, biarlah saya yang menanggungnya, sebagian atau seluruhnya." (Alm. Ustad Rahmat Abdullah)

Meta morfillah

22 July, 2017

RPP

"Met, jarang online sekarang? Lama balas japrian. Sibuk banget ya?"

"Yup, sebulan ke depan lagi fokus buat RPP karena temaku yang pertama."

"Kok, lihat kamu, kayaknya ribet amat jadi guru. Banyak yang dipikirkan? Yang lain enak-enak aja. RPP juga kan tinggal copas, selesai."

Oh my Allah... masih loh banyak yang mikir jadi guru itu nyantai, asyik, kerja cuma kalau jam ngajarnya tiba. Mikir gak sih yang ngomong itu, namanya aja guru. Bekerja di bidang pendidikan, masak iya ilmunya gak update? Apa karena merasa sudah jadi guru, ya sudah pintar? Gak perlu update baca, tonton, amati tentang Human Talent, parenting, berita terkini, perkembangan otak, hingga novel, cerpen, dan puisi terbaru?

Padahal guru itu profesi. Maka bekerjanya juga profesional. Ada langkah ilmiah layaknya profesi lain seperti dokter, pilot, dan lainnya. Gak percaya? Mau tahu bukti keprofesionalan seorang guru? Ceklah RPPnya!

RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) atau dikenal dengan lesson plan adalah hal wajib dan tak terpisahkan dari seorang guru. Untuk melihat kualitas seorang guru yang benar-benar mikir dan profesional, bisa kalian lihat strategi mengajar dan aneka persiapan, media belajar hingga penilaian autentiknya.

Sebab saat mendesain lesson plan/RPP sebelum mengajar, guru melakukan pekerjaan ilmiah yang memerlukan perilaku ilmiah dan didukung oleh data hasil riset, layaknya disertasi pada strata tiga. RPP tersebut harus merupakan aplikasi silabus yang mengacu pada taksonomi Bloom. Dan saya akui, saya sendiri sebagai sarjana pendidikan masih kelimpungan untuk mengaplikasikan teori-teori pendidikan yang saya ketahui dalam aktivitas pembelajaran.

Itulah mengapa tidak sembarangan copy paste dan asal saja membuat RPP ini. Bagi saya ini adalah challenge dan ladang saya berkreasi serta bebenah diri. RPP yang sama di tahun ajaran lalu, belum tentu bisa digunakan di tahun ajaran saat ini. Mengapa? Sebab peserta didiknya berbeda. RPP memang begitu-begitu saja, selembar kertas berformat, tapi isinya, akan selalu dinamis karena berhadapan dengan manusia yang paradoks. Siswa yang kita ajar tidaklah akan pernah sama.

Tak heran juga, bila RPP merupakan beban terberat bagi seorang guru dalam bekerja. Namun, bukan hal mustahil. Sehingga saya amat kecewa jika masih mendengar atau menyaksikan guru yang PD mengajar tanpa merancang RPPnya, membuat RPP setelah selesai mengajar (Tak sesuai dengan namanya yang sebagai rencana, itu mah namanya pendokumentasian pengajaran) hanya untuk memenuhi kelengkapan administrasi yang dipakai akreditasi sekolah.

Ketahuilah, ada banyak manfaat dengan jujur, rajin, dan disiplin membuat RPP. Mau tahu apa saja manfaatnya? Baca tuh buku "Sekolah anak-anak juara" karya Munif Chatib halaman 142-143. Biar gak malas-malas banget kalian. Bacalah buku, jangan mau enaknya saja , menerima saripati. Kalau belum paham, ya belajar! Konsultasi sama yang paham.

Meta morfillah

#wanita yang sedang-akan-selalu belajar

21 July, 2017

Warna-warni

Sama tidak selalu menarik. Justru dari perbedaanlah, kita tahu indahnya dunia. Seperti Kampung Warna-Warni Katulampa saat ini. Mendadak jadi semangat tiap berangkat ke sekolah, soalnya cerah ceria, full colours. Baru-baru ini pun Katulampa mendapat penghargaan atas keceriaan itu dan jargonnya GEMAR SAWI (Gerakan Masyarakat Sadar Wilayah). Sekolah Islam Ibnu Hajar, tempat saya mengajar merupakan bagiannya. Jadi kami turut happy (n_n)

Menyadari potensinya di mana Bendung Katulampa dengan air yang terus mengalir deras, masyarakat Katulampa mengadakan wahana tubing. Kalau sekolah saya sih sudah biasa tubing dan susur sungai katulampa. Sebab itu memang bagian dari proses belajar anak. Seperti Local Explorer lalu (semacam MOS), kami turun ke sawah mencari tutut, kepiting, dan ikan lalu lanjut susur sungai sekalian cuci baju dan kaki yang terkena tanah sawah.

Kalau dipikir, cuma modal cat sih. Tapi kok menarik ya? Sebab kita sadar bahwa setiap warna itu menarik dan berbeda itu indah. Maka jangan paksakan untuk terus sama, kuncinya adalah MENGHARGAI. Sama kayak warna STIFIn: mau merah, hitam, kuning, biru atau hijau, semuanya keren kalau saling menghargai potensi dan mengingatkan untuk mewaspadai kelemahan.

Dan warna terindah di dunia adalah warna yang telah tercelup warna Ilahi (shibghatallah). Warna yang taat pada Rabbnya. Semoga kita mampu mewarnai atau diwarnai oleh warna itu ya.

I see your true colours, that's why I love you... don't be afraid...

Meta morfillah

17 July, 2017

Tahun ajaran baru 2017/2018

Selamat datang!

Selamat bergabung dalam kehidupan kami setahun ke depan. Kamilah yang akan belajar banyak dari kalian, Nak! Maka para guru begitu bersemangat menyambut anak didiknya di pagi hari. Memberikan senyum terbaik dan menyemangati yang masih belum move on dari libur, dari TK, dari SD, dan dari guru sebelumnya.

Setelah perkenalan, ada banyak persiapan. Kita perlu menyepakati beberapa rules. Tentunya dengan menyadarkan bahwa kalian adalah remaja keren yang sudah akil baligh. Banyak kesepakatan yang harus kita musyawarahkan. Sebab kita akan mulai berlayar dalam program-program kece. Agar tidak tenggelam dan perjalanan kita asyik, maka mohon taat aturan!

Hingga saat berpisah nanti, kenangan manis, ilmu bermanfaat dan hal positif yang kalian warisi. Ah, life... time flies~

Kita boleh melakukan apa saja, asal tidak ada hak Allah/hak orang lain yang terganggu.

Mungkin, dalam semua hubungan bisa kita berlakukan seperti ini. Perkenalan-kesepakatan-konsekuensi dan reward-pendalaman-konsistensi-perpisahan.

Meta morfillah

16 July, 2017

Menuju

MENUJU

Sesaat demi sesaat...
Perlahan-lahan kita akan menuju tempat yang ingin kita datangi. Pun mimpi kita. Tentu saja dengan menjaga harapan. Harapan yang selalu kembali padaNya. Pengabul segala harapan.

Contohnya, dulu hanya terbersit sekali saja aku ingin ke luar negeri. Singapura adalah terdekat ingin kujelajahi. Ingin naik pesawat. Tak kusangka, Allah mengizinkan dari hasil keringat sendiri dan bersama teman-teman baik. Keberhasilan pertama membuat diri tambah percaya diri. Berlanjut ke Malaysia. Lalu sekarang aku sangat ingin menjelajah (tentu haji dan umrah selalu menjadi yang pertama) ke Eropa dan lokal.

Tapi, bila kita rasa mimpi kita belum terwujud, mungkin ada mimpi orang lain yang harus kita wujudkan. Baru setelah orang tersebut bahagia, Allah akan kabulkan mimpi kita.

Contohnya, menjadi guru di sekolah alam di Bogor adalah impian mamaku. Saat aku sudah mengikhlaskan mimpiku untuk tidak bekerja kantoran, mengejar jenjang karier trainer dan melanjutkan S2 sampai S3, Allah malah mendidikku di sekolah ini. Beragam ilmu pengembangan diri yang setipe dengan kantor dahulu kudapat banyak. Tak berhenti sampai ilmu duniawi saja, melainkan ilmu akhirat. Pun mimpiku mendaki gunung. Allah kabulkan menjadi rutinitas tahunan, hingga aku yang bosan dan enggan hehe.

Jadi, sabarlah... sesaat demi sesaat kita sedang menuju puncak yang kita impikan. Kuncinya adalah serahkan semua mimpi itu pada Allah, Jagalah Allah... maka tunggulah keajaiban Allah bekerja. Jangan pernah takut sendiri, selama Allah ada di hati.

Meta morfillah

[Mentoring] Q.S. Ali Imran: 185

Ahad, 16 Juli 2017
disadur dari tausiyah Bu Efi

Alhamdulillah, hari raya atau hari kemenangan telah kita lalui. Syawal sudah hampir meninggalkan kita. Bertepatan lebaran, kita liburan. Seliweran foto-foto keluarga yang happy dan liburan bersama memenuhi timeline kita.

Senang melihatnya. Semoga apa yang tampak juga apa yang sebenarnya terjadi. Semoga momen bahagia itu benar-benar hakiki, bukan sekadar penghias selfie.

Sebagai pengingat, mari kita senantiasa ingat mati. Seperti yang dituliskan dalam Q. S. Ali Imran [3]: 185 yang mengingatkan kita bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. Juga gegap gempita kita akan pencapaian target ramadhan atau kebaikan kita di masa lalu, bahwa segalanya baru kita akan ketahui saat hari kiamat.

Maka jangan bosan berbuat baik, sebab kita tak pernah tahu kebaikan kita yang mana yang akan membuahkan surga. Jangan bosan beristighfar, sebab kita tak pernah tahu taubat kita yang mana yang menyelamatkan kita dari jatuh pada neraka.

Maka teruslah memegang prinsip "Dahulukan menghindari mudharat, sebelum mengambil manfaat."

Perjuangkan diri agar tidak masuk neraka, barulah mengharap surga. Sebab insya allah syahadat kita adalah jaminan masuk surga, tapi apakah proses masuk surganya semulus jalan tol? Atau masih perlu pembersihan diri di neraka? Maka jagalah diri dan keluargamu dari api neraka. Jangan sampai deh menjejakkan kaki di sana! Naudzubillah...

Jangan lupa pula, bahwa segala kesenangan dunia hanyalah kesenangan sementara yang memperdaya. Sebab kesenangan sejati hanya ada setelah kita mati: SURGA.

*catatan sepemahaman penulis

Meta morfillah

15 July, 2017

[Review buku] AsoiGeboiBohai

Judul: AsoiGeboiBohai
Penulis: Yudhi H.
Penerbit: Gradien mediatama
Dimensi: 192 hlm, 13 x 19 cm, cetakan kedua 2008
ISBN: 978 602 8260 060

Buku berisi 39 kisah yang dikelompokkan ke dalam 4 bagian: gosh stori, balada-baladi, lauf stori, dan XXX ini 21+, berkisah tentang para penghuni kos yang satu kosan dengan penulis. Nama kosannya Eltorros. Ada juga beberapa kosan yang diceritakan dalam buku ini.

Menurut kata pengantar penulis, dia menulis buku ini sebab membaca karya komedi yang cetak ulang namun saat dia baca menurutnya sama sekali tidak lucu. Maka dia yakin, dia bisa menuliskan hal yang gak kalah lucu tapi bisa diterbitkan dan cetak ulang.

You know what? Aku pun merasakan hal yang sama. Sepanjang baca buku ini, gada senyum-senyumnya. Beneran jatuh ke jayus, garing, dan berujung gak jelas semua. Terasa tak konsisten, atau dibelokkan dari kisah awal atau judulnya. Intinya mah mau buat twist, tapi ga berhasil gitu. Gak kompor gas kalau menurut Om Indro Warkop.

Tapi, saya gak kepikiran mau buat karya komedi selanjutnya sebagai karya tandingan buku ini sih. Cukup saya cerita kisah hidup saya aja, sudah lucu, kok. Tuhan senang bercanda sama jalan hidup saya soalnya.

Saya apresiasi 3 dari 5 bintang.

Meta morfillah

[Review buku] Beautiful mistake

Judul: Beautiful mistake
Penulis: Sefryana Khairil & Prisca primasari
Penerbit: GagasMedia
Dimensi: viii + 260 hlm, 13 x 19 cm, cetakan pertama 2012
ISBN: 979 780 5395

Novel ini berkisahkan tentang kesempatan kedua bagi mimpi dan cita-cita. Bahwa kesalahan yang pernah hadir sesungguhnya indah dan menuntun kita ke arah yang benar.

Lewat "Dreamland", Sefryana mengisahkan tentang kesempatan kedua bagi mimpi seorang Fajar dan Nadine. Fajar yang kehilangan istrinya akibat kanker dan Nadine yang ditinggalkan lelaki yang 4 tahun dicintainya, namun akhirnya menikah dengan wanita lain, sama-sama takut bermimpi untuk jatuh cinta lagi. Namun pertemuan keduanya membuat mereka berani untuk mengambil kesempatan kedua itu. Sesuatu yang hampir mereka hilangkan: HARAPAN.

Sementara lewat "Chokoreto", Prisca mengisahkan kesempatan kedua bagi cita-cita. Akai Fukue dengan cita-cita menjadi pianis namun terhalang ayahnya yang sakit kanker dan Yuki Akihara dengan cita-cita menjadi penulis namun memiliki kelemahan antisosial dan tak bisa public speaking. Pertemuan keduanya ternyata saling membawa semangat dan dukungan hingga cita-cita itu tercapai dan berakhir romantis.

Dari segi cerita saya lebih suka karya Prisca, meski memakai latar Jepang, tapi kisahnya lebih lembut dan manis. Tidak seperti Sefryana yang memakai latar Bali dan free seks sepertinya membudaya di Indonesia. Secara alur, saya cukup bosan. Cerita ini cukup tertebak. Konfliknya pun tidak klimaks.

Saya apresiasi 3 dari 5 bintang.

" Tuhan sudah merencanakan aku dan kamu bertemu di suatu waktu."

"Actions speak louder than words, right?" (H.38)

"Saat Tuhan menutup satu pintu, Tuhan membuka pintu yang lain. Kamu mungkin nggak pernah tahu karena terlalu sibuk mengurusi hidup yang sudah tertutup itu." (H.49)

"Banyak orang bilang bahwa kita akan kembali pada cinta sejati." (H.212)

"Kita akan selalu bersama dengan yang benar-benar kita cintai, sekeras apa pun kita menghindar." (H.214)

Meta morfillah

11 July, 2017

Konsistensi (menulis)

KONSISTENSI

Ada banyak mimpi. Ada banyak pemimpi. Ada mimpi yang bersemi indah. Ada mimpi yang terbentur lalu pupus. Ada mimpi yang bahkan tak pernah tumbuh. Satu hal yang pasti, semua mimpi itu bisa diwujudkan jika kita bangun, bergerak dan konsisten!

Senang membaca kabar seperti ini. Ketika teman-teman penulis sudah menemukan jalan untuk meraih mimpinya. Apa sih mimpi penulis? Tentu saja karyanya dihargai. Dengan terpilih terbit di media, hingga diundang ke acara bergengsi kepenulisan seperti Ubud Writer's Festival (UWF), adalah salah satu indikator bahwa karyanya dihargai oleh orang yang tepat.

Saya juga ingin. Tapi genre tulisan saya sudah jauh berbeda dengan tahun 2014, saat saya masih bergenre fiksi, cerpen, FF, romantis, dan thriller. Meski begitu, saya tetap mengambil kata kunci: KONSISTEN. Sebab saya yakin semua yang terasah akan semakin tajam. Meski tulisan saya remeh, refleksi keseharian, saya percaya hukum 10.000 jam akan bekerja dan membantu saya memudahkan mengerjakan banyak hal.

Pada akhirnya menulis seperti bernafas bagi saya. #1hari1tulisan bahkan terasa kurang. Ada banyak kisah dan hikmah yang bisa saya ceritakan dalam kejadian yang saya alami seharian ini. Hingga harus memilah dan memilih mau berbagi semangat apa melalui tulisan saat ini?

Ah, intinya mah. Kayak kata teman saya itu, yang bermental penulis, teruslah konsistensi mencapai target, disiplin mewujudkan mimpi. Lalu, siap-siap deh makin banyak punya teman yang terkenal. Saya bangga! Congrats ya, guys!

Meta morfillah

10 July, 2017

Latihan cicil #Qurban

Kalau dipikir ya, pas rutin puasa ramadhan lalu, mau makanan sebanyak apa pun di hadapan kita, saat berbuka cukup segelas air mineral atau kurma sudah mengenyangkan. Paling kalau lapar banget baru deh kemakan menu utama/karbo.

Jadi terlihat jelas bahwa hidup kita sebenarnya banyak dipenuhi hawa nafsu dibandingkan kebutuhan. Buktinya kita baik-baik saja meski makan lebih sedikit. Gak harus 3x dengan porsi banyak dan lengkap. Asal pola makan dan gaya hidup teratur, sehat, insya allah aktivitas juga lancar.

Nah, kayaknya nih... Kita juga bisa tuh belajar menelaah kebutuhan menjelang Idul Adha. Uang sudha habis buat liburan, tapi kan masih bisa buat dicicil dari sekarang. Masih 50 hari, cicil   nabung 50rb atau minimal banget 20rb. Kita gak usah jalan-jalan dulu deh 1,5 bulan ini. Kulineran juga distop dulu deh, banyakin puasa. Syawalan, senin-kamis, ayyamul bidh, daud kalau perlu.

Kayaknya mah insya allah bisa dapat minimal 1 kambing. Yuk coba yuk, latihan prioritas untuk belajar berqurban tiap tahun. Niatkan dulu, azzamkan yang kuat. Insyaa Allaah... Pasti Allah beri jalan kalau kita sungguh-sungguh. Man jadda wa jada. Siapa yang bersungguh-aungguh pasti akan berhasil. Bismillah...

*Nyari gambar mbe atau moo gak ada. Malah adanya panda. Yoweslah...

Meta morfillah

Guru lelaki

Saya selalu kagum pada lelaki yang mengabdikan dirinya menjadi guru. Teruji dalam waktu yang lama. Terlebih yang sudah berkeluarga. Sebab rahasia umum bahwa gaji guru itu kecil. Nah, kalau lelaki yang jadi tulang punggung itu tahu, berarti ia paham bahwa ada hal lebih besar selain gaji: KEBERKAHAN REZEKI DUNIA AKHIRAT.

Dulu saya punya teman lelaki guru honorer, dia tahu saya S.Pd, tapi bekerja di perusahaan. Habis-habisan dia mengkritik saya, agar saya kembali mengajar, mempertanggungjawabkan gelar saya. Saat itu saya yang masih bodoh dan berpikiran duniawi menjawab realistis, "Malas jadi guru, gajinya kecil. Toh dulu pas ngajar 2 tahun sebelum lulus, karena isi waktu saja sembari kuliah. Lumayan uangnya buat nambah ongkos."

Lalu sekarang, saya menjadi guru dan dia sudah lama keluar jadi guru, malah bekerja di bank yang dahulu ia tak sudi masuki. Saya bertanya pada dia, ke mana idealismenya dahulu sebagai pendidik?

Dia menjawab, "Aku lelaki, Met. Aku harus menghidupi keluarga. Gaji guru honorer tak mencukupi. Terpaksa aku bekerja di sini."

Sedih.

"Mengapa sekarang kamu jadi guru, Met? Sudah tak butuh uang? Hehe"

"Sebab aku tahu apa yang membuat Bapakku berkharisma saat menjadi guru. Dan aku ingin meneladaninya. Sebab lain, aku mengaji dan aku mengharapkan keberkahan dunia akhirat dari profesi ini. Aku tak mau rugi."

Untuk semua guru, khususnya lelaki... semoga tetap istiqomah. Sedih rasanya melihat kenyataan sulit sekali mencari guru lelaki saat ini. Negeri ini kekurangan Vitamin A (sosok Ayah).

Buat yang menulis, doakan semoga istiqomah selalu dan mampu meneladani jejak almarhum bapaknya: menjadi guru kreatif, sederhana, bersahaja. Aamiiin allahumma aamiiin.

Meta morfillah

09 July, 2017

[Review buku] Fun Teaching

Judul: Fun Teaching
Penulis: Imam Maliki Ralibi
Penerbit; Duha Khazanah
Dimensi: 112 hlm,16 x 18 cm, cetakan pertama Maret 2008
ISBN: 978 979 1031 271

Buku berisikan metode Quantum Teaching yang dikemas dengan bahasa yang mengalir ringan. Terdiri atas 4 bab, di mana bab 1 berisi tentang alasan mengapa harus fun teaching (selanjutnya kita sebut FT) dan apa saja hal menarik yang bisa dihasilkan oleh FT.

Bab 2 berisi tentang menjadikan belajar semakin asyik dengan aplikasi bermain, bercerita, bernyanyi, humor, dan tebakan. Bab 3 berisi tentang kiat sukses menaklukkan murid yakni dengan be in the moment, confident, your body is your facility, creative dan unique. Bab 4 membahas cara menembus batas, dua hal yang dilakukan sang penulis sebagai contoh yakni "Dakustik" atau dakwah melalui musik/akustik dan "Goligraf" atau Logo Kaligrafi yang sesuau tren sehingga bisa menembus audiens/siswa.

Meski ada beberapa typo dan sebenarnya hampir semua yang ditunjukkan penulis sudah saya terapkan, sehingga tak ada hal baru, buku ini tetap asyik untuk dibaca. Refresh bagi para guru yang mungkin terjebak rutinitas atau terkungkung sistem. Semoga bisa tetap have fun teaching yaa!

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

"Kerja keras dunia pendidikan adalah mengarahkan para pendidik/guru untuk bersungguh-sungguh memanfaatkan dan mempotensikan apa yang ada pada diri mereka. Your body is your facility." (H.11)

"Seseorang yang senang bekerja, maka ia tidak sedang bekerja, dan seseorang yang senang dalam belajar sesungguhnya ia tidak sedang belajar." (H.16)

"Seorang dikatakan pemimpin jika ia telah mampu menciptakan pemimpin baru. Mantan ketua yang bangga bila generasi setelahnya tidak lebih baik dari mereka telah membuktikan bahwa mereka gagal melakukan regenerasi/proses duplikasi." (H.21)

"Nyalakan kembali kreativitas Anda dengan banyak membaca, menggemari seni, menyulut inspirasi dengan games dan humor, mengembara, dan bergabung dengan orang-orang yang memiliki jiwa kreatif." (H.92)

Meta morfillah

Ngomong sama ayam


"Met, kenapa ya lebih susah ngasih tahu orang yang pintar atau sudah paham dibanding yang belum tahu apa-apa?"

"Ya karena dia sudah punya pengetahuan tentang itu. Dia merasa sudah paham dan lebih tahu dari kamu. Coba saja kamu kalau diberitahu sesuatu yang sudah kamu tahu, malas gak dengarnya?"

"Iya, sih. Tapi kan manusia suka lupa, makanya harus sering nasehat-menasehati."

"Betul, tapi butuh kelapangan dada menerima sebuah nasehat. Butuh kejernihan hati untuk terus mau belajar. Butuh kebesaran hati untuk mau mengosongkan pikiran saat menerima ilmu atau nasehat. Agar kita selalu merasa kita butuh, kita beruntung, dan kita baru saja mendapat ilmu dan nasehat tersebut."

"Iya ya, Met. Kalau nyari calon mending cari yang sekalian ummi (belum tahu apa-apa) dari pada yang sudah paham tapi gak mau dengar nasehat ya?"

"Lebih baik cari yang paham dan mau mendengar, mau belajar. Tapi ya kitanya juga harus adil. Kita pun harus bersikap seperti itu. Sebab hidup adalah pelajaran dan ujian terus menerus, yang hanya akan berhenti saat kita mati."

Jangan bosan mengingatkan dalam kebaikan, dengan cara yang baik, perkataan yang benar, dan adab yang menjadi teladan. Apalagi ingetin meta, orangnya suka lupaan, ditulis aja suka lupa, apalagi enggak. Biarin aja dia nulis, biar dia baca lagi tuh tulisan buat nasehat dirinya sendiri. Maapin meta yaaak!

*Kadang lebih gampang ngomong sama ayam daripada sama manusia. Ayam gak bisa membantah soalnya haha

Meta morfillah

08 July, 2017

Masa sekolah

Mengantar kakak dan ponakan ke SMK barunya. Saya asyik di lapangan, memerhatikan anak paskibra yang sedang melatih junior barunya untuk upacara perdana Senin nanti.

Flashback deh lihat seragam putih biru dan putih abu-abu. Ingat lagi rasanya saat masih cupu, polos, dan gak paham cita cinta di SMP ("ditembak" pun gak nyadar dan gak ngerti kalau gak dikasih tahu teman). Ingat lagi semangatnya saat di SMK, touring terus sama geng motor. Ingat lelahnya sekolah sampai sore, banyak praktikum, magang, dan aneka tugas. Tapi gak pernah stress... semua happy.

Sekolah itu justru seru, paling ditunggu, dapat uang jajan. Bertemu kawan-kawan, belajar hal baru, ikut beragam lomba, hidup penuh aktivitas tanpa perlu mikir besok makan apa enggak, tahunya orangtua sudah siap sedia aja. Kalau pun susah, selalu tak diberitahu, cukup berprestasi sudah membahagiakan. Dan itu jauh lebih mudah dibanding saat ini. Saat aplikasi sekolah bertahun-tahun kita divalidasi.

Tidak ada lagi pemakluman atas kesalahan, tidak ada lagi orangtua atau guru yang menolong saat susah. Semua adalah tanggung jawab diri sendiri. Tak heran, masa sekolah selalu menjadi masa yang paling dirindu. Ketika PR dan ujian saja yang menjadi challenge.

Selamat menikmati sekolahmu!
Isilah dengan beragam hal bermanfaat, berorganisasilah sebanyaknya, kelak kau akan tahu betapa beruntungnya masa mudamu disibukkan hal yang baik.

Meta morfillah

07 July, 2017

Terima kasih mantan (kantor)!

Tadi main ke mantan (kantor), mau halal-halalan eh halal bi halal, silahturrahim. Terus nemu tulisan ini. Khas banget bapak bos, dari dulu harus follow up-konfirmasi. HORENSO. Bahkan ada hukum 3 dari 5 untuk konfirmasi (sms, telepon, email, bbm, WA, dll).

Speed dahulu baru kualitas. Sebab dalam dunia kerja dahulu, kompetisi begitu ketat dan "time is money" sangat berlaku. Maka bentukannya ya, saya terbiasa membuat apa-apa dengan cepat, koordinasi dan konfirmasi terus-terusan sehingga meminimalisir kesalahan (benar sedari awal adalah yang sering pak bos katakan).

Revisi berkali-kali itu biasa. Menghadapi banyak kemauan klien sampai yang njelimet itu makanan sehari-hari. Tapi semua baik-baik saja selama KOMUNIKASI dan KOORDINASI berjalan lancar. Tidak sekadar menyampaikan, tapi konfirmasi KEPUTUSAN. Jadi mengurangi asas praduga.

Begitulah saya belajar dari mantan #eciee . Ada hal-hal baik yang masih saya teruskan, pelihara dan internalisasikan agar menjadi habit baik, pun ada yang saya tinggalkan bila menurut saya kurang baik. Selalu ada hal yang bisa dipelajari dari masa lalu, untuk mempersiapkan masa depan.

Terima kasih mantan...

Hahaaa

Meta morfillah

06 July, 2017

Manfaat STIFIn

"Buat apa sih tahu STIFIn kita, Met?"

Banyak sih manfaatnya kalau menurutku. Dengan mengetahui mesin kecerdasan kita, kita jadi tahu apa kelemahan dan kelebihan kita, apa yang harus kita waspadai dan apa yang menjadi tolok ukur kita berhasil mengoptimalkan mesin kecerdasan kita.

Dengan memahami diri sendiri, kita bisa memahami diri orang lain sebagaimana kita ingin dipahami. Kita tahu kalau dia belum terolah maka waspadai kelemahannya, beritahu potensi besarnya. Menghadapi saat konflik, belajar, mengajat, cinta, dll. Itu pun aku masih belajar kulitnya saja, belum mendalam. Sejauh ini saya mengaplikasikan STIFIn cukup membantu dalam keseharian.

Ibaratnya kalau sudah tahu STIFIn seseorang itu, kita bisa memberi perlakuan yang tepat pada orang tersebut sesuai fitrahnya. Kayak paket yang dikirim via kurir, diberi label jadi kita tahu mudah pecah, tidak boleh digoyang, atau apa.

Kalau kamu belum merasakan manfaatnya, mungkin kamu belum mempelajari dan mengaplikasikan. Sebab semua ilmu itu hanya akan bermanfaat bila kamu amalkan. Bukan promosi, cuma share aja apa yang saya rasakan sejak mendalami STIFIn karena tuntutan pekerjaan. Dibanding tes psikokogi sebelumnya yang saya pelajari, STIFIn yang paling saya pahami karena saya mempraktikkannya langsung. Learning by doing, observing.

Salah satunya contoh berhadapan dengan T saat konflik, jangan pernah berharap dia minta maaf. Kata "Maaf" itu adalah hal terhebat yang bisa keluar dari T, sebab gengsinya tinggi, apalagi lelaki. Dia lebih memilih membayar dengan uang yang banyak atau lainnya dibanding disuruh meminta maaf. Tapi, tetap saja kalau ada kesalahpahaman, bicarakan dengan baik, sebab T tidak peka akan perasaan orang lain (itu kelemahannya), dingin, dan selalu menilai orang dengan objektif tapi kebanyakan dari segi negatif karena harus sesuai teori, dia menjaga kualitas.

Belajar juga saat menerangkan sesuatu pada orang S, misalnya rute, jangan hanya menggunakan jari yang menggambar di udara kosong. Dia orang konkrit, harus ada sarana, bisa dengan visual gambar pakai kertas dan pulpen, peta, atau peraga yang ada di sekitar, misal sendok, garpu sebagai patokan lokasi yang diingatnya.

Begitulah, sekilas tentang manfaat STIFIn dalam keseharianku. Jadi, kalau kamu merasa masih belum berguna tes STIFInnya, mungkin kamu perlu lebih banyak membaca, bertanya pada orang yang tepat dan banyak mengamati.

Meta morfillah

Kesementaraan

KESEMENTARAAN

"Gencar banget silahturrahimnya, Met? Ada apa?"

Banyak banget yang nanya gitu, memantau postingan saya di medsos. Soalnya memang belum istirahat sebenarnya, sejak semua ini dimulai. Tahun ini memang berbeda. Liburan yang saya manfaatkan semaksimal mungkin mengunjungi yang agak jauh/jarang saya kunjungi padahal kita begitu akrab/amat dekat wilayah rumah dan kantornya.

Semua itu disebabkan saya menyadari bahwa libur panjang ini hanyalah kesementaraan. Rasanya terlalu sayang bila saya manfaatkan hanya untuk pribadi, sementara bisa dimaksimalkan untuk banyak hal. Memahami bahwa jika sudah beraktivitas saya akan konsen pada aktivitas saya dan mempriotaskannya, maka kesempatan silahturrahim dan bermain hanya ada saat ini. Sebab begitu banyak kewajiban yang harus dilakukan dibanding waktu yang tersedia (Hasan Al Banna).

Tidak ada target khusus, hanya ingin melihat semaksimal apa diri ini memenuhi janji. Titik mastatho'tum yang bagaimana? Ternyata, waktu 3 minggu itu masih kurang. Banyak sekali yang ingin dikunjungi, tapi apalah daya yang terbatas.

Maka banyaklah memanjangkan doa saat tak mampu memanjangkan langkah. Bersegeralah menuntaskan segala kewajiban sebelum dikalahkan waktu. Sebab semua ini hanyalah kesementaraan. Kita hanya merayakannya sesaat, apa pun itu: sedih, senang, terkejut, jatuh hati, patah hati, kecewa, dan rasa lainnya.

Semua itu hanya sementara saja. Selamat menikmati kesementaraanmu di dunia!

Meta morfillah

05 July, 2017

Melihat dari atas

MELIHAT DARI ATAS

Lucu, mengetahui bahwa barisan polisi nan gagah di bawah tenda bertuliskan "SAYA INDONESIA PANCASILA" yang terpenggal-penggal bahkan tak terlihat sama sekali dari atas. Pun gedung-gedung megah yang tegak jumawa terlihat bagai mainan lego-legoan mini. Lantas, bagaimana denganmu yang seorang diri, dilihat dari atas sini?

Kamu mau pakai emas berkilauan, bawa uang berkoper, cantik sedunia, atau keturunan raja, tak dianggap. Terlihat pun tidak spesifik. Hanya bagai debu. Lucu sekali, kalau kamu begitu sombong, berkacak pinggang pada dunia akan kehebatanmu, sementara yang melihatmu di atas sana tidak sedikit pun merasakan kuasamu. Sebab kamu bukan apa-apa atau siapa.

Maka, apalah yang berhak kamu sombongkan pada Yang Maha Melihat? Jikalau dari arsyNya kamu hanyalah bagai debu. Hilang, ada atau tiada, tak berpengaruh pada semesta yang Ia cipta. Gedung megah itu pun, seberapa banyaknya, mudah Ia hancurkan sekejap bagai merobohkan mainan anak-anak. Apakah yang bisa disombongkan?

Diberi nikmat sedikit, sudah merasa shalih, doanya terkabul, jumawa bahwa diri paling baik. Astaghfirullah...

Diberi ilmu sedikit sudah merasa pakar, gemar menyalahkan, merasa diri paling benar. Astaghfirullah...

Dan... bisa jadi itu adalah diri saya. Yang begitu bodoh memamerkan kefakirannya. Bangga akan kehebatan semu, sementara tanpa sadar saya semakin menjauh. Jauh dariNya, untuk bertafakkur dan tidak terlalu. Maka jangan bosan meneruskan wasiat Sang Nabi untuk tetap berjamaah, meski menyakitkan, meski banyak gesekan, meski hati ingin meninggalkan. Jangan bosan untuk saling menasehati. Sebab nasehat itu sendiri yang utama dan pertama mendengar adalah telinga kita. Maka kitalah yang berhajat paling banyak menerima dan mengamalkannya.

Yaa Allah, Yang Maha Melihat... berilah kami pencerahan dalam "melihat" segala sesuatu agar tepat kadar, benar cara, dan baik adabnya. Aamiin...

Meta morfillah

04 July, 2017

Silahturrahim

Dari dulu, saya lebih menyukai hubungan yang personal, tak bertele-tele resmi. Silahturrahim ke rumah teman, menghabiskan waktu berjam-jam di kamarnya untuk sekadar ngobrol tentang aktivitas, hobi, permasalahan dan menggeratak lemari bukunya.

Bila saya sudah nyaman dan dekat, bahkan saya suka memasak di dapurnya, menjaga warung, memberi makan ayam, atau hal apa pun yang biasa. Menyelami rasa menjadi penghuni rumah tersebut. Sebab dari penyelaman rasa itu, saya bisa memahami mengapa persepsi dan pengambilan keputusan teman saya seperti ini atau itu. Saya bisa mengenalinya lebih dalam dari rumah yang ia tempati, orang-orang yang tinggal bersamanya dan lingkungan rumahnya.

Itu seperti challenge bagi saya untuk belajar lebih peka, humanis dan memaknai kebesaranNya akan perbedaan tiap makhlukNya.

Libur lebaran kali ini, banyak sekali rumah dan orang yang saya kunjungi untuk silahturrahim. Membuat saya banyak bersyukur dan bersemangat. Inspirasi yang saya dapat, saya tabung untuk bekal saat ada masalah di depan nanti. Banyak hal yang menurut saya biasa, dianggap luar biasa dan sebuah mukjizat bagi orang lain.

Banyak yang menginginkan hidup seperti saya sementara saya merasa masih banyak yang perlu dibenahi. Semakin terpapar kebodohan diri, kefakiran ilmu, dan kerendahan adab saya. Astaghfirullah...

Maka saat bersilahturrahim, semoga saya bisa lebih baik dan memetik yang baik. Alhamdulillah ala kulli hal.

Pic: yang setia menemani saat silahturrahim

Meta morfillah

03 July, 2017

From B to G (part 3)

From B to G (part 3)

Alhamdulillah... dapat hadiah dari Allah, saya haid dan tibalah sakit yang biasa berkawan dengannya, migrain. Jadi, saya memutuskan untuk beristirahat seharian sebelum pulang ke Jakarta. Sementara teman saya berdua ke rumah teman yang ikhwan mengembalikan motor pinjaman. Satunya sudah balik duluan ke Jakarta.

Menikmati tidur seharian, meringkuk, sendirian, dalam gelap. Baru mandi pukul 14.00. And this is what I called "HOLIDAY". Just leyeh-leyeh alone without any interruption. Pukul 15.30 saya dijemput oleh teman-teman naik mobil untuk makan Soto Sedap Malam. Soto ayam khas Tegal yang memakai tauco.

Setelahnya kami pergi mengambil tahu aci pesanan untuk oleh-oleh ke Jakarta. Lalu kami menghabiskan waktu sampai Isya di angkringan Roti Maryam Alun-alun Tegal. Bertemu dengan tiga teman akhwat lain yang berbagi cerita tentang Tegal (Mbak Desi, Ida, dan Wina). Saya tertawa terus mendengar logat Mbak Desi yang khas ngapak. Lucu!

Pukul 19.00 kami balik ke kosan, packing untuk mengejar Bus Sinar Jaya Eksekutif yang akan membawa kami pulang. Jadwal berangkat bus pukul 20.00.

Alhamdulillah, semua sesuai rencana. Liburan dapat, silahturrahim dapat, and always happy. Jazakumullah khairan katsir tuan rumah chilman (untuk motor kecenya selama 3 hari dan service selama di Tegal), beserta teman-teman yang luar biasa (Mas Erlan untuk kosannya, Mas Zeni untuk guide ke Gucinya, Mas Fige untuk mobil dan kulinernya, Mas Agan untuk tahu acinya, Mbak pemilik Sop Duren Babeh, dan lainnya). Semoga kalian ridha dan Allah balas keberkahan serta kemudahan segala urusan.

Mohon maaf lahir batin, meta masih harus banyak belajar adab bertamu, adab bicara, dan haha banyaklah. Jangan bosan dan nyesel yaaa... Bye Tegal

*dadah-dadah cantik

Perjalanan selalu mengingatkanku arti kepulangan. Kembali pada yang kucinta. Hal terindah yang selalu setia, tanpa perlu aku cari-cari lagi: KELUARGA DI RUMAH.

Meta morfillah

From B to G (part 2)

From B to G (part 2)

"Belum ke Tegal, kalau belum ke Guci."

Itu kata teman-teman travelling saya. Maka berangkatlah kami ke Guci. Saya dan partner bersiap dari pukul 04.00. Janjian di Pasar Pepedan pukul 06.00. Sebab yang ditunggu belum datang, maka kami sarapan bubur ayam dulu. Rasanya khas wangi ebi, bisa dilengkapi dengan ceker juga. Ternyata teman yang jadi tour guide kami baru tiba pukul 06.30.

Perjalanan pun dimulai dengan 2 motor. Jalan yang dilewati sepanjang menuju Guci masya Allah indahnya. Skenario Allah sepertinya ingin saya menikmati lukisan alamNya, sehingga motor yang saya kendarai hanya bisa digas maksimal 60 km/jam dan semakin menanjak berkurang jadi 40 km/jam. Alhamdulillah meski agak lama, kami tiba pukul 07.30.

Guci belun terlalu ramai kayak cendol (banyakan orang daripada airnya). Kami masuk ke pancuran 13. Saya dan partner pun langsung menitipkan barang dan turun ke kolam air panas yang cukup penuh. Lima belas menit kemudian semakin ramai, kami pun pindah ke dekat curug. Ternyata curug yang besar airnya dingin, tapi sebelahnya air panas. Masya Allah yaa... air panas dan dingin saja bisa menyatu, masak kita enggak? Hoho

Pukul 09.00 kami sudah rapi membilas tubuh dan keluar mencari makan. Pukul 09.30 kami melakukan perjalanan pulang. Ternyata kesabaran kembali diuji, macetnya luar biasa. Medan Guci yang seperti puncak pass, jalan kecil, banyak dilewati bus pariwisata membuat motor pun tidak bisa nyelip. Jadi memakan waktu lama. Kami baru sampai di kota Tegal saat azan zuhur. Berisitirahat sejenak sambil merujak, untuk menjemput dua teman yang akan datang dari Cirebon dan Semarang.

Kami bersiap menjemput mereka di Masjid Agung Tegal, seberang Alun-alun. Teman ikhwan mencari pinjaman motor dan helm untuk yang baru datang, sebab transportasi di dalam kota Tegal cukup mahal dan kurang fleksibel. Lebih irit bermotoran. Pukul 14.30 tibalah 2 teman di Stasiun, kami menjemput dan berkumpul menunggu azan Ashar di Masjid Agung. Setelahnya kami berangkat ke kosan di daerah Citraland.

Kami istirahat sejenak, pukul 17.00 kami berangkat ke Pantai Alam Indah. Sempat melihat sunset yang sekejap saja. Masya Allah... setiap permulaan pasti ada akhirnya, begitu pun peredaran matahari. Kami pulang saat azan maghrib dan teman ikhwan yang sudah lelah segera pulang. Sementara kami, para akhwat mencari makan malam dan tiba di kosan pukul 20.00. Setelahnya kami bertukar cerita dan saya terlelap lebih dahulu, sebab migrain saya kambuh.

Alhamdulillah 'ala kulli hal.

*to be continued

Meta morfillah

Text Widget

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik