Pages

30 December, 2015

Berbaik sangka padaNya

"Ribet banget ya Islam... banyak enggak bolehnya. Ngucapin selamat natal enggak boleh, ngerayain tahun baru ga boleh, dll. Berat pula tuntutannya. Salat subuh, lima kali sehari, belum salat malam. Ckckc.."

Akhir-akhir ini makin banyak dengar kalimat senada di atas. Awalnya saya sih diamkan saja, paling kurang ilmu. Tapi barusan, saat mau tidur saya perhatikan wajah mama saya yang terlelap, tiba-tiba kepikiran begini: hal yang paling menyakitkan bukanlah dibenci, melainkan tidak dipedulikan lagi.

Lalu saya ingat bahwa mama dulu sering banget larang-larang saya ini itu, banyak banget aturan, sampai saya bosan dengar "nyanyian" mama kalau saya melanggar salah satu aturan. Tapi saya tahu, bahwa semua itu dilakukan bukan karena benci, melainkan teramat sayang. Peraturan dibuat agar kita tidak keluar jalur, ada batasan. Semua demi kebaikan kita sendiri. Malah, kalau mama lagi marah... saya didiamkan saja. Terserah mau ngapain. Bebas. Tapi hati saya tidak senang. Sebab saya dianggap tidak ada. Saya tak dipedulikan. Dicuekin. Kayak batu kerikil di jalan tol.

Nah... mungkin Allah menyayangi kita seperti itu. Seperti kasih sayang ibu kita. Bukankah melalui orangtua, terutama ibu, Allah merepresentasikan sedikit kasih sayangNya? Jadi... cobalah berbaik sangka bila belum mampu berpikir dan bertemu jawab untuk hal-hal yang dilarangNya.

"Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda penciptaan Allah, bagi kaum yang MAU BERPIKIR."

Meta morfillah

27 December, 2015

Bersabar

Bila rindu ini masih milikmu
Kuhadirkan sebuah tanya untukmu
Harus berapa lama aku menunggumu?

Lalu seperti kisah romansa umumnya, hanya kamu yang tahu berapa lama lagi aku harus menunggu.

Sungguh, meski aku suka membaca cerita romansa, tapi aku tak suka pasrah pada manusia. Seakan semua takdirku berada pada langkahmu. Itu pun bila kau melangkah. Kalau kau hanya diam memandang? Haruskah kusiakan usia?

Maka aku pun bersabar dengan caraku. Berani memutuskan bahwa kau hanya sekedar masa lalu. Sebab masa depan adalah yang nyata di hadapanku. Sebab aku tak ingin membuka pintu syaithan dengan penantian panjang yang dipenuhi kata "andai". Sebab cinta bagiku bukanlah sekadar kata sifat, ia adalah kata kerja. Seberapa keras kerja kita mengusahakan kita.

Meta morfillah

26 December, 2015

[Review buku] Orangtuanya manusia

Judul: Orangtuanya manusia
Penulis: Munif Chatib
Penerbit: Kaifa
Dimensi: xxiv + 216 hlm, 24 cm, edisi baru, cetakan I Mei 2015
ISBN: 978 602 7870 92 5

Awalnya saya kurang tertarik pada buku ini, sebab beberapa hal: Satu, covernya menampilkan foto penulis. Saya tak terlalu menyukai cover buku dengan wajah manusia  apalagi foto, sebab tak nyambung dengan isinya, kecuali buku biografi hahaha. Kedua, kemasannya lebar seperti buku diktat, kertasnya tipis agak buram. Ketiga, covernya dari bahan yang gampang menggulung, dan itu menyebalkan. Saya harus sering-sering menibannya dengan benda yang lebih berat agar lurus kembali. Tapi saya tetap memilih buku ini di antara sekian banyak pilihan di perpustakaan sekolah tempat saya mengajar. Sebab kepala sekolah yang merekomendasikan. Yaa... saya ingin tahu apakah selera bacaan kepala sekolah sama dengan selera saya, hehehe.

Ternyata, dimulai dari puisi pembuka, melihat daftar isi dan pengantarnya, membuat saya tertarik membaca. Saat saya lanjutkan, tanpa terasa bab demi bab begitu mengalir, menyentil, dan mengingatkan saya kembali akan sebuah arti penting menjadi orangtua, serta bagaimana memperlakukan anak-anak sesuai fitrahnya sehingga dapat melejitkan potensi dan kecerdasan mereka.

Bab satu, "Siapa anak kita?" berisi pemahaman akan sosok sejati anak-anak yang lahir dengan bekal fitrah ilahiah suci dan memiliki potensi kebaikan. Apa saja penyebab anak menjadi buruk seperti melupakan tuhan; bangga, riya', sombong; tidak bersyukur, mudah putus asa; kikir, berkeluh kesah; melampaui batas; tergesa-gesa; dan suka membantah. Diberikan juga cara mengatasi bila anak berlaku buruk yakni aktifkan paradigma FITRAH, berdoa pada Tuhan, dan teliti FAKTOR DOMINAN apa yang menyebabkan anak berlaku buruk. Faktor lingkungan jauh lebih dominan dibanding faktor genetis sehingga orangtua berpeluang mewarnai lingkungan anaknya. Terakhir strategi pendidikan anak di fase status dan ruang lingkupnya seperti yang diterangkan Rasulullah SAW: Tujuh tahun pertama (0-7 tahun) anak adalah RAJA kecil, ruang lingkupnya BERMAIN. Tujuh tahun kedua (7-14 tahun) anak adalah PEMBANTU yang harus taat menjalankan perintah, ruang lingkupnya DIDIDIK dan DIBIMBING. Tujuh tahun ketiga (14-21 tahun) anak adalah WAZIR/MENTERI yang bertanggung jawab terhadap tugas-tugasnya, ruang lingkupnya MUSYAWARAH dan BEKERJA SAMA MENJALANKAN TUGAS. Saya suka fakta budaya berhenti kerja bagi ibu hamil di Jepang dan hadiah kelahiran baby box bagi setiap bayi di Finlandia. Bukti bahwa negara, budaya, serta orangtua sadar bayi itu adalah calon pewaris dan aset hebat.

Bab dua "Jangan takut menjadi orangtua!" berisi tentang ketakutan menikah padahal sudah siap secara usia, fisik, dan pemenuhan kebutuhan hidup. Terdapat pula kiat praktis merawat pernikahan. Dan yang paling penting cara-cara yang diberikan untuk menghadapi anak sesuai dengan fase pertumbuhannya: sebagai raja, pembantu, dan wazir. Ada pula metode menjawab pertanyaan  unik anak usia dini: metode analogi dengan contoh analogi Allah dengan angin, yang membuktikan Allah itu ada meski tak bisa dilihat; metode sebab-akibat dengan contoh kue ada yang membuat, sama seperti alam semesta yang diciptakan Allah; metode jawaban global dengan contoh pertanyaan 'adik keluar dari mana?' Jawabnya dari perut mama, tak usah dijelaskan detail karena masih sulit dimengerti oleh anak dan belum saatnya.

Bab tiga "Anak kita adalah bintang" berisi konsep anak adalah bintang dan juara, apa dan bagaimana pun kondisinya. Pada bab ini, ada beberapa contoh kasus yang dipaparkan bahkan dialami penulis sendiri. Juga sebuah puisi yang cukup membuat saya haru berjudul "Matematika" di halaman 62.

Bab empat "Kemampuan anak kita seluas samudra" berisi tentang ragam kemampuan yang secara global terbagi menjadi tiga yakni kemampuan afektif (nilai dan sikap), kemampuan psikomotorik (gerak fisik/skill), dan kemampuan kognitif (berpikir). Kesalahan umum orangtua dan lainnya adalah menyempitkan aspek kemampuan pada kognitif saja dan mempersempitnya lagi dengan angka. Hal ini yang memicu downshifting pada cara berpikir anak hingga tingkat stres.

Bab lima "Anak kita punya harta karun: Multiple intelligences" berisi perkembangan riset yang semakin meninggalkan angka untuk mengukur kemampuan seorang anak. Diawali oleh Alfred Binet yang mengukur kecerdasan dari ranah IQ (verbal dan matematis), lalu Howard Gardner teori Multiple Intelligences (9 kecerdasan: linguistik, matematis, visual spasial, musik, kinestetis, interpersonal, intrapersonal, natural, dan eksistensial), Daniel Goleman dengan Emotinal Quotient,  Paul G. Stoltz dengan Adversity Quotientnya, Ian Marshal dan Danah Zohar dengan Spiritual Quotientnya. Serta beragam profil anak berkebutuhan khusus yang berhasil dengan karyanya.

Bab enam "Orangtua menjadi penyelam Discovering Ability" tentang beragam cara menjelajah kemampuan anak meski sekecil debu.

Bab tujuh "Menemukan bakat anak"  berisi pemahaman bakat dan minat pada anak yang berujung pada profesi yang profesionak, dengan rumah sebagai wadah pertamanya, bukan malah mesin pembunuh bakat. Diberikan pula 29 saran praktis untuk mengembangkan bakat anak pada halaman 143-144.

Bab delapan "Pilih sekolahnya manusia, jangan sekolahnya robot" berisi cara praktis memilih sekolah untuk anak, yang memanusiakan manusia. Tidak sekadar cerdas, tapi juga punya kepedulian pada lingkungan. Lagi-lagi saya tersentil akan sebuah puisi 'sebuah film guru mengajar' di halaman 148. Juga pemahaman pada orangtua agar selaras mendidik dan bersahabat dengan guru. Paradigma keliru masyarakay tentang pendidikan yang dianggap pengeluaran, bukan investasi serta sistem akselerasi yang malah menimbulkan efek negatif bila tak tepat sasaran.

Bab sembilan "Orangtua, guru terbaik bagi anak" berisi ragam gaya belajar anak berdasarkan multiple intelligences, mitos tentang belajar anak, balada PR, dan pemberian les yang kurang tepat. Seharusnya les diberikan bila: materi les berkaitan dengan life skill, bukan bidang studi, misal bahasa asing; materi les berupa pemantapan bakat anak yang sudah tampak, misal anak berbakat main gitar diberi les gitar; materi les berupa keterampilan/ilmu baru yang tidak dapat dipelajari di sekolah; materi les menyenangkan anak sehingga terus mengembangkan bakat dan memantik minatnya. Juga ada saran praktis membantu anak belajar yakni lakukan refresh brain ketika anak pulang sekolah (biarkan ia selama 2 jam melakukan yang ia inginkan, jangan tanya tentang sekolah), biarkan anak belajar dengan gaya belajarnya sendiri, materi belajar dibuat lebih hidup dengan konsep AMBAK (Apa Manfaatnya BAgiKu), lakukan konfirmasi yang menyenangkan untuk mengujinya.

Bab sepuluh "Pendidikan melek media dan pornografi" berisi pentingnya orangtua melek media dan bahaya pornografi yang lebih laten dibanding narkoba. Ditutup dengan saran praktis melindungi anak dari dampak negatif media: pendidikan agama yang lebih dalam, mengetahui terlebih dahulu isi media informasi untuk anak, mendampingi anak dalam menggunakan media informasi, membuat kesepakatan aturan menggunakan media informasi, menggunakan media informasi menjadi sarana belajar dan membuat proyek, dan mengetahui cara membendung serta menghindari situs-situs porno.

Gaya bahasa penulis begitu ringan, mengalir lincah, mudah dipahami meski konsep yang disampaikan cukup berat. Ilustrasi, foto, serta banyak kisah dan kasus yang disajikan pun cukup kaya. Sehingga bagi saya buku ini benar-benar praktis, bisa saya coba terapkan dalam keseharian.

Terlepas dari kekurangannya, saya mengapresiasi isi buku ini 5 dari 5 bintang.

"Anak adalah amanah dari Allah SWT dan kita terpilih menjadi orangtuanya. Tugas kita sebenarnya sederhana, yaitu menerima dengan ikhlas dan mendidiknya dengan berbagai cara. Bak bintang, sampai sinarnya menerangi dunia, atau minimal menjadi pelita untuk sepetak ruang yang gelap di rumah kita." (Hlm. 66)

Meta morfillah

25 December, 2015

Tentang kita

Aku terbangun dari mimpi itu. Mimpi yang pernah terjadi. Jelas sekali kuingat apa yang terjadi. Hadiah yang terbungkus sampul berwarna biru dengan tulisan namamu, ditambah setangkai mawar merah. Kehadiran hadiah itu membuat dadaku bergetar. Sebab kau telah kembali. Kau, sahabatku yang menghilang setahun lalu sebab cinta antara kita yang gagal berujung pada pelaminan. Kau, yang memilih menghilang sementara aku melangkah mundur perlahan. Tapi... itu hanya mimpi. Mimpi yang kuharap benar-benar terjadi.

Tengah malam ini, dingin menyergapku saat terbangun. Ternyata hujan. Setelah kemarau panjang, kota ini kedatangan hujan kembali. Apakah bersama hujan, kau kembali? Berhasilkah kau melupakan dan melepaskanku? Semoga berhasil... meski ada sedikit bagian hatiku yang ingin kau tidak. Aku ingin tetap bertahta di sudut hatimu yang hangat.

"Kau masih suka membaca?"

"Masih... meski sudah tak terlalu sering."

"Masih suka menulis?"

"Masih... meski tak terlalu sering."

"Kau masih mencintaiku?"

Aku bisu.

"Kau tak berubah. Selalu menjaga perasaan dan tidak mengungkapkannya. Aku kangen."

"Kau masih suka membaca tulisanku?"

"Selalu. Satu hal yang tak lepas dari dirimu adalah tulisanmu. Aku selalu menantikan apa yang hendak kauceritakan di duniamu itu," kau tersenyum memandang ke depan. "Kadang, aku sangat berharap ada namaku atau cerita tentangku yang kautuliskan selama setahun ini. Tapi, tampaknya itu hanyalah harapan yang sia-sia. Kau tampak baik-baik saja dalam tulisanmu. Aku iri."

Kalau saja kau jeli. Semua ceritaku bernafaskan namamu. Kau hanya perlu menggalinya lebih dalam. Selalu kau yang menjadi inspirasiku. Ah, percum kuberitahukan padamu. Tak akan mengubah apa yang telah terjadi.

Berapa tahun kita bersahabat? Kusayangkan kepergianmu yang ingin menyembuhkan luka. Meski kita sama-sama terluka, tapi kau tak setangguh diriku yang mampu menebalkan rasa saat kita bertemu. Meski sesungguhnya aku begitu letih dan ingin melepas topeng, memberitahumu bahwa aku pun tak baik-baik saja.

Bahkan percakapan itu terasa begitu kamu. Mengapa kau tiba-tiba hadir dalam mimpiku? Apakah rindu telah merasuk ke alam bawah sadarku? Rindu telah mengendap begitu lama dan ingin menampakkan dirinya kembali melalui mimpi?

Kupaksakan diri untuk tidur kembali. Melupakan apa yang baru kualami. Tentang hujan. Tentang persahabatan. Tentang cinta. Tentang melupakan. Tentang perpisahan.

Meta morfillah

24 December, 2015

[Review buku] Self driving

Judul: Self Driving, menjadi driver atau passenger?
Penulis: Rhenald Kasali
Penerbit: Mizan
Dimensi: xiv + 270 hlm, cetakan kedelapan Mei 2015
ISBN: 978 979 433 851 3

Kembali, membaca karya penulis membuat saya selalu berkaca dan berefleksi tentang hidup. Apakah saya seorang driver ataukah passenger? Di buku ini, pembaca diajak berpikir ulang tentang hidupnya. Menyadari dirinya termasuk bagian dari perubahan yang baik--bahkan seorang yang memelopori perubahan, yang disebut driver--atau hanya sekadar menjalani hidup apa adanya--seperti passenger, yang bahkan terkadang menumpang hidup pada perusahaan, organisasi, dan lainnya.

Menurut buku ini, manusia diberikan "kendaraan" yang disebut "self". Untuk mengembangkan potensinya dan mencapai sesuatu yang tak pernah terbayangkan, maka haruslah memiliki "self driving". Seorang driver harus selalu tanggap, tak boleh sedetik pun mengantuk, apalagi tertidur. Ia harus bertanggung jawab terhadap kehidupannya. Berbeda dengan passenger yang boleh mengantuk, tertidur, terdiam, tak perlu tahu arah jalan, bahkan tak perlu merawat kendaraan sama sekali.

Biasanya penulis selalu membagi isi buku menjadi 10 bab. Namun berbeda di buku ini, penulis membaginya ke dalam 13 bab yaitu: Ini soal mandataris kehidupan, manusia berpikir, mengapa kaum muda memilih universitas?, dua jenis penumpang: bad and good passengers, dua jenis pengemudi: bad and good drivers, self discipline, ambillah risiko, play to win, the power of simplicity, creative thinking, critical thinking, growth mindset, dan epilog.

Pengayaan melalui artikel dan tulisan penulis di beberapa media, gambar, skema, bahkan penjelasan mengenai instruksi sebuah games di bab creative thinking membantu memahami lebih jelas apa yang keliru. Ya, saya menemukan banyak improvement dari gaya bahasa penulis yang lebih ringan, pembagian bab yang lebih ringkas, info yang begitu kaya, bahkan menyediakan contoh tools dan gambar mengenai sebuah games.

Saya mengapresiasi buku ini 5 dari 5 bintang.

"Tahukah Anda, orang-orang yang pergi membawa topeng setiap hari agar selalu terlihat sempurna, sesungguhnya mengalami keletihan yang luar biasa?" (Hlm. 79)

"Banyak orang berpikir dirinya telah menjadi manusia kritis dengan banyak pergi ke sekolah, memiliki banyak gelar, mengikuti berbagai ujian, mendapatkan sertifikasi-sertifikasi teknis, dan terus belajar sampai akhir hayatnya. Namun satu hal yang sering tidak diperhatikan masyarakat kita, yaitu BELAJAR CARA BERPIKIR. Kalau keterampilan ini didapat, harusnya kita bisa menjadi manusia kreatif dan dinamis." (Hlm. 190)

"Orangtua (dan atasan) hendaknya jangan mengambil hak kaum muda dalam menghadapi tantangan, mengalami kesalahan dan penderitaan. Bahkan orangtua harus membiarkan kaum muda menerima dan menghadapi tantangan. Misalnya dengan tetap memberi dukungan, katakanlah 'Ini sulit, tapi menyenangkan bukan?' atau setidaknya katakanlah 'Yang terlalu fampang itu tidak fun!'" (Hlm. 239)

"Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan." (Hlm. 257)

Meta morfillah

22 December, 2015

[Review buku] Rahim

Judul: Rahim
Penulis: Fahd Djibran
Penerbit: Goodfaith Production
Dimensi: ix + 316 hlm, cetakan pertama juni 2010
ISBN: 978 602 96000 2 5

"Asal kau tahu, Rahim adalah nama lain dari Raja Semesta."

Buku yang ditulis penulis saat istrinya sedang mengandung ini mengambil sudut pandang orang kedua. Seakan pembacalah orang yang diajak bicara dan terlibat. Penggunaan kata ganti orang kedua--kamu--adalah ciri khasnya. Meski di awal sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang ketiga, yang tahu segalanya.

Kisah ini diceritakan oleh Dakka Madakka dari Ura. Seorang pengabar berita dari kerajaan alam rahim yang ditugaskan untuk bercerita tentang kehidupan alam rahim. Kita diajak flashback menelusuri perjalanan kehidupan kita saat masih di rahim ibu. Sistematikanya begitu runut: diawali dari cerita beragam orang yang diberikan anak saat tidak menginginkan, dan di bagian lain ada hartawan yang begitu baik dan menginginkan seorang anak sebagai pewarisnya namun tak kunjung dikabulkan Tuhan hingga usianya senja. Lalu perjalanan dari fetus yang berupa gumpalan, permulaan, gerak, lanugo atau lemak cokelat yang melindungi bayi dari kedinginan, jeda, mendengarkan, sirkus yang bercerita tentang mimpi yang terasa lebih nyata di alam rahim ketimbang alam dunia, waktu, ibu, persiapan, kejamnya aborsi yang merenggut kehidupan sang bayi, ayah, peralihan, rekrutmen, kelahiran, rahim semesta dan ditutup epilog.

Gaya tutur penulis seperti sebuah serial fantasi, namun didukung sebuah fakta sains dari dunia kedokteran, perumpamaan Allah dan malaikatnya serta beragam alam yang diyakini umat Islam, ditambah ada beberapa cerita yang diadaptasi dari kisah tentang pembuangan ibu di Jepang dan menebar kebaikan di film Pay It Forward.

Kekurangannya masih terdapat peletakan di- yang tidak tepat, sebagai kata depan dan kata sambung. Juga penulisan huruf kapital setelah tanda titik.

Selebihnya saya suka akan isi ceritanya. Mengajak kita lebih menghargai kehidupan, orangtua kita, dan Allah sebagai Pemilik Jiwa kita. Penulis berbakat menyederhanakan konsep yang sebenarnya cukup berat menjadi kisah yang mudah dicerna dan analogi yang ringan.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

"Kau tak bisa memilih terlahir dari rahim yang mana, dari keluarga yang mana. Kau hanya mengikuti kemana hidup membawamu pergi." (Hlm. 67)

"Andai saat itu kau bisa melihat ibumu. Saat ia tersenyum lebar mengusap-usap perutnya yang membuncit. Sambil mencandaimu dalam gumaman menggemaskan. Bertaruhlah denganku, kau tak mungkin sekalipun berniat melukai perasaannya! Ia perempuan yang cantik, sampai terasa ke hati." (Hlm. 77)

"Jangan buang-buang waktu. Jangan boros terhadap waktu. Kau tahu, bahkan Raja Semesta bersumpah demi waktu. Jangan sampai kau tak menghargainya. Tak menghargai waktu sama saja dengan tak menghargai Raja Semesta." (Hlm. 170)

Meta morfillah

21 December, 2015

Selamat hari ibu

Selamat hari ibu...
Wahai sosok yang selalu menenangkan gundahku
Sosok yang selalu menjadi alasan terbesarku melakukan kebajikan dan mencapai cita
Figur yang mengajarkanku makna kehidupan dan aneka warna rasanya

Selamat hari ibu...
Dari lidahku yang kelu.

Meta morfillah

20 December, 2015

[Cerita lirik] Desember

Selalu ada yang bernyanyi dan berelegi
Di balik awan hitam

Desember kerap datang bersama awan hitam yang terlampau berat mengandung air. Bagai rindu yang ingin melimpah ruah namun tertahan selama sebelas bulan sebelumnya. Penghujung tahun, awan-awan cumulonimbus pun bersepakat melepaskan bebannya. Simfoni hujan menari hampir tiap hari. Tak jarang, banjir menampakkan dirinya, baik di kota besar atau desa. Para penyair dan penulis pun kerap mengalami banjir inspirasi. Maklum saja, hujan seringkali membangkitkan genangan dan kenangan. Banyak yang bernyanyi dan melukiskan eleginya dalam beragam cara. Begitu pekatnya luka dan duka di bulan desember. Mungkin hujan berniat membasuhnya. Mungkin.

Semoga ada yang menerangi sisi gelap ini,
Menanti..
Seperti pelangi setia menunggu hujan reda

Seberapa pun tabahnya sang hujan, tetap saja banyak yang merindukan terang. Berharap sisi gelap pun mendapat cahaya hingga mampu menguapkan segala kekurangan. Maka penantian adalah sebuah upaya. Upaya setia menanti akan sebuah janji yang lebih baik, seperti pelangi begitu setia menanti hujan selesai menari dan memberikan penutup yang indah dengan ketujuh spektrum warnanya.

Aku selalu suka sehabis hujan di bulan desember...
Di bulan desember...

Itulah ending yang selalu kusuka. Sehabis hujan. Meski kadang kota yang kudiami seakan berantakan dan harus berbenah ulang. Desember seakan selalu ingin membasuh semua luka dan duka yang tertahan, dengan menambah porsi awan hitam. Memaksa orang untuk membuang apa yang tidak diperlukan lagi, ketimbang menyimpan sampah-sampah perasaan, masa lalu yang tak usai dan tak kunjung bertemu jawab. Atau bila mereka tetap berkeras kepala, maka siaplah menampung semua itu dan membusuk bersamanya.

Sampai nanti ketika hujan tak lagi
Meneteskan duka
Meretas luka
Sampai hujan memulihkan luka

Lalu saat hujan tak lagi meneteskan duka, meretas luka, dan berhasil memulihkan luka, kita semua bersiap menghadapi sebuah tahun, waktu, kisah yang baru. Menanam beragam resolusi, pengharapan akan kehidupan yang lenih menjanjikan di bulan Januari. Meski sesekali, hujan menyambangi sehari-hari, kita sudah siap. Kita sudah selesai dengan luka dan elegi kita masing-masing.

*cerita lirik lagu Desember - Efek Rumah Kaca

Meta morfillah

17 December, 2015

Naskah muhammad

Naskah muhammad

“Aku bisa berdoa kepada Allah untuk menyembuhkan butamu dan mengembalikan penglihatanmu. Tapi jika kamu bisa bersabar dalam kebutaan itu, kamu akan masuk surga. Kamu pilih yang mana?”

Itu dialog Nabi Muhammad SAW dengan seorang wanita buta yang datang mengadukan kebutaannya kepada beliau, dan meminta didoakan agar Allah mengembalikan penglihatannya. Dialog yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Ibnu Abbas itu berujung dengan pilihan yang begitu mengharukan: "Saya akan bersabar, dan berdoalah agar Allah tidak mengembalikan penglihatanku."

Beliau juga bisa menyembuhkan seperti Nabi Isa, tapi beliau menawarkan pilihan lain: bersabar. Sebab kesabaran adalah karakter inti yang memungkinkan kita survive dan bertahan melalui seluruh rintangan kehidupan. Kesabaran adalah karakter orang kuat. Sebaliknya, tidak ada jaminan bahwa dengan bisa melihat, wanita itu akan bisa melakukan lebih banyak amal saleh yang bisa mengantarnya ke surga. Tapi di sini, kesabaran itu adalah jalan pintas ke surga. Selain itu, penglihatan adalah fasilitas yang kelak harus dipertanggungjawabkan di depan Allah, karena fasilitas berbanding lurus dengan beban dan pertanggungjawaban. Ada manusia, kata Ibnu Taimiyah, lebih bisa lulus dalam ujian kesulitan yang alatnya adalah sabar ketimbang ujian kebaikan yang alatnya adalah syukur.

Nabi Muhammad juga berperang seperti Nabi Musa. Bahkan Malaikat Jibril pun pernah meminta beliau menyetujui untuk menghancurkan Thaif. Tapi beliau menolaknya. Sembari mengucurkan darah dari kakinya beliau malah balik berdoa: "Saya berharap semoga Allah melahirkan dari tulang sulbi mereka anak-anak yang akan menyembah Allah."

Muhammad bisa menyembuhkan seperti Isa. Juga bisa membelah laut seperti Musa. Bahkan bulan pun bisa dibelahnya. Muhammad punya dua jenis kekuatan itu: soft power dan hard power. Muhammad mempunyai semua mukjizat yang pernah diberikan kepada seluruh Nabi dan Rasul sebelumnya. Tapi beliau selalu menghindari penggunaannya sebagai alat untuk meyakinkan orang kepada agama yang dibawanya. Beliau memilih kata. Beliau memilih narasi. Karena itu mukjizatnya adalah kata: Al-Qur'an. Karena itu sabdanya pun di atas semua kata yang mungkin diciptakan semua manusia.

Itu karena narasi bisa menembus tembok penglihatan manusia menuju pusat eksistensi dan jantung kehidupannya: akal dan hatinya. Jauh lebih dalam daripada apa yang mungkin dirasakan manusia yang kaget terbelalak seketika menyaksikan laut terbelah, atau saat menyaksikan orang buta melihat kembali.**

anis matta

Surga di bawah telapak kaki ibu

"Ilzamha fainnal jannata tahta akdamiha"

Berbuat baiklah terus pada sang ibu, sebab surga berada di bawah telapak kakinya. (H. R. Ahmad)

Itu adalah salah satu petikan hadis yang harus aku hafalkan. Apa yang hebat dari sang ibu, hingga surga berada di bawah telapak kakinya? Mungkin karena mama adalah surga sebelum surga. Tempat di mana keinginanmu biasanya dikabulkan tanpa dipinta.

=====

"Ma, meta ada bahan untuk buat seragam saat bagi rapor. Jahitnya ke mana?"

"Kapan bagi rapornya?"

"Tanggal 18."

"Duh, seminggu doang? Ya sudah, jemput mama di jakarta nanti malam. Balik ke bogor buat jahit baju kamu."

Aku hanya meminta pendapat dan saran untuk dijahit ke siapa, namun mama malah ingin menjahitkan sendiri. Urusan mama di jakarta yang seharusnya tiga hari lagi, ditinggalkan begitu saja. Sejak hari itu, mama sibuk dengan jarum dan alat jahitnya setiap saat. Tanpa memakai mesin sama sekali. Membuat pola menjiplak baju yang sudah jadi. Tanpa mengukur. Jahitan tangan. Jelujur demi jelujur. Hingga H-2, tepatnya tadi pagi, aku sudah pasrah bila bajunya tak rampung. Sebab mau dibawa ke tukang jahit yang direkomendasikan teman, sudah full. Mau memaksa mama, tak mungkin. Melihat beliau begitu sepenuh hati menjahit baju itu.

Tiba-tiba saat pulang mengajar tadi, di kamar sudah ada baju tergantung. Itulah hasilnya.

Melihatnya aku tertegun. Haru. Bangga. Terasa begitu penuh cinta. Secara jahitan, masih ada yang perlu diperbaiki. Tapi... bagiku, di antara bajuku yang terbaik, termahal, dan ter- lainnya, ini adalah baju yang paling berkesan. Aku tahu prosesnya. Aku merasakan tiap cinta yang mengalir di setiap benang jahitannya. Memakainya membuatku merasa begitu berharga.

Momen hari ibu mendatang, bukan aku yang memberi hadiah dan kejutan pada mama. Tapi mama telah lebih dulu memberikanku kejutan. Mama... aku begitu bangga memilikimu. Takjub, apa sih yang tidak bisa mama lakukan? Di tengah keterbatasan mama, dengan jari tangan mama yang bengkok karena remathoid athritis, tetap saja mama tampak begitu normal dan melebihi kekuatan orang umumnya. Memasak, masakan mama paling enak. Menjahit, bisa. Bekerja, terbukti hingga masa pengabdian sekian puluh tahun. Bila aku ingin mengeluh, maka aku langsung malu saat melihat dirimu. Tidak ada alasan... tidak ada sama sekali alasan untuk menyerah.

Aku ingin dunia tahu, bahwa mama adalah mama terhebat di dunia!

Meta morfillah

15 December, 2015

Lukisan alam

Gunung begitu tegak jumawa setiap pagi. Awan menyelimuti puncaknya. Lazuardi senantiasa cerah. Mentari pun tak mau kalah semangat, namun tak menyengat. Pepohonan rimbun menyemarakkan kehijauan. Barisan pohon jati muda seperti pasukan berbaris tertib. Ruang kelas yang berbentuk rumah panggung dua tingkat berjejer rapi mewakili per tingkatan. Seperti inilah pemandangan yang kulihat dan alami setiap hari kerja.

Pagi tak pernah ingkar dengan janji hari baru yang cerah. Pun siang selalu menepati janji untuk mencurahkan air dari langit. Hampir sebulan siklus itu berulang mengiringi hariku. Tetap. Tepat.

Aku paling suka saat hujan datang. Gerakan ritmisnya menyenandungkan bait rindu. Selain genangan, kerap kali hujan membawa kenangan. Ditambah suasana yang kudeskripsikan di atas, tak bosan rasanya ingin kuabadikan dalam foto dan tulisan. Sayangnya, selalu dan selalu ada kekuatan magis yang membuatku terpaku. Meski sudah siap mengalirkan kata di ponsel, dan siap menjepret, aku lebih memilih menikmati suasana itu dalam hening. Tanpa melakukan apa-apa. Melebur dalam orkestra alam. Persis seperti cinta yang sadar akan hakikat, bahwa tidak harus dimiliki, kadang kita hanya perlu turut berbahagia tanpa memilikinya.

Lalu perlahan, timbullah rasa syukur pada sang pelukis alam raya. Syukur akan keindahan alam, kedamaian negeri ini, kesehatan, waktu, kesempurnaan fisik, dan beragam pelajaran yang disampaikan melalui lukisan alamnya. Allah... allah... allah...

Maka nikmat Allah yang mana lagi hendak kudustakan?

Meta morfillah

13 December, 2015

[Mentoring] Silahturrahim kepada orangtua dan saudara yang musyrik

SILAHTURRAHIM KEPADA ORANGTUA DAN SAUDARA YANG MUSYRIK (HADITS)

Minggu, 13 Des 2015
Mila

Dalam bermuamalah, tidak ada bedanya dengan saudara muslim. Namun dalam hal akidah, ada beberapa yang harus diperhatikan:
1. Saat menginap (khususnya akhwat), jagalah aurat. Sebab aurat muslimah haram terlihat bagi wanita non muslim.
2. Jangan jadikan mereka sahabat, wali, dan ahli waris.
3. Hati-hati dalam mengikuti tradisi kaumnya, seperti pernikahan, kematian, dan perayaan hari besar mereka.

Bila diundang acara natal atau paskah, sebaiknya tak usah dihadiri. Alangkah lebih baik, bila memberikan pengertian sebelumnya bahwa Anda tidak dapat ikut merayakan sebab Islam melarang kaumnya mengikuti tradisi suatu kaum agama lain. Meski saat lebaran, dia mengirimkan kue lebaran. Jangan kita ikutan mengirimkan kue natal saat mereka natalan.

Saat diundang pernikahan mereka di gereja, sebaiknya jangan datang. Kalau pun mau datang, nanti saat resepsinya saja, bila tempatnya sudah pindah ke gedung biasa, tidak di gereja.

Hati-hati juga saat makan. Alangkah lebih baik untuk meminta pengertian mereka agar makanan halal untuk kita dipisah, atau kalau agak merepotkan, lebih baik tak usah makan.

*catatan sepemahaman penulis

Meta morfillah

[Cerita lirik] Sahabat jadi cinta

Bulan terdampar di pelataran
Hati yang temaram
Matamu juga mata mataku
Ada hasrat yang mungkin terlarang

"Ketika perasaan itu seterang purnama, apa yang harus kulakukan, Met?"

"Ungkapin. Ajak nikah."

"Ya enggak bisa, lah! Aku malu, Met. Aku kan wanita. Masak aku yang menyatakan."

"Ya sudah, pendam terus sampai akhir. Single sampai halal, yes..."

"Iih... kamu serius enggak, sih, dengerin curhatanku?"

Aku menghela nafas panjang. Entahlah, mengapa kerap kali aku dihadapkan pada curhatan serupa ini. Kadang aku geli sendiri, mendapati diriku bak konselor cinta tersohor, pakar, dan motivator, padahal diri sendiri belum sukses percintaannya. Lucu, bukan? Tetapi tetap saja temanku meminta saran pada orang yang gagal ini.

Satu kata yang sulit terucap
Hingga batinku tersiksa
Tuhan tolong aku jelaskanlah
Perasaanku berubah jadi cinta

"Aku jadi gak tenang, Met. Kepikiran dia terus. Mana ketemu tiap hari di kantor. Rasanya pedih, Met! Hubungan dekat, tapi perasaan tak terucap. Kamu paham, gak, sih, rasanya?"

"Paham, gak, yaaaa....."

Dia manyun. Aku tersenyum simpul. Perkara perasaan ini meski sederhana masalahnya, tetap saja sulit mencari solusinya. Sebenarnya, diri kita sendirilah yang paling tahu apa yang harus dilakukan. Tapi, aku sadar bahwa wanita seringkali curhat panjang lebar bukan untuk mendapat solusi, melainkan hanya ingin ditemani, didengarkan uneg-unegnya. Jadi, kubiarkan saja dia membanjirkan perasaannya sampai puas.

"Siksaan batin, Met! Saat orang yang paling kamu suka di dekatmu, tapi enggak bisa kamu miliki. Cuma bisa dipandangi, kayak baju yang kamu taksir di etalase, tapi kamu enggak mampu beli."

Tak bisa hatiku menafikkan cinta
Karena cinta tersirat bukan tersurat
Meski bibirku terus berkata tidak
Mataku terus pancarkan sinarnya

"Memang mulai kapan kamu sadar kamu suka dia?"

Dia mengubah sikapnya lebih serius. Menatapku dalam. Seakan inilah pertanyaan yang ia tunggu dariku sejak tadi.

"Pastinya enggak tahu kapan, Met. Tapi sekarang ini, kalau teman-teman di kantor cie-ciein aku sama dia, aku jadi senang gitu. Terus suka bayangin bagaimana kalau aku menikah sama dia. Tapi ke teman-teman, aku dan dia selalu bilang enggak ada hubungan apa-apa, sih. Tapi aku merasa dia juga ada feeling ke aku. Matanya menegaskan itu, Met!"

"Diih... yakin banget. Berani mandang-mandang pula. Wah... wah... hati-hati, jangan-jangan sebenarnya kamu kali yang baper, dianya, mah, enggak! Hahahaha... Aaauuuww!"

Dia mencubit lenganku gemas. Sakit!

Kudapati diri makin tersesat
Saat kita bersama
Desah nafas yang tak bisa rusak
Persahabatan jadi cinta

"Aku yakin, Met. Sikap dia juga berubah ke aku. Makin baik, makin sering cari-cari alasan untuk bisa dekati aku. Nanya-nanya kerjaan, lah. Ajak makan siang bareng, lah. Bahkan suka minta disatukan jadi tim ke bos aku."

"Wah, kalau sudah seyakin itu, mah, ya sudah atuh diajak nikah. Kali saja, dia pemalu. Kamu yang harus mulai."

"Tapi... enggak enak, Met. Selama ini aku dan dia itu cuma bersahabat. Rasanya, bagaimana gitu kalau persahabatan jadi cinta. It's so weird. Terus nanti kalau tidak jodoh, kami jadi enggak enakan. Padahal dia sahabat lelaki yang paling asyik dan bisa kuandalkan."

Apa yang kita kini tengah rasakan
Mengapa tak kita coba persatukan
Mungkin cobaan untuk persahabatan
Atau mungkin sebuah takdir Tuhan

"Semua opsi kukasih, kamu tolak. Yaa... terus maumu apa, atuh?"

"..."

Aku membiarkan dia memikirkan jawabannya sendiri. Sebenarnya, aku pun ikut berpikir. Meladeni orang curhat seringkali bagai dihadapkan pada cermin besar. Sebenarnya, mauku apa? Batinku seperti berbisik. Aaah...

"Met..."

"Yaa?"

"Apa benar perkataanmu, bahwa tidak ada persahabatan kekal antara lelaki dan wanita yang tidak lepas dari perasaan cinta?"

Aku terbahak. Dia masih mengingat ucapanku beberapa tahun lalu ternyata.

"Menurutmu sendiri bagaimana? Ada tidak? Jaga interaksi lelaki dan wanita itu tidak mudah bagiku, sih."

Dia memandangku agak lama. Lalu mengembuskan nafas panjang. Seakan bebannya sudah terangkat.

"Baiklah...sepertinya aku akan mengikuti saranmu."

"Saran yang mana?"

"Aku akan perbaiki interaksiku dengan lawan jenis. Untuk keadaan ini, aku tak ingin persahabatan kami berubah. Jadi, aku akan memilih berjalan mundur. Mundur dari perasaanku. Toh, kalau jodoh enggak akan tertukar, kan?"

"Wah, enggak tahu. Aku belum mengalami pertukaran jodoh, sih!"

"Hahaha... dasar Meta! Susah diajak seriusnya. Makanya belum ada yang seriusin, weeek..."

Lah... jadi aku yang kena, kan!

"Jadi, fix nih yaa.. kutinggalkan dia karena DIA. Kayak judul buku yang kamu mau beli itu. Hahaha..."

"Hahaha... iya ya, Met!"

*cerita lirik lagu Sahabat jadi cinta - Zigas

Meta morfillah

[Review buku] 99 kisah orang shalih

Judul: 99 kisah orang shalih
Penulis: Muhammad bin Hamid Abdul Wahab
Penerjemah: Munawwarah Hannan
Penerbit: Darul Haq
Dimensi: x + 161 hlm, cetakan viii juli 2012

Buku ini berisi tentang kisah-kisah teladan dan figur bagi umat islam yang benar-benar pernah hidup dan bukan tokoh fiktif. Usia mereka beragam, ada yang sejak usia 3 tahun, balita, remaja, dewasa, hingga tua renta. Masing-masing memiliki keistimewaan ibadah, sikap, dan cara berkomunikasi yang khas dengan Allah dan manusia. Beberapa di antaranya, ada yang namanya cukup familiar dan kisahnya sudah sering kita dengar.

Dari segi bahasa, buku ini merupakan terjemahan penulis asal Riyadh, yang memang bersumber pada hadist sahih. Sehingga agak kaku dan kadang sulit saya pahami maksudnya, sebab ada beberapa ungkapan atau kalimat yang tidak dijelaskan oleh penerjemah dan penerbit. Itu menyebabkan saya semakin bingung setelah membacanya. Persis buku text kuliah yang begitu kaku. Sehingga agak sulit bila saya ingin mengisahkan ulang kepada kawan atau anak-anak. Tidak ada pula penjelasan mengenai tokoh ini mengajak kita mengambil hikmah tentang sikap ini, atau pembelajaran dari kisahnya. Sehingha terasa menggantung. Terlalu bebas pembaca menginterpretasikan kisah tersebut.

Porsi tiap tokoh pun berbeda, ada yang begitu detil, panjang lebar hingga beberapa halaman, ada yang hanya dua paragraf.

Untuk sistematika kisah pun, terkadang ada nama yang diulang di beberapa kisah. Alangkah baiknya bila diurutkan berdasarkan sebuah benang merah. Keterkaitan nama, urutan waktu, urutan usia, atau urutan kekhalifahan. Tidak acak seperti yang tertera di buku ini.

Kisah yang paling saya suka adalah kisah 43 berjudul ibadah 500 tahun sekali pun tidak sebanding dengan satu nikmat Allah. Dan kisah 61 berjudul Ibnu Jarir Ath Thabari, salah seorang yang disiplin menjaga waktu sebab ia menulis kurang lebih 14 lembar di tiap harinya, sejak baligh hingga wafat di usia 86 tahun, karyanya sebanyak 300.058 lembar.

Saya apresiasi 3 dari 5 bintang.

"Siapakah yang lebih berhak menangis selain aku? Sedangkan aku ini tahu bahwa perjalananku masih sangat jauh, sementara bekal yang aku bawa sangat sedikit? Dan sementara aku berjalan melewati jalan menanjak yang terjal dan tebing menurun yang curam, apakah perjalananku ini menuju surga atau neraka? Sama sekali aku tidak tahu ke manakah di antara keduanya aku berakhir kelak." (Hlm. 33)

Meta morfillah

12 December, 2015

[Review buku] Myelin

Judul: Myelin
Penulis: Rhenald Kasali
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Dimensi: xiii + 346 hlm, cetakan pertama maret 2010
ISBN: 978 979 22 5527 0

Myelin atau muscle memory yang dibahas dalam buku ini, memaparkan pada pembaca bahwa manusia tidak cukup berinvestasi pada otaknya saja, tetapi juga pada ototnya (muscle) agar ia berorientasi pada tindakan, membentuk budaya disiplin, membangun intrapreneuring, tata nilai serta kinerja. Muscle memory itu dapat dibangun di dunia kesenian, olahraga, akademis, dan tentu saja di dunia usaha. Ada banyak contoh kisah sukses personal dan perusahaan yang dipaparkan dalam buku ini, pun banyak bidang yang diceritakan. Namun fokus utama yang banyak dibahas adalah dua perusahaan: WIKA dan Blue bird.

Dua perbandingan perusahaan itu dipilih sebab ranah yang berbeda, satu BUMN yang bergerak di bidang B2B (Business to Business) yang jarang dimengerti oleh orang awam, dan satu lagi di bidang jasa dengan B2C (Business to Consumer) yang dekat dengan keseharian kita. Mereka nelatih myelin SDM mereka hingga lahirlah sebuah intangible assets: WIKA dengan kedisiplinan dan keterampilan di berbagai bidang, serta Blue bird dengan kejujurannya.

Semua itu adalah proses yang membutuhkan kesabaran. Tidak sedikit waktu yang mereka perlukan untuk melatih myelin menjadi sebuah intangibles assets yang meresap ke dalam SDMnya. Ada budaya disiplin dari segi waktu, proses, kualitas, hubungan dan hasil. Juga entrepreneurship dan intrapreneuring yang diejawantahkan melalui action oriented, sehingga tidak hanya menjadi wacana. Inovasi yang tiada henti, dengan membuat sebuah knowledge management yang mudah diakses, tentunya dengan membangun budaya menulis dan sharing agar pengetahuan itu tidak hanya menjadi tacit knowledge, melainkan dieksplisit sehingga orang lain bisa mengaksesnya. Lalu hasil yang menimbulkan value creation dengan meningkatkan benefit atay memperbaiki struktur biaya. Dan setelah semua berhasil maka disiplin ekspansi menjadi target selanjutnya. Tanpa sadar, semua itu akan memobilisasi intangibles assets menjadi sebuah budaya hidup.

Sehingga perusahaan tidak lagi menjadi sekadar rumah uang dengan karakter dua pemimpin: tipe broker dan rentenir; dan karakter dua karyawan: tipe lintah dan kerbau. Melainkan menjadi rumah kebudayaan yang merupakan ekspresi pemikiran dan tindakan penghuninya.

Secara garis besar, apa yang diutarakan dalam buku ini membuat saya merecall memory materi perkuliahan saya. Tentang organisasi belajar, knowledge management, juga pengalaman saat saya bekerja di perusahaan consulting, yakni nilai-nilai budaya 5S/5R, kaizen, toyota ways, good to great, dan lainnya. Hanya saja buku ini lebih ke contoh aplikatif atau praktisnya dari semua teori yang saya pelajari waktu kuliah dulu.

Di beberapa part, saya masih kebingungan dengan konsep myelin. Sebab yang lebih banyak saya temukan adalah pembahasan tentang intangibles assets dan pengayaan berupa cerita tentang dua perusahaan, bahkan lebih banyak porsi WIKA menurut saya. Sehingga terasa agak membosankan dan diulang-ulang. Pembahasan tentang myelin malah sedikit, sehingga kurang cocok dengan judul bukunya menurut saya. Mungkin lebih cocok judulnya Intangible Assets. Tapi tetap saja, bagi saya buku ini menarik. Gaya bahasa penulis meski kadang agak tinggi, masih bisa dicerna dengan baik. Beragam foto, diagram, dan artikel-artikel terkait cukup menunjang apa yang ingin penulis sampaikan.

Persis ciri khas penulis dalam buku-buku sebelumnya. Selalu terdiri dari tiga unsur utama. Bab pertama sebagai pembahasan konsep secara umum, bab kedua penjabaran konsep melalui beragam kasus, contoh, dan pendetilan. Ditutup dengan refleksi di bab tiga.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

"Pekerjaan, bahkan hidup kita ini, harus dibuat menyenangkan. Kalau tidak, bagaimana kita bisa bikin orang lain senang?" (Hlm. 11)

"Seseorang bisa saja merampas bagian harta nirwujud Anda, tetapi mereka tidak bisa meraihnya dalam tempo sekejap semata-mata dengan membajak. Keterampilan (skills) bisa mereka rebut, tetapi team work, leadership, kepercayaan, dan brand image mungkin tidak bisa." (Hlm. 94)

"Keberuntungan adalah pertemuan antara kesempatan dengan kesiapan. Jadi ia hanya akan datang untuk orang-orang yang siap." (Hlm. 168)

"Yang penting bukan soal jam kerjanya, tapi tanggung jawabnya atas apa yang telah menjadi pekerjaannya." (Hlm. 179)

"Fakta yang ditemui pada berbagai perusahaan menunjukkan bahwa tradisi mencatat, menulis, dan berbagi pengetahuan dapat menimbulkan impact sosial yang sangat besar. Perusahaan akan menjadi lebih kompetitif dan memakai resources yang lebih hemat sehingga turut melestarikan lingkungan." (Hlm. 219)

"Salah satu faktor yang akan menunjang keberhasilan perusahaan untuk bertumbuh adalah spesialisasi." (Hlm. 296)

Meta morfillah

06 December, 2015

[Cerita lirik] The way you look at me

No one ever saw me like you do
All the things that I could add up too
I never knew just what a smile was worth
But your eyes see everything
Without a single word

Tak ada yang pernah melihatku seperti yang kau lakukan. Caramu melihatku yang kadang membuatku jengah dan gerah. Tersanjung oleh pujian yang nyata dari matamu. Aku tak pernah tahu bahwa senyum itu bernilai. Seperti senyummu sekarang saat melihatku. Aku selalu merasa bagai hadiah spesial yang dinantikan seorang anak kecil di hari ulang tahunnya. Anak kecil itu adalah dirimu. Begitulah yang kutangkap dari matamu. Seakan melihat segalanya, tanpa satu kata pun.

Cause there’s something in the way you look at me
It’s as if my heart knows
You’re the missing piece
You make me believe that there’s nothin’
in this world I can’t be
I never know what you see but there’s
somethin’ in the way you look at me

Sebab ada sesuatu dari caramu melihatku. Seolah-olah hatiku tahu, bahwa kamu adalah bagian yang hilang. Bagian yang kucari selama ini, untuk menggenapiku. Kau membuatku percaya bahwa tidak ada di dunia ini yang aku tak bisa. Rahasia terbesar yang selalu ingin kuketahui adalah apa yang sesungguhnya kaulihat dari diriku yang biasa ini? Aku tak pernah berhasil tahu apa yang kaulihat, tetapi ada sesuatu dari caramu melihatku.

If I could freeze a moment in my mind
It’ll be the second that you
Touch your lips to mine
I’d like to stop the clock
Make time stands still
Cause baby this is just the way
I always wanna feel

I don’t know how or why
I feel different in your eyes
All I know is it happens every time

Aku tidak tahu bagaimana dan mengapa, tapi jelas aku merasa berbeda di matamu. Dan itu terjadi setiap hari. Hebat sekali! Kamu berhasil membuatku ingin menghentikan waktu, agar kita bisa saling terus menatap dalam dan lamat hingga menembus pikiran dan perasaan masing-masing. Ajari aku, bagaimana caramu melihatku hingga membuatku merasa orang paling istimewa, beruntung, dan bahagia di dunia!

*Lirik lagu "The way you look at me" dipopulerkan oleh Christian Bautista.

Meta morfillah

04 December, 2015

[Cerita lirik] Like I'm gonna lose you

I found myself dreaming in silver and gold
Like a scene from a movie that every broken heart knows
We were walking on moonlight, you pulled me close
Split second and you disappeared and then I was all alone
Woke up in tears with you by my side
Breath of a leave and I realized,
No one will promise tomorrow

Mimpi buruk itu lagi!

Ini kali ketiga aku terbangun dalam tangisan, dengan kau ada di sisiku. Ketakutan terbesarku adalah terbangun tanpa kau di sisiku. Untunglah, kau tampak nyenyak dalam mimpimu. Aku tak ingin kautahu apa yang kuimpikan barusan.

Kelebatan mimpi buruk itu masih terasa nyata bagiku. Aku bermimpi diriku dalam sebuah ruangan emas dan perak. Layaknya sebuah adegan film sad ending, di mana penontonnya sudah tahu bagaimana akhirnya. Kita berjalan di bawah sinar rembulan, dan kau menarikku mendekat. Sekejap saja dan kau menghilang. Lalu aku sendirian. Emas dan perak itu tiada lagi berharga saat aku kehilanganmu. Aku timpang!

Kuembuskan nafas perlahan untuk mengusir kelebatan itu. Sebuah kesadaran menyambangiku, bahwa tak satu pun yang menjanjikan di hari esok. Meskipun janji kita saling mencintai selamanya. Selalu ada untuk masing-masing. Tapi nyatanya, bagi yang sudah menikah pun harus bersiap bercerai. Terpisah oleh maut yang begitu pasti datangnya.

So, I'm gonna love you like I'm gonna lose you,
I'm gonna hold you like I'm saying goodbye
Forever will stay in, I won't take you for granted
'Cause we'll never know it when we'll run out of time

Aku teringat sebuah pesan bijak, bahwa cinta haruslah seimbang. Mencintai dengan kesadaran suatu hari harus melepaskan. Meskipun begitu sulit melepaskan sesuatu yang sudah kaugenggam. Jadi, aku akan mencintaimu seolah aku akan kehilanganmu. Aku akan mendekapmu seolah aku berkata selamat tinggal. Selamanya akan tetap begitu. Aku tak akan pernah bisa mengabaikanmu begitu saja. Sebab kita tak akan pernah tahu kapan kita kehabisan waktu. Aku akan bersiap, Sayang...

In a blink of an eye,
Just a whisper of smoke
You could lose everything
The truth is you're never alone
So, I'll kiss you longer baby
Any chance that I get
I'll make the most of the minutes
So long with no regret
Let's take our time to say what we want
Here's what we've got
Before it's all gone
'Cause no one will promise tomorrow

Dalam sekejap mata. Hanya sebuah bisikan bagai asap, kau bisa kehilangan segalanya. Jadi, aku akan menciummu lebih lama, Sayang. Setiap kesempatan yang aku dapatkan, aku akan memperbanyak waktuku. Begitu lama tanpa ada penyesalan.

Mari ambil waktu kita untuk membicarakan apa yang kita inginkan. Waktu adalah hal paling berharga yang dapat diberikan seseorang, sebab dengan memberikan waktunya, ia telah memberikan bagian hidupnya yang tak dapat kembali lagi. Di sinilah apa yang sudah kita dapatkan. Sebelum itu semua pergi. Sebab tak satu pun yang menjanjikan di hari esok.

*cerita lirik "Like I'm gonna lose you" - MEGHAN TRAINOR FEAT JOHN LEGEND

Meta morfillah

Text Widget

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik