Pages

12 December, 2015

[Review buku] Myelin

Judul: Myelin
Penulis: Rhenald Kasali
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Dimensi: xiii + 346 hlm, cetakan pertama maret 2010
ISBN: 978 979 22 5527 0

Myelin atau muscle memory yang dibahas dalam buku ini, memaparkan pada pembaca bahwa manusia tidak cukup berinvestasi pada otaknya saja, tetapi juga pada ototnya (muscle) agar ia berorientasi pada tindakan, membentuk budaya disiplin, membangun intrapreneuring, tata nilai serta kinerja. Muscle memory itu dapat dibangun di dunia kesenian, olahraga, akademis, dan tentu saja di dunia usaha. Ada banyak contoh kisah sukses personal dan perusahaan yang dipaparkan dalam buku ini, pun banyak bidang yang diceritakan. Namun fokus utama yang banyak dibahas adalah dua perusahaan: WIKA dan Blue bird.

Dua perbandingan perusahaan itu dipilih sebab ranah yang berbeda, satu BUMN yang bergerak di bidang B2B (Business to Business) yang jarang dimengerti oleh orang awam, dan satu lagi di bidang jasa dengan B2C (Business to Consumer) yang dekat dengan keseharian kita. Mereka nelatih myelin SDM mereka hingga lahirlah sebuah intangible assets: WIKA dengan kedisiplinan dan keterampilan di berbagai bidang, serta Blue bird dengan kejujurannya.

Semua itu adalah proses yang membutuhkan kesabaran. Tidak sedikit waktu yang mereka perlukan untuk melatih myelin menjadi sebuah intangibles assets yang meresap ke dalam SDMnya. Ada budaya disiplin dari segi waktu, proses, kualitas, hubungan dan hasil. Juga entrepreneurship dan intrapreneuring yang diejawantahkan melalui action oriented, sehingga tidak hanya menjadi wacana. Inovasi yang tiada henti, dengan membuat sebuah knowledge management yang mudah diakses, tentunya dengan membangun budaya menulis dan sharing agar pengetahuan itu tidak hanya menjadi tacit knowledge, melainkan dieksplisit sehingga orang lain bisa mengaksesnya. Lalu hasil yang menimbulkan value creation dengan meningkatkan benefit atay memperbaiki struktur biaya. Dan setelah semua berhasil maka disiplin ekspansi menjadi target selanjutnya. Tanpa sadar, semua itu akan memobilisasi intangibles assets menjadi sebuah budaya hidup.

Sehingga perusahaan tidak lagi menjadi sekadar rumah uang dengan karakter dua pemimpin: tipe broker dan rentenir; dan karakter dua karyawan: tipe lintah dan kerbau. Melainkan menjadi rumah kebudayaan yang merupakan ekspresi pemikiran dan tindakan penghuninya.

Secara garis besar, apa yang diutarakan dalam buku ini membuat saya merecall memory materi perkuliahan saya. Tentang organisasi belajar, knowledge management, juga pengalaman saat saya bekerja di perusahaan consulting, yakni nilai-nilai budaya 5S/5R, kaizen, toyota ways, good to great, dan lainnya. Hanya saja buku ini lebih ke contoh aplikatif atau praktisnya dari semua teori yang saya pelajari waktu kuliah dulu.

Di beberapa part, saya masih kebingungan dengan konsep myelin. Sebab yang lebih banyak saya temukan adalah pembahasan tentang intangibles assets dan pengayaan berupa cerita tentang dua perusahaan, bahkan lebih banyak porsi WIKA menurut saya. Sehingga terasa agak membosankan dan diulang-ulang. Pembahasan tentang myelin malah sedikit, sehingga kurang cocok dengan judul bukunya menurut saya. Mungkin lebih cocok judulnya Intangible Assets. Tapi tetap saja, bagi saya buku ini menarik. Gaya bahasa penulis meski kadang agak tinggi, masih bisa dicerna dengan baik. Beragam foto, diagram, dan artikel-artikel terkait cukup menunjang apa yang ingin penulis sampaikan.

Persis ciri khas penulis dalam buku-buku sebelumnya. Selalu terdiri dari tiga unsur utama. Bab pertama sebagai pembahasan konsep secara umum, bab kedua penjabaran konsep melalui beragam kasus, contoh, dan pendetilan. Ditutup dengan refleksi di bab tiga.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

"Pekerjaan, bahkan hidup kita ini, harus dibuat menyenangkan. Kalau tidak, bagaimana kita bisa bikin orang lain senang?" (Hlm. 11)

"Seseorang bisa saja merampas bagian harta nirwujud Anda, tetapi mereka tidak bisa meraihnya dalam tempo sekejap semata-mata dengan membajak. Keterampilan (skills) bisa mereka rebut, tetapi team work, leadership, kepercayaan, dan brand image mungkin tidak bisa." (Hlm. 94)

"Keberuntungan adalah pertemuan antara kesempatan dengan kesiapan. Jadi ia hanya akan datang untuk orang-orang yang siap." (Hlm. 168)

"Yang penting bukan soal jam kerjanya, tapi tanggung jawabnya atas apa yang telah menjadi pekerjaannya." (Hlm. 179)

"Fakta yang ditemui pada berbagai perusahaan menunjukkan bahwa tradisi mencatat, menulis, dan berbagi pengetahuan dapat menimbulkan impact sosial yang sangat besar. Perusahaan akan menjadi lebih kompetitif dan memakai resources yang lebih hemat sehingga turut melestarikan lingkungan." (Hlm. 219)

"Salah satu faktor yang akan menunjang keberhasilan perusahaan untuk bertumbuh adalah spesialisasi." (Hlm. 296)

Meta morfillah

No comments:

Post a Comment

Text Widget

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik