Pages

24 December, 2015

[Review buku] Self driving

Judul: Self Driving, menjadi driver atau passenger?
Penulis: Rhenald Kasali
Penerbit: Mizan
Dimensi: xiv + 270 hlm, cetakan kedelapan Mei 2015
ISBN: 978 979 433 851 3

Kembali, membaca karya penulis membuat saya selalu berkaca dan berefleksi tentang hidup. Apakah saya seorang driver ataukah passenger? Di buku ini, pembaca diajak berpikir ulang tentang hidupnya. Menyadari dirinya termasuk bagian dari perubahan yang baik--bahkan seorang yang memelopori perubahan, yang disebut driver--atau hanya sekadar menjalani hidup apa adanya--seperti passenger, yang bahkan terkadang menumpang hidup pada perusahaan, organisasi, dan lainnya.

Menurut buku ini, manusia diberikan "kendaraan" yang disebut "self". Untuk mengembangkan potensinya dan mencapai sesuatu yang tak pernah terbayangkan, maka haruslah memiliki "self driving". Seorang driver harus selalu tanggap, tak boleh sedetik pun mengantuk, apalagi tertidur. Ia harus bertanggung jawab terhadap kehidupannya. Berbeda dengan passenger yang boleh mengantuk, tertidur, terdiam, tak perlu tahu arah jalan, bahkan tak perlu merawat kendaraan sama sekali.

Biasanya penulis selalu membagi isi buku menjadi 10 bab. Namun berbeda di buku ini, penulis membaginya ke dalam 13 bab yaitu: Ini soal mandataris kehidupan, manusia berpikir, mengapa kaum muda memilih universitas?, dua jenis penumpang: bad and good passengers, dua jenis pengemudi: bad and good drivers, self discipline, ambillah risiko, play to win, the power of simplicity, creative thinking, critical thinking, growth mindset, dan epilog.

Pengayaan melalui artikel dan tulisan penulis di beberapa media, gambar, skema, bahkan penjelasan mengenai instruksi sebuah games di bab creative thinking membantu memahami lebih jelas apa yang keliru. Ya, saya menemukan banyak improvement dari gaya bahasa penulis yang lebih ringan, pembagian bab yang lebih ringkas, info yang begitu kaya, bahkan menyediakan contoh tools dan gambar mengenai sebuah games.

Saya mengapresiasi buku ini 5 dari 5 bintang.

"Tahukah Anda, orang-orang yang pergi membawa topeng setiap hari agar selalu terlihat sempurna, sesungguhnya mengalami keletihan yang luar biasa?" (Hlm. 79)

"Banyak orang berpikir dirinya telah menjadi manusia kritis dengan banyak pergi ke sekolah, memiliki banyak gelar, mengikuti berbagai ujian, mendapatkan sertifikasi-sertifikasi teknis, dan terus belajar sampai akhir hayatnya. Namun satu hal yang sering tidak diperhatikan masyarakat kita, yaitu BELAJAR CARA BERPIKIR. Kalau keterampilan ini didapat, harusnya kita bisa menjadi manusia kreatif dan dinamis." (Hlm. 190)

"Orangtua (dan atasan) hendaknya jangan mengambil hak kaum muda dalam menghadapi tantangan, mengalami kesalahan dan penderitaan. Bahkan orangtua harus membiarkan kaum muda menerima dan menghadapi tantangan. Misalnya dengan tetap memberi dukungan, katakanlah 'Ini sulit, tapi menyenangkan bukan?' atau setidaknya katakanlah 'Yang terlalu fampang itu tidak fun!'" (Hlm. 239)

"Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan." (Hlm. 257)

Meta morfillah

No comments:

Post a Comment

Text Widget

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik