Pages

31 August, 2015

[Review buku] Where the mountain meets the moon

Judul: Where the mountain meets the moon
Penulis: Grace Lin
Penerbit: Atria
Dimensi: 266 hlm, cetakan I November 2010
ISBN: 978 979 024 460 3

Minli, gadis kecil yang hidup di rumah reyot di kaki Gunung Nirbuah awalnya merasa senang dengan hidupnya. Meski pas-pasan, tapi ia selalu memiliki Ba, Ma, dan cerita-cerita dongeng Ba tentang Kakek rembulan yang bisa menjawab semua pertanyaan dan mengubah peruntungan. Sayangnya, Ma yang sering sekali mengeluh dan mendesahkan ketidakbahagiaannya membuat Minli ingin mengubah peruntungan keluarganya. Gadis kecil itu ingin membuat keluarganya tidak lagi miskin. Minli pun memutuskan untuk pergi dari rumah dan mencari kakek rembulan.

Tanpa disangka, ternyata semua dongeng tua yang dituturkan oleh Ba setiap malam merupakan kisah nyata. Pencarian Minli merupakan jalinan dongeng-dongeng Ba dan dongeng orang yang ditemuinya di jalan. Bahkan ia bertemu beragam hal ajaib. Mulai dari kisah hidupnya tentang Ma dan Ba yang bekerja keras di sawah, penjaja ikan mas dan ikannya, persahabatannya dengan naga yang tak bisa terbang, para monyet yang serakah, bocah penggembala kerbau, raja kota terang bulan, pelindung kota, garis pinjaman, sebuah keluarga yang mengetahui rahasia dan isi kertas kebahagiaan, hingga akhirnya perjumpaan ia sendiri dengan Kakek rembulan. Dari sekian banyak hal yang ingin ditanyakannya, Minli hanya berhak mengajukan satu pertanyaan. Perjalanan panjang itu pun telah membuka mata Minli, dan pada akhirnya memberi Minli kebijakan atas satu pertanyaan yang diajukannya. Dan itu bukan lagi tentang peruntungan atau nasibnya agar lebih baik.

Membaca buku ini, membuat saya kembali ke masa kecil. Banyak sekali dongeng cina yang diselipkan dalam cerita. Bahasa yang digunakan begitu sederhana, sehingga buku ini pun cocok untuk dibaca anak-anak. Menurut saya penulis begitu pintar menggabungkan unsur fantasi dengan kisah rakyat cina. Tentu saja yang saya sukai adalah happy ending. Selalu di setiap dongeng, terutama cina, berakhir dengan pemahaman akan kebijakan hidup yang lebih baik. Bahwa satu kata yang tertulis dalam rahasia dan kertas kebahagiaan adalah SYUKUR. Dari cerita sederhana ini, saya banyak belajar kembali tentang hidup. Mungkin memang kesederhanaan menjadi kemewahan tersembunyi saat ini.

Ternyata penulisnya merupakan orang Asia (cina) yang sempat mengingkari darah asianya sebab ia dibesarkan di amerika. Namun saat ia mulai berdamai dan menerima darah asianya, lihatlah apa yang dia hasilkan saat ini. Buku yang keren menurut saya. Ditambah dengan gambar-gambar ilustrasi cantik berwarna di beberapa bagian.

Saya apresiasi 5 dari 5 bintang, meski pun ada beberapa typo.

"Kau hanya kehilangan apa yang kau pegang." (Hlm. 132)

"Jika kau membahagiakan mereka yang ada di dekatmu, mereka yang jauh darimu akan datang." (Hlm. 238)

"Untuk apa kami mengubah peruntungan kami?"
Kekayaan bukanlah rumah yang dipenuhi emas dan batu giok, namun sesuatu yang jauh lebih bermakna daripada itu. Sesuatu yang telah dimilikinya dan tidak perlu diubahnya. (Hlm. 242)

Meta morfillah

[Review buku] Orang asing

Judul: Orang asing
Penulis: Albert Camus
Penerbit: Yayasan pustaka obor indonesia
Dimensi: x + 124 hlm, 13.5 x 18.5 cm, cetakan kedua november 2013
ISBN: 978 979 461 862 2

Novel ini terdiri atas dua bagian--istilahnya diptik, cara penulisan umum di Prancis tentang roman manusia--yang bercerita tentang kehidupan Mersault. Dengan sudut pandang orang pertama--aku--Mersault memulai ceritanya dari kejadian pemakaman ibunya di panti wreda (ini typo atau bukan ya? Biasanya sih panti werda). Hal sepele baginya, namun berimbas besar pada masa depannya. Di bagian satu, dia menceritakan sedikit kilas balik sebelum ibunya dimakamkan. Alasan mengapa ia menitipkan ibunya di panti wreda dan beragam keterasingan yang ia rasakan. Mulai dari asing terhadap budaya di tempat tinggalnya, asing terhadap orang-orang lainnya, bahkan asing terhadap dirinya sendiri. Yang saya tangkap adalah, betapa sesungguhnya Mersault tidak memahami dirinya dengan baik, kehidupan sosialnya pun kurang bagus. Hingga akhirnya ia berani memulai interaksi dengan Marie, berpacaran, lalu mencoba berbicara dengan tetangganya, Salamano, dan berteman dengan Raymond.

Di bagian dua, fokus mulai berganti pada perjalanan persidangan Mersault yang dituduh melakukan pembunuhan berencana. Upaya pembelaan diri, malah berujung pada hukuman pancung. Ironisnya, Mersault tidak diberi kesempatan membela diri. Semua dilakukan seperti orang lain--hakim, penuntut, dan pembela--lebih memahaminya dan ia berada di luar cerita. Padahal ialah tokoh utamanya. Proses pengadilan yang tidak menggali permasalahan sesungguhnya tampak begitu lucu, apalagi saat dikaitkan dengan religiusitas, atau iman. Bahkan vonis Mersault dihubungkan dengan kasus pengadilan selanjutnya, pembunuhan terhadap seorang ayah. Mersault merasa kesal, tapi tak ada yang dapat ia lakukan. Semakin banyak ia bicara, semakin tampak bersalah dirinya.

"Nasibku ditentukan tanpa meminta pendapatku." (Hlm. 100)

Membaca novel ini membuat saya teringat kembali beberapa film yang menceritakan tentang pengadilan. Betapa seringkali fakta diputar, penggalian masalah sesungguhnya tidaklah dalam dan obyektif. Semua hanya berjalan secara seremoni, tata cara kaku, tanpa melakukan pendekatan dan sudut pandang si tertuduh. Padahal ia berhak mendapatkannya. Terlebih apabila tertuduh merupakan orang miskin seperti Mersault. Ungkapan yang lucu adalah ketika Mersault berpikir tentang munafiknya kalimat "Atas nama rakyat Prancis" yang dibacakan hakim. Yaa.. hukuman mati, apalagi pancung di hadapan orang banyak rasanya terlalu berat untuk kesalahan yang dilakukan Mersault dalam upaya pembelaan diri.

Juga konsep keterasingan yang dirasakan Mersault. Betapa berbahayanya bila kita tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan. Tata cara yang tidak kita mengerti, bisa menjadi pisau tajam yang membunuh kita. Seperti saat Mersault meminum kopi susu dan merokok di hari kematian ibunya. Padahal ia melakukan itu untuk menenangkan jiwa dan raganya yang letih. Tapi disalahartikan oleh orang sekitar, bahwa ia dikatakan tak berperasaan, bahkan soal ia tidak menangis, padahal itu karena ia laki-laki. Tidak semua kesedihan harus diungkapkan dengan tangis, kan?

Sedikit saya temukan typo dalam buku ini. Meski tipis, tapi font size dan type yang digunakan membuatnya cukup padat dan cepat mengantuk saat membaca.

Saya apresiasi buku ini 4 dari 5 bintang.

Meta morfillah

30 August, 2015

[Review buku] The time keeper

Judul: The time keeper (sang penjaga waktu)
Penulis: Mitch Albom
Penerbit: Gramedia pustaka utama
Dimensi: 312 hlm, 20 cm, cetakan kedua agustus 2014
ISBN: 978 602 03 0714 5

OH MY ALLAH... aku jatuh hati lagi sama Mitch Albom. Sebelumnya buku dia yang begitu menarik adalah "Five people you meet in heaven" yang menceritakan konsep surga bagi lima kisah, lima orang (yang sepertinya konsep ini mirip dengan konsep tere liye ketika menulis novel Rindu. Tentu mitch albom duluan yang nulis haha) dan "Tuesday with Morrie" (english version yang saya baca di PERPUSNAS RI. Sebab versi terjemahan katanya kurang bagus, saya belum pernah sih baca yang terjemahannya). Meski awalnya saya baca TWM (ini khilaf terkeren saya, baca novel english di perpusnas dan selesai dalam waktu 3 jam, disertai sempat menulis quote-quote di buku catatan. Haha!) baru TFPYMIH dan buku mitch lainnya, saya selalu merekomendasikan TFPYMIH lebih dahulu. Buku-buku mitch lainnya biasa saja menurut saya. Tapi, di buku The Time Keeper ini, saya menemukan euforia itu kembali! Cerdas sekali! Mitch begitu lihai menggunakan bahasa yang mudah dipahami untuk menjelaskan sesuatu yang serius dan berat: tentang waktu.

Buku ini menceritakan tentang manusia pertama yang menghitung waktu di bumi, bernama Dor. Dari waktu yang begitu jauh jaraknya dan secara logika tak mungkin akan ada persinggungan kehidupan dengan manusia di masa depannya--setelah melewati ribuan tahun--Dor tertakdir mengubah takdir dua orang. Takdir yang sesungguhnya adalah untuk membuat ia sendiri menyadari takdirnya. Dor--yang kelak akan menjadi Sang Penjaga Waktu--merasa bingung dan frustasi saat ia diberikan 'hukuman' oleh lelaki tua dari surga dengan pengasingan yang begitu lama di dalam gua dan terpaksa mendengarkan beragam suara permohonan orang-orang tentang waktu. Ada yang meminta dilebihkan, ada pula yang meminta agar waktu dikurangi bahkan dihentikan!

Begitu pun dengan Sarah Lemon dan Victor Delamonte. Mereka tak pernah berpikir bahwa kehidupan mereka yang tidak saling mengenal satu sama lain ternyata akan berkelindan begitu erat dan mengubah dunia. Sarah yang meminta agar waktu berhenti, dan Victor yang meminta agar waktu lebih banyak dan dirinya abadi, saling mengenal berkat Dor. Pada akhirnya, mereka membantu Dor menggenapi takdir Dor untuk dihabiskan bersama Allie, dengan meresapi waktu, bukan lagi menghitungnya.

Konsep waktu yang dikemas oleh Mitch ini membuat saya kembali berpikir, yaa... apakah sebenarnya waktu itu? Sedang apa kita di dunia ini? Bertanya tentang waktu sesungguhnya menanyakan tentang eksistensi kita sebagai makhluk fana yang tak akan pernah mampu menguasai waktu. Pada akhirnya, Mitch mengingatkan kita pada kekuasaan tak berbatas, yakni kekuasaan Tuhan. Meski berbeda dengan Tuhan yang saya yakini. Religiusitas Mitch selalu tergambar dalam karyanya, karena memang dia penganut gereja yang taat (dengar-dengar sih begitu). Buku seperti ini, yang mengajak kita merenungi kembali arti hidup, menurut saya sangat layak direkomendasikan untuk dibaca. Ringan banget kok bahasanya, tidak sejelimet gaya berpikir einstein. Meski alur yang digunakan maju mundur, kamu tidak akan tersesat kok... kan ada sang penjaga waktu. Hehee...

Hmm... cuma yang saya bingung sinopsis di cover belakang buku, kok bilang buku ini fabel ya? Bukannya fabel itu cerita dengan tokoh hewan yang bertingkah seolah-olah berkarakter manusia? Sedangkan menurut saya novel ini semacam fantasi atau dongeng manusia yang membentang dari zaman pra aksara hingga modern zaman film MIB.

Menariknya lagi, ada satu buah lagu di buku ini yang dijelaskan untuk menegaskan perasaan tokoh Sarah di beberapa halaman, yang merupakan lagu kesayangan almarhum bapak saya. Judulnya "The end of the world", sering saya dan bapak nyanyikan saat karaokean, waktu saya masih kecil. Jadi, saya juga merasakan sedikit kebangkitan kenangan (istilah apa nih? Haha).

Saya rekomendasikan buku ini untuk dibaca. Saya apresiasi 5 dari 5 bintang.

"Bahwa keterikatan pada benda-benda hanya akan membawa kesedihan." (Victor, hlm. 76)

"Tetapi apa pun yang diciptakan manusia, Tuhan sudah lebih dulu menciptakannya." (Hlm. 100)

"Ada sebabnya Tuhan membatasi hari-hari kita."
"Mengapa?"
"Supaya setiap hari itu berharga." (Hlm. 288)

Meta morfillah

28 August, 2015

[Review buku] The Catcher in the rye

Judul: The catcher in the rye
Penulis: J. D. Salinger
Penerbit: Banana
Dimensi: iv + 296 hlm, 14 x 21 cm, cetakan ketiga juni 2015
ISBN: 979 99986 0 3

Mengapa buku ini disukai para pembunuh?

Itu adalah tulisan di cover belakang buku ini. Tampilannya begitu sederhana, cober putih polos hanya dihias tulisan judul saja. Jujur saya tidak menemukan jawaban dari kalimat itu.

Novel ini menceritakan seorang anak lelaki yang begitu kacau bernama Holden Caulfield yang berusia 16 tahun. Ia mengidap penyakit jiwa, masalah berat berupa ketidaksukaannya pada dunia. Dengan sudut pandang orang pertama, Holden sebagai aku sang pencerita, ia bercerita tentang beragam hal yang terjadi sebelum ia dirawat di Rumah Sakit (Jiwa?). Mulai dari teman sekamarnya, Stradlater yang berkencan dengan wanita yang ia sukai, Jane. Lalu bagaimana ia memutuskan untuk pergi dari sekolah asramanya lebih cepat. Seharusnya hari rabu ia dipulangkan, tetapi ia pergi di hari sabtu. Bertemu dengan operator lift palsu yang menawarkan pelacur untuk menemaninya. Sayangnya, Holden tetaplah pengecut. Ia tetap perjaka dan banyak omong. Terus menerus membicarakan Allie--adiknya yang sudah meninggal--dan Phoebe--adiknya yang masih kecil. Tampak sekali rasa bersalahnya dan sayangnya pada kedua adiknya itu. Juga kekaguman pada kakaknya, meski ia selalu mengingkarinya.

Sungguh, orang seperti Holden ini begitu rumit. Bahkan pada orang yang membantunya, seperti Pak Antollini, masih saja ia curigai jahat dan penyuka sesama jenis. Benar apa yang dikatakan Phoebe, bahwa Holden tak akan pernah menyukai apa pun di dunia ini.

Kalau saya bertemu karakter Holden mungkin sudah BT. Pembual, lebay, dan semacam tak tahu bersyukur atau berterima kasih. Ugh.. menyebalkan sekali. Sampai saya migrain baca buku ini mempelajari jalan pikiran si Holden yang begitu berantakan dan tidak stabil.

Cukup banyak saya temukan typo dan salah peletakan tanda baca dalam buku ini.

Saya apresiasi 3 dari 5 bintang.

"Jangan pernah bercerita apa-apa pada orang lain. Begitu kalian bercerita, kalian akan mulai merasa merindukan orang lain. " (Hlm. 295)


Meta morfillah

27 August, 2015

[Cerita lirik] Human

I can hold my breath
I can bite my tongue
I can stay awake for days
If that's what you want
Be your number one

"Kamu terlalu asyik dengan mereka. Sadarkah kamu terlalu mendominasi? Seperti bukan dirimu yang kukenal dahulu."

Kalimatmu membuatku berpikir lamat-lamat. Seketika anak-anak di grup ramai membelaku. Mengatakan bahwa kalimatmu itu hanya ungkapan kecemburuan padaku. Aku yang kamu kenalkan pada mereka. Lalu menjadi jauh lebih akrab, memenangkan perhatian, dan begitu disayang mereka dalam hitungan bulan. Jauh lebih tenar dan bersinar, kata Jo. Kamu berang mendengar jawaban mereka. Kamu pun keluar dari grup. Mereka tak kehilanganmu, bahkan menghiburku.

Aku memang tersenyum dan bertingkah seolah-olah semua baik-baik saja. Menerima hiburan mereka dengan senyum. Padahal hatiku sakit. Satu kata bergaung di kepalaku.

Mendominasi.

Apakah aku telah mendominasi?

I can fake a smile
I can force a laugh
I can dance and play the part
If that's what you ask
Give you all I am

Tentu saja aku membujukmu untuk kembali. Apa rasanya ketika orang yang mengenalkanmu, membawamu pada dunia yang ceria, lalu pergi memendam sakit hati karenamu? Aku tak ingin hal itu terjadi. Aku bahkan menjanjikan hal tak perlu. Bahwa aku tidak akan banyak bicara lagi di grup. Tidak akan dekat-dekat lagi dengan orang yang kamu kurang sukai. Tidak akan tertawa, tersenyum, apa pun yang kamu minta, bahkan bersedia pergi, asalkan kamu kembali.

Tapi aku bodoh. Malah kalimat ini yang aku dapatkan.

"Kembalilah ke mereka. Kamu yang disayangi mereka, bukan aku. Tidak usah membujuk dan berharap aku akan kembali ke kelompok kalian yang eksklusif itu."

Apa kau lupa, siapa pendiri kelompok eksklusif itu? Siapa yang membawaku ke sana?

But I'm only human
And I bleed when I fall down
I'm only human
And I crash and I break down
Your words in my head, knives in my heart
You build me up and then I fall apart
'Cause I'm only human

Aku menyerah. Kurasa tidak perlu ada yang harus diperjuangkan menilik sikapmu padaku. Aku tetap menjalani hariku, meski menyayangkan hubungan kita yang retak. Sekuat tenaga aku menahan diri untuk tidak membenci dirimu dan diriku. Sekuat hati aku mencoba bersikap biasa bila tak sengaja bertemu denganmu, meski kau membuang muka.

Lama-lama hatiku mendingin. Saat aku berpikir ulang tentang kesalahanku di masa lalu. Tidak ada niat sedikit pun untuk mendominasi. Aku selalu berusaha menjaga batas tahu diri, bahwa aku adalah anak baru. Lalu, salahkah bila ternyata aku dicintai? Aku tak pernah meminta cinta mereka. Berharap pun tidak. Mengapa aku harus bersalah? Mungkin bintang yang terlalu bersinar terang, akan menyilaukan dan menyakiti sekitarnya. Bintang itu harus rela meredupkan sinarnya. Maka kulakukan itu, seiring redup dan dinginnya hatiku.

Dua tahun berlalu, perkataanmu tetap menancap di hatiku. Bekasnya tak pernah hilang. Menimbulkan sedikit trauma. Tanpa dinyana, aku kembali menghadapi hal sama. Dengan orang lain. Kali ini, aku memutuskan untuk memutus rasa didominasi itu sebelum hubunganku dengannya retak.

I can turn it on
Be a good machine
I can hold the weight of worlds
If that's what you need
Be your everything

I can do it
I'll get through it

I can take so much
'Til I've had enough

But I'm only human
Just a little human

Sejauh ini... aku bisa menghadapi semuanya. Aku bisa melakukannya sendirian. Tapi, ada saat di mana aku ingin berteriak pada kalian, bahwa aku juga hanyalah manusia biasa. Bahwa tawaku, senyumku terkadang dijalin di atas luka. Palsu. Aku tak setegar yang kalian kira. Bila aku terus tersenyum, bukanlah karena aku bahagia. Semata aku lupa bagaimana aku harus bersedih atau membalas marah. Aku lelah.

Mengapa aku harus menjaga perasaan kalian? Kapan kalian yang akan menjaga perasaanku? Kapan kalian akan mendengarkan apa yang tidak kukatakan?

*cerita lirik Human - Christina Perri

Meta morfillah

26 August, 2015

[Review buku] Kaas/keju

Judul: Kaas (Keju)
Penulis: Wilem Elsschot
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Dimensi: 176 hlm, 11 cm, Mei 2010
ISBN: 978 979 22 5767 0

Frans Laarmans telah lama menjadi seorang kerani di penggalangan kapal. Hidupnya biasa saja, tak ada yang dapat dibanggakan. Begitu biasa. Hingga hari di mana ibunya yang sudah pikun meninggal, ia berkenalan dengan Van Schoonbeke. Schoonbeke adalah teman kakak tertuanya--Dokter Laarmans--yang kaya dan memiliki teman-teman eksklusif. Setiap hari rabu, Schoonbeke mengadakan pertemuan bersama teman-teman eksklusifnya tersebut. Frans pun diundang.

Hingga beberapa waktu, Frans merasa hidupnya begitu menyedihkan. Ia seakan batu kerikil yang tak dianggap di pertemuan itu. Bila ia bersuara, ia hanya akan memperlihatkan kebodohan serta kemiskinannya. Schoonbeke pun tak ingin Frans hanya hidup begitu-begitu saja. Dengan kekuasaannya, ia mengirim Frans ke Belanda untuk berkenalan dengan Hornstra--bos keju. Pertemuan Frans dengan Hornstra menerbitkan harapan besar pada Frans. Ia melihat jalan keluar dari hidupnya yang stagnan dan membosankan.

Ia memutuskan untuk menjadi pengusaha keju dan meninggalkan kariernya yang mandek sebagai kerani setia. Sayangnya, Fine--sang istri--kurang setuju dengan ide itu. Fine menyarankan agar Frans tidak meninggalkan pekerjaannya sebagai kerani. Lalu ia memberikan ide pada Frans untuk mengajukan cuti selama tiga bulan dengan alasan sakit. Frans pun meloloskan permintaan istrinya. Ia memulai usaha kejunya dengan berbohong sakit saraf--dipertegas dengan surat keterangan sakit dari kakaknya, Dokter Laarmans--, bersedia cuti tanpa digaji selama tiga bulan.

Namun berdagang ternyata tak semudah bayangan Frans. Ia harus berjuang mendirikan kantor, menawarkan keju, hingga mengantarkan sendiri keju kepada pemesannya. Hal ini semakin rumit saat bosnya--Hornstra--mengabarkan akan datang menemui Frans sementara keju yang dijualnya belumlah banyak. Sesungguhnya, Frans pun tak menyukai keju.

Membaca novel ini membuat saya tertawa. Ternyata permasalahan seperti rasa tidak enak menolak permintaan orang, terintimidasi oleh nama besar dan kekuasaan orang lain, serta ketidakpuasan antara pekerjaan dan keluarga tetap menimpa orang-orang Belgia. Saya kira di sana sudah lebih maju, tak seperti di Indonesia yang masih berkembang. Masalah yang disajikan begitu sederhana, yakni kurangnya rasa syukur tokoh utama terhadap apa yang sudah dimilikinya. Ia hanya berfokus pada titik kelemahannya. Meratapi nasibnya. Lalu barulah ia mensyukuri ketika ia merasakan kehilangan itu. Karakter tokoh utama yang begitu naif, selalu beralasan dengan mencari pembenaran, suka merendahkan istri, keluarga, dan pekerjaannya kadang menyebalkan. Bahkan pada awal cerita pun, tokoh utama tetap menyalahkan orang lain.

Dengan sudut pandang orang pertama (aku), pembaca diajak merasakan konflik batin yang dialami Frans. Hingga ia menyadari apa yang terpenting dalam hidupnya. Alur mundur sebagai pembuka, lalu maju yang digunakan cukup oke, membuat cerita tak tertebak begitu saja, dan bahasa yang digunakan begitu ringan, mengalir.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

"Aku percaya hal ini terjadi karena aku terlalu penurut. Ketika Van Schoonbeke bertanya apakah aku mau melakukannya, aku tak mampu menentangnya dan menolak keju-kejunya, yang seharusnya kulakukan. Karenanya kepengecutan itu harus kutebus. Cobaan keju ini patut kuterima." (Hlm. 142)

"Aneh, selama bertahun-tahun tak kusadari bahwa kantor ini dapat begitu menyenangkan. Di tengah keju aku tercekik, sementara di sini, di sela waktu mengetik surat yang satu dengan yang lain, dapat kudengar sejenak suara batin." (Hlm. 150)

Meta morfillah

25 August, 2015

[Review buku] Galuh hati

Judul: Galuh Hati
Penulis: Randu
Penerbit: Moka media
Dimensi: vi + 294 hlm, 12.7 x 19 cm, cetakan I Jakarta 2014
ISBN: 978 979 795 816 9

Abul tak pernah menyangka pertemuannya di malam terakhir hidup Kai Amak akan mengubah jalan hidupnya. Kai Amak, pendulang intan terkaya di desa Cempaka dikabarkan meninggal esok paginya. Ia meninggalkan misteri tentang Galuh Hati dan kisah masa lalunya terkait Antas dan Sarah pada Abul. Mungkin itu semua tidak akan mengubah hidup Abul, bila tidak ada Gil. Abul hanya akan menyesali dirinya yang tidak diperbolehkan mendulang intan oleh orangtuanya, malah menjaga warung dan bersekolah. Persis seperti banci, hina dalam pandangan mata warga Cempaka. Semua berubah, bersama Gil, Abul yang awalnya skeptis mulai optimis menyusuri jejak Galuh Hati yang dianggap mitos.

Apa yang mereka temui ke depannya begitu mencengangkan. Betapa dari desa kecil di Kalimantan Selatan seperti Cempaka ini menyimpan kisah hingga ke Leiden, Belanda. Juga kisah menyedihkan tentang nasib para pendulang intan terbaik di dunia, yakni di Cempaka yang malah tak diketahui, malah lebih terkenal Martapura. Semua berkelindan menjadi satu. Galuh hati menyimpan begitu banyak misteri. Tentang cinta, persahabatan, dan pengkhianatan. Dan hampir saja, Galuh hati mengambil korban, yakni diri Abul yang hampir mati saat menyusuri jejaknya.

Novel ini sangat keren untuk unsur lokalitasnya. Saya seperti menyelami kehidupan keluarga pendulang intan di desa kecil yang tak terkenal, Cempaka. Budaya, mitos, hingga nasib masyarakat di sana tersaji begitu nyata. Membuat saya ingin melihat sendiri apakah benar desa bernama Cempaka ini ada di Kalimantan Selatan? Meski ada satu halaman terakhir yang menampilkan foto para pendulang intan, tetap saja saya penasaran. Proses mendulang intan pun digambarkan dengan baik, meski saya masih kurang familiar membayangkan persis alat-alat yang dimaksud seperti linggangan.
Terlepas dari semua itu, cerita ini sangat menarik. Alur dan klimaks yang disajikan pun cukup menegangkan. Bagi yang suka novel detektif, novel ini cukup menghibur dan memiliki twist yang bagus. Hanya menyisakan beberapa pertanyaan, seperti bagaimana hidup Gil setelahnya? Di prolog, saya sempat berekspektasi bahwa Gil akan mati, tapi nyatanya ia tak dijelaskan keadaannya di ending. Juga rasa tidak percaya saya, bahwa anak tunagrahita bisa bertindak sebegitu normal, cerdas bahkan hebat sebagaimana Gil. Dia bisa bertindak seakan-akan detektif sherlock holmes dengan kecakapan dan kelihaian berbicara serta membaur yang sangat bagus. Saya memiliki kenalan dokter yang memiliki anak tunagrahita dan saudara yang juga sama. Nampaknya mereka tidak sampai senormal Gil. Terakhir, saya lebih penasaran pada endingnya, keadaan Antas. Apakah itu khayalan Abul? Terasa agak dipaksakan memberi ending yang sedikit bahagia.

Ada beberapa typo yang cukup mengganggu bagi saya.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

"Kau tidak akan pernah menjadi seorang pecinta yang baik dengan mengorbankan seseorang." (Hlm. 65)

"Jangan pernah protes dengan keterbatasan orangtuamu, dengan apa yang telah diberikan orangtuamu kepadamu. Mungkin itu semua yang terbaik punya mereka." (Hlm. 132)

"Dia memang kadang-kadang cerewet, selalu mencari-cari kesalahanku, meributkan hal-hal kecil yang kuperbuat, menuntutku bersikap adil dengan membela orang yang tidak kusukai, tapi pada akhirnya Ibu selalu berada di pihakku. Ibu selalu ada untukku. Selalu." (Hlm. 200)

"Kebahagiaan yang berlebihan adalah sebuah penarik kedukaan." (Hlm. 236)

Meta morfillah

24 August, 2015

[Review buku] Wonderful radio

Judul: Wonderful radio
Penulis: Lee Jae Ik
Penerbit: Bentang
Dimensi: vi + 318 hlm, 20.5 cm, cetakan pertama september 2012
ISBN: 978 602 8811 91 0

"Ketika kau terpaksa melepas milikmu, bisa jadi semesta tengah menyiapkan sebuah kejutan istimewa untukmu."

Jin Ah begitu menyesal tiap kali mengingat kebodohannya 10 tahun lalu. Saat dirinya begitu bersinar sebagai leader sekaligus pencipta lagu sebuah grup idola bernama Purple, ia memutuskan untuk membubarkan grup tersebut. Padahal grupnya sudah mencapai level Hallyu (internasional). Kesombongan masa muda membutakan dirinya. Ia kira ia akan diterima dengan solo karier, namun semua ekapektasinya gugur. Kariernya berantakan, kehidupan cinta nyaris tak ada harapan. Dia bagaikan bintang yang karam begitu dalam. Tapi dia tetap mencoba untuk hidup dan bertahan sebagai DJ di Wonderful Radio.

Sayangnya, satu-satunya pekerjaan itu pun terancam lepas karena produser radionya diganti. Jae Hyeok, seorang lelaki dingin, tak banyak bicara dan terkenal akan keprofesionalannya dalam bekerja, menggantikan produser radio Jin Ah yang melahirkan. Suasana hingga metode kerja Jae Hyeok berbeda 180 derajat dengan produser sebelumnya. Ia mengancam halus seluruh tim, bila tidak mampu memberikan ide baru yang dapat mendongkrak rating wonderful radio, bahwa mereka semua bisa kehilangan pekerjaan. Berawal dari pertemuan pertama yang kurang menyenangkan dan seperti musuh, perlahan Jin Ah dan Jae Hyeok saling mengisi. Saat cinta perlahan menghampiri, cinta lama menyambangi Jae Hyeok dan kasus plagiarisme menimpa Jin Ah. Mereka dihadapkan pada kenyataan yang menyakitkan.

Membaca novel ini membuat saya seakan-akan sedang menonton drama korea. Ya, mindset awal saya membaca nama penulis dan nama tokoh, serta setting tempat dan waktunya membuat saya mudah memvisualkan kejadian dalam buku ini sebagaimana serial drama korea yang pernah saya tonton. Beragam konflik, budaya serta karakter umum orang korea tergambar jelas. Tapi ada hal yang membuat saya tergelak saat membacanya. Di halaman 243, ada ungkapan "Bencilah dosanya, jangan benci orangnya." Itu adalah kalimat yang sering saya temukan dalam buku agama Islam. Lucu bukan, ada di novel genre romantis orang korea yang kebanyakan ateis... hehe

Secara isi ceritanya cukup bagus, mengalir, meski mainstream. Yang saya sukai adalah beragam lirik dan kalimat pembicaraan para tokohnya yang baku, sopan, dan puitis. Ada banyak catatan quote yang saya dapatkan di novel ini.

Saya apresiasi 3 dari 5 bintang.

"Yang membuat seorang manusia menjadi putus asa adalah manusia lainnya, tapi yang dapat mengubah rasa putus asa tersebut menjadi sebuah harapan juga seorang manusia."(Hlm. 7)

"Aku akan mencintaimu. Tak sekadar permainan sehari, tetapi cinta yang sangat panjang." (Hlm. 172)

"Ternyata aku seperti ini. Ini adalah caraku mencintai. Saat aku mencintai seseorang, aku akan mempertaruhkan segalanya untuk orang itu dan mengerahkan segenap hatiku. Setelah menyadari itu, dia takut untuk mencintai lagi. Bahkan, dia tidak bisa membayangkan dirinya akan jatuh cinta lagi." ( hlm. 202)

"Saat mencintai, orang yang jatuh cinta itu tidak mencintai orang yang dicintainya karena dia luar biasa. Dia bisa saja mencintai orang yang tidak boleh dicintai, orang yang sulit dicintai, orang yang terlalu keliru untuk dicintai, orang yang tidak pantas dicintai, atau orang yang tidak dapat digapai. Itulah cinta. Sangat tidak masuk akal dan bodoh." (Hlm. 243)

"Kenapa kau mencintaiku?"
"Aku mencintaimu karena tidak bisa tidak mencintaimu." (Hlm. 277)

Meta morfillah

[Mentoring] Yang tetap dan Yang dapat berubah

Materi mentoring Minggu, 23 Agustus 2015
Bu Evi

Yang tetap (Tsawabit) dan yang dapat berubah (Mutaghairat)

"Dakwah harus terus berlanjut, meski wadahnya dibubarkan pemerintah."

Begitu pesan seorang syeikh (guru) pada murid binaannya.

Dakwah itu pasti dan akan tetap ada (tsawabit), hanya saja wadah, wasilah, metode, situasi, kondisi dll yang dapat berubah (Mutaghairat). Meski wadah tersebut tetap memiliki kelebihan dan kekurangan, tapi tetaplah berdakwah. Kita harus mengedepankan sikap husnuzhan (baik sangka), tabayyun (konfirmasi langsung ke sumber berita), dan manajemen isu dengan baik (cerdas dalam memilah dan memilih informasi). Dakwah juga harus tetap dilakukan dalam situasi atau kondisi apa pun. Jangan bingung ketika medianya tidak ada. Sebab, di mana pun kita berada, kita adalah da'i. Agar terhindar dari kebingungan itu, hendaklah kita berpegang pada patokan yang jelas (zawabit) untuk amal saleh. Sebab sudah sunnatullah bahwa kebaikan akan selalu banyak musuhnya.

Saat kita tidak bersama dakwah, boleh jadi kita tidak akan bersama siapa pun, lalu terbentanglah jurang menganga yang semakin membuat kita futur (lemah iman). Sebab, tanpa diri kita, dakwah akan selalu berjalan meski sedikit yang mendukung. Sunnatullah, Allah akan selalu memberi orang-orang yang lebih baik secara kualitas, meski kuantitasnya berkurang, untuk menggantikan kita.

"Sesungguhnya Islam adalah roda yang berputar. Maka berputarlah kalian bersama Islam, apa pun putarannya." (HR. Thabrani diriwayatkan oleh Mu'adz bin Jabal)

"Ingatlah, kamu adalah orang-orang yang diajak untuk menginfakkan (hartamu) di jalan Allah. Lalu di antara kamu ada orang yang kikir, dan barang siapa kikir maka sesungguhnya dia kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allahlah Yang Maha kaya, dan kamulah yang membutuhkan (karuniaNya). Dan jika kamu berpaling (dari jalan yang benar) Dia akan menggantikan (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan (durhaka) seperti kamu." (Q. S. Muhammad [47]: 38)

Konteks awal ayat ini adalah ajakan untuk berinfaq. Lebih didalami, yang dimaksud infaq di sini bisa meluas seperti infaq harta, waktu, tenaga, pikiran, dan ide untuk dakwah. Tarbiyah adalah salah satu bentuk dakwah kita (tsawabit) meski berbeda metodenya, bisa dengan silahturrahim, halal bi halal, takziyah, atau rihlah, tidak seperti metode konvensional yang duduk bersama membahas materi.

Tambahan:

Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan "Kebathilan yang terorganisir akan mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir."

Inilah pentingnya jama'ah kebaikan yang resmi dan berbadan hukum.

Jangan lupa untuk terus muhasabah diri dalam tiap keadaan dengan menghubungkan ke Pencipta. Bisa jadi, kemudahan yang kita dapatkan adalah buah dari sedikitnya amal saleh kita, dan kesulitan adalah buah dari banyaknya kemaksiatan kita.

Saat diberi amanah, ingatlah bahwa pertanggungjawaban amanah tidak hanya di depan manusia, tetapi di hadapan Allah. Amanah itu sungguh berat, para salafus salih pun kebanyakan menolak dan menangis saat diberi amanah, sebab mereka tahu bagaimana hisabnya nanti. Hanya manusia yang begitu bodohnya menganggap amanah adalah mudah, bahkan gunung pun tak sanggup memikulnya. Maka, tunaikanlah amanah dengan sebaiknya, semampumu hingga titik darah penghabisan (mastatha'tum).

Kalau belum bisa mengubah keadaan yang buruk, mungkar, kacau, minimal mewarnai. Kita beraksi nyata mencegah kemungkaran dengan tangan kita. Bila tidak bisa, maka selemah-lemahnya iman adalah dengan doa.

*catatan pribadi sepemahaman penulis.

Meta morfillah

23 August, 2015

[Review buku] Yuk, berhijab

Judul: Yuk, berhijab!
Penulis: Felix Y. Siauw
Penerbit: Mizania
Dimensi: 140 hlm, cetakan kedua Juli 2013
ISBN: 978 602 9255 67 6

Selama ini, kebanyakan orang--khususnya saya--hanya tahu bahwa hijab itu ya jilbab, kain yang menutupi dada. Namun ternyata, buku ini menjelaskan perbedaan khimar, jilbab, dan hijab. Judulnya mungkin terkesan diperuntukkan bagi muslimah yang belum berhijab, tapi bagi saya yang sudah berhijab pun memberikan pengetahuan baru. Jadi bisa dibaca oleh yang belum, akan, sedang dan ingin terus memperbaiki hijabnya.

Buku ini terdiri dari 9 bab. Bab 1 dan 2 merupakan pengantar, perbandingan tentang beragam pandangan dunia terhadap wanita dengan islam memandang wanita. Lalu mulai masuk ke bab 3 dan 4 tentang aurat dan bagaimana menutup aurat secara syar'i. Di bab 5, 6, dan 7 menjelaskan beragam 'salah kaprah' yang sering kita jumpai di indonesia, seperti berpakaian tetapi telanjang (ketat, membentuk badan, tipis), tabarruj (dandan berlebihan dan memancing perhatian/mencolok), dan menjadikan hijab sebagai perhiasan (berlomba trendi, modis, stylish, namun lupa aturan dasarnya). Khusus di bab 7 ada visualisasi pertanyaan/pernyataan yang sering dijadikan alasan agar menunda berhijab, disertai cara menanggapinya oleh ustad felix. Di bab 8 dan 9 menegaskan agar tetap taat, berhijab dan tidak memedulikan kata orang.

Secara pengemasan, seperti buku sebelumnya #udahputusinaja, buku ini pun full colour, banyak visualisasi cantik, penggunaan warna yang konsisten yakni putih dan ungu/magenta, pemilihan font yang oke, serta pemilihan kertas dengan ketebalan yang cukup bagus.

Secara keseluruhan, saya suka totalitas pengemasannya dan isinya juga aktual, cocok untuk dibaca semua kalangan, gaya bahasanya pun mudah dicerna.

Saya apresiasi 5 dari 5 bintang.

"Kita hidup di sebuah masa ketika mempertahankan Islam layaknya menggenggam bara api, panas dan gerah, bahkan seolah melukai diri sendiri. Sebab, masyarakat kebanyakan justru berlomba-lomba  tidak bersesuai dengannya. Karena itu, setiap yang memegang Islam akan dirasa aneh, diasingkan, dan dianggap abnormal." (Hlm. 50)

"Hijab bukanlah sebuah tren fashion yang modenya disesuaikan dengan zaman dan keinginan, yang harus dibuat rumit sehingga menyusahkan untuk memakainya. Hijab bukanlah pelarian bagi fashionista yang tetap ingin disebut islami." (Hlm. 111)

"Bila di ujung cerita kita pun akan menutup aurat, mengapa tidak sekarang sebelum jadi mayat? Tutuplah auratmu sekarang, sebelum auratmu ditutupkan. Hijab tanpa nanti, taat tanpa tapi." (Hlm. 120)

Meta morfillah

22 August, 2015

[Review buku] Segenggam iman anak kita

Judul: Segenggam iman anak kita
Penulis: Mohammad fauzil adhim
Penerbit: Pro-U media
Dimensi: 288 hlm, 2013
ISBN: 978 602 7820 07 4

"Karena tak ada lagi yang berguna sesudah kita tiada kecuali tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak saleh yang mendoakan."

Untuk mendapatkan doa anak yang saleh tentunya mereka harus menjadi pribadi yang saleh terlebih dahulu. Maka apakah yang harus kita perhatikan agar kesalehan mereka mengakar dan membuahkan doa untuk orangtua? Jawabannya adalah iman.

Seyogyanya orangtua harus sadar akan pentingnya membekali anak-anak mereka dengan landasan tauhid/iman yang kokoh, membangun jiwa anak, dan tidak cepat berpuas diri dengan hanya meningkatkan kemampuan kognitif mereka. Sekadar cerdas dan terampil saja belumlah cukup. Mengagungkan kreativitas dapat menjadi bumerang. Pun demikian bila orangtua menilai bakat/kejeniusan secara berlebihan.

Buku ini mengupas tentang dasar keimanan sebelum beragam ilmu dan informasi yang perlu diterima anak. Dengan beragam pemaparan hasil riset yang ilmiah dan kekinian seputar parenting, penulis juga meluruskan beragam kesalahan metode dan teori yang terlanjur populer, padahal hanya mitos. Disebutkan pula buku-buku teori parenting yang menjadi acuan untuk dibaca di halaman 212. Membuat saya ingin membacanya, seperti buku "50 great myths of popular psychology" dan "Science and pseudoscience in clinical pshychology" karya Scott O. Lilienfeld, Ph. D dan kawan-kawan. Juga buku "Sudden genius?" Karya Andrew robinson dan "Talent is overrated" karya Geoff Colvin.

Dibagi menjadi lima bab, dengan judul menjadi orangtua untuk anak kita, membekali jiwa anak, menghidupkan al quran pada diri anak, sekadar cerdas belum mencukupi, dan menempa jiwa anak menyempurnakan bekal masa depan. Bab keempatlah yang paling saya suka, karena dekat dengan latar belakang saya yaitu pendidikan. Seperti penjelasan tingkat kognitif dimulai dari pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisa, dan evaluasi yang dijelaskan di halaman 180-182. Itu adalah taksonomi bloom dengan enam tingkatan kognitif, ya... satu tingkatan tertinggi yang tidak dijelaskan dalam buku ini adalah c6, yakni create (kemampuan anak untuk mencipta). Belum lagi berbagai cara belajar melalui definisi teoritis, fungsional, dan operasional di halaman 186-189. Juga tentang pentingnya bahasa, yang berhubungan erat dengan mental sebuah masyarakat dan merupakan kunci membangun segala kecerdasan di halaman 245. Hampir di tiap bab disuguhi tulisan lepas penulis yang ringan, seperti catatan, renungan, dan artikel yang makin menambah daya tarik buku ini.

Dengan gaya bahasa yang ringan dan menyentuh, berkali saya disadarkan akan hal-hal fundamental dalam parenting. Tidak hanya diterapkan untuk anak sendiri, tapi juga bisa diterapkan untuk anak kecil terdekat seperti ponakan, tetangga, bahkan anak didik jika Anda merupakan pendidik, serta refleksi atas pendidikan orangtua saya dahulu yang membentuk diri saya kini. Bahwa ada masa depan anak-anak yang jauh lebih penting, yakni masa depan akhirat.

Saya suka pada gaya penulis membuka wawasan dan saya merekomendasikan buku ini, sangat layak dibaca. Meski ada sedikit typo, tapi keseluruhan sangat oke.

Saya apresiasi 5 dari 5 bintang.

"Rasa sakit dalam persalinan merupakan sesuatu yang mempunyai tujuan, penuh manfaat, dan memiliki sangat banyak keuntungan, misalnya mempersiapkan ibu untuk mengemban tanggung jawab mengasuh bayi yang baru lahir." (Hlm. 30)

"Sungguh, tugas orangtua dan guru bukanlah mempersiapkan anak-anak memiliki prestasi akademik yang menakjubkan. Tugas mereka adalah membimbing anak agar mencintai ilmu, sehingga dengan kecintaan yang besar itu mereka akan bersemangat dalam belajar." (Hlm. 42)

"Masa kecil anak-anak itu tak lama. Sesudah berlalu masa yang ia selalu merindukanmu, ia akan kuat menapakkan kaki sendiri menyusuri dunia. Pada saatnya kita akan tua, renta, dan sesudah itu berpindah ke alam barzakh. Maka, apakah arti masa kecil anak-anak itu bagimu?" (Hlm. 55)

" Mulai sekarang, simpanlah kata 'seandainya' di laci lemari dapur. Tak perlu dibuka. Kata 'seandainya' hanya bermanfaat untuk merumuskan masa depan, lalu kita secara serius melakukannya. Bukan untuk meratapi masa lalu, bukan pula untuk berpanjang angan-angan." (Hlm. 78)

Meta morfillah

21 August, 2015

[Surat] Mencintai dalam sunyi

Hai, keluarga PAY PusTara!

Konon untuk mengetahui isi hati terdalam dan terjujur manusia, suruhlah ia menulis surat. Well, sebenarnya sudah beberapa waktu saya ingin menuliskan tentang kalian. Namun baru kali ini berkesempatan, dan diingatkan tanpa sengaja.

Berapa lama kita sudah mengenal? Baru setahun. Tha baru kenal kalian tahun lalu, saat ikut #BukberAkbarPAY2014. Sebelumnya pun terancam gagal mengenal kalian (baca postingan tha berjudul 'Berbeda cara, satu muara'). Namun qadarullah, skenario Allah selalu indah. Allah sungguh maha romantis. Dipertemukannya kita dalam bingkai cerita yang terjaga hingga kini. Sempat pula, di awal memutuskan ingin bergabung di regional PAY mana, tha mempertimbangkan untuk ikut seltimpok karena lebih dekat dari bogor. Tapi, kembali... allah beri tha kebimbangan, dan malah mantap memilih pustara, dengan risiko lebih jauh bila ada event yang ingin diikuti.

Jujur, tak pernah ada ekspektasi akan mengenal dekat kalian. Tha hanya berpikir, kita akan bertemu saat event tahunan #BukberAkbarPAY saja. Sempat keluar dari grup, karena berpikir tidak ada lagi kontribusi kebaikan yang tha bisa lakukan di sana. Lalu Allah menakdirkan lain. Didekatkannya tha dengan personil @alladzubrownies. Ada mas bambang yang suka galau dan mendaki gunung. Ada ka tika, sang pattisier hebat yang jago dongeng pula, aktif banget ikut semua event (diam-diam tha banyak belajar dari beliau), dan paling sering tha repotin dengan numpang nginep di rumahnya. Ada ka sizul, yang baik, berlesung pipi, rajin masak, keliatannya lembut tapi doyan makan dan tidur. Ada musril, yang ternyata junior beda jurusan di UNJ yang nyambung diajak ngobrol tentang buku, puisi, dan ngegombal. Ada ka ulya, yang diam-diam menyimpan bakat melawak (terbukti di sepanjang perjalanan di bandung). Ada ka fifi, saudari setanah abang yang bercita-cita nikah di museum tekstil (duluu), yang baik banget selalu sponsorin akomodasi kita-kita dengan minjemin mobilnya. Ada ka agnes, yang mungkin keliatan jutek, tapi sebenarnya welcoming banget, arek suroboyo yang suka minjemin buku. Ada ka risti yang jago mengelola laporan keuangan dan udah ngasih ponakan bernama Elma. Ada ka dina, mojang priangan yang tabah dan sabar banget ngadepin si aji. Iya.. aji.. yang jadi suaminya itu, yang isengnya kebangetan! Ada heru, yang cocok jadi ustad, tapi sebenernya sebelas dua belas sama aji, isengin tha muluk, cuma aja sekarang rada dieman karena mau jadi bapak. Ada ka sipan, yang sering bikin iri dengan keromantisannya bersama bang hendar, tapi kadang bikin tha pengin bikin puisi juga sih haha. Dan ada shanti, wanita galau yang cukup peka haha, lahir sebelum tha, tulisan tangannya bagus, bikin iri euy. Eh... ditambah anggota terakhir, andi... yang rajin beli pulsa sama tha hahha.

Lalu mulai dekat lagi, ikut-ikut event kecil PAY, seperti halal bi halal, main ke penjaringan, dan seringnya kita janjian bareng ke kajian umum. Ada ka ajeng, yang nama aslinya gak ada ajengnya, orang tangerang yang aktif juga kayak ka tika, benar-benar aktivis dia, mungil badannya. Ada ajeng tri utami, yang nolongin dan bareng pulang waktu tha sakit. Ada bang al, penyedia akomodasi baik hati setelah ka fifi, seringnya dia yang menyetir, dan betapa baik hatinya dia mengajak kami beristigfar tiap dia yang nyupir. Astagfirullah, bang al! Tha belom nikaaahh... gak usah ngebut keeek.

Ada bang irvan, yang suka godain tha dan sampai sekarang membuat tha berhutang pulsa 23 ribu, bikin tha ga tenang. Ngomongin bang irvan, tentu ingat cikgu rahma sofyan, sang istri yang bisa buat pangsit ayam enak. Ada ka desri yang sering ngasih ketenangan, walau tha recoki kosannya. Ada ka dewmy, yang berbaik hati anterin tha dengan mobilnya ke stasiun waktu tha sakit. Ada ikri, yang rajin banget nyatet dan nyimpen data anak pustara, suka ngingetin hari miladnya anak pustara, kadang suka ngasih kejutan juga, meski pendiam. Ada ka nana, wanita merah jambu yang sayang sama anak-anak, sering bantuin transportasi dengan mobil dari kantornya. Ada julia, saudarinya ka nana yang cantik, bantuin bikin brownies. Ada ka suci, yang tha kagumi banget cara kerja dan linknya saat #BukberAkbarPAY2015 lalu, padahal doi sibuk banget, tapi donasi kencang dari doi, moga berkah dan mabrur ya kaa naik hajinya. Ada putri, yang ngenalin istilah baru ke tha, 'BLAEM', yang bikin tha ketawa mulu tiap bacanya, ngebayangin lidahnya keluar pas ngomong itu. Oh iya, kalau ngomongin putri, pasti inget fera, mereka kayak yaya dan ying di film boboy boy, tak terpisahkan, aktivis QGen yang suka ngingetin acara AQL.

Ada kiki cikicikibumbum yang bocah abis, suka berbau-bau korea, dan manggil tha ka minions gara-gara pakai baju seragam bukber hijau dipadupadan kuning. Padahal kan minion biru kuning, bukan hijau kuning. Ada salma yang kepengen banget jadi dokter gigi, sering bikin tha iri sama postingan pathnya yang isinya jalan sama makan kekinian muluk hahaha. Ada kakaknya salma, vira sang dokter, yang sampai saat ini tha ga bisa bedain muka mereka berdua kalau lagi ngumpul, kayak kembar sih. Ada taju, yang kadang bikin malu tha kalau tha ngeluh tentang jarak. Bayangin aja, dia jauh-jauh dari anyer datang ke jakarta, pergi pagi pulang pagi, huwooo saluutt!! Ada ka jati yang konsisten dan kerjanya oke bingits. Ada ka endah yang sering sharing reminder di grup riyadhoh. Ada faris yang giat banget cari ilmu dan rajin silahturrahim. Ada desa yang pipinya ngangenin. Ada ade rahma yang suka sharing ilmu agama juga, meski kadang tha ngerasa berat bahasannya tapi tetap berguna. Ada yang baru-baru tha kenal, meski belum dekat banget kayak bang dul, endra imut, iqbal, alfi, lisa, tari, arif dan sisanya di grup yang mungkin suka pengen jitak tha karena berisik banget di grup. Iya.. maafin yaa tha rusuh.

Eh ada lagi, dua orang yang mau dilempar ke laut, tapi laut pun nolak. Iya.. si upil ipil. Chilman wong tegal yang jago bully, baik hati ngasih buku ke keluarga pustara, rajin ke masjid ngumpulin sandal, dan isengnya gak ketulungan. Sama adiknya si ipil Fahmi, yang suka deramah, terobsesi jadi artis, ringan tangan, suka mengalah dan mudah tersentuh. Coba aja sentuh, mudah kan?

Yaa begitulah... warna-warni kalian yang mewarnai hidup tha setahun belakangan ini. Pernah ada rasa ingin menjauh dan menyerah dalam ukhuwah, saat hati tha terkotori dan embusannya terasa asam dan berat. Rasanya ingin menghilang. Tapi, kalian tetap membuat tha bertahan. Meski kadang hati sedang gundah, mata sembap, tangis menyesakkan dada, membaca chat kalian kadang menerbitkan senyum yang nyaris hilang, mengingatkan syukur yang nyaris terlupa. Semoga kelak terbangun menara-menara cahaya untuk kita di surga, sebab kita saling mencinta karena Allah.

Pegang tanganku, jangan pernah lepaskan... bila kumulai lelah... lelah rasa bersinar.
Remas sayapku, jangan pernah lepaskaaan... bila kuingin terbang... terbang meninggalkanmu.

Uhibbukum fillah till jannah, insyaa allah...

Meta morfillah

Bersyukur

"Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha kaya lagi Maha terpuji." (Q. S. Luqman [31]: 12)

Satu...satu... cintai anak yatim
Dua...dua... sayangi duafa
Tiga...tiga... bantulah sesama
Buat mereka tersenyum

Lagi... lagi... saya tanyakan, yakin buat mereka tersenyum? Bukannya kamu sedang mencoba membuat dirimu sendiri yang tersenyum? Hehe... senyum itu menular, loh! Kamu yang lagi sekesal, sesedih, sekecewa apa pun, kalau disenyumin orang, pasti senyum lagi kan. Efek mirroring (cermin) terhadap perilaku orang di sekitar kita. Gak percaya? Coba saja, kamu mengobrol sama temanmu berhadapan. Lalu temanmu tanpa sadar mengusap ujung matanya di tengah pembicaraan, pasti kamu tanpa sadar akan mengikutinya. Mengusap ujung mata kamu juga, khawatir ada belek.

Balik lagi, sesungguhnya dengan membantu orang lain, kamu itu sedang membantu dirimu sendiri. Membahagiakan, memuliakan orangtua, pasangan, anak, dan sekitar, bukankah sesungguhnya malah membahagiakan dan memuliakan dirimu sendiri? Contohnya, kamu mengurus ibumu yang sedang sakit dengan rida dan santun. Orang lain melihatmu sebagai anak yang baik dan mulia. Kamu berterimakasih pada pasangan dengan memberinya bunga sebagai hadiah. Orang lain akan melihat kamu begitu romantis, bahagia, dan mulia. Bukankah sesuai dengan firmanNya di atas. Bahwa segala bentuk kesyukuran kita, akan berpulang kembali pada diri kita. Dan bila kita tidak bersyukur, Allah juga gak rugi. Gak peduli juga.

Memang mulia memberikan senyum pada orang lain. Sebab senyum adalah sedekah paling mudah dan murah. Akan tetapi, lebih mulia bila kita yang membuat mereka tersenyum. Ada hal yang kita upayakan. Upaya itu... bila kita sadari, adalah upaya untuk diri kita sendiri. Syukur, dalam bentuk berbagi sekali pun... tak akan mengurangi. Sungguh, ia akan menambah hal-hal yang hakiki. Hal-hal yang jauh lebih bernilai dari uang.

Jadi, sudah sejauh mana syukurmu hari ini? Yuk ucap alhamdulillaaahh ala kulli hal...

Meta morfillah

Rida

...telah Kuridai Islam itu jadi agama bagimu... (Q. S. Al Maidah [5]: 3)

Ada banyak agama di dunia, tapi hanya Islam yang diridai Allah. Apa sebenarnya yang dimaksud ridha?

Menurut KBBI tahun 1990 warisan bapak saya, rida itu memiliki dua arti. Pertama artinya rela, suka, senang hati. Arti kedua adalah perkenan, rahmat. Dapat disimpulkan bahwa sesuatu yang diridai adalah sesuatu yang diperkenankan, diizinkan, dirahmati, dan dijalankan dengan kerelaan dan suka hati. Tanpa ada beban.

Lalu saya teringat percakapan dengan seorang kawan.

"Aku sekarang revisi doaku, Met."

"Hah? Kenapa?"

"Dulu, aku selalu mendikte Allah begini begitu, sesuai keinginanku. Lalu saat Allah tidak mengabulkannya dan memberikan pilihan lain yang bukan pilihanku, aku agak sulit menerimanya. Berat, Met."

Aku diam. Masih tak paham maksudnya. Apa yang direvisi?

"Lalu aku sadar, bahwa aku ternyata tidak rida terhadap ketetapanNya. Ada yang salah pada doaku. Maka sekarang aku ganti doaku menjadi 'Ya rabb, ini pilihanku, maka ridailah. Bila ini kurang baik menurutMu untukku, maka buatlah aku rida terhadap keputusanMu. Agar tak berat hatiku menjalaninya.' Begitu, Met. Aku meminta Allah meridai dan membuatku rida pula. Sebab, bila hanya Allah yang meridai, tapi kita menjalani takdirnya tidak rida, lama-lama kita akan lupa bersyukur."

Aku manggut-manggut sambil berpikir. Lalu berkata,

"Iya juga ya, rida itu harus dua arah. Harus saling. Biar seimbang, keduanya tidak merasa berat sebelah. Pantas aja ada doa roditubillahi robba, wabil islamidina, wabimuhammadinnabiyya warasuula."

Nah, sejauh ini... sudahkah kamu maknai arti rida? Sudahkah kamu merasa rida dengan jalan hidupmu yang bagaikan benang kusut bila kamu memandangnya dari sisimu yang di bawah, tapi merupakan sulaman indah bagi Allah yang di atas arsy dan Maha Tinggi? Bila belum, mungkin kita perlu mengkaji lagi hati kita, keimanan kita yang compang-camping. Mengumpulkan serpihan hati yang terserak agar menjelma rida kita. Rida atas ketetapanNya.

Bagaimana? Mau kan belajar bersamaku?

Meta morfillah

19 August, 2015

[Review buku] Yotsuba&! Vol. 8, 11, 12

Judul: Yotsuba&! Volume 8, 11, 12
Penulis: Kiyohiko azuma
Penerbit: PT Elex media komputindo tahun 2009
ISBN: 978 979 27 4914 4

Di buku kedelapan, Yotsuba bermain kata bolak-balik dan sempat mengatakan Asagi jelek di restoran. Padahal yang dimaksud adalah kebalikannya. Ada pula pengalaman Yotsuba dan ayah yang mendatangi bazar sekolah fuka untuk makan kue buatan fuka. Cuaca yang berubah ternyata menjadi topan. Tapi tidak membuat Yotsuba berhenti untuk tetap keluar dan bermain ke rumah keluarga ayase, sampai ia terbawa angin. Yang paling Yotsuba suka adalah saat ikut perayaan di daerahnya, karena ia bisa memakai happi dan mendapat camilan di kuil. Meski sebelumnya ia harus berjuang menarik dashi bersama anak-anak lain.

Di buku kesebelas, Yotsuba berkenalan dengan kakek pembuat udon. Ia melihat cara pembuatan udon yang menarik. Ayah juga memberi kejutan dengan memesan pizza untuk kali pertama dan membelikan Yotsuba sebuah kamera. Apa saja dipotret olehnya, bahkan seorang bapak berwajah seram mirip yakuza. Kembali Yanda datang dan menjahili Yotsuba, kali ini dengan mainan gelembung sabun. Tapi, di buku ini kali pertama Yotsuba merasa sedih hingga lupa tersenyum. Hal itu disebabkan rusaknya Juralmin karena digigit anjing. Beruntung ada Asagi yang mampu 'mengoperasi' Juralmin, sehingga Juralmin bisa berbicara kembali.

Di buku kedua belas, Yotsuba belajar membuat simpul tali bersama Torako, lalu bermain cat sehingga seluruh rumah terkena bercaknya. Meski Yotsuba sedikit nakal, ayah tetap baik dan membelikan Yotsuba helmet sepeda yang cantik. Fuka dan nona salah pun mengajak Yotsuba merayakan halloween dan mendandaninya sebagai labu. Yotsuba tampak imut dan menggemaskan dalam kostum labunya, sehingga banyak yang memberinya kue dan permen. Hal yang paling menyenangkan adalah akhirnya Yotsuba pergi berkemah dan menginap satu malam. Untuk kali pertama, Yotsuba belajar memasang tenda dan memasak kare bersama ena dan miura. Meski awalnya Yotsuba sedikit kesal karena Yanda ikut berkemah, tapi itu tidak berlangsung lama. Yanda membuat sesuatu yang konyol dan membuat Yotsuba tertawa kembali.

Aah... Yotsuba, kepolosan dan keceriaannya membuat saya iri. Nikmat sekali hidup dengan sudut pandang yang dimiliki Yotsuba. Serasa tak ada beban. Terlebih didukung lingkungan yang baik dan memahami dirinya. Banyak belajar dari sifat positif Yotsuba. Be childlike, not childish!

Saya apresiasi 5 dari 5 bintang.

Meta morfillah

[Review buku] Yotsuba&! Vol. 5-7

Judul: Yotsuba&! Volume 5-7
Penulis: Kiyohiko azuma
Penerbit: PT Elex media komputindo tahun 2008
ISBN: 978 979 27 2083 9

Di buku kelima, ada 7 petualangan yotsuba yang sayang untuk dilewatkan. Yotsuba bermain dengan kardo, yang sesungguhnya adalah miura yang memakai kardus daur ulang dan berpura-pura menjadi robot. Lalu petualangan yotsuba dalam membantu ibu di rumah ayase. Berkenalan dengan Yanda, adik kelas ayah yang menyebalkan bagi Yotsuba. Lalu petualangan melihat rasi bintang bersama ayah, jumbo, fuuka, ena, dan miura di taman alami. Akhirnya yotsuba memiliki jas hujan, dibelikan oleh ayah. Kemudian menghabiskan waktu libur ke laut, melihat ubur-ubur, mencari kerang, membangun istana pasir dan menunggangi ombak.

Di buku keenam, Yotsuba belajar daur ulang bersama ena. Lalu Yotsuba punya sepeda baru, dibelikan sama ayah. Yotsuba berlatih sampai bisa dengan ayah. Hingga ia dibolehkan ikut Asagi dan Torako ke tukang fotocopy, difoto di atas sepeda oleh Torako sampai jatuh berguling-guling--tapi tidak menangis--sampai mengantarkan susu ke sekolah fuuka, meski Yotsuba belum punya SIM! Jadi Yotsuba kena hukuman "Dalam Masa Disiplin" dari ayah. Tapi tak lama, hukuman itu dicabut oleh ayah karena Yotsuba banyak membantu ayah dan jumbo membuat rak buku.

Di buku ketujuh, Yotsuba membuat telepon benang bersama Ena, sehingga bisa berbicara dari rumah ke rumah. Tak lupa mengucapkan selamat hari lansia pada nenek melalui telepon. Yotsuba juga terkena demam, sehingga batal jalan-jalan ke peternakan. Esoknya, yotsuba belajar membuat kue bersama fuuka dan kaka salah--temannya fuuka. Yotsuba juga mencoba pengalaman kali pertama menjadi suruhan ayah, belanja ke toko sendirian. Hari kamis, ayah menepati janjinya mengajak Yotsuba ke peternakan melihat sapi. Ramai-ramai, bersama jumbo dan juga Yanda yang tiba-tiba cuti demi jalan-jalan, mereka belajar memerah susu sapi. Tentu saja, selalu ada pertengkaran antara Yotsuba dan Yanda. Tapi, semua itu tetap menyenangkan bagi Yotsuba.

Aah.. saya makin penasaran dengan kisah hidup Yotsuba sebenarnya. Anak siapakah dia? Lalu saya makin jatuh hati dengan karakter ayah yotsuba yang begitu penyayang. Saya apresiasi 5 dari 5 bintang.

Meta morfillah

[Review buku] Yotsuba&! Vol.1-3

Judul: Yotsuba&! Volume 1-3
Penulis: Kiyohiko azuma
Penerbit: PT Elex media komputindo tahun 2007
ISBN: 978 979 27 1435 7

Komik ini merupakan komik serial yang menceritakan keseharian seorang anak perempuan berusia 5 tahun, bernama Yotsuba.

Di buku pertamanya, menceritakan tentang kepindahan Yotsuba ke kota baru. Lalu perkenalan dengan tetangga sebelah rumah yang baik hati. Ada Kak Asagi yang cantik, kak Fuuka yang sigap, dan Ena yang lembut. Juga ada Jumbo, yang bernama asli Takashi, teman ayah yotsuba yang bertubuh besar.  Keseharian yotsuba menjadi begitu menarik. Ia mengenal ayunan, eskalator, hingga AC. Takut pada balon pengusir burung. Sungguh, membuat saya tertawa lepas membaca tingkah dan mengenali karakter tokoh di komik ini. Sedikit yang menyentuh adalah saat part ayah yotsuba mengakui bahwa yotsuba adalah anak yang dipungutnya di luar negeri. Tapi juga membuat haru dan membuat saya belajar dari karakter yotsuba, persis seperti kata ayahnya, "Tenang saja, anak itu menikmati segala sesuatu. Yotsuba itu tak terkalahkan."

Di buku keduanya, Yotsuba berkenalan dengan Miura. Miura adalah teman sekolah Ena yang berwatak jujur, blak-blakan, perkataannya kadang menyakitkan tapi sebenarnya baik. Lalu ada kisah yotsuba yang terpengaruh film televisi dan berupaya membalas dendam dengan pistol air. Pengalaman menggambar bersama, membeli kue, istilah baru donmai, menangkap kodok, dan menerima oleh-oleh. Juga ada jalan-jalan ke kolam renang. Ternyata, yotsuba pandai berenang loh! Tidak seperti ayah, jumbo dan fuuka. Oh ya, jumbo sudah menunjukkan ketertarikannya pada kak asagi, tapi dia malu mengakui dan selalu memanfaatkan yotsuba untuk mengajak kencan asagi. Dan selalu gagal. Hahaha...

Di buku ketiga, yotsuba berkenalan dengan torako, teman kuliah asagi yang sering mengantar jemput asagi dengan mobilnya. Lalu yotsuba dan fuuka mengetahui sebuah fakta baru, bahwa jumbo adalah tukang bunga. Ia bekerja di toko ayahnya, dan mereka pun berkenalan dengan ayah jumbo yang badannya tidak sebesar jumbo. Ayah jumbo begitu baik, memberikan yotsuba banyak bunga gratis, terutama bunga matahari kesukaan yotsuba. Sesampainya di rumah, rumah yotsuba bagaikan surga, sebab banyak sekali bunga. Lalu oleh ayahnya, yotsuba disulap menjadi malaikat bunga, yang bertugas membagikan bunga ke orang lain. Yotsuba senang mendapat tugas itu. Setelahnya, yotsuba diajak jalan-jalan ke kebun binatang bersama ayah, lalu puas bermain di pesta kembang api bersama ayah, jumbo, ena, dan miura.

Saya suka sama karakter yotsuba. Ia begitu positif, optimis, selalu ceria, dan menyenangkan. Saya apresiasi 5 dari 5 bintang.

Meta morfillah

18 August, 2015

[Review buku] Cinta tak pernah tepat waktu

Judul: Cinta tak pernah tepat waktu
Penulis: Puthut EA
Penerbit: Manasuka
Dimensi: 278 hlm, cetakan ketiga april 2013
ISBN: 978 602 82663 6 9

Ini adalah novel pertama Puthut EA yang saya baca. Cerpennya pun hanya sesekali saya baca. Jadi saya belum terlalu tahu gaya menulisnya. Ternyata setelah membacanya, saya menjadikan Puthut EA sebagai salah satu penulis kesukaan saya. Mulai sekarang.

Jangan berharap ada kata-kata 'cinta tak pernah tepat waktu' dalam cerita ini. Itu hanya judulnya saja. Selain itu, jangan harap buku ini berisi kalimat-kalimat puitis romantis nan syahdu, justru kalimatnya begitu jujur, lucu, tapi tetap terasa romantis! Dengan menggunakan sudut pandang orang pertama, seorang lelaki yang misterius hingga akhir--sebab tak pernah disebut namanya--menceritakan kisah percintaannya yang selalu berakhir tak indah, sebab seringkali tak tepat waktu. Meski konflik utamanya adalah tokoh aku dengan perempuan-perempuan yang menyukai, disukai, dan di sekitarnya, tapi buku ini juga berkisah tentang keluarga, karir, perjalanan hidup, dan banyak pengetahuan baru yang saya dapatkan dari tokoh si aku. Seperti bayangan pekerjaan semacam penulis, editor, atau ghost writer.

Tentunya, buku bagus selalu mengantarkan kita ke buku bagus lainnya. Beberapa kali, penulis menyebut nama penulis hebat lain di tanah air dan luar, beserta karyanya--bahkan penulis menjadikan dirinya sendiri sebagai tokoh pelengkap di cerita ini. Ending yang begitu menyesakkan hati, sekaligus membuat saya tertawa pada kedudukan penulis yang seakan lebih rendah dari tokoh utama di novel ini.

Ingin sekali saya mengapresiasi novel ini dengan 5 bintang. Tapi saya terpaksa harus menguranginya, sebab saya kecewa menemukan banyak typo dan kesalahan teknik penulisan lainnya. Sampai-sampai--dan ini sangat jarang saya lakukan--saya mengecek siapa editor bukunya. Tahukah Anda, siapa editornya? Salah satu penulis hebat juga bernama Eka kurniawan. Iyaa... penulis novel 'Cantik itu luka'! Oh my Allah... saya jadi makin kecewa. Kok penulis sekaliber dia luput akan banyak kesalahan si Puthut EA (っ╥╯﹏╰╥C). Akhirnya saya hanya bisa menghibur diri saya, mungkin eka dan puthut khilaf mengirim dokumen naskah yang sudah direvisi--seperti pengalaman saya saat jadi proofreader dan mengedit naskah bersama teman saya untuk kumpulan cerpen kami.

So, saya mengapresiasi 4 dari 5 bintang.

"Kamu jangan merasa sebagai satu-satunya orang yang menderita. Jangan berlebihan. Juga dalam menyikapi penderitaan. Selalu ada usaha-usaha dan kerja-kerja kecil yang bisa dilakukan. Kamu hanya butuh sedikit membuka mata dan telinga. Lihat, lihatlah... masih banyak orang yang bekerja dengan tulus. Masih banyak orang yang saling berbagi kebahagiaan dan harapan. Ikut, yuk..." (hlm. 112)

"Kalau ada sesuatu yang mengganjal dirimu karena masa lampau, kupikir kamu harus menyelesaikan itu dulu." (Hlm. 148)

"Ia, kenangan, bisa datang dari apa saja, dari mana saja, seperti setan. Ia bisa menyentak ketika kita sedang mengaduk minuman. Ia bisa menerabas hanya lewat satu adegan kecil di film yang sedang kita tonton. Ia bisa menyeruak dari sebuah deskripsi novel yang sedang kita baca. Ia bersemayam di mana-mana, di bau parfum orang yang bersimpangan dengan kita, di saat kita sedang termangu di pantai, di saat kita sedang mendengarkan lagu." (Hlm. 186)

"Kenangan dan kesedihan. Dua bersaudara yang aku tidak pernah tahu sampai detik ini, yang manakah yang lebih tua, dan yang mana yang lebih muda." (Hlm. 188)

"Jangan pernah mengemis pada lembaga donor, selagi kawan-kawan kalian masih bisa membantu." (Hlm. 241)

Meta morfillah

[LBBK] Bosan

Hampir seminggu ini, Putri Salju merengut saja. Kerjanya hanya diam. Tidak lagi bersemangat menyambut ajakan bermain teman-teman salju lainnya. Padahal pegunungan Rocky terlihat begitu menawan di musim dingin seperti ini. Persis seperti surga salju—sebutan dari orang-orang Kanada yang sering menjadikan wilayah ini sebagai destinasi utama liburan musim dingin mereka karena keindahannya.

“Apa yang membuatmu resah, Sayang?” tanya Ibunya.

“…”

“Apa… coba katakan pada Ibu, barangkali Ibu bisa membantumu.”

Mata Putri Salju yang putih—dan memang seluruh tubuhnya putih, sebab ia tercipta dari salju—menatap mata ibunya—yang juga putih—lamat-lamat. Seperti memutuskan, menimbang dan akhirnya mengatakan hal yang meresahkannya dengan ragu-ragu.

“Aku bosan, Ibu.”

“Bosan?”

Tidak langsung menjawab, Putri Salju malah melempar pandangannya ke lazuardi. Seakan mencari jawaban di sana, lalu kembali menatap mata ibunya.

“Aku sudah dewasa, Ibu. Aku bosan terus berada di sini. Aku ingin menjelajah dunia. Aku ingin melihat pemandangan yang lain, selain Padang Rumput Kanada dan Pegunungan Rocky ini. Aku ingin pergi, Ibu…” keluhnya.

Ibunya diam. Menelaah perkataan anak semata wayangnya. Memang benar, Putri Salju telah dewasa dan belum pernah sekali pun ia beranjak dari tempat tinggalnya sejak lahir. Terlebih semenjak ayahnya menghilang dalam badai dahsyat di Rusia lima tahun silam.

***

“Apa kausudah siap, Sayang?”

“Siap, Ibu! Tak pernah sesiap ini. Oh, Ibu… aku sangat bahagiaaa. Terima kasih telah mengizinkanku bepergian, Ibu. Aku tak akan lama. Aku janji!”

Binar mata Putri Salju begitu berkilau, menandakan ia sangat-sangat bahagia, persis seperti yang dikatakannya. Ibunya tersenyum, meski menahan rindu yang belum-belum sudah memenuhi rongga dadanya. Melesakkan hatinya. Menimbulkan sensasi yang sama saat ayah Putri Salju pamit ke Rusia lima tahun silam. Menerbitkan keraguan yang langsung ditepisnya demi melihat wajah bahagia sang putri.

Ah, ini hanya kekalutan seorang ibu yang akan ditinggal pergi anaknya. Sungguh, putriku ini pandai menjaga diri dan ia pasti akan menepati janjinya. Pulang secepatnya.

Berangkatlah Putri Salju dengan menumpang pada awan dan angin. Tujuan utamanya adalah Harbin, Cina. Ia begitu penasaran ingin melihat negara dengan jumlah populasi manusia terbanyak di dunia tersebut. Ia ingin merasakan keramaian, sebab ia sudah terlalu bosan dengan sepi di Kanada. Sejujurnya, ia takut berkawan dengan kesepian yang lama-lama membungkusnya seperti kepompong membungkus ulat. Ia takut kesepian itu berubah menjadi absolute, lalu menjelma kekosongan. Sama seperti kekosongan hatinya semenjak kepergian ayahnya lima tahun silam.

***

Harbin merupakan kota terbesar di dataran Cina Timur Laut, terletak di Provinsi Heilongjiang. Pada musim dingin seperti ini, Harbin juga menjadi destinasi utama liburan rakyat Cina—persis seperti pegunungan Rocky di Kanada, tempat tinggal Putri Salju. Keindahan serta keanggunan pusat-pusat rekreasi bernuansa musim salju begitu memanjakan mata pengunjungnya. Terutama sebuah lokasi perkampungan bernama Zhong Guo Xiang Xue atau dikenal dengan nama China’s Snow Town –membentang pada pegunungan dengan ketinggian mencapai lebih kurang 1.500 meter di atas permukaan laut—yang menjadi kebanggaan bagi segenap masyarakat di Provinsi Heilongjiang. Salju tebal yang menutupi hampir seluruh permukaan kota itu kabarnya mampu bertahan hingga tujuh bulan lamanya. Membuat Putri Salju merasa bagaikan di dalam negeri dongeng.

“AAAAAA… Akhirnya aku tiba di Cina. Yes…yes…yes!!”

Putri Salju melonjak-lonjak gembira. Begitulah ia, begitu ekspresif dalam mengungkapkan perasaannya, baik sedih atau pun senang. Ia menyapa semua orang yang ada di sana, meski ia tak mengenalnya. Meski dingin, hati mereka tak ikut mendingin. Mereka membalas sapaan Putri Salju dengan senyuman hangat mereka. Begitu sibuknya Putri Salju menyapa orang-orang, hingga ia tak melihat ada seorang lelaki di sebelah kanannya yang sedang termenung menatap kereta kuda. Ia pun tak sengaja menabrak lelaki tersebut dan menyebabkan keduanya terjatuh. Cepat-cepat ia berdiri dan meminta maaf.

“Ah, maafkan aku. Aku tak melihat Anda.”

Putri Salju membungkukkan punggungnya sebagai tanda bahwa ia amat menyesal.

“Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja, kok. Kali lain hati-hati.”

Suara lelaki itu seperti angin musim semi, mengalirkan ketenangan di telinga Putri Salju. Tanpa sadar, Putri Salju mendongak dan menangkap seraut wajah sendu seperti musim gugur. Pada detik itu, Putri Salju jatuh hati. Lalu sang lelaki berlalu begitu saja, meninggalkan Putri Salju yang membeku.

***

Segalanya tak lagi menarik bagi Putri Salju. Semenjak perjumpaan tak sengaja dengan lelaki berwajah musim gugur bersuara musim semi itu, Putri Salju merasakan hari-harinya kembali membosankan. Ia sendirian. Ia ingin ditemani. Ditemani lelaki itu tepatnya. Ke mana lelaki itu? Rasanya ia ingin menjadi bayangan lelaki itu. Mengikutinya ke mana pun ia melangkah.

***

Namanya Zhong Wan. Ia naik kereta untuk kembali ke tempat tinggalnya di Indonesia.
Informasi itu ia dapatkan dari tukang kereta kuda di depan penginapannya, saat ia melihat lelaki itu pergi menggunakan kereta kuda. Putri Salju merasa inilah takdirnya. Bukan hal yang kebetulan ketika orang yang kaucari di antara milyaran manusia tiba-tiba kaulihat lagi, kan?

Putri Salju menetapkan pilihan hidupnya. Ia akan ke Indonesia!

***

Tanjung Priuk dipenuhi salju. Hal ini tidak biasa! Jamal merutuk fenomena ganjil ini, sebab ia menjadi kesusahan dalam beraktivitas. Salju itu boro-boro makin menebal, ia malah mencair dengan cepatnya saat terjatuh di aspal Tanjung Priuk yang panas. Hal ini menyebabkan jalanan licin dan volume air bertambah. Lebih parah dari banjir rob, keluhnya. Pusing dia memikirkan bagaimana ia harus mengambil buku dan mengantarkan beragam paket ke pelanggannya bila mobilisasinya terhambat seperti ini. Fenomena ini mengingatkannya pada cerita pendek karya Sungging Raga berjudul Salju di Lempuyangan. Di cerita itu, dikatakan salju tercipta karena ada orang mencinta yang berkorban atau tersakiti. Ah, dunia sudah semakin tak waras. Kalau di Tanjung Priuk ini, siapa coba yang masih berkorban demi cinta begitu? pikirnya bosan.

***

Meta Morfillah
#ditulis dalam kurun kurang dari 1 jam tanpa edit apalagi baca ulang, diniatkan sebagai peramai LBBK, bukan untuk menang sebab saya tahu diri ini begitu jelek. Inspirasi dari dongeng rusia di film masha & the bear, cuplikan film assalammualaikum beijing, dan cerpen sungging raga berjudul Salju di Lempuyangan. Terima kasih, wahai diri. Teta bangga sama kamu!

17 August, 2015

Mengakar

Begini, aku ingin berkata sesuatu. Tepatnya mengeluarkan sedikit pikiran yang membelukar bahkan mengakar pada otakku...

Pernahkah kaumerasa saat berkumpul bersama orang-orang yang kausayangi, kamu merasa menjadi orang yang paling bahagia. Lalu saat waktu bersama telah habis, kamu kembali pada kesendirian dan kesibukan masing-masing, seketika kamu merasa menjadi orang paling merana. Kesedihan seakan-akan menyergap dan mengejutkanmu. Seakan tak ada bekas senyum apalagi tawa lima menit sebelumnya. Begitu cepatnya hatimu berbalik. Hingga kamu meminta pertolongan tuhan untuk memegangi hatimu. Lucu, bukan?! Bahkan hatimu bukanlah milikmu seutuhnya.

Pikiranmu berkhianat. Lalu kamu bertanya, apakah ini konspirasi sepi yang berpadu dengan luka yang masih menganga? Ataukah kesendirian sebagai pemicu kenangan? Kamu merasa begitu naif. Begitu bodoh sebab tak mengenal dengan baik dirimu sendiri, padahal ada banyak orang yang mengaku mengenalmu dengan baik. Bahkan terkadang jauh lebih baik dari dirimu, hingga mereka merasa berhak menentukan hidupmu, meski kamulah yang menjalaninya. Tapi kamu dengan begitu yakin, meyakini bahwa mereka bahkan tak memahamimu sedikit pun.

Lalu pada akhirnya kamu pasrah dipeluk hujan di kotamu. Tangisanmu tersamar di antara bulir air yang jatuh dari langit. Pintamu menjadi begitu sederhana, setelah beragam ruwet pikiran dan pertanyaan yang menuntut jawaban.

"Semoga semua rasa yang melemahkanku ini ikut luruh bersama rinai hujan."

Tanpa peduli apakah semua pertanyaanmu mencapai jawabannya. Bahkan tak masalah bila pertanyaan tersebut memanglah tidak diciptakan untuk terjawab. Semua meluruh. Tinggallah secercah benih harapan yang mungil, akan janji pengharapan kehidupan esok yang lebih baik.

Meta morfillah

16 August, 2015

[Review buku] Warna tanah

Judul: Warna tanah
Penulis: Kim Dong Hwa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Dimensi: 320 hlm, 24 cm, cetakan pertama juni 2010
ISBN: 978 979 22 5927 8

Novel grafis ini bercerita tentang dunia dalam mata dua perempuan dengan generasi yang berbeda. Dari sudut pandang Ehwa, gadis cilik yang berusia 7 tahun, dan ibunya, janda muda kota Namwon. Novel ini adalah seri pertama dari trilogi indah tentang cinta pertama dan kesempatan-kesempatan kedua.

Ehwa memulai perjalanannya menjadi seorang wanita dengan perlahan menyadari tentang seksualitas. Pertanyaan polos, lucu, namun membutuhkan jawaban cerdas seperti 'mengapa anak wanita tidak memiliki burung?'   dan lainnya. Secara cerdas penulis menggambarkan konflik batin dan ragam pertanyaan di benak anak perempuan usia 7 tahun dengan kultur korea yang cukup puitis--samar mengingatkan saya pada puisi kekasih musashi di novel musashi karya penulis jepang. Ada banyak senyum, saat saya mengikuti perubahan ehwa di tiap musim hujan yang semakin matang dalam pikiran mau pun tubuh. Begitu pula dengan tokoh biksu lelaki cilik yang menjadi cinta pertamanya. Bagaimana mereka khawatir saat perempuan mengalami haid pertama dan lelaki mengalami mimpi basah pertama. Kenaifan, keluguan dan keingintahuan begitu terasa secara natural... pada tokoh anak-anak di novel ini.

Sedangkan dunia dalam mata ibunya Ehwa, adalah kehampaan yang membuatnya merindukan hangat dekapan lelaki. Hingga ia bertemu dengan si tukang gambar dan jatuh cinta. Keterkaitan batin ibu dan anak pun menjadi salah satu hal yang membuat novel ini menarik. Tanpa segan ibu Ehwa membagi perasaannya pada Ehwa, meski Ehwa belum sepenuhnya paham akan kalimat puitis sang ibu. Bersama, mereka saling mendukung dalam menghadapi dunia dan sekitar yang tidak selalu ramah.

Sebab ini novel grafis, membuat saya tak terlalu lama menyelesaikannya. Mirip seperti komik. Sayangnya, di beberapa part mengandung konten dewasa. Tapi secara keseluruhan, saya suka dengan karya tulisan mau pun gambar sang penulis. Seri pertama novel ini begitu identik dengan hujan dan bunga. Saya menyukai filosofi bunga yang dijelaskan di sini, seperti bunga labu putih yang mekar setiap senja saat matahari terbenam mewakili perasaan sang ibu dalam menanti tukang gambar. Bunga kamelia yang melambangkan cinta bertepuk sebelah tangan, sebab mekar sendiri di musim dingin saat kupu-kupu tak mau keluar menghampiri bunga. Sedangkan hujan melambangkan potensi kekuatan kehidupan. Di tiap musim hujan ehwa kecil bertumbuh semakin matang. Tak lupa beragam ungkapan khas korea seperti menata sepatu, sebelah menghadap luar dan sebelahnya lagi menghadap dalam, menandakan hati sang ibu yang galau (hlm. 57).

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

"Sebuah tatapan dapat mengungkapkan kedalaman cinta seseorang terhadap yang lain." (Tukang gambar, hlm. 53)

"Jikalau aku tidak bisa menolong diriku sendiri, bagaimana aku bisa menolong orang lain?" (Chung Myeung biksu cilik, hlm. 145)

Meta morfillah

[Review buku] Cinta yang hilang

Judul: Cinta yang hilang
Penulis: O. Henry
Penerbit: Serambi ilmu semesta
Dimensi:118 hlm, cetakan I Februari 2011
ISBN: 978 979 024 241 8

Buku ini memuat tujuh cerita pendek terbaik O. Henry. Semuanya berlatar New York abad kedua puluh dan bertemakan kisah cinta. Bagi saya, cerpen dalam buku ini begitu lucu, meski satire dan selalu memberikan ending yang mengejutkan. Twist yang tak tertebak. Kadang membuat saya tersenyum ironis, menanggapi endingnya. Tema keseharian namun diracik dengan detail yang begitu deskriptif membuat cerita ini tidak membosankan. Bahkan saya teringat film series Alfred Hitchkock di Fox Crime, persis seperti itu ceritanya. Hitam, putih, terlihat biasa, datar, namun saat di ending mencengangkan!

Saya suka semua ceritanya. Terharu pada kisah yang berjudul 'Hadiah kejutan' dan 'Demi Cinta' yang menceritakan pengorbanan sepasang kekasih yang saling mencintai. Tersenyum sedih pada kisah yang berjudul 'Cinta yang hilang' dan 'Kenyataan adalah sandiwara' yang menceritakan kesetiaan salah satu pihak yang mencintai. Lalu terbahak membaca kisah 'Bukti Cerita', 'Semata-mata bisnis' dan 'Perempuan dan suap menyuap' yang menceritakan kekonyolan dan semacam senjata makan tuan.

Agak bingung juga, karena membaca riwayat penulisnya yang asli Amerika Serikat, tapi tulisannya terasa lebih Prancis. Juga ada kesan religi tentang Islam, seperti di halaman 24 yang berbicara tentang Raja Sulaiman dan Ratu Sheba, serta di halaman 93 tentang buku-buku Islam. Apakah penulisnya seperti Leo Tolstoy yang--katanya--beragama Islam? Haha.. ini hanya praduga saya.

Secara cover, jujur saya kurang suka. Amat sangat terkesan jadul dan murahan. Tapi, isinya memang bagus.

Saya apresiasi 5 dari 5 bintang.

Meta morfillah

15 August, 2015

[Review buku] Tuan Ken(tut)

Judul: Tuan Ken(tut)
Penulis: FX Rudy Gunawan
Penerbit: GagasMedia
Dimensi: viii + 276 hlm, 13 x 19 cm, cetakan pertama 2013
ISBN: 978 979 780 664 4

Siapakah tuan ken? Jika kamu mendengar suara pess halus yang diiringi bau kentut super busuk setelahnya, mungkin kamu telah bertemu dengan tuan ken.

Novel ini menceritakan seorang tokoh bernama Tuan Ken, yang hampir sempurna--pintar, tampan, kaya, anak semata wayang dari orangtua yang terpandang--bila saja ia tidak terkena kutukan kentut super busuk. Ya, disebut kutukan sebab beragam upaya dari medis hingga tak logis telah diusahakan demi mengobati kentut tersebut namun tak berhasil. Kentutnya itu sempat membuat tuan ken mencoba bunuh diri sampai dua kali disebabkan malu yang teramat sangat dan rasa bersalah tiap kali menyiksa orang dengan kentut yang tak bisa dikendalikannya. Hingga akhir cerita pun, tak diketahui apa penyebab tuan ken memiliki kentut super busuk seperti itu.

Secara keseluruhan, ide cerita buku ini menurut saya begitu cerdas. Mengambil kentut sebagai tema, judul dan permasalahan utama yang diurai sedemikian rupa hingga berkaitan dengan politik, pendidikan, moral, dll. Dengan gaya bahasa yang ringan, namun filosofis dan penuh sindiran terhadap politikus negeri (jatuhnya novel ini seperti gaya satire), penulis memainkan alur dengan baik. Tetap memiliki twist di ending dan sebuah pertanyaan mendasar mengenai penyebab kentut super busuk tersebut.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

"Apa pun rancangannya, kenyataan lebih membutuhkan tindakan konkret daripada omongan-omongan hebat tentang sebuah rancangan pendidikan itu sendiri." (Hlm. 150)

"Kata orang bijak, hidup adalah sejuta kemungkinan yang tak pernah bisa diduga." (Hlm. 216)

"Itulah perjuangan saya selama ini, perjuangan untuk berhenti bertanya. Berhenti menggugat. Berhenti marah. Berhenti sedih. Berhenti mencoba mencari jawaban." (Hlm. 251)

Meta morfillah

[Mentoring] Tafsir Q. S. Al buruj ayat 11-22

Materi Liqo Tafsir Q. S. Al-Buruj (85) ayat 11-22 khatam
Sabtu, 15 Agustus 2015
Bu Efi

Ayat 11 memaparkan tentang keadaan surga bagi orang yang beriman.
Ayat 12 menerangkan betapa kerasnya azab Allah dan Dia tidak pernah main-main.
Ayat 13 menegaskan bahwa Allahlah yang menghidupkan, mematikan dan menghidupkan lagi ciptaanNya di hari akhir.
Ayat 14 berbicara tentang sifat Allah, Maha Pengampun (Ghafur) dan Maha Pengasih (Wadud). Allah mengampuni semua kesalahan (kecuali syirik) dengan satu syarat, yakni TAUBAT. Ayat ini juga mengingatkan lelaki untuk mencari istri yang bersifat pengasih (wadud) dan subur (walut).
Ayat 15 menerangkan sifat Allah yang maha mulia dan berada di arsy.
Ayat 16 menerangkan sifat Allah yang maha berkehendak (iradah).
Ayat 17 dan 18 menerangkan kisah kaum Fir'aun yang menentang nabi Musa dan kaum Samud yang menentang Nabi Saleh. Namun tidak dijelaskan secara rinci tentang kedua kaum tersebut dalam surat ini.
Ayat 19 sampai 22 menjelaskan balasan azab bagi kaum yang mendustakan Allah dan Al Quran yang mulia dan terjaga di Lauh mahfuz. Bahwa azab Allah tidak akan bisa dihindari, sejauh apa pun mereka berlari, mereka tidak akan lolos darinya.

*catatan sepemahaman penulis

Meta morfillah

[Review buku] Kukila

Judul: Kukila
Penulis: M. Aan mansyur
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Dimensi: 192 hlm, 20 cm, cetakan kedua november 2012
ISBN: 978 979 22 8839 1

Enam belas cerita pendek dengan gaya khas aan mansyur yang begitu puitis. Disertai beragam twist yang cukup mencengangkan di ending. Sebenarnya saat membaca, saya merasakan kemiripan gaya bercerita dengan A. S. Laksana di buku bidadari yang mengembara, namun pilihan diksi aan jauh lebih romantis. Meski berbeda cerita, beberapa cerita dalam buku ini memiliki nama tokoh yang sama, Kukila dan Pilang--Kukila berarti burung dan Pilang berarti pohon. Keduanya bahasa melayu klasik.

Kukila yang menjadi judul buku dan merupakan cerita pendek pertama serta terpanjang dalam buku ini sungguh saya suka. Bercerita tentang sebuah keluarga yang dibangun dengan ketidakjujuran serta beragam rasa yang berkelindan dan disembunyikan. Hanya pohon tua yang menjadi saksi. Selain itu saya menyukai dua cerita pendek lain yang memiliki twist menarik, berjudul 'Celana dalam rahasia terbuat dari besi dan 'Hujan. Deras sekali'. Hampir semua ceritanya berkisar tentang ketidaksetiaan, perselingkuhan dan cinta pada sesama jenis. Sisanya saya suka, tapi lebih ke pilihan kata yang digunakan, bukan ceritanya.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

"Tidak perlu berusaha melupakan pohon mangga itu. Kau harus tahu lupa adalah lahan subur kenangan-kenangan. Biarkan ia mengalir seumpama sungai."(Hlm. 10)

"Masa lalu tidak pernah hilang. Ia ada tetapi tidak tahu jalan pulang, untuk itu ia menitipkan surat--kadang kepada sesuatu yang tidak kita duga. Kita menyebutnya kenangan."(Hlm. 23)

"Ibu, kini aku datang dengan beban yang menambah ringkih pundakmu. Maafkan aku, Ibu. Ke mana lagi seorang anak menumpahkan air matanya selain kepada sungai yang mengalir di pangkuan ibunya?" (Hlm. 47)

"Kau pernah mengatakan, pandai-pandailah memberikan kejutan kepada hidupmu sendiri." (Hlm. 176)

Meta morfillah

14 August, 2015

[Review buku] Pindah

Judul: Pindah
Penulis: Falafu, Iyut SF, dkk.
Penerbit: Mediakita
Dimensi: vi + 198 hlm, 13 x 19 cm, cetakan pertama 2013
ISBN: 978 979 794 437 7

"Ada indah di setiap pindah."

Sebelas cerita pendek dari delapan penulis. Salah satu penulisnya adalah founder komunitas Love Books A Lot Indonesia yang saya ikuti, dan cukup saya kenal baik, kak Iyut. Salah satunya lagi adalah penulis yang amat saya sukai blognya, kak Farah atau biasa dikenal falafu. Dengan tema pindah, 8 penulis merangkai kisahnya masing-masing. Hampir semuanya berkisah tentang perpindahan hati, perpindahan rasa yang keliru atau sering kita kenal dengan move on. Dua cerpen yang cukup saya suka berjudul awan karya falafu dan pindah karya raditya nugie. Selebihnya menurut saya biasa saja. Hanya yang begitu terasa saat membaca cerpen dalam buku ini, semua penulis memiliki gaya bahasa yang puitis. Kadang saya merasa seperti membaca petikan sajak, bukan cerpen.

Secara kemasan, idenya cukup menarik. Dengan cover bersayap, yang bisa dibuka tutup persis seperti kardus coklat yang biasa digunakan saat pindah. Satu hal lagi yang membuat saya jatuh cinta adalah pembatas bukunya. Dibuat jaring-jaring kubus, dan bisa dibentuk menjadi kubus yang benar-benar seperti miniatur kardus. Benar-benar strategi pemasaran yang baik.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

"Paulo Coelho bilang, tidak ada hal yang betul-betul salah, bahkan jam rusak pun benar dua kali dalam sehari." (Hlm. 8)

"Karena dalam hidup ini, manusia selalu butuh kepindahan. Pindah dari hal-hal yang salah, pindah dari perasaan-perasaan yang keliru. Namun, untuk melakukannya diperlukan keteguhan, dan manusia terlalu tidak sabaran menjalaninya; terlalu tidak berani memilihnya." (Hlm. 27)

Meta morfillah

[Review buku] Saat berharga untuk anak kita

Judul: Saat berharga untuk anak kita
Penulis: Mohammad Fauzil Adhim
Penerbit: Pro-U media
Dimensi: 278 hlm, cetakan 2009
ISBN: 978 979 1273 54 1

Tidak harus menjadi orangtua untuk membaca buku parenting semacam ini.

Itulah yang saya rasakan saat membaca buku ini. Meski sasaran utamanya adalah orangtua yang memiliki anak, tapi saya merasa buku ini pun sangat tepat bagi yang masih lajang dan pernah menjadi anak. Buku ini mengajak saya kembali bercermin tentang diri saya di masa kecil, pola pengasuhan orangtua saya, dan bagaimana saya harus memperlakukan mereka yang lebih muda dari saya. Banyak sekali kata-kata yang menurut saya mutiara dalam buku ini dan ingin saya beritahukan pada dunia, tapi itu hanya akan mengurangi kelebihan buku ini, jatuhnya saya spoiler. Dengan gaya penulisan yang mengalir, mengambil contoh keseharian, disertai bahasa yang mudah dicerna, hasilnya begitu menggugah saya.

Buku ini menekankan bagaimana cara menjadikan masa kecil anak-anak kita sebagai saat paling berharga untuk membangun kedekatan emosi, menciptakan pola komunikasi, dan pentingnya menata niat kita dalam mendidik anak. Sebab semuanya bermula dari niat. Apa saja yang harus disiapkan demi masa depan mereka, meliputi bekal yang tepat dan jiwa yang kuat.

Terdiri atas 5 bab yang tiap judul babnya merupakan inti pesan buku ini, yaitu semuanya bermula dari niat, membangun jiwa anak, titip rindu buat anak, menghukum dengan kasih sayang, dan mempersiapkan masa depan anak.  Semua menyadarkan kita--sebagai orangtua--untuk menyadari esensi niat kita dalam membesarkan dan mendidik anak. Bahwa semua dilakukan atas dasar amanah Allah, bukan demi mengharapkan pujian manusia lain atau pun berharap agar anak berbakti pada kita di hari tua. Tentunya dengan menjadikan diri kita saleh dulu, memilih pendamping yang saleh juga untuk bersama saling mengingatkan tentang cara mendidik yang sesuai ajaran Allah. Disertai beragam tips seperti bagaimana memaksimalkan kualitas waktu bersama anak, apa saja yang harus dilakukan agar anak berbakti pada orangtuanya kelak, menanamkan tekad untuk berbagi atau memberi, dan apa saja yang perlu diperhatikan ketika harus memberikan hukuman pada anak.

Saya apresiasi 5 dari 5 bintang. Saya juga merekomendasikan buku ini untuk dibaca.

"Khairul kalam kalamullah, khairul huda huda Muhammad. Sebaik-baik perkataan adalah firman Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah Muhammad SAW." (Hlm. 201)

Meta morfillah

13 August, 2015

[Review buku] The prisoner's diaries

Judul: The Prisoner's Diaries
Penulis: Norma Hashim et. al.
Penerbit: Pro-U Media
Dimensi: 128 hlm, cetakan 2015
ISBN: 978 602 7820 24 1

Dua puluh tiga cerita terangkum dalam buku ini. Catatan dari balik penjara israel yang merupakan terjemahan catatan pribadi berbahasa arab para mantan tahanan palestina di berbagai penjara zionis israel. Menceritakan kepedihan karena terpisah dari orang-orang tercinta (ayah, ibu, istri, anak, dll) serta penistaan dan kekejaman yang dilakukan para penjajah di ruangan berjeruji. Catatan ini memiliki benang merah yang begitu jelas, betapa kokohnya iman, tingginya harapan, dan derasnya doa para tahanan yang hanya bergantung dan berpasrah pada Allah SWT.

Secara keseluruhan, isinya begitu menyentuh dan membuat saya merasa diuji dengan keremehan bila dibanding penderitaan mereka. Demi cita-cita kemerdekaan tanah airnya, mereka rela dan sudah memiliki mindset syahid sejak kecil. Bahkan mereka berharap mati dibandingkan masuk penjara. Tak ada waktu untuk bergalau ria apalagi update status di medsos. Jujur... saya malu. Bahkan setelah selesai membaca buku ini, saya tertidur dan bermimpi buruk tentang penjara di Israel. Betapa banyak ketimpangan dan ketidaklegalan di sana. Dari perjanjian yang tidak ditepati, seperti banyak tahanan sipil yang diadili secara militer, serta lokasi penjara yang berada di dalam wilayah Israel--padahal seharusnya menurut pasal 76 dari Konvensi Jenewa keempat, penjajahan harus menahan warga yang wilayahnya dijajah tersebut di penjara yang berada di dalam wilayah yang dijajah, agar mudah dijenguk oleh keluarganya--dan banyak tahanan yang ditangkap tanpa kejelasan apa penyebab ia ditangkap. Hukumannya pun tidak tanggung-tanggung, ada yang sampai 3 kali masa tahanan. Satu kali masa tahanan itu sama dengan 99 tahun. Bayangkan, belum tentu kita sampai berusia 99 tahun, ini hukumannya 3 x 99 tahun! Ya allah... sejak tahun 1967, rakyat Palestina mendamba kebebasan, sementara kita di sini hanya galau urusan kecil... #ntms

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

"Keluargaku membantu mengatasi konflik batin di dalam hatiku. Mereka adalah kekuatanku, menjadi secercah harapan yang membuatku berpegang teguh pada hidup, menjadikanku lebih bersemangat lagi dari sebelumnya. Namun, mereka juga adalah kelemahanku. Karena aku melihat butir-butir penderitaan di pelupuk mata mereka tiap kali mereka mengunjungiku." (Hlm. 14)

"Ketika berada di dalam penjara, klinik penjara bukanlah tempat untuk meredakan rasa nyeri, melainkan justru memperparah rasa sakit." (Hlm. 67)

"Tidak ada yang memahami arti kebebasan kecuali mereka yang pernah kehilangan hal tersebut." (Hlm. 81)

"Kepada kalian yang tinggal di dunia lain yang kami sudah pernah dengar tapi tidak pernah kami tinggali, aku sampaikan: Dari hatiku yang terdalam aku berharap kalian memperoleh keberuntungan dan aku akan terus mencintai kalian bahkan meski kalian melupakanku sekali pun. Sehingga ketenanganku hanyalah bahwa aku memiliki Tuhan yang bernama Al Kariim (Yang Maha Pemurah) yang tidak akan pernah melupakanku." (Hlm. 127)

Meta morfillah

11 August, 2015

[Review buku] Ingatlah untuk bercermin

Judul: Ingatlah untuk bercermin
Penulis: Salim A. Fillah & tim konselor RKI
Penerbit:  Era adicitra intermedia
Dimensi: xii + 228 hlm, 17 cm, cetakan pertama mei 2015
ISBN: 978 602 1680 21 6

Awalnya saya begitu excited dan sempat tak percaya ketika teman saya bilang mau menghadiahkan buku terbaru ustad salim a fillah. Saya kira yang terbaru adalah lapis-lapis keberkahan, dan itu saya sudah miliki, bahkan pre order! Saat disebutkan judul buku ini, saya yakin sekali buku ini bahkan jarang disebut oleh penulisnya sendiri, dan promosinya tidak segencar karya penulis sebelumnya. Pertama menerima paket hadiah buku ini, saya maklum sebab melihat penerbitnya bukan penerbit biasanya. Lalu saat mulai membaca, ternyata saya agak kecewa. Mengapa? Sebab buku ini ternyata kumpulan cerita oleh banyak penulis. Bukan karya individu ustad salim. Pantas saja, tidak terlalu booming. Cerita yang ditulis ustad salim pun pernah saya baca dalam karya sebelumnya. Bukan hal baru. Agak kecewa dan punya pemikiran buruk bahwa penerbitnya memanfaatkan kebesaran nama salim a fillah. But well, saya teruskan membaca dan mencoba menikmatinya.

Buku ini ternyata merupakan seri pertama dari buku cinta RKI Yogya. Berawal dari niat mulia komunitas Rumah Keluarga Indonesia (RKI) yang miris melihat tingginya angka perceraian di Indonesia. Data yang didapat tahun 2014 lalu, di Indonesia terjadi 40 kasus perceraian setiap jamnya. Rata-rata terjadi 2,2 juta pernikahan setiap tahun dan 350.000 perceraian setiap tahun. Itu menyebabkan Indonesia menjadi negara dengan tingkat perceraian tertinggi se Asia Pasifik (Data oleh BKKBN Pusat). Maka komunitas itu tergerak untuk sharing pengalaman hidupnya berumah tangga dan dibuatlah ide membuat buku dari naskah yang ada. Setelah dikumpulkan, naskah tersebut mencapai lima seri buku. Nah, buku ini adalah seri pertamanya.

Terbagi menjadi 5 bagian. Di bagian pertama yang berjudul "Dalam limpah barakah" terdapat sebelas cerita. Di bagian kedua yang berjudul "Bermula dari kata" terdapat tiga cerita. Di bagian ketiga yang berjudul "Memaknai kesetiaan" terdapat enam cerita. Di bagian keempat yang berjudul "Anak dan pewarisan" terdapat sepuluh cerita. Dan terakhir di bab kelima berjudul "Menyikapi ketidaksempurnaan" terdapat dua kisah. Total 32 kisah dari 31 penulis.

Hampir semuanya bercerita tentang godaan dan kesulitan yang mereka lalui selama berumah tangga dan bagaimana mereka berhasil melaluinya hingga sekarang. Isu yang paling banyak adalah tentang kesetiaan, penantian momongan, godaan orang ketiga, ungkapan cinta yang semakin jarang diutarakan, pendidikan anak dan bagaimana menerima kekurangan pasangan. Mirip seperti serial chicken soup atau catatan hatinya Asma Nadia. Namun secara segi pengemasan, saya merasa masih kurang menarik. Dilihat dari sampul saja, terasa biasa, dan apa makna daun dengan keterkaitan pada ingatan untuk bercermin?

Saya apresiasi 3 dari 5 bintang.

"Konon salah satu ujian hidup berumah tangga adalah 'terlalu lama mencintai orang yang sama'." (Hlm. 22)

"Jalan Allah bukan yang termudah, bukan yang tercepat, tapi yang terbaik." (Hlm. 40)

"Bukankah rasa kagum dan syukur ditabung dari penggalan peristiwa-peristiwa kecil yang memberi rasa istimewa? Bukankah rasa kagum dan syukur dapat menjadi semacam investasi berharga dalam perjalanan panjang mengayuh bahtera pernikahan?" (Hlm. 119)

Meta morfillah

Text Widget

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik