Pages

24 August, 2015

[Mentoring] Yang tetap dan Yang dapat berubah

Materi mentoring Minggu, 23 Agustus 2015
Bu Evi

Yang tetap (Tsawabit) dan yang dapat berubah (Mutaghairat)

"Dakwah harus terus berlanjut, meski wadahnya dibubarkan pemerintah."

Begitu pesan seorang syeikh (guru) pada murid binaannya.

Dakwah itu pasti dan akan tetap ada (tsawabit), hanya saja wadah, wasilah, metode, situasi, kondisi dll yang dapat berubah (Mutaghairat). Meski wadah tersebut tetap memiliki kelebihan dan kekurangan, tapi tetaplah berdakwah. Kita harus mengedepankan sikap husnuzhan (baik sangka), tabayyun (konfirmasi langsung ke sumber berita), dan manajemen isu dengan baik (cerdas dalam memilah dan memilih informasi). Dakwah juga harus tetap dilakukan dalam situasi atau kondisi apa pun. Jangan bingung ketika medianya tidak ada. Sebab, di mana pun kita berada, kita adalah da'i. Agar terhindar dari kebingungan itu, hendaklah kita berpegang pada patokan yang jelas (zawabit) untuk amal saleh. Sebab sudah sunnatullah bahwa kebaikan akan selalu banyak musuhnya.

Saat kita tidak bersama dakwah, boleh jadi kita tidak akan bersama siapa pun, lalu terbentanglah jurang menganga yang semakin membuat kita futur (lemah iman). Sebab, tanpa diri kita, dakwah akan selalu berjalan meski sedikit yang mendukung. Sunnatullah, Allah akan selalu memberi orang-orang yang lebih baik secara kualitas, meski kuantitasnya berkurang, untuk menggantikan kita.

"Sesungguhnya Islam adalah roda yang berputar. Maka berputarlah kalian bersama Islam, apa pun putarannya." (HR. Thabrani diriwayatkan oleh Mu'adz bin Jabal)

"Ingatlah, kamu adalah orang-orang yang diajak untuk menginfakkan (hartamu) di jalan Allah. Lalu di antara kamu ada orang yang kikir, dan barang siapa kikir maka sesungguhnya dia kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allahlah Yang Maha kaya, dan kamulah yang membutuhkan (karuniaNya). Dan jika kamu berpaling (dari jalan yang benar) Dia akan menggantikan (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan (durhaka) seperti kamu." (Q. S. Muhammad [47]: 38)

Konteks awal ayat ini adalah ajakan untuk berinfaq. Lebih didalami, yang dimaksud infaq di sini bisa meluas seperti infaq harta, waktu, tenaga, pikiran, dan ide untuk dakwah. Tarbiyah adalah salah satu bentuk dakwah kita (tsawabit) meski berbeda metodenya, bisa dengan silahturrahim, halal bi halal, takziyah, atau rihlah, tidak seperti metode konvensional yang duduk bersama membahas materi.

Tambahan:

Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan "Kebathilan yang terorganisir akan mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir."

Inilah pentingnya jama'ah kebaikan yang resmi dan berbadan hukum.

Jangan lupa untuk terus muhasabah diri dalam tiap keadaan dengan menghubungkan ke Pencipta. Bisa jadi, kemudahan yang kita dapatkan adalah buah dari sedikitnya amal saleh kita, dan kesulitan adalah buah dari banyaknya kemaksiatan kita.

Saat diberi amanah, ingatlah bahwa pertanggungjawaban amanah tidak hanya di depan manusia, tetapi di hadapan Allah. Amanah itu sungguh berat, para salafus salih pun kebanyakan menolak dan menangis saat diberi amanah, sebab mereka tahu bagaimana hisabnya nanti. Hanya manusia yang begitu bodohnya menganggap amanah adalah mudah, bahkan gunung pun tak sanggup memikulnya. Maka, tunaikanlah amanah dengan sebaiknya, semampumu hingga titik darah penghabisan (mastatha'tum).

Kalau belum bisa mengubah keadaan yang buruk, mungkar, kacau, minimal mewarnai. Kita beraksi nyata mencegah kemungkaran dengan tangan kita. Bila tidak bisa, maka selemah-lemahnya iman adalah dengan doa.

*catatan pribadi sepemahaman penulis.

Meta morfillah

No comments:

Post a Comment

Text Widget

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik