Pages

28 August, 2014

It's hard to say "I'm not okay"

For me...
It's hard to say "I'm not okay", though I know it's okay not to be okay, sometimes.
I prefer to say "I'm fine" and then smile.
Case closed!


Bukan berarti saya sering menipu dengan senyuman palsu. Tapi, kehidupan yang membentuk saya menjadi pribadi seperti itu. Dalam keluarga saya, seperti ada perjanjian tak tertulis "tak boleh sakit", "tak boleh mengeluh". Maka, setiap kali kami sakit, kami hanya diam dan memendamnya dalam-dalam. Penyakit itu baru akan diketahui ketika sudah lumayan tinggi derajat kegawatannya, ketika kami sudah tak sanggup lagi menahannya sendiri. Biasanya terbukti dari tangisan tiba-tiba atau pingsan di tengah jalan. Bahkan, saat sakit seperti itu pun, kami tetap dituntut beraktivitas seperti biasa. Menunaikan kewajiban yang harus ditunaikan. Seperti mencuci baju, menyapu, mengepel, dan lainnya. Kedua orang tua kami meneladankannya, meski mereka bukan militer. Sebab, sesakit apa pun hidup tetap berjalan, ada beberapa kewajiban yang tetap harus ditunaikan sampai titik darah penghabisan, disebabkan memang itu tanggung jawab kita. Tak mudah menyuruh kami istirahat hanya karena sakit. Sebab berjuang tak sebercanda itu. Amanah tak semudah itu untuk diserahkan.

Mungkin terdengar seperti kejam. Tapi, menurut kami... Hal itu adalah pembeda kami dengan keluarga lainnya. Integritas kami tercermin dalam perilaku tersebut. Keinginan untuk melemah saat sakit seringkali begitu dahsyat menggoda iman. Terlebih bila ada amanah yang begitu sulit ditunaikan, dan dengan alasan sakit, bisa saja kita seenaknya mendelegasikannya. Tapi, kembali... Berjuang tidak sebercanda itu. Sampai kapan kita akan terus berlari dengan beragam excuse? Maka sakit, bukanlah excuse untuk beribadah (bekerja pun termasuk ibadah). Titik darah penghabisan adalah saat di mana kami benar-benar tak sanggup lagi mengasah gergaji kami (hukum ketujuh 7 habit by steven covey).

Sebab kami tahu perlakuan keluarga kami tetap tidak akan memanjakan hanya karena alasan sakit, maka kami berjuang sekuat tenaga agar tak sakit. Kalau pun memang waktunya sakit, maka kami menikmatinya sehari, menangis sebentar, ke dokter, mematuhi anjuran dokter, teratur meminum obat, mensugesti diri agar cepat pulih, lalu sembuh. Tidak sekali pun, kami diizinkan mengeluh. Bagi saya pribadi, saya belum pernah dan sepertinya tidak akan mau menggunakan emot ijo (tanda orang saki) di bbm, untuk mengupdate status. Emot itu seakan-akan emot terlarang bagi saya. Lebih ringan menceritakan apa yang saya rasakan melalui tulisan. Seperti saat ini...

Ingin sekali saya katakan pada kalian yang menyayangi saya--hingga mengomel karena nasihat untuk beristirahat kalian tak saya gubris--bahwa saya peduli pada nasihat kalian. Saya begitu terharu, tapi tidak semudah itu meluluskannya. Lagi-lagi perihal amanah dan nilai integritas yang tertanam pada diri saya sejak kecil. Maka, maklumilah... Kekeraskepalaan saya.

Because, it's so hard for me to say "I'm not okay"



Meta morfillah

22 August, 2014

Say something

Sayang,
Kalau kau meminta lelaki yang tampan, gagah nan rupawan...
Aku akan sadar diri dan mundur seketika

Tapi, bila kau meminta lelaki yang mencintaimu dari kekurangan hingga kelebihanmu...
Aku akan maju dan berdiri paling depan

Sungguh, aku serius dalam mencintaimu
Seserius matahari mengirimkan cahaya kasihnya ke bumi,
Tanpa pernah ingkar,
sebab matahari tahu, tanpa cahayanya tak akan ada kehidupan di bumi

Lalu, apakah kau masih ragu padaku?
Apa lagi yang harus kubuktikan padamu?
Kediamanmu membuat ketidakwarasan padaku
Hingga aku mulai sering berbicara pada dinding kamar...

Sayang,
Kumohon...
Katakan sesuatu padaku,
Apakah kita akan berlanjut atau bergeming pada keadaan ini saja?


Meta morfillah

*puisi request dari seorang teman lelaki yang galau mau melamar. Semoga wanitanya lekas memberi jawaban. Semoga ada kabar baik setelah diberi puisi ini. :)*

20 August, 2014

Si Gila: Lebih waras dariku

Setiap orang memiliki sisi gelapnya, yang disembunyikan rapat-rapat. Namun, di saat-saat tertentu sisi gelap itu terkadang menyeruak, memaksa tampil keluar. Boleh kita sebut sisi gelap itu dengan... Si Gila.

***

Aku memutar kunci pintu kamar dengan takzim. Berharap di balik pintu itu, ada yang menyambutku. Walau aku tahu, itu hanya khayalanku saja. Sudah pasti yang menyambutku dalam sepetak kamar itu hanyalah kegelapan yang sunyi. Tapi berharap tidak pernah salah, toh? Sebab harapan-harapan itulah yang membuat kita tetap hidup, meski tak pernah mewujud nyata.. Itulah sebabnya ia dinamakan impian, benar-benar mimpi. Tak nyata.

Pintu terbuka. Keheningan dan gelap menyeruak, menyergapku. Aaahh... Padahal baru saja beberapa menit lalu aku merasa menjadi orang paling bahagia. Menghabiskan makan malam bersama sahabat, menertawakan kehidupan, dan menutup hari dengan senyum. Tapi, di kamar petak ini, aku kembali merasa sendiri. Di saat-saat inilah, si Gila sering kali mengajakku berbicara. Ia selalu meminta perhatianku, walau berulang kali kuabaikan.

"Kamu sakit."

Itu suara si Gila.
Aku hiraukan ucapannya. Berfokus meletakkan sepatu ke dalam lemari gantung.

"Akuilah, kamu tak sanggup. Katakan, bahwa kamu penat. Menyerahlah..."

Apa katanya? Menyerah? Itu tidak ada dalam kamus hidupku. Tanpa sadar aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Membuat si Gila tersenyum, tahu bahwa ucapannya kudengarkan.

"Hidupmu terlalu putih. Semua serba teratur, dan patuh hukum. Sudah kubilang, sesekali pikirkan dirimu sendiri. Dobrak hidupmu! Agar mereka tahu, bahwa kamu juga berhak tak menuruti peraturan. Itu semua hanya membuatmu sesak, kan!"

Dia benar-benar gila.

"Oh, ayolah... Bermanjalah sedikit. Kamu berhak untuk itu. Jangan selalu menjadi wanita tegar dan sok kuat dalam menyelesaikan semua masalahmu sendiri. Lelaki tak menyukai itu. Mintalah pertolongan."

"Aku bisa melakukan semua itu sendiri. Sebaiknya kaudiam!"

"Hahaa... Aku percaya kamu bisa. Tapi melihat keadaanmu sekarang... Apa bedanya kamu dengan kuda? Kerja keras, didera, lalu mana hasilnya? Siapa yang menikmati? Kamu memang masih sendiri, tapi pikiranmu sudah seperti berseribu."

Sungguh si Gila amat menyebalkan...
Tapi tak kupungkiri, kata-katanya ada benarnya. Itulah sebabnya, semenyebalkan apa pun dia, aku tetap mendengarkannya, walau dengan gaya abai.

***

Tubuhku terasa seperti terbakar. Pipi, kening, dan kedua ujung tanganku, panas dan nyeri, persis seperti sehabis mengulek cabe. Panas seperti itu. Kucuci dan kurendam berulang kali ke seember air, tak juga hilang rasa panasnya. Lalu kepalaku seperti mendingin dari ujung ubun-ubun. Seketika aku merasa gelap. Ini lucu. Aku tahu, aku pingsan. Tapi aku tak bisa memaksa diriku untuk sadar. Kelopak mataku terasa berat untuk dibuka.

Aku tak lagi mengingat waktu. Tahu-tahu, hari sudah siang. Bahkan aku sempat lupa ini hari apa. Bunyi ting tong bbm, WA, email, sms dan notif dari media sosiallah yang menyadarkanku. Sepertinya aku tidak bisa beraktivitas. Walau telat, aku tetap mengabari rekan kerjaku bahwa aku tak masuk kantor.

Di antara batas kesadaran dan kewarasanku, keinginan sederhana terasa begitu mahal: segelas air putih, kompresan hangat dan hadirmu. Nyatalah semuanya hanya mimpi. Bahkan suaramu terdengar begitu dekat, aku sempat berilusi bahwa kamu memegang keningku... Menenteramkan.

Lalu Si Gila muncul.

"Periksakan dirimu ke dokter. Sepertinya kamu butuh general check up. Kamu selalu mengabaikan sakit, menganggap remeh. Lihatlah sekalinya drop..."

"Percuma... Aku tahu apa yang akan dikatakan dokter. Mereka hanya akan bilang kecapekan, banyak pikiran, lalu sedikit menasihati pola makan dan memberiku beragam racun bernama obat itu. Aku jauh lebih tahu tentang diriku. Kuyakin setiap orang adalah dokter untuk dirinya sendiri."

Beberapa detik yang hening berlalu. Hei... Si Gila diam. Tumben! Biasanya dia akan mendebatku.

"Mengapa kaudiam?"

"Aku kasihan padamu. Sebaiknya kamu menulis. Mungkin dengan menuliskan apa yang kamu rasakan, kamu akan cepat sembuh. Sudah lama kamu tak menulis, kan? Aku lupa, bahwa menulis bagimu adalah obat. Bukan untuk berkarya. Yaa.. Menulis bagimu adalah terapi, menjaga kewarasanmu."

Lalu si Gila pergi.

Apa-apaan ini!? Mengapa si Gila jadi bijak begitu? Aaah.. Sepertinya aku memang sakit. Tidak mungkin si Gila lebih waras dari aku yang nyata.

Tidak mungkin.

***


Meta morfillah

15 August, 2014

Aku sakit?

"Akhir-akhir ini kamu makin sibuk."

"Tidak, masih seperti biasa, kok."

"Kamu makin sering begadang. Apa yang sedang kamu kerjakan atau pikirkan?"

"Tidak ada. Hanya sedang sulit tidur. Tidur lama pun rasanya tak nyenyak. Kurang berkualitas."

"Iya, terlihat sekali bahwa kamu lelah."

"Tidak, kok."

"Syarafmu sepertinya agak tegang. Kuperhatikan, sudah dua hari ujung alis sebelah kirimu berkedut-kedut kencang."

"Tak apa, tak berpengaruh ke produktivitasku, kok."

"Sampai kapan kamu akan selalu berkilah? Berpura-pura bahwa kamu baik-baik saja? Kamu juga manusia. Kamu lelah, sesekali tak berdaya. Katakanlah bila kamu memang tak bisa. Katakan bahwa kamu sedang tak baik-baik saja. Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri."

"Aku baik-baik saja."

***

Pagi ini aku tak baik-baik saja.

Terbangun dengan rasa sesak di dada. Lalu tiba-tiba menangis begitu deras, hingga sesenggukan. Tanpa tahu apa yang sedang kutangisi. Namun setelahnya, aku merasa sedikit lega. Ini sungguh aneh. Belum pernah aku seperti ini.

Saat mandi, aku menangis lagi. Tanpa tahu apa yang sebenarnya kutangisi. Apakah menangis itu candu? Sekali kamu menangis, terus-terusan dan tak berhenti? Tapi aku merasa puas setelahnya. Ini sungguh aneh. Belum pernah aku seperti ini.

Saat menatap pantulan wajah di cermin, rasanya aku tak mengenal sosok di dalam cermin itu. Wajah letih, mata sembap sehabis menangis, tak ada senyum. Benarkah itu wajahku? Tidak... Tidak... Aku tak suka wajah itu. Kasihan orang lain yang melihatnya. Bisa-bisa mereka akan tertulas virus negatif darinya. Kupilih sebuah topeng senyuman. Kupasang pada wajah itu. Nah... Begini baru pas. Orang-orang hanya boleh merasakan aura positif saat berada di dekatku. Senyum seperti ini, pastilah membahagiakan mereka.

Apalah arti sebuah kebahagiaan bagi diriku, bila aku dapat membahagiakan beberapa orang dengan senyuman palsu?
Bukankah berkorban satu jiwa, lebih baik demi kemaslahatan banyak jiwa?


Sepertinya aku sakit.

Ya.. Aku sakit.

Tanpa tahu sebenarnya apa sakitku? Apa yang membuatku sakit?


Meta morfillah

13 August, 2014

Knowing your place

 
Sering kali saya agak shock tiap kali menghadiri reuni sekolah atau buka puasa bersama tahunan. Kebanyakan teman-teman saya—khususnya lelaki—yang kurang berprestasi justru menjadi lebih menonjol dalam bidang karirnya. Yang dahulu biasa jadi bahan bullyan, kini menjadi tempat dimintainya lowongan pekerjaan. Lebih sering lagi, tiba-tiba saya mendapatkan undangan pernikahan. Yang paling mengejutkan adalah salah satu teman saya, pernah berkata “Met, nanti gw mau nikah sama dia.” Padahal teman saya itu gak cakep, standar B.G.T. dan cewek incarannya adalah idola di sekolah. Tapi, apa yang dia bilang itu terjadi! Walau itu cewek pacaran beberapa kali dan menolak dia beberapa kali, hingga sepuluh tahun lamanya, teman saya itu tetap gigih berusaha mendapatkan sang wanita.

Nah, dari sana, saya berpikir…. Memang ya, sudah banyak kejadian sekitar yang menegaskan, bahwa lelaki itu memang pemimpin. Bila dia sudah menemukan apa yang diinginkannya atau menetapkan pilihan apa yang ingin dicapainya, dia akan gigih dan pasti jadi! Walau mungkin dia berangkat dari zero to hero.

Membaca kalimat di atas, saya setuju sekali… bahwa sebagai wanita dalam sebuah hubungan (relationship), kita harus tahu tempat/arti/makna kehadiran diri kita baginya. KNOWING YOUR PLACE, GIRLS!

Jika kalian sudah membina hubungan begitu lama (pacaran), ada hak untuk kalian menanyakan “Mau dibawa ke mana hubungan kita?”

Sebab bila dibiarkan kelamaan pacaran, akan lebih banyak dampak negatif, dan hanya ada satu kemungkinan positif, yakni POSITIF HAMIL. Ya iyalah, secara… kalian pacaran sudah ngapain aja? Pastinya perlahan-lahan akan menembus semua batas yang seharusnya dijaga. Panggilan “mama-papa”, sudah dilakukan, pegangan tangan, pelukan, ciuman, sudah. Tinggal melakukan hubungan “mama-papa” toh! Terus punya anak deh… ya gitu terus deh kelangsungannya…. Kamu tahu sendiri.
Seharusnya, bila memang lelaki itu serius sama kamu, dia pasti gak akan membiarkan kamu kelamaan menjamur tanpa kejelasan. Mana tega dia ngegantungin hati, perasaan dan status kamu? Jemuran aja digantung kelamaan bisa hilang, apalagi hati. Mau bilang enggak, karena cinta? Makan tuh cinta! Saya puasa! Eeeh… kok jadi error gini sih saya.

Hmm… jadi gini, loh… intinya… lelaki itu pasti memiliki bidikannya. Karena dia seperti pemburu, sudah tahu mana mangsanya dan ke mana ia akan membawa mangsanya pulang. Dia sudah tahu arah akhirnya. Kalau saat ditanya tentang kejelasan hubungan kalian, dia gak mampu menjawab, atau jawabnya kayak gini,

“Hmm… kita jalani aja dulu. Nanti kita lihat ke depannya.” Hati-hati aja jalan di tempat. Kan, dia ngajakin jalan terus, gak berhenti-henti.

“Aku belum tahu.” Yang kayak gini kamu harapin? Sprite aja tahu yang kumau, masak dia kalah sama minuman? Eeh…

“Aku belum kepikiran.” Katanya, orang yang sayang sama seseorang itu walau sesibuk apa pun akan terus memikirkannya. Lah ini, kamu setia di sampingnya aja, dia gak mikirin. Haduuuhh… kasihan banget kamu, girls! Kamu segitunya mikirin dia, merhatiin, eh dianya malah gak mikirin kamu!

Memang ada beberapa tipe pria. Tapi, semua memiliki kesamaan. Saya pernah iseng bertanya ke teman-teman lelaki saya, “Apa kriteria cewek lo?”

Tahu enggak, mereka jawab apa?

“Kalau cewek untuk dipacari, beda Met dengan kriteria cewek untuk dijadikan istri.”

Nah… so, knowing your place. Kamu itu mau memilih ditempatkan sebagai apa? Dijadikan pacar yang seperti hotel, hanya diingat kalau butuh, didatangi sekali-kali, dan hanya untuk hiburan/liburan? Atau mau dijadikan istri yang seperti rumah, selalu diingat, dan selalu menajdi tujuan akhir setiap manusia di bumi, tempat mereka berpulang.

Semua, ada di tanganmu, Girls…

Semoga kamu bijak memilih…

Sebab, memaksakan cintamu dengan lelaki yang tidak baik, sama halnya seperti memaksa perutmu memakan makanan kotor, tidak bergizi. Pada akhirnya akan membuatmu sakit.

Meta morfillah

Text Widget

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik