Pages

29 September, 2016

Menembus langit

MENEMBUS LANGIT

Menjadi orangtua (wali kelas di sekolah) membuat saya menyadari betapa manusia pernah dan dulunya adalah doa-doa. Doa yang tak putus terlisankan dari bibir orangtua masing-masing. Doa akan segala kebaikan yang menembus langit. Belum pernah saya dengar doa tidak baik dari orangtua saat kita masih belum lahir dulu.

Betapa banyak harapan yang lahir bersamaan lahirnya diri kita.

Lalu saat kita bertumbuh-kembang hingga menginjak usia dewasa, kita dihadapkan pada pilihan: mau mewujudkan atau tidak, doa-doa terbaik itu. Membalas segala doa yang terlantun untuk diri ini. Entah dari siapa pun.

Saat ini, saya begitu ingin berdoa untuk anak-anak saya di kelas agar Allah melunakkan hati mereka, memberi kebaikan yang banyak, dan semakin mendekat pada penciptanya. Semoga doa-doa saya hari ini, kelak akan mereka wujudkan di masa depan.

Rabbii habli minasshaalihin...

Sebab manusia dulunya adalah doa-doa yang menembus langit.
Dari tiada-menjadi ada-bermakna-membawa bahagia bagi sesama-kembali tiada.

*Terima kasih Bapak, Mama, kakak dan yang pernah mendoakan kebaikan untuk saya.

Meta morfillah

28 September, 2016

[Mentoring] Riba

Bedah buku “Riba dan Gharar” karya Ustad Oni Sahroni, MA
Masjid Alumni
Bogor, 28 Agustus 2016

Riba

Cara efektif mengetahui halal haram dalam bisnis adalah mempelajari “ilmu hitamnya” dulu. Sebab dalil bisnis adalah “boleh….kecuali….” berarti yang terlarangnya sedikit.

Untuk mempelajari fiqih ada 3 cara pandang:
  1. 1.       Cara pandang tekstual (tertulis atau tidak di Quran dan hadits?)
  2. 2.       Cara pandang maslahat oriented (legalitas syariah berdasarkan maslahat umat)
  3. 3.       Cara pandang moderat (gabungan 1 dan 2)

Buku ini menggunakan cara pandang ketiga.

Riba pada dasarnya terbagi menjadi 2:
  1. a.       Riba qardh (riba yang berlaku dalam pinjaman)
  2. b.      Riba buyu’ ( riba yang berlaku dalam jual beli/riba sharaf). Riba ini terbagi menjadi 2 lagi, yakni riba al fadhi (tambahan barang), dan riba nasi’ah (penundaan waktu)

Riba jual beli: pertukaran barang sejenis yang berbeda kualitas, kuantitas dan waktu penyerahan.
Contohnya PENUKARAN MATA UANG:
  1. a.       Penukaran mata uang yang SAMA harus: tunai, sama nominal (100 ribu ya harus sama nominalnya 100 ribu)
  2. b.      Penukaran mata uang yang BERBEDA harus: tunai
  3. c.       Penukaran mata uang dengan KOMODITAS harus: tidak ada syarat

Contoh riba jual beli:
  1. a.       Ke money changer dikasihnya besok (riba dalam hal waktu penyerahan/menunda) atau tidak tunai.
  2. b.      Tukar uang lebaran 100 ribu ke dalam pecahan kecil, senilai 95 ribu (riba dalam hal tidak sama nominal).

Riba pinjaman: riba yang terjadi pada transaksi utang piutang yang tidak memenuhi kriteria, untung muncul bersama risiko.

Inilah yang sering terjadi di bank konvensional. Misalnya pinjam 1 juta, harus balik 1,2 juta (pemilik uang nol risiko). Hukumnya HARAM.

Sedangkan dalam bank syariah, prinsip mudharabah (bagi hasil). Misal aku punya 10 juta lalu mau didepositokan ke bank syariah. Kalau untung, bagi hasil sebesar 60:40. Uang 10 juta itu dijalankan untuk biaya jualan bakso. Tapi saat rugi, pemilik modal juga merasakan rugi, sebab yang menjalankan usaha bakso juga telah rugi secara waktu dan tenaga. Jangan sampai rugi uang juga.
Contoh lain di leasing/asuransi.

Bagaimana cara agar meminimalisir agar syariah?

UBAH AKAD, dari simpan pinjam menjadi jual beli.

Kasus: A mau beli motor lewat ADIRA/leasing seharga 13 juta. Pertama ADIRA beli langsung motor ke dealer. Lalu ADIRA jual motor ke A sebesar 20 juta (ADIRA berhak dapat margin/keuntungan jual beli). Ini tidak haram. Jatuh ke cara ketiga di riba jual beli (uang ditukar jadi komoditas/barang yakni motor).

Bagaimana dengan bunga/DP?

DP atau jaminan adalah sah (dalam transaksi jual beli tidak tunai/simpan pinjam). Jaga-jaga bila penghutang tidak mau bayar, maka ambil jaminan sesuai hutang. Boleh juga diberi sanksi, tapi bukan untuk kepentingan pribadi. Sanksi digunakan untuk dana social (agar tidak jadi riba).

Perbedaan syariah dan konvensional memang tidak terlalu terasa bagi nasabah, tapi lebih terasa ke penjual (kasus ADIRA. Maka ADIRAnya yang lebih merasakan dalam hal akad).
Kelemahan perbankan syariah di Indonesia:

Sumber daya manusia (SDM) yang kebanyakan adalah orang/karyawan bank konvensional lalu dimutasi dan detraining sebentar, sehingga masih tidak paham akad syariah (pemikirannya masih terbiasa cara bank konvensional). Misal: tidak ada kebolehan bank meminjamkan uang (muharabah) untuk bayar hutang, tapi demi kompetitif dengan bank lain maka dibuatlah proposal fiktif oleh SDM yang bersangkutan.


Meta morfillah

[Mentoring] Risalah dakwah

21 Agustus 2016
Bu Efi

Risalah dakwah

Dalil untuk berdakwah:

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk. (Q. S. An Nahl [16] : 125)

Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, “Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?”  (Q. S. Fussilat [41] : 33)

Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik. (Q. S. Ali Imran [3] : 110)

Hadits: “Sampaikanlah walau hanya satu ayat.”


Jalan dakwah karakteristiknya sangat panjang, sedikit pendukung karena berat, dan banyak rintangan. Maka harus ada strategi: HIDUP MULIA atau MATI SYAHID.

Tuntutan harus sabar menemani kawan seperjuangan. Sebab ada kalanya da’I merasa lelah dan malas ketika teman-temannya tidak antusias.

Prinsip utama dalam dakwah adalah: Selamatkan diri kita dulu, baru orang lain (islahul fardhi)



  1. 1. Mihwar tamzih (perbaikan struktur/keluarga halaqah). Seberapa pun yang kita pahami, bagilah. Tidak menunggu sampai diri terasa sempurna.
  2. 2.       Mihwar sya’bi (turun ke masyarakat). Harus selaras dengan nomor 1.
  3. 3.       Mihwar mu’assasih (melahirkan teknokrat-teknokrat politik/siyasah)
  4. 4.       Mihwar daulih (pembentukan negara). Sekecil apa pun kontribusi kita, sangat berpengaruh bagi kelangsungan dakwah. Tetaplah berbahagia, meski kita hanya menjadi baut di sebuah sepeda.



Meta morfillah

[Mentoring] Dakwah Zahriyah (terang-terangan) Rasulullah SAW

6 Agustus 2016
Bu Efi

Dakwah Zahriyah (terang-terangan) Rasulullah SAW

Awalnya kaum kafir Quraisy menganggap dakwah sembunyi-sembunyi Rasul tidak akan lama. Nyatanya, Islam perlahan memiliki tokoh-tokoh dan tim yang solid.

Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu (Muhammad) yang terdekat. Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang beriman yang mengikutimu. Kemudian jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan.” (Q. S. Asy Syu’ara[26] : 214-216)

Hingga diadakan pertemuan perwakilan bani-bani di Bukit Shafa. Mereka merasa bahwa Islam semakin membahayakan dan bisa menyebabkan pengikut agama nenek moyang berkurang. Juga ketakutan akan diambilnya pucuk kepemimpinan bangsa Arab oleh Muhammad. Sebab itulah, suku Quraisy menyatakan perlawanan pada Islam.

Hikmah dakwah secara terang-terangan:

  1. 1.       Dakwah zahriyah adalah perintah Allah, bukan strategi Rasul. Jelas ada ayat/dalil naqlinya (Q. S. Asy Syu’ara[26] : 214-216)
  2. 2.       Cara dan gaya dakwah bukan suatu yang taufiqi (pakem, saklek), seperti salat. Dakwah tidak harus menyeru dari atas gunung. Para da’I wajib menggunakan semua sarana yang ada untuk dakwah.
  3. 3.       Dakwah pada dasarnya zahriyah, tapi ada beberapa hal yang harus tetap/ahsannya sembunyi-sembunyi. Seperti kelompok liqo dengan siapa saja, murabbinya siapa, dan info lainnya agar tidak disalahgunakan oleh pihak yang tidak berkepentingan.
  4. 4.       Da’I harus tegas saat dakwah. Sebagaimana Ibrahim menyebut berhala dengan “berhala”, bukan “Tuhan”.
  5. 5.       Dakwah Islam adalah dakwah kebaikan, kesejahteraan, bukan untuk kepentingan golongan tertentu.

Meta morfillah

25 September, 2016

Air mata adalah karunia

Mudah sekali dia menangis. Mudah sekali meluapkan perasaannya dengan tangisan bahkan teriakan tanpa peduli orang lain memperhatikan. Sungguh, aku iri melihatnya.

Air matanya ia gunakan dengan efektif dan efisien. Selesai menangis, dadanya pasti sedikit lebih lega, meski masalah tak sirna.

Sedangkan aku, di kamar tergelap, tanpa siapa pun, sulit sekali memaksa mataku menangis. Mengapa air mata tak kunjung keluar? Padahal aku sedang sedih sekali. Sungguh, aku seakan lupa bagaimana cara menangis lepas. Selepas tertawa.

Saat seperti itu, aku menyadari betapa air mata adalah karunia. Hanya orang-orang beruntung yang bisa mengeluarkan air matanya dengan tepat, efektif, dan efisien.

Nampaknya... aku belum beruntung.
Iya, kan?

Meta morfillah

Sakit rindu

"Di Bogor ini, kalau mau lari malam gitu ke mana ya? Semacam senayannya gitu. Pulang kantor pengin olahraga di tempat yang lumrah untuk olahraga."

"Di Taman Helang, dekat GOR, Met."

"Ramai, gak? Kayak di Senayan, banyak yang olahraga juga?"

"Enggak terlalu, sih."

"Kenapa?
Ooh... iya ya. Ini kan kota hujan. Lagi musim hujan, hampir tiap sore hujan. Mana ada yang mau lari hujan-hujanan ya?"

"Berenang aja lagi. Tetap olahraga, sehat, kesukaanmu pula."

"Iya, tapi pengin olahraga yang lama, ga keluar uang banyak, dan di tempat ramai. Apa-apa sendiri, bosan."

"Benar-benar sakit rindu, kayaknya kamu, Met! Rekor banget jatuh sakit dua kali dalam sebulan. Sampai 3 hari enggak masuk kerja. Padahal dulu, sampai pingsan-pingsan belain ngantor. Pengin balik ke Jakarta ya?"

Aku hanya diam. Merindukan kota kelahiran dan kehidupan lamaku. Apakah di sini aku terperangkap? Kakiku ingin melangkah jauh... jauh... tak di sini.

Aaahh... terlalu sepi.

Meta morfillah

Lenteraku mulai redup

LENTERAKU MULAI REDUP

Lenteraku mulai redup.
Duniaku perlahan temaram.
Kelam.
Tapi aku tak mau karam.

Ke mana cahaya memadam?
Tak bisakah ia diperam?
Agar tak cekam.
Dan tiada yang akan menerkam.

Menjaring cahaya, haruskah selalu ke atas?
Atau sebaliknya, napak tilas?
Rasanya tak bebas.
Kutahu hal ini harus lekas.
Gegas... gegas...

Lenteraku mulai redup.
Duniaku perlahan temaram.
Kelam.
Tapi aku tak mau karam.

Meta morfillah

23 September, 2016

[Review buku] Canting

Judul: Canting
Penulis: Arswendo atmowiloto
Penerbit: Gramedia pustaka utama
Dimensi: 376 hlm, 20 cm, cetakan keempat juli 2013
ISBN: 978 979 22 9623 5

Canting, alat untuk membatik yang ditiup dengan nafas dan perasaan. Proses pembatikan melalui canting memerlukan waktu berbulan-bulan, membutuhkan kesabaran dan keuletan. Sayang, semua terbanting oleh batik jenis printing--cetak. Dalam beberapa kejap, batik printing dihasilkan dengan cepat, banyak dan tak perlu buruh banyak.

Adalah Ni, anak keenam, bungsu dari Pak Bei dan Bu Bei, sarjana farmasi, calon pengantin, dan putri Ngabean, yang mencoba menekuni usaha batik keluarga yang telah tersisih teknologi. Ia harus menghadapi ayah dan ibu serta kakak-kakaknya yang sukses.

Canting, yang menjadi cap batik Ngabean, tak bisa bertahan lagi. "Menyadari budaya yang sakit adalah tidak dengan menjerit, tidak dengan mengibarkan bendera." Ni dianggap menjadi tidak Jawa, menjadi aeng/aneh untuk bisa bertahan. Ni adalah generasi kedua setelah ayahnya yang berani tidak Jawa.

Novel yang sarat menggambarkan budaya Jawa melalui keluarga Ngabehi dan usaha pembatikannya ini sangat filosofis. Namun bahasanya mudah dicerna. Ada banyak lika-liku dan rahasia kelam di tiap individu yang terlibat, masalah keluarga yang klasik hingga yang modern. Penulis amat lihai membawa isu pergeseran nilai juga budaya ke dalam sebuah keluarga dan lambang kejayaan jawa: batik.

Unsur utama dalam novel ini menurut saya adalah tentang kepasrahan. Pasrah yang progresif dengan menerima dan menjalankan sesuai peranan masing-masing. Sangat khas jawa. Tanpa memaksa mengagungkan kejayaan masa lalu atau malah meninggalkan demi nama besar. Saya sangat suka ide ceritanya.

Dan saya masih penasaran, siapakah ayah Ni yang sebenarnya, apakah Pak Bei atau Mijin?

Saya apresiasi 5 dari 5 bintang, meski ada beberapa typo.

"Manusia hidup menunggu untuk mati. Kehidupan justru terasakan dalam menunggu. Makin bisa dinikmati cara menunggu, makin tenang dalam hati." (H. 72)

"Makin perkasa seseorang, makin sukses seseorang, makin membutuhkan orang yang dekat." (H. 162)

Meta morfillah

21 September, 2016

Niat

NIAT

Dalam sebuah hubungan, yang membuat bertahan selamanya dan tidak berubah bukanlah perasaan cinta. Sebab perasaan terlalu absurd untuk dijadikan pegangan seumur hidup. Semua itu bergantung pada kemauan.

Bukan seberapa banyak aku mencintai orang ini, tapi seberapa besar kemauanku menjaga hubungan ini.

Yaa... kemauan.

Pun dalam usaha melupakan seseorang. Susah move on adalah perkara ketidakmauan atau keengganan beranjak dari kenangan manis yang pernah dilalui. Padahal bila kita berkemauan keras, meninggalkan semua hal yang mengingatkan masa lalu amatlah mudah. Menghilang saja dari lingkaran kehidupan orang tersebut.

Menghilang... bukan dari dunia. Tapi dari kehidupannya. Menghindari tempat, waktu, dan kesan yang memiliki keterkaitan dengannya.

Pun mencari... seseorang yang benar-benar ingin ditemukan. Luasnya dunia mampu dipersempit bila ada kemauan menjemput dan menemukannya. Memperjuangkan yang sekiranya layak diperjuangkan.

Semua yang terjadi adalah perkara kemauan.

Dalam agamaku, dikenal dengan NIAT.
Innamal a'maalu bin niyaat, wa inna ma likullimri immanawa.
Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya. Dan setiap orang hanya mendapatkan apa yang diniatkannya. (H. R. Bukhari dan Muslim)

Menjaga niat agar tetap lurus, tak goyah, dan mudah berubah... adalah menjaga kemauan. Butuh keteguhan hati dan tak mudah. Persis bagai kokohnya menara eiffel. Tegak menjulang, tak berombang-ambing dan bimbang.

Meta morfillah

18 September, 2016

Setengah hati

SETENGAH HATI

Mungkin bagi sebagian orang adalah kesempatan dan tantangan memulai sebuah hal baru dari nol tanpa ada benchmark sebelumnya. Tapi, bagiku itu semua resah.

Berkali pikiran meninggalkan semua ini singgah. Berkali kaki ingin berlari dari tempat berpijak saat ini. Tapi kembali... aku mencoba positif.

Mencoba berpikir menggunakan kacamata yang berbeda, warna topi yang berbeda. Hingga mengalihkan ke hal lain yang nyatanya tak meredakan resah. Hingga aku lelah ke mana harus melangkah.

Lalu aku mengurung diri, mengambil jeda dan mencoba berkompromi dengan diri sendiri. Menakar batas kemampuan. Seberapa jauh? Seberapa lama? Seberapa tangguh aku bertahan?

Meski gelegak dalam diriku tak padam, setidaknya aku bergantung pada waktu. Menjalani semua ini sembari berpikir, "Akankah esok aku masih di sini? Bila aku pergi, benarkah itu yang kuinginkan?" Keputusan yang kuambil, meski tampak emosional, nyatanya selalu sudah kupikirkan berulang kali.

Semua kesetengah-hatian ini... harus kujaga sebatas aku mampu. Mengabaikan semua pemicu. Sebab, aku tak akan pernah mengizinkan diriku menyesali segala keputusan yang telah kubuat. Yang kutahu, hidup hanya harus terus melaju, meski kau baru melalui badai yang memorak-morandakan hidupmu.

Dan... aku tak akan kembali untuk hal yang sama. Tak ada kesempatan kedua bagiku. Kesempatan kedua... hanyalah menunda kesalahan yang sama.

Meta morfillah

17 September, 2016

Meninggalkan jejak

"Mengapa kamu rajin menulis dan menyebarluaskannya di media sosial, jika tak mau menerbitkan tulisanmu?"

Sebab menulis adalah sesuatu yang mengalir sendiri bagi seorang yang gemar membaca. Selain menenangkan keresahan sendiri, apa yang kutulis kadang merupakan kejadian yang dialami banyak orang. Jadi, aku merasa sedikit membantu mewakili mereka yang sulit menyampaikan perasaannya melalui tulisanku.

Aku hanya berharap bahwa mereka yang membaca tulisanku mendapatkan pemahaman yang lebih positif atau setidaknya tak merasa sendiri. Bahwa penderitaan mereka bukanlah yang paling berat di dunia.

Bahkan penderitaan itu bisa disikapi dengan senyuman, lebih mungkin lagi ditertawakan saja. Toh, semua pasti berlalu, meski harus hancur lebur. Hidup ini hanya sekali, mengapa kita harus lama meratapi luka sementara kita bisa mengalihkan perhatian ke hal lain untuk bahagia.

Perkara menerbitkan, sangat menggoda. Namun, ada tanggung jawab khusus setelah menerbitkan satu karya. Dan tentunya, aku harus menentukan arah yang jelas. Tidak seperti saat ini, meracaukan apa saja yang melintas atau mengendap di pikiran.

Dari semua alasan di atas, sejujurnya aku menulis untuk mengabarkan bahwa aku baik-baik saja dan meninggalkan jejak di tiap hari yang kulewati.

#1hari1tulisan

Meta morfillah

12 September, 2016

Berbahagia dalam ketidaktahuan

BERBAHAGIA DALAM KETIDAKTAHUAN

Kadang, ketidaktahuan kita akan perasaan seseorang yang mencintai kita jauh lebih baik daripada mengetahuinya. Meski dia tidak memperlihatkan bagaimana caranya dia memperjuangkan kita. Meski dia tak hadir secara fisik di hadapan kita. Meski dia tidak sedikit pun mengusik keseharian kita. Namun, semua akan membuat kita terusik sebab kita sadar akan perasaan yang tengah tumbuh kembang di hatinya.

Sayangnya, cinta dia untuk kita adalah haknya. Kita tak berhak memangkasnya sedikit pun, sebab cinta itu tumbuh dalam hatinya, bukan hati kita. Namun, kita berhak menentukan sikap atas perasaannya. Akankah kita menerima, menolak, atau menghindar?

Maka, berbahagialah dalam ketidaktahuanmu. Sebab, mengetahui sesuatu yang sebaiknya tidak kamu tahu justru akan meresahkan. Membuatmu menakar-nakar perasaan agar semua tampak baik-baik saja, sementara kamu tahu bahwa ada yang tidak baik-baik saja. Mencari tahu sesuatu yang tak berwujud sebagaimana perasaan adalah upaya menyakiti diri sendiri. Maka, berhentilah mencari tahu perasaan seseorang terhadapmu.

Tak perlu menjadi kuat dengan mengendalikan air, udara, dan lainnya. Kamu... cukup mengendalikan perasaanmu, hatimu.

Meta morfillah

Menjalani hari kita

MENJALANI HARI KITA

Mungkin kita pernah membayangkan menjalani hari sebagai sosok lain yang kita kagumi. Menjadi sosok yang jauh lebih pintar, lebih kaya, lebih rupawan, lebih keren, dan kelebihan lainnya. Hidup dengan kelas yang lebih tinggi seperti yang disajikan televisi. Pulang pergi naik kendaraan mewah, rumah dengan interior wah, pembicaraan uang seakan hal kecil, bolak-balik keluar negeri begitu biasa. Lalu kita berpikir, mengapa Tuhan menciptakan kita hari ini sebagai "kita"? Mengapa hidup kita jalannya seperti ini?

Coba bayangkan, bila kita menjalani hidup orang lain yang kita kagumi, yang sepertinya berisi melulu hal menyenangkan, apakah kita mampu? Apakah kita mampu tetap rendah hati saat kita menjadi begitu kaya hingga bingung mau diapakan lagi uang yang kita punya? Apakah kita mampu tidak menjadi sombong saat kita begitu rupawan dan banyak yang bersaing mendambakan kita menjadi pasangannya? Apakah kita mampu untuk tetap membumi saat kita sering kali diberi pujian melangit? Semua pujian yang merupakan ujian. Ujian kesabaran kita, ujian kesyukuran kita, ujian niat kita. Pernahkah memikirkan itu semua?

Lalu sampai pada kesimpulan, bahwa Tuhan tahu kita belum mampu dan Tuhan memberikan kita kehidupan yang kita mampu lalui. Tuhan tak mau kita menjadi angkuh dan jauh dariNya. Maka inilah alasan mengapa kita tercipta menjadi "kita" hari ini. Untuk mensyukurinya, Tuhan mengingatkan bahwa kita harus sering melongok ke bawah. Bahwa banyak yang memimpikan hidup kita hari ini. Hidup yang mungkin saat ini sedang kita keluhkan dan siakan. Hidup yang begitu luang hingga ada waktu untuk memikirkan kehidupan orang lain yang kita dambakan.

Benar, begitu?

Meta morfillah

[Review buku] Semusim, dan semusim lagi

Judul: Semusim, dan semusim lagi
Penulis: Andina Dwifatma
Penerbit: Gramedia
Dimensi: 232 hlm, 20 cm, cetakan pertama april 2013
ISBN: 978 979 22 9510 8

Berawal dari sebuah sajak Sitor Situmorang berjudul "Surat kertas hijau", penulis mengembangkan salah satu baitnya menjadi judul hingga membentuk novel ini. Hal menarik dalam novel ini adalah tokoh utama dan ayah tokoh utama tak pernah disebutkan nama aslinya, mirip dengan gaya haruki murakami di novel dengarlah nyanyian angin. Awalnya pun dibuka dengan setting sebuah surat dari ayah yang tak pernah ada dalam kehidupan tokoh Aku beberapa belas tahun. Hingga tokoh Aku memutuskan kabur ke kota ayahnya, ia ingin bertemu dengan ayahnya. Semua rutinitas berjalan biasa, hingga hadir Muara, anak lelaki J. J. Henry, karyawan ayahnya. Tokoh Aku dan Muara jatuh cinta, meski Muara sudah memiliki kekasih. Mereka sering menghabiskan waktu bersama. Sobron, ikan mas koki reinkarnasi suami Oma Jaya yang telah mati memberitahunya bahwa dia hamil. Lalu tokoh Aku mengikuti saran Sobron untuk membunuh Muara. Semua berakhir di rumah putih, yang menyatakan bahwa tokoh Aku tidak hamil dan dia gila. Lalu ia mulai menerima bahwa hidup masih dapat ia jalani semusim, dan semusim lagi dengan ayah yang menemani.

Absurd, tapi mengalir. Bahkan begitu eksploratif dan terasa sekali penulisnya mendalami banyak bacaan serta riset yang oke. Meski kadang yang dibicarakan berat dan nyastra banget, tapi bagi saya asyik. Bahkan endingnya pun tak saya duga. Meski masih ada beberapa pertanyaan yang menggantung bagi saya, seperti sejak kapan halusinasi tokoh Aku dimulai? Apakah sejak awal cerita ini nyata? Apakah semua yang dilakukan tokoh Aku dan Muara benar terjadi atau hanya pikirannya saja?

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

"Kita tidak pernah benar-benar kehilangan sesuatu yang tidak pernah dimiliki, kecuali kalau kita membandingkan situasi dengan orang lain dan menjadi merana sendiri karenanya." (H. 20)

"Amatlah mudah berpisah dengan sesuatu yang kautahu akan kembali lagi keesokan harinya. Tapi di dunia nyata, setiap hal yang kaulepaskan akan pergi darimu tanpa pernah kembali lagi." (H.62)

"The answer, my friend, is blowin' in the wind. Jawabannya tertiup di angin. Itu bisa bermakna bahwa jawaban yang kaucari telah begitu jelas, seolah-olah ada di depan wajahmu sedari tadi, hanya kau tak menyadarinya." (H. 102)

"Atau sebaliknya, blowin' in the wind juga berarti jawaban dari pertanyaan-pertanyaan manusia sangatlah kabur, sehingga tak teraba. Kadang-kadang manusia harus bisa menerima bahwa di dunia ini ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan atau dirumuskan. Ada pertanyaan-pertanyaan yang akan selalu berujung pada kekosongan." (H. 103)

"Wittgenstein pernah berkata, alangkah baiknya jika setiap kita membeli buku, kita juga bisa sekalian membeli waktu untuk membacanya." (H.137)

Meta morfillah

11 September, 2016

Alasan mencintai buku fisik dibanding ebook

Salah satu alasan saya akan selalu mencintai buku fisik dibanding ebook adalah mereka tidak membuat migrain saya bertambah parah. Saat saya sakit 2 hari lalu dan hanya bisa berbaring diam, migrain hingga photopobhia (tak kuat lihat sinar radiasi gadget) saya menjauhi hp dan mendekati buku, hingga menamatkan 3 buah buku.

Buku fisik dengan aroma tubuhnya yang khas setia mengisi otak saya, mengajak saya berkelana melalui pikiran meski raga lemah di ranjang, menemani dengan setia tanpa menyakiti mata dan otak saya.

Saya kira, saya akan selalu mencintai dan memilih buku fisik dibandingkan ebook.

[Review buku] Milana

Judul; Milana: Perempuan yang menunggu senja
Penulis: Bernard batubara
Penerbit: Gramedia
Dimensi: 192 hlm, 20 cm, cetakan kedua mei 2013
ISBN: 978 979 22 9507 8

Buku ini terdiri dari 15 cerpen Bara (penulis) yang beberapa pernah dipublikasikan di media cetak atau pun blognya. Hampir kesemuanya isu tentang cinta yang berakhir satu pihak/sad ending. Dari 15 yang paling saya sukai adalah cerpen "Beberapa adegan yang tersembunyi di pagi hari", yang menjadikan alam sebagai tokoh utama yang begitu natural dan personifikasi bahkan metaforis. Ternyata cerpen itu berawal dari puisi yang memakai tokoh tepian daun, setitik embun, sebuah pagi, dan angin.

"Lukisan kali dan pohon tua" berkisah kesedihan lelaki yang ditinggal wanitanya yang harus kembali pada suaminya dan ending yang tak bisa saya simpulkan, ia mati bunuh diri ataukah apa. "Lelaki berpayung dan gadis yang mencintai hujan" berkisah lelaki dan wanita yang memiliki sikap berbeda terhadap hujan hingga tiba kepergian sang wanita karena leukimia dan sejak saat itu lelaki pun bersikap berbeda terhadap hujan. "Goa Maria" berkisah tentang pasangan kekasih yang menyerah sebab restu orangtua sang wanita dan berakhir dengan wanita yang bunuh diri di tempat kerja sang lelaki. "Tikungan" berkisah tentang masalah yang tak pernah selesai di sebuah tikungan, yang bila dilihat dari jarak jauh di atas tikungan tersebut membentuk senyuman yang semakin lebar. "Jung" berkisah tentang mitos yang beredar di sebuah desa, hingga takdir mempertemukan apa yang harus ditemukan meski pada akhirnya kematian menghampiri. "Pintu yang tak terkunci" berkisah tentang seorang yang sedang sakaratul maut dan akhirnya berpulang menghadap Tuhan yang telah menantinya. "Cermin" berkisah tentang lelaki dan wanita yang terobsesi akan kerupawanan wajah mereka hingga energi mereka diserap habis oleh cermin ajaib. "Malaikat" berkisah tentang anak kecil dan ibu guru yang begitu senang pada kisah malaikat dan berupaya menggambarkan sang malaikat. "Surat untuk Fa" berkisah tentang seorang pria yang tak henti mengirimkan surat pada wanita yang ia cintai, bernama Fa, namun tak pernah dibalas dan ia menjalani hidupnya dengan wanita lain yang membutuhkan dirinya, tidak seperti Fa yang begitu tegar dan seakan tak butuh dirinya. "Hanya empat putaran" berkisah tentang seorang lelaki yang butuh empat putaran untuk menurunkan berat badannya, dan bertemu seorang wanita yang butuh empat putaran untuk menemukan masa depannya dan melupakan masa lalunya. "Semalam bersama Diana Krall" berkisah tentang pianis yang jatuh hati pada seorang gadis pengunjung kafenya, tanpa pernah menyapa sang gadis, hingga ia tahu masa lalu sang gadis dan membuat lagu serta setia mencari sang gadis. "The beautiful stranger" berkisah tentang seorang lelaki yang tak percaya cinta bisa hadir pada seseorang yang tidak dikenal hingga ia mengalaminya sendiri. "Semangkuk bubur cikini dan sepiring red velvet" berkisah tentang lelaki yang mencintai wanita yang telah bertunangan dan menjalani kisah itu sampai akhirnya sang wanita menikah dan mereka saling mengenang dengan nama panggilan semangkuk bubur cikini (tempat mereka bertemu kali pertama) dan sepiring red velvet (kue kesukaan sang gadis) meski mereka tahu nama masing-masing. "Milana" berkisah tentang seorang gadis yang setia menunggu senja datang bersama lelaki yang dicintainya, nyatanya lelaki itu telah mati, lalu datang lelaki lain yang pada akhirnya menyukai senja sebab dirinya.

Saya suka gaya bahasa bara yang puitis, analogis, serta metaforis namun berisi, serta ending yang bagus. Meski di beberapa cerpen saya tak paham maksudnya, seperti "Tikungan".

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

"Banyak hal indah memang hanya berlangsung untuk sementara." (Hlm. 26)

"Luka dapat menyembuhkan dirinya sendiri asal kau memberinya jalan." (Hlm. 111)

"Menunggu adalah perkara melebarkan kesabaran dan berhadap-hadapan dengan risiko ketidakhadiran." (Hlm. 175)

Meta morfillah

[Review buku] Dengarlah nyanyian angin

Judul: Dengarlah nyanyian angin
Penulis: Haruki Murakami
Penerbit: KPG
Dimensi: iv + 147 hlm, 11.5 x 19 cm, cetakan pertama oktober 2008
ISBN: 978 979 91 0137 2

Novel ini berlatar tahun 1960-1970 an di Jepang. Dengan tokoh utama Aku, seorang mahasiswa biologi yang sedang menghabiskan liburan musim panasnya di kota kecil tepi laut (mudik). Berkenalan dengan seorang gadis manis yang--kelak menjadi pacarnya--menggugurkan janin dalam kandungannya sebab tak tahu siapa ayahnya. Juga sahabat tokoh Aku, Nezumi, anak orang kaya yang membenci kekayaannya dan sibuk mabuk.

Tokoh Aku mengagumi seorang penulis Amerika bernama Derek Heartfield uanh mati bunuh diri. Sebab itulah ia mencoba menceritakan hidupnya seperti penulis. Alurnya pun maju mundur dan acak tentang siapa saja yang berkelebat di ingatannya. Namun terasa mengalir, meski aneh bagi saya. Jujur saja, saya terbantu memahami novel ini dengan membaca sinopsisnya. Sebab, tak mudah mencerna maksud novel ini. Mengapa berjudul dengarlah nyanyian angin? Itu yang membenak pertama dalam pikiran saya dan saya baru memahami jawabannya setelah menamatkan novel ini. Ternyata itu adalah kiasan untuk mengikuti nilai yang sesuai kata hati saat ada perbenturan nilai tradisional dan modern. Sosok kaum muda Jepang yang anti kemapanan dan tak memiliki bayangan ideal tentang masa depan. Begitulah sekiranya menurut saya. Begitu pula karya sastra yang bagus menurut umum, karya sastra yang mencerminkan keadaan masyarakat di masa itu dan tak lekang oleh zaman. Buku ini, meski tipis menurut saya jauh lebih sulit memahaminya dibanding jenis metropop yang tebal namun mudah dipahami.

Saya apresiasi 3 dari 5 bintang.

"Tidak ada kalimat yang sempurna. Sama seperti tidak ada keputusasaan yang sempurna." (Hlm. 1)

"Di mana pun tidak akan ada manusia yang tangguh. Yang ada hanyalah manusia yang pura-pura tangguh." (Hlm. 110)

"Boleh dikatakan bahwa kebohongan dan diam merupakan dosa besar yang merajalela dalam masyarakat sekarang. Kenyataannya kita sering berbohong dan sering pula diam." (Hlm. 120)

Meta morfillah

Text Widget

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik