Pages

12 September, 2016

[Review buku] Semusim, dan semusim lagi

Judul: Semusim, dan semusim lagi
Penulis: Andina Dwifatma
Penerbit: Gramedia
Dimensi: 232 hlm, 20 cm, cetakan pertama april 2013
ISBN: 978 979 22 9510 8

Berawal dari sebuah sajak Sitor Situmorang berjudul "Surat kertas hijau", penulis mengembangkan salah satu baitnya menjadi judul hingga membentuk novel ini. Hal menarik dalam novel ini adalah tokoh utama dan ayah tokoh utama tak pernah disebutkan nama aslinya, mirip dengan gaya haruki murakami di novel dengarlah nyanyian angin. Awalnya pun dibuka dengan setting sebuah surat dari ayah yang tak pernah ada dalam kehidupan tokoh Aku beberapa belas tahun. Hingga tokoh Aku memutuskan kabur ke kota ayahnya, ia ingin bertemu dengan ayahnya. Semua rutinitas berjalan biasa, hingga hadir Muara, anak lelaki J. J. Henry, karyawan ayahnya. Tokoh Aku dan Muara jatuh cinta, meski Muara sudah memiliki kekasih. Mereka sering menghabiskan waktu bersama. Sobron, ikan mas koki reinkarnasi suami Oma Jaya yang telah mati memberitahunya bahwa dia hamil. Lalu tokoh Aku mengikuti saran Sobron untuk membunuh Muara. Semua berakhir di rumah putih, yang menyatakan bahwa tokoh Aku tidak hamil dan dia gila. Lalu ia mulai menerima bahwa hidup masih dapat ia jalani semusim, dan semusim lagi dengan ayah yang menemani.

Absurd, tapi mengalir. Bahkan begitu eksploratif dan terasa sekali penulisnya mendalami banyak bacaan serta riset yang oke. Meski kadang yang dibicarakan berat dan nyastra banget, tapi bagi saya asyik. Bahkan endingnya pun tak saya duga. Meski masih ada beberapa pertanyaan yang menggantung bagi saya, seperti sejak kapan halusinasi tokoh Aku dimulai? Apakah sejak awal cerita ini nyata? Apakah semua yang dilakukan tokoh Aku dan Muara benar terjadi atau hanya pikirannya saja?

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

"Kita tidak pernah benar-benar kehilangan sesuatu yang tidak pernah dimiliki, kecuali kalau kita membandingkan situasi dengan orang lain dan menjadi merana sendiri karenanya." (H. 20)

"Amatlah mudah berpisah dengan sesuatu yang kautahu akan kembali lagi keesokan harinya. Tapi di dunia nyata, setiap hal yang kaulepaskan akan pergi darimu tanpa pernah kembali lagi." (H.62)

"The answer, my friend, is blowin' in the wind. Jawabannya tertiup di angin. Itu bisa bermakna bahwa jawaban yang kaucari telah begitu jelas, seolah-olah ada di depan wajahmu sedari tadi, hanya kau tak menyadarinya." (H. 102)

"Atau sebaliknya, blowin' in the wind juga berarti jawaban dari pertanyaan-pertanyaan manusia sangatlah kabur, sehingga tak teraba. Kadang-kadang manusia harus bisa menerima bahwa di dunia ini ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan atau dirumuskan. Ada pertanyaan-pertanyaan yang akan selalu berujung pada kekosongan." (H. 103)

"Wittgenstein pernah berkata, alangkah baiknya jika setiap kita membeli buku, kita juga bisa sekalian membeli waktu untuk membacanya." (H.137)

Meta morfillah

No comments:

Post a Comment

Text Widget

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik