Pages

11 September, 2016

[Review buku] Dengarlah nyanyian angin

Judul: Dengarlah nyanyian angin
Penulis: Haruki Murakami
Penerbit: KPG
Dimensi: iv + 147 hlm, 11.5 x 19 cm, cetakan pertama oktober 2008
ISBN: 978 979 91 0137 2

Novel ini berlatar tahun 1960-1970 an di Jepang. Dengan tokoh utama Aku, seorang mahasiswa biologi yang sedang menghabiskan liburan musim panasnya di kota kecil tepi laut (mudik). Berkenalan dengan seorang gadis manis yang--kelak menjadi pacarnya--menggugurkan janin dalam kandungannya sebab tak tahu siapa ayahnya. Juga sahabat tokoh Aku, Nezumi, anak orang kaya yang membenci kekayaannya dan sibuk mabuk.

Tokoh Aku mengagumi seorang penulis Amerika bernama Derek Heartfield uanh mati bunuh diri. Sebab itulah ia mencoba menceritakan hidupnya seperti penulis. Alurnya pun maju mundur dan acak tentang siapa saja yang berkelebat di ingatannya. Namun terasa mengalir, meski aneh bagi saya. Jujur saja, saya terbantu memahami novel ini dengan membaca sinopsisnya. Sebab, tak mudah mencerna maksud novel ini. Mengapa berjudul dengarlah nyanyian angin? Itu yang membenak pertama dalam pikiran saya dan saya baru memahami jawabannya setelah menamatkan novel ini. Ternyata itu adalah kiasan untuk mengikuti nilai yang sesuai kata hati saat ada perbenturan nilai tradisional dan modern. Sosok kaum muda Jepang yang anti kemapanan dan tak memiliki bayangan ideal tentang masa depan. Begitulah sekiranya menurut saya. Begitu pula karya sastra yang bagus menurut umum, karya sastra yang mencerminkan keadaan masyarakat di masa itu dan tak lekang oleh zaman. Buku ini, meski tipis menurut saya jauh lebih sulit memahaminya dibanding jenis metropop yang tebal namun mudah dipahami.

Saya apresiasi 3 dari 5 bintang.

"Tidak ada kalimat yang sempurna. Sama seperti tidak ada keputusasaan yang sempurna." (Hlm. 1)

"Di mana pun tidak akan ada manusia yang tangguh. Yang ada hanyalah manusia yang pura-pura tangguh." (Hlm. 110)

"Boleh dikatakan bahwa kebohongan dan diam merupakan dosa besar yang merajalela dalam masyarakat sekarang. Kenyataannya kita sering berbohong dan sering pula diam." (Hlm. 120)

Meta morfillah

No comments:

Post a Comment

Text Widget

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik