Pages

11 September, 2016

[Review buku] Milana

Judul; Milana: Perempuan yang menunggu senja
Penulis: Bernard batubara
Penerbit: Gramedia
Dimensi: 192 hlm, 20 cm, cetakan kedua mei 2013
ISBN: 978 979 22 9507 8

Buku ini terdiri dari 15 cerpen Bara (penulis) yang beberapa pernah dipublikasikan di media cetak atau pun blognya. Hampir kesemuanya isu tentang cinta yang berakhir satu pihak/sad ending. Dari 15 yang paling saya sukai adalah cerpen "Beberapa adegan yang tersembunyi di pagi hari", yang menjadikan alam sebagai tokoh utama yang begitu natural dan personifikasi bahkan metaforis. Ternyata cerpen itu berawal dari puisi yang memakai tokoh tepian daun, setitik embun, sebuah pagi, dan angin.

"Lukisan kali dan pohon tua" berkisah kesedihan lelaki yang ditinggal wanitanya yang harus kembali pada suaminya dan ending yang tak bisa saya simpulkan, ia mati bunuh diri ataukah apa. "Lelaki berpayung dan gadis yang mencintai hujan" berkisah lelaki dan wanita yang memiliki sikap berbeda terhadap hujan hingga tiba kepergian sang wanita karena leukimia dan sejak saat itu lelaki pun bersikap berbeda terhadap hujan. "Goa Maria" berkisah tentang pasangan kekasih yang menyerah sebab restu orangtua sang wanita dan berakhir dengan wanita yang bunuh diri di tempat kerja sang lelaki. "Tikungan" berkisah tentang masalah yang tak pernah selesai di sebuah tikungan, yang bila dilihat dari jarak jauh di atas tikungan tersebut membentuk senyuman yang semakin lebar. "Jung" berkisah tentang mitos yang beredar di sebuah desa, hingga takdir mempertemukan apa yang harus ditemukan meski pada akhirnya kematian menghampiri. "Pintu yang tak terkunci" berkisah tentang seorang yang sedang sakaratul maut dan akhirnya berpulang menghadap Tuhan yang telah menantinya. "Cermin" berkisah tentang lelaki dan wanita yang terobsesi akan kerupawanan wajah mereka hingga energi mereka diserap habis oleh cermin ajaib. "Malaikat" berkisah tentang anak kecil dan ibu guru yang begitu senang pada kisah malaikat dan berupaya menggambarkan sang malaikat. "Surat untuk Fa" berkisah tentang seorang pria yang tak henti mengirimkan surat pada wanita yang ia cintai, bernama Fa, namun tak pernah dibalas dan ia menjalani hidupnya dengan wanita lain yang membutuhkan dirinya, tidak seperti Fa yang begitu tegar dan seakan tak butuh dirinya. "Hanya empat putaran" berkisah tentang seorang lelaki yang butuh empat putaran untuk menurunkan berat badannya, dan bertemu seorang wanita yang butuh empat putaran untuk menemukan masa depannya dan melupakan masa lalunya. "Semalam bersama Diana Krall" berkisah tentang pianis yang jatuh hati pada seorang gadis pengunjung kafenya, tanpa pernah menyapa sang gadis, hingga ia tahu masa lalu sang gadis dan membuat lagu serta setia mencari sang gadis. "The beautiful stranger" berkisah tentang seorang lelaki yang tak percaya cinta bisa hadir pada seseorang yang tidak dikenal hingga ia mengalaminya sendiri. "Semangkuk bubur cikini dan sepiring red velvet" berkisah tentang lelaki yang mencintai wanita yang telah bertunangan dan menjalani kisah itu sampai akhirnya sang wanita menikah dan mereka saling mengenang dengan nama panggilan semangkuk bubur cikini (tempat mereka bertemu kali pertama) dan sepiring red velvet (kue kesukaan sang gadis) meski mereka tahu nama masing-masing. "Milana" berkisah tentang seorang gadis yang setia menunggu senja datang bersama lelaki yang dicintainya, nyatanya lelaki itu telah mati, lalu datang lelaki lain yang pada akhirnya menyukai senja sebab dirinya.

Saya suka gaya bahasa bara yang puitis, analogis, serta metaforis namun berisi, serta ending yang bagus. Meski di beberapa cerpen saya tak paham maksudnya, seperti "Tikungan".

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

"Banyak hal indah memang hanya berlangsung untuk sementara." (Hlm. 26)

"Luka dapat menyembuhkan dirinya sendiri asal kau memberinya jalan." (Hlm. 111)

"Menunggu adalah perkara melebarkan kesabaran dan berhadap-hadapan dengan risiko ketidakhadiran." (Hlm. 175)

Meta morfillah

No comments:

Post a Comment

Text Widget

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik