Pages

30 June, 2014

Obat penahan tangis

"Kak tha, punya obat penahan nangis gitu gak?"

Chat dari seorang adik nun jauh di sana. Adik yang biasa tertawa, ceria, dan mengundang tawa, walau aku belum pernah bersua fisik dengannya. Bagaimana rasanya, bila seseorang yang kamu kenal biasanya ceria, tiba-tiba bertanya hal seperti itu?

"Sudah coba mengingat hal-hal lucu yang pernah kamu alami?"

Dalam kebingunganku, hanya terpikir hal itu. Mengetik sembari berjalan, agak kurang fokus ditambah kaget karena dia yang bertanya. Dia yang wajahnya tak pantas dihinggapi kesedihan.

"Itu malah tambah buatku menangis, Kak. Dengar lagu mellow aja, aku nangis. Bahkan di angkot, tiba-tiba saja aku menangis. Tak tahan."

Aku terdiam agak lama. Bila kamu tahu apa yang sedang dialaminya, hal itu amat sangat wajar. Ia sedang kehilangan. Butuh waktu penyesuaian. Tak pernah mudah kehilangan seseorang yang kita sayangi. Saya sendiri, 13 tahun kepergian bapak saya, tetap saja saat sepi, sedih itu merasuk dan merajai kalbu lagi. Bahkan waktu belum mampu memudarkan rasa sakit akibat kehilangan tersebut. Apalagi dia?

Aku bukan penghibur yang baik. Bukan pemilih kata-kata yang tepat. Malah aku akan sangat membosankan. Hanya mampu berkata sebagaimana penceramah. Lihat saja, kalimat yang kuketikkan untuknya.

"Kalau ndak mempan, balik ke kebijakan sang waktu. Semua luka akan berkurang seiring waktu.."

"Cuma itu yang kutahu."

"Mungkin kamu akan bosan mendengar kata-kataku ini. Tapi, semua balik ke Allah. Kamu harus semakin dekat sama Allah, benar-benar belajar mengikhlaskan takdir.."

"Tha percaya, tiap pribadi punya caranya tersendiri dalam menyembuhkan luka. Tapi muaranya ya satu, mendekat ke sang pencipta. Dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang. Tetap nangis, tapi akan lebih baik."

"Terdengar ceramah banget, ya? Hehe... Tapi, tha pernah mengalami titik itu sendiri, sampai menggugat Tuhan. Pada dasarnya, balik lagi.. Kita harus semakin dekat sama pencipta kita. Kamu kuaat.. Semaangaaaat!!"

Apa lagi hal terbaik yang mampu kukatakan? Sebab, semenyebalkan apa pun, aku merasakan sendiri. Saat di titik keterpurukan, meminta solusi ke tiap manusia, tidak pernah terselesaikan. Maka, pada siapa lagi harus mengadu dan memohon solusi?
Mengadu dan meminta pada Tuhan, memang tidak langsung seketika masalahmu terselesaikan. Tapi, percayalah kegelisahan hati itu mampu kauredam, seiring meningkatnya interaksimu dengan Tuhan. Melalui salat, membaca qur'an dan terjemahannya, merupakan cara berdialog dengan Tuhan. Pada beberapa ayat, terjemahannya terasa bagai jawaban untuk segala kegundahanmu.

Laa tahzan, innallaha ma'ana.
Jangan bersedih, sesungguhnya Allah besertaku (kita).

Maka, adakah kalimat penghiburan yang lebih baik dibanding kalimatNya?

Semoga kamu menemukan keceriaanmu kembali, Dik!

Salam sayang,

Meta morfillah

Bukan malaikat yang sedang rehat (momen setahun sekali)

Mengapa euforia bulan ramadhan di tiap tahun selalu meriah? Tidak hanya untuk umat Islam, melainkan untuk umat lainnya. Terlihat sekali rahmatan lil 'alaminnya. Semua berbahagia, menyambut datangnya ramadhan, bulan pelatihan untuk jiwa. Namun, euforia ini pun menimbulkan kontroversi. Apa saja kontroversinya? Berikut saya uraikan, hasil pengamatan saya...

1. Ucapan "mohon maaf lahir batin" yang tiba-tiba membanjir

Ya, menyenangkan awalnya ketika kita menerima ucapan maaf dan dimaafkan oleh handai taulan. Hanya saja, kata maaf menjadi "murah" dan "tak berharga" ketika diobral sedemikian rupa, hingga mengganggu. Terutama bila dibroadcast melalui bbm, WA, dan media sosial lainnya. Niatnya sih baik, tapi jangan sampai caranya kurang baik. Saya pribadi, tak menanggapi chat yang berupa broadcast. Mengapa? Sebab, menurut saya itu "kurang dari hati". Sekali ketik, sebar, selesai. Saya lebih menghargai orang yang chat biasa, personal, lebih terasa effort meminta maafnya. Setidaknya, walau copas, tapi tidak disebar dalam satu kali. Ada usaha lebih, mencoba membuka satu per satu kontak yang ada di HP.

Parahnya lagi, dari sikap mereka yang suka broadcast pesan, yang menerima jadi apatis. Mereka mulai malas menanggapi "maaf", semua terasa hanya basa-basi. Lalu yang ada bukannya memaafkan, malah gumaman dan keluhan atas terganggunya kenyamanan. Tiap ada yang broadcast, langsung ngomong, "Ah, malas banget broadcast gini. Spam aja!" Bahkan tanpa dibaca, langsung end chat, kalau lagi bete, langsung di delcon. Nah loh!

Maka coba ingatlah, niat baik belum tentu menghasilkan hasil yang baik, bila caranya salah.


2. Mendadak semua menjelma manusia langit, sok alim, sok suci

Tiba-tiba saja, semua menjadi pakar agama. Yang biasanya berpakaian seksi, mendadak tertutupi. Yang salatnya bolong-bolong, jadi rajin tarawih. Semua berupaya sibuk menyiapkan buka bersama dan sahur on the road bersama anak yatim dan kaum dhuafa. Berlomba-lomba sedekah, dan omongannya seperti ceramah di televisi. Mendadak dunia terasa disesaki oleh para malaikat yang sedang rehat di bumi.

Di balik fenomena ini, saya lebih memilih berpikir positif. Walau kontroversi, saya tetap lebih suka upaya mereka yang menjaga image, dan mendadak seperti manusia langit. Dibilang sok alim, sok suci, menurut saya tak mengapa. Daripada dibilang sok najis, sok jahat? Nah loh! Biarkan sajalah, sebaik apa pun dirimu, pasti tetap akan ada omongan buruk tentangmu. Sampai mereka tersadar saat kamu sudah tiada. Mereka kehilanganmu.

Lebih baik begitu. Mungkin saja dari sok-sokan itu, ada yang terketuk hatinya, lalu membekas kemudian menetap menjadi hidayah. Bukankah hidayah itu harus dijemput, diusahakan dan diupayakan?



Hmm... Lalu... Apa lagi, ya? Baru segitu sih yang saya dapatkan dari hasil pengamatan saya di hari pertama ramadhan ini.

Kalau ada pendapat berbeda, atau masukan silakan dikomentari. Ini tulisan murni kebebasan berekspresi saya berdasarkan pengamatan panca indera saya. Boleh jadi benar, boleh jadi salah. Yang penting, jaga kesehatan agar ibadahnya lebih optimal. Marhaban yaa Ramadhan, selamat menunaikan ibadah puasa!


Meta morfillah

Berbeda cara, satu muara

Pernah saya lihat sebuah gambar yang menceritakan hal ini:
1. Orang muda (usia 0-22 tahun, masa-masa kuliah), memiliki energi dan waktu yang banyak, tapi memiliki sedikit uang.
2. Orang dewasa (usia 23-40 tahun, masa produktif, sedang berkarir), memiliki energi dan uang yang banyak, tapi memiliki sedikit waktu.
3. Orang tua (usia 40 ke atas, menjelang pensiun), memiliki waktu dan uang yang banyak, tapi memiliki sedikit tenaga.


Baru saya pahami maksud gambar tersebut hari ini.

Sekarang usia saya 24 tahun, energi saya begitu besar, uang pun alhamdulillah ada karena saya bekerja. Tapi, waktu... Rasanya selalu kurang. Waktu untuk keluarga, teman-teman, hidup sosial, hingga diri saya sendiri. Rasanya hampir semua dunia saya tentang pekerjaan. Hari libur pun, yang saya usahakan untuk tidak diganggu gugat dengan urusan lain, karena itu hari khusus saya bersosialisasi dengan keluarga, teman-teman, dan diri saya sendiri, terkadang terpakai untuk pekerjaan. Diniatkan mau pun tidak diniatkan. Itulah konsekuensi kehidupan.

Namun, yang menyedihkan adalah saat ini. Ketika saya menyadari bahwa sepandai apa pun saya mengelola waktu, tetap saja ada variabel-variabel lain, seperti perizinan, jam malam (karena saya wanita), dan lainnya, yang mengurangi kebebasan gerak saya.

Hal yang baru saja saya alami, dan itu cukup membuat saya sedih adalah, ketika saya ingin berbagi. Menjelang bulan ramadhan, banyak sekali program-program berbagi, menandakan animo masyarakat yang tinggi untuk berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabikul khairaat). Terlepas dari apa pun niatnya, saya pun berpikiran positif. Saya juga ingin sekali terlibat. Maka saya mendaftar ke salah satu program, ingin menjadi panitia. Sebab, saya ingin berbagi dengan kemampuan saya yang maksimal, dari ide, tenaga dan uang. Sayangnya, konsekuensi menjadi panitia inti adalah harus menghadiri rapat rutin. Di mana, rapat itu seringnya diadakan hari sabtu/minggu. Hari khusus keluarga. Saya mencoba melobi, dengan menawarkan agar hasil rapat dikirim ke email, atau rapat online. Namun, ada beberapa hal teknis, yang memang menuntut pertemuan secara fisik. Menyebalkannya adalah, di tanggal yang ditentukan, saya tidak bisa hadir. Sebab tanggal itu sudah dibook oleh mama saya untuk sebuah acara keluarga. Saya hanya bisa mengikuti rapat ketiga. Koordinator program tersebut tak bisa menerima saya. Dan pada akhirnya saya hanya bisa berbagi lewat donasi uang.

Sedih...
Itu yang saya rasakan. Rasanya ingin sekali membelah diri ini menjadi beberapa, atau meminjam boneka P-Man. Sesungguhnya, dalam hal berbagi itu akan sangat mengena bila kita terjun langsung. Merasakan beragam emosi yang menyatu hingga terlaksananya sebuah program. Berbagai kesalahpahaman yang biasa terjadi karena kurang koordinasi dan komunikasi, perasaan lelah, berusaha ikhlas dan rasa bahagia saat program tersebut terlaksana. Donasi uang memang penting, hanya saja kurang 'greget' bagi saya.

Tapi balik lagi, mungkin itulah kadar kemampuan saya saat ini. Beragam program-program berbagi yang begitu hebat, saya lewatkan. Karena biasanya terkendala izin orang tua. Entah karena acaranya yang diselenggarakan malam hari, sehingga bentrok dengan jam malam saya. Atau karena mama merasa, waktu saya kurang untuk di rumah, padahal masih banyak hal yang harus saya pelajari untuk menjadi seorang istri dan ibu, ratu di rumah. Tuntutan sebagai wanita. Kadang saya iri dengan teman-teman yang diberi kebebasan dan kepercayaan oleh orang tua mereka. Diri mereka untuk ummat. Kadang saya malu, apa saja kontribusi saya bagi ummat, apa saja yang sudah saya perbuat? Tapi... Pada akhirnya saya harus berbaik sangka. Tuhan pasti menyiapkan skenario untuk saya. Biarlah untuk saat ini, saya mengatasnamakan mama, keluarga dan menjadi penjaga rumah yang baik. Semoga, kelak saya mendapatkan pasangan yang mendukung saya untuk berbagi dan bermanfaat lebih luas bagi dunia.

Sebab, ada hak-hak orang lain dari ruh dan tubuh ini, yang harus saya penuhi. Sebab, ada peran yang harus dijalani tiap diri di dunia ini. Tak pernah sama, tak harus sama, tapi bermuara pada hal yang sama, Tuhan yang Esa.


Meta morfillah

27 June, 2014

Bagilah kelelahanmu padaku

Kamu tahu, memandangi tingkahmu adalah kesenanganku. Rasanya tak ingin sampai ada yang mengusik keasyikanmu. Tanpa kamu tahu, aku selalu berusaha memelukmu, tanpa memelukmu. Mengagumimu dari jauh. Aku selalu berusaha menjagamu, tanpa menjagamu. Menyayangimu dari jauh. Ya, persis seperti lirik sebuah lagu. Terkadang, tak perlu berlebihan menunjukkan kasih sayang. Sebab, dengan cara yang tak kamu ketahui, sesungguhnya kasih sayangku bekerja padamu. Membiarkanmu menghadapi masalahmu sendirian. Padahal, dalam hatiku begitu ingin membantumu. Lalu tersenyum bangga, lebih bahagia dan kagum bila kamu berhasil memecahkan masalahmu sendiri. Mungkin itulah perasaan tiap ibu dan ayah, istri dan suami, yang menginginkan kehebatan anak dan pendampingnya. Tak mau sampai merusak keindahan proses metamorfosa yang kelak dibutuhkan oleh kamu saat menghadapi dunia yang semakin tua, hidup yang semakin keras, dan ujian yang semakin bertingkat.

Bagilah kelelahanmu padaku. Itu pun jika kamu berkenan. Sebagai wanita, ibu dan istri selalu mencari teman berbagi bila tertimpa masalah. Bukan mencari solusi, hanya butuh didampingi, ditemani dan didengarkan. Sedangkan ayah dan suami akan menjadi "manusia gua", bila tertimpa masalah. Menyepi, menyendiri, untuk menemukan solusi sendiri. Persis seperti yang dilakukan Sang Nabi di Gua Hira.

Terkadang, antara wanita dan lelaki, kita salah menerapkan hal tersebut. Terbalik. Saat lelaki kita tertimpa masalah, wanitanya memaksa untuk dibagi masalah tersebut dengan meminta diceritakan. Tentu saja, itu menyebalkan dan membuat gerah sang lelaki. Pun sebaliknya, ketika wanita kita tertimpa masalah, lelakinya memaksa menyodorkan solusi buah pikirnya. Tentu saja, itu menyebalkan dan membuat gerah sang wanita.

Bagilah kelelahanmu padaku, dengan caramu. Akan kuhormati dengan caramu, tapi jangan lupa hormati caraku, bila aku pun sedang lelah. Bukankah kamu dan aku, menjelma jadi kita, bila saling menjaga dan memiliki "kita"?

Meta morfillah

Penerimaan yang indah

Memang tipis perbedaan antara menyerah, dengan tahu diri akan batas kemampuan, atau mencukupkan diri karena sudah sampai pada batas maksimal ikhtiar kita.

Lalu, bagaimana mengetahui bahwa hal itu adalah our best? And, when we can say "let Allah the rest"? Bagaimana?

Setiap manusia, tercipta dengan keunikannya masing-masing. Tak pernah sama persis. Kita adalah makhluk dengan karakteristik yang kompleks, walau mungkin diprediksi, tapi kesadaran kita dapat mengubah suatu hal sedemikian cepat. Keputusan demi keputusan yang kita hasilkan tiap hari, tak pernah sama, meski terlihat sebagai rutinitas. Selalu ada pergolakan batin untuk kemudian memutuskan sebuah langkah. Betapa hebatnya sang pencipta kita. Begitu original tiap manusia, di antara milyaran manusia di bumi ini.

Tentunya, setiap kita selalu ingin memilih, melakukan, dan menjadi yang terbaik. Hanya saja, definisi "terbaik" kita pun berbeda-beda. Ada kalanya, terbaik menurutku belum tentu terbaik menurutmu. Ada begitu banyak variabel penentu. Lantas, bila menurut kita itu adalah upaya terbaik kita, tapi tidak menurut orang lain, apa yang harus dilakukan?

Apakah lantas kita harus terus menyalahkan kekurangan diri? Lalu kapan kita akan menghargai dan menerima dengan penerimaan yang indah terhadap kekurangan hingga kelebihan diri kita sendiri? Kapan kita akan mulai mencintai diri ini, fisik dan ruh yang dipinjamkan Tuhan untuk kita jaga sebaik mungkin?

Maka, bila sampai pada tahapnya, usaha terbaikmu dinilai tidak cukup baik oleh orang lain, mungkin itulah batasannya. Batasan untuk kamu berkata, "Ini terbaikku. Terima kasih wahai diri, maaf wahai pribadi-pribadi yang belum mampu kupuaskan. Ini terbaikku, masalah ada pada Anda, bila ini bukan terbaik menurut Anda."

Bukan... Bukan berarti kita menyerah, atau tak mau belajar. Hanya saja, ada kalanya kita harus menerima kenyataan bahwa kita harus mencukupkan diri kita pada level itu. Selebihnya, biarkan hati dan iman yang bicara, biarkan Tuhan menyelesaikan sisanya. Tugas kita semata di dunia adalah ikhtiar, berusaha sebaik mungkin, bukan berhasil. Tuhan tidak pernah memaksa kita untuk berhasil, Tuhan hanya ingin lihat kesungguhan kita. Konsistensi, upaya, keberanian, dan pada akhirnya keikhlasan kita menerima, bahwa upaya terbaik kita belum tentu dinilai baik oleh lainnya. Saatnya kita berlapang dada.

Sebab, tak semua dari kita harus menjadi pemeran utama di panggung dunia ini. Bisa jadi, memang kita adalah figuran, pendukung demi lancar dan ramainya pertunjukan.

Sebab, tak semua dari kita harus menjadi jalan utama yang besar. Bisa jadi, memang kita adalah jalan setapak, yang mampu menunjukkan arah dengan upaya kita yang kecil dan hampir tak terlihat.

Berhentilah menyalahkan diri sendiri, berdamailah dengan hatimu. Relakan dirimu melakukan kesalahan, dengan janji tak akan mengulangi. Bukankah itu, penerimaan yang indah?


Meta morfillah

26 June, 2014

Cinta adalah sahabat, yang mirip?

"Cinta adalah persahabatan"

Quote ini menghiasai banyak sekali film, buku, lagu, puisi. Kalian pasti pernah mendengarnya di manalah, bukan?

Tapi sebenarnya, menurut hemat saya, poin quote ini bukan: maka cinta sejati kalian kadang adalah sahabat sendiri, silahkan cek sahabat-sahabatnya. Bukan itu.

Melainkan ketika kita tiba di level paling tinggi sebuah hubungan cinta, maka cinta itu berubah mengkristal menjadi persahabatan. Seperti orang tua kita, seperti kakek-nenek kita. Seperti orang-orang  tua di sekitar kita. Cinta mereka menjelma menjadi persahabatan abadi. Bahkan mereka terlihat mirip satu sama lain, wajahnya, cara bicaranya, cara berjalannya. Seperti dua sahabat karib yang begitu dekat--karena, oleh dan untuk cinta.

--Tere Liye

Pemikiran di atas cukup menarik. Sahabat jadi cinta, atau  cinta jadi sahabat ya? Whatever, menurut saya pribadi, semua itu adalah bentuk cinta. Karena cinta serupa energi, memiliki hukum kekekalannya sendiri. Cinta tidak pernah hilang, hanya berganti bentuk. Awalnya kekasih, lama-lama menjadi sahabat, teman hidup dan partner in crime too.

Lalu, bagaimana dengan mitos bahwa pasangan yang mempunyai wajah mirip antara satu sama lain berarti jodoh? Namun, benarkah lawan jenis yang berwajah mirip berarti dia berjodoh dengan kamu? Jawabannya, tidak juga. Sebab jodoh adalah rahasia Tuhan.

Mereka yang memiliki kemiripan wajah, berjodoh, merupakan penegas bahwa manusia cenderung menyukai orang yang memiliki kemiripan dengannya. Entah itu kemiripan dalam hobby, minat dan bakat bahkan kemiripan fisik. Karena tanpa mereka sadari bahwa mereka menyukai refleksi dari diri mereka sendiri. Saat saya searching, ternyata ada penelitiannya. Berikut paparannya, (saya ambil dari sini)


Orang-orang yang berkumpul karena cinta pasti akan melihat kesamaan di antara dirinya dan pasangannya. Maka tak heran kita sering melihat orang yang memiliki kesamaan wajah akhirnya menikah. Seorang psikolog pun melakukan percobaan untuk menguji fenomena ini. Ia menganalisis foto-foto dari banyak pasangan yang diambil ketika mereka masih pengantin baru dan foto-foto dari pasangan yang sama 25 tahun kemudian.


Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pasangan suami-istri itu telah berkembang menjadi mirip satu sama lain dari waktu ke waktu. Dan apabila pasangan itu hidup bahagia dan tetap saling mencintai, maka semakin besar kemungkinan memiliki peningkatan kesamaan fisik.


Peneliti tersebut menduga pasangan yang makin tua tampak makin mirip itu karena mereka mempunyai kontak dekat dan meniru ekspresi wajah pasangannya masing-masing.


Contohnya, jika pasangan tersebut memiliki selera humor yang baik dan banyak tertawa, mungkin dia akan mengembangkan garis tawa di sekitar mulutnya dan begitu juga pasangannya. Jadi kemiripan antara Anda dan pasangan biasanya tidak akan terlalu terlihat ketika Anda dan pasangan baru saja menjalin hubungan dan menghabiskan waktu bersama dalam waktu yang singkat.


Karena biasanya kemiripan terjadi ketika kalian sering berbagi segalanya dalam waktu yang lama dan berproses.


Namun, kesamaan wajah tersebut tidak mutlak menjadi tanda bahwa orang yang mirip wajahnya dengan Anda berarti jodoh dan yang tidak mirip sama sekali berarti bukan jodoh. Karena mungkin Anda dan pasangan tidak memiliki kesamaan fisik, namun pastilah terdapat kesamaan- kesamaan lain yang membuat Anda dan kekasih bisa saling jatuh cinta. Karena, dalam kehidupan sehari-hari, pasangan yang memiliki minat, kepribadian atau sifat yang sama lebih banyak kita temui daripada yang memiliki kemiripan wajah.


Jika Anda adalah seorang yang gemar membaca buku dan memiliki pengetahuan yang luas contohnya, Anda akan cinderung menyukai laki-laki yang gemar membaca buku juga.


Pasalnya, Anda dan laki-laki tersebut akan mempunyai pemikiran yang sama dan bisa saling mengimbangi satu sama lain. Jadi, kemiripan wajah tetap bukan jaminan mutlak bahwa dia adalah jodoh Anda.


Bagaimana? Masih mencari-cari orang yang memiliki kesamaan wajah dengan kamu? Menerka-nerka jodohmu? Mencari-cari jodohmu di antara sahabatmu? Dunia ini begitu luas. Perbaiki dirimu, perbanyaklah teman, dan teruslah meminta padaNya, jodoh terbaik menurut pilihanNya. Semoga kita semua diberikan jodoh yang mampu menjadi sahabat kita hingga akhirat kelak. Aamiin

Meta morfillah

24 June, 2014

Foto Dalam Dompet



"3...,2...,1...,"
Naga datang. Lalu menaruh tasnya pada meja yang bersebelahan dengan meja Dara.
"Setelah menaruh tas, lalu Naga akan duduk dan membuka tumblernya,"
Naga duduk dan membuka tumblernya. Meneguk dengan cepat. Sangat haus.
"Setelahnya, Naga akan menyapaku,"
"Halo Dara, Semangaat!" Seru Naga seraya memamerkan senyumnya yang membuat Dara meleleh.
Semua sama seumpama yang Dara bayangkan dalam benaknya. Dara sangat hafal gaya Naga—teman yang bersebelahan meja dengannya. Tentu saja, telah mudah kauterka, Dara menghafalnya karena Dara memeram sebuah rasa khusus pada Naga. Naga adalah cowok yang Dara suka. Sejak mereka duduk bersebelahan meja karena satu departemen. Wajah Naga memang enggak ganteng banget, berbeda jauh rupanya dengan cowok-cowok yang berusaha memenangkan perasaan Dara. Namun, lama-kelamaan Dara melewatkan waktunya bersama Naga, mengenalnya, sungguh menyenangkan. Naga lucu, ramah, supel dan acuh padanya. Sekadar ucapan "Halo Dara, Semangaat!" yang baru saja Naga lontarkan, terasa khusus untuk Dara. Menyebabkan debar-debar pada jantungnya, seumpama orang yang tersengat. Tambahan pula, senyumnya. Walau Naga mengucapkan halo ke semua teman kantornya saat berpapasan, tetap saja Dara merasa khusus, karena Dara adalah orang pertama yang selalu mendapatkan ucapan tersebut.
“Semoga kaurasa apa yang kurasa,”
***
Naga tercangak-cangak saat rapat bulanan.
"Gunakan punyaku dulu," ujar Dara seraya menyodorkan pulpen pada Naga.
"Wah, Thanks Dara. Tahu aja aku butuh pulpen, hehe...," ujar Naga dengan senyum lebar khasnya.
"Ya tahulah, kamu kan suka butuh pulpen namun lupa bawa terus," jawab Dara "makanya aku taruh banyak pulpen dalam tasku," lanjut Dara dalam gumamnya.
"Memang kamu teman sebelah meja yang T.O.P B.G.T. Dar!" Naga mengacungkan dua jempol tangannya.
Dara hanya tersenyum.
"Duh, Naga... Nyadar kek! Aku suka sama kamu. Jangankan pulpen, perasaanku juga rela aku curahkan ke kamu," gumam Dara dengan suara pelan, agar tak terdengar oleh Naga.
***
"Buat kamu, Dar!" Naga menyodorkan kue bolu rasa cokelat ke hadapan Dara.
"Wah, Thanks yaa...," Dara tersenyum lebar.
"Anggap aja bayar sewa pulpenmu, hehehe. Sengaja kubawakan kue bolu rasa cokelat, soalnya kamu enggak suka keju, kan?"
"Hah, kok kamu tahu?" Dara terkejut.
"Kan, kamu pernah ngomong enggak doyan keju, waktu Evan bawakan kamu oleh-oleh keju sepulang jalan-jalan ke luar,"
"Oh, ya? Hehee...,"
Memang benar, Evan—cowok yang menyatakan rasa sukanya pada Dara, lalu Dara tolak—beberapa waktu lalu membawakannya oleh-oleh keju. Sayangnya, Dara menolak. Bukan saja karena Dara enggak suka keju, namun Dara juga enggak suka Evan. Dara enggak suka memperoleh sesuatu karena cowok yang jelas-jelas memendam rasa padanya, namun Dara tak mampu membalasnya. Dara enggak sembarangan. Takut ada omongan orang-orang yang mencapnya penebar harapan palsu, atau parahnya cewek matre!
Tahu bahwa Naga mencatat kata-katanya, Dara tambah tersenyum lebar.
"Aah..., Naga. Kamu so sweet bangeeet," gumam Dara seraya menatap punggung Naga yang menjauh ke arah luar kantor.
***
Aku suka kamu dalam  tenang
Kucoba mendekatkan rasaku pada rasamu
Adakah kamu merasakannya?

Naga mendapat maklumat atasan untuk segera ke kantor cabang Yogyakarta, karena ada masalah. Selama dua pekan yang akan datang, meja sebelah Dara akan kosong. Ketakberadaan Naga membuat semangat Dara melemah.

Kalau kausenang hanya karena yang kausuka ada dalam jarak pandangmu, dan tak tenang, resah saat kau tak menemukannya, tandanya kau benar-benar menempatkannya dalam rasamu yang terdalam.

Aah, Dara merasakan ketakwarasan pada otaknya. Dara takut akan kangen akut selama dua pekan. Resahnya terbaca oleh Bunga, teman Dara yang berbeda departemen. Tanpa tahu apa yang sedang melanda Dara, Bunga mengajaknya lunch bareng. Saat akan membayar, dompet Bunga terjatuh dan terbuka. Tanpa sengaja, Dara menemukan foto Naga berdua Bunga, berpose mesra dalam dompet Bunga. Ternyata, Naga telah berpacaran dengan Bunga selama enam bulan. Kecewa yang amat sangat menohok Dara. Untunglah, ada jeda dua pekan. Jarak dan waktu menegaskan perasaan Dara. Dua pekan, membukakan mata dan rasanya, bahwa Naga hanya menganggapnya sahabat. "Kalau boleh aku berdoa, agar kausuka padaku, Naga. Semua akan terasa…" keluh Dara tanpa sanggup melanjutkannya. 
***

Menunggu dan kehilangan

Sampai kapan aku akan menunggu?

Mungkin pertanyaan itu kerap kali kita lontarkan dalam hati. Untuk segala hal, kepastian dari seseorang, penyelesaian akan suatu hal, atau akhir dari segalanya.

Apakah mudah menunggu itu? Menyenangkankah? Atau malah menyebalkan?

Semua tergantung pada apa, siapa dan seberapa siap kita dalam menunggu. Bila yang ditunggu adalah kepastian dari seseorang yang kita cintai, bisa jadi hal itu menyebalkan. Sebab, hanya dia yang tahu berapa lama lagi kamu harus menunggu. Kamu menjadi si pasif, yang pasrah diombang-ambing nasib yang ia kendalikan. Bila yang ditunggu adalah akhir dari segalanya, seperti kematian, bisa jadi itu menyenangkan. Kamu akan menunggu penyelesaian hidupmu dengan penuh kesadaran, dan akan selalu mengupayakan yang terbaik dari dirimu agar penyelesaian atas hidupmu berakhir indah.

Sebab hidup adalah perihal menunggu. Menunggu kapan waktu kita tidak menunggu lagi. Sadarkah kamu akan hidup kita yang pada dasarnya selalu menunggu?

Begitu pun kehilangan. Kita menunggu, kapan kita akan kehilangan sesuatu. Kehilangan orang-orang yang kita cintai, kehilangan sebuah benda yang kita sayangi, dan kehilangan lainnya. Semua hanya permainan waktu. Lagi-lagi kita hanya menunggu. Sebab, kehilangan adalah niscaya. Hanya satu kehilangan yang amat sangat ingin kita hindari. Kehilangan iman. Mampukah kamu bayangkan, bila esok hari saat kamu terbangun, tiba-tiba kamu sudah tak beriman?

Mana lebih menyakitkan? Kehilangan prinsip hidupmu (iman), ataukah kehilangan pasangan hidup?

Ah, sebenarnya apa yang sedang kubicarakan? Menunggu dan kehilangan... Ini hanyalah tulisan pengalih perhatianku, saat menunggu kapan tiba di rumah, melihat kemacetan Jakarta yang semakin parah. Dan tentang kehilangan waktu bersama keluarga, yang diambil paksa melalui kemacetan ini. Aaah...


Meta morfillah

19 June, 2014

Tentang keimanan

Aku mau ngomong sama kamu. Kutunggu di restoran biasa sepulang kerja.

Katari membaca BBM Nugi dengan hela nafas yang panjang. Untuknya, hal ini sudah dapat diprediksi. Ketika seorang lelaki mengatakan “Aku mau ngomong sama kamu” biasanya akan ada hal serius yang dibicarakan. Katari paham, apa yang hendak disampaikan oleh Nugi. Perasaan itu kembali datang menghantuinya, seperti sebelum-sebelumnya. Kalau saja boleh, ia ingin menghindarinya. Ia tak mau  membayangkan hasil pertemuan itu. Tapi ini Nugi, sahabatnya. Demi persahabatan mereka yang sudah terjalin sejak lama, ia harus menemui Nugi.
***
“Bisakah kita lanjutkan hubungan ini, lebih dari sekadar persahabatan?”

Katari memutar-mutar cincin emas di jari manis kirinya, menghindari tatapan Nugi yang terasa begitu menusuk ke dirinya.

“Ri…”

Helaan nafas panjang. Tentu saja, helaan itu berasal dari Katari.

“Gi…”

“Kenapa? Apa salah kalau aku meminta lebih?”

“Enggak. Kamu enggak salah. Aku yang anomali.”

“Aku tahu prinsip kamu. Aku belum bisa mengabulkannya saat ini. Tapi aku benar-benar serius sama kamu. Aku sudah bicara sama mamamu. Please, Ri…”

“Gi…”

Mata Katari berkabut. Ada banyak kalimat yang ingin ia lontarkan, tapi semua tersangkut di tenggorokan. Ia tercekat. Tak mampu. Ini Nugi, bukan lelaki-lelaki sebelumnya yang dengan mudah dapat ia tolak perasaannya, tanpa berpikir dua kali. Nugi, lelaki yang ia harapkan menjadi pendampingnya kelak. Sayangnya, Nugi tetaplah lelaki. Meminta hal yang sama seperti lelaki-lelaki sebelumnya. Hal yang tak mungkin ia kabulkan.

“Kurasa aku enggak perlu menjelaskan panjang lebar, Gi. Kamu tahu jawabannya,” ada yang menyeruak di dalam dada Katari saat mengatakan ini. Seakan ada yang membuat lubang menganga di hatinya. Sakit. “Aku pulang duluan, Gi.”

Bahkan makanan yang ia pesan belum sempat tersentuh, Katari sudah berlari meninggalkan Nugi yang terdiam. Sepanjang perjalanan menuju rumah, ia menahan kabut di matanya agar tak menjadi hujan. Hatinya menggugat Tuhan. Tapi, apa daya. Ia hanyalah ia. Seorang hamba yang lemah, tiada daya upaya.
***

Bagaimana rasanya? Menolak orang yang selama ini kamu harapkan menjadi pendampingmu, hanya karena caranya tak sesuai dengan prinsipmu? Adakah yang lebih sakit? Bagi Katari, itu adalah pukulan terhebatnya.

“Bagaimana mungkin kamu mengaku beriman, sedang kamu belum diuji?”

Kita tidak akan pernah diuji dengan hal yang kita kuasai. Pastilah Tuhan menguji kita berdasarkan kelemahan yang kita miliki. Seseorang yang lemah terhadap wanita, tapi kuat terhadap tahta dan harta, tentulah akan diberikan ujian berupa wanita. Sama seperti Katari—muslimah yang berusaha lurus, mematuhi perintah Tuhannya, menghindari pacaran—yang lemah perasaannya akan cinta, juga lemah untuk berkata “Tidak”. Maka berulang kali, ia dihadapkan pada situasi yang penuh cinta. Walau ia bukan primadona, tapi tidak sedikit lelaki yang mengejarnya, menyatakan cinta dan ingin mengajaknya pacaran. Kali pertama, ia terjerat. Saking susahnya berkata “Tidak”, ia terima lelaki itu menjadi pacarnya. Namun itu hanya bertahan 22 hari. Selalu ada rasa menyesal setiap habis bertemu sang lelaki. Menyadari bahwa itu adalah suara hatinya yang mengenali dosa, maka ia menghentikan hubungan itu. walau sang lelaki menangis memohon agar ia kembali padanya. Lalu ia belajar untuk tegas berkata “Tidak”. Hingga saat ini, sejauh ini, ia berhasil.

Tapi saat Nugi yang menyatakannya, sahabat sekaligus lelaki yang—awalnya—ia impikan menjadi pasangannya kelak. Lelaki yang ia pikir, dapat memperjuangkan dirinya dengan cara Tuhannya, yang telah ia terangkan. Ternyata tidak. Ia tetaplah lelaki yang sama seperti lelaki-lelaki sebelumnya yang telah Katari tolak.

Ada kekecewaan yang amat sangat. Kecewa terhadap sikap Nugi yang tak sesuai ekspektasinya. Kecewa terhadap dirinya, yang menjadi anomali di zamannya, karena memilih prinsip ini. Ingin rasanya menggugat Tuhan. Mengapa saat ia tak mengharap cinta semu, dihadirkannya banyak cinta semu nan menggoda hati? Mengapa hal sederhana yang ia panjatkan, menjadi begitu rumit bagi sebagian orang yang menghargai prinsipnya? Apakah tak ada lagi, lelaki yang berani? Bukan keberanian membunuh naga, atau melawan penyihir jahat, melainkan hanya keberanian meminta dirinya pada walinya.

Lantas, apakah karena kekecewaan itu, Katari melepaskan prinsipnya? Inilah pergulatan batin terhebat di tiap diri manusia. Mana kala harus memilih antara sesuatu hal yang amat disayanginya, dibandingkan apa yang disenangi tuhannya. Itulah ujian sebenarnya, tentang keimanan. Bukan berarti rajin salat, puasa, dan amalan lainnya menandakan kamu begitu taat. Melainkan, saat kamu diuji, memilih dan berdamai atas kekecewaan karena tidak mendapatkan apa yang kamu inginkan. Itulah keimanan yang sesungguhnya.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi, kamu menyukai sesuatu, tapi sesungguhnya itu tidak baik bagimu.”

Meta morfillah

Text Widget

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik