Pages

27 April, 2017

[Review buku] Happy little soul

Judul: Happy little soul
Penulis: @retnohening
Penerbit: Gagas Media
Dimensi: xiv + 202 hlm, 13 x 19 cm, cetakan perkedua 2017
ISBN: 978 979 780 886 0

Saya tertular teman saya yang suka sekali mengikuti IG ibook @retnohening. Awalnya bingung, mengapa teman saya suka banget sama anak bernama Kirana ini. Diperlihatkan pun saya masih cuek saja. Tapi suatu ketika di saat jeda rapat, saya bosan dan iseng lah manfaatin wifi untuk kepo dari awalan video kirana.

Dari sanalah saya jatuh hati. Sebab saya ikuti alurnya. Betapa ajaib perkembangan seorang anak bernama Mayesa Hafsah Kirana. Lalu saya langsung membayangkan betapa hebat ibooknya. Bukankah begitu, setiap kehebatan anak adalah hasil jerih payah orangtua hebat? Tapi tetap saya tidak follow ibook sebab saya tak suka keramaian/ketenaran baik di dunia nyata ataupun sosial hehe

Nah, ternyata banyak yang ingin dengar kisah ibook dalam mendidik kirana. Hal itu dijawab dalam buku ini. Ibook menjelaskan dari awal hamil Kirana, apa saja yang ibook lakukan saat mengasuh Kirana, permainan apa yang dilakukan ibook dan Kirana di tiap fase, resep makanan yang suka dibuat bersama Kirana, latar gaya mendidik ibook berdasarkan multiple intelligence dan 7 habits, dan foto-foto Kirana.

Hebat ibook! Padahal ibook tak pernah mimpi menulis buku, tapi kesederhanaan dan cinta tulus ibook untuk Kirana membuat ibook mencapai sebuah mimpi yang banyak orang mau tapi tidak semua mampu. Buku ini bukanlah buku parenting, saya membacanya seperti IG atau diary ibook saja. Tapi lebih terasa hatinya.

Pilihan katanya mengalir dengan gaya ibook dan Kirana yang bisa saya bayangkan persis di IG. Meski di beberapa part terasa pengulangan. Maka saran saya, lihat dulu video di IG ibook baru baca buku ini biar lebih asyik. Tampilan bukunya pun saya suka. Ilustrasi Kirananya bagus dan full colour.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

"Untuk semua ibu dan calon ibu, yakinlah ketika Allah memberikan kepercayaan dan menitipkan anak kepada kita, Ia pasti juga memberikan kemampuan untuk kita membesarkan dan mengasuhnya. Kita hanya perlu yakin dan percaya." (H.vii)

"Menjadi guru hebat, yang terpenting adalah menjadi contoh yang baik." (H.27)

"Jelas saya akan selalu mencintai anak saya. Namun, untuk SELALU JATUH CINTA itu beda perkara. Untuk selalu jatuh cinta pada Kirana, saya merasa harus membangun hubungan yang baik dan manis." (H.32)

"Ketika menjanjikan sesuatu ke Kirana harus ditepati, tidak boleh ada janji-janji palsu atau PHP. Apa yang dijanjikan harus dilaksanakan atau tidak usah mengiming-imingi sama sekali. Dengan begitu, rasa percaya Kirana ke orangtuanya akan tumbuh." (H.86)

"Children don't need more things. The best toys a child can have is a parent who gets down on the floor and plays with them." (H.87)

"Dengan ikut bermain bersama, saya berkesempatan mengajarkan banyak hal.
Kapan lagi kembali menikmati masa anak-anak di usia yang tak lagi anak-anak kalau bukan ikut bermain bersama anak?" (H.92)

"Membiasakan melakukan kebiasaan baik pada anak harus konsisten karena terkadang, pekerjaan itu sangat melelahkan dan menguji kesabaran. Belum lagi ketika anak tidak merespons usaha kita sesuai harapan. Namun, perlu diingat, menanamkan kebiasaan baik ini bermanfaat untuk nuraninya kelak. Jangan menyerah hanya dengan sekali-dua kali percobaan." (H.158)

"Kita harus kuat menjalani peran itu. Bagaimana pun, anak akan kuat jika ibunya kuat." (H.167)

"Hampir setiap hari, sebagai ibu ada saja kesalahan. Merasa bersalah karena melakukan kesalahan adalah sebuah tanda yang baik. Berarti kita tahu bagaimana nantinya memperbaiki diri dan pola asuh, berusaha menjadi lebih baik setiap harinya." (H.181)

"Jika ibu bahagia maka seisi rumah akan bahagia." (H.190)

"Menjadi ibu adalah tentang jatuh cinta setiap hari kepada anak dan suami, tentang belajar bersabar tiada henti, dan tentang menguji keikhlasan yang dimiliki. Kita bisa menemukan kekuatan yang tak sangka dimiliki, dan melakukan segala sesuatu yang rasanya tak mungkin dikerjakan, tetapi akhirnya bisa dilalui." (H.193)

Meta morfillah

26 April, 2017

Jangan menipu diri

JANGAN MENIPU DIRI

"Jangan terlalu cerdas jadi wanita, lelaki merasa ciut nyalinya kalau kalah pintar."

Aisyah, istri Rasul kurang cerdas apa? Tapi Rasul tidak ciut. Rasul malah menyuruh kita semakin iqra' (baca), nun (pena/tulis), tuntut ilmu sampai akhir hayat. Pun hingga wanita masa kini, banyak yang cerdas. Alhamdulillah tetap berjodoh.

"Jangan terlalu mandiri, lelaki tidak suka pada wanita yang kurang manja."

Hajar ditinggal Ibrahim, berdua dengan bayi merah. Ia begitu mandiri, mengurus diri & bayinya sendiri dengan lindungan Allah. Bahkan hingga Ismail dewasa, bisa dihitung berapa kali saja pertemuan Ibrahim dengan anaknya. Kalau dalam kondisi begitu, bisakah bertahan wanita manja? Sanggupkah ia berpeluh dalam sa'i?

"Jangan terlalu menonjol/berprestasi, sebab lelaki tak suka dikalahkan."

Dan masih banyak JANGAN lainnya.

Saya kira, semua itu menegaskan bahwa ya sudah, lelaki itu belum berjodoh denganmu. Selesai. Bukankah konsep berjodoh juga sekufu? Kalau memang ingin mendapat pasangan saleh, ya kita pun harus saleha. Saleh itu mencakup sifat Nabi amanah (bisa dipercaya), shiddiq (benar), tabligh (mampu menyampaikan), dan fatanah (cerdas).

Kalau memang Alhamdulillah kamu cerdas, mandiri, & berprestasi, ya sudah lanjutkan. Allah mencintai mukmin yang kuat dibanding mukmin yang lemah. Perkara jadi banyak lelaki yang mundur karenanya, berarti Allah baik hati menyaring jodohmu. Sebab kalau iman sudah di dada, insya allah wanita sehebat apa pun tahu kadar dirinya & surganya saat sudah menjadi istri. Ia akan paham bagaimana memuliakan suaminya, pun sebaliknya.

Jangan menipu diri dengan mengurangi kecerdasan, tampil sedikit bodoh, dimanja-manja, tidak mau berprestasi hanya karena takut tidak dipilih lelaki.

Hei, mintalah Firdaus paling tinggi! Itu kata Rasul loh. Dan kamu punya Allah Yang Maha Kuasa, Maha segala. Minta sama Allah, satu saja lelaki yang diridhai & kau pun ridha untuk menjadi pendampingmu. Dunia saja bisa Allah berikan padamu, masak iya satu lelaki saja kamu ragu untuk meminta. Malah lebih dengar omongan yang mengecilkan Allah tersebut.

Tenang saja... selama kita taat, Allah tidak akan menyiakan apalagi membuat kita bersedih.

Meta morfillah

24 April, 2017

[Review buku] Menyimak kicau merajut makna

Judul: Menyimak kicau merajut makna
Penulis: Salim A. Fillah
Penerbit: Pro-U media
Dimensi: 408 hlm, cetakan pertama 2012
ISBN: 979 1273 96 0

Buku ini adalah kumpulan kicauan Ustad Salim di twitternya @salimafillah. Dikemas dengan apik dan dalam bentuk narasi dengan ragam topik untuk direnungi. Sebenarnya mudah menyelesaikan buku ini dalam sekali baca.

Namun keindahan dan kedalaman maknanya membuat saya sengaja berlama dan menadabburi kembali maksud tiap kata, peristiwa dan pemahaman baru yang saya dapatkan. Bahkan di beberapa part sangat sesuai dengan konteks aktual saat saya membaca buku ini: PILKADA DKI PUTARAN II 2017.

Aah... rasanya hampir semua kalimat dalam buku ini ingin saya kutip. Menginspirasi untuk dijabarkan dalam kontemplasi diri lanjutan.

Saya apresiasi 5 dari 5 bintang.

"Mericaulah yang baik: benar isi, indah cara, tepat waktu, bermanfaat, dan berpahala. Atau DIAM menyimak, ambil ibrah terbaiknya." (H.20)

"Aku bukan tak sabar, hanya tak ingin menanti. Karena berani memutuskan adalah juga kesabaran. Karena terkadang penantian membuka pintu-pintu syaitan."
"Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilakan. Yang ini pengorbanan." (H.45)

"Mendahulukan memahami sesama itu melelahkan jiwa, tapi siapa yang ahli mengasahnya, kan dihadiahi cinta dan doa: jelita, rahasia." (H.88)

"Menolak suatu kejahatan, jangan sampai melahirkan kejahatan yang lebih besar. Memenangkan kebenaran, bukan cuma soal memenangkan argumen, melainkan memenangkan hati. Hati tunduk oleh akhlak mulia. Jika hati sudah jatuh cinta pada pekerti, tak diberi hujah pun dia akan mencari dalilnya sendiri." (H.95)

"Tinggal di Negeri Sakit memang menyesakkan, tapi kami syukuri negeri sakit ini dengan sangka baik padaMu, inilah hamil kepahlawanan yang memualkan, memberati punggung, menyulitkan gerak." (H.124)

"Bahagia adalah masa lalumu tak membelenggu, masa depanmu tak menghantu, masa kinimu terisi puncak karya yang kaubisa." (H.129)

"Apa yang paling banyak kaubicarakan umumnya adalah yang paling besar menghuni hatimu. Sayang sekali jika bukan Allah.
Ukuran sesungguhnya pemimpin bukanlah berapa banyak yang melayaninya, tapi berapa banyak yang ia layani." (H.135)

"Kita memang membaca buku, menyimak kajian, tapi kebenaran pemahaman kita belum tentu terjaminkan. Maka menulislah, agar jutaan pembaca menjadi guru yang meluruskan kebengkokan, mengingatkan keterluputan, membetulkan kekeliruan." (H.136)

"Saling mencintai membuat kita tahu cara saling melukai. Tapi cara untuk saling membahagiakan sungguh harus dipelajari." (H.174)

"Allah lebih tahu dibanding kita tentang apa yang terbaik bagi kita. Setiap pengabulan doa selalu diikuti konsekuensinya. Maka jika kita meminta yang terbaik, semoga Allah bimbing juga agar kita mampu menghadapinya." (H.199)

"Iman tak menjaminmu tuk selalu berlimpah dan tertawa. Tapi ia menjaminmu merasakan lembut belaian cintaNya pada apa pun dera yang menimpa. RidhaNya ada pada ketaatan kita di semua warna dan rasa." (H.220)

"Ibu. Madrasah cantik nan agung, tempat anak-anak mempertanyakan semesta dengan bahasa paling akrab, harapan paling memuncak, dan keingintahuan paling dalam. Dermaga paling tenang untuk melabuh hati saat mereka merasa teraniaya. Belai paling menenteramkan saat mereka gelisah. Dekapan paling memberikan rasa aman saat ketakutan. Bahu paling kukuh untuk merebah, bertahan dari amuk badai kesedihan." (H.239)

"Jalan kaki tidak keki, naik mercy tidak grogi, naik angkot tidak sewot, naik garuda tidak jumawa." (H.248)

"Yang diujiNya bukan kemampuan, melainkan kemauan. Tiap penghalang di jalan kehidupan tertakdir ada untuk 1 alasan sederhana: mengetahui sebesar apa tekad kita untuk melampauinya." (H.281)

"Yang kita pertanggungjawabkan ikhtiar kita, bukan hasilnya." (H.289)

"Janganlah ketidaktahuan orang padamu--yang membuat mereka memuji-mujimu--mengalahkan pengenalan sejatimu pada dirimu sendiri." (H.339)

Meta morfillah

23 April, 2017

7 tahun BEM FIP

Long weekend banyak reuni. Minggu ini sama teman seperjuangan di BEM FIP. Minggu depan sama teman SMK TELKOM SPJ. Sayang, keduanya tak bisa kuhadiri sebab sudah ada agenda utama lebih dulu di tanggal yang sama.

Sudah berapa lama ya kali terakhir bertemu teman BEM? Bahkan banyak pernikahan dan kelahiran yang tak kuhadiri. Jauh sekali rasanya masa lalu itu.

Masa di mana jiwa muda--dan akan selalu muda, haha--mengeja TOTALITAS PENUH IKHLAS. Kalimat yang kita jadikan slogan. Dua kata: Totalitas dan Ikhlas, yang hingga kini masih kueja dan belum kukuasai. Dua kata yang pernah dipertanyakan senior kita, di mana letak totalitas kalau masih 4 L (Lo lagi Lo lagi) yang bekerja? Di mana letak ikhlas kalau masih ada keluh?

Woow... bersyukur bertemu dan menghabiskan masa muda dengan kalian. Dengan kesibukan organisasi yang hingga kini terbawa ke dalam hidup sehari-hari. Berjayalah di mana pun kiprah kalian kini.

Salam toge(ther), hehe

Meta morfillah

Selamat Hari Buku Internasional

Selamat Hari Buku Internasional!

Mengapa 23 April? Sebab banyak penulis terkenal yang meninggal di tanggal ini. Nah, siap-siap saja kalau kamu penulis terkenal hehe! #eeh #canda

Kalau bicara buku, semacam bicara kekasih bagi saya. Cinta yang tak pernah salah. Seburuk-buruknya buku, tetap memberi pembelajaran baik buat saya. Baik dari ide, gaya kepenulisan, alur, tata bahasa, dan kontroversinya. Penulis adalah pekerjaan paling seksi bagi saya.

Orang yang menulis dan berkarya ribuan buku itu seksi dengan kecerdasan dan keberaniannya memamerkan kebodohan, tanpa merasa dia yang paling benar. Sebab saat ilmu sudah disebar (explisit knowledge), tidak lagi sekadar di pemikiran (tacit knowldge), akan ada banyak masukan untuk menajamkan pemikiran kita.

Tidak semua akan setuju dan tidak setuju dengan apa yang kita tulis. Tentunya kita pun menulis bukan untuk menyenangkan semua orang.

Hari buku... bagi saya menyadarkan seberapa banyak buku di dunia ini yang telah saya baca? Bahwa terlalu banyak ilmu terserak yang masih belum kita bacai. So many books, so little time.

Hayo, melek literasi! Kurangi gadget, biasakan 1 jam membaca tiap hari. Seru  kayaknya kalau semua berhasil membuat 1 buah buku sebelum mati. Membaca jiwa kalian dari apa yang kalian tuliskan.

Meta morfillah

21 April, 2017

Jangan berduka

JANGAN BERDUKA

Laa tahzan, innallaha ma ana.

Jangan berduka, sesungguhnya Allah bersamamu. Demikian lembut, Allah menghibur dan tak ingin hambaNya berduka. "Yaa...'ibaadii. Duhai, Hambaku..."

Laa tahzan, innallaha ma'ashshoobiriin.

Jangan berduka, sesungguhnya Allah bersama orang yang sabar. Allah lebih tahu tentang dirimu, apa-apa yang telah kaulalui. Allah tak ingin kamu berduka. Sebab kamu telah diciptakan sempurna dan ditinggikan dengan keimanan serta ketakwaanmu.

Meski dunia mengatakan nasibmu akan buruk, nilai dirimu tak termasuk standar manusia keren, Jangan berduka!

Percayalah, kamu begitu disayang Allah. Kasih sayang Allah jauh lebih hebat dari kasih sayang orangtuamu. Tinggal kamu yang harus sadar akan kasih sayangNya. Dimulai dari kesadaran akan kehadiranNya dalam tiap detik hidupmu. Lalu rasakan penjagaanNya.

Maka, jagalah Allah agar selalu di sisiMu. Apa pun yang kauinginkan, Allah sanggup kabulkan. Jangan berduka... minta padaNya.

Teruskan kinerja positifmu, tunjukkan bahwa kamu layak mendapatkan surga Firdaus. Sibukkan dirimu dalam hal-hal yang dicintai Allah, hingga larut dukamu dan bahagia saja yang kaudapati. Sebab bersama Allah, tiada cemas.

Meta morfillah

19 April, 2017

Jangan lengah, ingat Allah!

JANGAN LENGAH, INGAT ALLAH!

Ingat kisah perang Uhud?
Kemenangan yang berbalik menjadi kekalahan telak karena euforia ketamakan dan ketidaktaatan terhadap instruksi pemimpin.

Perjuangan masih panjang. Jangan terlarut euforia semu. Jangan lengah. Jangan sombong. Kawal terus. Doakan terus.

Q. S. An-Naşr:1 dan 3 - Apabila TELAH DATANG PERTOLONGAN ALLAH DAN KEMENANGAN, maka BERTASBIHLAH dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.

Satu lagi, jangan menjelekkan lawan. Kalau kita mau unggul, bukannya menghapus garis panjang (hasil kerja) yang telah dibuat lawan. Melainkan buatlah garis yang jaauuuuuhhhh lebih panjang (hasil kerja) dari lawan kita. Sehingga saat dibandingkan kita akan tetap menang dengan elegan dan diakui tanpa perlu menyakiti harga diri.

Meta morfillah

Mari nyalakan lilin!

Sistem kerajaan di Arab dan demokrasi di Indonesia jauh dari ideal yang kita citakan. Amat jauh dari khilafah yang kita rindukan. Tapi dari 'alim agung bernama Raja' ibn Haiwah, kita belajar agar tak pernah kehilangan harapan untuk menghadirkan kebenaran, keadilan, dan kemaslahatan dalam sistem dan keadaan yang bagaimana pun rusaknya.

Demi Allah, seburuk-buruk pencuri adalah pencuri harapan.

Rasul bersabda, "Siapa yang mengatakan manusia telah hancur, maka dialah orang yang paling hancur." (H. R. Bukhari dan Muslim)

Kita belajar dari Raja' untuk mengamalkan kaidah ushul: Maa laa tudraku kulluhu, fa laa tutraku kulluh. Apa-apa yang tidak bisa kita raih sepenuhnya, jangan kita tinggalkan sepenuhnya.

Raja' tidak mengutuk sistem, melainkan berikhtiar. Dia dekati sang raja, Sulaiman ibn Abdul Malik dan mencari peluang menghadirkan kebajikan dalam tiap kebijakan yang akan ditetapkan.

Akhirnya, dia hadirkan Umar ibn Abdul Aziz kepada umat. Meski hanya 2 tahun masa kekuasaannya, menjadi buah bibir termanis sepanjang masa. Hingga tiada rakyat yang bersedia menerima sedekah dan serigala pun enggan memangsa domba. Meski setelah Umar wafat, kembali kekuasaan diturun temurunkan.

Maka, mari kita nyalakan lilin bagi Jakarta. Lakukan sesuatu. Pilih sosok yang kita harapkan lebih banyak manfaat daripada mudharat. Semoga Allah hadirkan sosok Umar ibn Abdul Aziz bagi Jakarta dan Indonesia. Dengan ikhtiar terbaik kita.

JANGAN GOLPUT! JANGAN HANYA MENGUTUK SISTEM TANPA MAU BERKONTRIBUSI!

#inspire from book - Salim A. Fillah
Meta morfillah

Antara cinta dan ridha Mama

ANTARA CINTA DAN RIDHA MAMA*

Mama adalah satu-satunya curahan cintaku setelah Bapak meninggal. Pintu surga paling tengahku. Pemulus ridha Allah kepadaku. Sebab ridha orangtua adalah ridha Allah dan murka orangtua adalah murka Allah. Begitu sabda Nabiku.

Pintanya agar tidak berjauhan dan berkenan mengurusnya di masa senja adalah titah untukku. Lalu bila datang cinta mengetuk hati namun berseberangan pinta dengan pinta mama, manakah yang harus kupilih?

Banyak omongan menyuruhku cenderung memperjuangkan cinta, terlebih dengan usia yang kian merangkak naik. Kusadari pula semakin kecil dan lemah sisa kekuatan diri. Mama pun mendukung dan berkata mampu berpisah bila aku memilih cinta itu. Semua bisa dikomunikasikan dan diatur.

Tapi... bagiku, yang pernah berada sembilan bulan dalam rahimnya. Satu tarikan nafas. Terbaca jelas kebohongan seorang ibu. Matanya begitu jernih menampakkan harapan yang lantang, pintanya agar aku yang mengurus dirinya di kala senja. Bagaimanalah aku bisa setega itu memilih bahagia di atas ketidakbahagiaannya? Sementara kesimpulan sebagai jalan tengah sulit ditemukan.

Ya... ia akan bahagia sesaat, saat aku menggenapkan cinta. Tapi, setelahnya aku bukanlah lagi haknya. Seorang istri adalah tawanan suaminya. Ridhanya bukan lagi utama bagi putrinya.

Jadi, saat ada pilihan antara cinta dan ridha mama... biarkan aku memilih mama, yaa... cinta yang sudah teruji dan pasti sejati untukku. Cinta yang takkan membuatku kecewa, merana, dan terluka. Cinta yang sempurna untukku yang tak sempurna.

Hingga kelak Allah ridhai satu makhlukNya yang sungguh-sungguh paham agama dan paham betapa besar keinginan baktiku padanya tanpa harus meninggalkan baktiku pada mama.

*Mengutip judul novel karya Asma Nadia

Meta morfillah

18 April, 2017

Allah yang menangkan!

ALLAH YANG MENANGKAN!

Ikhtiar kita sudah diusahakan terbaik memang. Tapi hasil adalah hak Allah. Menang atau kalah bukanlah akhir. Bagian kita adalah menikmati proses.

Meski terbaik kita belum tentu luar biasa, tapi kalau Allah mau kita menang, dunia bisa apa? Pun sebaliknya.

Menang bukan berarti seketika mulia, melainkan akan ada banyak ujian dan tantangan baru untuk membuktikan dan menjaga prestasi. Kalah pun bukan berarti hina, melainkan masih ada waktu untuk kita bebenah dan memperbaiki diri.

Jangan kecewa... tidak akan pernah proses mengkhianati hasil. Bila belum sekarang, insya allah nanti akan kita petik buah yang jauh lebih manis selama proses terjaga.

Tugas kita berikhtiar, Allah yang menangkan! Libatkan Allah dalam hal apa pun. Allah dulu, Allah lagi, Allah terus. Past, present, future.

Meta morfillah

Text Widget

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik