Pages

24 March, 2017

ASET, MODAL, atau BEBAN?

ASET, MODAL, atau BEBAN?

Sebaik-baik orang adalah yang paling bermanfaat.

Itu hadits yang sering saya dengar dan salah satu motivasi saya berkontribusi serta berprestasi dalam tiap kesempatan.

Kalau dalam sebuah perusahaan, orang yang paling bermanfaat itu disebut ASET. Aset bagi perusahaan sebab bila tidak ada dia, perusahaan akan kacau. Semacam pemegang jabatan kunci. Biasanya punya pengaruh hebat, juga performance kinerja yang hebat. Meski kadang posisi atau jabatan tidak tinggi.

Kalau sebatas umum, ada atau tiada tak terlalu berpengaruh, namanya MODAL. Kehadiran dia bagi perusahaan tidak terlalu berpengaruh. Ada ya bagus, tak ada juga tak apa-apa. Mudah terganti dan banyak yang mengantre bisa menggantikan. Sebab kualifikasinya tidak spesifik/khusus/ahli.

Dan seburuknya manusia yang merugikan atau tidak bermanfaat disebut BEBAN. Keberadaannya sesuai namanya, hanya menjadi beban bagi perusahaan. Baiknya mah dibina agar setidaknya menjadi modal. Atau kalau orangnya ngeyel, biasanya perusahaan akan mudah untuk membina...sakan alias dipecat. Tak berharga. Kemampuan tak bisa, kemauan pun tak ada, sikap tak layak. Apalagi yang bisa dibanggakan?

Nah, coba kita hisab... hitung-hitungan sama diri sendiri sebelum dihisab malaikat. Selama kita berada di sebuah tempat, memegang amanah, dll, apakah kita menjadi ASET, MODAL, atau BEBAN?

Astagfirullah...

*kira-kira nih orang yang difoto aset, modal, atau beban ya? Cantik sih iyaa... #laludidoakanjadisaleha

Meta morfillah

Pelangi ukhuwah

I see your true colors
That's why I love you
So don't be afraid to let them show
Your true colors, true colors
Are beautiful like a rainbow

Kautahu apa warna yang paling indah?
Warna yang tercelup oleh warna Ilahi... sibghatallah.
Mewarnai dan terwarnai dalam tali Allah.

Ada yang berapi-api, merah membara, garang... seperti Umar bin khattab.
Ada yang tenang, menenangkan, biru yang luas... seperti Abu Bakar.
Ada yang pemalu, mendamaikan, hijau nan menyegarkan... seperti Utsman bin Affan.
Ada yang kalem cerdas, jeli melihat urusan, hitam yang tegas... seperti Ali bin Abi Thalib.

Ada sahabiyah yang suka terbahak, ada yang lembut, ada yang ringan bersedekah dengan harta, ada yang ringan menolong dengan tenaga, dan lainnya.

Semua warna itu punya kelebihan dan kekurangan. Terlalu dominan menyakitkan mata. Terlalu lembut seperti mengabur. Namun menjadi indah bila dipadupadankan. Dalam rangka melindungi. Bagai sebuah pakaian.

Seperti itulah aku melihat manusia di dunia. Semua berwarna dan memberi warna pada duniaku. Ada yang melindungi, menghangatkan, membuat nyaman, namun ada juga yang kasar, menyakitkan, membuat hati merasa tak aman.

Maka dalam memilih "pakaian dan warnanya"... adalah yang terkait denganNya. Allah dulu, Allah lagi, Allah terus. Past, present and future... always with Allah.

Berbahagialah dalam lingkaran warnaNya... sebagaimana pelangi bersatu memberi keindahan pada bumi. Selepas badai seamuk apa pun, hujan sederas bagaimana pun. Pelangi hadir melengkung sebagaimana senyummu untuk saudaramu.

Meta morfillah

21 March, 2017

Perubahan itu berproses, lembut dan bersabarlah!

PERUBAHAN ITU BERPROSES, LEMBUT DAN BERSABARLAH!

"Kak, kukira kamu itu kanebo kering, loh! Soalnya jilbab lebar, belum kenal diam saja, mengamati jeli. Tapi setelah kenal ternyata asyik banget!"

Pernah dibilang kanebo kering juga? Maksudnya kaku. Kalau tidak sejalan dengan paham dia, biasanya cemberut. Merasa bukan teman. Jatuhnya eksklusif.

Yaa... kadang kita, utamanya saya, juga sering terjebak dengan hal itu. Merasa risih bila tidak berkumpul dengan kawan yang sudah terjaga. Sedikit-sedikit bawa dosa, haram, dll. Astagfirullah...

Kita lupa bahwa perubahan itu butuh proses. Dakwah itu asalnya lembut dan memenangkan hati. Bahkan kita, utamanya saya, lupa bagaimana dahulu berproses hijrah. Bahwa kita berubah karena teguran yang baik, teladan yang konsisten, dan apresiasi sahabat yang setia. Hingga kita sampai seperti sekarang.

Kadang kita mengalami pubertas spiritual (mengutip kata-kata ustad hanan attaki). Maksudnya kita semangat/ghirah tinggi mempelajari ilmu agama, tapi lupa meneladani akhlak pembawanya, Rasulullah SAW. Bukankah aneh, bila semakin sering mengkaji sunnah, tapi semakin sulit tersenyum? Padahal senyum itu sunnah Rasul yang tak lepas dari wajahnya.

Ya, pubertas spiritual. Menjadikan kita bertindak sebagai hakim yang menghakimi mereka yang belum atau sedang berhijrah. Kita lupa bahwa percepatan belajar tiap manusia berbeda. Kita suka mengukur kemampuan seseorang dengan baju kita sendiri. Memaksakan meski tak muat.

Astagfirullah...

Meta morfillah

[Review buku] Muhammad: Sang pewaris hujan

Judul: Muhammad sang pewaris hujan
Penulis: Tasaro GK
Penerbit: Bentang
Dimensi: viii + 584 hlm, 23.5 cm, cetakan keempat Agustus 2016
ISBN: 978 602 291 135 7

Novel ketiga dari tetralogi novel biografi ini berkisah tentang Kashva dan pertemuannya dengan Bar Nasha yang membuatnya menyadari bahwa tidak pernah ada Elyas. Sementara dunia Islam semakin mencapai kecemerlangannya di bawah pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Persia, Mesir dan perlahan Byzantium, konstantinopel mulai ditaklukkan.

Sayang, pemulihan diri Kashva mengalami bencana. Ia diserang dan kehilangan memori masa lalunya. Ia menjelma Elyas. Di saat yang sama, Astu mencari perihal kabar Kashva dan anaknya Xerxes. Takdir berliku, akankah mereka bertemu? Akankah semua pertanyaan berujung jawaban?

Ya, ini adalah novel. Namun emosi saya begitu teraduk bahkan jauh lebih sedih dibanding membaca sirah yang kadang tak saya pahami maksudnya. Meski tetap harus berhati-hati sebab ada unsur fiktif di dalamnya, novel ini merupakan favorit saya yang sulit memahami sejarah dengan logika.

Saya merasa semakin dekat bila membaca perasaan tokoh dalam cerita. Terima kasih pada penulis yang berusaha membuat saya memahami mengapa ada konflik ini karena rasa itu. Jauh lebih mudah. Dan capek. Nangis terus. Betapa saya membayangkan bagaimana rasanya membersamai Rasul dan sahabat yang utama. Ukhuwah luar biasa.

Novel ini pun seakan urut menceritakan kekhalifahan Rasul di buku pertama, Abu bakar di buku kedua, Umar di buku ketiga dan ditutup dengan Utsman yang baru saja dibaiat menjadi khalifah selanjutnya. Aah... membuat saya ingin memiliki buku keempat. Ya, siapa yang mau hadiahkan? #eeh

Saya apresiasi 5 dari 5 bintang.

"Pada dasarnya setiap manusia memiliki kerinduan pada Tuhannya. Meski itu setitik kecil di dalam batinnya. Manusia berangkat meninggalkan Tuhan melalui kelahirannya di dunia. Lalu, kembali melalui perjalanan panjang di dunia hingga kematiannya." (H.152)

"Bagaimana cara mengetahui tujuan takdir?
Tentu saja dengan menjalaninya." (H.306)

"Mengapa kita harus berdoa? Bukankah Allah Mahatahu kebutuhan kita?
Agar manusia menjadi rendah hati. Tahu diri siapa hamba dan siapa Tuhannya. Ketika engkau melakukannya, engkau mengusir sikap sombong, malas, apalagi berharap kepada selain Allah." (H.351)

"Aku tak pernah menyandarkan harapanku pada sesama manusia sehingga aku tak merasa kecewa saat dikecewakan. Tak merasa harus marah saat orang menyakitiku. Tak merasa iri jika orang lain mendapatkan lebih banyak rezeki." (H.351)

"Memiliki anak sama saja meletakkan jiwa di badan yang asing." (H.498)

"Dunia ini korup, tetapi engkau bisa mengubahnya." (H.514)

Meta morfillah

Tarik ulur: Reward, konsekuensi

TARIK ULUR: REWARD, KONSEKUENSI

"Ibu, coba diam sebentar."

Teman-temannya langsung melirik anak ikhwan tersebut. Menegur dari tatapan.

"Eh jangan deh, Bu. Ibu jangan diam. Ibu kalau diam kan marah. Ibu mendingan bawel aja. Gak seru kalau Ibu diam."

Aku tersenyum. Aku paham mereka bercanda. Tapi sekarang agak sungkan. Genap seminggu memang aku mendiamkan mereka sebab ada adab yang kelewat batas. Aku gubah peraturan baru berisi konsekuensi dan reward. Kepsek pun ikut andil menyemangati dengan beragam reward atas prestasi dalam kognitif dan afektif.

Aku bilang pada mereka bahwa aku kecewa dengan sikap mereka. Aku ungkapkan dengan suara lirih apa saja harapan guru mereka. Aku puji satu per satu yang berhak dipuji. Lalu kututup dengan pernyataan bahwa aku tak akan seasyik dulu. Aku akan menjaga batasan guru dan murid.

Alhamdulillah... dengan diam itu mereka paham bahwa aku kecewa. Mereka berusaha kembali mengambil hatiku. Menuruti semua aturan yang kubuat. Meski kadang aku harus ingatkan sesekali. Yaa... wajar, psikologi perkembangan mereka sedang dalam masa-masa 'nakalnya'.

Kautahu... menjalani profesi ini semakin membuatku sadar ada banyak PR kita dalam membangun peradaban ini. Betapa kita harus senantiasa memperbaiki diri, menjadi teladan di mana saja, semakin berlapang hati dan bijak bersikap serta bertutur sesuai pemahaman orang yang dihadapi.

Yaa Rabb... berikanlah kesabaran pada para ulama, dai, guru, dan orangtua kami. Mungkin kami pernah menjadi ujian bagi mereka hingga membuat mereka ingin menyerah. Maafkanlah kami dan mereka yaa Rabb...

Luruskan selalu kami dan mereka dalam jalanMu, istiqamahkanlah. Meski kadang kami masih moody dan perlu ditarik ulur dengan reward dan konsekuensiMu: surga atau neraka?

Meta morfillah

20 March, 2017

Semua karena Allah

SEMUA KARENA ALLAH

"Apa susahnya coba sedekah 100 ribu sebulan?"

"Masak gitu aja gak ngerti, sih? Padahal gampang. Tinggal begini begitu!"

Kadang kita, utamanya saya, suka lupa bahwa bukan karena otak atau fisik ini kita ringan beribadah. Kita lupa bahwa semua kemudahan dan kelapangan kita sehingga membuat kita ringan beramal dan memahami sesuatu adalah karena izinNya.

Pikirkan, kalau saja kita menjadi petugas penjaga rel kereta, kapan waktu kita datang ke kajian? Seberapa besar kita bisa bersedekah?

Bayangkan, petugas sampah yang bekerja seharian, bagaimana besarnya effort dia untuk berpakaian rapi, bersih dan wangi demi shalat berjamaah di masjid?

Maka cobalah rasakan, kemudahan bagi kita belum tentu mudah bagi orang lain. Ada yang cemerlang dalam mengaplikasikan rumus, ada yang sampai selama lama lama lamanya tak mudeng juga dengan satu rumus. Ada yang peka membaca perasaan, ada yang tidak peka-peka dan pusing menerka perasaan lawan.

Semua karena Allah.

Merendahlah... sebagaimana padi kian berisi kian merunduk. Jangan sombong seperti asap, begitu ringan namun membubung tinggi seakan berharga, nyatanya menjadi polusi bukan solusi.

Meta morfillah

19 March, 2017

Penerimaan yang indah

PENERIMAAN YANG INDAH

Pagi ini Mama dan aku kembali pillow talk. Dua jam kami lewati dengan berbincang dari hati ke hati di kamarku. Dengan matanya yang terpejam karena sakit terkena sinar, Mama membahas kesendirianku. Mengingatkan petuah-petuahnya untukku. Menegaskan kasih sayangnya dan pengertiannya padaku.

Manis sekali ketika kamu tahu bahwa orangtuamu sudah memahami paradigmamu, visimu dan alasanmu berbuat begini begitu. Bukan hal mudah mencapai hari ini. Dulu, kami sering berdebat. Tapi pada akhirnya aku sadar ada yang harus membangun komunikasi positif.

Pada dasarnya orangtua, terutama Ibu akan mendukung anak selama itu benar dan baik. Ibu jauh lebih tahu apa yang dirasakan sang anak karena mereka pernah menjadi satu tarikan nafas selama 9 bulan.

"Mama memang berharap masih ada dan bisa mendampingimu saat hari bahagiamu. Tapi Mama juga tak mau kamu buru-buru dan salah pilih karena memikirkan Mama. Mama ingin kamu bahagia. Perjodohan-perjodohan itu hanya upaya Mama, selebihnya kamu yang tentukan. Yang pasti saat kamu memilih seseorang, setialah selamanya."

Insya Allah, Ma.

"Mama tahu bukan kamu tak memikirkan. Tapi kamu memilih yang lebih pasti yaitu memikirkan kematian dibanding pernikahan. Mama tetap doakan kamu agar tak sendiri. Tahun ini, insya Allah."

Sebagaimana daun yang jatuh tak pernah membenci angin, seperti itulah penerimaanku pada takdirNya. Penerimaan yang indah.

~Hatiku tenang karena mengetahui  bahwa apa yang melewatkanku tidak  akan pernah menjadi  takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku.~ (Umar Bin Khatab)🌷💐🌺🙆

Meta morfillah

17 March, 2017

[Review buku] The other side of midnight

Judul: The other side of midnight (lewat tengah malam)
Penulis: Sidney sheldon
Penerbit: Gramedia
Dimensi: 663 hlm, cetakan kedua belas Januari 2005
ISBN: 979 655 590 5

Catherine yang besar dalam sosok kekaguman pada ayahnya dan begitu enjaga kehormatan, tak pernah mengira akan menikah dengan Larry Douglas, pilot hebat yang terkenal saat perang. Begitu pula dengan Noelle Page yang mengira bahwa dirinya adalah seorang putri namun nyatanya hanya pindah dari satu lelaki ke lelaki lainnya sebagai simpanan.

Dalam menjalani hidupnya, Noelle hanya punya satu ambisi, membuat pria yang dicintainya kembali dan memohon padanya. Bertahun-tahun ia merencanakannya dan menjadi dalang dalam rencana kejahatan yang ia susun sedemikian rupa.

Hingga tiba saatnya, waktu pembalasan dendam. Akan tetapi, sebenci apa pun dirinya pada Larry Douglas, ia tak ingin pria itu mati. Ia malah menerima Larry kembali dengan risiko besar bila hubungannya diketahui Constantin Demiris. Sementara itu, nyawa Catherine terancam. Siapakah yang akan mati?

Sejauh saya membaca novel karya penulis, novel ini cukup membosankan. Selain latar perang dan deskripsi kejadian di tiap tahun yang membuat saya seakan sedang belajar sejarah, juga terlalu banyak tokoh figuran yang dibahas. Konfliknya kurang klimaks dan endingnya saya kurang greget.

Pantas saja sih, soalnya ini novel awal dari karya penulis. Masih belajar mengolah alur. Juga agak berantakan dan bikin sakit mata layoutingnya. Size huruf kecil, rapat, pemenggalan garis baru kadang aneh, dan beberapa ejaan terlalu lama. Kayak baca diktat tebal.

Saya apresiasi 3 dari 5 bintang.

"Manusia memang tidak pernah percaya pada apa yang dilakukan terang-terangan." (H.175)

"Orang haruslah menjadi kuat dahulu sebelum dia menjadi lembut hati." (H.180)

"Salah satu alasan mengapa perkawinan berhasil, adalah karena sang suami dan sang istri mempunyai pengalaman-pengalaman yang sama. Mereka tumbuh bersama-sama dan perkawinan mereka pun akan tumbuh pula. Kau harus berusaha untuk mendapatkan kembali persesuaian paham dengannya." (H.364)

Meta morfillah

Menggenggam tanganmu

Menggenggam tanganmu,
Adalah tenang yang sakinah
Mengalirkan ruh rahmah nan hangat
Saat badai tengah bertiup di luar rumah dan di dalam hati

Namun satu pertanyaan sepasti titik di sebuah tanda tanya selalu menggantung
Sampai kapankah?
Sampai kapan tangan ini diizinkan menggenggam tanganmu?

Sementara waktu kian menunjukkan kuasa
Kita semakin menua dan melemah
Entah yang mentah

Dan aku semakin ingin terus menggenggam tanganmu seperti aku baru lahir dahulu.
Erat-erat!

Meta morfillah

Makin cinta

Kadang kita makin cinta sama seseorang karena caranya mencintai orang lain.

Seperti cara dia mencintai orangtuanya, cara dia mencintai anak-anak, cara dia mencintai sahabat-sahabatnya, and many things else.

Bagiku: aku semakin cinta pada seseorang yang mencintai Tuhannya dengan menyebarkan cintanya pada semesta semata karena tidak ingin egois masuk surga sendiri, melainkan berjamaah.

Text Widget

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik