Pages

31 December, 2016

[Review buku] Persekutuan misterius Benedict dan dilema sang tawanan

Judul: Persekutuan misterius Benedict dan dilema sang tawanan
Penulis: Trenton Lee stewart
Penerbit: Matahati
Dimensi: 446 hlm, cetakan pertama Mei 2011
ISBN: 978 602 8 590280

Mr. Curtain yang menghilang bersama Manusia Sepuluh ternyata menyusun sebuah rencana jahat. Berdiam di penjara Third Island, mereka berencana mencuri kembali Sang Pembisik. Bahkan cara kerja anak-anak sudah tertebak! Mereka tertipu dan berhasil ditangkap. Hal itu terjadi dalam satu hari ketika Mr. Curtain berhaisl menyabotase sistem jaringan listrik dan komunikasi seluruh kota Stonetown. Mengapa Kate, Reynie, Sticky, dan Constance dijadikan tawanan sementara Sang Pembisik telah berhasil dicuri? Juga bagaimana masa lalu Constance hingga dia terlantar di jalanan? Paling penting, bagaimanakah akhir persekutuan misterius benedict, akankah mereka berhasil dan tetap bersama setelah misi ini selesai?

Buku ketiga sekaligus buku terakhir dari trilogi Persekutuan Misterius Benedict ini jauh lebih tipis dibandingkan buku sebelumnya. Namun jauh lebih seru, menegangkan dan asyik! Juga lebih terasa kekentalan persahabatan keempat anak tersebut. Bagaimana mereka yang psikologi perkembangannya sedang egois mampu menekan ego demi keutuhan tim. Luar biasa. Tentu saja endingnya amat saya sukai. Tidak ada yang menyukai perpisahan begitu cepat, bukan?

Saya apresiasi 5 dari 5 bintang.

"Pikiran seseorang adalah hak milik seseorang yang paling berharga dan paling pribadi." (H.75)

"Dalam beberapa kasus tertentu, ketidaktahuan adalah perlindungan kalian yang paling tepat." (H.88)

"Pikiran seseorang kadang-kadang bisa mengubur ingatan-ingatan menyakitkan sebagai suatu cara untuk melindungi diri." (H.135)

"Aku terus berpikir tentang bagaimana semua hal baik dalam seluruh urusan ini berhubungan dengan hal-hal buruk.
Mungkin kita seharusnya belajar untuk menyukai perasaan itu." (H.440)

"Kau tidak bertanggung jawab atas diri kita semua. Kita semua bertanggung jawab atas diri masing-masing, bukan?" (H.441)

Meta morfillah

29 December, 2016

[Review buku] Persekutuan misterius benedict dan perjalanan maut

Judul: Persekutuan misterius benedict dan perjalanan maut
Penulis: Trenton lee stewart
Penerbit: Matahati
Dimensi: 546 hlm, cetakan pertama januari 2010
ISBN: 978 602 85900 68

Persekutuan misterius benedict telah mencapai usia satu tahun. Untuk merayakannya, Mr. Benedict merancang sebuah petualangan dengan ragam teka-teki yang harus dipecahkan Reynie, Sticky, Kate, dan Constance. Sayangnya, saat melakukan hal itu bersama Nomor Dua, mereka menghilang. Untuk menemukannya, anak-anak harus memecahkan petunjuk dalam setiap teka-teki yang membawa mereka ke suatu pulau terpencil yang tidak ada dalam peta. Bahkan mereka sampai melintasi negara. Pada akhirnya mereka harus berhadapan kembali dengan musuh lama, Mr. Curtain dan Manusia Sepuluh yang sangat berbahaya. Akankah mereka berhasil? Kepada siapa sajakah mereka harus percaya, sementara ada banyak pengkhianatan?

Buku kedua dari seri petualangan Persekutuan Misterius Benedict ini memiliki konflik yang semakin serius dan banyak adegan action dibanding buku pertama. Beragam petunjuknya juga tak begitu cepat saya pecahkan. Lebih menantang. Dan akhirnya saya tahu keistimewaan Constance. Namun di beberapa part terlalu sering keberuntungan menghampiri, hehe.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

"Semua belum akan selesai, hingga kita memutuskan begitu." (H.239)

"Dan aku menyadari bahwa kita tidak kekurangan kejahatan di dunia ini, tapi bukankah menghibur karena kita tahu begitu banyak orang yang bersedia berjuang untuk kebaikan?" (H.543)

Meta morfillah

27 December, 2016

[Review buku] The mysterious benedict society

Judul: The mysterious benedict society
Penulis: Trenton lee stewart
Penerbit: Matahati
Dimensi:576 hlm, cetakan kelima juni 2010
ISBN: 979 1141 34 7

"Apakah kau seorang anak berbakat yang mencari kesempatan istimewa?"

Iklan di surat kabar tersebut mengundang ratusan anak mengikuti beberapa tes yang misterius dan menguras otak. Namun dari ratusan, hanya empat anak yang lolos. Ialah Reynie, Sticky, Kate, dan Constance. Mereka bekerja sama dalam sebuah misi berbahaya, menyusup ke dalam Institut untuk membongkar konspirasi jahat yang akan mengacaukan dunia. Pemberi misi itu adalah seorang jenius yang mengidap narcolepsi--jika tertawa berlebihan, maka ia akan jatuh tertidur--bernama Mr. Benedict. Dalam menjalankan misi tersebut Mr. Benedict dibantu oleh Miligan (lelaki dengan wajah murung yang kehilangan ingatannya di Institut), Rhonda (wanita penjebak), dan Nomor dua (wanita sekurus pensil yang tak pernah tidur). Apakah misi utama mereka? Akankah mereka berhasil menunaikan misinya? Mengapa harus anak-anak?

Berawal dari keyakinan penulis bahwa anak-anak sering terlihat, namun jarang didengarkan dan selalu diremehkan--pengamatan terhadap kedua putranya--lahirlah novel petualangan remaja ini. Novel ini adalah seri pertama dari tiga seri lengkapnya. Membacanya seperti mengingatkan saya pada rasa saat membaca Petualangan Lima Sekawan. Ada banyak kejutan yang tak terduga, meski beberapa teka-teki bisa saya pecahkan dengan mudah. Sangat asyik dan mudah dicerna, meski masalah yang diangkat menurut saya cukup rumit dimengerti. Tentang penguasaan massa melalui media massa berupa TV dan radio.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

"Itu adalah kerugian menjadi seorang genius--Hanya karena kau mengerti sesuatu, tidak berarti orang lain juga mengerti." (H.130)

"Jika Anda tak dapat memercayai mereka, jagalah agar mereka berada di dekat Anda." (H.287)

"Satu-satunya cara ketakutan bisa menghilang adalah jika kita menghadapinya." (H.449)

Meta morfillah

24 December, 2016

Tentang film "Cinta Laki-laki biasa"

Wow, banyak yang minta diceritain tentang film "Cinta Laki-laki Biasa" ini. Well, demi kalian langsung aku buat nih!

Film ini diadaptasi dari sebuah cerpen yang kubaca waktu awal kuliah. Ternyata dipanjangkan dan detail alurnya menjadi sebuah novel. Persis seperti film "Ketika Mas Gagah Pergi". Penulisnya pun salah satu penulis favoritku, @asmanadia.

Kisah film ini simple, tentang gadis bungsu sebuah keluarga kaya yang orientasi materi dan pamor duniawi, bernama Nania. Nania berbeda dari 3 kakak wanitanya dan mamanya. Dia tidak girly dan memilih menjadi arsitek yang magang di kantor pengembang rumah sederhana. Di sanalah ia bertemu Rafli, seorang kepala mandor, lelaki biasa yang tegas, baik, rajin ibadah, dan menjadi mentor Nania. Hanya sebatas hubungan kerja, dan berakhir seiring akhir masa magang Nania. Dua tahun berlalu, Rafli hadir dan mengajak Nania ta'aruf. Padahal keluarga Nania sudah memilihkan calon suami untuk Nania, seorang dokter tampan, kaya, dan cerdas bernama Tio. Tapi, Nania memilih menikah bersama Rafli.

Sungguh, itu tidak mudah diterima. Rafli hanya kepala mandor, lulusan D3, tidak kaya dan terkenal. Apa yang dapat menjanjikan kebahagiaan Nania? Sampai Raflo disidang oleh ayah dan para kakak ipar Nania yang sangat mapan dan terkenal.

Finally, mereka menikah. Meski banyak konflik terutama dari pihak keluarga Nania yang tak mengerti mengapa Nania yang sempurna memilih Rafli yang biasa saja.

Tapi Allah selalu memberikan ujian terbaiknya dalam hidup yang dirasa Nania begitu sempurna dan bahagia bersama Rafli. Nania kecelakaan dan mengalami kelumpuhan serta amnesia. Memori bahagianya bersama Rafli dan anak-anaknya tertutup. Butuh waktu lama untuk memantik memori itu kembali. Di sanalah Rafli tampil sebagai suami, ayah, yang bertanggung jawab. Biaya perawatan hingga menjual rumah mereka, juga perawatan kedua anaknya selama Nania sakit dijalankannya dengan baik. Meski beberapa kali, Rafli tak sabar dan sedih. Hingga memori itu kembali, suara-suara bising dari keluarga Nania pun hilang. Mereka akhirnya paham mengapa Rafli yang menjadi suami Nania. Tidak akan ada suami sesabar dan setegar Rafli jika diberi cobaan seperti itu.

Aku puas banget nonton ini. Emosi Rafli dan Nania tersampaikan dengan baik. Good job @devamahenra dan @velove.

Pembelajaran yang aku ambil pun banyak, terkait ta'aruf juga konflik dalam keluarga. Beberapa part seakan refleksi diriku sendiri. Well, cukup berat menjadi anak bungsu yang memiliki persepsi serta prinsip berbeda dari keluarga dan mempertahankannya seorang diri dengan kekeraskepalaan. I feel similar things like Nania.

And I hope, I will find my tree of life soon. Tempat aku bersandar dan mengokohkan pijakan untuk bertahan pada prinsip yang kuyakini.

"Laki-laki yang mengajak perempuan ta'aruf, itu laki-laki yang yakin bahwa perempuan itu cocok dengannya."

"Raffli hanya laki-laki biasa. Keistimewaannya cuma satu. Seumur hidupnya dia tidak pernah memyakiti saya, ibunya. Insyaa allah dia akan berlaku sama pada istrinya."

"Cinta bukan sesuatu untuk dipelajari, Nania. Cinta tumbuh dan menguat karena apa yang kita alami di masa lalu."

Meta morfillah

23 December, 2016

Tanda: Hadiah buku

Tadi buka-buka lemari buku, mencarikan beberapa buku yang sesuai dengan karakteristik bacaan seorang teman. Lalu dapatlah tiga buku yang menurut saya cocok.

Saat saya buka halaman pembuka, ternyata ketiganya adalah hadiah milad dari orang yang berbeda dan tahun yang berbeda. Saya jadi iseng, pengin tahu buku saya yang mana saja yang merupakan hadiah.

Saya buka satu per satu, ternyata cukup banyak juga. Kebanyakan hadiah milad, lalu hadiah menang lomba, hadiah jadi proofreader dan hadiah tanpa alasan. Bahkan ada beberapa yang saya tahu itu adalah pemberian, tapi lupa saya tulis.

Rekam jejak tulisan seperti ini cukup membantu saya untuk mendoakan para pemberi hadiah buku ini. Meski beberapa sudah jarang kontak.

Terima kasih untuk hadiahnya. Hadiah terbaik yang amat saya sukai sepanjang masa: BUKU!

Meta morfillah

[Mentoring] Fastabiqul khairaat

[Mentoring] Fastabiqul khairat

Bu Sri
Sabtu, 19 November 2016

Menyegerakan berbuat baik, balasannya adalah surga.
“Laknya dari kasturi (surga). Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” [Q. s. Al mutaffifin: 26]
“Dan setiap umat mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” [Q. s. Al baqarah: 148]

Hasan Al Bashri berkata “Jika kau melihat orang lain mengunggulimu dalam hal dunia, maka kalahkanlah dia dalam hal akhirat.”

Kita harus memilih akan menjadi golongan yang mana sebagaimana firman Allah dalam Q. s. Fathir: 32

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan, dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.”

Hendaknya kita berlomba dalam kebaikan, terutama dalam hal berikut:
1. Berlomba-lomba dalam menghadiri majelis ilmu. 
Ikut ceramah, liqo, kuliah, tahsin, tahfidz, dll.

2. Shalat berjamaah di masjid. 
Untuk ikhwan ini adalah harga mati.

3. Belajar Al Quran.
Tingkatan belajar Al Quran adalah: Tahsin, tahfidz, tafsir, amalkan.

4. Bersedekah
Makna sedekah luas, tidak hanya harta. Bisa berupa senyum, doa, ilmu, harta, bahkan menyingkirkan duri di jalan.

5. Memohon ampun pada Allah/tobat
"Berlomba-lombalah kamu untuk mendapatkan ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasulNya. Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar." [Q. S. Hadid: 21]

Sebab kita tidak tahu sampai berapa usia kita di dunia.

6. Berdakwah
"Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." [Q. S. Ali Imran: 104]

7. Berlomba dalam amal-amal lain, seperti menjenguk orang sakit, memuliakan orangtua, menolong orang.


Landasan fastabiqul khairaat:
1. Iman pada Allah, menjadikan wala' dan bara' (was-was terhadap amal yang mana yang akan Allah terima).
2. Ta'awun, sinergi. Analoginya seperti sapu lidi. Kalau bekerja sendiri, akan lebih berat. Berbeda saat bersatu seperti sapu lidi, bisa menyapu banyak dan luas.
3. Sabar, istiqomah dalam fastabiqul khairaat. Dalam Al Quran, sabar tidak ada batasnya.


Meta morfillah

[Kajian] Membentuk generasi rabbani

[Kajian] Membentuk generasi rabbani

Minggu, 23 Okt 2016
Ustad Agus Sudjatmiko (Ayah 8 hafidz)

Jadikanlah keluargamu generasi rabbani (dekat dan paham Al Quran).

Ada anak yang hafal 30 juz tapi kelakuannya membuat orangtua mengelus dada. Jangan patah semangat, tetap kita sabar membentuk karakternya. Di Jepang, penelitian menyatakan bahwa untuk membentuk anak punya skill (hafal Al Quran saja) hanya butuh 6 bulan. Tapi untuk membentuk karakter (akhlak Qur’ani seperti Rasulullah SAW) butuh 15 tahun. Itulah sebab di Jepang sendiri lebih ditekankan budaya antre (akhlak), bukan hitung-hitungan (skill).

Maka mulailah sejak dini (pra SD) untuk membentuk sibgah Allah. Caranya sebagai berikut:
  1. Fase 1 (selama 3 tahun)à TK, target anak bisa baca Al Quran dan hafal juz 30.
  2. Fase 2 (selama 6 tahun)à SD (usia 6-12 tahun) hafal Quran 30 juz, khatam baca Quran minimal satu kali.
  3. Fase 3 (selama 3 tahun)à SMP gembleng bahasa arab, kerangkeng/masukkan ke pesantren, sebab ini masa pergolakan.
  4. Fase 4 (selama 3 tahun)à SMA


Gambaran jika anak tidak dibekali agama/Quran:
a.       Cewek jenius tapi pecandu obat dan jalan sama om-om di hotel. Orangtuanya tidak percaya, ketika diberitahu oleh guru yang melihatnya langsung.
b.      Cowok lulus kedokteran (orangtuanya dokter spesialis dan punya Rumah Sakit) mati dalam keadaan duduk selaa seharian main game.

Israel takut generasi penghafal Quran, makanya banyak korban wanita dan anak-anak Palestina yang mati. Dalam 23 hari hampir 1500 anak-anak mati, tapi Allah langsung ganti. Setelah diadakan sensus, dalam 23 hari ada 1500 bayi laki-laki yang lahir, rata-rata kembar lima.

Letakkanlah Quran di dadamu, niscaya dunia akan kaugenggam. Program 1 rumah 1 hafidz. Aib kalau tidak ada hafidz di rumah.


Meta morfillah

21 December, 2016

ALEPPO

ALEPPO

Bagaimana rasanya mendengar desingan peluru?
Apakah seperti mendengarkan alunan musik heavy metal yang memacu adrenalinmu?

Coba tanyakan pada bocah Aleppo sana...
Sempatkah ia tersenyum mendengarkan backsound yang marak di negerinya saat ini?

Sempatkah bayi-bayi Aleppo bertanya atas dosa apa mereka dibunuh?
Sempatkah ayah bunda Aleppo merekam kelucuan putra-putrinya lalu mengupload ke instagram dan media sosial lainnya?
Sempatkah muda-mudi Aleppo ber-wefie ria bahkan galau memikirkan cinta tak kunjung tiba?

Aleppo... kota yang diberkahi
Kini hancur akibat birahi
Birahi penguasa yang menista agama

Kedaulatan macam apa yang meminta bantuan asing menghancurkan penduduk sipilnya sendiri?

Agama mana yang mengajarkan perkosaan adalah hal lumrah, hingga banyak muslimah Aleppo memilih bunuh diri meski hati jerih?

Sementara dunia bungkam
Hanya menyaksikan dalam diam
Detik kehidupan tetap berdetak biasa
Jumlah korban hanya tercetak sebagai angka
Statistika

Aleppo hanya menjadi topik pembahasan
Di meja-meja makan
Di warung angkringan
Bahkan menjelma tulisan

Ujungnya kita hanya kirim doa
Tambah sedikit dana

Duhai, warga Aleppo
Nampaknya kau harus lebih bersabar
Menjadi pengobar dan pengibar
Menyulut api keimanan di dada kami
Dengan luka di kepala
Dan duka di dada

Meta morfillah

16 December, 2016

[Review buku] The black cat

Judul: The black cat
Penulis: Edgar Allan Poe
Penerbit: Noura books
Dimensi: 383 hlm, cetakan ketiga agustus 2016
ISBN: 978 602 385 053 2

Buku ini berisi 13 cerpen dengan dua kategori: kisah-kisah horor dan kisah-kisah detektif. Delapan kisah horor yang terdapat di buku ini jujur saja agak membingungkan saya. Tapi khusus cerpen "Kucing hitam" yang menjadi judul utama memang membuat bulu kuduk merinding meski baca ulang scanning. Twistnya mirip salah satu adegan di mini series alfred hitckok yang hitam putih itu. Menggelikan, tapi tetap mendebarkan untuk dipecahkan.

Sedangkan tiga kisah detektif berisi tentang tokoh utama bernama Chevalier C. Auguste Dupin. Dupin mengingatkan saya pada Arsene Lupin tokoh detektif karangan Maurice Le Blanc. Sehingga membuat saya bertanya apakah kemiripan ini karena mereka sama-sama berasal dari Prancis? Siapakah yang lebih dulu terkenal di dunia detektif? Sebab tahun kejadian di sini disamarkan 18--. Sungguh mirip. Atau memang tahun itu sedang zamannya fiksi detektif di Prancis ya? Kasusnya hanya tiga, tapi cukup panjang menganalisis berita korannya. Hanya pada kasus ketiga sedari awal saya sudah bisa menebak dengan benar sebab sering terjadi di kasus Sherlock Holmes dan Conan.

Bahasanya cukup menjelimet dan banyak ungkapan atau kalimat Prancis yang tidak dijelaskan arti atau maknanya. Sebaiknya sih diberi foot note agar pembaca awam paham maksudnya.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

"Sebagian besar kebenaran muncul dari hal-hal yang kurang penting." (H.312)

"Jika diajukan dengan terampil, pertanyaan tidak akan gagal memancing informasi tentang hal-hal tertentu, dari berbagai pihak yang mungkin bahkan tidak menyadari bahwa mereka memiliki informasi tersebut." (H.340)

Meta morfillah

12 December, 2016

[Review buku] Pulang

Judul: Pulang
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Republika
Dimensi: iv + 400 hlm, 13.5 x 20.5 cm, cetakan XXII, september 2016
ISBN: 978 602 0822 1 29

Bujang, Si Babi Hutan, adalah julukannya setelah meninggalkan Talang, tanah kelahirannya di rimba Sumatra. Tidak ada yang tahu nama aslinya. Juga tidak pernah ada rasa takut dalam dirinya. Hingga tiga lapis benteng ketakutannya runtuh disebabkan tiga hal. Kematian Mamak, Bapak, dan Tauke Besar. Berbahayakah rasa takut? Bisakah ia melewati masa depan sebagai penguasa sendirian? Saat dirinya kalut, seseorang dari masa lalu datang memanggilnya dengan nama sebenarnya dan membuatnya berpikir ulang tentang jalan hidupnya. Benarlah bahwa masa lalu, masa kini, dan masa depan seringkali berkelindan menyatu.

Novel Tere Liye kali ini amat sesuai dengan background penulis yang merupakan sarjana ekonomi. Memberikan pengetahuan luas tentang shadow economy ditambah bumbu mafia/dunia hitam yang merangkak dari sekadar penguasa daerah menjadi ibukota, dan akhirnya meraksasa dunia.

Namun tetap dengan mempertahankan sebuah prinsip baik. Prinsip taat pada pesan orangtua dan kesetiaan. Bahwa doa orangtua pada akhirnya membawa diri Bujang kembali pulang. Bukan sekadar pulang dalam artian fisik, melainkan pulang dalam arti lebih dalam. Pulang pada Tuhannya. Berdamai dengan segala masa lalunya.

Filosofi berat yang dikemas mengalir ringan oleh penulis. Membuat pembaca mudah memahaminya. Meski menurut saya covernya kurang tepat mewakili cerita. Sebab yang tergambar adalah sunset, sedangkan momen penting dan lekat di cerita ini adalah sunrise dan pelabuhan. Juga sudut pandang 'aku' yang terkesan tahu segalanya.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

"Semua orang punya masa lalu, dan itu bukan urusan siapa pun. Urus saja masa lalu masing-masing." (H.101)

"Bahwa kesetiaan terbaik adalah pada prinsip-prinsip hidup, bukan pada yang lain." (H.181)

"Sejatinya dalam hidup ini, kita tidak pernah berusaha mengalahkan orang lain, dan itu sama sekali tidak perlu. Kita cukup mengalahkan diri sendiri. Egoisme. Ketidakpedulian. Ambisi. Rasa takut. Pertanyaan. Keraguan. Sekali kau bisa menang dalam pertempuran itu, maka pertempuran lainnya akan mudah saja." (H.219)

"Hidup ini adalah perjalanan panjang dan tidak selalu mulus. Pada hari ke berapa dan pada jam ke berapa, kita tidak pernah tahu, rasa sakit apa yang harus kita lalui. Kita tidak tahu kapan hidup akan membanting kita dalam sekali, membuat terduduk, untuk kemudian memaksa kita mengambil keputusan. Satu-dua keputusan itu membuat kita bangga, sedangkan sisanya lebih banyak menghasilkan penyesalan." (H.262)

"...mulai membaca--cara yang menyenangkan untuk menghabiskan waktu. Dengan ditemani buku, tanpa terasa hari telah beranjak petang, tidak sempat lagi mengingat kenangan menyakitkan." (H.268)

"Lebih banyak luka di hati bapakku dibanding di tubuhnya. Juga mamakku, lebih banyak tangis di hati mamakku dibanding di matanya." (H.315)

"Hidup ini adalah perjalanan panjang. Kumpulan dari hari-hari. Di salah satu hari itu, di hari yang sangat spesial, kita dilahirkan. Di salah satu hari berikutnya kita belajar tengkurap, masuk sekolah pertama kali, semua serba pertama kali. Dan kini kita penuh dengan kenangan masa kecil yang indah, seperti matahari terbit.
Lantas hari-hari melesat cepat. Siang beranjak datang dan kita tumbuh dewasa, besar. Mulai menemui pahit kehidupan. Maka, di salah satu hari itu, kita tiba-tiba tergugu sedih karena kegagalan atau kehilangan. Di salah satu hari berikutnya, kita tertikam sesak, tersungkur luka, berharap hari segera berlalu. Hari-hari buruk mulai datang. Dan kita tidak pernah tahu kapan dia mengetuk pintu. Kemarin kita masih berbahagia dengan banyak hal, untuk besok lusa terjatuh, dipukul telak oleh kehidupan. Hari-hari menyakitkan." (H.337)

"Jangan dilawan semua hari menyakitkan itu, Nak. Karena kau pasti kalah. Mau sejijik apa pun kau dengan hari-hari itu, matahari akan tetap memenuhi janjinya, terbit dan terbit lagi tanpa peduli apa perasaanmu. Kau keliru sekali jika membencinya, itu tidak pernah menyelesaikan masalah. Peluklah erat semuanya. Dekap seluruh kebencian itu. Hanya itu cara agar hatimu damai, Nak. Tidak perlu disesali, tidak perlu membenci, buat apa? Bukankah kita selalu bisa melihat hari yang indah meski di hari terburuk sekalipun?
Saat mamakmu meninggal misalnya, itu adalah hari paling indah bagi mamakmu. Memang bukan bagi yang ditinggalkan. Tapi bagi mamakmu, itu adalah hari penting, saat dia usai menunaikan tugasnya sebagai istri yang mencintai suaminya dan sebagai ibu yang membesarkan anaknya. Genap pengabdiannya, tunai baktinya." (H.339)

"Ketahuilah, Nak, hidup ini tidak pernah tentang mengalahkan siapa pun. Hidup ii hanya tentang kedamaian di hatimu. Saat kau mampu berdamai, maka saat itulah kau telah memenangkan seluruh pertempuran." (H.340)

"Tidak mengapa jika rasa takut itu hadir, sepanjang itu baik, dan menyadari masih ada yang memegang takdir. Dia menambatkan rasa takut itu kepada Sang Maha Memiliki." (H.343)

"Akan selalu ada hari-hari menyakitkan dan kita tidak tahu kapan hari itu menghantam kita. Tapi akan selalu ada hari-hari berikutnya, memulai bab yang baru bersama matahari terbit." (H.345)

Meta morfillah

10 December, 2016

[Belated] Surprise Hari Guru

Hari ini jadwal padat, persiapan agenda pendakian. Dari pagi guru yang akan mendaki ikut pelatihan medis terkait CPR, bidai, dan hipotermia. Selesai pelatihan pukul 11.00 biasanya sudah tersedia makan siang. Tapi tumben sampai pukul 12.30 belum ada. Tiba-tiba ada bunyi sirine di lapangan. Lalu murid-murid narik semua guru "Ayo, Bu, kita ke lapangan."

Bahkan sampai dituntun.

Ternyata, ada kejutan dari komite dan semua murid untuk merayakan Hari Guru (25 november lalu). Ada penampilan dari komite, puisi dari kelas 6, juga nyanyian "Terima kasih guru" dari kelas 7 SMP, kelas 6 dan kelas 4. Dilanjut pemberian reward pada guru-guru.

Alhamdulillah, saya mendapat reward untuk guru terkreatif SMP, Hafal hadits dan doa kelas 1-5, STIFIn box (Quiz), dan STIFIn dasar (yang nilainya di atas 90). Entahlah, saya merasa malu dan kurang pantas mendapatkan semua hadiah itu, sebab saya merasa tidak menonjol apalagi kreatif. Ada beban tambahan mempertanggungjawabkan apa yang terlihat di mata makhluk. Semoga tak ada hasad dan reward ini memicu pribadi lebih baik lagi dengan niat tetap lillah.

Setelahnya kami ramah tamah, dengan aneka hidangan lezat nan banyak macam. Ternyata kami sengaja dibuat lapar oleh catering sebab mau dijamu spesial. Masyaaa Allah.

Baru sesuap bakso, tiba-tiba seorang murid ikhwan kelas saya datang menghampiri dan berkata, "Bu, gawat, Bu! Di kelas pada berantem, kacau. Gak bisa satu guru aja, Bu yang damaikan. Ayo, Bu, ke kelas!"

Lalu dia berlari ke kelas. Meninggalkan saya yang shock. Sebab memang pernah ada kejadian saat kelas kosong, ada yang bertengkar. Saya khawatir. Maka saya bersegera mengajak guru akhwat lain menuju kelas. Dari tangga bawah, terdengar teriakan-teriakan, "Pisau, mana, pisau!"

Saya deg-degan, takut mereka main pisau lipat pendakian ke arah temannya. Lalu terdengar suara tangis murid akhwat. Ditambah pemandangan dua orang murid ikhwan seperti sedang bergulat. Saya pun memacu langkah saya lebih cepat menaiki tangga. Sesampainya di atas, "Ada apa ini?"

Tiba-tiba ada semburan kertas dan teriakan "Yeee... selamat hari guru! Kaget, ya, Bu?"

Lalu saya melihat kelas didekor dengan tulisan dari kertas seadanya dan banyak kalimat positif di papan tulis. Lalu seorang murid ikhwan memberikan hadiah pada saya.

Ternyata, saya dikerjai! Ya Allah, seumur-umur ini surprise yang cukup membuat saya sport jantung. Saya cukup lemas hingga memilih duduk dan mengamati mereka. Ternyata, di balik ulah mereka yang menguji kesabaran, mereka masihlah tetap anak-anak yang manis.

Rabbi habbli minasshaalihiin yaa Rabb.

Hanya itu yang bisa saya ucapkan terus menerus. Doa adalah kekuatan saya. Sebab di antara guru SMP lain, saya memang tak terlalu disukai karena ketegasan saya dan banyaknya aturan yang saya terapkan selaku wali kelas. Tapi saya sadar, itu adalah risiko. Menyayangi tanpa kembali disayangi.

Meta morfillah

Wanita Thinking dan perhatiannya

Dulu saat pindah, saya kira tidak akan lagi saya mendapat teman sepengertian dan asyik untuk diajak senang dan susah. Ternyata Allah maha baik. Saya dipasangkan dengan wanita yang lama kuliah di Bandung ini. Dia begitu pendiam dan datar wajahnya karena memang dia cool ala Thinking. Tapi, kalau sudah kenal, dia bisa bercerita berjam-jam, bahkan membuat saya begadang demi mendengarkan ceritanya.

Hal itu saya ketahui setelah beberapa bulan dia mengajukan diri menemani saya selama seminggu saat saya ditinggal sendirian oleh mama dan uda sebab berobat bulanan ke Jakarta. Bahkan beberapa kawan agak heran melihat kedekatan kami. Ini bukan soal Feeling menaklukkan Thinking, saya rasa. Tapi sebab kesamaan visi kami terhadap pendidikan dan agama.

Menurut saya, wanita Thinking ini romantis dengan caranya. Perhatiannya mungkin tidak terumbar seperti saya yang ekspresif. Tapi detail. Saat saya sakit dan tidak masuk kerja hingga dua kali, dia yang setia menjenguk saya dan berinisiatif mengajak teman lain. Saat saya mengaku saya sendirian di rumah, dia yang berinisiatif mengajukan diri menemani saya, dan menjadi kebiasaan kami beberapa bulan terakhir. Saat saya ingin ke suatu tempat atau sekadar hangout kulineran, dia selalu siap sedia. Belum pernah saya mendengar dia menolak apa yang saya pinta dengan alasan yang kurang logis.

Puncaknya adalah kemarin, yang membuat saya cukup terharu. Hari terakhir dia menginap di rumah saya. Beberapa hari sebelumnya, saya memang memasakkan makanan untuknya. Tapi kemarin saya mau mencuci baju, saya bilang padanya bahwa saya agak malas masak. Seketika dia mengajukan diri untuk memasak. Saya iyakan. Ternyata masakannya enak. Sambalnya TOP! Lalu saya iseng bilang, "Pengin nyoba seblak buatan Bu Jijah, deh. Kan kamu sering buat waktu di Bandung dulu."

Tanpa banyak kata, dia belanja apa yang belum ada di rumah saya untuk membuat seblak. Sementara saya mencuci baju. Masyaaa Allah. Apa yang saya katakan selintas didengar dan dikabulkan. Lalu setelah acara di sekolah kemarin, di mana dia dapat beberapa reward juga, dia menemani saya mencari keperluan pendakian hingga malam.

Terakhir, dia bilang mau beli buku. Setelah sampai di Gramedia, dia berkata, "Bu Meta, aku sudah janji mau belikan Bu Meta sebuah buku. Tadinya mau belikan buku Inteligensi Embun Pagi yang pernah Bu Meta pegang lalu ditaruh lagi. Tapi ternyata Bu Meta sudah baca di ijak. Jadi Bu Meta pilih saja sendiri, ya!"

Wooww... saya mengonfirmasi dan saya candai, "Aku pilih yang paling mahal, ya? Jangan nyesel loh, janjiin aku buku. Akan kutagih terus. Aku ga nolak dan ga malu kalau soal buku mah!"

Dan inilah buku yang saya pilih. Muhammad seri ketiga karya Tasaro GK yang sudah lama ingin saya beli. Sementara Pulang karya Tere Liye adalah buku yang saya rekomendasikan padanya untuk dibeli. Saya terbiasa merekomendasikan dia buku yang sesuai dengan gaya bacaannya yang belum terlalu berat dan juga belum saya baca. Jadi saya bisa pinjam. Dan lagi-lagi kebaikan hatinya, saya dipinjamkan sebelum dia membacanya. Masyaa Allah... sungguh rezeki memiliki teman yang baik. Semoga Allah kabulkan segala doamu ya, yang terbaik untukmu. Barakallah...

Meta morfillah



04 December, 2016

[Review buku] Haduh, aku di-follow

Judul: Haduh, aku di-follow
Penulis: Joko Pinurbo
Penerbit: KPG
Dimensi: vi + 122 hlm, 20 x 20 cm, edisi ebook di ijak
ISBN: 978 979 91 0529 5

Buku ini berisi kumpulan #puitwit atau puisi yang ditwit dalam 140 karakter. Dibuat dalam kronologis urutan waktu twit, namun bisa juga dinikmati dalam satu tema berdasarkan indeks di halaman belakang, misal tentang celana.

Secara keseluruhan puisinya unik, diksinya juga lumayan buat saya. Beberapa jarang saya temukan dalam keseharian. Yang paling menarik adalah ilustrasi, layout dan ragam font serta warnanya. Secara isi, puisi jokpin ini semacam sindiran dan kepekaan terhadap isu sosial saat ini.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

"Ibukota cinta adalah ibu."

"Tuhan, aku twit kau setiap malam, tapi Kau bilang doaku masih terlampau panjang."

"Yogya terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan." (H. 40)

"Kata-kata melipat jarak menjadi selembar kita."

"Mari belajar sabar kepada kabar. Ia baik-baik saja walau setiap hari diserang apa."

"Begini saja: aku yang nulis puisi, kamu yang jadi puisi."

Meta morfillah

02 December, 2016

[Review buku] Inteligensi embun pagi

Judul: Intelegensi embun pagi
Penulis: Dee Lestari
Penerbit: Bentang
Dimensi: 710 hlm, cetakan pertama februari 2016, edisi ebook di ijak
ISBN: 978 602 291 154 8

Sepertinya saya terlewat, belum membaca seri kelima--Gelombang. Sebab saya agak asing dengan detail tentang Alfa. Oh ya, buku ini adalah seri terakhir dari Supernova. Di buku ini, semua tokoh yang dibahas detail di buku sebelumnya: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh; Akar; Petir; Partikel; dan Gelombang muncul dan bersatu membentuk satu gugus peretas Asko. Berawal dari Diva, gugus Asko bangkit dan terhubung. Bodhi/akar sebagai peretas kisi, Etra/petir sebagai peretas memori, Zarah/partikel sebagai peretas gerbang, Gio sebagai peretas kunci, dan Alfa/gelombang sebagai peretas mimpi.

Dibantu oleh beberapa Infiltran dan Umbra, mereka mencoba melindungi sekuens Hari Terobosan agar kelahiran Peretas puncak tetap ada. Sayangnya, ada banyak Savara yang menyusup dan pengkhianatan berlapis terjadi dari dalam. Asko dan portal terancam lenyap. Hanya ada satu cara untuk membuat semua berjalan normal kembali. Seseorang harus dikorbankan. Seseorang yang akan selalu menjadi alasan perang, sebab ketidakmungkinan bersatunya dia dengan belahan jiwa. Sebab mempersatukan mereka, sama saja melenyapkannya. Bagai malam dengan siang. Tidak akan pernah bertemu, apalagi bersatu. Siapakah dia?

Luar biasa, saya tak pernah menyangka bahwa endingnya akan seperti ini. Saya kira selama ini Dee hanya mencoba membangun karakter dari berbagai perjalanan rohaninya mendalami beberapa agama. Ternyata di buku ini, ia terlepas dari segala macam agama. Lebih terasa sangat science fiction. Saya membayangkan semacam film interstellaar digabung matrix, harry potter, transcendence, dll. Meski masih ada banyak pertanyaan menggantung.

Jujur saja, banyak pula istilah njelimet yang saya tak paham meski sudah baca glosariumnya. Macam gaya stephen hawking. Tapi begitulah, saya larut dalam tiap episode.

Saya apresiasi 5 dari 5 bintang.

"Kenapa orang-orang sekarang suka sekali membuat cinta jadi rumit? Suka, ya suka. Mama lihat matamu." (H.317)

"Jangan sampai harapan membuat kita buta pada kenyataan." (H. 505)

"Masa 12 tahun tidak mengaratkan esensi, sekalipun menyusutkan bara. Tidak lagi bergejolak, tapi hangat. Hangat yang tampaknya kekal." (H. 688)

"Menulis membutuhkan kerja keras dan pembelajaran seumur hidup. Bukan sekadar modal hasrat dan angan-angan." (H. 700)

"Menjadi penulis bukan hanya perkara bercerita, tapi juga meliputi penempaan mental. Kita diajak untuk mengenali diri kita lebih baik lagi, menghadapi monster dan malaikat internal, serta belajar bagaimana memanfaatkan keduanya untuk kemajuan kita." (H. 701)

Meta morfillah

Text Widget

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik