Pages

27 December, 2013

Memasak

Memasak itu sesungguhnya caramu berekspresi tentang hidup.

Dimulai dari kau menyiangi sayur semacam bayam dari kotoran, akar dan ulat yang biasanya bersembunyi di antara dedaunan hijaunya. Sama seperti kau menyiangi sikapmu dari sifat-sifat yang tak diperlukan, jelek dan merugikan.

Lalu kau cuci bayam yang kau siangi, kau siapkan bumbunya. Penuh perhitungan, agar menghasilkan cita rasa yang pas dengan penikmat masakanmu. Sama seperti hatimu, kau bersihkan dan kau olah agar tidak terjerembab jatuh pada keadaan atau pun hal yang salah. Penuh perhitungan, kau siapkan dia dengan baik.. agar mampu dipersembahkan pada penjemputnya dengan cita rasa yang tepat.

Setelahnya, kau didihkan air, kau masukkan bumbu hingga matang. Lalu kau masukkan bayam dan beri garam serta gula secukupnya.
Sama seperti kehidupanmu, terkadang untuk "matang" kau harus lalui ujian yang berat, panas seperti air mendidih. Ditambahkan bumbu-bumbu masalah lainnya yang semakin menambah cita rasa dirimu. Ada pahit, asin, dan manis--seperti garam dan gula--dalam perjalanan hidupmu hingga kau mencapai titik sempurna kematanganmu. Lalu kau siap disajikan.

Maka memasak menjadi sebuah naluri, resapi tiap langkahnya. Banyak sekali pembelajaran kehidupan di sana, jika KAU MAU BERPIKIR. Bukankah kata-kata itu sering diulang di dalam firmanNya? Semua hal ada hikmah (pembelajaran) bagi MEREKA YANG MAU BERPIKIR.

Ini baru memasak bayam loh! Belum rendang. Dapatkah kau bayangkan, betapa filosofisnya memasak rendang itu? Hehee :)

meta morfillah

Cabe-cabean = generasi tahu!

Entah dari mana asalnya, istilah ini mulai ramai terdengar di mana-mana.

Cabe-cabean.

Awalnya saya bingung, pada ngomongin cabe, kenapa? Apakah harga cabe naik lagi? Langka lagi? Atau apa gitu..

Tapi ternyata salah!

Cabe yang dimaksud di sini lebih merujuk pada sekelompok gadis remaja/ABG. Merupakan akronim dari Cewe Abg Buat Ehem. 'Ehem'nya ini bikin saya terkesiap dan istighfar terus. Namun ada lagi yang berkilah, cabe itu akronim "CAntik tapi BEjat". And many things lah yaaa..

Saking geregetannya, saya searching dan menemukan ciri-ciri yang dimaksud cabe-cabean ini. Di salah satu blog, disebutkan biasanya yang berbehel, suka pamer aurat, merokok, gampangan, dll. Oh my..

Cukup! Segitu saja saya pikir. Sekadar tahu fenomena ini, yang ternyata berasal dari kalangan pembalap liar/anak motor. Lebih menyedihkan ketika saya menemukan ada tingkatan seperti lampu lalu lintas. Cabe merah, cabe ijo.. astagfirullah.

Tadinya, saya cuma istighfar saja mengetahui istilah itu. Tapi, di suatu acara.. ketika saya menghadirinya, saya kaget.. saat sekelompok gadis-gadis cantik melempar jokes "Jadiin aku cabe-cabeanmu, dong om"

Mereka lalu terbahak, lelaki dan gadis-gadis itu. Lucu sekali nampaknya..

Tapi saya muak mendengarnya, seketika saya merasa jijik! Sedih, kesal, miris. Generasi macam apa ini? Ketika dilecehkan, malah senang dan menjadikan bahan lecehan itu sebuah guyon!
Kalau saya, bisa saya tampar itu orang kalau becanda sama saya tentang cabe-cabean. Ya Allah... bagaimana generasi anak-anak saya nanti, ponakan-ponakan saya? Apakah seperti ini generasi yang akan kita bangun? Generasi seperti inikah yang akan kita wariskan? Generasi sakit hati yang bermental tahu? Diremuk sedikit langsung hancur!
Masalah-masalah sepele soal cinta monyet saja bisa bikin bunuh (harga) diri. Tidak malu menjaga izzah (kehormatannya) sebagai perempuan.

Lalu ketika generasi ini menjadi semakin lemah, di mana pewaris peradaban yang sesungguhnya? Lalu kalian mau menyalahkan siapa? Ibunya? Karena ibu merupakan madrasah bagi anak-anaknya?

Hellooo... lingkungan sebenarnya memegang andil paling besar! Maka ketika generasi ini rusak, SALAHKAN DIRIMU JUGA! Kalian punya andil terhadapnya.

Mulailah dengan perkataan-perkataan baik, perbuatan-perbuatan baik dan hentikan yang tidak baik itu. Setidaknya bila kalian tidak mampu menghentikannya, maka jangan lakukan, jangan ikutan! Hindari, jauhi! Masih banyak yang harus kau lakukan. Bisa dimulai dengan tidak menganggap lucu fenomena CABE-CABEAN ini! Tidak menjadikannya guyonan murahan.

Cobalah sesekali gunakan otakmu, sebelum berkata!

meta morfillah

Apa kabar hati?

Apa kabar hati?

Yang senantiasa dilingkupi ketidakpastian,
seperti cuaca yang tak dapat ditebak dalam sehari
mendung, terik, berawan, mengabu, kemerahan, ah entah!

Sudah sejak kapan, kali terakhir kau memikirkan hatimu?
Hatimu sendiri...
Setelah kau bergegas meniadakan kepentingan atas hatimu.
Kau bilang, perasaanmu bukanlah sesuatu yang penting.
Rasa-rasanya telah lama...
hingga kau membeku di sudut sana.

Bahkan kata-kata indah hanya selewat saja,
Dentingan merayu, selentingan telinga
Tindakan dan ragam perhatian yang manis,
suatu pemakluman atas sikapmu pada mereka.

Apakah hati itu telah mati?
Tak lagi dapat merasa?
Dingin?
Seperti angin di bulan desember yang menggemeretakkan gigimu?
Menyayat sembilu?

Apa kabar hati?

Tak adakah yang mampu menjawab pertanyaan sederhana ini?

meta morfillah

23 December, 2013

Seorang ibu bertanya pada anak gadisnya,

Seorang ibu bertanya pada anak gadisnya,
“Siapakah yang akan kamu pilih, Nak?”

Sang anak menjawab,
“Pilihan bukanlah di tanganku, Bu. Aku hanya mampu menilai dan menentukan ketika mereka sudah menyatakan di hadapanmu dan memutuskan untuk serius denganku.”

Sang ibu menghela nafas panjang,
“Kau tahu, Nak. Tidak pernah ibu menyaksikan begitu banyak kumbang di dekat sebuah bunga, seperti lelaki di dekatmu. Kau seperti bunga langka, yang begitu menarik dengan wangi tubuhmu. Itu suatu anugerah, namun itu juga suatu musibah. Kau tahu, ibu takut… bunga yang indah itu, bila terlalu lama dibiarkan, ia lupa bahwa sejatinya bunga harus mengalami penyerbukan. Lalu waktu menggerusnya dan keindahannya akan menua lalu memudar. Lantas ia mati tanpa meninggalkan generasi berikutnya. Ibu hanya takut hal itu terjadi padamu, Nak. Sebab kegagalan menikah pada wanita lebih melukai, daripada kegagalan menikah pada laki-laki. Itu sebabnya Ibu lebih 'sibuk' menasihatimu agar tidak salah menikah.”

Sang anak terdiam, lalu berkata pelan,
“Aku tahu, Bu…, sangat tahu. Itulah kesadaran pertamaku saat memulai prinsip ini. Aku tahu, aku bermain api yang begitu mudah terbakar, maka aku membentengi dengan semua tirakatku selama ini. Kepada Tuhan aku kembalikan semuanya. Sungguh, tidak ada suatu pengetahuan atau pun kekuatanku tentang hal itu. Dalam otak dan pikiranku, selalu aku menganggap mereka sama selama mereka tidak membuat diri mereka menjadi berbeda. Selalu aku tekankan, bahwa aku hanya memperlakukan mereka seperti teman lainnya, tak pernah kumasukkan sedikit pun ke dalam otak terlebih hatiku. Aku menyibukkan diri untuk memperbaiki diriku yang tak kunjung sempurna. Itu saja sudah menyita waktu dan perhatianku, Bu. Sungguh, aku lelah. Aku pasrah..  dalam iringan usahaku menyempurnakan diri sebagai hambaNya.”

Mata sang ibu berkaca-kaca, anak gadisnya yang selalu menjadi anak terkecil di matanya telah tumbuh begitu dewasa. Tak ia kira, gadis itu mampu memikat banyak lelaki dengan beragam latar, status, bahkan pendidikan. Sang ibu hanya mampu berdoa yang terbaik untuk kebanggaannya.
“Ibu percaya padamu, Nak. Ibu percaya dan ibu selalu titipkan penjagaan atasmu padaNya.”

Selesailah malaikat mencatat janji dan doa yang tersulur dari dua hati yang berusaha menyuci itu.
 
Meta morfillah

Bunda, selamanya aku ingin menjadi anak kecil.

Bunda,
selamanya aku ingin menjadi anak kecil.
Berlindung di bawah ketiakmu.
Memeluk teddy bear yang lebih besar dari badanku, ketika masalah menghampiriku.
Yang jelas aku bisa menyembunyikan wajahku.

Tapi aku tahu, itu semua hanya mimpi orang dewasa yang begitu egois.
Tak mau menghadapi masalah yang menempanya.
Kadang, tak sengaja menyakiti hati-hati sesama... itu sangat menyedihkanku, Bunda.
Menarikku untuk enggan berbuat hal yang sama kali kedua.
Namun, bila itu jalan satu-satunya untukku menuju kedewasaan, bagaimana Bunda?
Aku seperti ikan yang berenang mengikuti arus. Menjadi bagian dalam lakon roman picisan. Tak mau, namun harus mau.

Mengapa kita tak dibiarkan kekal dalam masa kanak kita, Bunda?
Ketika menjadi dewasa itu begitu sulit...
Bisakah aku menjadi sebodoh engkau, Bunda?
Makhluk terbodoh yang mau saja menanggung segala kesakitan, kepahitan di bumi ini, tanpa sedikit pun penghargaan?
Bisakah aku setolol engkau, Bunda?
Yang berkali-kali disakiti, namun tak tahu cara membalas menyakitinya?

Bunda... selamanya aku ingin kembali ke masa kecilku. 
Berharap terperangkap di sana. 
Tak menua, terlebih mendewasa.
 
Tapi selamanya itu hanya... mimpi!

meta morfillah

Selamat Hari Ibu!

Minggu, 22 Desember 2013

Pagi diawali dengan hujan ritmis sedari subuh. Tampak seperti jarum jahit yang kurus-kurus berjatuhan ke tanah dan melebur. Pagi ini spesial. Mengapa? Karena hari ini adalah peringatan hari IBU. Makhluk Tuhan yang begitu dicintai, walau kebawelannya tak tertandingi. Entahlah, cintanya begitu aneh dan magis. Semakin ia cerewet, semakin ia sayang. Semakin ia sering ngomel, semakin ia cinta. Patut kau berhati-hati bila mulutnya hanya diam, ketika kau berbuat salah. Itu taraf tertinggi dari keacuhan manusia, lebih parah dari dibenci... yaitu tidak dipedulikan.

Saat ini air PAM sudah dua hari mati di rumah kami, sehingga agak menghambat aktivitas dan ritual pagi kami. Kedatangan hujan, sedikit banyak membantu kami untuk menghidupkan hidup ini dengan tadahan airnya. Selagi menampung bulir-bulir air dari langit, aku tertegun. Satu bulir mengingatkanku akan sifat baik mama. Tiap bulir kuhitung, berapa teh manis hangat yang tersedia tiap subuh. Tiap bulir, kuhitung berapa bihun dan bakwan tersaji kala kumembuka mata, tanpa dipinta. Tiap bulir, kuhitung waktu panjang yang mama habiskan untuk menungguiku pulang kerja selepas maghrib, di teras atas rumah kami. Bulir-bulir hujan semakin menderas, membuatku agak kewalahan dan pada akhirnya menyerah.

Begitu banyak!
Tak terhingga!
Begitu besar!
 
Cinta kasihnya benar-benar seperti bulir-bulir air mukjizat dari langit. Membasahi hati-hati yang kering. Menenteramkan jiwa-jiwa yang panas.
 
Tak pernah berhenti mendamaikan bumi perasaanku. Dia selalu menjadi yang teratas... tangan di atas... tanpa mengharap akan dibalas.
 
Aku tahu, 1 hari tak sebanding dengan pengorbananmu selama ini. Tapi, izinkan aku untuk tetap mengucapkan "Selamat Hari IBU", dengan cinta anakmu yg pandir.

meta morfillah

Engkaukah itu?

Engkaukah itu, yang memerangkap senja kemerah-merahan di bibir pantai yang mencumbu pasir, kamera DSLR tersampir di pundak, lima tahun silam.

Beragam penjaja kelapa di pantai Anyer mencoba menarik perhatianmu, tak urung wanita genit yang ingin memijit.

Ada suatu ketika di Malioboro, sego kucing, di antara penikmat kopi joss dan perbincangan yang semakin seru menjelang pagi.

Harum tubuhmu menguar dari helai demi helai Sherlock Holmes yang terbuka, di sepanjang lavender street, di antara warna dedaunan maple.

Engkau begitu mengabur dan campur baur dalam kurun waktu yang menua. Namun aku mencatatmu dengan lekat. Untuk kemudian aku lepaskan... perlahan aku lupakan.

Di sudut persimpangan hidupku, kuamati...
Engkaukah itu?

meta morfillah

MUAK!!

Tahu rasanya muak? Ya... MUAK! MUAK yang teramat sangat!
Seperti ada yang ingin kau muntahkan, sudah mencapai pangkal lehermu, namun tertahan.
Menyesakkan!
Menyebalkan!
Menggemaskan!
Kau sudah diam, tak ingin menambah keruh dengan kata-kata. Tapi mereka masih saja mewarnai dunia ini dengan segala kata-kata yang dijadikan omong kosong. Hingga kau berharap semoga bumi bisu! Malas sekali telingamu mendengarnya. Rasa-rasanya dunia ini sudah terlalu dijubeli beragam kata-kata. Sesak, tahu!!!
Kau ingin bercerita, namun tidak dibebaskan. Padahal katanya, ini jaman bebas mengungkapkan pendapat! Kau menulis tentang si A, dibaca si B, diinterpretasikan malah tentang di C! Nah loh! GILA, kan?
Menulis tentang hal yang benar, sesuai firmanNya, dibilang sok suci! Masih mending sih, daripada sok najis!
Menulis tentang refleksi diri selama seharian, dibilang narsis.
Menulis tentang roman, dibilang galau!
Aaarghhh!!! Apa sih mau kalian!? MUAK aku mendengarnya!
Menulis salah, tidak menulis lebih salah!
Apa mungkin lebih baik, kita berharap manusia tidak mengerti huruf seperti jaman pra sejarah? Sehingga tidak lagi banyak kasus karena tulisan atau pun lisanmu!?

Ah, manusia!

meta morfillah

16 December, 2013

Obat marah?



Kamu tahu caranya menyembuhkan sakit hati? Pulih dari kekecewaan? Kekecewaan karena kamu menjaga perasaan orang yang kamu hargai, namun orang tersebut tidak menghargai perasaaamu sedikit pun. Bahkan mempermainkannya, seakan perasaan kamu itu sebuah benda yang harus sering dites. Hanya sekadar memastikan, katanya. Hello, what the hell!? Rasanya tuh mau lemparin sandal ke mukanya. Memaki sepuas mungkin, but, that’s not my way.

Menyenangkan rasanya, ketika Tuhan mengerti ada hamba yang cepat pulih dan ada hamba yang butuh waktu untuk sembuh dari lukanya. Hingga diberi tenggang waktu tiga hari untuk marah dan tidak bertegur sapa. Jadi, saya akan memaksimalkan waktu itu untuk mendiamkannya dan mendiamkan amarah saya yang menggelegak. Mengamankan lidah saya dari kata-kata yang mungkin akan saya sangat sesali nantinya bila sampai terucap. Sementara setan menari-nari menggoda saya melalui hati yang panas, telinga yang tidak senang mendengar namanya disebut dan mata yang melihat sosoknya.

Sungguh berat rasanya menahan amarah, seperti memanggul gunung dan ingin melepasnya. Duduk salah, berdiri salah, diam rasanya kesal, berbicara rasanya enggan. Seperti bisulan, serba salah. Istighfar saja lah yaaa… 

But, anyway… ada yang tahu rasanya menyembuhkan sakit hati atau marah yang saya terangkan barusan?
Kalau tahu, tolong beritahu saya. Saya butuh secepatnya. 

Terima kasih,
 
Meta morfillah

10 December, 2013

Gadis & Hujan (7)

Jalan ini begitu terjal, panjang & berliku. Puasa yang tak jelas kapan berbuka. Maka kerikil yang betebaran, tak layak menggugurkanmu. Demi Surga.

"Aahh... ujiannya semakin berat," Gadis berbisik pada hujan yang bertandang di bulan desember.

Hujan hanya tersenyum, menitikkan air dari badannya dengan gemulai. Gerakan yang selalu mempesona sang gadis. Ia diam dan memperhatikan tiap detail gerakan sang hujan. Menatapnya lekat-lekat, dengan rakus seakan mampu mengabadikan pemandangan itu kuat pada otaknya--yang mudah lupa.

Beberapa saat berlalu dalam diam, seakan keheningan itu sangat sakral dan tak ada yang berani memecahnya. Hingga hujan berhenti pada gerakannya, mencoba melambat dan memandangi gadis tepat di wajahnya. Wajah sendu. Wajah yang tahu makna hidup, namun tiada teman berbagi makna. Menyedihkan dalam kecantikan sempurna.

"Kau terlalu keras pada dirimu," akhirnya hujan memecah keheningan itu.

"Maksudmu?"

"Tanpa kau sadari, kau takut akan tersakiti. Maka kau menghindari. Kau bunuh setiap benih cinta yang mulai tumbuh, dan kau menjadi dingin. Itu maksudku, semakin dingin seperti angin di bulan desember,"

"Aku lelah membahas ini,"

"Ya, membosankan. Tapi hal ini yang menjadi masalah utamamu. Tidakkah kau mau menguraikannya?"

"Kau tahu matematika Sedekah? Jika kau punya 10, lalu kau sedekahkan 1. Maka yang kembali bukanlah 9, melainkan 19, karena 1 yang kau sedekahkan, dilipatkan menjadi 10,"

"Lalu?" hujan kebingungan. "Apa yang sebenarnya hendak kau sampaikan, Gadis?"

"Aku menyedekahkan 1 lelaki yang kucintai padaNYA. Lalu kudapatkan banyak cinta yang baru. Bukankah Tuhan begitu baik padaku? Lantas, pantaskah aku mengeluh? Hanya karena aku tidak mendapatkan lelaki itu? Sedang ada--seharusnya--19 cinta lain untukku?"

Hujan mengangguk paham. Gadis, kadang rumit dalam pemikiran sederhananya. Kadang sederhana dalam persoalan rumit hidupnya.

"Tapi, 1 cinta yang kau sedekahkan berbeda bentuknya dengan 19 cinta yang akan kau dapatkan. Cinta bukanlah substitusi yang dapat dengan mudah kau ganti. Ia memiliki bentuk yang tak pernah sama. Tak heran manusia mampu jatuh cinta berkali-kali. Karena setiap cinta memiliki khas. Berbeda, unik!"

"Aku lebih heran dengan lelaki yang berkepala satu, namun memikirkan sepuluh wanita di dalamnya. Mengapa tak seperti Rahwana yang berkepala sepuluh, namun hanya memikirkan satu wanita di dalamnya, Sita."

"Oh Gadis, kamu sedang menyangkal. Hadapi mereka yang sedang memperebutkanmu, jangan kau tanggapi dengan dingin. Nanti kau menyesal,"

"Entahlah, aku sudah lupa bagaimana rasanya jatuh hati. Aku sudah lupa nikmatnya pedekate dan segala macam tetek bengeknya. Aku mendapatkannya dalam pertemanan, mengapa tak lanjut saja dalam bahtera? Entahlah."

Mereka berdua diam. Sibuk dengan pikirannya masing-masing. Pembicaraan yang sulit bertemu sepakat. Setidaknya, mereka berdua saling ada. Selalu ada untuk satu sama lain. Walau kadang dalam pertemuan, mereka hanya diam hingga waktu menjemput keduanya untuk berpisah. Kadang ada seseorang yang hanya perlu ada dalam hidupmu, tanpa perlu seseorang itu berbuat sesuatu untukmu.


Meta morfillah

06 December, 2013

Petamburan

Rumah saya di petamburan, dekat pasar tanah abang. Yang datang pasti akan meremehkan, karena tak jauh pula dari bongkaran. Tapi saya tetap bangga bersyukur telah dilahirkan dan bertumbuh di sana. Kekerasan, pelecehan, NARKOBA dan berbagai penyimpangan begitu mudah ditemukan. Saya belajar darinya. Saya tak mau tumbuh menjadi "mereka". Tapi saya juga tak mau mengingkari mereka. Mereka pernah ada di hidup saya, sebagai tetangga, teman, saudara.

Dari ketidaksempurnaan dan pandangan sebelah mata pada kawasan ini, saya bertekad. Saya membangun mimpi-mimpi, bahwa saya mampu berharga dan bernilai lebih seperti intan, walau ada dalam lingkungan yang kerap dianggap sampah.

Dari kekurangan kota ini, saya belajar mencintainya. Walau tindakan saya belum begitu nyata. Lingkaran saya masih seputar dunia saya dan mereka yang mengenal saya sedikit.

Tapi selamanya, harapan itu masih ada. Harapan melihat generasi depan bertumbuh dengan baik dan benar. Generasi ponakan saya dan seterusnya.

Semoga. Aamiiin.

Meta morfillah

Padamu

padamu,
aku ingin menjadi tanah liat
kau remukkan, kau panaskan, kau bentuk,
aku pasrah

padamu,
aku ingin menjadi pujangga
menghujanimu dengan kata-kata terbaik
hingga kau kekenyangan dengan semua rayu

padamu,
aku ingin menjadi tanah
yang setia menemanimu kala maut menjemput
bersatu dalam gelap yang menenangkan

padamu,
aku ingin.

tapi jarak setipis ari, memisahkan kita di dunia berbeda.
kuncinya, ada padamu.
maukah kau menjadi yang kutuju?

meta morfillah

05 December, 2013

Selamat Hari Disabilitas

3 Desember 2013
Selamat Hari Disabilitas Internasional!


SEJAK ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 1992, maka sampai saat ini, setiap 3 Desember kita memperingatinya sebagai Hari Penyandang Disabilitas Internasional. Peringatan ini bertujuan untuk mengembangkan wawasan masyarakat akan persoalan-persoalan yang terjadi berkaitan dengan kehidupan para penyandang disabilitas dan memberikan dukungan untuk meningkatkan martabat, hak dan kesejahteraan para penyandang disabilitas. Pemakaian istilah disabilitas adalah pengganti dari istilah cacat untuk mengurangi diskiriminasi di tengah-tengah masyarakat.

Saya cukup senang menanggapi adanya suatu hari yang “menyadarkan” kita tentang pentingnya keberadaan mereka yang disabilitas. Memang masih banyak yang harus dipelajari bangsa ini, terkait bagaimana memperlakukan mereka yang disabilitas dan tidak mendiskriminasikannya. Saya sendiri mengalaminya. Bukan saya yang disabilitas, melainkan uda (kakak laki-laki) saya. Usianya sudah 30 tahun, namun tingkahnya seperti anak kecil. Kalau dilihat sekilas dari wajah memang terlihat normal, namun sebenarnya tidak.

Kejadiannya selalu terjadi di angkutan umum, seperti kereta api dan mikrolet. Sering sekali petugas memperlakukannya dengan kasar, menyangka dia normal dan menyuruhnya jauh-jauh dari saya dan penumpang wanita lainnya (apalagi kalau kami sedang melintasi area wanita). Kadang saya agak kesal juga, ingin memaki petugas itu. Apakah ia tidak memiliki mata? Melihat saya menggandeng tangan uda saya dengan begitu khas, melihat gelagat uda yang “luar biasa”. Yaah… sepertinya masyarakat kita masih perlu belajar “membaca”, tidak sekadar buku melainkan juga “membaca” keadaan sekitar—semacam kepekaan lingkungan. 

Isu lain yang menarik adalah seringnya penyandang disabilitas sudah sekolah setinggi mungkin, pintar namun tidak dapat bekerja selayaknya orang normal. Hal ini terjadi pada dua teman dekat saya. Saya sendiri heran, pekerjaan yang ia lamar berkaitan dengan otak, dan otak teman saya itu encerr banget! Tapi ia ditolak hanya karena dibilang nanti susah mobilitasnya (teman saya ini disabilitas karena kakinya yang tidak sempurna). Lalu yang diterima teman saya yang normal dan setelah beberapa bulan saya tanyakan padanya, tidak terlalu mobile pekerjaannya. Memang alasan saja, perusahaannya belum mau menerima yang disabilitas. Huff… entahlah, semoga tidak semua perusahaan sepicik itu.

Yang ingin saya tekankan pada tulisan kali ini adalah, saya bersyukur memiliki salah seorang malaikat “luar biasa” dalam keluarga saya. Dari uda, saya belajar banyak tentang kesabaran, keterbatasan, hingga kesempurnaan dari dirinya yang tidak sempurna. Uda menyadarkan saya betapa saya harus bersyukur, memiliki orang tua yang mau menerima dan memperjuangkan segala yang terbaik bagi anak-anaknya—khususnya uda saya ini—dan mengikhlaskan segala hal yang belum teraih saat ini. Saya merasa istimewa, diperkenankan Tuhan untuk menjaganya. Tidak semua manusia mendapatkan kesempatan ini. Memang pada awalnya, ketika saya masih kecil saya menganggapnya beban. Bahkan ketika ia sedang tantrum (ngamuk), sering kali saya dijadikan pelampiasan. Luka cakaran kukunya yang dalam, hingga kini masih berbekas di pipi saya—kalau kata orang yang melihatnya, luka itu membuat saya mirip Naruto versi cewek. Tapi setelah SMK, saya mulai menyadari, itu bukanlah kesalahannya. Ketika ia kesakitan, sedih, ia tidak mampu mengungkapkannya dengan cara yang normal sehingga itulah yang menyebabkan ia tantrum. Dan orang terdekat yang selalu ada di sampingnya saat itu adalah saya, sehingga sayalah yang sebenarnya “dimintai tolong”, namun yang terjadi adalah terlihat ia menyakiti saya. Sebenarnya ia sedang mengadu, meminta tolong.

Seiring usia bertambah, semakin saya memaknai banyak hal yang ingin disampaikan uda saya. Ia begitu luar biasa, istimewa. Bayangkan saja, bila saya menyetel lagu-lagu barat, latin atau pun daerah—yang kadang saya tak mengerti artinya—ia mampu mengapresiasinya. Ia menangis, atau tergelak. Hingga membuat saya penasaran, lalu saya googling dan saya terhenyak. Lagu yang membuat matanya memerah, hingga hidungnya beringus karena menangis, ternyata memang memiliki arti yang ‘dalam’ dan menyedihkan. Pun lagu yang membuatnya tergelak, itu memang lucu sekali, namun disampaikan dalam bahasa daerah—Bahasa Padang. Nah, bukan berarti dia tak cerdas toh? 

Saya masih takjub, begitu banyak keajaiban yang saya amti pada dirinya akhir-akhir ini. Dari mana ia belajar tentang begitu banyak bahasa, sedangkan berbahasa normal saja ia tak bisa? Lalu seringnya ia mengacak rak buku saya, dan ia benar-benar membacanya. Hapal mana halaman yang ia baca kemarin. Ya tuhan, sungguh hebat penciptaanMu!

Dari ketidaksempurnaan, saya belajar tentang kesempurnaan.

Itulah… yang saya rasakan pada mereka yang disabilitas. Guru pertama saya, tentulah uda saya terkasih. Lalu saudara sepupu saya yang down syndrome, dan murid-murid saya yang selalu membuat rindu.

Selamat hari disabilitas! Kehadiran kalian di dunia ini bukanlah kesalahan, melainkan peringatan bagi kami makhluk pengeluh dalam kesempurnaan!

With love,
Meta morfillah

03 December, 2013

Selamat Selasa

Kebahagiaan itu seperti pelangi. Selalu tampak di atas kepala orang lain.

Sudah berapa keluhan yang kamu hasilkan hari ini? Hayoo… mengakulah!

Jika ada situasi yang tidak kamu sukai, kondisi yang membatasimu, pasti dengan mudahnya kamu mengeluh. Terlebih dengan adanya media sosial yang mampu menyiarkan penderitaanmu itu ke seluruh dunia (Yess… ini lebay!). Hal itu semakin menarik bukan? Yaa… saya pun kadang khilaf dan merasa malu membaca twitt-an dan status saya di media sosial yang terkadang tidak ada manfaatnya bagi orang lain. Maka ketika saya merasa ‘bersalah’ telah mengotori media itu dengan keluhan saya, saya memperbaikinya dengan menjadikan tulisan. Semacam horcrux, penggalan-penggalan tulisan yang kadang saya satukan untuk sebuah cerita. 

Balik ke masalah mengeluh.

Hampir semua orang pernah berada atau mungkin masih berada pada keadaan yang tidak enak; capek, sakit, tidak punya uang, tidak suka pekerjaan yang sekarang, dan ujian-ujian hidup yang mungkin jauh lebih berat dari yang kita alami. Pada kondisi itulah, kamu bisa melihat, seberapa pejuang-kah dirimu? Buang alasan... NO EXCUSE! Hadapi hidup dengan senyum, tertawakan kesedihan (Asma Nadia)

Nah… No Excuse untuk menjadi bahagia. Jika kita sibuk mengeluh, kebahagiaan akan selamanya seperti pelangi. Selalu tampak di atas kepala orang lain. Lalu kapan kita akan membuat pelangi kita sendiri? Jika untuk merasakan hujan saja kita enggan.

Jangan pernah kehilangan rasa syukur, betapapun terasa sempitnya hati.
Never lose a sense of gratitude, however feels the narrowness of heart.

Selamat SELASA (SElalu LuAr biaSA)!

With love,
Meta morfillah

Text Widget

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik