Pages

22 December, 2015

[Review buku] Rahim

Judul: Rahim
Penulis: Fahd Djibran
Penerbit: Goodfaith Production
Dimensi: ix + 316 hlm, cetakan pertama juni 2010
ISBN: 978 602 96000 2 5

"Asal kau tahu, Rahim adalah nama lain dari Raja Semesta."

Buku yang ditulis penulis saat istrinya sedang mengandung ini mengambil sudut pandang orang kedua. Seakan pembacalah orang yang diajak bicara dan terlibat. Penggunaan kata ganti orang kedua--kamu--adalah ciri khasnya. Meski di awal sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang ketiga, yang tahu segalanya.

Kisah ini diceritakan oleh Dakka Madakka dari Ura. Seorang pengabar berita dari kerajaan alam rahim yang ditugaskan untuk bercerita tentang kehidupan alam rahim. Kita diajak flashback menelusuri perjalanan kehidupan kita saat masih di rahim ibu. Sistematikanya begitu runut: diawali dari cerita beragam orang yang diberikan anak saat tidak menginginkan, dan di bagian lain ada hartawan yang begitu baik dan menginginkan seorang anak sebagai pewarisnya namun tak kunjung dikabulkan Tuhan hingga usianya senja. Lalu perjalanan dari fetus yang berupa gumpalan, permulaan, gerak, lanugo atau lemak cokelat yang melindungi bayi dari kedinginan, jeda, mendengarkan, sirkus yang bercerita tentang mimpi yang terasa lebih nyata di alam rahim ketimbang alam dunia, waktu, ibu, persiapan, kejamnya aborsi yang merenggut kehidupan sang bayi, ayah, peralihan, rekrutmen, kelahiran, rahim semesta dan ditutup epilog.

Gaya tutur penulis seperti sebuah serial fantasi, namun didukung sebuah fakta sains dari dunia kedokteran, perumpamaan Allah dan malaikatnya serta beragam alam yang diyakini umat Islam, ditambah ada beberapa cerita yang diadaptasi dari kisah tentang pembuangan ibu di Jepang dan menebar kebaikan di film Pay It Forward.

Kekurangannya masih terdapat peletakan di- yang tidak tepat, sebagai kata depan dan kata sambung. Juga penulisan huruf kapital setelah tanda titik.

Selebihnya saya suka akan isi ceritanya. Mengajak kita lebih menghargai kehidupan, orangtua kita, dan Allah sebagai Pemilik Jiwa kita. Penulis berbakat menyederhanakan konsep yang sebenarnya cukup berat menjadi kisah yang mudah dicerna dan analogi yang ringan.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

"Kau tak bisa memilih terlahir dari rahim yang mana, dari keluarga yang mana. Kau hanya mengikuti kemana hidup membawamu pergi." (Hlm. 67)

"Andai saat itu kau bisa melihat ibumu. Saat ia tersenyum lebar mengusap-usap perutnya yang membuncit. Sambil mencandaimu dalam gumaman menggemaskan. Bertaruhlah denganku, kau tak mungkin sekalipun berniat melukai perasaannya! Ia perempuan yang cantik, sampai terasa ke hati." (Hlm. 77)

"Jangan buang-buang waktu. Jangan boros terhadap waktu. Kau tahu, bahkan Raja Semesta bersumpah demi waktu. Jangan sampai kau tak menghargainya. Tak menghargai waktu sama saja dengan tak menghargai Raja Semesta." (Hlm. 170)

Meta morfillah

No comments:

Post a Comment

Text Widget

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik