Pages

17 December, 2015

Surga di bawah telapak kaki ibu

"Ilzamha fainnal jannata tahta akdamiha"

Berbuat baiklah terus pada sang ibu, sebab surga berada di bawah telapak kakinya. (H. R. Ahmad)

Itu adalah salah satu petikan hadis yang harus aku hafalkan. Apa yang hebat dari sang ibu, hingga surga berada di bawah telapak kakinya? Mungkin karena mama adalah surga sebelum surga. Tempat di mana keinginanmu biasanya dikabulkan tanpa dipinta.

=====

"Ma, meta ada bahan untuk buat seragam saat bagi rapor. Jahitnya ke mana?"

"Kapan bagi rapornya?"

"Tanggal 18."

"Duh, seminggu doang? Ya sudah, jemput mama di jakarta nanti malam. Balik ke bogor buat jahit baju kamu."

Aku hanya meminta pendapat dan saran untuk dijahit ke siapa, namun mama malah ingin menjahitkan sendiri. Urusan mama di jakarta yang seharusnya tiga hari lagi, ditinggalkan begitu saja. Sejak hari itu, mama sibuk dengan jarum dan alat jahitnya setiap saat. Tanpa memakai mesin sama sekali. Membuat pola menjiplak baju yang sudah jadi. Tanpa mengukur. Jahitan tangan. Jelujur demi jelujur. Hingga H-2, tepatnya tadi pagi, aku sudah pasrah bila bajunya tak rampung. Sebab mau dibawa ke tukang jahit yang direkomendasikan teman, sudah full. Mau memaksa mama, tak mungkin. Melihat beliau begitu sepenuh hati menjahit baju itu.

Tiba-tiba saat pulang mengajar tadi, di kamar sudah ada baju tergantung. Itulah hasilnya.

Melihatnya aku tertegun. Haru. Bangga. Terasa begitu penuh cinta. Secara jahitan, masih ada yang perlu diperbaiki. Tapi... bagiku, di antara bajuku yang terbaik, termahal, dan ter- lainnya, ini adalah baju yang paling berkesan. Aku tahu prosesnya. Aku merasakan tiap cinta yang mengalir di setiap benang jahitannya. Memakainya membuatku merasa begitu berharga.

Momen hari ibu mendatang, bukan aku yang memberi hadiah dan kejutan pada mama. Tapi mama telah lebih dulu memberikanku kejutan. Mama... aku begitu bangga memilikimu. Takjub, apa sih yang tidak bisa mama lakukan? Di tengah keterbatasan mama, dengan jari tangan mama yang bengkok karena remathoid athritis, tetap saja mama tampak begitu normal dan melebihi kekuatan orang umumnya. Memasak, masakan mama paling enak. Menjahit, bisa. Bekerja, terbukti hingga masa pengabdian sekian puluh tahun. Bila aku ingin mengeluh, maka aku langsung malu saat melihat dirimu. Tidak ada alasan... tidak ada sama sekali alasan untuk menyerah.

Aku ingin dunia tahu, bahwa mama adalah mama terhebat di dunia!

Meta morfillah

No comments:

Post a Comment

Text Widget

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik