Pages

09 June, 2016

#Day3 Jalan

#Day3 Jalan

"Bagaimana di kota hujan, Met? Enak ya jalanannya?"

"Enak banget. Tidak ada macet dan lampu merah. Dari aku berangkat sampai nyampe tempat kerja melihat gunung, kebun, dan hijau-hijau. Udaranya sejuk, adem, langit cerah, masyaa allah."

"Wah, enak banget. Pasti kamu betah di sana."

"Masih ada yang kurang. Tidak ada kalian yang kusayang di sana."

Ini adalah foto jalan yang tiap hari saya lalui dan saya sempatkan tadi untuk mengabadikannya.

Seindah apa pun jalan yang kita lalui tiap hari, tidak akan mampu menghibur bila tidak ada teman yang bisa kita ajak bersama ke jalan itu. Minimal untuk kita ceritakan tentang jalan itu. Kita tidak bisa menceritakan betapa birunya langit di sana, dingin dan segarnya udara, memanjakan mata pemandangan yang hijau dan gunung menjulangnya. Kita hanya bisa bercerita pada kesunyian.

Seperti itulah jalan Islam. Itulah sebabnya mengapa kita perlu menyeru (dakwah). Sebab surga terlalu luas untuk kita tempati sendirian. Terlalu indah untuk kita nikmati sendirian. Bukankah kita begitu ingin orang yang kita sayangi ada dan menikmati apa yang kita nikmati? Mungkin, seperti itulah yang dirasakan Sang Nabi hingga ia begitu sedih di akhir hayatnya dan hanya mampu berkata, "Ummati... ummatii..."

Sebab Nabi tahu betapa indahnya jalan Islam berdasarkan Al Quran dan hadits, namun umatnya tetap saja memilih berada di jalan yang semrawut, berpolusi, dan membuat sakit.

Meta morfillah

No comments:

Post a Comment

Text Widget

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik