Pages

03 June, 2015

Kokohnya keluarga dengan Al Qur'an [part Ust. Deden]

Kokohnya keluarga dengan Al Qur'an

Hari, tanggal: Selasa, 2 Juni 2015
Tempat: Masjid Istiqlal
Pembicara: Ustad Deden

Menghafal Al Qur'an bukan untuk diburu-buru atau ditunda-tunda, tapi untuk dinikmati. Seperti makan, nikmatnya ada pada saat makan, bukan akhir. Bila kenikmatan makan ada saat akhir, maka makan pakai lauk ayam atau nasi pakai garam saja akan sama nikmatnya, asal cepat. Begitu pun dengan menghafal al qur'an.

Mengapa orang tidak hafal qur'an? Jawabannya hanya satu. Karena ia tidak menghafal. Pun sebaliknya, orang hafal qur'an, ya karena ia menghafalnya. Jangan bangga kalau kita banyak menghafal lirik lagu, tapi tidak hafal qur'an.

Nikmat menghafal qur'an bukan dilihat dari jumlah ayat atau juz, melainkan jumlah waktunya. Jadi pertanyaannya bukan sudah berapa ayat atau juz yang dihafal? Melainkan, berapa lama/berapa jam menghafal dan berinteraksi dengan qur'an? Minimal sediakan waktu 1 jam untuk membaca atau menghafal Qur'an. Sebab, bukan kemampuan kita yang menjadikan kita penghafal Al Qur'an, melainkan Allah lah yang mengizinkan hal itu.

Jangan berdalih sibuk sehingga tidak ada waktu. Orang sibuk itu hanya ada 3 dalam Al Qur'an:
1. Orang sakit.
2. Pebisnis yang memikirkan banyak orang, selain diri sendiri dan keluarganya.
3. Orang yang sedang berperang di jalan Allah.

Bila kita bukan termasuk ketiga golongan tersebut, seharusnya kita bisa meluangkan waktu untuk Al Qur'an.

Meta morfillah
Catatan pribadi dengan redaksi penulis

No comments:

Post a Comment

Text Widget