Pages

17 September, 2015

[Review buku] Kubah

Judul: Kubah
Penulis: Ahmad Tohari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Dimensi: 216 hlm, 20 cm, cetakan keempat september 2012
ISBN: 978 979 22 8774 5

Karman gamang. Sejujurnya ia merasa takut menghadapi kebebasannya setelah terpenjara begitu lama--12 tahun--di Pulau Buru yang terpisah ribuan kilometer dari kampung halamannya. Ia merasa begitu kecil, hina, dan rapuh karena beban dosa politik yang ia lakukan. Dua belas tahun di penjara, membuat Karman sadar bahwa dirinya telah begitu salah dan menyakiti hati orang-orang yang disayangi dan menyayanginya. Dalam kurun waktu itu pula, Karman telah kehilangan keluarganya. Istrinya telah menikah dengan lelaki lain, anak bungsunya meninggal, dan anak yang masih hidup tak mengenal dirinya. Kekosongan melanda jiwa Karman.

Di tengah pikiran buruk bahwa masyarakat desa Pegaten tidak akan menerimanya, terbit secercah harap saat Pak Haji Bakir--orang terpandang di desanya yang pernah dikhianatinya karena dia sendiri berpaling dari Tuhan--memercayakan padanya untuk membangun kubah masjid di desa itu. Totalitas dalam mengerjakan kubah masjid itu membuat Karman menemukan kembali dirinya dan martabat hidupnya. Perlahan, ia bersyukur bahwa masyarakat desanya begitu ramah dan pemaaf.

Novel ini, dikatakan terbit kali pertama tahun 1981 dan merupakan novel terbaik menurut Yayasan Buku Utama Kementerian P&K di masa itu sebab menjelaskan tentang tragedi pasca peristiwa 1965 yang ditulis paling awal dan berani untuk diterbitkan. Bagi sebagian masyarakat Indonesia ada luka yang mendalam bahkan hingga saat ini terkait peristiwa 1965 yang melibatkan partai komunis terbesar di indonesia saat itu.

Rangkaian hidup Karman yang dimulai dari masa kini lalu mundur ke masa lalu, berakhir lagi ke masa kini, ditambah cerita tentang konflik yang dialami istri dan anaknya cukup apik menegaskan konflik batin yang dialami tiap tokoh. Rasa bersalah serta kebodohan yang lahir dari keluguan yang dimanfaatkan pihak-pihak licik mungkin menggambarkan banyak perasaan masyarakat Indonesia di kurun masa itu. Pengkaderan partai yang memanfaatkan kelemahan rakyat jelata serta isu spionase, menyelusup ke dalam partai lain dan bermuka dua adalah gambaran politik indonesia di masa itu--atau hingga kini?

Judulnya sendiri, baru berkait di akhir cerita. Saat kubah masjid disimbolkan sebagai tobat dan penerimaan diri pendosa. Novel ini dengan gaya bahasa yang ringan, menyampaikan sesuatu yang sebenarnya cukup berat karena merupakan bagian dari kelamnya sejarah negeri ini. Namun kepiawaian penulisnya memang terbukti. Hanya saja, saya merasa klimaks endingnya masih kurang. Bagaimana kisah lanjut antara Marni dan Karman? Lalu, sosok Rudio yang tak dijelaskan lebih dalam mengenai perasaannya dan keputusannya memilih tinggal terpisah dari sang ibu. Terasa terlalu cepat selesai dan berakhir begitu mudah... tak seperti bayangan ketakutan Karman saat bebas.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

"Sebelum datang kematian, setiap orang akan mengalami satu di antara tiga cobaan; sulit mendapat rezeki, kesehatan yang buruk, dan hilangnya orang-orang terdekat. Yang kini sedang terjadi padamu, saya kira, adalah gabungan ketiga cobaan hidup itu. Luar biasa memang. Namun apabila kamu percaya dan berserah diri pada Tuhan, maka jalan keluar selalu tersedia. Jadi, hanya kepercayaan terhadap kebesaran dan kasih sayang Tuhanlah yang bisa membuat kamu tenang, tak merasa sia-sia." (Hlm. 27)

"Kelas penindas menggunakan agama sebagai candu untuk meninabobokan orang-orang tertindas agar terlena dan tidak menuntut hak-hak sosial mereka." (Hlm. 178)

Meta morfillah

No comments:

Post a Comment

Text Widget

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik