Pages

13 September, 2015

[Review buku] Jadilah istriku

Judul: Jadilah istriku
Penulis: Asma Nadia & BiruLaut
Penerbit: Lingkar Pena
Dimensi: 200 hlm, 18 cm, agustus 2005
ISBN: 979 3651 61 X

Duet Asma Nadia dan Birulaut yang menyajikan sepuluh cerpen tentang pernikahan ini benar-benar menggugah. Ringan dan begitu mengalir mengangkat permasalahan umum yang dihadapi dalam pernikahan. Membacanya tak membosankan meski isunya mudah ditebak.

Cerita pertama berjudul "Diet" berkisah tentang seorang istri yang mati-matian diet demi suami, namun sang suami dirasanya tidak peka. Cerita kedua berjudul "Jadilah istriku" berkisah tentang seorang istri yang bertahan setia meski suaminya menebar cinta pada wanita lain, twistnya saya suka di cerpen ini. Cerita ketiga berjudul "Krisdayanti" berkisah tentang permintaan aneh seorang istri yang ngidam anak pertama. Cerita keempat berjudul "Sepi" berkisah tentang penantian istri akan kehadiran seorang anak setelah 15 tahun pernikahan. Cerita kelima berjudul "Istri" berkisah tentang ragam kriteria istri di mata empat lelaki bujang.

Cerita keenam berjudul "Dia!" berkisah tentang kecemburuan seorang istri pada seorang janda muda yang aktif dalam kegiatan sosial. Cerita ketujuh berjudul "Kesempatan" berkisah tentang keikhlasan sepasang orangtua muda yang mengeja ikhlas saat menerima kondisi anak pertama mereka yang mengalami kelainan. Cerita kedelapan berjudul "Satu kecupan" berkisah tentang prasangka istri terhadap suaminya yang ganteng dan membuatnya resah. Cerita kesembilan berjudul "Kangen!" berkisah tentang perubahan seorang istri yang lupa akan keluarga sebab terlalu asyik meniti karier. Cerita terakhir merupakan kelanjutan kisah Bandi dan Nia dalam kumpulan cerpen sebelumnya 'Aku ingin menjadi istrimu', berjudul "Sebab cinta belum selesai" yang mengisahkan penantian Nia pada Bandi selama 6 tahun, padahal Bandi tak pernah menjanjikan apa pun.

Menurut saya kumpulan cerpen ini cukup komplit memotret beragam kisah dan konflik dalam rumah tangga. Menarik dibaca oleh siapa pun, terutama pria untuk memahami perasaan wanita.

Saya apresiasi 5 dari 5 bintang.

"Tapi, layakkah menghukum seseorang berdasarkan masa lalu?" (Hlm. 20)

"Bahkan seorang perempuan sederhana berhak merasa terluka." (Hlm. 28)

"Aku ingin kau orang terakhir yang kuajak bicara sebelum tidur." (Hlm. 145)

Meta morfillah

No comments:

Post a Comment

Text Widget

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik