Pages

14 September, 2015

Takut mati

Mati.

Setiap mendengar atau membaca kata itu, aku diliputi ketakutan.
Bukan takut membayangkan bahwa nanti aku akan bersemayam sendirian dalam tanah yang gelap dan sempit, yang menimbulkan klaustrophobia.
Bukan.
Justru aku amat menyukai kegelapan.
Tidak percaya?
Coba saja kaucek ponselku, laptopku, semua kusetting brightnessnya menjadi 0.
Hingga seringkali teman-temanku berkomentar saat meminjam pakai keduanya, bahwa settingannya terlalu gelap.
Aku sangat menyukai gelap.
Terlebih saat migrain melanda kepalaku, yang menyebabkan aku menjadi fotophobia.
Sedikit saja cahaya, mampu menusuk mata dan membuat kepalaku berdenyut hebat.
Sebaliknya, saat gelap pekat hingga tanganku tak terlihat, aku malah riang.

Mati.

Setiap mendengar atau membaca kata itu, aku diliputi ketakutan.
Perlahan aku menyadari hal yang paling membuatku ketakutan.
Saat aku tahu bahwa segala lakuku semasa hidup ternyata tak bernilai apa pun.
Kebaikan yang kulakukan ternyata tak tulus saat ditimbang amalnya.
Mungkin terselip riya', tak ikhlas, dan rasa lainnya.
Jerih payahku bahkan tak mengundang tangis orang yang kusayangi, yang kuharapkan akan merasa kehilangan saat sosokku telah tiada.
Yang jauh lebih kutakutkan adalah bahwa aku akan kehilangan rasa kehilangan.
Lupa akan rasa lupa.
Mungkin aku tak akan lagi merasa kehilangan akan dunia ini.
Aku akan lupa tentang kalian, tentang mimpi yang belum tercapai, bahkan tentang kebersamaan dan kenangan indah hidipku.
Aku mungkin akan terlalu sibuk merutuki diriku sendiri.
Sebab hanya dua pilihan.
Nikmat atau azab.
Surga atau neraka.

Mati.

Setiap mendengar atau membaca kata itu, aku diliputi ketakutan.
Sering kubayangkan, bagaimana perasaan mereka yang tengah menderita penyakit serius, yang telah divonis dokter bahwa hidupnya tak akan lama lagi.
Apakah mereka juga ketakutan sepertiku?
Sering aku bertanya-tanya, bagaimana rasanya memasuki usia 40 tahun lalu mulai menua perlahan, menjadi orang tua, sadar bahwa helai napasnya mulai menipis.
Apakah mereka juga memiliki ketakutan sepertiku?
Seraya aku sibuk dengan semua itu...
Aku merayap perlahan mendekati ketiadaan.

Mati.

Setiap mendengar atau membaca kata itu, aku diliputi ketakutan.

Meta morfillah

No comments:

Post a Comment

Text Widget

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik