Pages

07 October, 2015

[Review buku] Panggilan rasul

Judul: Panggilan rasul
Penulis: Hamsad rangkuti
Penerbit: KPG
Dimensi: v + 163 hlm, 11.5 x 19 cm, cetakan pertama september 2010
ISBN: 978 979 91 0272 0

Nama hamsad rangkuti sering disebut semacam idiom kelekatan sapardi dengan hujannya. Tapi, saya lupa... apa yang begitu lekat bila nama hamsad rangkuti disebut. Mungkinkah lebaran, takbir, atau puasa? Sebab itulah yang saya dapatkan hampir di semua buku ini. Buku ini sendiri adalah karyanya yang pertama kali saya baca. Saya tertarik dengan buku ini karena nama penulis dan judulnya yang unik.

Panggilan rasul ini sendiri rupanya adalah salah satu judul cerpen dalam kumpulan cerpen yang berjumlah 14 buah dalam buku ini. Nuansa yang saya dapatkan dalam buku ini adalah tema-tema islami, mengenai lebaran, malam lailatul qadar, dan takbiran. Gaya bahasa penulis menurut saya begitu lugas, tegas, sopan dan jelas akan detail deskripsi. Sangat realistis dan gamblang, namun tetap ada beberapa yang sedikit saya tak mengerti pesan yang ingin disampaikan dari cerpennya.

Cerpen "Salam lebaran" bercerita tentang seorang lelaki yang menguji kesetiaan kekasihnya. Saya merasa biasa saja dan tak terlalu terpukau akan keromantisan yang coba dibangun oleh penulis. Malah terasa agak aneh, dan saya malah membayangkan sherlock holmes yang menyamar dengan kaku.

"Ayahku seorang guru mengaji" adalah salah satu cerpen yang saya suka dalam buku ini. Beberapa kalimat cukup menyindir dengan gamblang, namun tetap terasa apa adanya dalam cerita seorang ayah yang mempertahankan keimanannya di tengah gemerlap dunia.

Cerpen "Lailatul qadar" semacam sebuah perumpamaan, namun tetap saja diceritakan dengan bahasa keseharian yang apa adanya.

Dalam "Santan durian", yang menceritakan kebangkitan kenangan seorang yang sudah 32 tahun tak merayakan lebaran di kampungnya, saya merasa agak bingung dengan endingnya.

"Malam takbir" mengandung twist yang cukup mengharukan bagi saya. Menebalkan keyakinan saya bahwa doa istri sangat memengaruhi rezeki yang dihasilkan suami. Namun ternyata, ada twist ending yang lebih menakjubkan! Sebab ada sekuel untuk cerpen ini yang diletakkan sebagai cerpen penutup dalam buku ini, berjudul "Reuni".

Mengenai cerpen utama yang menjadi judul buku ini, yakni "Panggilan rasul", menarik sekali di awal dan pertengahan. Namun untuk endingnya semacam antiklimaks.

"4 buku 40 hari" juga merupakan salah satu cerpen yang saya suka dalam buku ini. Sebab sampai di ending, saya masih tak memahami maksudnya. Setelah saya tahu di endingnya, saya sampai bengong... bisa saja penulis menemukan ide cerita dari buku yasin!

"Pedagang kacang dari berenun" berkisah tentang orang jujur. "Antena" berkisah tentang penjaga masjid yang bercerita pengalamannya naik haji. Tapi, endingnya malah menimbulkan prasangka bagi saya, apakah itu nyata atau kiasan? Entahlah. Tapi ada paragraf yang cukup menohok dalam cerpen ini. Berikut saya kutipkan:

"Orang itu mengaku seorang pengarang yang selama hidupnya telah menciptakan kebohongan-kebohongan. Imajinasi adalah kebohongan untuk diri sendiri. Begitu imajinasi dituturkan atau dituliskan dan didengar atau dibaca orang lain, kita telah menciptakan kebohongan-kebohongan kepada orang lain. Cerita pendek, novel, puisi, dan karangan fiksi lainnya adalah kebohongan. Kebohongan yang nikmat. Tetapi mereka tidak mau akui kebohongan merela dan dengan cerdiknya mereka berlindung di balik kata imajinasi." (Hlm. 103)

"Malam seribu bulan" mengisahlan tukang obat yang berhasil mendapatkan lailatul qadar. Endingnya terasa menyindir tajam bagi saya. Bahwa orang akan mudah mengganti keyakinan bila ada bukti fisik.

"Karjan dan kambingnya" cukup mengenaskan, mengisahkan tentang orang miskin yang dianggap tak akan pernah lepas dari kemiskinan.

"Si lugu dan si malin kundang" adalah cerpen yang membuat saya ngakak saat membaca endingnya. Padahal biasa saja awal sampai pertengahan. Bahkan mudah tertebak seperti legendanya.

"Hujan dan gema takbir" mengisahkan kejadian lamaran di tiap mudik yang terkait dengan nasib seorang pembantu. Hingga detik ini, saya penasaran... apakah maksudnya dan benarkah kejadian persis terulang di tiap tahun.

Secara keseluruhan, saya menyukai cerita-cerita pendek dalam buku ini. Hampir semuanya menceritakan tentang orang kecil, miskin, dan sederhana.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

Meta morfillah

No comments:

Post a Comment

Text Widget

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik