Pages

13 October, 2015

[Tastqif] Hijrah

HIJRAH

Minggu, 11 oktober 2015
Ust. Usman Efendi

14 abad lalu, rasul mengingatkan kiamat sudah dekat (kemudian rasul menunjukkan telunjuk dan jari tengahnya, menekankan betapa dekatnya). Lalu bagaimana dengan kita saat ini? Bukankah berarti kiamat sudah amat kian dekat?

Beberapa tanda akhir zaman diberitahukan oleh rasul, di antaranya terjadi peperangan di Syam, menyebarnya kabut/asap, menyalanya api dari Timur (Yaman tetangga Arab Saudi diserang oleh Iran yang dari Timur). Baik dalam makna qiyas maupun zahir, semua hal tersebut sudah dapat kita lihat kejadiannya. Maka kini saatnya kita bermuhasabah, apakah akhir tahun hijriah ini sudah kita gunakan dengan baik usia kita? Digunakan untuk maksiat ataukah untuk beribadah? Bila untuk beribadah, semoga ibadah kita diterima... Aamiin.

Jangan sampai kita cuma mengaku beriman, tapi tidak ada bukti. Sebagaimana yang diterangkan Allah dalam Q. S. 2 [Al baqarah]: 8,

"Dan di antara manusia ada yang berkata, 'Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,' padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman."

Lantas, bagaimana cara membuktikan keimanan yang benar? Lihat Q. S. 8 [Al Anfal]: 74,

"Dan orang-orang yang beriman dan BERHIJRAH serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada kaum Muhajirin), mereka itulah orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia.

Hijrah secara harfiah/makkaniyah/kata berarti pindah tempat. Hal ini terjadi hanya sekali saat Rasul hijrah dari mekkah ke madinah. Rasul bersabda, "Tidak ada lagi hijrah setelah fathul (kemenangan) Mekkah." Sehingga hijrah secara makkaniyah sudah tidak ada, tetapi perintah untuk terus berhijrah dalam Al Quran menandakan bahwa kita harus terus berhijrah secara maknawiyah.

Hijrah secara ruhiyah/maknawiyah/mendalam sekurangnya memiliki 3 dasar bentuk, yakni:

1. Meninggalkan segala bentuk kemusyrikan, pada tauhid.
Ini tentang aspek aqidah. Meluruskan kembali niat, untuk DIA (Allah), bukan dia (gebetan, manusia lain).

Perkara niat, berhati-hatilah... sebab orang yang rajin salat pun bisa celaka, karena niatnya yang riya'. Sebagaimana dijelaskan dalam Q. S. 107 [Al Maaun]: 4-7,

"Maka celakalah orang yang salat. Yaitu orang yang lalai terhadap salatnya. Yang berbuat riya'. Dan enggan memberikan bantuan."

2. Meninggalkan kekufuran pada keimanan
Ini adalah aspek syariah/amaliah/secara bentuk fisik terlihat.

Contohnya meninggalkan salat, seperti dalam hadis, "Barangsiapa meninggalkan salat dengan sengaja, maka sungguh dia telah kafir secara nyata."

Juga penjelasan dalam Q. S. 74 [Al mudassir]: 5

"Dan tinggalkanlah segala perbuatan yang keji."

Cobalah manfaatkan sesuatu dengan bijak. Adanya teknologi dijadikan untuk sarana taqarrub ilallah (mendekatkan diri pada Allah), bukan malah melalaikan.

3. Meninggalkan segala yang haram pada yang halal
Ini adalah aspek syariah hingga akhlak.

Pilihlah kawan pergaulan yang baik (teman adalah cermin), atau perbaiki lingkungan kawan pergaulan (teman adalah lilin). Sebab hadis menegaskan, "Seseorang itu sangat dipengaruhi agama kawannya (perilaku), maka pilihlah kawan yang baik."

*catatan sepemahaman penulis

Meta morfillah

No comments:

Post a Comment

Text Widget

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik