Pages

31 October, 2015

[Review buku] If I stay

Judul: If I stay
Penulis: Gayle Forman
Penerbit: Gramedia pustaka utama
Dimensi: ebook, 107 hlm, no ISBN

Sebenarnya saya lebih dulu melihat buku ini dan sekuelnya--where she went--yang didisplay berdampingan di Gramedia Grand Indonesia bertahun lalu. Namun saat itu saya sedang tak bersemangat membaca karena deadline pekerjaan yang menumpuk. Kemarin, saat iseng browsing, saya menemukan ebook pdfnya. Karena teringat display dan judulnya yang menyiratkan kesedihan dan kisah romantis, maka saya donwloadlah... lumayan pas untuk suasana hari sabtu yang haru biru ditemani radio yang menyuarakan lagu cinta seharian.

Buku pertama ini menceritakan tentang Mia, dari sudut pandang Mia. Dimulai dengan suatu pagi yang diharapkan menjadi sebuah family time, Mia harus kehilangan keluarganya sekejap. Kecelakaan mobil merenggut nyawa Dad, Mom, dan Teddy--adik yang kadang seperti anaknya sendiri, karena ia mengasuhnya dari bayi. Ia satu-satunya yang berhasil diselamatkan. Antara hidup dan mati, Mia menyaksikan ceceran otak Dadnya, wajah membiru Momnya, dan juga dirinya. Bagaimana ia diangkut dari Oregon ke rumah sakit di Portland. Dioperasi, dipasangi beragam selang, dan akhirnya dipindahkan ke ICU. Ia masih sama seperti sebelum koma, namun ia tidak dapat merasakan perasaan manusia, seperti sakit, sedih lalu menangis, dan lainnya. Tapi keadaan rohnya tidaklah seperti film yang pernah ia tonton. Ia tidak dapat menembus dinding, semuanya masih dapat ia sentuh dan tenaganya pun berkait dengan kondisi tubuhnya, hanya saja tidak ada yang menyadari dan melihat apa yang dia lakukan.

Alur berjalan mundur, banyak flashback yang menegaskan mengapa Mia merasa begitu berat untuk hidup kembali. Momen-momen Mia bersama Mom dan Dadnya yang begitu menyayangi, meskipun mia berbeda, sebab ia bermain cello dan musik klasik, bukan punk rock seperti orangtuanya. Juga Teddy, adik yang sangat dicintainya dan mencintainya pula. Keluarga yang begitu harmonis dan kini telah meninggalkannya sebatang kara. Harapan satu-satunya adalah Adam, pacarnya--pemain band yang tengah bersinar dan telah menyatu dengan keluarganya. Lelaki yang mengerti dirinya dan telah memilihnya untuk dicintai. Sanggupkah Adam memaksa Mia untuk berjuang dan tetap tinggal di dunia ini, menghadapi kenyataan pahitnya? Optimis menghadapi hidup dan meraih masa depannya di Juilliard, meskipun harus mengorbankan hubungan mereka?

Membacanya membuat saya teringat film Lovely Bones di mana tokoh utamanya pun telah menjadi roh. Bedanya, di film itu ia telah meninggal dan melihat apa saja yang dihadapi keluarganya sebelum ia melangkah ke tahap selanjutnya. Sedangkan dalam kasus mia, tubuhnya masih hidup dalam keadaan koma. Ia pun tidak berada jauh dari tubuhnya, hingga dapat menyaksikan apa saja yang dilakukan orang yang menjenguknya. Dan itu terjadi hanya dalam 24 jam. Konsep antara hidup dan mati yang cukup unik, seperti Mitch albom yang mematahkan konsep surga di novelnya The Five people you meet in heaven.

Yang membuat novel terjemahan ini menarik adalah pilihan katanya yang terasa jujur, lugas, namun puitis. Ini juga mengingatkan saya pada cara bercerita Ilana Tan. Begitu khas. Kehangatan keluarga, rasa cinta yang sopan, begitu terasa dan membuat mata saya basah.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

"Maka aku berpikir betapa itu khas Mom, bahwa Mom terhantam lebih dulu, bahwa dialah yang menahan kami dari benturan." (Hlm. 9)

"Kau tidak perlu mengatasinya. Kau hanya perlu melaluinya. Kau bertahan." (Hlm. 12)

"Jangan takut. Wanita bisa menanggung rasa sakit yang paling buruk. Kau akan mengetahuinya suatu hari nanti." (Hlm. 64)

"Tidak apa-apa kalau kau mau pergi. Semua orang ingin kau tinggal. Aku ingin kau tinggal melebihi apa pun yang kuinginkan di dunia ini. Tapi itu kemauanku. Dan aku bisa mengerti jika itu bukan kemauanmu. Maka aku ingin memberitahumu bahwa aku bisa mengerti jika kau ingin pergi. Tidak apa-apa kalau kau harus meninggalkan kami. Tidak apa-apa jika kau  ingin berhenti berjuang." (Hlm. 80)

"Aku sanggup kehilangan kau seperti itu, asalkan aku tidak perlu kehilangan dirimu hari ini. Aku akan melepaskanmu. Jika kau tetap hidup." (Hlm. 105)

Meta morfillah

No comments:

Post a Comment

Text Widget

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik