Pages

15 June, 2017

#Day22 Terpaksa-dipaksa-biasa-budaya

#Day22 TERPAKSA-DIPAKSA-BIASA-BUDAYA

Semua keberhasilan adalah hasil pembiasaan. Pun kebaikan. Tidak langsung sehari jadi sukses atau baik. Melainkan semua pasti ada proses, ada pergolakan batin dari terpaksa-dipaksa-biasa-budaya.

Seperti membudayakan anak mencintai masjid adalah dengan mengajaknya sering ke masjid. Membuat mereka merasa dekat dengan aktivitas masjid. Meski awalnya mereka terpaksa, lalu seiring usia mereka dipaksa oleh orangtua, sekolah, dan pengajian. Lama-lama mereka akan terbiasa. Mereka akan biasa mendengar orang mengaji dan mengkaji.

Terbiasa mendengar adzan dan bersegera mendirikan shalat berjamaah. Hingga kelak saat mereka berada di entah berantah, mereka akan otomatis mencintai itu semua. Mereka rindu dan menjadikan semua hal itu budaya yang mengaitkannya ke masa indah saat terpaksa dan dipaksa dahulu.

Maka, saya sering iri pada keluarga yang kompak mengajak anaknya ikut terlibat shalat berjamaah di masjid, ikut kajian, dan i'tikaf. Meski mungkin belum optimal dan maksimal, itu adalah upaya menautkan hati keluarga pada masjid.

Juga saya apresiasi masjid-masjid yang menerima keriuhan anak-anak dengan lapang dada, meluruskan bila ada kekeliruan dengan cara yang baik.

Saya pun kurang setuju pada statement yang sering ditujukan pada newbie i'tikaf, "I'tikaf di masjid kerjanya cuma tidur, baca qurannya dikit, mending di rumah aja. Itu mah cuma beda tempat tidur doang."

Awalnya mungkin hanya tidur, tapi tiap tahun insya allah ada perubahan. Mereka hanya butuh waktu untuk membiasakan diri dengan aktivitas masjid. Mereka akan malu sendiri dan akhirnya menemukan tempat serta waktu terbaik mereka. Jangan dipatahkan. Terus motivasi bahwa mereka bisa lebih baik.

Meta morfillah

No comments:

Post a Comment

Text Widget

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik