Pages

13 May, 2017

Gue-elo NO! Aku-kamu YES!

GUE-ELO NO! AKU-KAMU YES!

"Bu, gara-gara Ibu sekarang aku ngomongnya jarang 'gue-elo'. Soalnya keingetan muluk di kelas Ibu suka negur 'Hei, bicaranya yang baik!"

"Iya, Bu. Jadi aneh sekarang kalau kasar bicaranya. Ngomongnya pakai 'aku, saya, atau nama sendiri"

"Hehe, bagus dong! Berarti kalian sudah mengamalkan hadits. Ibu juga dulu kayak kalian pas baru pindah. Susah dan lama mengganti kebiasaan bicara pakai 'gue-elo'. Tapi selalu diingatkan sama murid Ibu yang kelas 2 SD."

"Hadits yang mana, Bu?"

"Innallaha yubghidul fahisyal badzia. Sesungguhnya Allah membenci orang yang keji dan kotor kata-katanya."

Dua anak lelaki Feeling ekstrovert itu mengangguk-angguk setuju.

Yaa, semenjak hijrah ke Bogor banyak hal kecil yang kupelajari namun berarti besar buatku. Salah satunya mengurangi berkata kasar, dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Menerapkan ini (tidak pakai gue-elo) mudah kalau di Bogor dan di media sosial. Tantangannya adalah ketika aku sedang berkumpul dengan teman dan keluarga di Jakarta.

Berkali istighfar dan menahan sabar mendengar pembicaraan dan membaca japrian mereka yang pakai gue-elo itu. Sebab terbiasa, hal itu menjadi kasar bagiku. Kalau sudah tak tahan biasanya aku bilang sambil senyum "Bisa gak, ngomongnya gak gue-elo, tapi aku-kamu?"

Lalu mereka biasanya heran, seakan aku minta dinikahi. Haha... soalnya bicara pakai aku-kamu itu terkesan romantis dan untuk hubungan yang lebih dalam. Tapi itulah dakwah dan ukhuwah. Tinggal sikap kita, ingin mewarnai atau terwarnai dengan kebaikan? Sejauh ini, alhamdulillah teman dan keluarga jadi tahu kalau bicara sama aku ya pakai 'aku, kamu, saya, atau nama panggilan'.

Yuk, pelan-pelan kembalikan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Jadinya romantis loh, kayak film jadul "Tenggelamnya kapal van der wijck" dll. Hehe

Meta morfillah

No comments:

Post a Comment

Text Widget

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik