Pages

21 January, 2017

[Review buku] Inkheart

Judul: Tintenherz / Inkheart
Penulis: Cornelia Funke
Penerbit: Gramedia
Dimensi: 536 hlm, 23 cm, januari 2009
ISBN: 978 979 22 4271 3

Mo, ayah Meggie memiliki kemampuan ajaib: ia bisa mengeluarkan tokoh-tokoh dari buku yang dibacanya. Sayangnya, kehadiran mereka harus ditukar oleh manusia di dunia nyata. Saat Meggie berusia 3 tahun, ayahnya membacakan Inkheart dan keluarlah Carpricorn, Basta, dan Staubfinger. Saat itu pula ibu Meggie hilang ke dalam buku.

Carpricorn dan Basta:dua tokoh jahat dalam cerita itu, menyenangi dunia ini. Mereka mengejar Mo untuk memanggil satu makhluk jahat lagi, Sang bayangan. Sembilan tahun kemudian, setelah berlari menghindari Carpricorn, Mo tertangkap. Tanpa disadari, ternyata Meggie pun memiliki bakat yang sama dengan ayahnya. Saat ia membaca buku Peter Pan, keluarlah Tinker bell. Situasi kian rumit!

Bagaimanakah akhirnya?

Buku ini adalah buku pertama dari trilogi Inkworld. Pernah difilmkan dengan judul "Inkheart" dibintangi Brendan Faser. Sayangnya tidak ada kelanjutan sekuel filmnya hingga detik ini. Entah mengapa.

Saya suka ide cerita fantasinya yang melibatkan kecintaan pada buku. Kemampuan Mo adalah imajinasi saya saat kecil. Ingin menghidupkan beragam tokoh bacaan saya dan bertualang bersamanya. Juga gambaran keluarga harmonis dan cinta yang ditunjukkan Mo pada Meggie begitu menyentuh. Namun karena ini novel terjemahan karya penulis Jerman, beberapa detail kurang saya mengerti.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

"Betapa hal-hal tidak penting justru melekat kuat di ingatan kita." (H.11)

"Tidak ada tempat yang bisa mengikat ingatan sebaik halaman-halaman yanh dicetak." (H.23)

"Kau sendiri yang selalu bilang, buku pasti berat karena seluruh dunia ada di dalamnya." (H.27)

"Menulis cerita juga semacam keajaiban." (H.534)

Meta morfillah

No comments:

Post a Comment

Text Widget

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik