Pages

06 November, 2016

Wanita itu

Mungkin setiap yang melihat gambaran seperti ini akan bergumam, "Kasihan sekali wanita itu, sendirian. Alangkah baiknya jika ada pasangan."

Atau berprasangka begini, "Pasti wanita itu sedih belum memiliki pasangan yang bahunya bisa menjadi sandaran, lengannya bisa menghangatkan."

Terlebih bila mengetahui usia wanita tersebut sudah lewat seperempat abad. Semakin banyak gumaman, prasangka dan ucapan 'duka cita' menghampiri. Seringkali hal tersebut berasal dari orang terdekat. Yang amat sangat menyayanginya. Hingga beragam cara dilakukan agar wanita itu tak lagi nampak sendiri.

Perkenalan-perkenalan, promosi-promosi, pengajuan-pengajuan, hingga yang begitu vulgar adalah perjodohan-perjodohan. Berulang kali. Wanita itu hanya menampiknya dengan tawa dan gurauan. Seakan tak pernah serius dengan hidupnya. Hal itu membuat yang menyayanginya semakin mengkhawatirkannya. Maka hal di atas pun diulangi lebih intens dan gencar. Reaksi wanita itu tetap sama. Tertawa dan abai. Meski demi kesopanan, ia tetap hadir saat dikenalkan, dipertemukan, bahkan dijodohkan. Bukan karena ia tak berdaya menolak, tapi ia tahu semua itu upaya orang yang mencintainya dan ia juga cintai. Ridha seseorang yang menentukan surganya sekarang.

Sejauh ini, tak masalah. Hanya saja... pernahkah orang lain yang melihat gambaran wanita sendiri itu berusaha memastikan langsung pada wanita itu apakah ia kesepian, tak baik-baik saja? Padahal mungkin, ia mencintai ketenangan. Wajahnya mungkin begitu berbahagia meski sendiri. Bukan berarti ia menampik kehadiran orang lain di sampingnya untuk menyempurnakan gambaran. Tapi ia menyukai hal yang tenang, tak tergesa tapi pasti. Menggunakan waktunya sebaik mungkin hingga seseorang yang berani melangkah menghampirinya dengan niat yang kuat, bukan karena dorongan orang lain sekadar memuaskan prasangka majemuk.

Apakah pernah ada yang memastikan apa sebenarnya yang sungguh-sungguh dipikirkan wanita itu? Apakah melulu perkara pendamping? Bagaimana kalau ternyata ada skenario di kepalanya yang tak pernah bisa kalian mengerti? Sebab hidupnya tak sama dengan hidup kalian. Dan cukuplah kalian tak usah membebaninya dengan ratapan kalian yang sesungguhnya tak ia butuhkan.

Bagaimana?

Meta morfillah

No comments:

Post a Comment

Text Widget

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik