Pages

15 November, 2016

Memahami terlebih dahulu, baru dipahami

MEMAHAMI TERLEBIH DAHULU, BARU DIPAHAMI

Dulu saya pernah part time di kantor konsultan. Tugas saya membuat studi kasus berdasarkan prinsip 7 habit steven covey untuk jabatan kunci (saya lupa branch manager atau leader, yang pasti sudah pimpinan) di sebuah perusahaan leasing luar. Saya ingat, ada satu kasus tentang prioritas (genting dan penting) dengan prinsip yang dipilih.

Kasusnya kurang lebih seperti ini "Anda memiliki janji meeting dengan para pimpinan untuk proyek, hanya Anda yang paham tentang presentasi itu. Di saat yang sama, Anda menerima kabar bahwa ibu Anda di kampung, satu-satunya orangtua yang masih hidup masuk ICU. Dokter bilang kondisinya kritis dan kemungkinan hidup menipis. Sebagai profesional, apa yang akan Anda lakukan?"

Dulu, saya pikir jawaban pertanyaan itu begitu mudah. Ya jawab saja akan tetap meeting, lalu setelah meeting segera izin ke RS. Sesuai teori penting dan genting, juga kemaslahatan orang banyak, sebab dengan suksesnya proyek maka banyak orang yang akan bahagia. Ibu dan keluarga pun pasti mengerti kesibukan kita.

Tapi... setelah saya mengalami sendiri bagaimana rasanya ketakutan kehilangan orang yang dicintai, rasanya agak berat untuk profesional seperti itu. Pikiran akan bercabang. Terutama bila hubungan emosional kita dengan ibu begitu dekat. Bukan tak mungkin keputusan resign pun disebabkan hubungan emosional tersebut. Sayangnya, banyak orang yang mudah menjudge profesional harus seperti robot, taat aturan tanpa memikirkan perasaan/hubungan. Itulah salah satu sebab tingginya turn over di perusahaan. Kasarnya, kerjaan mah bisa dicari lagi, orangtua tidak.

Maka sejak itu, saya mencoba mengaplikasikan habit 5 "Seek first to understand, then to be understood."

Mencoba memahami beragam situasi rekan kerja atau orang yang bersinggungan amanah dengan saya, untuk kemudian mereka mengerti juga keadaan saya. Masalah jika mereka memanfaatkan saya, saya sih asyik saja, wallahu 'alam, saya serahkan pada Sang pembolak-balik hati dan pelurus niat sejati. Saya ingin menebar banyaknya memahami orang lain, agar di situasi sulit nanti, saya bisa menuai pengertian orang-orang pada saya. Menabung energi positif dengan menjadi sebaik-baiknya di tiap hari.

So, sudahkah kamu memahami untuk kemudian dipahami?

Meta morfillah

No comments:

Post a Comment

Text Widget

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik