Pages

20 November, 2016

[Review buku] The girl on the train

Judul: The girl on the train
Penulis: Paula hawkins
Penerbit: Noura books
Dimensi: 432 hlm, cetakan IX Mei 2016
ISBN: 978 602 0989 97 6

Sinopsis belakang buku ini yang membuat saya begitu ingin membeli dan memiliki buku ini. Meski sedikit berbeda dengan ekspektasi saya, tapi keseluruhan buku ini cukup memuaskan. Twist penulis cukup mengejutkan, meski saya sudah mulai bisa menebak di dua pertiga bacaan.

Berawal dari Rachel yang tiap hari menaiki kereta komuter ke London, dan setia mengamati sebuah rumah bernomor lima belas saat kereta berhenti di sinyal perlintasan. Sepasang suami istri tampak begitu harmonis dan sempurna. Rachel mengamati mereka sebab mereka adalah penghiburan bagi hidupnya yang tidak sempurna. Hingga suatu pagi ia mendapati hal yang tak biasa dan hal itu membuat persepsinya terhadap pasangan tersebut berubah 180 derajat. Terutama setelah berita menghilangnya perempuan yang ia amati tersebut.

Berkisah dari sudut pandang orang pertama dari tiga tokoh wanita. Rachel, mantan istri alkoholik yang dikhianati, Megan, tetangga nomor 15 dan pernah mengasuh anak Tom, dan Anna, istri kedua Tom penghuni rumah nomor 23. Dengan lihai penulis menceritakan bagaimana potongan-potongan informasi membentuk sebuah puzzle dan mencoba menggiring kita ke praduga yang keliru. Pada ending, kita diberikan sebuah kejutan. Alur maju mundur dengan bahasa detail. Pelajaran utama dari Rachel adalah jauhilah alkohol sebab bisa menghilangkan kewarasanmu, lebih daripada hangover, bahkan menghilangkan ingatanmu, sehingga kau bisa dimanipulasi begitu bodohnya.

Tapi jujur saja, di awal saya merasa agak membosankan. Juga tidak sethriller yang saya bayangkan.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

"Orangtua tidak memedulikan apa pun kecuali anak-anak mereka. Merekalah pusat jagat raya. Hanya merekalah yang benar-benar penting." (H.106)

"Mustahil ada penderitaan yang lebih besar, tidak ada sesuatu pun yang lebih menyakitkan daripada ketidaktahuan, yang tak kunjung berakhir." (H.196)

"Aku sangat menyadari bahwa tidak ada pekerjaan yang lebih penting daripada membesarkan anak. Tapi yang menjadi masalah adalah pekerjaan itu tidak dinilai--finansial." (H.310)

Meta morfillah

No comments:

Post a Comment

Text Widget

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik