Pages

21 March, 2017

Tarik ulur: Reward, konsekuensi

TARIK ULUR: REWARD, KONSEKUENSI

"Ibu, coba diam sebentar."

Teman-temannya langsung melirik anak ikhwan tersebut. Menegur dari tatapan.

"Eh jangan deh, Bu. Ibu jangan diam. Ibu kalau diam kan marah. Ibu mendingan bawel aja. Gak seru kalau Ibu diam."

Aku tersenyum. Aku paham mereka bercanda. Tapi sekarang agak sungkan. Genap seminggu memang aku mendiamkan mereka sebab ada adab yang kelewat batas. Aku gubah peraturan baru berisi konsekuensi dan reward. Kepsek pun ikut andil menyemangati dengan beragam reward atas prestasi dalam kognitif dan afektif.

Aku bilang pada mereka bahwa aku kecewa dengan sikap mereka. Aku ungkapkan dengan suara lirih apa saja harapan guru mereka. Aku puji satu per satu yang berhak dipuji. Lalu kututup dengan pernyataan bahwa aku tak akan seasyik dulu. Aku akan menjaga batasan guru dan murid.

Alhamdulillah... dengan diam itu mereka paham bahwa aku kecewa. Mereka berusaha kembali mengambil hatiku. Menuruti semua aturan yang kubuat. Meski kadang aku harus ingatkan sesekali. Yaa... wajar, psikologi perkembangan mereka sedang dalam masa-masa 'nakalnya'.

Kautahu... menjalani profesi ini semakin membuatku sadar ada banyak PR kita dalam membangun peradaban ini. Betapa kita harus senantiasa memperbaiki diri, menjadi teladan di mana saja, semakin berlapang hati dan bijak bersikap serta bertutur sesuai pemahaman orang yang dihadapi.

Yaa Rabb... berikanlah kesabaran pada para ulama, dai, guru, dan orangtua kami. Mungkin kami pernah menjadi ujian bagi mereka hingga membuat mereka ingin menyerah. Maafkanlah kami dan mereka yaa Rabb...

Luruskan selalu kami dan mereka dalam jalanMu, istiqamahkanlah. Meski kadang kami masih moody dan perlu ditarik ulur dengan reward dan konsekuensiMu: surga atau neraka?

Meta morfillah

No comments:

Post a Comment

Text Widget

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik