Pages

09 October, 2016

[Mentoring] Urgensi kekuasaan (part 2)

📝 Ahad 9 Okt 2016

👑Tasmih: Al-Insyiqaq

👑 Tausiyah : Meta
Mau Sukses berilmu, tapi gak mau capek?!

Yahya bin Abi Katsir rahimahullah berkata,

ولا يستطاع العلم براحة الجسد

“Ilmu tidak akan diperoleh dengan tubuh yang santai (tidak bersungguh-sungguh)”

(Jaami’u bayaanil ‘ilmi wa fadhlihi I/348 no.553, Darul Ibnu Jauzi, cet.I, 1414 H, syamilah)

Kisah seorang khalifah yang ingin anaknya diajari di rumah oleh seorang imam. Khalifah mengirim utusan untuk memanggil imam ke rumahnya. Lalu imam tersebut menjawab, "Ilmu itu didatangi, bukan mendatangi."

Begitulah perjuangan para ulama mendapat ilmu. Dari pengorbanan waktu dan perjuangan jarak, mereka belajar memaknai berharganya sebuah ilmu. Melahirkan sikap/adab positif dan hormat pada pemberi ilmu/guru. Berkat itu semua, ilmu mereka menjadi berkah.

Mungkin itu bedanya dengan generasi saat ini yang begitu mudah mendapatkan ilmu terserak di medsos dan buku, namun kurang menghargai guru. Makanya kurang berkah. Semoga kita tetap istiqomah menuntut ilmu yang berkah dengan liqo, meski hujan deras mematahkan semangat menuju rumah murabbi kita.

👑 Materi: Mba Maya
URGENSI KEKUASAAN (part 2)
Sumber: Ust. Khozin Abu Fiqih

4. Kepemimpinan adalah sebuah keniscayaan
Meskipun kita seorang diri, kita adalah pemimpin. Bahkan dalam sebuah perjalanan yang terdiri dari 3 orang, ada hadits untuk memilih satu orang di antaranya sebagai pemimpin. Apalagi untuk sebuah negara yang banyak penduduknya.

Sebegitu pentingnya memilih pemimpin hingga saat Rasul wafat, penguburannya ditunda sampai diputuskan siapa khalifah pengganti beliau. Padahal mengubur jenazah adalah salah satu hal yang harus disegerakan dan tak boleh ditunda.

5. Aktivis Islam harus merebut kekuasaan
Bila kita tidak peduli pada kekuasaan, maka hal ini akan memicu ghawzul fikri yang besar. Yang salah dibuat benar, yang benar dibuat salah. Di sinilah peran kekuasaan aktivis islam. Meluruskan kebenaran sesuai syariat Allah. Maka kita harus terus menuntut ilmu, menghafal quran sekaligus menadabburinya. Jangan sampai sekadar hafal, tapi tidak tercermin dalam perilaku kita.

Ini pula alasan mengapa Allah menurunkan Rasul-rasulnya di Ummul Qura(ibukota), di mana persaingan kekuasaan dan penentuan kebijakan diputuskan. Rasul harus mendekati pembuat kebijakan dan merebut kekuasaan tersebut untuk menjadi wasilah mencapai tujuan minadzzulumaati ilannuur.

6. Kekuasaan adalah tulang punggung kehidupan
Semua akan mendasar pada kekuasaan, di mana UU, larangan, dan kebijakan akan mengikuti siapa yang berkuasa.

7. Kekuasaan adalah penangkal kerusakan
Sebagai penyeimbang/lawan orang-orang kafir yang ingin menguasai.

Q. S. Al baqarah [2]: 205-206
"Dan apabila dia berpaling (dari engkau), dia berusaha untuk membuat kerusakan di muka bumi..."

Manusia bertabiat sulit menerima nasihat. Jika tidak ada kekuatan berupa kekuasaan untuk menghentikannya, maka akan rusak semuanya. Persis seperti kisah Zulkarnain dalam Q. S. Al kahfi [18]: 94-97 yang mengalahkan Yakjuj dan Makjuj dengan kekuatan dan kekuasaan dari Allah.

Sebab ada banyak rasa dengki pada diri orang kafir sebagaimana digambarkan dalam Q. S. Al baqarah [2]: 109.

Kekuasaan dengan intimidasinya dapat mengendalikan sesuatu yang tidak dapat dikendalikan oleh (nasihat-nasihat dari) Al Quran. Kekuasaan memaksa orang menerima. Sebagaimana peristiwa fathul makkah yang memaksa Abu Jahal dan Hindun istrinya memasuki agama Islam. Hingga akhirnya mereka beriman sebenar-benarnya. Itulah cara Islam membungkam dengan kekuasaan. Menunjukkan bahwa ayat-ayat Allah benar, sesuai Q. S. Al an'am [6]: 33.

🔹🔹🔹🔹🔹

Meta morfillah

No comments:

Post a Comment

Text Widget

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik