Pages

15 January, 2026

Saat merasa terluka, lakukan ini!

SAAT MERASA TERLUKA, LAKUKAN INI!

Meta morfillah

Semakin banyak membaca dan menggali ke dalam diri, saya menemukan sebuah fakta sederhana bahwa setiap manusia pasti punya luka pengasuhan. Meskipun dari keluarga harmonis. Dari diri saya sendiri, ternyata luka saya dimulai ketika bapak meninggal. Memang tidak terasa, tapi pribadi saya berubah keras sejak saat itu. Tanpa diajari, mode fight or flight sering saya aktifkan.

Menarik lagi, kesadaran bahwa "Aku terluka." ditambah sedang menjalani peran sebagai orangtua, aku pun sering melukai orang lain entah disengaja atau tidak. Dari situ, motif orangtua melukai kita pun menjadi beragam. Bisa memang karena tidak sengaja, bisa sebab tidak tahu ilmunya, bisa sebab lelah luar biasa, dan bisa sebab ia pun tengah terluka tanpa ia sadari.

Maka, mencari tahu apa sikap yang harus kita lakukan berdasarkan agama ini adalah utama. Saya temukan bukan blaming yang diajarkan, bukan pula membenarkan. Justru utama dan pertama adalah kita diminta tazkiyatun nafs (membersihkan diri). Kita dekatkan hati kita pada Allah, perbanyak koneksi/ibadah agar sinyal tubuh kita kuat padaNya, lalu banyak bermunajat/doa untuk curhat puas mengeluarkan segala uneg-uneg, setelahnya kita beristighfar memohon ampun. Dari rangkaian tazkiyatun nafs saja, saya melihat banyak disiplin ilmu berkelindan.

Mengapa menyucikan jiwa?
Agar otak kita tidak sakit dipenuhi prasangka. Prasangka itu menghabiskan banyak energi dan mengikis kesehatan kita sehingga bisa menjadi tidak produktif.

Mengapa perkuat koneksi dengan ragam ibadah?
Sebelum muncul istilah penyakit psikologis seperti depresi, dan lainnya, Allah sudah mengingatkan bahwa hanya dengan mengingatNya hati menjadi tenang. Saat mengingatNya, kita jadi memperbaiki urutan prioritas hidup kita. Mana yang harus dipikirkan dalam porsi besar, dan mana yang harus direlakan saja.

Mengapa banyak berdoa dan curhat sama Allah?
Agar kita bisa sejujur-jujurnya mengungkapkan validasi rasa yang kita miliki. Bertanya pada Pencipta dan Pengizin luka yang hadir dalam hidup kita. Sembari memikirkan ragam skenario dan hikmah yang didapat dari sebuah kejadian. Memang proses ini kadang panjang dan melelahkan. Tapi saat diulang-ulang, justru luka yang awalnya sulit untuk kita ceritakan menjadi terasa jauh dan bisa kita lihat dari sudut pandang di luar kejadian. Di situlah objektif akan muncul dan hikmah akan terlihat.

Terakhir, mengapa beristighfar?
Padahal yang salah orangtua/orang lain, kok kita juga minta ampun? Sebelum playing victim, kita bisa jadi tak sengaja juga menyakiti anak atau orang lain dengan sikap kita yang sedang terluka. Sounds familiar, right? Seperti siklus yang berulang. 

Semua solusi itu berfokus pada diri kita dan apa yang bisa kita kendalikan, seperti dikotomi kendali dalam buku Filosofi Teras. Bukan berfokus pada yang menyakiti kita, sebab itu hal di luar kendali kita. Berharap seseorang berubah itu hanya bikin sakit, sih. Lebih baik kita saja yang berubah.

Tahu apa yang paling ultimate?
Memaafkan. Dengan memaafkan, bukan berarti kita kalah/salah. Justru kita sedang memerdekakan diri kita dari segala hal yang menyakiti, dan bisa berfokus ke hal lain yang menumbuhkan diri.

Sisanya? 
Silakan tentukan batasan/boundaries, sebagaimana Rasul terhadap Wahsyi yang membunuh pamannya, Hamzah. Begitu sakit hatinya melihat Wahsyi, namun beliau memaafkan pembunuh pamannya itu, tapi semasa hidup beliau tidak mau melihat wajah Wahsyi. Maka, kita pun bukan memutus tali silaturrahim. Bila memang hati kita belum begitu kuat, tak apa untuk berjauhan dan tak saling melihat. Secukupnya saja.

Wallahua'lam bishshawwab.

No comments:

Post a Comment

Text Widget