PERTANYAAN SEORANG IBU DAN KUASA PEMIMPIN NEGERI
Meta morfillah
Aku seorang ibu, yang mencoba menciptakan dunia yang ramah, aman, dan nyaman untuk anakku bertumbuh. Kulakukan hal terkecil, dari diriku, dan sekarang ini seperti menjaga lingkungan dengan mengolah sampah organik dan lainnya. Aku punya harapan bahwa Allah ridha dan melihat usahaku, bumi merasakan itikad baikku, sehingga kelak anak cucuku merasakan keindahan alam yang kurasakan pula saat hidup.
Namun, saat bencana banjir bandang menimpa 3 wilayah negeri, mataku terbuka. Bahwa selain kesadaran seorang ibu dan keluarga di negeri ini, betapa kesadaran pemimpin begitu berkuasa. Ya, kita memang bisa mencegahnya bila bergerak bersama. Namun, saat pembuat kebijakan tidak sevisi dengan cita-cita mulia, kuasa yang dipegang pun malah menghancurkan. Para ibu mengedukasi untuk menjaga bumi, tapi pemimpin melegalisasi kerusakan negeri.
Berat sekali rasanya, cita-cita sederhana seorang ibu yang ingin anaknya tumbuh di lingkungan yang jujur, amanah, bermoral, berempati, dan mencintai alam seakan melawan dunia. Sebab pemimpin yang diharapkan mengayomi, melindungi, menjadi garda depan menjaga warga justru meneladankan hal-hal sebaliknya. Apa beratnya menetapkan sebuah status #bencananasional ? Demi eskalasi dan mempermudah akses bantuan? Apa sesungguhnya yang ditakuti? Aku tak paham. Sungguh tak paham. Benarkah kekuatan asing atau duri dalam daging yang mengancam bangsa ini? Atau justru aib yang akan tersoroti bila status bencana dinaikkan menjadi nasional?
Kulihat rak buku di toko buku banyak menjual buku tentang public speaking, apakah itu adalah indikator memang sebegitu pentingnya orang mempelajari cara berkomunikasi di depan umum agar tidak asal bunyi? Terutama bagi pejabat publik.
Bisakah beri kami pemahaman yang mudah dimengerti, akan pertanyaan mengapa status bencana nasional belum juga ditetapkan di Sumatra? Agar tidak ada prasangka, apakah sebab dana tidak ada atau leadership pusat tidak mampu, makanya diserahkan sebatas provinsi saja? Padahal provinsi dan rakyat pun sudah berteriak meminta tolong.
Sungguh, aku hanyalah seorang ibu yang merapal doa nabi Ibrahim di Q. S. Al Baqarah 126:
وَإِذْ قَالَ إِبْرَٰهِۦمُ رَبِّ ٱجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا ءَامِنًا وَٱرْزُقْ أَهْلَهُۥ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ مَنْ ءَامَنَ مِنْهُم بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ
Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian.
Aku tahu, jangan berekspektasi pada manusia sebab akan kecewa. Tapi, aku juga tahu bahwa mendoakan pemimpin merupakan hajat yang besar. Maka aku angkat senjataku sebagai muslim, melalui doa untuk negeri dan pemimpin saat ini. Semoga Allah jaga Bapak dan beri taufiq hidayah untuk mengambil keputusan yang benar.