MEMBLUDAKNYA KASUS PERCERAIAN SAAT RAMADAN: KAPAN HARUS BERTAHAN DAN KAPAN HARUS BERCERAI?
Meta morfillah
Sejak 26 Februari 2026 viral membludaknya pemohon cerai talak dan cerai gugat di Pengadilan Agama Surabaya. Suasana ramadan ternyata tak mampu meredam konflik yang dialami tiap pasangan, meski ada penumpukan administrasi juga sebab libur panjang imlek (https://www.detik.com/jatim/berita/d-8380625/ratusan-pemohon-cerai-tiap-hari-padati-pa-surabaya-saat-ramadan). Ibadah terpanjang seumur hidup manusia ini ternyata memang tak mudah dijalani. Lalu bagaimana cara mengetahui kapan kita harus bercerai dan kapan kita harus berpisah? Kapan kita harus memaafkan kesalahan berulang pasangan dan kapan harus memilih cukup?
Menyimak kajian Ustad Rifky Ja'far Abu Thalib tentang Kitab berjudul Tata cara Rasulullah menyelesaikan masalah-masalah rumah tangga ada lima pertimbangan sebelum memutuskan berpisah, yaitu:
1. Rumah tanggaku untuk ibadah
Apakah bila masih bersama, keluarga/pasangan kita bisa menjadi wasilah ibadah kita lebih baik atau malah jadi tidak bisa fokus beribadah? Meski ibadah yang dijalani tidak selalu menyenangkan jiwa, sebab Rasul bersabda bahwa surga memang diliputi oleh hal-hal yang tak disukai jiwa. Saat kita menjadikan rumah tangga kita untuk beribadah pada Allah, Allah tidak akan melepaskan. Allah akan menurunkan bantuan, membimbing ke arah kebaikan. Maka saat berumah tangga tidak ada tolong menolong dalam kebaikan, tidak membuat kita mendulang pahala, malah menambah dosa, boleh kita pertimbangkan untuk berpisah.
2. Rumah tanggaku adalah sarana menggapai ridha Allah
Bisa jadi seorang istri mendapatkan ridha dari Allah ketika dia memahami kesalahan berulang suaminya, dan sebaliknya. Sebab ia sadar yang dinikahinya adalah manusia biasa, ia ridha dengan kelemahannya, maka Allah pun ridha padanya. Saat Allah mencintai seorang hamba, Allah akan mengujinya dari yang dicintainya. Maka bisa jadi pasangan dan anak menjadi ujian untuk kita. Ridha di awal saat ujian menimpa adalah tanda kita masih bisa mempertahankan pernikahan. Bila tidak ridha, maka bisa dipikirkan untuk berpisah.
3. Kesabaran dalam rumah tangga mengantarkan pada surga
Kalau memang dengan sabar kita mendapatkan surga, lalu mengapa kita memilih tidak bersabar? Pertanyaannya, sampai kapan kita harus bersabar menerima kesalahan pasangan? Sampai mana kita harus bertahan dengan luka yang diberi? Jawabannya tergantung kekuatan kita bersabar menghadapi mereka. Tenang saja, kemenangan selalu menemani orang yang bersabar. Hasil kesabaran kita selain surga, bisa jadi Allah turunkan dengan perubahan sifat pasangan, kebahagiaan dengan anak, dan lainnya. Selama kita masih yakin bahwa kesabaran kita akan berbuah manis, maka pertahankan. Bila tidak, maka pertimbangkan untuk berpisah.
4. Sejauh husnudzan (prasangka baik) kita pada pasangan
Bila memang pasangan melakukan dosa besar dan kita tidak salah saat meminta cerai, tapi kita masih bisa berhusnudzan (berprasangka baik) padanya, maka pertahankan. Namun bila ikhtiar sudah dilakukan, dimaafkan berulang kali, hingga akhirnya kita tak bisa lagi berhusnudzan pada pasangan, malah banyak su'udzan (berprasangka buruk), maka itu pertimbangan untuk berpisah.
5. Musyawarah
Pilih 2 penengah, 1 dari pihak suami dan 1 dari pihak istri. Atau pilih 1 orang yang netral (bukan dari pihak suami atau istri), seperti psikolog, ustad, orang yang memiliki kapasitas keilmuan dan adil. Keduanya pun harus tulus ingin memperbaiki, agar Allah mudahkan kebaikan pada keduanya.
Apabila kelima pertimbangan itu sudah kita jalani, apa pun hasilnya semoga terbaik dan kita ridha pada ketentuan Allah. Sebab kita sudah mengikuti petunjuk dari yang paling mengerti diri ini: Pencipta kita.
Wallahua'lam bishshawwab.
No comments:
Post a Comment