AGAR YANG DICINTA TAK JADI MUSUH
Meta morfillah
"Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Saat kutadabburi Al Quran surat At Tagabun ayat 14 ini, sungguh dalam insight yang kudapat. Pasangan dan anak, adalah orang yang paling tahu seluk beluk diri kita. Merekalah saksi utama dan pertama di pengadilan Allah kelak. Bisa jadi citra kita di luar rumah keren, tapi di dalam rumah berbanding terbalik.
Merekalah orang yang kita cinta, kita jaga, tapi justru menjadi ujian terberat. Perbedaan pendapat, pilihan, dan visi hidup bisa membuat mereka malah menjadi musuh utama kita. Bisa jadi pula ragam masalah bersumber dari mereka. Sebagaimana kita lihat di kasus viral belum lama ini, tentang seorang istri yang mengeluarkan pendapatnya di media sosial dan malah membahayakan status beasiswa suaminya sebab dinilai tidak berterima kasih pada negara. Ada pula kasus di mana istri tidak bisa memegang rahasia kantor yang diceritakan suami dan malah mengumbar hingga sang suami dipecat. Banyak pula kisah anak yang menjadi ujian bagi orangtuanya dengan perilaku mereka yang melanggar norma.
Namun sesungguhnya, sebelum mereka menjadi musuh atau ujian bagi kita, Allah telah memberikan petunjuk. Kita diminta berhati-hati dalam tindakan. Lalu bila mereka salah, harus berlapang dada memaafkan, tidak memarahi, dan mengampuni sebab kita pun berharap Allah mengampuni kita kelak. Langkah-langkah tersebut pada akhirnya menuntut kita untuk mengenal pasangan dan anak dengan ilmu agar tidak salah memberi perlakuan. Kita harus tahu bagaimana mereka ingin dicintai dengan cara mereka. Paling utama adalah sikap kita yang juga harus lembut dan sabar.
Sungguh, Allah menguji kita dengan apa yang kita cintai. Sebagaimana Ibrahim diuji dengan cinta pada anak yang telah lama dinanti, yakni Ismail. Allah memintanya untuk menyembelih, semata untuk bukti bahwa tidak ada cinta yang melebihi cinta pada Allah, meskipun itu cinta kepada anak sendiri. Maka, keluarga yang kita jaga dan harapkan masuk surga bersama, tetaplah tidak boleh mengalahkan perintah dan laranganNya.
Di bulan ramadan ini, adalah momen terbaik untuk memupuk cinta kita pada keluarga menuju cinta Allah. Perkuat bonding dengan ibadah bersama, waktu berkualitas saat sahur dan berbuka, serta luaskan lagi kesabaran. Semoga kita tidak menjadi musuh bagi yang dicinta.
No comments:
Post a Comment