Pages

25 January, 2026

[Review buku] The Alchemist

Judul: The Alchemist
Penulis: Paulo Coelho
Penerbit: GPU
Dimensi: 224 hal, cetakan ketiga November 2025, edisi hardcover
ISBN: 9786020681979

Santiago, seorang anak gembala bercita-cita menjadi pengelana dan menemui seorang perempuan Gipsi yang meramalkan masa depannya bahwa ia akan menemukan harta karun. Tak lama ia bertemu seorang yang mengaku raja yang menunjukkannya jalan untuk memenuhi takdir hidupnya. Mulailah ia melakukan perjalanan dari tanah kelahirannya di Spanyol menuju piramida di Mesir. Perjalanan yang awalnya bertujuan menemukan harta duniawi perlahan berubah menjadi penemuan harta di dalam diri. Pertemuan dengan beragam orang seperti Sang Alkemis, pemandu gurun, hingga cinta sejatinya, Fatima, mendewasakan dan mengajarkan banyak hal pada Santiago.

Saya re-read buku ini sebab agak lupa ceritanya dan tertarik dengan edisi hardcover milik ponakan saya. Dari fisiknya jauh lebih bagus dibanding buku pertama yang saya baca. Ukuran font lebih besar dan jenis kertasnya juga lebih enak dipandang mata. Lalu saat re-read, perlahan kerecall kembali beberapa bagian, sehingga saat membacanya jadi lebih cepat. Dulu saya beri bintang 4 di goodreads, tapi setelah re-read saya beri bintang 5 sebab insight yang didapat jauh lebih saya pahami sekarang. Dulu mungkin saya kurang memahami bahasanya yang memang agak filosofis dan memuat sejarah beberapa agama, sekarang lebih paham.

Cocok dibaca bagi yang suka novel inspiratif dan penemuan harta di dalam diri (reflektif).

Saya apresiasi 5 dari 5 bintang.

Meta Morfillah

#bookstagram #oneweekonebook #kubusetengahtujuh #komunitasbukuseru #jagoankomplek_januari

24 January, 2026

[Review buku] The hollow boy

Judul: The hollow boy (Lockwood & Co.)
Penulis: Jonathan Stroud
Penerbit: GPU
Dimensi: 440 hal, cetakan pertama 2016, edisi digital RBK
ISBN: 9786020328034

Wabah hantu menyerang kota Chelsea, hingga DEPRAC menurunkan semua personil dan agen pembasmi hantu. Sayangnya, tidak termasuk Lockwood & Co. Mereka bertiga (Lockwood, Lucy, dan George) sibuk membasmi hantu di rumah-rumah. Saking banyaknya kasus, mereka sampai bekerja sendiri-sendiri dan tidak bisa berkelompok. Menyadari hal itu, Lockwood pun mengambil keputusan mempekerjakan Holly sebagai sekretaris. Dinamika tim pun teruji dengan kehadiran orang baru, terutama bagi Lucy. Di saat bersamaan, DEPRAC hampir menyerah menangani wabah Chelsea yang sudah memakan korban, dan akhirnya meminta bantuan Lockwood & Co. Analisis George dari risetnya berhasil menemukan sumber. Namun butuh kekuatan besar sebab yang mereka hadapi kali ini begitu sulit. Dengan siapakah mereka akan bekerja sama? Berhasilkah mereka menyelesaikan wabah Chelsea?

Saya tidak tahu kalau buku ini berseri, dan ini adalah seri ketiga dari lima. Sehingga saat awal membaca, saya bingung dengan istilah dan konteksnya. Menjelang pertengahan baru saya paham dan mulai menikmati cerita. Terbayang seperti film ghostbuster hanya saja kelompok ini terdiri dari 3 orang dan ada nuansa romantis remaja.

Cocok dibaca bagi yang suka horor dan kelompok remaja pembasmi hantu berseri.

Saya apresiasi 3 dari 5 bintang.

Meta Morfillah

#bookstagram #oneweekonebook #kubusetengahtujuh #komunitasbukuseru #jagoankomplek_januari

22 January, 2026

[Review buku] Arigatou Nippon

Judul: Arigatou, Nippon
Penulis: Vivi Silvia C.
Penerbit: Kawan Pustaka
Dimensi: xvi+332 hal, cetakan pertama 2006
ISBN: 9797571564

Bagaimana rasanya trip ke Jepang bareng 2 artis Indonesia yang lagi naik daun?

Beragam latar dan motif pergi ke Jepang mewarnai rombongan dari Duta Indah Tours Travel yang dipandu Dudi dan Ayano. Ada yang ingin liburan sekeluarga seperti keluarga Rian, jalan-jalan sama saudara seperti Seszy-Akbar-Radit, belajar bahasa Jepang dan cari informasi universitas seperti Ibam, hingga just having fun seperti Diana, Indri, 3 dokter, 2 mahasiswa, dan sisanya. Selama 9 hari mereka bersama dan ada banyak hal menarik, menegangkan, hingga bertemu jodoh selama menjalani trip ini. 

Romansa antara Reza-Suri, Happy-Abu, Seszy-Adit, Dudi-Ayano, hingga Diana-Yui membuat cerita dibumbui konflik ringan, lucu, dan menarik. Meski endingnya tidak semua mulus. Ada yang hanya cinta lokasi, ada yang sampai berkeluarga. Hal unik dan khasnya di novel ini adalah tiap selesai satu PoV tokoh, diakhiri dengan situasi atau sebuah kalimat yang menjadi pembuka cerita baru di PoV tokoh lain. Full seperti itu dari awal hingga akhir. Seperti video berkaitan yang tak putus. Saya apresiasi gaya penulisan menarik ini!

Dan poin utama kelebihan buku ini adalah tidak sekadar menjadikan Jepang sebagai latar, tapi seperti mengajak pembaca mengalami langsung deskripsi dan detail bahasa, budaya, hingga sejatah di Jepang. Saya terhibur sekali, di dalam kamar rasanya seperti mengenal Jepang virtual bermodalkan imajinasi. Banyak fakta menarik yang seru dan baru saya tahu juga. Meskipun 20 tahun telah berlalu dari gambaran Jepang di buku ini. Setelah baca, jadi pengin ke Jepang!

Cocok dibaca bagi yang suka, ingin tahu tentang Jepang dan romance ringan.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

Meta Morfillah

#bookstagram #oneweekonebook #kubusetengahtujuh #komunitasbukuseru #jagoankomplek_januari

21 January, 2026

Refleksi buku "Broken Strings" Aurelie: Tanda sayang, bukan mengekang

REFLEKSI BUKU "BROKEN STRINGS" AURELIE: TANDA SAYANG, BUKAN MENGEKANG

Meta morfillah

Ebook Broken Strings karya Aurelie Moeremans yang dibagikan gratis di media sosialnya Oktober 2025 lalu sedang viral. Isu utamanya adalah pelecehan anak (child grooming). Mengisahkan bagaimana penulis didekati oleh seorang pria dewasa yang usianya dua kali lipat usianya (15 tahun) saat itu. Permulaan child grooming itu perlahan dan halus dengan membangun hubungan, kepercayaan, dan kendali emosional pada penulis (anak) untuk tujuan eksploitasi dan pelecehan seksual di masa depan. Hingga akhirnya pelaku akan mengisolasi korban, melanggar batasan, hingga mengancam atau memeras.

Saat membacanya, saya tersentuh akan kejujuran dan keberanian penulis yang mengungkap lukanya demi menjadi pelajaran bagi banyak korban child grooming serta orang dewasa yang menyadari praktik ini untuk menolong. Dari korban menjadi penyintas, titik utamanya adalah pada keberanian korban sendiri untuk bicara (speak up).

Meski penulis dan kisahnya berdasarkan aturan agama Katolik, saya justru belajar banyak tentang agama saya sendiri: Islam. Ada banyak hal yang akhirnya saya pahami mengapa aturan dalam Islam begini begitu, terutama untuk anak perempuan, dan kini saya melihatnya dalam dualitas sudut pandang: sebagai anak dan sebagai orangtua.

Hal pertama yang saya sadari, betapa preventifnya aturan Islam yang seakan mengekang, ternyata itu tanda sayang. Seperti aturan aurat bagi wanita, batasan tubuh yang boleh disentuh atau tidak, tidak mendekati zina (pacaran), mahram saat safar, ikhtilat dalam pekerjaan, adab bertamu (ruang privasi dan publik), hingga rukun nikah yang mengharuskan adanya wali.

Sebab saya lihat kasus child grooming ini terjadi saat semua yang saya sebutkan sebelumnya bocor atau tidak diterapkan. Saat anak tidak tahu auratnya apa saja, mana bagian yang boleh disentuh atau tidak, siapa saja yang berhak menyentuh tubuhnya, maka ia akan diam atau bingung saat ada orang melewati batasan aurat itu. Inilah pentingnya pendidikan aurat. 

Kemudian dari aurat, akan berkaitan dengan tidak mendekati zina (pacaran). Sebab hal yang dilakukan saat pacaran, umumnya pasti melanggar batas aurat tadi. Belum lagi aturan mahram saat bepergian (safar). Tidak boleh ditemani oleh orang yang bukan mahram apalagi laki-laki yang baru kenal. Antar jemput menjadi kewajiban atau dalam pengawasan orangtua. Jangan memercayakan pada sembarang orang bila berhalangan dan harus dikontrol langsung. Sebab inilah penyebab penulis menjalani pernikahan palsu.

Dalam hal pekerjaan, Islam memperbolehkan selama tidak ada ikhtilat (berdua-duaan) dengan lawan jenis. Lagi-lagi pengawasan orangtua akan anak wanitanya harus ekstra. Ya memang harus ditemani terus, atau didelegasikan pada orang yang bisa dipercaya. Meskipun usianya baligh (15 tahun), selama belum menikah tanggung jawab itu ada pada orangtua.

Pelecehan pertama Aurelie terjadi justru di tempat paling privat dan seharusnya aman baginya, yakni di kamarnya. Hal ini terjadi, sebab adab bertamu dilanggar. Pelaku yang dalam rangka bertamu, memasuki kamar korban dan mengunci pintu. Padahal ada mama dan adik korban di ruang lain. Maka saat ada tamu, orangtua harus tegas dan mengajarkan pada anak, mana ruang publik dan mana ruang privasi, agar tidak sembarang orang bisa memasukinya.

Semua hal itu dahulunya terasa mengekang bagi saya sebagai anak. Namun, saat saya di posisi orangtua saat ini, saya justru bersyukur bahwa Islam ternyata sayang pada wanita. Allah tidak ingin hambanya terluka, hingga membuat aturan-aturan pencegahan seperti itu. Tentulah Allah paling paham makhluk ciptaannya. Hanya kita kadang suka ngeyel dan sok paling tahu. Suatu kejadian memang selalu lebih baik dicegah (preventif) daripada ditanggulangi (kuratif), sebab kerugian yang banyak dihasilkan bila terjadi.

Wallahua'lam bishshawwab.

18 January, 2026

[Review buku] Broken strings

Judul: Broken strings
Penulis: Aurélie Moeremans
Penerbit: -
Dimensi: 214 hal, pdf Oktober 2025
ISBN: -

Aurelie besar di Belgia, berbahasa Prancis, berdarah campuran sehingga wajah cantik dan uniknya memikat industri hiburan di Indonesia. Usia 15 tahun ia memutuskan pindah ke Indonesia dan berkarir menjadi aktris. Meski ayah dan ibunya menjadi LDM, mereka menguatkan diri demi kemapanan finansial keluarga. Sayangnya, pertemuan dengan Bobby membuat hidup Aurelie berubah.

Awalnya, Bobby hadir dengan meyakinkan di usia 30 tahun, menawarkan cinta yang aman dan dewasa. Seiring berjalannya waktu, tindakan cinta berubah menjadi kuasa, bahkan melewati batas yang Aurelie tetapkan. Tapi dengan sikap manipulatifnya, setiap ada hal tak sesuai inginnya, ia membuat Aurelie merasa bersalah yang menumpuk. Hingga puncaknya di usia 18 tahun, ia mengikat penulis dengan pernikahan tidak sah, membuat penulis terpisah dengan keluarganya, dan menguasai uang hasil kerjanya. Bagaimana cara memutus lingkaran setan dari orang yang merenggut segalanya darimu?

Itulah tujuan buku memoar ini hadir. Detail konflik batin dan fisik yang dialami penulis tergambar dengan baik. Bahasa sederhana, jujur, dan tidak terlalu vulgar membuat kita yang membaca bisa bersimpati dan salut pada keberanian penulis mengungkap luka hatinya. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari kisah penulis, tentang parenting, pentingnya koneksi anak dan orangtua selamanya, lalu praktik child grooming yang terang-terangan sebab tak ada batas jelas sehingga membingungkan orang dewasa untuk menolong, serta pentingnya keberanian korban yang menentukan apakah ia bisa menjadi survivor atau selamanya korban.

Cocok dibaca untuk tahu bagaimana manipulatifnya pelaku child grooming dan cara memutuskan hubungan itu.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

Meta Morfillah

#bookstagram #oneweekonebook #kubusetengahtujuh #komunitasbukuseru #jagoankomplek_januari

17 January, 2026

[Review buku] Tuhan, izinkan aku menjadi pelacur!

Judul: Tuhan, izinkan aku menjadi pelacur!
Penulis: Muhidin M. Dahlan
Penerbit: ScriptaManent
Dimensi: 264 hal, cetakan 13 Juli 2008
ISBN: 9789799946119

Nidah Kirani, seorang muslimah taat yang terpikat retorika seorang lelaki jago debat asal Jemaah. Awalnya diskusi yang memuaskan pikirannya, berlanjut ke pertemuan-pertemuan intens yang mengubah cara pandangnya terhadap Islam. Hingga akhirnya ia memantapkan hati menjadi bagian dari Jemaah yang menginginkan negara islam dengan cara revolusi dan rahasia. Ditutupi dengan ikat kepala, ia dibawa oleh para lelaki ke sebuah tempat untuk dibaiat, tidak boleh banyak tanya, hanya harus taat terhadap segala perintah Jemaah.

Perlahan, ia merasa gamang sebab ibadah anggota Jemaah biasa saja, bahkan jauh dari ajaran pondoknya dahulu. Diskusi yang menarik perlahan tiada dan setiap pertanyaan ditutup dengan diam. Hanya setoran uang terus jalan. Dari ibadah yang kurang, perlahan ia menjadi kosong dan kecewa pada Tuhan. Pelariannya ke dunia malam, obat dan seks bebas. Ia bersimpati pada iblis yang termarjinalkan dan makin terperosok ke lembah hitam. Lewat seks, ia merasakan kekuasaan bahwa semua lelaki baik yang beristri atau lajang, aktivis kiri atau kanan, bahkan anggota DPRD dari fraksi yang gemar berbicara iman pun lemah melihat tubuhnya.

Kontroversi buku ini cukup banyak ternyata. Bagi saya pribadi, sebaiknya diberi rentang usia 21+, sebab membahayakan bila yang membaca belum memiliki kematangan berpikir. Terkait gerakan islam yang dimaksud, saya sendiri pernah mengalami direkrut saat kuliah tahun 2008-2010. Alhamdulillahnya bagian pernyataan perekrut ada yang tidak logis bagi saya. Di sanalah saya memahami bahwa ada gerakan rahasia seperti di buku ini. Gaya bahasanya cukup rumit, puitis, agak bertele-tele, ditambah jenis kertasnya buram dan pemilihan font berkait sehingga bikin ngantuk.

Cocok dibaca untuk kontemplasi keimanan bagi yang kuat dasarnya, jika belum baiknya jangan.

Saya apresiasi 3 dari 5 bintang.

Meta Morfillah

#bookstagram #oneweekonebook #kubusetengahtujuh #komunitasbukuseru #jagoankomplek_januari 

15 January, 2026

Saat merasa terluka, lakukan ini!

SAAT MERASA TERLUKA, LAKUKAN INI!

Meta morfillah

Semakin banyak membaca dan menggali ke dalam diri, saya menemukan sebuah fakta sederhana bahwa setiap manusia pasti punya luka pengasuhan. Meskipun dari keluarga harmonis. Dari diri saya sendiri, ternyata luka saya dimulai ketika bapak meninggal. Memang tidak terasa, tapi pribadi saya berubah keras sejak saat itu. Tanpa diajari, mode fight or flight sering saya aktifkan.

Menarik lagi, kesadaran bahwa "Aku terluka." ditambah sedang menjalani peran sebagai orangtua, aku pun sering melukai orang lain entah disengaja atau tidak. Dari situ, motif orangtua melukai kita pun menjadi beragam. Bisa memang karena tidak sengaja, bisa sebab tidak tahu ilmunya, bisa sebab lelah luar biasa, dan bisa sebab ia pun tengah terluka tanpa ia sadari.

Maka, mencari tahu apa sikap yang harus kita lakukan berdasarkan agama ini adalah utama. Saya temukan bukan blaming yang diajarkan, bukan pula membenarkan. Justru utama dan pertama adalah kita diminta tazkiyatun nafs (membersihkan diri). Kita dekatkan hati kita pada Allah, perbanyak koneksi/ibadah agar sinyal tubuh kita kuat padaNya, lalu banyak bermunajat/doa untuk curhat puas mengeluarkan segala uneg-uneg, setelahnya kita beristighfar memohon ampun. Dari rangkaian tazkiyatun nafs saja, saya melihat banyak disiplin ilmu berkelindan.

Mengapa menyucikan jiwa?
Agar otak kita tidak sakit dipenuhi prasangka. Prasangka itu menghabiskan banyak energi dan mengikis kesehatan kita sehingga bisa menjadi tidak produktif.

Mengapa perkuat koneksi dengan ragam ibadah?
Sebelum muncul istilah penyakit psikologis seperti depresi, dan lainnya, Allah sudah mengingatkan bahwa hanya dengan mengingatNya hati menjadi tenang. Saat mengingatNya, kita jadi memperbaiki urutan prioritas hidup kita. Mana yang harus dipikirkan dalam porsi besar, dan mana yang harus direlakan saja.

Mengapa banyak berdoa dan curhat sama Allah?
Agar kita bisa sejujur-jujurnya mengungkapkan validasi rasa yang kita miliki. Bertanya pada Pencipta dan Pengizin luka yang hadir dalam hidup kita. Sembari memikirkan ragam skenario dan hikmah yang didapat dari sebuah kejadian. Memang proses ini kadang panjang dan melelahkan. Tapi saat diulang-ulang, justru luka yang awalnya sulit untuk kita ceritakan menjadi terasa jauh dan bisa kita lihat dari sudut pandang di luar kejadian. Di situlah objektif akan muncul dan hikmah akan terlihat.

Terakhir, mengapa beristighfar?
Padahal yang salah orangtua/orang lain, kok kita juga minta ampun? Sebelum playing victim, kita bisa jadi tak sengaja juga menyakiti anak atau orang lain dengan sikap kita yang sedang terluka. Sounds familiar, right? Seperti siklus yang berulang. 

Semua solusi itu berfokus pada diri kita dan apa yang bisa kita kendalikan, seperti dikotomi kendali dalam buku Filosofi Teras. Bukan berfokus pada yang menyakiti kita, sebab itu hal di luar kendali kita. Berharap seseorang berubah itu hanya bikin sakit, sih. Lebih baik kita saja yang berubah.

Tahu apa yang paling ultimate?
Memaafkan. Dengan memaafkan, bukan berarti kita kalah/salah. Justru kita sedang memerdekakan diri kita dari segala hal yang menyakiti, dan bisa berfokus ke hal lain yang menumbuhkan diri.

Sisanya? 
Silakan tentukan batasan/boundaries, sebagaimana Rasul terhadap Wahsyi yang membunuh pamannya, Hamzah. Begitu sakit hatinya melihat Wahsyi, namun beliau memaafkan pembunuh pamannya itu, tapi semasa hidup beliau tidak mau melihat wajah Wahsyi. Maka, kita pun bukan memutus tali silaturrahim. Bila memang hati kita belum begitu kuat, tak apa untuk berjauhan dan tak saling melihat. Secukupnya saja.

Wallahua'lam bishshawwab.

[Review buku] Better me

Judul: Better me
Penulis: Anna Silvia
Penerbit: Elex Media Komputindo
Dimensi: 297 hal, cetakan ketiga Januari 2023
ISBN: 9786230029257

Hidup yang singkat membuat kita harus bijak memanfaatkan waktu. Salah satunya dengan mempelajari kisah orang lain untuk diambil hikmahnya dan ibrah yang bisa kita terapkan dalam keseharian. Seperti itulah manfaat buku "Better Me" ini bagi saya. Berdasarkan pengalaman pahit sang penulis yang kemudian diubah menjadi orang yang selalu merasa beruntung di dunia, penulis merangkumkan apa saja tindakan yang ia lakukan hingga mencapai kedamaian itu.

Sebelum memulai itu ada beberapa prinsip memulai journey to be the better me:
1. Ini bukan proses instan
2. Membedakan "tidak bisa" dan tidak familiar"
3. Tidak pernah membidik kesempurnaan
4. Akan ada hari-hari di mana kamu tidak bisa melihat perubahan sama sekali
5. Kamu harus kuat! Kamu harus bermental baja! Kamu harus selalu bangkit lagi!

Barulah penulis menjabarkan tentang overthinking, cara berhubungan dengan orang lain, self-love, gratitude, law of attraction, anger management, healing trauma, dan key of happiness. Semua itu saling berkaitan dan kembali berfokus pada diri kita, bukan orang lain. Gaya bahasanya asyik dan seperti ngobrol sehingga mudah dimengerti. Salah satu buku yang perlu ada di rak bukumu. Saya tidak apresiasi sempurna, sebab di beberapa bab saya merasa seperti diulang-ulang.

Cocok dibaca untuk yang ingin upgrade diri menjadi lebih baik.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

Meta Morfillah

#bookstagram #oneweekonebook #kubusetengahtujuh #komunitasbukuseru #jagoankomplek_januari

11 January, 2026

[Review buku] Shanghai girls

Judul: Shanghai girls
Penulis: Lisa See
Penerbit: Literati
Dimensi: 638 hal, cetakan pertama April 2011
ISBN: 9786028740128

Pearl dan May hidup sebagai gadis cantik dari keluarga berkecukupan di Shanghai. Mereka memandang dunia indah dan memiliki impian tinggi. Hingga sang ayah bangkrut dan perang melanda. Hidup berputar begitu cepat. Penderitaan demi penderitaan mereka alami hingga bertahan hidup di negeri asing (Amerika) sebab tanah air tidak aman. Meski begitu, dalam hati mereka tetaplah rindu tanah air dan ingin kembali. Sayangnya, situasi tidak memungkinkan dan kewarganegaraan mereka pun dipertanyakan terus menerus. Rahasia demi rahasia pun berbalik menjadi pil pahit yang ditelan. Bisakah mereka menikmati kebebasan dan rasa aman seperti saat di Shanghai?

Fiksi sejarah bukanlah favorit saya. Buku ini pun hadiah dari teman. Melihat tebal halamannya di awal membuat saya sempat skeptis untuk menamatkannya. Tapi saat membuka halaman demi halaman, ternyata penuturan penulis mengalir dengan nyaman. Detail dan penyusun konflik batin dan situasi pun tergambar baik. Banyak sekali isu yang bisa digali dari kisah dan tradisi Cina serta Amerika pada masa itu. Menjadi pelajaran penting yang masih relate hingga kini.

Saya bisa menebak twist akhir tentang ayah kandung Joy sedari awal, namun titik puncak Sam yang bunuh diri tetaplah menyesakkan hati. Bagian paling suram dan sedih tentu saja pengorbanan Mama saat diperkosa tentara-tentara Jepang demi menyelamatkan putrinya. Speechless. Endingnya masih terbuka dan bisa saja dibuat sekuel tentang Joy.

Cocok dibaca untuk yang suka fiksi sejarah dan ingin tahu tradisi Cina.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

Meta Morfillah

#bookstagram #oneweekonebook #kubusetengahtujuh #komunitasbukuseru #jagoankomplek_januari 

05 January, 2026

[Review buku] Zero waste adventure

Judul: Zero waste adventure
Penulis: Sisca nirmala
Penerbit: -
Dimensi: 115 hal, cetakan pertama Mei 2017
ISBN: -

Buku ini menjelaskan cara penulis naik gunung dengan minim sampah (zero waste). Ada 5 gunung yang dijabarkan, yaitu Gunung Gede, Gunung Tambora, Gunung Papandayan, Gunung Lawu, dan Gunung Argopuro. Dari kelima gunung itu, saya hanya bisa membayangkan Gunung Gede sebab sudah summit 3 kali ke sana, sisanya belum. Namun justru di buku ini saya jadi mendapat gambaran keindahan serta keunikan tiap gunung, terutama di bagian Lawu dan Argopuro.

Dalam perjalanannya yang berbeda durasinya (terlama Argopuro, 5 hari) penulis mendetailkan apa saja peralatan dan perbekalan yang dibawa untuk durasi sekian hari dan tidak menghasilkan sampah. Hampir semuanya memang pengulangan, trik yang sama, dan menu yang lebih sehat. Menariknya justru mindset zero waste adventure ini lahir ketika penulis mendaki Rinjani dan Semeru, lalu melihat banyaknya sampah di sana hingga jadi gelisah dan memunculkan movement mandiri berupa Zero waste adventure ini.

Perlahan memulai dari keseharian, bagian ini relate sekali dengan saya, terutama saat ingin mengurangi kantong plastik ketika belanja di pasar. Ada dialog di mana kita kalah sama pedagang, meski sudah bawa tempat khusus, tetap diplastikin. Ternyata semua pegiat zero waste pasti pernah mengalami hal itu karena budaya kita yang serba instan.

Cocok dibaca untuk yang suka isu lingkungan dan tertarik menerapkan zero waste di keseharian atau saat mendaki gunung.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

Meta Morfillah

#bookstagram #oneweekonebook #kubusetengahtujuh #komunitasbukuseru #jagoankomplek_januari
#resensibuku #reviewbuku #bacabuku #metamorfillah #nonfiksi  

Text Widget