Judul: Jalan tak ada ujung
Penulis: Mochtar Lubis
Penerbit: Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Dimensi: 166 hlm, cetakan 7 Februari 2016, edisi digital RBK
ISBN: 97989794619803
Kondisi Jakarta tahun 1946, lepas kemerdekaan tapi masih dibayang-bayangi NICA dan kepemimpinan yang kebingungan. Sebagian (kaum tua) ingin kembali ke masa Belanda sebab kerja tenang dan sebagian lagi (kaum muda) berjuang melawan Belanda yang masih berusaha menjajah dengan kekerasan. Di tengah itu semua, Guru Isa bertahan mengajar, meski gaji kian tak cukup hingga utang menumpuk. Usianya yang terpaut jauh dengan sang istri, Fatimah, serta ketidakmampuannya memberikan keturunan membuat hubungan pernikahannya dingin. Kepada musik, lewat biola ia menemukan ketenangan. Lewat musik pula ia berkenalan dengan Hazil, pemuda pejuang yang begitu berani. Ia yang takut, tapi tak bisa menolak mengalami konflik batin yang kian hari menggerus fisiknya. Kapankah jalan tak ada ujung ini berakhir? Akankah hari damai datang kembali?
Menarik membaca sastra lama yang berisi perjuangan setelah kemerdekaan, kondisi Jakarta, hingga budaya bahasa di masa itu. Meski tidak ejaan lama banget, tapi ada beberapa kata yang masih terdengar puitis dan maknanya agak berbeda dengan masa kini (contoh "apabila", maknanya di buku ini serupa "kapan" atau menunjukkan waktu). Isu pengkhianatan selain di perjuangan kemerdekaan, juga terjadi dalam kehidupan pernikahan Guru Isa.
Cocok dibaca bagi yang suka sastra lama dan nuansa sejarah perjuangan setelah kemerdekaan.
Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.
Meta Morfillah
#bookstagram #oneweekonebook #kubusetengahtujuh #resensibuku #reviewbuku
No comments:
Post a Comment