Pages

05 December, 2014

[Cerita Lirik] Drop Your Guard


Still waters runs deep
Why do you always hide from me
How do you keep
All your troubles underneath
Emotion is a wild thing
I'm trying not to feel it
We get on
Yeah somehow we get by
We're alright cause

Kamu selalu menyembunyikan masalahmu dariku, seperti air tenang yang begitu dalam. Tak kutahu apa yang terjadi di dasarnya. Menghanyutkan. Bagaimana bisa? Dengan semua masalah yang kamu hadapi. Aku tahu, emosi memang begitu liar, tak mudah untuk dikendalikan. Tapi, bila kamu sedang mengalami masalah, aku selalu merasakannya. Walau sudah kucoba untuk tidak merasakan. Kita seakan baik-baik saja. Seolah-olah. Entah bagaimana, nampaknya selalu seperti itu.

Love runs deep
Deeper than the darkest sea
So drop your guard
Why do you have to be so hard


Mungkin cinta kita yang begitu dalam, lebih dalam daripada dalamnya laut. Sehingga kita bisa terus bertahan seperti ini. Tapi seharusnya, bila memang cinta kita sedalam itu… kamu tak perlu menjaga dirimu. Letakkan penjagaanmu, percayakan padaku. Tapi kenyataannya tidak… kamu menjadi begitu rumit dan sulit.

Those paper dolls
Hold each other by the hand
One cut and they break
I'm trying to make you understand
Emotion is a wild thing
Together we can tame it
Look again
Don't you realise
It's in my eyes

Lihatlah boneka kertas itu, saling memegang tangan. Satu potongan saja, mampu memutuskan, merusak mereka. Apakah kita seperti itu? Mudah digoyahkan? Aku mencoba memberi pemahaman padamu. Tentang kita. Emosi memang begitu liar, tapi bersama kita mampu menjinakkannya. Lihatlah lagi… tidakkah kamu menyadarinya? Itu semua terlihat di mataku. Betapa aku khawatir terhadapmu.

I wasn't asking you to open up
To open up
It's not my business anyway
It's just that when you're hurting
It's like I'm always searching
For the right words to say
We have an un-spoken rule
That you're always so cruel
Maybe I'm wrong to believe
But in my dreams
Our love runs deep
Deeper than the darkest sea
So drop your guard
Why'd you have to be so hard

Aku tak pernah memintamu terbuka, selalu membuka diri padaku. Aku sadar, itu bukan urusanku. Hanya saja, ketika kamu terluka… aku seperti orang bodoh yang sibuk mencari-cari kata yang tepat untuk kukatakan. Kita memiliki peraturan tak tertulis, yang mana kamu begitu kejam. Mungkin aku salah mempercayai peraturan itu… tapi dalam mimpiku, cinta kita begitu dalam. Lebih dalam dari laut terdalam. Seharusnya kamu percaya, dan meletakkan penjagaanmu. Tak perlu kaubangun benteng itu terhadapku. Seharusnya kamu tidak menjadi begitu rumit dan sulit. Setidaknya padaku.


*Cerita lirik "Drop Your Guard" by Jasmine Thompson
Meta morfillah

04 December, 2014

Berhenti

Dokternya kurang cocok…

Bagaimana, bila kamu sudah tak memiliki ekspektasi apa pun, hingga memilih untuk menjadi batu. Diam di pojok sana, tidak peduli dengan sekitar, namun kecewamu tak hilang. Patah hati, bukan karena cinta lawan jenis. Patah hati yang lain, lebih kompleks. Hebatnya, kamu didiamkan saja. Dibiarkan. Hiduplah dengan caramu, sesukamu. Jiwamu yang awalnya supportif dan produktif, mulai melemah, memikirkan apakah menyerah, atau berubah menjadi iblis? Ciptakan beragam konflik dan bermasalah. Toh, mereka tak akan pernah peduli lagi padamu.

Menanggapi ketidakpedulian dengan ketidakpedulian lagi. Apatis, pesimis, dan lainnya.

Itukah yang diinginkan oleh mereka?

Entah… status quo kah?

Uluran tangan siapa yang bisa diharapkan?

Kita sama-sama sakit, namun tak mau mencari obatnya bersama. Padahal, jelas-jelas kita harus bersama mencarinya. Sebab, kita manusia. Tak bisa berdiri sendiri.

Ada nyeri yang sesak di dalam dada, membuat bimbang begitu meraja. Dan tibalah saatnya, menjadi tidak peduli.

Beliau sendiri yang bilang, tak butuh inisiatif, tak butuh dipedulikan selama yang menjalani senang. Jadi, untuk apa kaupeduli?
Berhenti.

Mungkin memang jawabannya harus berhenti. Meski kamu manusia, yang tak bisa mendiamkan saat ketidakadilan yang diulang-ulang menjadi pembenaran dan pemakluman.

“Sometimes people don’t notice the things you do for them… until you STOP doing it.”

Meta morfillah

28 November, 2014

Mencintaimu ada caranya



Kamu tahu,
Semakin kamu jauh, aku semakin aman.

Bila kamu mulai mendekat, aku akan mulai menyebalkan. Tak lembut seperti perempuan pada umumnya. Sering kamu bilang, bahwa bila aku seperti ini terus, besar kemungkinan tak akan ada yang berani mendekatiku, lalu aku akan jadi perawan tua. Jadi perempuan itu, harus lembut, sedikit manja, tidak boleh galak, judes, atau terlalu frontal. Haha… maaf saja, itu semua sengaja kulakukan agar kamu tak berani menitipkan apa-apa padaku, seperti harapan atau bahkan yang lebih besar lagi: hatimu.

Aku tak pernah takut dengan apa yang kaukatakan tentangku. Sebab, aku percaya, Tuhan tahu alasanku. Aku mengikuti caraNya, meminimalisir kedekatanku dengan beberapa teman lelaki—terutama yang terlihat memiliki sinyal, hingga bahkan terang-terangan menyatakan cinta padaku. Aku tak ingin mencintai dengan cara yang salah atau menyalahi aturanNya.

Jadi, beginilah diriku.

Mencintaimu ada caranya. Dan inilah caraku. Hingga Tuhan berkata, “Boleh,” untuk mencintaimu… barulah aku akan mencurahkan kelembutanku dan sikap manjaku yang pantas.


Meta morfillah

21 November, 2014

Menjadi tidak peduli

Seperti tangan yang sedang terluka, jika kaupaksa untuk berjabat, yang ada semakin sakit. 
Butuh waktu untuk menyembuhkannya.
Sebaiknya kita tak bertemu dahulu, bila saling menyakiti.
Entah, apakah kita akan kembali sama, seperti tak ada apa-apa. 
Atau malah seperti roda gigi yang sudah tidak pas, bila dipaksakan hanya akan patah.
Entah, kepercayaanku padamu memudar. 
Meluruh seiring waktu. 
Berhenti berharap terhadapmu, yang mungkin tak pernah memikirkan apa yang kupikirkan.
Aku memilih menjadi robot. 
Menjadi tidak peduli pada apa pun.


Meta morfillah

Suara bising dalam penantian



Tuhan sedang menunjukkan padaku betapa banyak yang menyayangiku, melalui caranya yang unik. Masing-masing memiliki kekhawatiran tentang masa depanku. Beragam nasihat baik, terlantun untukku di tiap detik. Terutama mereka yang kusebut keluarga dan sahabat. Mereka sangat takut aku salah memilih teman hidup. Takut kalau aku memilih karena merasa tak punya pilihan, sebab usia tidak lagi muda. Dan beragam ungkapan lainnya.

Aku di sini, hanya menjawabnya dengan tersenyum. Dan itu malah menambah kekhawatiran mereka. Mereka semakin gencar berbicara bahwa kamu tak pantas untukku. Menurut mereka, aku lebih cocok dengan lelaki yang tegas, yang punya visi jelas, dan mampu saklek membimbingku. Dan bukan kamu orangnya. Mereka menyandingkan aku dengan rekan kerjaku, kawan komunitasku, kawan sekolahku dulu, dan lelaki-lelaki lain yang jauh mereka kenal dan sering bertandang ke rumahku. Hingga, menyuruhku untuk lebih fleksibel dengan pacaran, mencoba bermain hati. Dan lagi-lagi aku hanya tersenyum, walau dalam hatiku rasanya begitu pedih. Ingin menangis. Aah… bagaimana menjelaskannya pada mereka, dengan bahasa yang baik, tanpa menyakiti mereka—yang aku yakini, bahwa itu adalah cara mereka menyayangiku. Sehingga lelaki mana pun yang datang, tidak akan pernah cukup baik untukku. Seakan aku begitu bernilai dan hanya cocok untuk lelaki hebat. Padahal aku pun manusia yang banyak kekurangannya—dengan cara yang benar, di waktu yang benar.

Beginilah keseharianku dalam penantian. Begitu banyak lontaran kalimat yang menggoyahkanku. Aku bisa apa? Selain semakin mendekatkan diri padaNya. Jujur, aku sendiri tak tahu, apakah kamu memang seperti yang mereka katakan atau bukan. Tapi, ketahuilah satu hal saja… bahwa aku memiliki keyakinan padamu. Mengapa? Sebab kamu memperjuangkanku. Meski kuakui, kamu agak nekat dan kurang memiliki persiapan matang. Sehingga terlihat plin-plan di mata keluargaku. Terlihat belum siap, namun memaksa siap. Terlihat belum mampu bertanggung jawab dan menyelami diriku. Tapi, aku menitipkan keyakinanku padamu melalui doa-doaku padaNya, setiap hari. Berharap, bahwa semoga saja itu semua tidak benar. Bahwa kamu mampu membuktikan pada mereka, bahwa kamu patut diperhitungkan. Bahwa kamu memang belum mampu saat ini, tapi memiliki potensi itu. yang kamu butuhkan hanyalah waktu. Untuk saling mengenal, menyelami kehidupan kita masing-masing, yang pastinya begitu banyak perbedaan dan akan banyak pergesekan.

Aku berharap, semoga kaumembaca tulisanku ini… semoga sebelum kita bertemu, kamu mampu bersikap lebih jantan dan kokoh pada pendirian. Bukan seorang lelaki yang menuruti begitu saja apa kata orang, lalu menyerah memperjuangkanku. Sebab, semua lelaki yang mampu mengalihkan duniaku, belum tentu mampu memperjuangkanku. Tetapi, lelaki yang memperjuangkanku, aku yakin… sangat yakin… hanya tinggal hitungan waktu, dia akan mampu mengalihkan duniaku.

Tapi, bila kamu tak membaca tulisanku ini…. Tak mengapa. Aku sudah memasrahkan segalanya pada Tuhan. Melalui proses yang dimudahkan nantinya, ataukah dipersulit. Sebab, sejatinya para pencinta akan kembali pada Tuhannya. Meminta, sesuatu hal yang mereka tak kuasa. Cinta akan selamanya menjadi rahasia dan kuasaNya.

Jadi, sampai bertemu nanti.

Entah dalam kisah yang sama, atau di kisah yang berbeda.


Meta morfillah

19 November, 2014

Kepercayaan

Kepercayaan itu bagaikan keperawanan. Sekali kamu merusaknya, maka tidak akan pernah sama lagi seperti saat utuh dulu. Mau diperbaiki dengan segala macam cara (dioperasi), tetap saja rasanya tidak seperti ketika masih utuh. Artifisial!

Agak vulgar ya, perumpamaan saya kali ini? Semata, karena saya tak ingin mengumpat… maka saya gunakan perumpamaan yang agak-bukan-gw-banget ini. Bicara tentang kepercayaan, bagaimana cara agar tidak salah meletakkan kepercayaan? Atau memercayai orang yang tepat?

Hanya ada satu cara terbaik, yaitu jangan pernah menitipkan kepercayaan pada manusia mana pun. Bila tidak tahan, maka bersiaplah… titipkan kepercayaanmu, lantas bersiap untuk sakit hati. Minimal kecewa. Karena itu pasti. Keniscayaan. Jangan lupa, bahwa orang yang paling sering menyakiti kita, adalah orang yang terdekat dengan kita.

Maka, bila kamu memutuskan mempercayai seseorang, bersiaplah untuk mematah-matahkan hatimu, bila suatu hari dia mengecewakan atau mengkhianati kepercayaan yang telah kauberikan. Sebab dia manusia. Tak sempurna. Layaknya dirimu.


Meta morfillah

15 November, 2014

Rasa takut & Interstellar

Akhir-akhir ini, rasa takutku semakin menjadi. Takut akan waktu yang semakin menipis. Takut bahwa waktu yang kuhabiskan selama ini ternyata hanya untuk keegoisanku semata. Kesenanganku saja. Aku bertanya-tanya, apakah waktuku berharga, memiliki harga untuk mereka yang kusayangi. Atau sebenarnya aku hanya menipu diriku sendiri. Waktuku sia-sia, tak memiliki manfaat untuk hidup ini.  
Sebuah film yang kutonton, berjudul interstellar membuatku semakin takut. Film itu menceritakan upaya manusia menaklukkan waktu, demi menyelamatkan orang-orang yang dicintainya. Tapi nyatanya, ia malah mengorbankan orang yang dicintainya. Ia tak mampu menaklukkan waktu. Jadi, sia-siakah pengorbanan atas waktunya selama ini?  
Itulah pertanyaan yang sedang menggodam kepalaku beberapa waktu ini. Kadang, kita tak pernah menyadari betapa tuhan begitu baik merahasiakan waktu kita. Betapa tuhan tak ingin membuat kita risau, dengan menyadarkan kita bahwa waktu yang kita miliki begitu tipis. Satu tarikan nafas saja.  
Untuk beberapa orang yang mengetahui batas waktunya, ia cenderung akan mengisi hidupnya dengan hal-hal serius sebagai bekal. Beberapa mengira, ia kurang menikmati hidup. Tapi, seandainya saja kita tahu sepersepuluh cara menyikapi hidup dengan benar. Mungkin, kita akan jauh lebih serius. Mungkin, kita hanya akan tertawa sedikit. Lebih banyak menangis dan tidak peduli pada luka. Sebab, ada suatu perasaan takut yang maha dahsyat. Menyadarkan kita, bahwa tidak ada apa-apanya diri ini.


Meta morfillah

11 November, 2014

Perempuan dan Kekhawatirannya

Mungkin perempuan tercipta dari kekhawatiran. 

Sering kali merasa khawatir akan hal-hal yang belum terjadi. 

Khawatir dirinya menjadi begitu menyebalkan bagi pasangannya, khawatir tak lagi cukup cantik untuk pasangannya, khawatir dinomorduakan, khawatir pasangannya tak setia, dan kekhawatiran lainnya.
 
Itu sebabnya, perempuan seringkali bertindak preventif.

Semandiri apa pun, sepintar apa pun, semodern apa pun, sebanyak apa pun teman lelaki yang mengubah pola pikirnya, tetap saja ada sekelumit kekhawatiran dalam diri perempuan.

Tapi, berterima kasihlah pada kekhawatiran itu… sebab dengannya, kalian jadi lebih berhati-hati, pun bagi para lelaki.

Bukan bermaksud rumit, perempuan hanya bingung cara menyederhanakan dirinya sendiri.

Mungkin karena itulah, perempuan butuh dibimbing oleh lelaki… sebab ia sendiri khawatir bahwa ia tak mengenal dirinya.


Meta morfillah

05 November, 2014

Ada Kemungkinan



Ada kemungkinan…

Suatu saat, aku akan lebih memilih orang yang mencintaiku, daripada orang yang kucintai. Sebab, aku perempuan. Bagi perempuan, dicintai jauh lebih baik. Jauh lebih tidak menyakitkan dibanding mencintai, namun tidak pernah tahu apakah kamu merasakan hal yang sama.

Suatu keberuntungan, bila kita dapat menikah dengan orang yang kita cintai, yang juga mencintai kita.

Tapi… jika kenyataannya berbeda,

Maka kupastikan bahwa pasti akan ada kemungkinan di mana aku akan berhenti menunggumu untuk mencintaiku. Dan akan pergi meninggalkanmu.

Dan aku akan memilih pilihan kedua, (mencoba) mencintai orang yang aku nikahi, yang jelas-jelas mencintaiku.

Mengapa?

Sebab, mengharapkanmu yang selalu mencari sosok sempurna, tanpa melihatku di sisimu akan membuatku lelah. Kamu seperti mencari cahaya gemintang tanpa mengindahkan senter kecil di tanganmu. Kamu begitu asyik mencari, hingga abai pada sekitar. Kamu meminta menunggu, tapi sampai kapan? Berapa lama? Lalu tiba-tiba, saat waktu tunggumu habis, kamu menyalahkanku, menyalahkan keadaan, menyalahkan ketidaksabaran. Merasa bahwa kamu telah dikhianati, mendapatkan ketaksetiaan karena kamu tak lagi ditunggu.

Tahukah kamu?

Mungkin saja, bukan mereka yang tak setia. Tapi, kamu yang tak pernah memikirkan seberapa pantas kamu untuk ditunggu. Kamu yang tak pernah menghargai waktu mereka yang menunggumu. Betapa waktu mereka yang begitu berharga menjadi habis tanpa hasil, mendekati kesiaan karena kamu yang tak jelas. Masihkah kamu ingin marah? Setelah kamu mencoba melihat dari sisi lain, sisi mereka yang menunggu.

Hidup tak selamanya tentang menunggumu. Mencintaimu. Ada kalanya, kamulah yang harus bergegas, agar mereka tak menunggumu. Agar mereka yang dicintai. Ini bukan perkara kata kerja aktif dan pasif. Kamu merasa hebat, ketika banyak orang yang mencintai dan menunggumu?

Maaf saja, hidup tidak sebercanda itu.

Maka, kupastikan akan ada suatu kemungkinan, sebesar apa pun aku mencintaimu, aku akan lebih memilih orang yang menghargai waktuku.

 
Meta morfillah

Text Widget