Cerita lirik "Sendiri di sini" - Valovadinata
Kini, semua yang t'lah kita lewati
Semua yang kita jalani, tak berarti
Pergi, kau tinggalkanku di sini
Sepi, tanpa kau aku sendiri
Adi menatap hampa rumah yang kosong tanpa istrinya. Tujuh tahun bersama Tari berakhir begitu saja. Tari mendiamkannya dan memilih pergi untuk tak kembali lagi. Berhenti mencintainya.
Terlintas masa saat bersama
Jauh sebelum hening ini ada
Kau sempurna ku dimanja
Tapi kini semuanya sirna
Adi teringat masa lalu saat bersama Tari. Begitu menyenangkannya hidup. Tari adalah sosok istri sempurna baginya. Begitu hangat, pengertian, mendukung, dan memanjakannya. Ia bahkan tak perlu meminta atau khawatir, sebab Tari sudah menyediakan semua kebutuhannya. Kelelahan yang dirasakan dari kantor, sirna bila ia pulang ke rumah. Hatinya damai bersama sang istri. Mereka saling melengkapi. Maka saat Tari tiba-tiba diam, tak bisa diajak berdiskusi, dan berakhir menggugat cerai, Adi terkejut. Apa yang salah?
Sayang, harusnya beri tahu aku
Salahku, kurangku bagimu
Malah begini hanya diam
Tinggalkanku dengan pertanyaan
Adi sungguh tak mengerti apa yang terjadi pada istrinya. Selama ini mereka baik-baik saja, bahkan dipuji sebagai pasangan romantis dan banyak yang ingin seperti mereka. Bagi Adi, lebih baik diberitahu kesalahan atau kekurangannya. Ia tak suka menerka pikiran istrinya. Ia tidak mau disalahkan atas kekeliruannya. Lebih baik diberitahu lalu ia perbaiki, daripada berinisiatif yang mungkin membuat istrinya semakin marah. Tari pun biasanya tidak suka drama, tapi kali ini berbeda. Ia bilang lelah dan hanya ingin diam. Membiarkan Adi dengan pertanyaan dalam benaknya.
Hening yang kini menggema
Tinggalkan semua tanya
Sisa rasa yang tak lagi berarti
Dalam sepi, ku kan terus menanti
Rumah menjadi hening, tapi bukan hening yang damai. Gemanya justru membuat hati nelangsa. Sosok yang menghidupkan jiwa rumah telah tiada. Bahkan cinta yang masih tersisa tidak lagi berarti, sebab tak ada sang puan.
Kini kau pergi, ku tak berarti
Hari-hari sepi, rasaku mati
Ku hanya bisa menerka-nerka
Apa iya, aku tak lagi ada di sana?
Perlahan Adi merasa dirinya tak berarti. Sepi dan rasanya telah mati. Ia kalah dalam pertarungan terbesar hidupnya. Apakah ia kurang berjuang, sehingga sang istri meninggalkannya? Apakah tak ada sedikit pun dirinya dalam hati istrinya kini? Hingga kini ia hanya menerka-nerka apa penyebab perpisahan mereka. Apa yang harus ia sesali dan perbaiki?
***
Sementara di sisi Tari, ia sudah lelah mendukung tanpa didukung. Banyak hal ia korbankan untuk suaminya, tapi saat ia mengutarakan pada suaminya kapan ia butuh dukungan, kadang suaminya menganggap itu rajukan biasa atau tidak dianggap serius. Pada dasarnya ia hanyalah wanita, tidak melulu kuat, dan ingin dimanja, diberi kejutan, diluangkan waktu berdua tanpa ada tanggung jawab domestik dan lainnya. Saat tangki cintanya kosong dan suaminya tidak bisa memenuhinya, meledaklah kekecewaan yang selama ini ia tolerir. Cinta menguap saat qawwamah tak kuat. Butuh dua orang hebat untuk mengusahakan cinta. Tari tak ingin lagi berjuang sendiri.
Meta morfillah