Pages

18 September, 2026

[Review buku] Surat untuk Jenaka


Judul: Surat untuk Jenaka
Penulis: Gigrey
Penerbit: Akad
Dimensi: 456 hal, cetakan ketujuh Juni 2025
ISBN: 9786235953885

Jenaka yang tak pernah mengenal nenek buyutnya sering merasa bingung akan perlakuan istimewa sang buyut terhadapnya. Hingga sebelum Ayut meninggal, ia mewariskan sebuah gelang berlian buatan kakek buyut. Ternyata gelang itu membawa ia ke masa lalu melalui mesin waktu berupa lemari tua di kamar buyutnya. Ia pun bertemu Cantika, nenek buyutnya di tahun 1923 yang tengah terjerat pertunangan dengan lelaki tua bernama Raden Panji. Di sana ia berkenalan dengan Pram, tuan jaksa, dan Jati, kakek buyutnya. Saat Jenaka berusaha menjodohkan Cantika dengan Jati, Raden Panji ditemukan tewas terbunuh. Tersangka utamanya adalah Cantika. Bersama Pram dan Jati, mereka berusaha mengungkap misteri pembunuh sebenarnya dan mengumpulkan bukti agar Cantika bisa bebas. Berhasilkah mereka? Apakah kejadian masa lalu akan mengubah masa depan Jenaka? Bisakah ia kembali ke tahun 2019 dan menjalani hidupnya seperti sedia kala?

Selesai membaca, bisa dipahami betapa seru dan pantasnya buku ini dicetak ulang hingga tujuh kali. Sebab penulis piawai mengolah diksi yang menjadikannya page turner. Tidak terasa lelah dan penasaran terus akan kejadian di halaman selanjutnya. Romansa Jenaka dan Pram terasa pas dan membuat saya merona membayangkan di masa itu. Berbeda sekali dengan zaman sekarang. Juga cara bicara dengan panggilan Nona dan Tuan, entah mengapa membuat lucu dan manis. Twistnya pun membahagiakan, meski saya penasaran bagaimana cara Pram datang? Tidak sabar ingin meminjam buku keduanya: Kembali ke batavia.

Sayangnya, beberapa kali saya menemukan ada PUEBI atau human error yang terasa seperti tidak disunting. Masih naskah mentah. Sebab cukup mengganggu alur dan kenyamanan membaca meski minor. Semoga menjadi masukan agar cetakan selanjutnya lebih diperhatikan.

Cocok dibaca bagi yang suka fiksi tema time travel, misteri, hukum, dan romansa.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

Meta morfillah

#bookstagram #oneweekonebook #ulasbukuberjalan #jalaninbukumu #reviewbuku

16 September, 2026

[Review buku] The running grave


Judul: The running grave
Penulis: Robert Galbraith
Penerbit: GPU
Dimensi: 1032 hal, cetakan pertama 2025
ISBN: 9786020682112

Strike diminta mengeluarkan Will, anak orang kaya yang mengikuti sebuah sekte sesat. Dari luar, Gereja Humanitarian Universal (GHU) tampak normal, namun orangtua Will mengendus adanya hal-hal janggal. Mulai dari penampilan Will yang tidak sehat, belum lagi banyaknya penarikan dana perwalian dan tidak bolehnya interaksi Will dengan keluarga. Mantan anggota GHU yang berhasil keluar mengungkapkan beragam kekejian namun tidak ada bukti dan ia pun kalah secara hukum. Demi misi itu, Robin menyamar menjadi jemaat GHU dan mengumpulkan beragam bukti yang memberatkan GHU agar bisa ditumpas hingga ke akar. Sayangnya, indoktrinasi yang kuat, teror mental, serta pencucian otak yang tersistem membuat Robin mulai goyah. Akankah mereka berhasil menyelamatkan Will dan melawan GHU secara hukum? Apa saja kejahatan yang dilakukan GHU?

Dibanding 6 seri sebelumnya, bagi saya buku ketujuh ini pas semuanya. Meski tebalnya makin makin dan mengalahkan Harry Potter, tapi tidak ada kalimat yang membosankan. Semua jelas dan menjelaskan foreshadowing. Ditambah kemajuan hubungan Robin dan Strike dengan pengakuan Strike setelah Charlotte tiada. Akhirnya... Itu yang paling ditunggu pembaca dan mungkin akan jadi ending buku juga. 

Sampai seri berapa kira-kira Strike-Robin ini dibuat oleh penulis? Pastinya akan ada buku kedelapan sebab endingnya menggantung pada sikap Robin. Apakah tebal bukunya akan lebih lagi atau kembali normal? Oh ya, hati-hati bagi yang tak suka LGBTQ, pedofil, dan kejahatan menjijikkan lainnya, sebab deskripsinya cukup detail, agak trigger dan kurang nyaman. Yang seharusnya suci (gereja, orang saleh) malah jadi pusat kekejian macam Epstein.

Cocok dibaca bagi yang suka duet Strike-Robin, fiksi CTM, sekte sesat.

Saya apresiasi 5 dari 5 bintang.

Meta morfillah

#bookstagram #oneweekonebook #ulasbukuberjalan #jalaninbukumu #reviewbuku

09 September, 2026

[Review buku] It's in his kiss

Judul: It's in his kiss
Penulis: Julia Quinn
Penerbit: GPU
Dimensi: 440 hal, cetakan pertama Oktober 2010, edisi digital ipusnas/ijak
ISBN: 9786020608082

Hyacinth masuk ke tahun ketiga debutnya, namun lamaran yang datang kian menurun hingga tidak ada tahun ini. Tentu ia sangat ingin menikah, namun kecerdasan dan sikapnya yang begitu percaya diri dan nyaman dengan diri sendiri membuat para lelaki tidak yakin menjadikannya istri. Sementara itu, Gareth St. Clair yang terkenal dengan ketidakseriusannya dan tidak pernah mendekati wanita baik-baik kerap muncul sebagai cucu kesayangan yang baik Lady Danbury. Rutinitas membaca buku di Selasa siang mempertemukan Hyacinth dan Gareth. Terlebih saat mereka berdua mencoba memecahkan teka-teki yang ada di surat Isabella, nenek Gareth dari pihak ayahnya, yang berbahasa Italia. Mereka ternyata cukup kompak dan saling melengkapi. Akankah mereka bersatu dalam pernikahan?

Waah, sampai juga di romansa cewek bungsu Bridgerton ini. Di mana sekitarnya mulai menua dan sedikit tokoh yang kukenal dari kisah-kisah sebelumnya. Sebab rumah mulai sepi dan semua sibuk dengan keluarganya. Meski begitu, jangan ragukan hubungan keluarga mereka. Tetap so sweet. Saling menjaga, peduli, dan memandang positif tiap orang dengan kekhasannya.

Mengikuti serial ini, saya merasa seiring perkembangan waktu dari Daphne yang pertama menikah hingga Hyacinth, pergeseran nilai malu mulai terasa. Bisa dibilang kali ini banyak sekali adegan dewasa dan terlarang sebelum menikah. Mungkin penulis juga menyesuaikan dengan zaman dan nilai yang luntur di sana. Bagi yang membaca series ini dari awal pasti tahu betapa membingungkannya hubungan suami istri bagi para wanita dan kikuknya ibu mereka menjelaskan. Di Hyacinth, ada sedikit tapi dia belajar langsung lewat lelaki, bukan cerita atau ibu.

Cocok dibaca bagi yang suka historical romance terutama anak terakhir Bridgerton (Hyacinth).

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

Meta morfillah

#bookstagram #oneweekonebook #ulasbukuberjalan #jalaninbukumu #reviewbuku

08 September, 2026

[Review buku] The blanket cats


Judul: The blanket cats
Penulis: Kiyoshi Shigematsu
Penerbit: Pastel books
Dimensi: 320 hal, cetakan pertama Mei 2026
ISBN: 9786235866550

Buku ini berisi tujuh kisah berbeda antara penyewa kucing dan kucing yang disewa. Berlatar belakang Tokyo, terdapat sebuah toko penyewaan kucing bernama The Blanket Cats, sebab tiap kucing memiliki selimut khusus yang harus disertakan saat dipinjam dan dikembalikan. Hal itu dimaksudkan agar para kucing nyaman saat tidur ditemani selimut yang selalu ada, meski tempat dan majikannya berganti-ganti. Maksimal peminjaman 3 hari dengan aturan khusus seperti makanan yang diberikan harus dari toko, tidak sembarangan.

Awal tertarik meminjam buku ini sebab covernya yang menarik. Rasanya seperti heartwarming, ditambah pernyataan International best seller. Namun setelah membaca, saya tidak dapat kesan heartwarming itu. Bahkan semuanya datar dan tidak berkesan. Mengecewakan. Entah memang gaya penulisan aslinya seperti ini, atau terjemahannya yang membuat saya tidak menangkap hal esensial dari tiap kisah. Endingnya gantung dan terbuka sehingga bisa diinterpretasikan bebas oleh pembaca. Sempat saya berharap ada penjelasan dari manajer tokoh atau sudut pandang si kucing dengan misi rahasia. Ternyata tidak.

Cocok dibaca bagi yang suka fiksi slice of life bertemakan kucing.

Saya apresiasi 3 dari 5 bintang.

Meta morfillah

#bookstagram #oneweekonebook #ulasbukuberjalan #jalaninbukumu #reviewbuku 

07 September, 2026

[Review buku] Randu


Judul: Randu
Penulis: Evelyn Fania
Penerbit: Haru
Dimensi: 136 hal, cetakan pertama Juni 2026
ISBN: 9786235467467

Arjanti terpaksa kembali ke rumah neneknya di desa sebab utang suaminya, Irwan, yang banyak membuat mereka dikejar rentenir. Padahal ia tengah hamil tua dan sebuah mitos puluhan tahun di desanya meyakini bahwa wanita hamil harus keluar dari desa. Bila itu tidak dilakukan, maka ia akan keguguran sebab ada setan pemakan bayi berwujud nenek-nenek berjarik merah akibat darah. Hingga ditemukan puluhan tengkorak bayi di bawah pohon randu di depan rumah neneknya. Benarkah mitos itu? Berhasilkah Arjanti melewati persalinannya dan memastikan bayinya hidup? Adakah rahasia yang tersembunyi di desa neneknya itu?

Alurnya dari awal sudah mencekam dan page turner bagiku. Meski dikisahkan dari banyak PoV (Arjanti, Clara, Irwan, Ayu, dan Widarí) tapi semua saling melengkapi. Masing-masing tokoh memiliki perjuangan dan kisah kelamnya. Tanpa direncanakan, ulah mereka seperti sebuah teror yang dilakukan satu orang dan penegas mitos. Padahal manusia dengan penyakit di hatinya jauh lebih menyeramkan daripada setan. Itulah insight yang saya dapatkan selesai membaca novel ini.

Apalagi pernyataan Arjanti tentang dirinya sebagai istri yang tidak beda dengan hewan tunggangan (hal. 21) membuat saya sedih. Semoga tidak banyak perempuan Indonesia yang berpikir membenarkan stereotipe seperti itu. Diri perempuan itu berharga apalagi saat ia berperan sebagai istri dan ibu. Tokoh Irwan yang red flag ini menyebalkan sekali. Harusnya dia saja yang mati, bukan anaknya!

Cocok dibaca bagi yang suka fiksi iyamisu (eksplorasi sisi kelam manusia) dikaitkan dengan mitos setempat.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

Meta morfillah

#bookstagram #oneweekonebook #ulasbukuberjalan #jalaninbukumu #reviewbuku


05 September, 2026

[Review buku] Jika kucing lenyap dari dunia


Judul: Jika kucing lenyap dari dunia
Penulis: Genki Kawamura
Penerbit: Baca
Dimensi: 258 hal, cetakan XI November  2025
ISBN: 9786026486431

Aku--seorang lelaki berusia 30 tahunan yang bekerja sebagai tukang pos dan tidak memiliki banyak teman--divonis kanker otak stadium akhir. Apa yang harus aku lakukan menjelang kematianku? Saat kebingungan, muncul Iblis yang berwujud dirinya dalam kebalikan, memakai kaus Aloha yang ceria. Iblis menawarkan perjanjian untuk memperpanjang usianya dengan syarat menghilangkan sebuah benda yang dia sayangi setiap harinya. Maukah ia menerima perjanjian itu? Berapa lama dan berapa benda yang akan dihilangkan? Benda apa sajakah yang akan ia pilih?

Novel ini termasuk kategori novel refleksi ringan dari bahasa dan cerita namun memiliki makna dalam dan berat bagiku. Awalnya terasa biasa saja, keseharian yang digambarkan mengenai tokoh Aku rasanya relate dan relevan dengan kehidupan banyak orang. Namun mulai menjadi pertanyaan tentang bagaiman kita menjalani hidup ini, apakah sudah benar-benar baik? Ataukah itu hanya dari sudut pandang kita sendiri?

Kembali pada makna keluarga dan hidup itu sendiri yang menjadi berharga saat kita tahu akan berakhir dengan segera. Dibagi menjadi per hari dengan tiap benda serta dampak dari pemusnahannya di dunia, kukira akan langsung menuju pada lenyapnya kucing di dunia seperti judulnya. Ternyata tidak. Malah, melalui sang kucing, tokoh Aku menemukan lagi kisah lama yang terkubur dalam ingatan dan membuatnya menyadari beberapa hal.

Endingnya, aku tak menyangka aku menangis di bagian surat pendek dari sang ibu. Pantas saja, buku ini sampai cetak ulang berkali-kali sebab memang bagus. Namun tidak kuberi rating sempurna sebab awalan rasanya memang biasa saja, terjemahannya beberapa kali kuràng nyaman/membingungkan, serta endingnya antiklimaks terbuka. Jadi tidak tahu bagaimana akhirnya, apakah tokoh Aku berhasil memperbaiki hubungan dengan ayahnya? Berapa lama waktu yang dimiliki hingga ia mati?

Cocok dibaca bagi yang suka fiksi ringan dan reflektif tentang makna hidup serta keluarga.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

Meta morfillah

#bookstagram #oneweekonebook #ulasbukuberjalan #jalaninbukumu #reviewbuku

[Review buku] To Sir Phillip with love


Judul: To Sir Phillip with love
Penulis: Julia Quinn
Penerbit: GPU
Dimensi: 448 hal, cetakan pertama 2010
ISBN: 9789792259070

Berawal dari korespondensi ucapan duka Eloise terhadap kematian Marina, istri Phillip, mereka merasa nyaman bercerita melalui surat. Hingga tak terasa setahun berlalu, membuat Phillip berani meminta Eloise datang ke Romney Hall, rumahnya, untuk prospek menikah dan menjadi ibu kedua anak kembarnya. Eloise yang tengah galau dengan pilihan hidupnya menjadi perawan tua di usia 28 tahun, menganggap undangan serta lamaran itu sebagai sebuah kesempatan. Ia kabur di tengah pesta dansa tanpa memberitahu keluarganya dan membawa pendamping. Akankah kisah ini berakhir baik atau malah menghancurkan reputasinya sebagai keluarga bangsawan Bridgerton?

Berawal dari 4 season seriesnya yang memanjakan mata saya dengan setting lampau kerajaan dan baju-baju princess, ternyata saya suka karakter keluarga Bridgerton yang cukup berbeda nilai pada zamannya. Terutama karakter Eloise, seorang wanita cerdas, gemar baca buku, tak mau tunduk pada aturan yang merendahkan wanita, keras kepala, kuat kemauan, oh sounds familiar! Itulah yang membuat saya membaca buku ini. Kedekatan karakter Eloise membuat saya penasaran pada kisah romansanya. Bisakah ia menemukan cinta yang setara dan menghargainya? 

Bersyukur pula bahwa saya menonton filmnya duluan, sehingga memudahkan saya membayangkan gesture dan wajah Eloise, Phillip, Marina, dan keluarga Bridgerton lainnya. Sepanjang membaca, ekspresi saya berubah-ubah dan seperti sedang menonton filmnya. Saya terharu dengan protektifnya 4 lelaki Bridgerton yang melindungi saudarinya. Kekeluargaan yang berisik, kacau, tapi saling memahami dan melindungi, selalu ada untukmu. I love Bridgerton!

Cocok dibaca bagi yang suka historical romance bersetting kerajaan di London dan penasaran kisah anak kelima Bridgerton (Eloise).

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

Meta morfillah

#bookstagram #oneweekonebook #ulasbukuberjalan #jalaninbukumu #reviewbuku

30 August, 2026

[Review buku] The silent patient


Judul: The silent patient
Penulis: Alex Michaelides
Penerbit: GPU
Dimensi: 400 hal, cetakan pertama 2019
ISBN: 9786020633909

Alicia Berenson ditemukan dalam keadaan berdua dengan Gabriel, suaminya di rumah. Senjata api di lantai, sementara Gabriel terikat di kursi dan wajahnya hancur oleh 5 tembakan. Tidak ada saksi, dan Alicia membisu. Ia tidak membela diri ketika ditahan, disidang, hingga dinyatakan mengalami gangguan mental. Satu-satunya hal yang ia tinggalkan selain suaranya, adalah sebuah lukisan potret dirinya dengan judul Alcestis. Kisah tragedi Yunani tentang istri yang mengorbankan diri demi suaminya, lalu hidup kembali dan membisu selamanya. Apa maksud lukisan itu? Benarkah Alicia yang membunuh Gabriel, padahal mereka pasangan bahagia yang saling mencintai? Adakah cara membuat Alicia bicara kembali dan bercerita tentang malam pembunuhan itu?

Buku ini sempat beredar sebab review bookstagram yang kuikuti dan hampir semuanya menyatakan kesal. Akhirnya aku mengerti mengapa mereka kesal haha. Sebab plot twist yang dimainkan seorang psikoterapis bernama Theo Faber. Alur maju mundur adalah kunci memahami misteri serta motif sebenarnya. Bila tidak bersabar akan detail yang dipaparkan, pastinya cerita ini akan terasa membosankan. Tapi saya justru tertarik dengan istilah psikoterapis dan praktiknya yang menyerap emosi pasien dan memantulkannya seperti cermin. Juga cara menggali masa kecil serta dampak besar dalam kehidupan pernikahan seseorang. Justru banyak belajar tentang kesehatan mental (lagi-lagi!) di fiksi ini.

Cocok dibaca bagi yang suka fiksi genre CTM, psikoterapis, dan kaitan masa kecil dengan kehidupan pernikahan.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

Meta morfillah

#bookstagram #oneweekonebook #ulasbukuberjalan #jalaninbukumu #reviewbuku

26 August, 2026

[Review buku] Petaka keluarga Inugami


Judul: Petaka keluarga Inugami
Penulis: Seishi Yokomizo
Penerbit: GPU
Dimensi: 376 hal, cetakan pertama 2024
ISBN: 9786020677866

Pada tahun 1940an, Sahei, pemimpin keluarga Inugami meninggal di usia 80 tahun dan berwasiat. Isi wasiat itu sungguh aneh dan membuat keluarga kaya raya namun miskin cinta itu makin dendam dan tidak harmonis. Kosuke Kindaichi yang awalnya tidak menanggapi serius surat kliennya terkait wasiat Sahei itu, akhirnya terlibat sebab kematian tidak wajar klien yang belum sempat ditemuinya. Semakin ia mengenali anggota keluarga Inugami, semakin ia menemukan banyak rahasia gelap, kejam, dan ketidakjelasan identitas yang membuat terjadinya 4 pembunuhan. Siapa pelakunya? Apa motifnya? Bagaimana caranya? Adakah kaitannya dengan masa lalu Sahei dan keluarga Nonomiya?

Menarik, bila dibayangkan latar tahun 1940 saat Perang Dunia melanda sehingga kejadian pertukaran identitas lumrah. Namun mengejutkan bila isu LGBT yang diangkat bahkan menjijikkan bagi saya membayangkan Daini dan istrinya menjalankan praktik terkutuk itu dengan tetap berperan sebagai rohaniwan (penjaga kuil). Tak heran bila hasil perbuatan itu bagai kutukan tak berujung hingga generasi anak cucu. Duh, bahaya zina dan LGBT!

Secara alur dan penokohan, saya selalu suka Kindaichi, meski di buku ini tentang Kakeknya Hajime Kindaichi yang di komik. Sehingga latarnya tentu jauh lebih klasik dibanding komiknya. Saya hanya berpikir, isu LGBT di zaman itu yang begitu ditutupi, sekarang malah mau dilegalkan dan terang-terangan. Betapa beda zaman makin menggerus nilai hidup dan budaya malu ya.

Cocok dibaca bagi yang suka fiksi genre CTM dan penggemar tokoh Kosuke Kindaichi.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

Meta morfillah

#bookstagram #oneweekonebook #ulasbukuberjalan #jalaninbukumu #reviewbuku

25 August, 2026

[Review buku] Yang telah lama pergi


Judul: Yang telah lama pergi
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Sabakgrip
Dimensi: 444 hal, cetakan pertama l
ISBN: 9786238829606

Mas'ud adalah ahli pembuat peta (kartografer) di abad 13. Secara turun temurun, bakat itu terwarisi pada anak lelaki di keluarganya. Setelah ayahnya meninggal, Mas'ud bertanggung jawab menyelesaikan peta pulau Swarnadipa (Sumatra), meski harus meninggalkan istrinya yang hamil tua. Dalam perjalanannya, ia terjebak di kapal Remasut, Raja Perompak. Tidak hanya itu, ia pun terlibat dalam misi besar melawan Kerajaan Sriwijaya. Bersama Biksu Tsing, Pembayun, Emishi, Ajwad, serta persatuan perompak, mereka berusaha membalas dendam dan mengembalikan hak-hak rakyat yang dirampas oknum kerajaan. Berhasilkah mereka? Akankah hal-hal baik yang telah lama pergi bisa kembali seperti dulu?

Jangan berekspektasi dari judul ya. Kesannya akan berkisah tentang romansa pria dan wanita, tapi nyatanya novel ini adalah sindiran khas penulis terhadap keadaan negeri tercinta. Meski latar waktunya abad 13, komoditas yang disebut rempah, tapi narasinya sungguh mirip dengan keadaan Pulau Sumatra yang terkena bencana di 2026 ini akibat konsesi lahan. Bahkan di halaman 434 penulis sampai menuliskan nama tokoh yang membuat kita geram haha (geser slide).

So far, buku ini begitu seru dengan aksi dan cerita lebay khas bajak laut. Di awal rasanya kayak adegan film one piece ketika Luffy mengumpulkan timnya. Hanya saja memang di akhir agak antiklimaks sebab penulis berusaha menyadarkan realita oknum akan terus ada hingga kiamat. Mas'ud sendiri meski menjadi PoV utama, nyatanya perannya tidaklah utama. Justru Remasut titik utamanya.

Cocok dibaca bagi yang suka fiksi genre petualangan, sedikit historis, dan penggemar Tere Liye.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

Meta morfillah

#bookstagram #oneweekonebook #ulasbukuberjalan #jalaninbukumu #reviewbuku

Text Widget