Judul: Kemarau di Sedanau
Penulis: Asroruddin Zoechni
Penerbit: Bhuana sastra
Dimensi: 317 hal, cetakan 2023, edisi digital ipusnas
ISBN: 9786230416484
Salman, remaja asal Sedanau, Natuna bercita-cita menjadi dokter. Meski kerap diremehkan sebab keluarganya yang miskin (ayah nelayan, ibu pedagang), ia tetap melaju dengan mimpinya sebab didukung 100% oleh doa orangtuanya. Perjuangan mendapatkan beasiswa dari PEMDA, konflik dengan Abrar untuk memenangkan beasiswa serta Hamidah, kehilangan ayah, ibu, serta kekasih hati yang berujung PTSD membuat jalan Salman menggapai gelar dokter tidak mudah. Belum lagi mencari uang untuk bertahan hidup dan belajar keras. Semua itu tidak seringan yang ia kira. Berhasillah ia memenuhi mimpinya?
Mengikuti kisah Salman membuat saya terharu biru dan terbayang betapa sulitnya menjadi dokter. Butuh usaha keras, kemauan baja, uang banyak, dan keyakinan kuat pada Allah. Jika tidak ada itu semua, rasanya mudah sekali menyerah. Belum lagi kisah ini mengambil latar di daerah yang cukup jauh di mana keinginan belajar itu masih belum tinggi sebab kesulitan hidup untuk bertahan sehari-hari. Di awal saya sempat merasa seperti membaca gaya penulisan Andrea Hirata dan Ahmad Fuadi. Tapi saat di akhir, terasa berbeda memang. Terlebih saya menyayangkan mengapa tidak ada penyelesaian jelas antara Salman dan Hamidah. Bisa sih dibuat bahan sekuel. Tapi kesal karena prolognya itu, tapi endingnya gantung. Ada missed 2016 putus dengan Raisa, 2019 ketemu Hamidah melahirkan.
Cocok dibaca bagi yang suka novel inspiratif dan detail perjalanan jadi dokter.
Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.
Meta Morfillah
#bookstagram #oneweekonebook #kubusetengahtujuh #resensibuku #reviewbuku