Judul: Natisha
Penulis: Khrisna Pabichara
Penerbit: Javanica
Dimensi: 423 hal, cetakan pertama Mei 2016
ISBN: 9786026799128
Maret 1998, saat Indonesia krisis moneter, Tutu juga mengalami krisis dalam hidupnya. Calon mempelainya, Natisha, diguna-guna dan diculik sahabatnya sendiri, Rangka, yang menganut ilmu parakang. Sebuah ilmu hitam kuno yang membuat penganutnya bisa menghilang, kebal senjata, kaya dan awet muda. Untuk menyempurnakan ilmu itu, Rangka membutuhkan 4 perempuan: 2 pernah melahirkan (kedua istrinya) dan 2 masih perawan (Natisha dan Laila yang ia culik). Tabiat perempuan itu pun harus sesuai 4 unsur alam: air, tanah, api, dan angin. Keistimewaan darah leluhur Tutu dan kelahirannya yang sungsang membuat ia mendapat penglihatan serta bisa memecahkan kode rahasia di lontarak kuno. Ia berpacu dengan waktu, terutama setelah 2 mayat istri Rangka ditemukan. Apakah Natisha selanjutnya? Bisakah Tutu menyelamatkan dan menikahi Natisha?
Awal membaca butuh waktu lama bagiku larut dan memahami konteks. Sebab alurnya maju mundur dan tidak langsung ke titik masalah bahwa Natisha diculik, tapi malah dikabarkan silariang (kawin lari). Apalagi yang banyak dibahas justru kenangan Tutu dan Rangka, porsi Natisha sedikit sekali. Membuat saya bingung mengapa yang menjadi judul malah ga dibahas detail? Baru saat jelas tujuan Rangka untuk ritual Parakang, cerita menjadi menarik. Sejarah serta budaya seperti perbedaan kelas Karaeng, Daeng, dan Aga membuat saya jadi paham betapa istimewanya pernikahan Tutu-Natisha. Banyak hal yang baru saya pahami tentang budaya di Sulawesi. Menariknya pula, naskah ini butuh 11 tahun menjadi buku dan 2 bulan untuk diterbitkan setelah dibaweli istri penulis hehe.
Cocok dibaca bagi yang suka fiksi genre CTM khas Nusantara, khususnya budaya dan tradisi Sulawei.
Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.
Meta morfillah
#bookstagram #oneweekonebook #ulasbukuberjalan #jalaninbukumu #reviewbuku



