Judul: I want to die but i want to eat tteokpokki
Penulis: Baek Se Hee
Penerbit: Haru
Dimensi: 236 hal, cetakan kedua puluh tujuh Februari 2023, edisi digital RBK
ISBN: 9786237351030
Kadang kita merasa ingin mati, lalu saat mendengarkan suara hati, kita ingin makan tteokpokki. Suatu gambaran kontras akan beratnya hidup namun tetap bisa dinikmati dengan kebahagiaan kecil. Juga menggambarkan rumitnya perasaan orang yang depresi. Di hari-hari yang gelap, ia berusaha mencari motivasi hidup sesaat lagi dengan hal yang terlihat remeh. Padahal itu upaya besar agar tidak kehilangan ketertarikan yang normal pada aktivitas sehari-hari, mencegah produktivitas berkurang dan meminimalisir perasaan tidak layak.
Begitulah isi buku ini yang ditulis seperti dialog antara psikiater dengan pasiennya. Pembaca dibuat serasa sedang pergi ke psikiater sungguhan. Buku yang memperlihatkan interaksi antara psikiater yang tidak sempurna dengan seorang pasien yang juga tidak sempurna. Namun, ini sama-sama membuat mereka bertumbuh. Karena pada akhirnya, tujuan manusia bukanlah menjadi sempurna, melainkan menjadi semakin baik dan bertumbuh.
Saya baca versi digital dan secara look sangat manis. Warna² pastel yang lembut serta highlight di beberapa tulisan membuat kita mudah menangkap pesan penulis. Namun beberapa terjemahan memang agak kaku dan terasa kurang di bagian kesimpulan. Ada buku keduanya, apakah di buku itu baru terselesaikan dengan apik? Saat membaca ini, saya pun sedang berjuang dan berobat ke psikiater untuk depresi. Jadi saya merasa dipahami dan memahami diri sendiri sejak membaca kata pengantar buku ini oleh dr. Jiemi.
Cocok untuk yang ingin memahami atau sedang depresi/dystimia/cemas, gambaran ke psikiater, dan self improvement.
Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.
Meta Morfillah
#bookstagram #oneweekonebook #ulasbukuberjalan #jalaninbukumu #reviewbuku