*MANUSIA DAN NARASINYA*
*Meta morfillah*
Dalam hidup, saat menemukan orang yang tidak menyenangkan, seringkali kita langsung menempatkan orang itu sebagai karakter jahat dalam narasi kita. Sebab ia mengganggu alur hidup yang seharusnya menyenangkan menjadi ada sandungan ketidakbahagiaan. Contohnya seperti karyawan yang ingin pulang tepat waktu sebab ada janji dengan kekasih, namun tiba-tiba bosnya meminta tolong untuk lembur dadakan. Bisa dibayangkan, si bos langsung jadi antagonis dalam narasi hidup karyawan itu. Penyebab karyawan itu gagal memenuhi janji. Fokus kita adalah narasi hidup sang karyawan.
Pernahkah kita berpikir bahwa dalam narasi sebaliknya, bisa jadi kitalah yang menjadi orang jahatnya? Tanpa sadar atau memang kita sadari. Contohnya seperti dalam buku Harry Potter, dari judulnya saja kita tahu akan fokus pada narasi hidup siapa. Tentu ke Harry Potter. Selama 5 edisi buku kita menganggap Snape adalah tokoh jahatnya selama ini. Hingga menjelang _ending_ terbukalah rahasia mengharukan tentang hidup Snape, di mana ia begitu melindungi Harry Potter demi cintanya pada ibu Harry. Padahal bisa saja ia memilih jahat sebab kelakuan ayah Harry yang merundungnya. Terkejutlah pembaca dengan karakter Snape sebagai villain, dan melihat narasi lain dari hidupnya.
Lalu bagaimana bila dalam narasi hidup orang lain, kita adalah penjahatnya?
Bagaimana bila selama ini kita berburuk sangka pada Allah, padahal narasi sebenarnya adalah sebab kesalahan kita?
Bukankah sering kita mudah kecewa dan menyalahkan Allah atas hal yang kita pinta tapi belum terwujud jua?
Beruntunglah Allah Maha Baik dengan menyediakan *penghapus* untuk memperbaiki narasi hidup kita, yakni *istighfar.*
Untuk semua kelalaian kita yang disengaja maupun tidak, kezaliman akibat kebodohan kita sendiri, serta kefaqiran sebab keterbatasan diri, Allah memberikan jalan keluar sebagaimana dalam Q. S. Nuh ayat 10-12:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا﴿١٠﴾يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا﴿١١﴾وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا
_“Maka aku katakan kepada mereka, *‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu’,* sesunguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai”._
Narasi hidup kita yang sebelumnya banyak menjadi tokoh jahat bagi hidup orang lain, kita hapus perlahan dengan istighfar. Tentu selain lisan, diiringi perbuatan. Hal pertama menyadari bahwa kita pasti memiliki salah, lalu meminta maaf dan memaafkan mereka yang salah dalam narasi hidup kita hari ini adalah cara kita membuat narasi hidup yang lebih baik. Memang kita adalah tokoh utama dalam narasi kita, namun janganlah jadi tokoh utama yang diharapkan segera mencapai _ending_ sebab banyak merusak narasi hidup orang lain. Buatlah _ending_ terbaik untuk narasi hidup kita dengan banyak bertaubat dan beristighfar. Bukan merasa si paling, sebagaimana Iblis yang kita tahu _ending_ narasi hidupnya nanti.