Pages

16 February, 2026

[Review buku] A wedding come true

Judul: A wedding come true
Penulis: Ika Vihara
Penerbit: Elex Media Komputindo
Dimensi: 27 bab epub, cetakan pertama 2020, edisi digital RBK
ISBN: 9786230015960

Alesha mendapat gelar 2 doktor di bidang kesehatan mental dan berjuang melawan depresinya sendiri. Namun saat Mama Silvia--orangtua Elmar, mantan sahabat dan pacarnya yang telah menikah dan memiliki anak dengan wanita lain--memintanya menikah dengan Elmar sebelum meninggal, ia mengiyakan dengan mudah. Lima tahun memutuskan hubungan dengan Elmar, salah satu penyebab depresinya, seperti sia-sia sebab ia kembali jatuh cinta pada orang yang sama. Bedanya, Elmar telah memiliki Kaisla, anak perempuan cantik sepeninggal wafatnya Jossie. Satu-satunya lelaki yang ia cintai dari dulu hingga saat ini, bukanlah lelaki yang sama. Bisakah Alesha membuat Elmar mencintainya lagi dan menjalankan pernikahan seperti ayah ibu serta mertuanya yang harmonis?

Di antara kisah keluarga Karlsson, kisah Elmar ini begitu biasa dari sisi romansa. Masih lebih menarik kisah adik-adiknya. Namun, dari sisi pembelajaran pernikahan, novel ini tetap menarik. Isu bunuh diri, depresi, dan kesehatan mental yang menjadi bidang pekerjaan Alesha membantu kita memahami sudut pandang penderita dan bagaimana cara menemani orang yang sedang mengalami itu semua. Apalagi terkait trauma anak kecil yang menjadi saksi bunuh diri ibunya, serta kesiapan seorang wanita menjadi ibu. Romansa yang dibangun tentu saja dewasa dan cukup serius sebab percintaan Alesha dan Elmar mewakili karakter keduanya di usia yang sudah matang dan cerdas.

Cocok dibaca bagi yang suka romance rumah tangga dan kisah keluarga Karlsson.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

Meta Morfillah

#bookstagram #oneweekonebook #kubusetengahtujuh #resensibuku #reviewbuku

15 February, 2026

REFLEKSI AL INSYIRAH AYAT 7: SINGLE TASKING DAN MINDFULNESS AGAR OTAK TIDAK LELAH

REFLEKSI AL INSYIRAH AYAT 7: SINGLE TASKING DAN MINDFULNESS AGAR OTAK TIDAK LELAH

Meta morfillah

Dalam podcast bersama Rory Asyari, Dr. Rizki Edmi Edison (Apllied Cognitive Neuroscientist) menjelaskan bahwa multitasking itu mitos. Kebenarannya adalah otak dipaksa pindah fokus secara cepat (rapid switching) dan itulah yang menyebabkan otak kita terasa lelah atau lemot meski sedang tidak bekerja berat. Sebab perpindahan itu membutuhkan glukosa dan protein. 

Maka solusi untuk mengurangi kelelahan otak itu adalah lakukan single tasking. Fokus melakukan sesuatu selama 20 menit tanpa distraksi, lalu bangun dan bergerak 5 menit. Berdiri itu penting untuk mengaktifkan aliran darah dari kaki ke jantung. Makanya betis sering dibilang "jantung kedua" kita. Jangan malah scrolling media sosial, sebab itu bukan istirahat melainkan pindah kerjaan. Kembali ke konsep awal tadi, saat melihat media sosial, otak kita dipaksa mencerna banyak informasi dalam waktu pendek. Dan itu melelahkan.

Dari pernyataan itu, saya terngiang Q. S. Al Insyirah ayat 7.

Dari tafsir ringkas Kementerian Agama RI:
فَإِذَا فَرَغْتَ فَٱنصَبْ
Artinya: Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain

Maka apabila engkau telah selesai dari suatu urusan, tetaplah bekerja keras untuk urusan yang lain. Bila engkau menyelesaikan suatu urusan dunia atau berdakwah, bergegaslah bersimpuh di hadapan tuhanmu. Begitu engkau selesai beribadah, bersungguh-sungguhlah dalam ber'doa. Demikian seterusnya.

Saat saya resapi, ayat ini justru berbicara tentang single tasking dan mindfulness dalam segala urusan kita. Kerjakanlah suatu urusan, bersungguh-sungguhlah di dalamnya, lalu saat selesai, baru beralih ke urusan lainnya. Lagi-lagi, saya takjub akan ayatNya yang sudah memberikan pedoman hidup tapi seringkali kita tak pandai menafsirkannya. Bedanya saya dengan salafus shalih, mereka langsung sami'na wa atho'na, menjalankan perintah Allah dengan keyakinan. Sementara saya masih mencari dalil penelitian yang menguatkan dan kadang baru yakin setelah ada sains pendukung atau istilah keren. Astaghfirullah.

Dan dari tafsir ayat itu pula, kita diminta tidak berhenti mengisi waktu dengan ibadah. Yang paling dianjurkan justru berdzikir atau muhasabah. Selaras dengan perkataan Dr. Edmi bahwa "Kesehatan otak dimulai dari kemampuanmu untuk tidak tahu segala hal."

Beliau justru menganjurkan untuk refleksi, membaca buku, atau bengong saja. Agar otak kita fokus pada satu kegiatan dan menikmati jalannya waktu. Dan dalam konsep Islam, berdzikir dan bermuhasabah bernilai besar bahkan berganjar surga, meski terlihat seperti tidak ngapa-ngapain. Dunia tidak akan kiamat saat kita tidak scrolling media sosial 1 jam. Hidup kita tetap baik-baik saja meski ketinggalan berita. Betapa beruntungnya kita menikmati Islam yang bila kita tadabburi semakin dalam, semakin kita temukan petunjuk benderang menjalani hidup di dunia dengan bahagia dan sehat mental.

[Review buku] Untuk Indonesia yang kuat: 100 langkah untuk tidak miskin

Judul: Untuk Indonesia yang kuat: 100 langkah untuk tidak miskin
Penulis: Ligwina Hananto
Penerbit: Literati
Dimensi: 240 hal, cetakan pertama 2010
ISBN: 9786028740135

Buku ini ditulis tahun 2010, namun rasanya masih relate untuk diaplikasikan di 2026. Meski angka dan data berubah, tapi konsepnya sama. Berawal dari krisis 1998 dan 2008 yang membuka mata bahwa golongan menengah di Indonesia adalah golongan penggerak roda ekonomi. Mereka pula yang terdampak lebih keras terhadap krisis atau inflasi. Lalu siapa yang dimaksud golongan menengah? Dijelaskan dalam bab 2 buku ini.

Saya pribadi merasa masuk ke dalam golongan ini, meski belum tough secara penghasilan tapi dalam literasi keuangan dan langkah perencanaan keuangan keluarga yang saya pegang, saya melakukan hal-hal yang disarankan penulis di buku ini. Bab paling mencerahkan bagi saya adalah bab 3 yang membahas tentang menabung saja tidak cukup. Ada pembahasan tentang simulasi dana pendidikan dan dana pensiun yang dipisahkan menurut tujuan keuangan dan waktu yang ternyata amat berpengaruh. Jadi insight utamanya adalah investasi itu seni melatih kesabaran memetik hasil, setelah memahami profil keuangan pribadi.

Jangan kaget juga bila kita menemukan orang banyak bisnisnya tapi tidak punya dana darurat/pendidikan anak. Sebab indikator utama kemandirian finansial bukanlah banyaknya penghasilan, tapi seberapa banyak yang bisa Anda selamatkan untuk masa depan.

Cocok dibaca bagi yang merasa dirinya golongan menengah, ingin memperbaiki perencanaan keuangan dan mencapai kemandirian finansial.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

Meta Morfillah

#bookstagram #oneweekonebook #kubusetengahtujuh #resensibuku #reviewbuku

11 February, 2026

[Review buku] The good samaritan

Judul: The Good Samaritan
Penulis: John Marrs
Penerbit: Elex Media Komputindo
Dimensi: 384 hal, cetakan 2021, edisi digital RBK
ISBN: 9786230022623

End of the line adalah layanan sukarela untuk mendengarkan curhatmu dan tidak menghakimi keputusanmu memilih bunuh diri. Pada umumnya, kebanyakan penelepon justru urung bunuh diri setelah berbicara dengan para relawan. Berbeda dengan misi End of the line, Laura justru bergabung menjadi relawan untuk menyuruh kandidat potensial melaksanakan aksi bunuh dirinya, sehingga tingkat bunuh diri di cabang Laura menjadi tinggi. Selama ini Laura tak terdeteksi sebab kehebatannya dalam mengatur strategi, hingga kematian Charlotte membuat suaminya curiga. Dari kecurigaan itulah tergali masa lalu dan kebenaran yang mencengangkan.

Kaget, meski di bagian blurb dikatakan novel ini thriller, tapi covernya entah mengapa mengingatkan saya pada karya Mitch Albom yang berjudul Telepon dari surga. Sehingga ekspektasi saya thrillernya ya gak sadis amat. Ternyata, page turner abis! Bikin saya gak bisa berhenti dan penasaran aksinya Laura, reaksi balasan Ryan, serta tindakan Effie, Tony, dan Janine. Apalagi saat PoV Laura dan Ryan saling melengkapi, duh dalam sekali! Semua berakar dari trauma masa kecil Laura yang membuat ia memilih hidup dalam manipulasinya sendiri. Sakit, banget! Tapi dia juga cerdas dan berani sampai memikirkan jangka panjang akibat perbuatannya, dan udah dimitigasi. Ending paling epic ya dari PoV anaknya. Duh, jadi menurun dah!

Insight yang kudapat sih, hati-hati memang kalau mau curhat. Meskipun layanan profesional, tapi memang harus pilih yang terpercaya dan punya ilmunya. Kalau salah orang, ya malah berakhir tragis.

Cocok dibaca bagi yang suka thriller, twist berlapis, tokoh manipulatif, dan isu bunuh diri.

Saya apresiasi 5 dari 5 bintang.

Meta Morfillah

#bookstagram #oneweekonebook #kubusetengahtujuh #resensibuku #reviewbuku

09 February, 2026

Manusia dan narasinya

*MANUSIA DAN NARASINYA*

*Meta morfillah*

Dalam hidup, saat menemukan orang yang tidak menyenangkan, seringkali kita langsung menempatkan orang itu sebagai karakter jahat dalam narasi kita. Sebab ia mengganggu alur hidup yang seharusnya menyenangkan menjadi ada sandungan ketidakbahagiaan. Contohnya seperti karyawan yang ingin pulang tepat waktu sebab ada janji dengan kekasih, namun tiba-tiba bosnya meminta tolong untuk lembur dadakan. Bisa dibayangkan, si bos langsung jadi antagonis dalam narasi hidup karyawan itu. Penyebab karyawan itu gagal memenuhi janji. Fokus kita adalah narasi hidup sang karyawan.

Pernahkah kita berpikir bahwa dalam narasi sebaliknya, bisa jadi kitalah yang menjadi orang jahatnya? Tanpa sadar atau memang kita sadari. Contohnya seperti dalam buku Harry Potter, dari judulnya saja kita tahu akan fokus pada narasi hidup siapa. Tentu ke Harry Potter. Selama 5 edisi buku kita menganggap Snape adalah tokoh jahatnya selama ini. Hingga menjelang _ending_ terbukalah rahasia mengharukan tentang hidup Snape, di mana ia begitu melindungi Harry Potter demi cintanya pada ibu Harry. Padahal bisa saja ia memilih jahat sebab kelakuan ayah Harry yang merundungnya. Terkejutlah pembaca dengan karakter Snape sebagai villain, dan melihat narasi lain dari hidupnya.

Lalu bagaimana bila dalam narasi hidup orang lain, kita adalah penjahatnya?

Bagaimana bila selama ini kita berburuk sangka pada Allah, padahal narasi sebenarnya adalah sebab kesalahan kita?

Bukankah sering kita mudah kecewa dan menyalahkan Allah atas hal yang kita pinta tapi belum terwujud jua?

Beruntunglah Allah Maha Baik dengan menyediakan *penghapus* untuk memperbaiki narasi hidup kita, yakni *istighfar.*

Untuk semua kelalaian kita yang disengaja maupun tidak, kezaliman akibat kebodohan kita sendiri, serta kefaqiran sebab keterbatasan diri, Allah memberikan jalan keluar sebagaimana dalam Q. S. Nuh ayat 10-12:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا﴿١٠﴾يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا﴿١١﴾وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

_“Maka aku katakan kepada mereka, *‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu’,* sesunguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai”._

Narasi hidup kita yang sebelumnya banyak menjadi tokoh jahat bagi hidup orang lain, kita hapus perlahan dengan istighfar. Tentu selain lisan, diiringi perbuatan. Hal pertama menyadari bahwa kita pasti memiliki salah, lalu meminta maaf dan memaafkan mereka yang salah dalam narasi hidup kita hari ini adalah cara kita membuat narasi hidup yang lebih baik. Memang kita adalah tokoh utama dalam narasi kita, namun janganlah jadi tokoh utama yang diharapkan segera mencapai _ending_ sebab banyak merusak narasi hidup orang lain. Buatlah _ending_ terbaik untuk narasi hidup kita dengan banyak bertaubat dan beristighfar. Bukan merasa si paling, sebagaimana Iblis yang kita tahu _ending_ narasi hidupnya nanti.

06 February, 2026

[Review buku] Diary of a void

Judul: Diary of a void
Penulis: Emi Yagi
Penerbit: Bentang
Dimensi: 196 hal, cetakan 2024
ISBN: 9786231862815

Semenjak pura-pura hamil Shibata merasakan banyak kemewahan yang didapatkannya. Padahal awal ia berbohong karena bosan mengerjakan tugas-tugas tambahan tak tertulis yang jadi kewajibannya hanya karena ia satu-satunya wanita di kantor. Seperti menyediakan kopi, mencuci gelas tamu dll. Ia kaget ketika diizinkan pulang lebih cepat dan bisa belanja sayur serta lauk yang segar. Tidak seperti saat ia dianggap lajang, selalu kehabisan sesuatu yang segar. Demi mendukung kebohongannya, ia sampai mengunduh aplikasi kehamilan dan ikut komunitas aerobik ibu hamil. Tanpa ia sadari, kadang ia lupa mana realitas dan mana halusinasi.

Dengan gaya bahasa ringkas dan to the point, penulis menggambarkan 'kehamilan' Shibata melalui jurnal pekanan. Terasa juga betapa sepi hidup wanita lajang mandiri di usia 30an. Tidak ada waktu bersosialisasi sebab sibuk bekerja demi membayar tagihan dan bertahan hidup. Teman pun memiliki kehidupan masing-masing dan jarang bertemu. Pulang ke rumah orangtua juga tak terasa sama. Hingga kebohongan hamil tanpa suami membuat ia merasa lebih istimewa dan dimanjakan. Apakah harus hamil dulu dan memproduksi anak laki-laki baru seorang wanita itu berharga?

Meski begitu, saya agak bingung dengan realitas saat Shibata pergi USG dan dokternya melihat sang bayi. Apa yang dia pakai ya? Plot twist juga di ending, ketika dia tetap melanjutkan kebohongan dan mengakui seorang anak di IG sebagai anak yang dilahirkannya. Sakit, sih!

Cocok dibaca bagi yang suka literatur Jepang, isu kesetaraan gender di dunia kerja, kesepian di usia 30an, dan patriarki.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

Meta Morfillah

#bookstagram #oneweekonebook #kubusetengahtujuh #resensibuku #reviewbuku

05 February, 2026

[Review buku] CADL

Judul: CADL
Penulis: Triskaid*kaman
Penerbit: GPU
Dimensi: 282 hal, cetakan 2020, edisi digital ipusnas
ISBN: 9786020639581

Saat diktator Zaliman Yang Mulia naik tahta, sebuah kebijakan baru dimulai. Penghapusan huruf itu (E) di nama warga Wiranacita, jalan, hingga buku-buku gencar dilakukan. Tentu saja hal itu banyak merepotkan warga dan mengeluarkan banyak biaya. Sementara kebutuhan pokok berupa pisang mengalami penurunan kualitas dan kuantitas. Tapi warga hanya bisa menerima kebijakan tanpa tahu alasan di baliknya, yang ternyata hanya masa lalu sang diktator. Sementara itu, Lamin penasaran akan sebuah buku berjudul CADL yang ditulis oleh Bagus Prihardana. Ia tak tahu bahwa rasa ingin tahunya itu bisa berbahaya dan mengancam nyawa di sekitarnya.

Ekspektasi saya saat membaca buku ini kiranya akan membahas tentang orang cadel dan pisang, tapi ternyata jauh lebih kompleks. Ada negeri distopia yang politiknya seperti sindiran kondisi pemerintahan masa kini. Keunikan utama buku ini tentu saja kalian tidak akan menemukan huruf E dari awal hingga akhir cerita. Dengan PoV campuran (PoV 1 untuk Lamin, dan PoV 3 untuk lainnya), kisah ini saling melengkapi bagian yang rumpang. Namun di awal, jujur saja agak membingungkan bagi saya dan baru menarik setelah konflik buku Bagus keluar.

Cocok dibaca bagi yang penasaran novel unik tanpa huruf E dan akibat penghapusan sebuah huruf di suatu negeri.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

Meta Morfillah

#bookstagram #oneweekonebook #kubusetengahtujuh #resensibuku #reviewbuku

04 February, 2026

BUKAN INGIN MATI, TAPI BINGUNG PAKAI BAHASA APA LAGI?: REFLEKSI BUNUH DIRI SISWA (10 TAHUN) DI NTT SEBAB TAK MAMPU BELI PULPEN DAN BUKU

BUKAN INGIN MATI, TAPI BINGUNG PAKAI BAHASA APA LAGI?: 
REFLEKSI BUNUH DIRI SISWA (10 TAHUN) DI NTT SEBAB TAK MAMPU BELI PULPEN DAN BUKU

Meta morfillah

Saat melihat surat yang ditinggalkan korban (YBS), benakku terngiang pasal UUD 1945 yang dulu kuhafalkan di usianya. Terutama pasal 31 ayat 4 yang berbunyi Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional.

Kubayangkan logika "Jika-maka", pasal itu diaplikasikan dengan benar, tak perlulah YBS bunuh diri sebab pena dan buku sudah termasuk penyediaan dari anggaran. Namun, fokus utama negara kita saat ini lebih kepada Makanan Bergizi Gratis (MBG) daripada penyelenggaraan pendidikan lebih berkualitas. 

Usia 10 tahun, di mana seorang anak harusnya merasa optimis memandang dunia, namun ia malah kehilangan kata. Tidak ada anak yang ingin mati, ia bunuh diri sebab tak tahu harus pakai bahasa apa lagi? Bila ditelusuri lebih jauh, tentu tidak dalam sehari ia memutuskan akan bunuh diri. Serapan emosi atau stress dari orangtua terkait tingkat ekonomi membuat anak berpikir praktis dan pendek, bahwa mungkin semua akan lebih baik jika aku tak ada. Anak yang jiwanya masih bertumbuh, merasa dirinya adalah beban, dan ia tak ingin orang yang dicintai (terutama orangtuanya) kesulitan karenanya.

Kasus sederhana ini, sesungguhnya tidaklah sesederhana itu. Ada banyak kegagalan negara dalam melindungi rakyatnya, terutama jiwa kecil itu. Dari segi kebijakan ekonomi yang menyebabkan sulitnya bertahan hidup saat ini, pendidikan yang terasa semakin sulit bagi kaum marjinal, literasi kesehatan mental yang belum mencapai daerah-daerah, hingga ketahanan keluarga di Indonesia. Bagaimana bangsa ini akan berjaya atau bahkan mencapai Indonesia Emas, bila dari unit terkecil (keluarga) saja sudah dipenuhi rasa cemas?

Adik YBS, semoga kau tenang di sana. Maafkan kami.
Maafkan aku, yang hanya bisa menuliskan ceritamu setelah kepergianmu.

02 February, 2026

[Review buku] Kemarau di Sedanau

Judul: Kemarau di Sedanau
Penulis: Asroruddin Zoechni
Penerbit: Bhuana sastra
Dimensi: 317 hal, cetakan 2023, edisi digital ipusnas
ISBN: 9786230416484

Salman, remaja asal Sedanau, Natuna bercita-cita menjadi dokter. Meski kerap diremehkan sebab keluarganya yang miskin (ayah nelayan, ibu pedagang), ia tetap melaju dengan mimpinya sebab didukung 100% oleh doa orangtuanya. Perjuangan mendapatkan beasiswa dari PEMDA, konflik dengan Abrar untuk memenangkan beasiswa serta Hamidah, kehilangan ayah, ibu, serta kekasih hati yang berujung PTSD membuat jalan Salman menggapai gelar dokter tidak mudah. Belum lagi mencari uang untuk bertahan hidup dan belajar keras. Semua itu tidak seringan yang ia kira. Berhasillah ia memenuhi mimpinya?

Mengikuti kisah Salman membuat saya terharu biru dan terbayang betapa sulitnya menjadi dokter. Butuh usaha keras, kemauan baja, uang banyak, dan keyakinan kuat pada Allah. Jika tidak ada itu semua, rasanya mudah sekali menyerah. Belum lagi kisah ini mengambil latar di daerah yang cukup jauh di mana keinginan belajar itu masih belum tinggi sebab kesulitan hidup untuk bertahan sehari-hari. Di awal saya sempat merasa seperti membaca gaya penulisan Andrea Hirata dan Ahmad Fuadi. Tapi saat di akhir, terasa berbeda memang. Terlebih saya menyayangkan mengapa tidak ada penyelesaian jelas antara Salman dan Hamidah. Bisa sih dibuat bahan sekuel. Tapi kesal karena prolognya itu, tapi endingnya gantung. Ada missed 2016 putus dengan Raisa, 2019 ketemu Hamidah melahirkan.

Cocok dibaca bagi yang suka novel inspiratif dan detail perjalanan jadi dokter.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

Meta Morfillah

#bookstagram #oneweekonebook #kubusetengahtujuh #resensibuku #reviewbuku

29 January, 2026

[Review buku] Dalam pelukan rahim tanah

Judul: Dalam pelukan rahim tanah
Penulis: Jemmy Piran
Penerbit: Basabasi
Dimensi: 164 hal, cetakan 2021
ISBN: 9786233052047

Wunga Bango, remaja wanita asal Flores yang tidak melanjutkan pendidikan sebab biaya, menjadi TKI ke Malaysia. Namun, saat ia kembali ke tanah air, tinggallah jasadnya saja. Rohnya yang menuntut keadilan marah dan bercerita bagaimana ia bisa sampai mati di sana. Semua bermula dari dokumen yang tak lengkap, penyaluran ilegal, majikan yang suka menyiksa, demam tinggi, hingga perkosaan brutal oleh beberapa lelaki pemabuk.

Awal membaca, saya suka dengan pengantar dan sudut pandang baru dalam penceritaannya. Isu besar seperti human trafickking, derita TKI di tanah rantau, hingga pemalsuan data ilegal. Sayangnya, pertengahan penulis hanya berfokus pada penceritaan yang lompat tentang sebelum Bango dikirim ke Malaysia. Adat dan kepercayaan Abanya untuk memperbaiki sebua yang justru mendatangkan bencana. Belum lagi, romansa antara Peha dan Bango diulang-ulang tanpa kejelasan.

Saya kira akan ada penekanan seperti di film drama korea berjudul 49 Days, apa intinya. Tapi penulis hanya berkisah datar saja. Bahkan konflik yang sebenarnya cukup kejam jadi tergambar biasa. Meski begitu, saya dapat pelajaran penting bahwa perlakukanlah jenazah dengan baik sebagai penghormatan terakhir padanya, lalu doakan. Betapa ia menantikan doa untuk dirinya.

Cocok dibaca bagi yang suka novel kritik sosial dengan isu kekerasan pada TKI dan gambaran human traficking.

Saya apresiasi 3 dari 5 bintang.

Meta Morfillah

#bookstagram #oneweekonebook #kubusetengahtujuh #komunitasbukuseru #jagoankomplek_januari

Text Widget