Pages

04 October, 2026

[Review buku] Makhluk bumi


Judul: Makhluk bumi
Penulis: Sayaka Murata
Penerbit: GPU
Dimensi: 264 hal, cetakan pertama 2025
ISBN: 9786020681900

Natsuki selalu merasa dirinya berbeda di keluarganya. Ia berasal dari planet Pohapipinpobopia dan Pyut (boneka landaknya) adalah temannya yang berasal dari planet yang sama. Ia adalah penyihir yang diutus untuk menyelamatkan dunia. Ayah, ibu, dan kakaknya tidak pernah memahaminya. Hanya Yuu, sepupunya yang paham. Mereka hanya bisa bertemu setahun sekali di rumah nenek, di Akishina saat perayaan obon. Demi bertahan hidup di bumi yang seperti pabrik pencetak manusia, mereka berpura-pura menjadi makhluk bumi. Banyak rahasia kelam yang mereka pendam sebab saat bercerita malah disalahkan. Bisakah mereka menjadi makhluk bumi sepenuhnya?

Buku kedua penulis, setelah gadis minimarket, membuat saya memahami sisi gelap yang digali sebagai isu utama. Namun, kali ini jauh lebih menjijikkan meski penulis menggunakan metafora dan imajinasi. Saran saya, jangan dibaca saat sedang makan atau jika kamu orangnya jijikan. Saya sendiri mual setelah menamatkannya.

Tapi, saya juga ingin mengutuk orang-orang dewasa di sekitar Natsuki dan Yuu, terutama orangtuanya. Lagi-lagi, semua itu terjadi akibat pengasuhan yang tidak hadir. Isu patriarki di Jepang pun masih tergambar ketika deskripsi kelelahan ibunya yang bekerja juga harus menjadi istri dan menantu yang baik bagi keluarga suaminya. Memang kelelahan ibu disebabkan banyak variabel, salah satunya tidak ads support system. Semoga tidak ada Natsuki dan Yuu di sekitar kita. Moralitas dipertanyakan saat keacuhan merajalela.

Cocok dibaca bagi yang suka fiksi dark/gore, teralienasi, serta tidak jijikan.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

Meta morfillah

#bookstagram #oneweekonebook #ulasbukuberjalan #jalaninbukumu #reviewbuku

01 October, 2026

[Review buku] The fifth to die


Judul: The fifth to die
Penulis: J. D. Barker
Penerbit: Bhuana Sastra
Dimensi: 670 hal, cetakan pertama 2025
ISBN: 9786230420528

Seorang gadis yang telah menghilang 3 pekan, ditemukan mati membeku di bawah laguna. Ia mengenakan baju milik gadis lain yang juga hilang 2 hari sebelumnya. Hal membingungkan lainnya, bagaimana bisa jasadnya ada di bawah laguna, sementara butuh berbulan-bulan bagi laguna itu membeku? Belum lagi para ayah sang gadis yang menghilang juga mati dibunuh. Apakah kasus menghilang dan matinya para gadis masih berkaitan dengan Pembunuhan 4 Monyet (P4M)? Sam Porter menindaklanjuti insting detektifnya hingga ia menemukan hal menakutkan daripada pikiran pembunuh berantai, yakni pikiran ibu sang pembunuh berantai.

Kukira buku ini stand alone, seperti series cormoran strike, hanya sama detektifnya tapi kasusnya berbeda, sehingga aku meminjam langsung buku kedua ini tanpa membaca buku pertamanya. Ternyata ada banyak pembahasan kilas balik ke buku pertama. Meski begitu, justru jadi tidak tertarik membaca yang pertama sebab banyak twist tertebak dan dijelaskan di buku kedua ini. Endingnya menggantung dan membuat penasaran ke buku ketiga. Tapi bagi saya, rasanya agak melelahkan akibat detail dan banyak PoV. Jadi agak malas lanjut baca meski penasaran hubungan masa lalu Porter-Bishop-ibunya, dll.

Cocok dibaca bagi yang suka fiksi CTM, serial killer dan mengikuti detektif Sam Porter vs Anson Bishop dari The Fourth Monkey.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

Meta morfillah

#bookstagram #oneweekonebook #ulasbukuberjalan #jalaninbukumu #reviewbuku

30 September, 2026

[Review buku] Igauan kita

Judul: Igauan kita
Penulis: J. S. Khairen
Penerbit: bukune
Dimensi: 188 hal, cetakan pertama Mei 2019
ISBN: 9786022203179

Sebab igauan tak pernah runtut, bersiaplah dibawa terbuai lalu terentak tiba-tiba oleh kalimat sang Jenderal Kata-kata.

Begitulah blurb buku ke-9 penulis ini. Menarik saya untuk membacanya di perpustakaan cafe kopi di Bogor. Tahun 2025, saya membaca dan kini 2026 saya kembali untuk menyelesaikan. Menemukannya kembali, membuat hati bahagia. Sesederhana itu. Saya suka dengan ide otentiknya, berupa ketikan mesin tik, tulisan tangan di media yang seadanya. Di kertas nota, robekan kertas, dan lainnya.

Namun, sebab igauan ya tidak ada tema khusus. Bebas saja, tidak berkait melulu. Beberapa juga ada pengulangan (seperti tulisan ada uang dalam ruang) namun dikemas dengan gaya berbeda. Meski tidak padat, tapi isinya bisa membuat refleksi lama. Memang pantas disebut jenderal kata-kata. Di bagian akhir ada beberapa cuitan dari kontributor Instagramnya.

Cocok dibaca bagi yang suka kata-kata puitis, cerita lepas, memanjakan mata dengan foto/ketikan mesin tik/tulisan tangan atau sedang reading slump.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

Meta morfillah

#bookstagram #oneweekonebook #ulasbukuberjalan #jalaninbukumu #reviewbuku

28 September, 2026

[Review buku] Kembali ke Batavia

Judul: Kembali ke Batavia (Jenaka #2)
Penulis: Gigrey
Penerbit: Akad
Dimensi: 452 hal, cetakan pertama Januari 2025
ISBN: 9786347031068

Tujuh tahun berlalu setelah perjalanan lintas waktu Jenaka ke tahun 1923. Lalu Pram berhasil datang menemuinya di masa kini. Saat mereka sedang berfokus pada hubungan dan merencanakan masa depan, datang sebuah surat dari masa lalu. Berasal dari Mawar Putih yang meminta bantuan Jenaka untuk kasus hilangnya para perempuan di Batavia. Siapakah Mawar Putih? Mengapa ia tahu bahwa Jenaka berasal dari masa depan dan bisa mengirim surat? Apa bantuan yang bisa Jenaka berikan untuk kasus yang dimaksud? Bersama siapakah Jenaka akan kembali ke masa lalu?

Lanjutannya makin bikin mesem-mesem ya. Romancenya cukup mendominasi di awal buku dan lucu dengan istilah Pram menjadi suami rumah tangga. Apalagi ada beberapa ilustrasi berwarna kayak komik. Saat kembali ke masa lalu tahun 1930, sedikit terasa thriller, namun memang setting happy ending membuat alurnya mudah ditebak. Namun menjadi seru sebab ada tambahan karakter yang ikut melintasi waktu. Di ending, ada kata-kata yang menunjukkan kisah ini belum berakhir. Di perpustakaan saya menemukan ada buku penulis berjudul "Surat untuk Pram", apakah itu kelanjutannya? We'll see ya.

Sedikit masukan pada editor dan penerbit, lagi-lagi saya merasakan kurang telitinya di beberapa bagian terkait typo dll. Saya lampirkan beberapa foto, semoga jadi bahan perbaikan. Khawatir nanti penerbit ini dikenali justru dari buku bagus tapi kurang bagus editannya. Sebab menjadi salah satu pertimbangan saya membeli buku adalah nama penerbit.

Cocok dibaca bagi yang suka tema time travel, fantasy, historical romance, Batavia tahun 1930.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

Meta morfillah

#bookstagram #oneweekonebook #ulasbukuberjalan #jalaninbukumu #reviewbuku

27 September, 2026

[Review buku] Welcome to the Hyunam-dong bookshop


Judul: Welcome to the Hyunam-dong bookshop
Penulis: Hwang Bo-reum
Penerbit: Grasindo
Dimensi: 400 hal, cetakan pertama 2024
ISBN: 9786020530444

Emosi yang terserap dari orangtua saat perekonomian terpuruk, membuat Yeong ju tanpa sadar berubah menjadi pribadi yang bekerja terlalu keras. Hingga ia mengalami burnout dan mengubah haluan hidupnya. Ia bercerai, lalu membuka toko buku di Hyunam-dong. Perkembangan toko buku itu selaras dengan pertumbuhan diri Yeong ju. Bagaimana ia membuka hati dan mengizinkan beberapa orang masuk dalam toko dan hidupnya, hingga orang-orang baik saling menemukan. Ada Min joon barista berprestasi yang ingin hidup tenang, Jimmy pemilik Goat Bean yang ingin hidup dengan cinta yang benar, Min cheol siswa SMA yang belajar berani menentukan pilihan, Hee joo yang menemukan kembali dirinya di klib membaca para ibu, serta karakter menarik lainnya.

Meski fiksi, dari awal membaca buku ini saya justru merasakan kedalaman berpikir penulis dan tiap karakternya. Terasa sekali relatenya bagi pecinta buku seperti saya, yang gila baca. Banyak hal terwakilkan dan kalimatnya membuat lama merenung. Sehingga saya membacanya memang menikmati dan perlahan. Tidak segera ingin menamatkan. Ada kan, tipe buku yang seperti itu bagi kamu?

Saya meminjam buku ini di library, sepertinya saya harus memiliki. Ada banyak pemikiran yang menjadi quote dan bisa saya jadikan bahan tulisan dan perenungan. Saya jatuh hati pada buku ini, meski secara teknis typo nama sering terjadi dan membuat geram.

Cocok dibaca bagi yang pecinta buku, pegiat literasi, dan fiksi yang menghangatkan hati untuk berkontemplasi tentang pilihan hidup.

Saya apresiasi 5 dari 5 bintang.

Meta morfillah

#bookstagram #oneweekonebook #ulasbukuberjalan #jalaninbukumu #reviewbuku

23 September, 2026

[Review buku] Dora Bruder


Judul: Dora Bruder
Penulis: Patrick Modiano
Penerbit: GPU
Dimensi: 132 hal, cetakan pertama 2020
ISBN: 9786020384832

Dari rasa ingin tahu ketika melihat koran tua "Paris Soir" terbitan Desember 1941 mengenai laporan orang hilang bernama Dora Bruder, di tahun 1988 penulis memulai penyelidikan historisnya. Bertahun-tahun menelusuri jejak literatur, mencari orang yang mungkin bersinggungan dengan Dora, serta membayangkan suasana Paris masa pendudukan, hingga tahun 1996, penulis memulai membuat buku ini untuk dedikasi pada orang-orang hilang yang anonim di tragedi holocaust, dengan perwakilan Dora Bruder.

Mengambil sudut pandang sebagai narator, tidak banyak memang data pendukung, namun penulis menjahit penemuannya dengan pengalaman pribadi masa kecilnya di lokasi tempat tinggal Dora. Lalu menceritakan beberapa tokoh dan nasibnya di masa pendudukan Nazi di Paris. Hingga gambaran bagaimana upaya genosida terhadap kaum Yahudi (tidak peduli ia warga Prancis, Polandia, dll) dengan kewajiban memakai bintang kuning bertuliskan Juif (Yahudi) agar mudah dikenali dan diciduk tanpa alasan di tempat umum. Bahkan pemisahan keluarga hingga para ibu dan anak kehilangan identitas mereka, dikirim ke kamp berbeda dan hilang tanpa kejelasan.

Menarik. Hingga saya memahami mengapa novel ini mendapat penghargaan nobel sastra. Namun, this is not my cup of tea. Saya berjuang untuk menyelesaikannya meski buku ini tipis. Gaya bahasa yang kelam membuat saya tidak semangat membaca, ditambah literatur dan perbandingan kurun waktu di tempat yang belum pernah saya jejaki, membuat rumit dan makin tidak paham. Kayaknya sih, baca buku tipe ini harus saya jejak dulu tempat aslinya. Ke Paris dulu kita haha! Juga jangan harapkan ada twist atau klimaks, sebab datar saja seperti kajian literatur dari perpustakaan.

Cocok dibaca bagi yang suka fiksi pemenang nobel sastra, tragedi holocaust, dan gaya dark/sad.

Saya apresiasi 3 dari 5 bintang.

Meta morfillah

#bookstagram #oneweekonebook #ulasbukuberjalan #jalaninbukumu #reviewbuku


22 September, 2026

[Review buku] Sang Eksekutor


Judul: Sang Eksekutor
Penulis: Tere Liye
Penerbit: SabakGrip
Dimensi: 368 hal, cetakan pertama
ISBN: 9786347046062

Julia tidak percaya ada manusia sekuat, sesantai, dan setenang Anwar, temannya saat kuliah, yang kini menjadi podcaster nomor satu dengan jutaan follower. Keberanian dan ketajaman pertanyaannya membuat siapa pun tamu podcastnya, meski presiden sekalipun, tidak berkutik. Kini Anwar tengah berada di Indonesia dan Julia menemaninya di sela pekerjaannya meliput berita. Lima kematian pejabat dan semua terjadi saat Julia dan Anwar tidak jauh dari lokasi. Insting wartawan Julia menebak itu bukan serangan jantung biasa, tetapi pembunuhan terencana. Sayangnya, Julia belum mendapatkan benang merah atau bukti yang mendukung teorinya. Bahkan setelah ia memiliki dugaan, sebuah hipotesis mengerikan berkelebat di kepalanya. Apakah dugaannya benar? Atau semua ini hanya paranoianya saja?

Ternyata buku kesembilan ini ada hubungannya dengan buku "Teruslah bodoh jangan pintar" sebab bersetting di Indonesia dan melibatkan para pejabat yang disebut di buku itu. Terasa sekali kegeraman penulis yang diutarakan melalui suara pendemo berCAPSLOCK. Secara twist, bagi penggemar CTM dan yang mengikuti serial aksi penulis dari awal mungkin mudah sekali menebak dan tidak kaget dengan konklusinya. Namun hal menarik justru di ending. Sebab kaitannya langsung berkelindan dengan buku kedelapan "Bandit-bandit berkelas" dan membuat saya penasaran bagaimana bila Sang Eksekutor berhadapan dengan Si Mata Picak. Wah, seru kayaknya!

Cocok dibaca bagi yang suka fiksi tema action dan mengikuti seri keluarga shadow economy serta membaca buku "Teruslah bodoh jangan pintar".

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

Meta morfillah

#bookstagram #oneweekonebook #ulasbukuberjalan #jalaninbukumu #reviewbuku

21 September, 2026

[Review buku] Bandit-bandit berkelas


Judul: Bandit-bandit berkelas
Penulis: Tere Liye
Penerbit: SabakGrip
Dimensi: 368 hal, cetakan pertama
ISBN: 9786238882267

Sebulan setelah kejadian di Bhutan, Zaman mendatangi Bujang di kediaman keluarga Tong. Ia menyampaikan bahwa ada wasiat dari ayahnya, Samad melalui teka-teki. Dari petunjuk yang ditinggalkan, Bujang dan Zaman pergi ke toko antik di Hong Kong, mengajak White bergabung dan terlibat pertikaian dengan kudeta Master Dragon. Berhasil pergi, mereka mengejar petunjuk ke Berlin dan berakhir di Museum Louvre, Paris. Tempat warisan berupa serum super itu diamankan. Berkejaran dengan waktu dan Diego, kakak tirinya, Bujang meminta bantuan pada si kembar Yuki-Kiko, yang ternyata mengajak rombongan berlibur: Salonga, Junior, Thomas. Tak lupa bergabung Ayako, yang dikira mati ternyata selamat. Berhasilkah mereka mencegah Diego mendapatkan serum itu?

Setelah mengikuti banyak buku karya penulis, mulai ada keterikatan tokoh dengan buku-buku sebelumnya. Di luar serial aksi, tentu saja Zaman membuat saya kaget. Sebab dia ada di buku tersendiri dengan genre berbeda (Tentang kamu, Sri Ningsih). Secara ide seru, bila dibayangkan aksi kalau dibuat series. Tapi saat baca di buku, justru agak membosankan. Sebab beberapa kali ada pengulangan, hanya berbeda tempat. Contoh seperti adegan Edwin menyalakan jet, sama persis. Juga ada flash back dari buku sebelumnya yang menghabiskan 1-2 halaman. Ditambah adegan bertarungnya, banyak efek suara dan teriakan yang rasanya buat nambah-nambahin halaman juga hehe. Jadi banyak yang saya skip karena kurang terpakai detailnya.

Cocok dibaca bagi yang suka fiksi tema action dan mengikuti kisah Bujang, Thomas, dkk (buku kedelapan secara urutan terbit, tapi stand alone).

Saya apresiasi 3 dari 5 bintang.

Meta morfillah

#bookstagram #oneweekonebook #ulasbukuberjalan #jalaninbukumu #reviewbuku

18 September, 2026

[Review buku] Surat untuk Jenaka


Judul: Surat untuk Jenaka
Penulis: Gigrey
Penerbit: Akad
Dimensi: 456 hal, cetakan ketujuh Juni 2025
ISBN: 9786235953885

Jenaka yang tak pernah mengenal nenek buyutnya sering merasa bingung akan perlakuan istimewa sang buyut terhadapnya. Hingga sebelum Ayut meninggal, ia mewariskan sebuah gelang berlian buatan kakek buyut. Ternyata gelang itu membawa ia ke masa lalu melalui mesin waktu berupa lemari tua di kamar buyutnya. Ia pun bertemu Cantika, nenek buyutnya di tahun 1923 yang tengah terjerat pertunangan dengan lelaki tua bernama Raden Panji. Di sana ia berkenalan dengan Pram, tuan jaksa, dan Jati, kakek buyutnya. Saat Jenaka berusaha menjodohkan Cantika dengan Jati, Raden Panji ditemukan tewas terbunuh. Tersangka utamanya adalah Cantika. Bersama Pram dan Jati, mereka berusaha mengungkap misteri pembunuh sebenarnya dan mengumpulkan bukti agar Cantika bisa bebas. Berhasilkah mereka? Apakah kejadian masa lalu akan mengubah masa depan Jenaka? Bisakah ia kembali ke tahun 2019 dan menjalani hidupnya seperti sedia kala?

Selesai membaca, bisa dipahami betapa seru dan pantasnya buku ini dicetak ulang hingga tujuh kali. Sebab penulis piawai mengolah diksi yang menjadikannya page turner. Tidak terasa lelah dan penasaran terus akan kejadian di halaman selanjutnya. Romansa Jenaka dan Pram terasa pas dan membuat saya merona membayangkan di masa itu. Berbeda sekali dengan zaman sekarang. Juga cara bicara dengan panggilan Nona dan Tuan, entah mengapa membuat lucu dan manis. Twistnya pun membahagiakan, meski saya penasaran bagaimana cara Pram datang? Tidak sabar ingin meminjam buku keduanya: Kembali ke batavia.

Sayangnya, beberapa kali saya menemukan ada PUEBI atau human error yang terasa seperti tidak disunting. Masih naskah mentah. Sebab cukup mengganggu alur dan kenyamanan membaca meski minor. Semoga menjadi masukan agar cetakan selanjutnya lebih diperhatikan.

Cocok dibaca bagi yang suka fiksi tema time travel, misteri, hukum, dan romansa.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

Meta morfillah

#bookstagram #oneweekonebook #ulasbukuberjalan #jalaninbukumu #reviewbuku

16 September, 2026

[Review buku] The running grave


Judul: The running grave
Penulis: Robert Galbraith
Penerbit: GPU
Dimensi: 1032 hal, cetakan pertama 2025
ISBN: 9786020682112

Strike diminta mengeluarkan Will, anak orang kaya yang mengikuti sebuah sekte sesat. Dari luar, Gereja Humanitarian Universal (GHU) tampak normal, namun orangtua Will mengendus adanya hal-hal janggal. Mulai dari penampilan Will yang tidak sehat, belum lagi banyaknya penarikan dana perwalian dan tidak bolehnya interaksi Will dengan keluarga. Mantan anggota GHU yang berhasil keluar mengungkapkan beragam kekejian namun tidak ada bukti dan ia pun kalah secara hukum. Demi misi itu, Robin menyamar menjadi jemaat GHU dan mengumpulkan beragam bukti yang memberatkan GHU agar bisa ditumpas hingga ke akar. Sayangnya, indoktrinasi yang kuat, teror mental, serta pencucian otak yang tersistem membuat Robin mulai goyah. Akankah mereka berhasil menyelamatkan Will dan melawan GHU secara hukum? Apa saja kejahatan yang dilakukan GHU?

Dibanding 6 seri sebelumnya, bagi saya buku ketujuh ini pas semuanya. Meski tebalnya makin makin dan mengalahkan Harry Potter, tapi tidak ada kalimat yang membosankan. Semua jelas dan menjelaskan foreshadowing. Ditambah kemajuan hubungan Robin dan Strike dengan pengakuan Strike setelah Charlotte tiada. Akhirnya... Itu yang paling ditunggu pembaca dan mungkin akan jadi ending buku juga. 

Sampai seri berapa kira-kira Strike-Robin ini dibuat oleh penulis? Pastinya akan ada buku kedelapan sebab endingnya menggantung pada sikap Robin. Apakah tebal bukunya akan lebih lagi atau kembali normal? Oh ya, hati-hati bagi yang tak suka LGBTQ, pedofil, dan kejahatan menjijikkan lainnya, sebab deskripsinya cukup detail, agak trigger dan kurang nyaman. Yang seharusnya suci (gereja, orang saleh) malah jadi pusat kekejian macam Epstein.

Cocok dibaca bagi yang suka duet Strike-Robin, fiksi CTM, sekte sesat.

Saya apresiasi 5 dari 5 bintang.

Meta morfillah

#bookstagram #oneweekonebook #ulasbukuberjalan #jalaninbukumu #reviewbuku

Text Widget