Pages

Showing posts with label #Nulisrandom2017. Show all posts
Showing posts with label #Nulisrandom2017. Show all posts

24 June, 2017

#Day30 Ceritamu

#Day30 CERITAMU

Sebab hidup terkadang jauh lebih fiksi, daripada fiksi itu sendiri.

Alhamdulillah, berakhir #Nulisrandom2017 selama 30 hari. Alhamdulillah besok kita lebaran, semoga tubuh tidak LEBAR-AN. Jaga hati, jaga lisan, jaga makan, jagain lah semuanya yang bisa dijaga. Besok happy, sebagai pemenang. Silahturrahim jangan malah tambahin dosa.

Selepas ini, tetap menulis ya. Hidupmu adalah ceritamu, episode yang hanya akan selesai bila kaututup usia. Jadi, cobalah tuliskan cerita yang baik dengan menjalani kehidupan yang baik. Seperti biasa, meta suka bilang "Jangan bosan berbuat baik, meskipun terlihat membosankan."

Siapkan hati yang lapang yaaa... terutama untuk semua komentar atau pertanyaan, "KAPAN...?"

Seperti yang di gambar ini. Hohohoho... Mohon maaf lahir dan batin, meta yakin kalian sudah maafin meta. Jazakumullah khair ya, jangan bosan dan lupa doakan meta terus biar bertambah shalih. Doa yang sama bagi yang mendoakan 😍

Meta morfillah

22 June, 2017

#Day29 Didukung oleh

#Day29 DIDUKUNG OLEH

Setiap keberhasilan saya, selalu ada kata DIDUKUNG/DISPONSORI OLEH MAMA.

Beliau yang selalu melengkapi kekurangan saya, menyiapkan keperluan hingga remeh temeh saya, mendoakan dan selalu memotivasi saya. Teladan terbaik!

Mau tahu jeleknya saya sejelek-jeleknya? Mama paling tahu.
Mau tahu visi, cita, dan cinta saya? Tanya mama.
Hampir semua saya share ke beliau. Tanpa topeng.

Memenangkan hati mama bisa dibilang hampir memenangkan hati saya. Sebab kami pernah menjadi satu tarikan nafas.

Bersandar padanya, memeluknya, menciuminya adalah rasa nyaman dan aman yang kerap saya rindukan. She is my home.

The best thing in my life is when I wake up beside her, to watch the sunrise on her face, to know that I can say "I love you" in any given time or place. Because of her... I'm flying without wings (n_n)

Untuk semua orang hebat, saya yakin ada sosok Mama terhebat di belakangnya, yang rela menjadikan dirinya pijakan sang anak. Bagai bumi yang ikhlas, mengantarkan sang anak menggapai cakrawala. I LOVE YOU, MOM!

Meta morfillah

#Day28 Dakwah

#Day28 DAKWAH

"Bagi yang sehat, muda, bisa turun tangga, silakan makan di pelataran masjid. Tahu ya, di masjid tidak boleh makan. Nanti sia-sia ibadah semalamannya, tahajjudnya." kata panitia akhwat bercadar di masjid besar yang baru kami datangi ini.

Saya dan kedua teman saya yang sedang makan sahur di atas sleeping bag kami menyimak dan saling pandang. Menegaskan dengan bertanya, memang iya hukum makan di masjid sampai menghilangkan pahala ibadah semalaman? Kami bertiga baru mendengar dan biasanya di masjid-masjid tempat kami i'tikaf malah membolehkan makan di dalam, di atas khusus akhwat, hanya saja dihimbau tidak mengotori masjid.

Sembari diskusi itu, kami merapikan makanan yang sudah digelar. Agak lama karena membawa soto, sehingga harus dibungkus ulang agar tidak tumpah. Petugas itu mendatangi kami, berdiri di samping kami dan berkata, "Ayo, makannya di pelataran masjid."

"Iya, Mbak, ini sedang dirapikan." Saya menjawab sambil tersenyum. Mbak bercadar itu malah menimpali dengan suara ketus sembari berlalu meninggalkan kami, "Kalian tidak tahu hukumnya atau tahu tapi pura-pura tidak tahu?"

Jleb! Kok begitu ya cara memperingatkannya? Padahal kami benar tidak tahu. Kami pun baru pertama ke masjid ini, masjid yang jamaahnya luar biasa dari beragam pelosok. Jujur saja, saya sempat panas dan ingin mengadu dalil, meskipun saya belum tahu dalil makan di masjid itu hukumnya haram atau apa. Tapi cara memperingatkannya itu seakan mengajak berantem.

Saya istighfar dan mencoba menahan amarah. Ya, saya ingat lagi hakikat dakwah Rasul yaitu perkataan yang benar isinya, indah caranya, dan tepat waktunya. Sepertinya saya sedang diingatkan kembali perihal dakwah. Bahwa adab, akhlak adalah utama sebelum ilmu.

Mengapa?
Sebab bila adab, cara kita salah atau menyakiti, sebenar apa pun isi perkataan kita, hati penerima dakwah belum tentu mau menerima dengan lapang dada. Bukannya simpati, apalagi empati, yang ada mereka malah antipati. Seperti yang saya rasakan saat ini. Saya langsung memblacklist masjid ini untuk ke depannya. Saya tak mau lagi i'tikaf di sini kecuali terpaksa. Biarlah saya menempuh perjalanan jauh ke Jakarta demi tempat yang nyaman dan mendukung ibadah saya.

Astaghfirullah... ternyata masih rendah batas sabar dan ikhlas saya. Masih jauh perjalanan menuntut ilmu saya, meneladani akhlak Rasulullah SAW.

Meta morfillah

21 June, 2017

#Day27 Mencarimu

#Day27 MENCARIMU

Begitu indah gambaran tentang dirimu. Malam di mana seluruh malaikat turun, hingga bumi menjadi sejuk, matahari yang biasanya memancar panas karena didorong tanduk iblis yang terbuat dari api kini hanya memancarkan sinar putih dan hangat, sebab malaikat yang terbuat dari cahaya yang mendorongnya. Di malam itulah dalam setahun, sekali-kalinya matahari terbit dengan warna sebenarnya.

Keutamaanmu melebihi 1000 bulan, tidak berbatas 83 tahun. Lebih. Bisa 100 tahun atau ribuan tahun. Di malam kehadiranmu, hal yang perlu diperbanyak adalah amalan khas ramadhan: qiyamul lail, tadarus, sedekah, banyak meminta ampun (Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul afwa fa'fu anni), dan doakan mereka yang telah wafat.

Di sepuluh malam terakhir ramadhan, kami bergegas mencarimu. Sempurna dalam tiap malam, separuh dalam tiap ganjil, semoga bertemu. Semoga bertemu. Harap besar kami. Tiap pagi, kami reka-reka langit... adakah tanda kehadiranmu? Mencermati keadaan bulan, bintang, matahari, awan, langit dan rupa warnanya. Bagaimanakah rasanya bila berhasil mendapatkanmu? Kata yang berilmu, kita akan menjadi lebih baik dan shalih.

Lailatul Qadr... sungguh besar hajat kami kepadamu. Hadiah terbesar yang disembunyikan Allah pada penghujung bulan mulia. Twist tersempurna. Semoga ikhtiar kita semua mengantarkan padanya, meski belum berhasil mendapatkan, setidaknya prosesnya menetap dan membuat kita semakin giat.

Aah... ingin rasanya diri menjadi lailatul qadr yang mampu menggenapi dan menambah kebaikan siapa pun yang kelak menyandingku. Aamiin allahumma aamiiin.

Meta morfillah

#Nulisrandom2017

#Day26 Kenangan dan Kemungkinan

#Day26 KENANGAN DAN KEMUNGKINAN

Kita tidak bisa membuang segala sesuatu dari diri kita untuk menciptakan diri yang baru. Sebab masa lalu adalah bagian tak terpisahkan dari masa kini dan masa depan kita. Untuk membangun kembali diri kita ke arah yang lebih baik, kita harus terlebih dahulu merangkul siapa diri kita di masa lalu dan pengalaman hidup kita. Berdamai, seperti Umar bin Khattab, Umar bin Abdul Aziz, dan salafus shalih lainnya.

Tidak perlu mengingkari atau bersedih lama atas segala kesalahan kita di masa lalu. Dengan sudut pandang yang baru, belajar tiada henti, niscaya kita akan menjadi kilau cemerlang. Diri kita hari ini adalah bukti bahwa kita adalah campuran indah dari yang lama dan baru: dari kenangan dan kemungkinan.

Yesterday is a history
Tomorrow is a mistery
But today... is a PRESENT!

So, cherish your live and your love!

Meta morfillah

19 June, 2017

#Day25 Ternyata

#Day25 TERNYATA

Ternyata tiba juga masa high heels dan flat shoes cantik berganti sandal dan sepatu gunung.

Ternyata tiba juga masa bukber ramai membuat jiwa terasa sepi dan bukber bersama satu atau sekelompok sahabat dekat membuat jiwa jauh lebih terpuaskan.

Ternyata tiba juga masa happy-happy di mall kalah nikmat dibanding bersepi-sepi denganNya di masjid.

Ternyata tiba juga masa yang tadinya amat menantikan lebaran berganti berharap tiap bulan adalah ramadhan.

Ternyata... pada akhirnya kita akan memahami apa yang tidak kita pahami dulu. Menemukan apa yang kita ingin temukan. Melalui proses panjang, berbagai pilihan dan keputusan, berbagai kesalahan dan ketepatan, kita akan menuju apa yang ingin kita tuju.

Allah akan mengarahkan kita ke mana hati kita ingin berlabuh. Jadi... tetap jaga hati ya.

Meta morfillah

17 June, 2017

#Day24 Yang dicari

#Day24 YANG DICARI

Dulu, saya pernah bercita menjadi seseorang yang dicari karena tanda tangannya berharga (mengejar jenjang karir tertinggi) dan gaji terbesar. Tapi saat kuliah semester akhir, memasuki dunia kerja, saya menemukan bahwa bukan itu yang membuat saya bertahan lama di sebuah perusahaan. Melainkan nilai-nilai visi perusahaan tersebut, kesempatan belajar/ilmu, kekeluargaan dan kenyamanan.

Semakin saya sadari pula bahwa semakin dicari/menjabat posisi kunci maka semakin besar amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Dan itu berat. Berat secara duniawi; ekspektasi orang lain terhadap kita, juga berat secara akhirat; seberapa amanah, jujur dan adil kita memanfaatkan wewenang.

Juga berkurang waktu untuk melakukan hal yang kita sukai. Sebagaimana khulafaurrasyidin, mereka begitu sibuk dengan kepemimpinan, menyelesaikan masalah umat, memikirkan kebijakan hingga tak sempat meriwayatkan hadits/sunnah. Padahal mereka begitu dekat dengan Rasul, begitu tahu apa saja perilaku dan teladan Rasul. Malah Imam Bukhari dan Muslim yang jauh dari Rasul (tidak membersamai langsung) yang mendedikasikan waktunya untuk menuliskan hadits.

Maka, semakin dicari, semakin berprestasi, juga semakin harus berhati-hati. Sebab banyak yang tergelincir saat diberi ujian kenikmatan, kemahsyuran dan bergelimang pujian. Hingga ia merasa semua itu terjadi karena kehebatan dirinya, bukan karena Allah. Astaghfirullah.

Dan, ujian dari pujian itu selalu dekat dalam hidup kita. Yaa rabb, penghargaan ini hanyalah kudapatkan sebab Engkau masih menutupi aibku, kefakiranku, dan kebodohanku. Kuharap penghargaan ini adalah doa dari mereka agar niatku terjaga lurus menjadi seorang guru, wali kelas, dan tak henti memperluas wawasan. Aamiiin allahumma aamiin.

Meta morfillah

#Nulisrandom2017

16 June, 2017

#Day23 Kuat

#Day23 KUAT

Tadi siang saya ajak ponakan terkecil saya, Zahir ke sekolah tempat saya mengajar. Mengisi waktu, saya ajarkan dia memanah. Ini adalah pengalaman pertama baginya.

"Memanah itu ternyata sulit. Aku kira gampang yang di film-film."

"Iya lah. Stamina fisik kamu harus kuat. Rasulullah SAW itu kuat loh!"

"Kayak Ali sama Khalid kena terus ya manahnya, Teta? Malah naik kuda ya?"

"Iya. Sahabat rasul juga kuat-kuat. Gak ada tuh yang lemas. Alasannya puasa, gak sahur, tidur terus, malas olahraga (nyindir, tapi diri sendiri kesindir)."

Hmm, terbayang gak sih, betapa kuatnya para salafus shalih? Mereka menjaga pola makan, pola hidup, hingga sehat dan kuat beribadah dalam waktu lama. Gak kayak aku, tarawih 11 rakaat dengan bacaan 4 juz aja udah uget-uget kayak ulat, udah darah rendah mau pingsan diri kelamaan, udah ngantuk sangat, dipaksakan malah migrain. Aah payah banget dah!

Pantaslah kalau Allah jauh lebih suka mukmin yang kuat daripada yang penyakitan. Ibadahnya luar biasa, diesel terstabil!

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللّٰهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ
اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللّٰهِ وَلَا تَعْجَزْ
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah dibandingkan mukmin yang lemah. Pada masing-masing terdapat kebaikan. Berkemauan keraslah atas apa yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah serta janganlah lemah.” (HR Muslim)

Anak-anak... komentarnya polos tapi selalu jujur dan menohok. Begitulah, seringkali kita sedang mengajarkan cara hidup pada anak-anak kita, di saat yang sama mereka sedang mengajarkan kehidupan itu sendiri pada kita.

Sing kuat ya, Meta!
Ojo rapopo... RApuh POrak Poranda kayak garpu pop mie mudah dipatahkan hohoho

Meta morfillah

15 June, 2017

#Day22 Terpaksa-dipaksa-biasa-budaya

#Day22 TERPAKSA-DIPAKSA-BIASA-BUDAYA

Semua keberhasilan adalah hasil pembiasaan. Pun kebaikan. Tidak langsung sehari jadi sukses atau baik. Melainkan semua pasti ada proses, ada pergolakan batin dari terpaksa-dipaksa-biasa-budaya.

Seperti membudayakan anak mencintai masjid adalah dengan mengajaknya sering ke masjid. Membuat mereka merasa dekat dengan aktivitas masjid. Meski awalnya mereka terpaksa, lalu seiring usia mereka dipaksa oleh orangtua, sekolah, dan pengajian. Lama-lama mereka akan terbiasa. Mereka akan biasa mendengar orang mengaji dan mengkaji.

Terbiasa mendengar adzan dan bersegera mendirikan shalat berjamaah. Hingga kelak saat mereka berada di entah berantah, mereka akan otomatis mencintai itu semua. Mereka rindu dan menjadikan semua hal itu budaya yang mengaitkannya ke masa indah saat terpaksa dan dipaksa dahulu.

Maka, saya sering iri pada keluarga yang kompak mengajak anaknya ikut terlibat shalat berjamaah di masjid, ikut kajian, dan i'tikaf. Meski mungkin belum optimal dan maksimal, itu adalah upaya menautkan hati keluarga pada masjid.

Juga saya apresiasi masjid-masjid yang menerima keriuhan anak-anak dengan lapang dada, meluruskan bila ada kekeliruan dengan cara yang baik.

Saya pun kurang setuju pada statement yang sering ditujukan pada newbie i'tikaf, "I'tikaf di masjid kerjanya cuma tidur, baca qurannya dikit, mending di rumah aja. Itu mah cuma beda tempat tidur doang."

Awalnya mungkin hanya tidur, tapi tiap tahun insya allah ada perubahan. Mereka hanya butuh waktu untuk membiasakan diri dengan aktivitas masjid. Mereka akan malu sendiri dan akhirnya menemukan tempat serta waktu terbaik mereka. Jangan dipatahkan. Terus motivasi bahwa mereka bisa lebih baik.

Meta morfillah

#Day21 Jangan tergesa!

#Day21 JANGAN TERGESA!

Jangan tergesa dalam berdoa. Saat kita berdoa meminta sesuatu baru 2 tahun, lalu kita merasa gagal dan Allah tak mengabulkan. Boleh jadi, selama 2 tahun kita meminta sesuatu itu, Allah tengah mengabulkan doa-doa yang bahkan tak kita minta. Doa-doa orang lain untuk kita, seperti kesehatan, kebahagiaan, kebermanfaatan, dan bahkan kesendirian. Yang ternyata doa itu terbaik untuk kita di saat itu.

Boleh jadi Allah sedang mempersiapkan hadiah besar untuk kita. Membalas doa kita yang tekun, prasangka terbaik kita dengan hal terspesial. Agar saat kita mendapati doa kita telah dikabulkan, kita bisa mensyukurinya, mempertanggungjawabkannya, dan mengelolanya dengan elegan.

Sebab kita yakin, bahwa yang kini ada adalah hal yang sangat berharga.

Bila kita merasa penantian akan pengabulan doa kita sedemikian panjang, cobalah berkaca pada Nabi Ibrahim akan doanya yang berumur 4000 tahun. Doa agar diberi garis keturunan yang mendirikan shalat dan rahmatan lil 'alamin. Doa yang berganjar hadirnya Rasulullah SAW. Doa lintas generasi, zaman, waktu, dan jarak. Kehadiran seseorang yang berdampak besar bagi dunia akhirat.

Maka, apakah doamu yang kaurasakan belum dikabulkan? Janganlah berputus asa. Janganlah tergesa. Teruskan saja doa itu. Rayulah Allah dengan adab terbaikmu. Buktikan, bahwa kau telah siap menerima perwujudan doa-doamu dengan ikhtiar terbaikmu. Jaga terus lisan dan perbuatanmu, agar sekitarmu merasa aman dan nyaman dengan hadirmu.

Sebab bila bukan meminta pada Allah, pada siapa lagi kita berharap tanpa dikecewakan?

Meta morfillah

14 June, 2017

[Review buku] Mr. Justice Raffles

Judul: Mr. Justice Raffles
Penulis: E. W. Hornung
Penerbit: Visimedia
Dimensi: x + 422 hlm, 13 x 20 cm, cetakan pertama maret 2013
ISBN: 979 065 173 2

Raffles, siang hari merupakan pemain kriket handal namun menjelma pencuri legendaris dari Inggris pada malam hari. Dalam buku ini, Raffles berhadapan dengan rentenir licik bernama Dan Levy yang menjerat juniornya.

Raffles tidak menyangka bahwa permainan yang dia anggap kecil ini ternyata hampir merenggut nyawanya dan menjebak dirinya serta kawan setianya, Bunny Manders.

Membaca novel ini, seakan membaca Sherlock Holmes versi lain. Dari pemilihan tokoh dan sahabatnya, hingga kisah cinta terpendam seorang lady pada Raffles. Ternyata semua ini disebabkan penulis novel ini adalah saudara ipar Doyle (penulis Sherlock Holmes) dan saat menulis seri Raffles, penulisnya sedang tinggal bersama Doyle. Sepertinya memang agak terwarnai.

Namun tetap saja, gaya bahasa dan twistnya masih kerenan Sherlock Holmes hoho. Jujur saja, novel ini kurang asyik, entah karena terjemahannya atau memang cerita aslinya yang kurang detektif gitu. Deduksi dan konklusinya terasa kurang dalam dan deskripsinya kurang mengena.

Saya apresiasi 3 dari 5 bintang.

"Orang yang cedera janji pantas membayar sebanyak-banyaknya." (H.71)

"biarkan masalah tidur dan tidurkan masalah!" (H.289)

Meta morfillah

#Day20 Yang pasti

#Day20 YANG PASTI

pasti datangkah semua yang ditunggu
detik-detik berjajar pada mistar yang panjang
barangkali tanpa salam terlebih dahulu

januari mengeras di tembok itu juga
lalu desember…
musim pun masak sebelum menyala cakrawala
tiba-tiba kita bergegas pada jemputan itu

(Puisi "Buat Ning" - Sapardi Djoko Damono)

Tadi pagi mendengar kabar seniorku yang telah mendahului pergi. Sempat mengenal dekat karena aku menggantikan posisinya di sebuah perusahaan. Saat itu pula aku tahu bahwa ia tengah berjuang melawan kanker. Tiga tahun berselang dan kanker telah memenangkan pertempuran itu.

Terbayang seniorku yang lain, pendampingnya, bagaimana ia sabar menemani hingga akhir hayat. Adakah kecewa hinggap di hatinya? Aku tak tahu.

Kubaca pula ada yang meninggal saat shalat isya berjamaah dalam posisi sujud. Aah... yang pasti telah datang. Dan kita tak pernah tahu kapan kepastian itu akan menjemput kita. Sejatinya kita hanya menunggu.

Sementara perbedaan cerdas adalah kesadaran kita. Apakah kita tengah menunggunya dalam kesadaran dengan memperbanyak bekal dan amal kebaikan, ataukah sibuk berleha-leha, menyusahkan sesama dan mencari pembenaran untuk segala khilaf kita. Astaghfirullah...

Seberapa yakinkah kita, bahwa kita telah siap meninggalkan dunia? Hingga kita terbahak seakan hidup selamanya. Sementar mereka yang tahu indahnya hidup, banyak menangis... sebab tahu siksa abadi kelak.

Semoga Allah mengampuni dan menerima semua jiwa yang kembali dalam tenang. Pun kita, semoga tetap istiqomah dalam agamaNya sehingga saat kematian menjemput, kita siap.

Meta morfillah

13 June, 2017

#Day19 Jangan takut!

#Day19 JANGAN TAKUT!

Alarm terbaik adalah mama. Selalu berhasil membangunkan dan memastikanku tidak telat. Jadi, saat beliau tidak ada ya terasa sekali ada yang kurang. Bangun mepet imsak, terus rumah sepi gitu. Gak ada yang bawel. Ngangenin!

"Ma, jadi mama terbaik kayak Mama tuh bagaimana sih caranya? Aku gak yakin kalau nanti aku jadi ibu bisa setangguh, serajin dan sehebat mama."

"Nanti juga bisa. Nikah saja dulu, jadi istri yang baik. Punya anak saja dulu, nanti jadi ibu yang baik."

"Apaan, aku mah bangun shalat malam aja susah. Bangun subuh masih suka tidur lagi. Malas masak, nyuci gak sebersih mama, nyetrika apalagi. Aah... banyak dah aku mah gak bisanya."

"Bisa. Pasti bisa. Belajar!"

Jadi, menurut beliau sudah naluri wanita akan menjadi yang terbaik kalau dia paham agama dan terpenuhi kebutuhannya, terutama akan cinta. Semua adalah proses belajar sepanjang hayat. Menjadi istri terbaik, ya harus belajar bareng suami. Menjadi ibu terbaik, ya harus belajar bareng anak.

Jadi, wanita... kurang-kurangi yaa kekhawatiranmu. Jalani saja, ridhai apa yang telah diridhaiNya. Selama kita taat, insya allah semua lewat~

*special note for our belove ukhti: Jangan takut nikah, jangan takut punya anak, jangan takut terbatasi gerak dan cita-cita karena memenuhi syariat cinta halalmu (n_n)

Meta morfillah

#Day18 Pada hal-hal

#Day18 PADA HAL-HAL

mencintai angin harus menjadi siut
mencintai air harus menjadi ricik
mencintai gunung harus menjadi terjal
mencintai api harus menjadi jilat
mencintai cakrawala harus menebas jarak
mencintaiMu harus menjelma aku

(Puisi "Sajak kecil tentang cinta" - Sapardi Djoko Damono)

Mencintai apa pun, harus memahami kesederhanaannya, ada risikonya. Sebab pada hal-hal sederhana itu, kita akan mengagumi kehebatannya. Sebab pada hal-hal berisiko itu, kita akan semakin tertantang mendekat, merapat dan menghangat dalam cinta.

Sebab cinta bukanlah perkara besar, ia adalah dalam. Bukan seberapa luas, tapi seberapa palung hatimu.

Maka pada ramadhan yang kian beranjak, meski pelan tapi pasti, sudahkah hatimu memalung dalam padanya?

Pada hal-hal sederhana saat makan di gulita pagi. Pada hal-hal sederhana memaksakan diri pulang cepat, mengarungi macet demi memenuhi seat dalam acara berbuka bersama yang disayang dan menyayangimu. Pada hal-hal sederhana saat langkah menjadi ringan ke masjid, saat tangan menjadi ketagihan berbagi, saat kebaikan merajalela bukan untuk pencitraan.

Pada hal-hal itu, belum hal-hal besar yang kita pahami ganjaran besarnya di akhirat. Pada hal-hal yang sederhana, teriknya dahaga, melilitnya lapar, melemahnya tenaga, dengan terbatasnya pengetahuan akan pahala dan surga. Sudahkah hati kita memalung pada bulan yang datang setahun sekali ini?

Meta morfillah

12 June, 2017

#Day17 Kecewa

#Day17 KECEWA

"Jangan pernah beri ruang kecewa." Kata Musril di Rapat Evaluasi tadi malam, mengutip Bang Zul.

Iya banget. Saat kerja tim, apalagi bekerjasama dengan banyak pihak, seringkali tak sengaja kita menumpuk kekecewaan. Kekecewaan itu terjadi sebab kita kurang ikhlas. Merasa paling banyak berkontribusi. Masya Allah, diingatkan lagi di PAY ini. That's why I love you, guys!

Ada banyak kesempatan untuk membuka ruang lebih lebar pada kekecewaan. Bayangkan saja, 500 relawan dari berbagai lokasi (Cilegon, Serang, Bogor, Bekasi, Tangerang, dll) menyisihkan waktu untuk Gladi resik dan acara #BUKBERakbarPAY2017 di TMII. Bahkan ada yang menginap dan kurang tidur. Pulang pukul 02.00 kembali ke lokasi pukul 06.00. Luar biasa!

Acara pun baru selesai kira-kira pukul 22.00, itu pun masih ada yang stay merapikan perlengkapan hingga pukul 01.00. Padahal mereka besok pun kerja pagi. Ada yang dinas dokter, bidan, guru, pegawai bank, dll. Sampai ada yang menggunakan jatah cutinya sebab tahu dirinya pasti lelah habis acara ini. Totalitas demi acara!

Semua ego itu sempat muncul dan meninggi kala tensi naik. Tapi lagi-lagi berusaha diredam sebab tekad para Re(a)lawan sama, yakni #BuatMerekaTersenyum !

Masak relawannya malah gak senyum, masak malah gak bahagia. Yang sakit ditahan-tahan sampai akhirnya pingsan juga ada. Ah, luar biasa deh kalian!

Semoga segala amal kerja kita berbuah pahala, berkah, semua lelah bernilai lillah. Aamiin allahumma aamiin.

Btw, makasih banget buat keluarga dan partner kerja yang mendukung dan memaklumi kekurangan tha selama sibuk dengan acara ini. Tanpa kalian, tha pasti gak maksimal. Love you, guys. Maaf rada telat, otw menuju Bogor nih hoho

Jazakumullah khairan katsir buat semuanya (n_n)

Meta morfillah

10 June, 2017

#Day16 Damba

#Day16 DAMBA

Siapa yang tak mendamba bidadari? Sosok yang terjaga dalam surgawi. Kecantikannya mengalahkan sinar mentari, begitu bercahaya. Bila ia meneguk air, air tegukannya itu terlihat mengalir dalam urat lehernya. Saking beningnya. Terbayang cantiknya?

Tak pernah tersentuh lelaki. Eksklusif. Hadiah terindah untuk hamba yang terpilih. Tak pernah menua. Terbayang energik dan asyiknya bercanda dengannya?

Sementara kita, wanita dunia... begitu mendamba menjelma bidadari surga. Kita menjaga diri semampu kita. Kita beribadah sekuat kita. Namun kadang, rasanya begitu berat. Tampilan fisik saja kita begitu jauh dari kata bidadari. Bagaimanalah mewujudkan damba? Bisakah wanita bumi menjelma wanita surgawi?

Alhamdulillah... ternyata bisa. Bahkan bidadari cemburu pada kita, wanita bumi. Meskipun kita keriput, bergelambir, berkulit kasar, hitam, jauh dari kata rupawan, ternyata Allah melebihkan kita. Kelebihan itu ada pada sifat rahiim kita sebagai seorang ibu. Ibu kandung, ibu guru, ibu asuh yang mendidik anak dengan baik untuk mengenal penciptaNya.

Maka, damba ini bukanlah hampa. Mari terus berkarya terbaik sebagai anak, wanita, istri, ibu, dan peran lainnya. Semoga kelak kitalah yang menjadi bidadari surga untuk suami kita. Aamiiin.

Meta morfillah

08 June, 2017

#Day15 Pemimpin

#Day15 PEMIMPIN

Kalau sekadar mengatur berdasarkan aturan, saya rasa semua orang mampu. Sebab hanya ada dua frasa: salah-benar. Sayangnya, seringkali kebenaran tidak akan sampai kalau tidak dibungkus akhlak yang meliputi: baik-buruk.

Menjadi pemimpin, adalah upaya memenangkan hati agar kebenaran meresap ke sanubari jamaah manusia yang dipimpinnya, tentu dengan akhlak yang baik. Dan itu berat. Maka wajar, ganjaran pemimpin yang adil adalah surga, dan ia menjadi yang pertama dijanjikan oleh Allah.

Bagi saya, menjadi pemimpin itu amanah luar biasa berat. Bahkan hal yang kadang menurut saya kecil, bisa dianggap besar dan memicu konflik berkepanjangan. Meski di bulan baik, untuk tujuan baik. Misal dalam hal bukber anak yatim di beragam komunitas, perbedaan font size dalam desain bisa memicu perdebatan, perbedaan pilihan menu makanan bisa meruncingkan konflik, dan masalah izin siapa yang berkuasa di daerah tersebut bisa memantik ego.

Kalau saya pemimpinnya, saya babat habis. Semua itu tidak terlalu esensial bagi saya. Sebab yang utama adalah melayani anak yatim, berlomba berbuat baik, dan meluruhkan ego sebagai panitia. Tapi, tentu saja itu bukan akhlak yang baik. Banyak yang tak sepndapat dengan saya. Banyak pula kebaikan terhenti sebab birokrasi yang sulit, lelah menjadi tidak lillah karena tidak menang berdebat.

Maka, saya tak pernah memimpikan menjadi pemimpin puncak. Sebab saya tahu, itu terlalu berat. Mendengarkan banyak hati, memenangkan dan menenangkan meski tak memuaskan semua pihak. Aah... teladan Rasulullah SAW sungguh sempurna.

Kesadaran itu, membuat saya paham saya haruslah menjadi great follower agar membantu mewujudkan great leader di mana pun saya berada. Sebab kesuksesan pemimpin pun bergantung pada jamaahnya. Sami'na wa atho'na, meski berat, meski hati mengingkari, sebab kadang ada hal besar yang dilihat oleh pemimpin kita saat kita masih tertutup mata akannya.

Tapi hei, kadang menyebalkan ketika saya mempraktikkan menjadi great follower, pada akhirnya tetap dipilih menjadi leader. Sebab great follower = great leader! Oalah mantan bos, apa yang kaukatakan kadang benar. Dan saya tak suka! Haha...

Meta morfillah

07 June, 2017

#Day14 Tabah

#Day14 TABAH

Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

(Puisi "Hujan bulan Juni" - Sapardi Djoko Damono)

Mengapa harus bulan Juni?
Saat puisi ini ditulis, tahun 1989, siklus muson barat (hujan) dan muson timur (kemarau) masihlah stabil. Sebagaimana ingatan saat kita sekolah dulu hujan terjadi mulai bulan September-Februari. Juni, adalah saat hujan paling jarang berkunjung ke bumi.

Maka, maknanya menjadi dalam... betapa hujan menjadi tabah sebab ia patuh pada titah Tuhannya saat diperintahkan merahasiakan rindunya pada bunga, menghapus jejaknya di jalan, dan membiarkan perasaannya tak terucap. Hujan bulan juni bagai ramadhan bagi mukmin.

Saat mukmin jatuh hati, namun tak ia tampakkan hatinya sebelum Allah meridhai dalam pernikahan. Ia hapus jejak hatinya pada jalan yang meragu (mendekati zina). Ia biarkan rasanya terpendam dan hanya terserap akar bunga, sebelum ia mampu mengikat dalam akad. Bukanlah mukmin menelantarkan rasa, melainkan ia mengikat rasanya dengan iman. Bila ia belum mampu untuk mengikat dengan akad.

Di bulan ramadhan pula, mukmin belajar menjadi tabah bagai hujan bulan juni, menahan diri dari yang halal. Membatasi, meskipun halal, sebab Allah memerintahkannya begitu. Aah... mukmin, kalianlah hujan bulan juni. Kalianlah sosok tabah dalam puisi itu.

Tetaplah tabah, menunggu saat berbukamu. Berbuka dalam hal sebenarnya di kala maghrib, berbuka dalam makna kiasannya setelah penantian panjang, dan berbuka dalam makna sejatinya saat Allah membuka tabirNya dan memanggil nama kita sebagai hambaNya.

Meta morfillah

#Nulisrandom2017

06 June, 2017

#Day13 Orangtua

#Day13 ORANGTUA

Menjadi wali kelas berarti sering berhubungan dengan orangtua murid. Bahkan bisa dibilang 24 jam di zaman sekarang. Sebab begitu mudah dengan grup whatsapp dan japrian. Pernah ditelepon malam banget dan pagi banget. Pernah diskusi sampai tengah malam tentang kondisi seorang anak.

Setelah hampir setahun menjadi mitra orangtua di sekolah, saya banyak belajar.

1. Watak, reaksi, kepemimpinan dan cara memutuskan orangtua sangat berpengaruh pada karakter anak. Orangtua yang care, rata-rata anaknya sukses. Pun sebaliknya. Jadi kadang saya lebih suka orangtua yang kritis, sopan dan paham situasi, sering memantau perkembangan anaknya di sekolah dibanding yang cuek dan melemparkan tanggung jawabnya pada sekolah.

2. Kerjasama dan komunikasi guru di sekolah dengan orangtua di rumah yang terjalin baik akan membentuk karakter anak yang baik. Saya sering menegur langsung orangtua di rumah apabila saya melihat ada anak saya yang berubah tiba-tiba ke arah negatif. Rata-rata setelah digali info, memang biasanya pengawasan di rumah mengendur. Jadi kadang dipenetrasi lagi di sekolah oleh guru. Bahkan kadang anaknya curhat sampai lama. Jadi guru dan orangtua jangan bersaing siapa yang lebih baik, atau jalan masing-masing. Melainkan saling melengkapi. Bahkan tugas mendidik adalah tetap tugas utama orangtua, yang kelak dipertanggungjawabkan pada Allah.

3. Kadang anak jauh lebih mendengar apa kata guru dibanding orangtua. Maka orangtua harus pintar berstrategi, meski meminjam "Kata Bu Meta," namun tetap perlu dikomunikasikan kembali agar citra guru dan orangtua tetap seperti porsi yang dilihat sang anak. Jangan mengada-ada dan menjadikan senjata kata guru itu untuk memerintahkan sesuatu pada anak. Sebaiknya guru ybs tahu jika namanya sering dijadikan kalimat sakti. Balik ke komunikasi sih.

4. Beragam profesi dan status sosial orangtua tidak perlu dilihat seksama oleh guru. Anggap semua orangtua ya ayah dan bunda dari murid kita. Mengetahui profesi mereka hanya untuk memahami kegiatan mereka sehingga bisa mengatur jadwal dengan anak mereka. Sebab khawatir kalau fokus ke sana, bisa membuat guru kehilangan penilaian objektif.

Di balik itu semua, pembelajaran berharga bagi saya adalah saya menyaksikan sendiri perjuangan tiap orangtua untuk membuat anaknya menjadi terbaik dengan cara terbaik mereka.

Meski beberapa kali saya kurang setuju dengan keputusan yang diambil orangtua, tapi saya mencoba berpikir lebih panjang. Ada orangtua yang menanti lama untuk mendapatkan anak, ada yang butuh sembuh dari trauma, ada yang jauh dari segi waktu dan jarak dengan anak, dan ada yang mengalami keterlambatan perkembangan mental. Jadi, cara orangtua meski kadang menurut saya kurang maksimal, bisa jadi adalah terbaik untuk anak mereka. Sebab saya tak pernah tahu bagaimana rasanya menantikan buah hati, sakitnya melahirkan, memperbaiki keretakan hubungan akibat trauma.

Masya Allah... semua orangtua adalah ORANGTUA TERBAIK yang telah Allah pilihkan untuk anaknya. Kekurangan mereka bisa jadi kelebihan mereka pula.

Sebab tak pernah ada sekolah menjadi orangtua. Tak pernah bisa menyamakan cara mendidik satu anak, meskipun mereka kembar identik. Ya Allah, berilah kesabaran dan pahala terbaik untuk para orangtua kami. Aaamiiin allahumma aamiin.

Meta morfillah

05 June, 2017

#Day12 Nama

#Day12 NAMA

Di antara semua kata terindah di dunia ini, adalah nama kita sendiri yang begitu bermakna. Terlebih bila saat diucapkan dengan nada lembut dalam doa kebaikan untuk diri kita. Seperti dalam doa orangtua kita, yang tak pernah kita minta namun selalu tak luput disebut.

Adalah nama kita sendiri... mengandung banyak doa dan harapan kebaikan agar kita menjelma sosok yang diharapkan menyifatinya. Misal Idris, diharapkan perilakunya sebagaimana nabi Idris a.s. lalu Sri diharapkan bijak sebagaimana ratu. Pun nama dengan kata sifat yang gamblang seperti Jelita, Sabar, dll.

Bahkan ilmu yang pertama diajarkan Allah pada nabi Adam a.s. adalah berua nama-nama. "Hadzihis syajaroh... Ini adalah pohon." Mengenalkan definisi hingga epistemologi suatu kata diawali dengan nama. Tak kenal maka ta'aruf. Tahu dulu namanya.

Hingga saat kita meninggalkan dunia ini pun, hanya akan menyisakan nama. Apakah nanti akan mengingatkan kebaikan atau keburukan saat nama kita diucap? Apakah akan mengundang "Innalillah" disertai kepedihan sebab kehilangan ataukah "Alhamdulillah" disertai sorak sorai saat kita meninggal?

Maka... jaga baik-baik nama kita dengan menjaga iman, akhlak, dan adab kita. Sebab hanya itu yang kita miliki di dunia ini.

Semoga nama "Meta" menjadi nama yang dirindukan surga dan dikenang kebaikannya, diampuni kesalahan dan kesilapannya. Aamiiin.

Meta morfillah

Text Widget