Pages

Showing posts with label Pernikahan. Show all posts
Showing posts with label Pernikahan. Show all posts

28 April, 2014

Bersatu Dalam Bingkai Madani

Menikahlah

Dalam isyarat Nabi tentang Nikah, ialah sunnah teranjur nan memuliakan. Sebuah jalan suci untuk karunia sekaligus ujian# cinta-syahwati.Maka sebagai ibadah, memerlukan kesiapan dan persiapan. Ia untuk yang mampu, bukan sekedar mau. “Ba’ah” adalah parameter kesiapannya.

Maka berbahagialah mereka yang ketika hasrat hadir bergolak, sibuk mempersiapkan kemampuan, bukan sekedar memperturuntukan kemauan. Persiapan hendaknya segera membersamai datangnya baligh, sebab makna asal “Ba’ah” dalam hadits itu adalah “Kemampuan seksual.”

Imam Asy Syaukani dalam Subulus Salam, Syarh Bulughul Maram menambahkan makna “Ba’ah” yakni: kemampuan memberi mahar dan nafkah. Mengompromikan “Ba’ah” di makna utama (seksual) dan makna tambahan (mahar, nafkah), idealnya anak lelaki segera mandiri saat baligh.

Jika kesiapan diukur dengan “Ba’ah”, maka persiapannya adalah proses perbaikan diri nan tak pernah usai. Ia terus seumur hidup.

Izinkan saya membagi Persiapan dalam 5 ranah:
  1. Ruhiyah, 
  2. ‘Ilmiyah,
  3. Jasadiyah (Fisik),
  4. Maaliyah (Finansial),
  5. Ijtima’iyah (Sosial)
Persiapan perlu start awal. Salim menikah usia 20 tahun, tapi karena persiapannya dimulai umur 15 tahun, maka tak bisa disebut tergesa.Sebaliknya, ada orang yang nikah-nya umur 30 tahun, tapi persiapan penuh kesadaran baru dimulai umur 29,5 tahun. Itu namanya tergesa-gesa.

Kita mulai dari yang pertama; Persiapan Ruhiyah. Ialah nan paling mendasar. Segala persiapan lainnya berpijak pada yang satu ini. Persiapan Ruhiyah (Spiritual) ada pada soal menata diri menerima ujian dan tanggungjawab hidup nan lebih berlipat, berkelindan. (QS Ali Imran 14): Sebelum nikah ujian kita linear: pasangan hidup. Begitu berjejalin: pasangan, anak, harta, gengsi, investasi. Sebelum Nikah, grafik hidup kita analog dengan amplitudo kecil. Setelah menikah, ia digital variatif; kalau bukan nikmat, ya musibah.

Maka termakna jua dalam Persiapan Ruhiyah terkait adalah kemampuan mengelola sabar dan syukur menghadapi tantangan-tantangan itu. Sabar dan syukur itu semisal tentang pasangan; ia keinsyafan bahwa tak ada yang sempurna. Setiap orang memiliki lebih dan kurangnya. Khadijah itu lembut, penyabar, penuh pengertian, dan dukung penuh perjuangan. Tapi tak semua lelaki mampu beristeri jauh lebih tua. ‘Aisyah: cantik, cerdas, lincah, imut. Tapi tak semua lelaki siap dengan kobar cemburunya nan sampai banting piring di depan tamu.

Persiapan Ruhiyah adalah mengubah ekspektasi menjadi obsesi. Dari harapan akan apa nan diperoleh, menuju nan apa akan dibaktikan. Jika masih terbayang sebagai berikut: lapar ada yang masakin, capek ada yang mijitin, baju kotor dicuciin. Itu ekspektasi. Bersiaplah kecewa.

Ekspektasi macam itu lebih tepat dipuaskan oleh tukang masak, tukang pijit, dan tukang cuci;) Ber-obsesilah dalam Nikah. “Apa obsesimu?”

Obsesi sebagai Persiapan Ruhiyah semisal: Bagaimana kau akan berjuang sebagai suami/isteri ayah/ibu untuk mensurgakan keluargamu? Usai itu, di antara persiapan Ruhiyah adalah menata ketundukan pada segala ketentuanNya dalam rumah tangga dan masalah-masalahnya.

Lalu persiapan ‘Ilmiyah-Tsaqafiyah (Pengetahuan) Nikah, meliput banyak hal semisal Fiqh, Komunikasi Pasangan, Parenting, Manajemen, dan lain-lain. Bukan Ustadz-pun, tiap muslim harus sampai pada batas minimal lmu syar’i nan dibutuhkan dalam berhidup, berinteraksi, berkeluarga

Lalu tentang komunikasi pasangan; seringnya masalah rumahtangga bukan krn ada maksud jahat,melainkan maksud baik nan kurang ilmu Nikah. Sungguh harus diilmui bahwa lelaki dan perempuan diciptakan berbeda dengan segala kekhasannya, untuk saling memahami dan bersinergi.

Contoh beda hadapi masalah dan tekanan; Wanita: berbagi, didengarkan, dimengerti. Lelaki: menyendiri, kontemplasi, rumuskan solusi Nikah.

Bayangkan jika perbedaan itu dibawa dalam sikap dengan asumsi: “Aku mencintaimu seperti aku ingin dicintai” Konflik pasti meraja. Suami pulang dengan masalah berat disambut isteri yang memaksa ingin tahu dan dengar problemnya, padahal ia ingin sendiri dan bersolusi.

Lihatlah Khadijah saat Muhammad pulang dari Hira’ dengan panik dan resah. Dia tak bertanya, dia sediakan ruang sendiri dan kontemplasi. Sebaliknya, isteri yang sdg ingin didengar lalu curhat ke suami, suami malah tawarkan solusi. Padahal dia hanya ingin dimengerti.

Isteri: “Mas aku capek, rumah berantakan bla-bla-bla.”

Suami: “OK, kita cari pembantu. “

Istri: “O, jadi aku dianggap pembantu?!.”

Suami: “Lho?!”

Beda lagi: Suami single tasking, bisa marah kalau isterinya nan multitasking memintanya kerjakan beberapa hal berangkai-rangkai.

Beda lagi: Isteri sering berkalimat tak langsung nan tak difahami suami. Istri: ”Mas, Salma belum dijemput, aku masih harus masak!”

Jawab suami: “Oh, kalau gitu biar nanti Salma pulang sendiri”

Dijamin para isteri gondok, sebab maksudnya: “Tolong jemput Salma!”

Beda. Bagi suami masalah harus disederhanakan (Spiral ke dalam). Bagi isteri, tiap detail dan keterkaitan sangat penting (Spiral keluar)

Dan banyak lagi beda yang jika tak diilmui potensial jadi masalah serius.

Next: Parenting. Waktu kita sempit; belum puas belajar jadi suami/isteri, tiba-tiba sdh jadi ayah/ibu. Maka segeralah belajar jadi Ortu. Anak adalah karunia yang hiasi hidup, amanah (lahir dalam fitrah, kembalikan ke Allah dalam fitrah), pahala, sekaligus fitnah (ujian).

Maka mengilmui hingga detail-detail kecil soal parenting adalah niscaya. Contohnya hadits: renggutan kasar pada bayi membekas di jiwa.

Uji kecil buat calon ibu dan ayah: “Apa yang anda lakukan saat anak lari-larian di depan rumah lalu gabruss, jatuh berdebam?”

Lazim: “Sudah dibilang, jangan lari-lari! Tuh, jatuh kan!” Anak belajar untuk menganggap dirinya selalu bersalah dalam hidupnya.

Lazim: “Iih, batunya nakal ya Nak! Sini Ibu balaskan!” Anak belajar salahkan keadaan sekitar untuk excuse dari kurangnya ikhtiyar.

Lazim: “Hm, nggak apa-apa, nggak sakit, cuma kayak gitu!” Ketakpekaan. Hati-hati dibalas saat kita sdh tua dan sakit-sakitan.

Alangkah bahaya tiap huruf dari lisan bg masa depan anak kita. Latihlah dia agar lempang (tanpa dusta dan tipu) dalam taqwa (QS 4: 9)

Kita masuk persiapan Jasadiyah (Fisik) untuk. Ini jua perkara penting sebab terkait dengan keamanan, kenyamanan, dan ketenagaan. Awal-awal, periksa dan konsultasilah ke dokter atas termungkinnya segala penyakit tubuh, lebih-lebih nan terkait kesehatan reproduksi

Pernikahan itu utuh di segala sisi diri, maka menjalani terapi dan rawatan tertentu untuk membaikkan fisik adalah jua hal yang utama. Fisik kita dan pasangan bertanggungjawab lahirkan generasi penerus yang lebih baik. Maka perbaiki daya dan staminanya sejak sekarang.

Perbaiki pola asup, tata gizi seimbang. Allah akan mintai tg jawab jajan sembarangan jika ia jadi sebab jeleknya kualitas penerus Bangun kebiasaan olahraga ilmiah; tak asal gerak tapi membugarkan, menyehatkan, melatih ketahanan. Tugas fisik berlipat 3 setelahnya.

Jadi, target persiapan fisik itu 3 tingkatan;

1. primer: sehat dan aman penyakit, 2. sekunder: bugar dan tangkas, 3. tersier: beauty dan charm

Selanjutnya, persiapan Maliyah (finansial), ini yang paling sering menghantui dan membuat ragu sepertinya. Padahal ianya sederhana. Konsep awal; tugas suami adalah menafkahi, BUKAN mencari nafkah. Nah, bekerja itu keutamaan dan penegasan kepemimpinan suami. Ingat dan catat: Persiapan finansial sama sekali TIDAK bicara tentang berapa banyak uang, rumah, dan kendaraan yang harus anda punya.

Persiapan finansial bicara tentang kapabilitas hasilkan nafkah, wujudnya upaya untuk itu, dan kemampuan kelola sejumlah apapun ia. Maka memulai pernikah-an, BUKAN soal apa anda sudah punya tabungan, rumah, dan kendaraan. Ia soal kompetensi dan kehendak baik menafkahi.

‘Ali ibn Abi Thalib memulai bukan dari nol, melainkan minus: rumah, perabot, dan lain-lain dari sumbangan kawan dihitung hutang oleh Nabi. Tetapi ‘Ali menunjukkan diri sebagai calon suami kompeten; dia mandiri, siap bekerja jadi kuli air dengan upah segenggam kurma.

Maka sesudah kompetensi dan kehendak menafkahi yang wujud dalam aksi bekerja -apapun ia-, iman menuntun: itu buat kaya (QS 24: 32)

Agak malu, Salim juga minus saat nikah; hutang yang terrencanakan terbayar dalam 2 tahun menurut proyeksi hasil kerja saat itu. Tetapi Allah Maha Kaya, dan menjadi pintu pengetuknya. Hadirnya isteri menjadi penyemangat; hutang itu selesai dalam 2 bulan.

Buatlah proyeksi nafkah secara ilmiah dan executable, JANGAN masukkan pertolongan Allah dalam hitungan, tapi siaplah dengan kejutanNya.

Kemapanan itu tidak abadi. Saya memilih di usia 20 saat belum mapan agar tersiapkan isteri untuk hadapi lapang maupun sempitnya. Bahkan ketidakmapanan yang disikapi positif menurut penelitian Linda J. Waite (Psikolog UCLA), signifikan memperkuat ikatan cinta

Ketidakmapanan nan dinamis menurut penelitian Karolinska Institute Swedia, menguatkan jantung, meningkatkan angka harapan hidup. Karolinska Institute: kemapanan lemahkan daya tahan jantung terhadap serangan. Di Swedia, biasanya yang kena infark langsung wafat PNS

Persiapan yang sering terabai ialah nan kelima ini: Ijtima’iyah (Sosial). Pernikahan adalah peristiwa yang kompleks secara sosial. Sebuah pernikahan yang utuh punya visi dan misi kemasyarakatan untuk menjadi pilar kebajikan di tengah kemajemukan suatu lingkungan. Untuk itu, mereka yang akan me hendaknya mengasah keterampilan sosialnya jauh-jauh hari, sekaligus sebagai bagian pendewasaan.

Membiasakan mengkomunikasikan prinsip-prinsip nan diyakini terkait pernikahan dan kehidupan kepada Orangtua bisa jadi bagian dari latihan.

Prinsip Quran tentang hubungan dengan Ortu ialah ‘persahabatan’, Wa Shaahibhuma (QS Luqman 15). Gunakan itu untuk dewasakan diri. Maka kadang Salim menilai kedewasaan kawan yang ingin menikah dengan keberhasilannya untuk komunikasikan prinsip pada Ortu scr ma’ruf. Persiapan kemasyarakatan: kumpulkan modal sosial sebanyak-banyaknya; bahasa, ilmu sosio-antropologis, kelincahan organisasi, dan lain-lain.

Pernikahan kita harus hadir sbg pengokoh kebajikan masyarakat, bukan beban ataupun pelengkap-penderita. Utama lagi, jadi pelopor. Mulailah dengan perkenalan berkesan pada lingkungan. Saat walimah nanti; tetangga rumah tinggal setelah adalah yang plg berhak diundang. Jika harus pindah tempat tinggal, mulai juga dengan perkenalan. Para tokoh: datangi silaturrahim. Masyarakat umum: undang tasyakuran.

Setelah itu, target besarnya adalah menjadikan pintu rumah kita sebagai yang paling pertama diketuk saat masyarakat sekitar memerlukan bantuan. Tentu berat menopangnya sendiri. Maka yang harus kita punya bukan hanya ASET, melainkan juga AKSES. Bangun jaringan saling menguatkan.

Ilmuilah bagaimana cara menguruskan jaminan kesehatan miskin, beasiswa tak mampu, biaya RS, mobil jenazah gratis, dan lain-lain demi tetangga kita.

Tampillah sebagai yang penting dan bermanfaat dalam hajat-hajat kebahagiaan maupun duka tetangga, juga rayaan-rayaan sosial-masyarakat. Tampillah sebagai yang terbaik sejangkau sesuai kemampuan; Imam Masjid, muadzin, Guru TPA, Bendahara RT, Ketua RW, Pendoa jenazah, dan seterusnya.

Tampillah sebagai nan paling besar kontribusi dalam kebaikan-kebaikan sosial: Agustusan, Syawalan, Kerja Bakti, Arisan, Pengajian, dan seterusnya. Ringkas kata untuk persiapan sosial ini adalah bermampu diri untuk menjadi pribadi dan keluarga yang aman, ramah, bermanfaat.

Salim A Fillah
28 April 2014

17 October, 2013

Memilih pasangan

Kira-kira bagaimana yang orang yang paling tepat untuk kondisi kita? Orang yang paling bisa membawa kita menuju kebaikan dan perbaikan. Usia terus berjalan, pertanyaan itu masih belum terjawab. Rindu kian memuncak, mimpi telah terajut indah. Kesempatan masih belum datang, atau justru telah lewat karena kita yang tak peka? Terlalu pemilihkah?

Karir pun ditata mulai sekarang. Pengalaman, gelar, harta, kesiapan, semuanya kian dipupuk. Meningkat dan terus meningkat, tapi ternyata Allah belum berkehendak. Kriteria ditetapkan, usia berjalan lalu diturunkan, akhirnya berakhir pada kepasrahan.

Apakah sejak awal kita yang terlalu memaksakan?
Atau kita terlalu “tinggi” hingga sulit didapatkan?
Mengapa sampai sekarang Allah masih belum berkehendak?
Mengapa kita masih berada pada ujian yang sama, ujian penantian?

Pada akhirnya ada seseorang yang memberi harapan. Palsu atau tidak, kita kian tak peduli. Karena yang terpenting harapan itu masih ada. Ia datang dan memupuk mimpi baru menuju gerbang pernikahan. Diskusi demi diskusi sudah menuju konklusi. Yaa… kita siap melangkah bersama. Tapi apalah daya, waktu semakin berjalan dan hanya diskusi yang terus dilakukan.

Angan kian melambung, hati makin terjerumus, akal kian membuta, usia kesuburan pun semakin berkurang. Ingin melepaskan tapi tak sanggup. Padahal kesempatan melangkah terus berdatangan dengan tawaran yang lebih konkrit. Akhirnya kita mengalah pada rasa dan harapan semu yang kita bangun sendiri.

Lalu bagaimana ketika tak ada juga yang hadir atau sekadar memberi harapan?

Kadang kita mengubah kelakuan. Berusaha tampil menarik dan memikat dia yang entah siapa. Bersikap lebih manja dan tak lagi tampil elegan karena kebablasan. Topeng pun menjadi perubahan kepribadian kita menjemput pernikahan. Bukan perubahan dalam kebaikan, melainkan menjadi seseorang yang baru dan tak lagi anggun sebagai seorang wanita. Standar pun diturunkan dengan menurunkan pula kualitas kepribadian kita, berharap ia datang dengan segera.

Akhirnya harapan itu terkabul, ia yang datang seadanya karena standar diri kita pun diturunkan seadanya. Lalu masih proteskah kita?

Kita sebagai perempuan punya usia kesuburan yang mahal harganya dan banyak pria yang tak bisa menghargai hal ini dengan memberi harapan palsu tanpa berani bertanggung jawab atas hati yang telah terjerumus. Mengulur dan terus mengulur hingga akhirnya semua dibatalkan. Banyak juga pria yang akhirnya menyadari akan hal ini tapi justru memilih yang lebih muda dan bukan kita. Kandas hingga hampir putus asa dengan semua pemikiran tersebut, tapi itulah realita yang harus kita terima.
Teringat janji Allah bahwa akan ada ia yang baik untuk kita yang baik. Jika saat ini kita sedang sibuk dalam kebaikan, ia pun demikian. Dan jika sebaliknya, maka keadaan pun tak akan jauh berbeda terhadap dirinya.

Kenapa kita tak sibukkan diri dengan merancang visi dan misi melalui kebaikan yang bisa kita lakukan sekarang?

Berangkat dari sana, kita jadi memahami kebutuhan kita tentang pasangan. Bisa jadi Allah belum berkehendak karena melihat kita yang bingung tentang pendamping seperti apa yang kita inginkan. Allah tak semata mengutus pendamping itu ketika kita sendiri tidak tahu ingin yang seperti apa. Bukan “nerimo” yang Allah inginkan dari kita tentang pasangan, tapi ada sebuah visi besar bernama kebaikan. Itulah mengapa janji Allah memberikan yang baik bagi kita yang baik, karena Allah tak ingin memberikan yang seadanya. Adakah kita menyadarinya, ternyata kepasrahan perlu ada beriringan dengan usaha yang kita lakukan?

Ujian dalam penantian itu pasti. Tapi ada hal lain yang harus disadari, bahwa pernikahan itu bukanlah tujuan akhir atau awal perjuangan. Justru ia adalah proses setengah perjuangan menuju perjuangan selanjutnya. Ia tidak selalu manis atau sesuai mimpi kita saat ini. Ada kalanya ia melenceng jauh dan mempertanyakan kesiapan kita kembali dalam menghadapinya. Bagi yang tidak siap, maka rumah tangga pun tak lagi seperti surga yang diimpikan. Menikah itu perlu ilmu yang tidak hanya sekadar menghadapi malam pertama tapi juga malam-malam dan hari-hari selanjutnya.

Adakah kita benar-benar siap hingga kadang meminta dengan memaksa tanpa kita sadari?


*Materi Pernikahan Islami oleh Kak Nurul, yang sudah mengalami dan berdasarkan curhat orang-orang kepadanya. Melalui dunia virtual, nasihat-menasihati yang meluruskan kembali niat kami. Terima kasih banyak Kak Nurul. Semoga suami, kakak dan dede di perut sehat selalu (peluKiss)*   

18 September, 2013

Tentang Niat [Pra Nikah]

Suatu malam, di hari ketujuh belas bulan sembilan tahun dua ribu tiga belas, di suatu ruang yang tak terbatas jarak ataupun waktu... guru ngajiku (Kak Nurul) memberikan pemahaman tentang NIAT menikah (kajian pranikah). sebuah grup dibentuk dengan label "Pernikahan Islami". Untuk kalian yang sedang mencari-cari dan ingin tahu apakah esensi pernikahan dalam Islam... cobalah resapi ini.... dibaca dan direnungkan baik-baik. Kita sama-sama belajar yaa...


  • Berangkat dari niat, berhati-hatilah dlm memublikasikan niat utk menikah. Krna bisa jadi filterisasi akan sulit dilakukan. #nikah
  • Kita seakan membiarkan siapapun bisa memberikan sumbangsih tanpa tahu persis prinsip yg kita jalani. Memilih itu bukan asal memilih. #nikah
  • Karena kita ingin kebaikan dalam sebuah pernikahan, maka semua harus dimulakan dgn hal yg baik. #nikah


    Karena ada kalany seseorang yang tampak tegar, sesungguhnya ingin bersandar. Maka, pernikahan adalah salah satu cara untuk menguatkan ruhani serta jasmani kita. Namun pernikahan seperti apa.... Nantikan kelanjutannya,

    Salam,
    Meta Morfillah

Text Widget