Pages

Showing posts with label PUISI ber'meta'morfosis. Show all posts
Showing posts with label PUISI ber'meta'morfosis. Show all posts

03 September, 2017

Mencintai puisi

pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau takkan kurelakan sendiri

pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati

pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau takkan letih-letihnya kucari

(Sapardi Djoko Damono)


Caraku mengabadikan tentangmu. Dalam dunia kata-kata, biarlah aksara berkisah. Meski jasad meniada, kau takkan pernah kubiarkan sendiri. Bukalah tulisanku tentangmu. Akan kaudapati aku mengajakmu bercengkerama dan memujimu. Akan kaudengar suaraku menggaungkan namamu dalam setiap sajak yang kubuat. Meski lebur mimpiku, kutemukan dirimu selalu hidup dalam puisi. Sebab kau adalah puisi.

Maka mencintaimu adalah mencintai puisi.

Meta morfillah

21 August, 2017

Seperti daun gugur

Seperti daun tua dan menguning yang berguguran
Seperti itulah seharusnya kesombongan kita
Berguguran seiring bertambahnya usia
berlalunya waktu
mendewasakanmu
mengingatkan bahwa kelak
kau akan mati berkalang tanah
dirayapi cacing dan hewan beracun dalam gelap pekat
setinggi apa pun pencapaianmu
semencakar langit pun tinggimu
tetap kau akan rebah
pada tanah
yang kauanggap hina
dan kauinjak-injak tiap harinya
lantas, apa yang mau kausombongkan?

Meta morfillah

*suatu pagi saat pohon jati meranggas, menaati titah Tuhannya.

17 March, 2017

Menggenggam tanganmu

Menggenggam tanganmu,
Adalah tenang yang sakinah
Mengalirkan ruh rahmah nan hangat
Saat badai tengah bertiup di luar rumah dan di dalam hati

Namun satu pertanyaan sepasti titik di sebuah tanda tanya selalu menggantung
Sampai kapankah?
Sampai kapan tangan ini diizinkan menggenggam tanganmu?

Sementara waktu kian menunjukkan kuasa
Kita semakin menua dan melemah
Entah yang mentah

Dan aku semakin ingin terus menggenggam tanganmu seperti aku baru lahir dahulu.
Erat-erat!

Meta morfillah

05 January, 2017

Puisi akrostik: CHYNTIARAMA FAJRIYAN TIKA

Cinta seorang bapak di pagi hari untuk putrinya yang cantik
Hebat sekali doa dalam namanya
Yang sesuai dengan kepribadiannya
Nelangsa tak mengurangi ghirahnya lillahi ta'ala
Tak pernah diam melihat kesulitan dan kabar duka
Ikut aksi dan selalu turun membantu secepat ia bisa
Auranya memancarkan ketenangan hati bagi sekitarnya
Ramai suasana saat ia tiba
Ada banyak yang merindukan kehadirannya
Menjadi orang terdekatnya
Adalah sebuah anugrah

Fajar rekah dalam senyum tulusnya
Aktivitas padat tak membuatnya
Jauh dari Allah
Rindu menggenap pun ia rasai
Ingin hatinya berpadu kasih
Yang akan semakin memaksimalkan sinergi
Akankah tiba waktunya? Ia bertanya-tanya
Namun tak ia lantangkan dalam ingar
Tatkala sujud, doanya bergema di sepertiga malam
Izinkan dia bahagia, yaa Rabb
Kebahagiaan ia adalah apa yang kuimpikan
Ada doaku dalam tiap helai kata di puisi ini untuknya

*Puisi akrostik CHYNTIARAMA FAJRIYANTIKA

Meta morfillah

21 December, 2016

ALEPPO

ALEPPO

Bagaimana rasanya mendengar desingan peluru?
Apakah seperti mendengarkan alunan musik heavy metal yang memacu adrenalinmu?

Coba tanyakan pada bocah Aleppo sana...
Sempatkah ia tersenyum mendengarkan backsound yang marak di negerinya saat ini?

Sempatkah bayi-bayi Aleppo bertanya atas dosa apa mereka dibunuh?
Sempatkah ayah bunda Aleppo merekam kelucuan putra-putrinya lalu mengupload ke instagram dan media sosial lainnya?
Sempatkah muda-mudi Aleppo ber-wefie ria bahkan galau memikirkan cinta tak kunjung tiba?

Aleppo... kota yang diberkahi
Kini hancur akibat birahi
Birahi penguasa yang menista agama

Kedaulatan macam apa yang meminta bantuan asing menghancurkan penduduk sipilnya sendiri?

Agama mana yang mengajarkan perkosaan adalah hal lumrah, hingga banyak muslimah Aleppo memilih bunuh diri meski hati jerih?

Sementara dunia bungkam
Hanya menyaksikan dalam diam
Detik kehidupan tetap berdetak biasa
Jumlah korban hanya tercetak sebagai angka
Statistika

Aleppo hanya menjadi topik pembahasan
Di meja-meja makan
Di warung angkringan
Bahkan menjelma tulisan

Ujungnya kita hanya kirim doa
Tambah sedikit dana

Duhai, warga Aleppo
Nampaknya kau harus lebih bersabar
Menjadi pengobar dan pengibar
Menyulut api keimanan di dada kami
Dengan luka di kepala
Dan duka di dada

Meta morfillah

26 November, 2016

Puisi akrostik: RAHMAH SUCIYANI SANURI

Rendah hati pribadinya, seringkali
Anggap bahwa dirinya biasa dan banyak kekurangan
Hatinya mudah tersentuh
Maka menerima amanah seringkali disebabkan
Agar dirinya dapat mengurangi sedikit beban orang lain, meski terkadang ada rasa berat dan tak yakin pada
Hatinya

Suci, semoga seperti namanya senantiasa terjaga niat
Untuk menjadi hambaNya yang saleha
Citanya begitu tinggi
Ingin firdaus paling tinggi
Yang membuat upayanya maksimal dalam setiap
Amanah yang dititipkan padanya
Nelangsa kerap menghambatnya, namun ia selalu
Ingat tujuan akhirnya

Suci, semoga terjaga niatnya selalu seperti namanya
Ada banyak doa baik untuk dirinya
eNtah doa mana dan doa siapa yang akan lebih dahulu dikabulkan
Untuk itu, senantiasalah istiqomah dalam ketaatan dan kebaikan
Riangnya adik-adik menganggapmu sebagai guru, yang sungguh digugu dan ditiru
Ingatlah itu selalu, bila ada godaan untuk menyerah.

*Puisi akrostik RAHMAH SUCIYANI SANURI

Meta morfillah

25 September, 2016

Lenteraku mulai redup

LENTERAKU MULAI REDUP

Lenteraku mulai redup.
Duniaku perlahan temaram.
Kelam.
Tapi aku tak mau karam.

Ke mana cahaya memadam?
Tak bisakah ia diperam?
Agar tak cekam.
Dan tiada yang akan menerkam.

Menjaring cahaya, haruskah selalu ke atas?
Atau sebaliknya, napak tilas?
Rasanya tak bebas.
Kutahu hal ini harus lekas.
Gegas... gegas...

Lenteraku mulai redup.
Duniaku perlahan temaram.
Kelam.
Tapi aku tak mau karam.

Meta morfillah

03 January, 2016

Karamnya sebuah rasa

Petang yang kian meremang
Bagai perasaanmu yang kian karam
Padaku
Engkau... dekat tapi berjarak samudera
Engkau... begitu indah dipandang namun tak dapat kusayang
Engkau... yang telah hilang kini datang kembali ke hidupku
Engkau... dengan keputusanmu yang menyiksa batin kita

Perkara perasaan yang belum selesai
Maka Allah selesaikan dengan caraNya
Mungkin DIA lah yang paling tahu hati hambaNya
Cinta dikandung badan,
Hanya bisa terpisah bila ruh tercerai

Maka... inilah akhirnya
DiputihkanNYA kembali perasaan kita
Perasaan kita berdua yang karam
Sebenarnya karam

"Jangan dikecewakan hati yang berlindung padamu."

*inspire from movie "Tenggelamnya kapal van der wijck"

Meta morfillah

21 December, 2015

Selamat hari ibu

Selamat hari ibu...
Wahai sosok yang selalu menenangkan gundahku
Sosok yang selalu menjadi alasan terbesarku melakukan kebajikan dan mencapai cita
Figur yang mengajarkanku makna kehidupan dan aneka warna rasanya

Selamat hari ibu...
Dari lidahku yang kelu.

Meta morfillah

21 November, 2015

Puisi akrostik: FARIS PRATAMA HERMAWAN

Fyuuh... pemuda ini begitu mencengangkan saat
Aku mulai mengenalnya
Rentetan kegiatannya begitu padat
Inginkan waktunya tak tersia
Semaksimal mungkin

Perbaikan diri senantiasa ia usahakan
Raih ridaNya dengan ilmu
Amalan sunnah pun ia
Tegakkan sebisa mungkin
Adalah ustad sebagai sumber langsung
Menuntut ilmu
Akhirat yang akhirnya mendatangkan kebaikan dunia

Hebat sekali semangatnya
Embuskan rasa malu pada diri yang sering beralasan karena
Ringkihnya hati
Malas yang diikuti
Ambooi... malulah kawan padanya
Walaupun jam kerjanya tak leluasa
Andai pun jarak menjadi penghalang
Namun baginya itu semua tak akan jadi alasan mundur

*puisi akrostik FARIS PRATAMA HERMAWAN yang request hehe

Meta morfillah

Puisi akrostik: FAHMI AFRIYADI

Fahmi nama yang mengandung asa orangtuanya
Agar ia memiliki pemahaman hidup yang baik
Hati yang lembut dan bijak
Mampu berpijak dan dijadikan pijakan kokoh tanpa kalah oleh
Ingarnya godaan duniawi

Alangkah senang ia mengabadikan sesuatu dalam
Foto, cerita, dan puisi yang ia simpan sendiri persis seperti
Riak perasaannya
Ia tak pernah mengungkapkan apa
Yang merisaukan hatinya meski ia begitu ingin
Adalah sepi yang ia pilih saat mencari solusi
Dekatkan diri pada sang maha cinta
Introvert yang terlihat ekstrovert

*puisi akrostik FAHMI AFRIYADI yang request hehe

Meta morfillah

Puisi akrostik: IKRIMA NUR ENDAH

Inilah gadis pendiam di
Komunitas PAY yang kukenal
Rapi nian catatannya akan data anggota lainnya
Ingin tahu data atau khususnya tanggal milad anggota PAY?
Mintalah pada dia
Akan dia berikan dengan senang hati kecuali tanggal lahirnya sendiri

Namun di balik sikap diamnya, sesungguhnya dia begitu perhatian
Untaian doa dan hadiah kejutan ia siapkan
Raih surgaNya melalui kebahagiaan saudaranya yang diberi hadiah

Energi cinta dan ukhuwah yang dibangunnya bagai
Nada indah yang mengalun merdu
Dirinya pun memiliki ruang di setiap hati yang ia sentuh
Aduhai... betapa dicintainya orang yang mencintai
Hadits tersebut nyata bila diterapkan sebagaimana ikri lakukan pada saat milad saudaranya

*puisi akrostik IKRIMA NUR ENDAH spesial niih buat kamu yang request tanpa harus punya anak dulu hehe

Meta morfillah

Puisi akrostik: MUHAMMAD GIBRAN ANAQIE

Memilikimu adalah anugerah terindah ayah dan ibu
Umpama matahari yang menyinari bumi
Hadirkan manfaat bagi sekitar
Asa kami ada dalam namamu
Muhammad, yang terpuji akhlaknya
Mendambakan masa depanmu seperti beliau
Alirkan kebaikan tanpa henti
Dunia dan akhirat

Gerakan kecilmu tiap detiknya
Isyaratkan ayah dan ibu tentang kuasa waktu
Bahwa masa kecilmu hanya sejenak
Ruang bagi kami hanya sebentar
Akan ada masa perpisahan
Nantinya saat kamu mendewasa

Anakku, Sayang...
Nampakkanlah pada dunia keindahan
Agama ini, jadikanlah
Qur'an akhlak dan pedoman hidupmu
Insyaa allah ayah dan ibu selalu mendukung dalam setiap
Embusan nafasmu

*puisi akrostik MUHAMMAD GIBRAN ANAQIE putra pertama Uni Mella dan Uda Zul

Meta morfillah

18 November, 2015

Puisi akrostik: ANNISA AMIRA RAHMANI

Anakku sayang
Namamu adalah kandungan doa dan harapan ayah ibu
Nantinya kami harap kamu menjadi wanita yang pengasih
Ikhlas menjadi perhiasanmu
Saleha di dunia hingga
Akhirat kelak

Anakku sayang
Mekarmu hanya sekali
Ingatlah itu baik-baik dan jaga kehormatanmu
Riuhnya dunia mungkin akan mengalihkan perhatianmu
Akan tetapi, selalu ingat bahwa hidup ini akan bermuara pada Allah kembali

Raut wajahmu semoga menenangkan siapa pun yang melihat
Alirkan ruh semangat
Hantarkan pada jalan kebaikan
Melajulah dalam kebenaran tanpa lelah
Ada kami yang senantiasa mendoakanmu
Nampak jauh jalan yang harus kautempuh
Ibu dan ayah akan berusaha semampu kami menemani dan menjagamu

*puisi akrostik ANNISA AMIRA RAHMANI putri pertama Bang Irvan dan Rahma Sofyan relawan PAY

Meta morfillah

11 October, 2015

Iman laksana payung

IMAN LAKSANA PAYUNG

Mungkin, iman seperti payung di terik siang yang panas dan berdebu.
Melindungimu dari sengatan matahari yang memusingkan kepala.

Mungkin, iman seperti payung di bawah rinai hujan.
Menghindarkanmu dari kuyup yang bisa menggigilkan tubuhmu.

Mungkin, iman seperti payung... dalam segala situasi, ia diperlukan.
Maka, izinkan aku berada dalam naungan payung itu... bahkan bila boleh, aku ingin menjadi yang mengulurkan payung keimanan itu untukmu, yang ingin kucintai hingga berkumpul di surga.

Uhibbukum fillah...

Meta morfillah
#photostory
*model: me & ikri. Candid by bang al

Ketika aku kian bodoh

Katakanlah aku begitu bodoh...

Ketika memutuskan berada di rumah, mengusahakan tak jauh dari orangtuaku yang tersisa di dunia.
Menghentikan karier di kantoran.
Mama dan uda hanya satu dan tak tahu sampai kapan bisa bersama.
Uang tak menjamin aku bahagia.

Aku pernah menjadi hedonis dan terperdaya dalam kemilau dunia.
Hiburan sepulang kerja selalu menuntut gaya hidup lebih materialistis, nonton, jalan, kulineran, dan lainnya.
Tapi tetap saja aku merasakan kekurangan.

Tak habis pikir, bagaimana aku ingin melanjutkan hidup?
Bagaimana menjadi hambaNya yang terbaik?
Aku pun tahu bahwa DIA tidak menyukai hamba yang lemah dan meminta-minta.

Ketika dunia semakin hedonis, berbakti di rumah, merawat orangtua menjadi sebuah anti mainstream.
Ketika titel sarjana mengharuskan muslimah bekerja dan menghasilkan jutaan rupiah.
Ketika semua ukuran manusia hanya membuat dada semakin sesak.

Maka, katakanlah aku menjadi kian bodoh...

Sebab, di pikiranku hanya menginginkan kesederhanaan.
Mengusahakan tiap menit terbaik.
Menjalankan amanah yang kuyakini mampu.
Berusaha tak mengecewakan.
Bersandar padaNya tentang segala masalah hidup.
Sakit hatiku... biar kubasuh dalam air mata dan zikir padaNya.
Penghiburanku... adalah dengan mengingat mati.

Biarlah... biarlah... aku menjadi bodoh di mata manusia,
Bila itu membuatku semakin dekat dan berkualitas kepadaNya.

Meta morfillah

09 October, 2015

Puisi akrostik: AMMAR FAFlFIRRU ILALLAH

Aduhai, permata hati nan dirindukan
Menantimu adalah pembelajaran bagi kami
Mengeja syukur
Alunkan untaian doa
Rabbi... kabulkanlah

Fluktuasi keimanan pun teruji
Ayah dan bunda harus bersinergi
Fashbir...
Inilah saatnya
Riak dada ayah bunda menjelang kelahiranmu
Rona wajah tak karuan
Untaian doa kian sering terapal

Izinkan yaa rabbi, agar engkau hadir semarakkan bumi
Lirih permintaan itu, mendesak ke atas
Arsy nan tinggi menjadi muara pengharapan
Lalu suaramu memecah... betapa merdu
Lahirmu adalah anugerah
Ammar, anakku...
Harapan kami berada di pundakmu, mendewasalah dengan bijak!

*puisi akrostik AMMAR FAFIRRU ILALLAH anak pertama pasangan heru-devi.

Meta morfillah

09 August, 2015

Menyakiti

Kausakiti penyair, akan lahir ribuan syair.
Kausakiti penulis, maka dunia dipenuhi kata berbaris.
Aku bukanlah keduanya, tapi bila kausakiti aku...
Aku akan menari dalam aksara, menjaga kewarasan duniaku.

Dan dunia akan tahu tentang rasaku... mungkin ia akan ikut bermuram durja.
Bukankah itu akan berdampak padamu?
Jadi, masihkah kaumampu menyakitiku?

Meta morfillah

30 July, 2015

Puisi akrostik: ELMA RAHMAWATI

Engkau yang kami nantikan dalam doa
Lahir ke dunia bagai pelita
Membawa cahaya kebahagiaan bagi ayah bunda
Anakku yang diharapkan membawa maslahat dunia akhirat

Riuh tangismu menjadi nada bagi
Ayah dan bunda
Hari-hari kami menjadi lebih berwarna
Melaluimu kami mengeja surga
Amanah yang harus kami jaga segenap jiwa
Waktu akan mendewasakan kita
Ada banyak hal yang akan ayah bunda pelajari dan bagikan padamu
Tetaplah menjadi kebanggaan kami
Insyaa allah

*Puisi akrostik ELMA RAHMAWATI, anak dani-risti PAY, lahir 28 juli 2015

Meta morfillah

24 July, 2015

Malas, tapi tidak tega

Aku ini pemalas nomor satu, tapi tidak tegaan. Tidak seperti mama dan kakakku.

Aku malas memasak, tapi tidak tega bila yang kusayangi kelaparan.
Aku malas mencuci, tapi tidak tega bila yang kusayangi berbaju bau.
Aku malas menyetrika, tapi tidak tega bila yang kusayangi berbaju kusut.
Aku malas berdandan cantik, tapi tidak tega bila yang kusayangi harus melihat yang tak indah.
Masih banyak hal yang membuatku malas, tapi tetap kulakukan.
Bukan karena aku ingin dibilang rajin olehmu, tapi aku tidak tega.

Mungkin, mama kita dulu seperti itu.
Malas bangun tengah malam karena tangisan kita, tapi tidak tega melihat kita kelaparan atau kedinginan karena ompol.

Jadi, kupikir aku akan tetap bertahan dalam kemalasan yang disertai besarnya rasa ketidaktegaanku. Meski kadang omelan dan keluhan keluar dari bibirku, tapi akan tetap kulaksanakan.

Tapi... jangan sampai aku malas mencintaimu, namun tidak tega. Sebab cinta karena rasa iba... ah... mengenaskan.

Meta morfillah

Text Widget