Pages

Showing posts with label #CeritaLirik. Show all posts
Showing posts with label #CeritaLirik. Show all posts

27 January, 2026

[Cerita lirik] Sendiri di sini

Cerita lirik "Sendiri di sini" - Valovadinata

Kini, semua yang t'lah kita lewati
Semua yang kita jalani, tak berarti
Pergi, kau tinggalkanku di sini
Sepi, tanpa kau aku sendiri

Adi menatap hampa rumah yang kosong tanpa istrinya. Tujuh tahun bersama Tari berakhir begitu saja. Tari mendiamkannya dan memilih pergi untuk tak kembali lagi. Berhenti mencintainya.

Terlintas masa saat bersama
Jauh sebelum hening ini ada
Kau sempurna ku dimanja
Tapi kini semuanya sirna

Adi teringat masa lalu saat bersama Tari. Begitu menyenangkannya hidup. Tari adalah sosok istri sempurna baginya. Begitu hangat, pengertian, mendukung, dan memanjakannya. Ia bahkan tak perlu meminta atau khawatir, sebab Tari sudah menyediakan semua kebutuhannya. Kelelahan yang dirasakan dari kantor, sirna bila ia pulang ke rumah. Hatinya damai bersama sang istri. Mereka saling melengkapi. Maka saat Tari tiba-tiba diam, tak bisa diajak berdiskusi, dan berakhir menggugat cerai, Adi terkejut. Apa yang salah?

Sayang, harusnya beri tahu aku
Salahku, kurangku bagimu
Malah begini hanya diam
Tinggalkanku dengan pertanyaan

Adi sungguh tak mengerti apa yang terjadi pada istrinya. Selama ini mereka baik-baik saja, bahkan dipuji sebagai pasangan romantis dan banyak yang ingin seperti mereka. Bagi Adi, lebih baik diberitahu kesalahan atau kekurangannya. Ia tak suka menerka pikiran istrinya. Ia tidak mau disalahkan atas kekeliruannya. Lebih baik diberitahu lalu ia perbaiki, daripada berinisiatif yang mungkin membuat istrinya semakin marah. Tari pun biasanya tidak suka drama, tapi kali ini berbeda. Ia bilang lelah dan hanya ingin diam. Membiarkan Adi dengan pertanyaan dalam benaknya.

Hening yang kini menggema
Tinggalkan semua tanya
Sisa rasa yang tak lagi berarti
Dalam sepi, ku kan terus menanti

Rumah menjadi hening, tapi bukan hening yang damai. Gemanya justru membuat hati nelangsa. Sosok yang menghidupkan jiwa rumah telah tiada. Bahkan cinta yang masih tersisa tidak lagi berarti, sebab tak ada sang puan.

Kini kau pergi, ku tak berarti
Hari-hari sepi, rasaku mati
Ku hanya bisa menerka-nerka
Apa iya, aku tak lagi ada di sana?

Perlahan Adi merasa dirinya tak berarti. Sepi dan rasanya telah mati. Ia kalah dalam pertarungan terbesar hidupnya. Apakah ia kurang berjuang, sehingga sang istri meninggalkannya? Apakah tak ada sedikit pun dirinya dalam hati istrinya kini? Hingga kini ia hanya menerka-nerka apa penyebab perpisahan mereka. Apa yang harus ia sesali dan perbaiki?

***

Sementara di sisi Tari, ia sudah lelah mendukung tanpa didukung. Banyak hal ia korbankan untuk suaminya, tapi saat ia mengutarakan pada suaminya kapan ia butuh dukungan, kadang suaminya menganggap itu rajukan biasa atau tidak dianggap serius. Pada dasarnya ia hanyalah wanita, tidak melulu kuat, dan ingin dimanja, diberi kejutan, diluangkan waktu berdua tanpa ada tanggung jawab domestik dan lainnya. Saat tangki cintanya kosong dan suaminya tidak bisa memenuhinya, meledaklah kekecewaan yang selama ini ia tolerir. Cinta menguap saat qawwamah tak kuat. Butuh dua orang hebat untuk mengusahakan cinta. Tari tak ingin lagi berjuang sendiri.

Meta morfillah

21 May, 2024

[Cerita lirik] “Mesra-mesraannya kecil-kecilan dulu” by Sal Priadi

 


Ba, sementara
Kita mesra-mesraannya
Kecil-kecilan dulu, ya
Tunggu sampai semua mereda

“Dengar deh, lagu ini kayak kita banget!” Sang suami mengeraskan volume ponselnya, memutar lagu dengan lirik yang terasa personal baginya. Istrinya mendengarkan dengan tatapan penuh tanya.

“Apanya yang kayak kita?” dengan lirikan mata, sang istri bertanya.

“Dengar dulu sampai habis, nanti kamu tahu.” Suami menjawab ketidaksabaran istrinya sembari tersenyum.

'Kan kukenalkan
Penampilan hujan di tempat lain
Pemandangan bagus di tempat yang jauh
Bukan yang di dekat rumah saja

Saat lirik ini terdengar, muka sang istri menunjukkan pemakluman. Kepalanya mengangguk-angguk tanda mengerti.

“Ya, kan? Kayak kita. Sering kita rencanakan mau pergi ke mana-mana, tapi akhirnya sering di dekat rumah saja. Ada saja yang belum kondusif.”

Sang istri tersenyum, lalu bicara,”Iya. Entah waktunya, uangnya, atau siapa yang jaga anak-anak. Lalu kita ucapkan mantra penenang hati kita.”

“Sabaaar… semua ada masanya.” Sang suami menimpali sambil tertawa.

“Yaa gitu deh. Mesra-mesraannya kecil-kecilan dulu ya. Makan bareng di rumah, jajan seblak dekat rumah, ke taman sore dekat rumah, jalan pagi sekitaran rumah. Nanti ada masanya ke gunung, pantai, luar kota, luar negeri, haji, dan lainnya.”

“Bisa berduaan aja udah keistimewaan ya?”

“Ya, bisa berdua dan TENANG.”

Kita 'kan tangkap
Banyak kejadian yang menarik
Koleksi suasana asyik
Perasaan-p'rasaan yang baik
Cintanya besar-besaran
Meski mesranya kecil-kecilan

“Apa saja sih, wishlist kita? Yang sering kamu DM ke Instagram aku. Dicatat biar kita checklist saat tiba waktunya.”

“Haha… banyak! Isi DM kamu kayaknya dari aku semua yaa?”

“Iya, banyak. Kebanyakan tempat makan.”

“Hehe… penasaran sama update yang viral. Padahal saldo rekening 50 ribu. Batas minimal.”

“Ya, gak apa. Diaminkan saja dulu. Insya allah satu per satu didatangi.”

“AAAMIIIN!”

Baju pergimu
Jangan kekecilan dulu
Kalau iya, nanti beli baru
Kar'na engkau tiba-tiba besar

“Bagian lirik ini gak sesuai.” Komentar istrinya sembari manyun. “Bajuku udah banyak yang gak muat semenjak hamil dan melahirkan.”

“Hehe… gak apa. Insya allah tar kembali lagi. Namanya juga hamil dan menyusui, ya butuh asupan banyak. Nanti kita olahraga dan puasa bareng. Biar sehat sama-sama.”

“Tungguin ya. Habis menyapih adek, jangan dihamilin lagi!”

“Hmm… gak janji ya. Kalau Allah maunya ada adek lagi, aku gak bisa melawan. Dosa.” Seringai jahil suaminya membuat sang istri mencubit gemas pipi sang suami.

“Alasan!”


11 January, 2018

[Cerita lirik] Kali Kedua

KALI KEDUA

Kautahu, melepasmu adalah hal terberat yang pernah kulakukan. Cukup sekali saja, aku pernah merasa betapa menyiksa kehilanganmu. Kau tak terganti. Kau yang selalu kunanti. Maka saat kali kedua aku mendapat kesempatan bersanding denganmu, aku berjanji kau takkan kulepas lagi.

Sebab hatiku yakin padamu. Hatiku memilih jatuh di kamu. Kamu... yang wangimu saja bisa memindahkan duniaku. Kamu... yang senyummu saja bisa mencuri detak jantungku. Membuatku begitu nelangsa saat tak mampu menggenggam jemarimu, mengisi kekosongan di antara jemari lentikmu. Kamu... yang pelukannya kuyakini bisa menyapu seluruh hatiku, menghilangkan gulanaku. Kamu... yang kuyakini cintanya bisa mengubah jalan hidupku, menjadikan surga lebih dekat.

Meski pernah kita patah oleh keadaan dan restu orangtua, tapi hatiku tak pernah patah untuk berharap padaNya bahwa kamulah kamuku. Meski butuh bertahun untuk kita menjaga rasa agar tak tergelincir dalam maksiat, berjuang hebat dalam penantian. Hingga akhirnya semua luluh oleh takdirNya, melalui doa-doa melangit kita. Ya, kita jarang bertemu di bumi, tapi doa kita berpilin erat di langit sana.

Maka, kali kedua padamu yang sama, tanpa pernah terganti di hatiku, kita satukan hati tanpa peduli, sebab Allah telah merestui. Betapa bahagia begitu buncah dalam dadaku, saat bisa memegang tanganmu dan bersama jatuh cinta lagi. Akhir yang indah, saat kedua kali kita bersama lagi.

*cerita lirik "Kali kedua" - Raisa

Meta morfillah

26 June, 2016

[Cerita lirik] Photograph

Loving can hurt sometimes
But it's the only thing that I know
When it gets hard
You know it can get hard sometimes
It is the only thing that makes us feel alive

We keep this love in a photograph
We made these memories for ourselves
Where our eyes are never closing
Hearts are never broken
Times forever frozen still

So you can keep me
Inside the pocket
Of your ripped jeans
Holdin' me closer
'Til our eyes meet
You won't ever be alone
Wait for me to come home

Loving can heal
Loving can mend your soul
And it's the only thing that I know
I swear it will get easier
Remember that with every piece of you
And it's the only thing we take with us when we die

And if you hurt me
That's OK, baby, only words bleed
Inside these pages you just hold me
And I won't ever let you go
~~~
Banyak yang mengupload foto ke dalam media sosialnya. Banyak pula beragam niat saat menguploadnya. Tapi, aku meyakini satu hal. Bahwa semua itu adalah upaya mengawetkan kenangan. Apa pun itu. Terutama yang bahagia. Sebab bila menyakitkan, kebanyakan orang ingin melupakan. Begitulah watak manusia. Menunjukkan betapa ia lemah hingga butuh alat bantu membekukan memori yang ingin ia ingat selamanya. Melalui gambar atau foto.

Meski pada akhirnya ia akan mengalami beragam guncangan kehidupan dan sangat mungkin pada akhirnya kenyataan jauh lebih menyakitkan dan tak selebar senyumnya saat difoto. Tapi... ia akan selalu kembali terpanggil ke masa di mana foto itu diabadikan. Meski ia akan membenci orang yang ada di foto itu, tapi ia akan tetap teringat bahwa ia pernah bahagia dan tak ada masalah di foto itu.

Foto yang kadang tak jujur. Sebab seringkali orang hanya berformalitas tersenyum atau tertawa. Bukankah lucu, pada kamera kita selalu menampilkan sisi terbaik kita.

Kenangan bahkan jauh lebih abadi dibanding pelakunya, manusia itu sendiri. Banyak yang menghibur dirinya dengan melihat kembali album foto masa lalunya. Pun denganku. Saat tak bisa bertemu orang yang kusayangi, tak bisa mengunjungi tempat yang kurindukan, tak bisa mengulang momen bahagia yang diinginkan, saat itulah foto menjadi penghibur dan penyadar untuk bersyukur bahwa aku pernah mengalami masa yang indah, di tempat yang menakjubkan bersama orang yang spesial. Kalau kamu?

*cerita lirik Photograph by Ed Sheeran

Meta morfillah

23 April, 2016

[Cerita Lirik] Kehidupan

Kesenangan yang datang
Tak akan selamanya
Begitulah selepas susah ada kesenangan
Seperti selepas malam datangnya siang
Oleh itu waktu senang jangan lupa daratan

Gunakan kesempatan untuk kebaikan
Sebelum segalanya terlepas dari genggaman
Kelak menyesal nanti tak berkesudahan
Apa guna sesalan hanya menekan jiwa

Jangan difikir derita akan berpanjangan
Kelak akan membawa putus asa pada tuhan
Ingatlah biasanya kabus tak berpanjangan
Setelah kabus berlalu pasti cerah kembali

Ujian adalah tarbiyah dari Allah
Apakah kita kan sabar ataupun sebaliknya
Kesenangan yang datang selepas kesusahan
Semuanya adalah nikmat dari tuhan

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Siti menggenggam tangan sahabatnya lalu berkata, "Barakallah ya, semoga lancar hingga hari H."

"Terima kasih, Siti. Semoga kamu lekas nyusul ya."

Siti mengaminkan dan tersenyum. Tak lama temannya pamit. Tinggallah Siti sendiri di ruang tamu. Undangan bertinta perak di atas kertas ungu menjadi fokus tatapan Siti.

"Sampai kapan aku akan begini? Setiap mendapat undangan pernikahan terlebih dari orang terdekatku, ada bahagia juga ada perih yang mengiris hati. Bertanya-tanya kapankah tiba giliranku. Kapankah tiba namaku yang tercetak di sana. Haaaah... kamu masih belum ikhlas, Siti! Bodoh."

***

Bertahun berlalu. Siti belum juga bersanding dengan siapa pun. Waktu menggerogoti usianya. Siti semakin tua, namun auranya begitu energik. Sebab ia mengisi harinya dengan beragam aksi sosial. Membunuh sepi dengan tawa dan senyum orang yang dibantunya. Tak sekali pun ia izinkan dirinya untuk meratap. Sebab sekali saja ia memberi waktu memikirkan usianya, ia takut jatuh pada lembah keputusasaan. Bagi Siti, ketidaksempurnaan hidupnya adalah tarbiyah dari Allah. Siti memilih bersabar dengan bergerak dalam kerja amal.

Sayangnya, Allah terlalu sayang pada Siti... Siti diberikan penyakit berat yang membuatnya harus terhenti dari segala aktivitas. Usianya didiagnosa tak akan lama lagi. Semenjak dirawat, ruangan Siti tak pernah sepi dari penjenguk. Ternyata, semua yang pernah dibantu dan bertemu dengannya menyayangi Siti.

"Kukira, aku akan mati dalam sepi sebab aku sendiri. Tiada pendamping apalagi anak. Nyatanya, aku memiliki mereka. Orang-orang yang kusayangi dan menyayangiku. Bukankah ini impian semua orang, Siti? Mati di sekeliling orang yang disayang dan menyayangi."

Perkataan itu ternyata menjadi perkataan terakhir Siti sebelum akhirnya ia meninggal dengan tenang. Wajahnya tersenyum bahagia layaknya pengantin wanita yang dijemput selepas akad oleh pengantin pria yang telah lama dinantikannya. Siti... semoga ia menjadi bidadari surgaNya.

*cerita lirik Kehidupan by In-team

Meta morfillah

27 March, 2016

[Cerita lirik] Because you loved me

For all those times you stood by me
For all the truth that you made me see
For all the joy you brought to my life
For all the wrong that you made right
For every dream you made come true
For all the love I found in you
I'll be forever thankful Baby
You're the one who held me up
Never let me fall
You're the one who saw me through... through it all

Untuk semua waktu yang kauhabiskan di sisiku. Untuk semua kebenaran yang kau tunjukkan padaku yang bodoh dan mudah ditipu ini. Untuk semua kebahagiaan yang kauhadirkan dalam hidupku. Untuk semua kesalahan yang kauperbaiki. Untuk semua mimpi yang kauwujudkan. Untuk semua cinta yang kutemukan dalam dirimu. Selamanya aku akan berterima kasih padamu, Ma. Engkau adalah orang yang selalu menjagaku, memegang tanganku dan tak membiarkanku tergelincir jatuh. Engkau adalah saksi hidupku, yang menyaksikan bagaimana aku melewati semua ini. Engkau yang melihat sisi lain dari diriku yang tak pernah kutunjukkan pada siapa pun selain dirimu. Entah... akankah suatu hari nanti, aku bisa membagi kisah hidupku sejujur diriku padamu ke orang yang menggenapkanku.

You were my strength when I was weak
You were my voice when I couldn't speak
You were my eyes when I couldn't see
You saw the best there was in me
Lifted me up when I couldn't reach
You gave me faith 'coz you believed
I'm everything I am
Because you loved me

Engkau yang menjadi kekuatanku di saat aku lemah, suaraku saat aku tak dapat bicara, mataku saat aku tak dapat melihat. Sejak aku baru hadir di dunia hingga saat ini. Engkau selalu melihat yang terbaik dalam diriku, meskipun aku sendiri sering meragukan diriku. Mengangkat dan membesarkanku  saat aku tak mampu menggapai yang kuinginkan. Engkau yang memberikanku keyakinan sebab rasa percayamu padaku yang begitu besar. Aku adalah aku hari ini, sebab kau yang telah mencintaiku sedemikian rupa. Caramu mencintaiku begitu istimewa.

You gave me wings and made me fly
You touched my hand I could touch the sky
I lost my faith, you gave it back to me
You said no star was out of reach
You stood by me and I stood tall
I had your love I had it all
I'm grateful for each day you gave me
Maybe I don't know that much
But I know this much is true
I was blessed because I was loved by you

Engkau yang memberiku sayap, hingga aku bisa terbang setinggi ini. Engkau yang menyentuh tanganku, hingga aku bisa menyentuh langit. Pernah aku kehilangan keyakinan pada diriku sendiri, namun kau mengembalikannya. Kaubilang tak ada yang tak mungkin. Kau berdiri di sampingku, hingga aku mampu berdiri lebih tinggi. Dengan cintamu, aku memiliki segalanya. Aku bersyukur untuk setiap hari yang kauberikan padaku. Waktumu begitu bernilai, pun kehadiranmu. Mungkin aku tak tahu pasti seberapa banyak pengorbananmu untukku. Tapi, aku yakin ini adalah kebenaran. Cinta sejati. Aku begitu diberkahi sebab dicintai olehmu.

You were always there for me
The tender wind that carried me
A light in the dark shining your love into my life
You've been my inspiration
Through the lies you were the truth
My world is a better place because of you

Engkau selalu ada untukku. Engkaulah inspirasiku sepanjang hidup. Cahaya di kegelapan dunia yang kian menghitam. Kebenaran dan kejujuran di antara kebohongan. Duniaku terasa lebih baik karena hadirmu. Ma... bukankah begitu? Sering aku bergumam, bisakah waktu terhenti di momen saat engkau memelukku. Tempat ternyaman setelah rahim, adalah pelukanmu, Ma. Mungkin, kau adalah kryptoniteku. Kekuatan sekaligus kelemahan terbesarku. Entah, apa jadinya aku bila kehilanganmu. Aku begitu pengecut bahkan untuk membayangkannya, kupikir... aku bisa gila.

*cerita lirik Because you loved me - Celine Dion

Meta morfillah

25 March, 2016

[Cerita lirik] Jera

Senja yang menua menebar jingga di samudra langit, persis kisahnya. Wanita berusia senja yang hanya bisa menatap ke masa lalu. Memeluk erat kisah hidupnya yang hampir terbenam. Ia cantik. Dahulunya. Sisa kecantikannya kini sudah terbenam bersama kerutan  uban, dan diri yang kurang terawat sebab harus membanting tulang. Sendirian. Mungkin, kesendirian yang lebih banyak memberangus sisa kecantikan itu. Tak ada teman hidup. Teman bicara sepanjang waktu. Padahal wanita sangat butuh teman bicara sebab ia harus menyalurkan 2000 atau 20.000 kata per hari.

Bukan karena orientasi seksualnya tak normal. Tapi wanita senja itu begitu jera dalam mencinta. Ia pernah jatuh hati. Pada pria yang hidupnya tak melulu hitam. Pun tak melulu putih. Pria dengan ciri apa adanya. Namun perlahan ciri itu tampak semu dan memudar, tak bercahaya. Itu terjadi saat ia begitu mencinta dan memaui lelaki tersebut. Tapi lelaki itu bimbang untuk melangkah. Bahkan dunia lelaki itu teralihkan oleh pesona wanita lain yang amat baru dikenalnya. Wanita senja begitu kecewa. Ia kandas dan patah hati. Ia yang sulit mencinta, saat memilih menberanikan diri mencintai seseorang, nyatanya tertolak sebab kehadiran wanita baru, bayangkan... hancur hatinya. Ia pun jera. Trauma. Tak lagi mengizinkan lelaki mana pun mengoyakkan hatinya. Ia berusaha bangkit dari sembilu.

Saat ia sudah berhasil membebat luka di hatinya, dunia seakan menawarkan lelucon. Lelaki yang ia maui... datang kembali dan memilihnya. Sayang, cinta tak tepat waktu. Ia telah memutuskan tak akan lagi mencinta. Ia tak memedulikan pandangan orang lain yang menganggapnya lemah. Bagi dia, segala sesuatu hanya sekali. Hidup sekali, jatuh cinta sekali, patah hati sekali, lalu mati sekali.

Menyesalkah ia akan keputusan masa lalunya? Aku tak tahu...

Tapi, siluet wanita senja yang kian mengabur bersama lembayung menyadarkanku bahwa... aku tak mau seperti dia. Aku tak mau sendiri.

*cerita lirik Jera - Agnes Monica

Meta morfillah

13 February, 2016

[Cerita lirik] Locked away

If I got locked away
And we lost it all today
Tell me honestly, would you still love me the same?
If I showed you my flaws
If I couldn't be strong
Tell me honestly, would you still love me the same?

Perempuan dan berbagai kekhawatirannya. Perempuan rumit. Itulah aku. Perempuan yang selalu bertanya akan segala macam hal yang mungkin terjadi di saat belum terjadi. Perempuan pengkhayal yang ingin tahu jawaban dari pertanyaan "bagaimana jika.... maka apakah kau...". Perempuan yang amat sangat mungkin melelahkanmu. Bahkan saat diberi kepastian pun, aku tetap gamang. Bumi selalu terasa tak pasti untuk kakiku menjejak.

Seperti saat ini, ketika kau dan aku resmi menjadi kita. Hal yang kutakutkan dan kutahan sedari akad kini kupertanyakan padamu langsung. Permainan "bagaimana jika... maka apakah kau..." kumulai.

Jika aku mengunci hatiku, dan kita kehilangan semuanya hari ini, katakan dengan jujur, apakah kamu masih mencintaiku sama seperti hari ini?
Jika aku menunjukkan padamu semua kekuranganku.
Jika aku tidak bisa sekuat saat ini.
Katakan dengan jujur, apakah kamu masih mencintaiku?

Right about now
If a judge for life me would you stay by my side?
Or is you gonna say goodbye?
Can you tell me right now?
If I couldn't buy you the fancy things in life
Shawty, would it be alright?
Come and show me that you are down
Now tell me would you really ride for me?
Baby tell me would you die for me?

Kau menggelengkan kepalamu, heran akan kekhawatiranku. Jangan bingung. Sebab kurasa sekarang waktunya yang tepat untuk bertanya. Sebelum kau terlalu menyesal menghabiskan sisa usiamu denganku. Kautahu, sebab kini engkau adalah orang terakhir yang ingin kukecewakan, bahkan kuharap aku tidak akan pernah mengecewakanmu. Namun kutahu, itu adalah kemustahilan.

Jika seorang menghakimiku, apakah kamu akan tetap di sisiku?
Atau kamu akan mengucapkan selamat tinggal untukku?
Bisakah kau beritahu aku sekarang?

Jika aku tidak bisa membelikanmu hal-hal yang mewah dalam hidup,  apakah itu akan baik-baik saja?
Apakah kamu akan datang padaku dan menunjukkan bahwa kamu akan selalu di sampingku?
Katakan padaku sekarang, apakah kamu benar-benar akan ada untukku?
Sayang, beritahu aku akankah kamu bersedia mati untukku?

Would you spend your whole life with me?
Would you be there to always hold me down?
Tell me would you really cry for me?
Baby don't lie to me
If I didn't have anything
I wanna know would you stick around?

Maukah kamu menghabiskan seluruh hidupmu denganku?
Apakah kamu selalu berada di sana untukku?
Katakan padaku, akankah kamu menangis untukku?
Kekasihku, jangan berbohong padaku...
Jika aku tidak punya apa-apa
Aku ingin tahu apakah kamu tetap akan ada di hidupku?

Let's get it diddly-down-down-down
All I want is somebody real who don't need much
A girl I know that I can trust
To be here when money low
If I did not have nothing else to give but love
Would that even be enough?
Girl I need to know

Semoga kamu mengerti alasan kekhawatiranku ini. Sebab yang aku inginkan adalah seseorang yang nyata. Seseorang yang mengenalku dan bisa kupercaya.
Saat aku tidak memiliki cukup uang. Jika aku tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan selain cinta
Apakah itu akan cukup?
Aku memerlukan pengakuanmu

Tell me, tell me, would you want me? (Want me!)
Tell me, tell me, would you call me? (Call me!)
If you knew I wasn't ballin'
Cause I need a girl who's always by my side
Tell me, tell me, do you need me? (Need me)
Tell me, tell me, do you love me yeah?
Or is you just try to play me?
Cause I need a girl to hold me down for life

Katakan padaku apakah kamu menginginkan aku?
Katakan padaku akankah kamu selalu memberi kabar dan menelepon aku?
Katakan padaku, apakah kamu membutuhkan aku?
Katakan padaku, apakah kamu mencintaiku?
Atau kamu hanya mencoba mempermainkanku?
Karena aku perlu seseorang yang selalu ada di sisiku dan menjagaku  dari godaan dunia.

Di atas segalanya, hal yang paling kutakutkan adalah membuatmu menyesal hingga meninggalkanku akibat kebodohanku sendiri. Maka mengertilah, bila sesekali aku bertanya padamu tentang beragam kekhawatiranku, Sayang.

*cerita lirik Locked away by adam levine ft.

Meta morfillah

12 January, 2016

[Cerita lirik] Bukan cinta biasa

Begitu banyak cerita
Ada suka ada duka
Cinta yang ingin kutulis
Bukanlah cinta biasa

"Menjaga diri untuk tidak pacaran itu sulit sekali, Tha. Bahkan saat aku sudah menjaga, godaannya jauh lebih dahsyat dibanding jahiliyahku dulu..."

Yaa... kalau mudah semua orang masuk surganya mudah. Kalau tidak ada godaan, mana bisa tahu kualitas tiap orang. Semua kembali padamu, cinta seperti apa yang ingin kautulis dalam buku kehidupanmu. Suka duka seperti apa yang akan mewarnainya. Apakah cinta mainstream sebagaimana orang-orang sekitarmu? Ataukah bukan cinta biasa seperti yang dituntunkan Rabbmu melalui rasulNya?

Dua keyakinan beza
Masalah pun tak sama
Ku tak ingin dia ragu
Mengapa mereka selalu bertanya

"Ada banyak hal yang membuatku lelah. Kadang, saat sudah ada calon berpotensi, dia seperti diburu waktu untuk memintaku. Sekeliling kami selalu bertanya 'Kapan?'. Aku khawatir ia ragu dan memutuskan apa yang bukan kehendaknya, Tha. Dan apa yang kukhawatirkan terjadi. Dia lalu menghilang..."

Cintaku bukan di atas kertas
Cintaku getaran yang sama
Tak perlu dipaksa
Tak perlu dicari
Kerna kuyakin ada jawabnya oh...
Andai ku bisa mengubah semua
Hingga tiada orang terluka
Tapi tak mungkin
Ku tak berdaya
Hanya yakin menunggu jawabnya

Apakah yang kaucari hanya status tertulis di sebuah buku nikah? Apakah kau menikah hanya karena tak ingin sendiri, hingga siapa pun kauterima? Evaluasi lagi niatmu. Jangan sampai berputus asa pada Rabbmu! Fokus memperbaiki diri untuk memantaskan dirimu sebagai hambaNya. Jangan terlalu picik memantaskan diri hanya sekadar mendapatkan jodoh... rasanya amat tak pantas mengharap tentang satu persoalan hidup sementara begitu banyak karuniaNya di hidup kita.

Insyaa allah... cinta itu akan hadir bila kita telah sefrekuensi. Sebab cinta adalah getaran yang sama. Tak perlu dipaksa. Tak perlu dicari. Yakin saja akan bertemu jawab.

Bukan aku mencarimu. Bukan kamu mencariku. Tetapi cinta akan jalan inilah yang menuntun kita melangkah. Dan berpapas secara tak sengaja. Untuk lalu hendak mengikat janji dan eratkan genggam tangan ini.

Jangan pernah berandai kita bisa mengubah segala hal yang terjadi, meski untuk tak menyakiti hati seseorang. Seseorang yang kita tolak. Jangan sesali apa yang telah terputuskan. Jangan takut menolak bila memang tak sevisi. Percayalah, telah kusaksikan pernikahan yang gagal dapat menghancurkan jiwa baik begitu hebat.

Janji terikat setia
Masa mengubah segala
Mungkin dia kan berlalu
Ku tak mahu mereka tertawa

"Pernah kuterima seorang lelaki yang menjanjikan akan menjemputku pada batas waktu yang telah ia tentukan karena ada amanah yang harus diselesaikan. Tapi... di batas waktu, ia berlalu dan tak mampu menepati janjinya, Tha."

Bahwa menolak untuk tidak menunggu, sebab khawatir akan ketidakmampuan menjaga kesucian hati dalam penantian dan banyaknya godaan setan, adalah salah satu bentuk bersabar. Yakinlah, bila dia memang untukmu, apa pun rintangan yang menghalanginya akan ia terjang. Bila dia begitu menginginkanmu namun belum mampu, dia tidak akan memberimu janji yang sulit ditepatinya. Ia akan jauh lebih sibuk mengupayakan percepatan untuk menjemputmu, meskipun ia harus melupakanmu sementara waktu. Jangan menerima kalimatnya yang memintamu menunggu, "Nantikanku di batas waktu."

Sebab sudah kodrat lelaki untuk menjadi pejuang. Itu sudah terbukti sejak kita belum tercipta. Sel sperma yang bergerak, sementara sel telur diam di tempat menanti. Keduanya bersabar progresif. Sel sperma dengan upaya pergerakannya menembus segala halangan demi mencapai sel telur. Sel telur dengan kokohnya berdiam di tempat yang sama, bersiap menyambut sel sperma yang berhasil. Bayangkan bila sel telur gelisah dan tidak bersabar dengan tetap diam di tempat. Bagaimana mereka bisa bertemu? Perlu kesabaran dari kedua belah pihak, bukan?

Diriku hanya insan biasa
Miliki naluri yang sama
Tak ingin berpaling
Tak ingin berganti
Jiwaku sering saja berkata

"Aku ingin seperti teman-temanku yang lain, Tha. Mereka begitu mudah mendapatkan pasangannya. Mengapa aku belum jua hingga usia segini?"

Kadang kita begitu tergoda saat teman-teman seusia kita perlahan menyibukkan diri dengan keluarganya. Lantas kita agak goyah untuk keluar dari jalan ini. Tapi cobalah tanya jiwamu. Apakah ia ridha bila kamu menggadaikan semua perjuanganmu menjaga diri di detik-detik yang bisa jadi adalah ujung perjuanganmu? Apakah jiwamu ingin berpaling dan berganti menjadi mainstream dan biasa?

Andai kumampu ulang semula
Ku pasti tiada yang curiga
Kasih kan hadir tiada terduga
Hanya yakin menunggu jawaban

"Pada akhirnya, aku hanya berharap segalanya mampu diulang ke awal hubunganku dengannya. Tak mau aku memberinya peluang, jika hasilnya hanyalah janji kosong yang menyakitkan hati seperti ini. Seandainya kubiarkan saja, mungkin aku bisa lebih mudah menerima cinta yang lain."

Tenanglah wahai jiwa yang selalu tergesa... kasih itu akan hadir tanpa terduga. Tetaplah kembalikan semua masalahmu pada muaranya. Pada sang pemberi sekaligus penyelesai masalah. Tak ada lagi yang dapat kukatakan selain kesabaran dan yakin pada jawabNya atas doamu. Sebab tak ada yang lebih baik daripada bersabar.

*lirik lagu Bukan Cinta Biasa - Siti Nurhaliza

Meta morfillah

20 December, 2015

[Cerita lirik] Desember

Selalu ada yang bernyanyi dan berelegi
Di balik awan hitam

Desember kerap datang bersama awan hitam yang terlampau berat mengandung air. Bagai rindu yang ingin melimpah ruah namun tertahan selama sebelas bulan sebelumnya. Penghujung tahun, awan-awan cumulonimbus pun bersepakat melepaskan bebannya. Simfoni hujan menari hampir tiap hari. Tak jarang, banjir menampakkan dirinya, baik di kota besar atau desa. Para penyair dan penulis pun kerap mengalami banjir inspirasi. Maklum saja, hujan seringkali membangkitkan genangan dan kenangan. Banyak yang bernyanyi dan melukiskan eleginya dalam beragam cara. Begitu pekatnya luka dan duka di bulan desember. Mungkin hujan berniat membasuhnya. Mungkin.

Semoga ada yang menerangi sisi gelap ini,
Menanti..
Seperti pelangi setia menunggu hujan reda

Seberapa pun tabahnya sang hujan, tetap saja banyak yang merindukan terang. Berharap sisi gelap pun mendapat cahaya hingga mampu menguapkan segala kekurangan. Maka penantian adalah sebuah upaya. Upaya setia menanti akan sebuah janji yang lebih baik, seperti pelangi begitu setia menanti hujan selesai menari dan memberikan penutup yang indah dengan ketujuh spektrum warnanya.

Aku selalu suka sehabis hujan di bulan desember...
Di bulan desember...

Itulah ending yang selalu kusuka. Sehabis hujan. Meski kadang kota yang kudiami seakan berantakan dan harus berbenah ulang. Desember seakan selalu ingin membasuh semua luka dan duka yang tertahan, dengan menambah porsi awan hitam. Memaksa orang untuk membuang apa yang tidak diperlukan lagi, ketimbang menyimpan sampah-sampah perasaan, masa lalu yang tak usai dan tak kunjung bertemu jawab. Atau bila mereka tetap berkeras kepala, maka siaplah menampung semua itu dan membusuk bersamanya.

Sampai nanti ketika hujan tak lagi
Meneteskan duka
Meretas luka
Sampai hujan memulihkan luka

Lalu saat hujan tak lagi meneteskan duka, meretas luka, dan berhasil memulihkan luka, kita semua bersiap menghadapi sebuah tahun, waktu, kisah yang baru. Menanam beragam resolusi, pengharapan akan kehidupan yang lenih menjanjikan di bulan Januari. Meski sesekali, hujan menyambangi sehari-hari, kita sudah siap. Kita sudah selesai dengan luka dan elegi kita masing-masing.

*cerita lirik lagu Desember - Efek Rumah Kaca

Meta morfillah

13 December, 2015

[Cerita lirik] Sahabat jadi cinta

Bulan terdampar di pelataran
Hati yang temaram
Matamu juga mata mataku
Ada hasrat yang mungkin terlarang

"Ketika perasaan itu seterang purnama, apa yang harus kulakukan, Met?"

"Ungkapin. Ajak nikah."

"Ya enggak bisa, lah! Aku malu, Met. Aku kan wanita. Masak aku yang menyatakan."

"Ya sudah, pendam terus sampai akhir. Single sampai halal, yes..."

"Iih... kamu serius enggak, sih, dengerin curhatanku?"

Aku menghela nafas panjang. Entahlah, mengapa kerap kali aku dihadapkan pada curhatan serupa ini. Kadang aku geli sendiri, mendapati diriku bak konselor cinta tersohor, pakar, dan motivator, padahal diri sendiri belum sukses percintaannya. Lucu, bukan? Tetapi tetap saja temanku meminta saran pada orang yang gagal ini.

Satu kata yang sulit terucap
Hingga batinku tersiksa
Tuhan tolong aku jelaskanlah
Perasaanku berubah jadi cinta

"Aku jadi gak tenang, Met. Kepikiran dia terus. Mana ketemu tiap hari di kantor. Rasanya pedih, Met! Hubungan dekat, tapi perasaan tak terucap. Kamu paham, gak, sih, rasanya?"

"Paham, gak, yaaaa....."

Dia manyun. Aku tersenyum simpul. Perkara perasaan ini meski sederhana masalahnya, tetap saja sulit mencari solusinya. Sebenarnya, diri kita sendirilah yang paling tahu apa yang harus dilakukan. Tapi, aku sadar bahwa wanita seringkali curhat panjang lebar bukan untuk mendapat solusi, melainkan hanya ingin ditemani, didengarkan uneg-unegnya. Jadi, kubiarkan saja dia membanjirkan perasaannya sampai puas.

"Siksaan batin, Met! Saat orang yang paling kamu suka di dekatmu, tapi enggak bisa kamu miliki. Cuma bisa dipandangi, kayak baju yang kamu taksir di etalase, tapi kamu enggak mampu beli."

Tak bisa hatiku menafikkan cinta
Karena cinta tersirat bukan tersurat
Meski bibirku terus berkata tidak
Mataku terus pancarkan sinarnya

"Memang mulai kapan kamu sadar kamu suka dia?"

Dia mengubah sikapnya lebih serius. Menatapku dalam. Seakan inilah pertanyaan yang ia tunggu dariku sejak tadi.

"Pastinya enggak tahu kapan, Met. Tapi sekarang ini, kalau teman-teman di kantor cie-ciein aku sama dia, aku jadi senang gitu. Terus suka bayangin bagaimana kalau aku menikah sama dia. Tapi ke teman-teman, aku dan dia selalu bilang enggak ada hubungan apa-apa, sih. Tapi aku merasa dia juga ada feeling ke aku. Matanya menegaskan itu, Met!"

"Diih... yakin banget. Berani mandang-mandang pula. Wah... wah... hati-hati, jangan-jangan sebenarnya kamu kali yang baper, dianya, mah, enggak! Hahahaha... Aaauuuww!"

Dia mencubit lenganku gemas. Sakit!

Kudapati diri makin tersesat
Saat kita bersama
Desah nafas yang tak bisa rusak
Persahabatan jadi cinta

"Aku yakin, Met. Sikap dia juga berubah ke aku. Makin baik, makin sering cari-cari alasan untuk bisa dekati aku. Nanya-nanya kerjaan, lah. Ajak makan siang bareng, lah. Bahkan suka minta disatukan jadi tim ke bos aku."

"Wah, kalau sudah seyakin itu, mah, ya sudah atuh diajak nikah. Kali saja, dia pemalu. Kamu yang harus mulai."

"Tapi... enggak enak, Met. Selama ini aku dan dia itu cuma bersahabat. Rasanya, bagaimana gitu kalau persahabatan jadi cinta. It's so weird. Terus nanti kalau tidak jodoh, kami jadi enggak enakan. Padahal dia sahabat lelaki yang paling asyik dan bisa kuandalkan."

Apa yang kita kini tengah rasakan
Mengapa tak kita coba persatukan
Mungkin cobaan untuk persahabatan
Atau mungkin sebuah takdir Tuhan

"Semua opsi kukasih, kamu tolak. Yaa... terus maumu apa, atuh?"

"..."

Aku membiarkan dia memikirkan jawabannya sendiri. Sebenarnya, aku pun ikut berpikir. Meladeni orang curhat seringkali bagai dihadapkan pada cermin besar. Sebenarnya, mauku apa? Batinku seperti berbisik. Aaah...

"Met..."

"Yaa?"

"Apa benar perkataanmu, bahwa tidak ada persahabatan kekal antara lelaki dan wanita yang tidak lepas dari perasaan cinta?"

Aku terbahak. Dia masih mengingat ucapanku beberapa tahun lalu ternyata.

"Menurutmu sendiri bagaimana? Ada tidak? Jaga interaksi lelaki dan wanita itu tidak mudah bagiku, sih."

Dia memandangku agak lama. Lalu mengembuskan nafas panjang. Seakan bebannya sudah terangkat.

"Baiklah...sepertinya aku akan mengikuti saranmu."

"Saran yang mana?"

"Aku akan perbaiki interaksiku dengan lawan jenis. Untuk keadaan ini, aku tak ingin persahabatan kami berubah. Jadi, aku akan memilih berjalan mundur. Mundur dari perasaanku. Toh, kalau jodoh enggak akan tertukar, kan?"

"Wah, enggak tahu. Aku belum mengalami pertukaran jodoh, sih!"

"Hahaha... dasar Meta! Susah diajak seriusnya. Makanya belum ada yang seriusin, weeek..."

Lah... jadi aku yang kena, kan!

"Jadi, fix nih yaa.. kutinggalkan dia karena DIA. Kayak judul buku yang kamu mau beli itu. Hahaha..."

"Hahaha... iya ya, Met!"

*cerita lirik lagu Sahabat jadi cinta - Zigas

Meta morfillah

06 December, 2015

[Cerita lirik] The way you look at me

No one ever saw me like you do
All the things that I could add up too
I never knew just what a smile was worth
But your eyes see everything
Without a single word

Tak ada yang pernah melihatku seperti yang kau lakukan. Caramu melihatku yang kadang membuatku jengah dan gerah. Tersanjung oleh pujian yang nyata dari matamu. Aku tak pernah tahu bahwa senyum itu bernilai. Seperti senyummu sekarang saat melihatku. Aku selalu merasa bagai hadiah spesial yang dinantikan seorang anak kecil di hari ulang tahunnya. Anak kecil itu adalah dirimu. Begitulah yang kutangkap dari matamu. Seakan melihat segalanya, tanpa satu kata pun.

Cause there’s something in the way you look at me
It’s as if my heart knows
You’re the missing piece
You make me believe that there’s nothin’
in this world I can’t be
I never know what you see but there’s
somethin’ in the way you look at me

Sebab ada sesuatu dari caramu melihatku. Seolah-olah hatiku tahu, bahwa kamu adalah bagian yang hilang. Bagian yang kucari selama ini, untuk menggenapiku. Kau membuatku percaya bahwa tidak ada di dunia ini yang aku tak bisa. Rahasia terbesar yang selalu ingin kuketahui adalah apa yang sesungguhnya kaulihat dari diriku yang biasa ini? Aku tak pernah berhasil tahu apa yang kaulihat, tetapi ada sesuatu dari caramu melihatku.

If I could freeze a moment in my mind
It’ll be the second that you
Touch your lips to mine
I’d like to stop the clock
Make time stands still
Cause baby this is just the way
I always wanna feel

I don’t know how or why
I feel different in your eyes
All I know is it happens every time

Aku tidak tahu bagaimana dan mengapa, tapi jelas aku merasa berbeda di matamu. Dan itu terjadi setiap hari. Hebat sekali! Kamu berhasil membuatku ingin menghentikan waktu, agar kita bisa saling terus menatap dalam dan lamat hingga menembus pikiran dan perasaan masing-masing. Ajari aku, bagaimana caramu melihatku hingga membuatku merasa orang paling istimewa, beruntung, dan bahagia di dunia!

*Lirik lagu "The way you look at me" dipopulerkan oleh Christian Bautista.

Meta morfillah

04 December, 2015

[Cerita lirik] Like I'm gonna lose you

I found myself dreaming in silver and gold
Like a scene from a movie that every broken heart knows
We were walking on moonlight, you pulled me close
Split second and you disappeared and then I was all alone
Woke up in tears with you by my side
Breath of a leave and I realized,
No one will promise tomorrow

Mimpi buruk itu lagi!

Ini kali ketiga aku terbangun dalam tangisan, dengan kau ada di sisiku. Ketakutan terbesarku adalah terbangun tanpa kau di sisiku. Untunglah, kau tampak nyenyak dalam mimpimu. Aku tak ingin kautahu apa yang kuimpikan barusan.

Kelebatan mimpi buruk itu masih terasa nyata bagiku. Aku bermimpi diriku dalam sebuah ruangan emas dan perak. Layaknya sebuah adegan film sad ending, di mana penontonnya sudah tahu bagaimana akhirnya. Kita berjalan di bawah sinar rembulan, dan kau menarikku mendekat. Sekejap saja dan kau menghilang. Lalu aku sendirian. Emas dan perak itu tiada lagi berharga saat aku kehilanganmu. Aku timpang!

Kuembuskan nafas perlahan untuk mengusir kelebatan itu. Sebuah kesadaran menyambangiku, bahwa tak satu pun yang menjanjikan di hari esok. Meskipun janji kita saling mencintai selamanya. Selalu ada untuk masing-masing. Tapi nyatanya, bagi yang sudah menikah pun harus bersiap bercerai. Terpisah oleh maut yang begitu pasti datangnya.

So, I'm gonna love you like I'm gonna lose you,
I'm gonna hold you like I'm saying goodbye
Forever will stay in, I won't take you for granted
'Cause we'll never know it when we'll run out of time

Aku teringat sebuah pesan bijak, bahwa cinta haruslah seimbang. Mencintai dengan kesadaran suatu hari harus melepaskan. Meskipun begitu sulit melepaskan sesuatu yang sudah kaugenggam. Jadi, aku akan mencintaimu seolah aku akan kehilanganmu. Aku akan mendekapmu seolah aku berkata selamat tinggal. Selamanya akan tetap begitu. Aku tak akan pernah bisa mengabaikanmu begitu saja. Sebab kita tak akan pernah tahu kapan kita kehabisan waktu. Aku akan bersiap, Sayang...

In a blink of an eye,
Just a whisper of smoke
You could lose everything
The truth is you're never alone
So, I'll kiss you longer baby
Any chance that I get
I'll make the most of the minutes
So long with no regret
Let's take our time to say what we want
Here's what we've got
Before it's all gone
'Cause no one will promise tomorrow

Dalam sekejap mata. Hanya sebuah bisikan bagai asap, kau bisa kehilangan segalanya. Jadi, aku akan menciummu lebih lama, Sayang. Setiap kesempatan yang aku dapatkan, aku akan memperbanyak waktuku. Begitu lama tanpa ada penyesalan.

Mari ambil waktu kita untuk membicarakan apa yang kita inginkan. Waktu adalah hal paling berharga yang dapat diberikan seseorang, sebab dengan memberikan waktunya, ia telah memberikan bagian hidupnya yang tak dapat kembali lagi. Di sinilah apa yang sudah kita dapatkan. Sebelum itu semua pergi. Sebab tak satu pun yang menjanjikan di hari esok.

*cerita lirik "Like I'm gonna lose you" - MEGHAN TRAINOR FEAT JOHN LEGEND

Meta morfillah

17 November, 2015

[Cerita Lirik] Aku bisa

Kadang ku takut dan gugup
Dan ku merasa oh-oh tak sanggup
Melihat tantangan di sekitarku
Aku merasa tak mampu

Tujuh orang di hadapanku tengah membaca persiapan materi microteaching mereka. Bahkan beberapa nampak melakukan persiapan maksimal. Membawa kertas karton, spidol, contoh dedaunan dalam bentuk cetakan foto dan aslinya. Hanya aku yang terlihat begitu santai dengan tes ini. Yaa… kami adalah calon pelamar posisi guru di sebuah SD Islam terpadu dengan konsep alam. Aku malah asyik mengamati luasnya tanah sekolah itu. Ada kebun pepaya, singkong, arena outbound, bahkan sebuah bangunan untuk SMP yang sedang dibangun. Kelas-kelasnya pun unik. Tidak bertembok, melainkan berbentuk rumah panggung dari bambu—mengingatkanku pada rumah makan sunda. Sejujurnya, dalam hatiku sangatlah takut dan gugup. Aku sempat bercakap-cakap dengan beberapa pelamar dan mengetahui background mereka yang sangat mendukung. Ada yang baru lulus kuliah jurusan PGSD, bekerja sebagai guru bahasa inggris di sekolah lain, mengajar bimbel, dan semuanya masih aktif. Lagi-lagi, hanya aku yang sedang tidak bekerja, sudah lama juga tidak mengajar. Terakhir adalah tahun 2012. Itu pun aku biasa menangani anak SMP, bukan SD. Rasa tak percaya diriku sebenarnya menguat, namun sedang kualihkan dengan mencoba menikmati pemandangan yang indah.

Namun ku tak mau menyerah
Aku tak ingin berputus asa
Dengan gagah berani aku melangkah
Dan berkata aku bisa…

Perlahan aku menenangkan diri dengan kalimat positif yang memotivasiku. Mengingat mati, mengingat tujuanku mengajar kembali, meluruskan niat, dan menihilkan ekspektasiku. Sebab seringkali ekspektasi akan melahirkan kekecewaan yang dalam. Persis seperti mencoba mencintai tapi sadar akan risiko melepaskan. Aku pun mulai tenang.
Rangkaian tes dimulai. Diawali dengan presentasi selama 15 menit dengan mengenalkan diri serta interview langsung oleh ketua yayasan yang siap dengan beragam pertanyaan. Sebab aku tak punya ekspektasi dan berharap cepat keluar dari atmosfer para pelamar yang semakin sering berkomat-kamit menghafalkan materi microteaching mereka, aku pun mengajukan diri untuk presentasi dan interview pertama. Disaksikan oleh sepuluh orang, aku merasa begitu lancar bahkan termasuk setoran hafalan surat pendek—aku membacakan surat At tin—dan membaca Al Quran. Aku menganggapnya seperti biasa saat aku presentasi ke klien dan mengaji. Perpaduan keseharianku dahulu. Setelahnya tes microteaching, lagi-lagi aku maju pertama—kali ini karena semua sepakat jika yang pertama bagus, biasanya ke belakangnya bagus, dan mereka memilihku karena aku dinilai berani—sebagai contoh. Aku membawakan matematika materi pecahan sederhana kelas 3 SD semester dua. Waktu yang diberikan hanya 15 menit. Aku tidak memiliki ide kreatif seperti menyiapkan slide atau peraga, dan lainnya. Aku mengajar biasa, menggunakan whiteboard, menggambar dan bercerita, disertai simulasi menyuruh peserta lain maju mengerjakan soal. Aku hanya memakai waktu 5 menit. Aku sudah tak bersemangat karena perutku keroncongan dan perkiraanku bahwa tes akan selesai dalam tiga jam, ternyata meleset hingga enam jam membuatku ingin cepat pulang.

Aku bisa… aku pasti bisa…
Ku harus terus berusaha
Bila ku gagal itu tak mengapa
Setidaknya ku tlah mencoba

Setelahnya aku menikmati berpura-pura sebagai peserta didik, dan menyaksikan teman-teman pelamar lainnya beraksi. Meski persiapan mereka begitu hebat, banyak juga yang tiba-tiba lupa pada materi. Wajar… grogi. Hal ini pun menerbitkan senyumku, bahwa bila aku gagal setidaknya aku telah mencoba. Aku telah merasakan kembali bagaimana adrenalinku terpacu dalam sebuah persaingan sehat.

Aku bisa… aku pasti bisa…
Ku tak mau berputus asa
Coba terus coba
sampai ku bisa
AKU PASTI BISA!

Tes terakhir adalah mengerjakan 5 soal uraian dalam waktu 5 menit. Aku mengerjakannya dengan mudah, terutama soal hitungan. Hanya 1 soal yang agak kuragukan, tapi aku sudah tak peduli lagi. Aku hanya ingin melewati semua rangkaian tes sebaik mungkin tanpa mencemaskan hasilnya. Aku hanya tidak ingin berputus asa, mencoba menjemput takdir terbaik. Just do the best, and let Allah the rest.

Itu semua terjadi di tanggal 10 November 2015. Pihak sekolah memberitahu bahwa dalam waktu dua minggu hasilnya baru akan diumumkan. Pelamar yang lolos tes akan dihubungi via telepon. Dan hari ini, tepat eminggu setelahnya, aku ditelepon. Esok, aku diminta untuk tandatangan kontrak dan langsung mengajar—belum diputuskan akan mengajar di kelas kecil atau besar, dan mata pelajaran apa. Alhamdulillah… kali ini, Allah ingin aku kembali pada dunia yang selama ini kuhindari. Ya, dunia pendidikan formal. Dunia yang menyebabkanku dilema, sebab aku mencintai dunia ini tapi juga membencinya, bila menjadikan belajar adalah beban untuk anak-anak. Tapi kini, aku telah memiliki perspektif baru, dan berusaha agar cita-citaku menjadikan belajar itu menyenangkan terwujud. Sebab ilmu adalah keutamaan untuk meraih ridaNya. Semoga Allah meridai keputusan ini, dan menjadikanku rida terhadap keputusannya.

 *cerita lirik Aku Bisa - AFI Junior. Lagu penyemangatku!


Meta morfillah

13 November, 2015

[Cerita lirik] Balonku

Balonku ada lima
Rupa-rupa warnanya
Hijau, kuning, kelabu, merah muda, dan biru

Tika sedang gundah. Bahkan lagu balonku yang sedang ia nyanyikan bersama anak-anak di rumah belajar terasa menyindir dan mengingatkan Tika pada sosok itu.

"Haaah... Hatiku ini bukan balon yang ada lima. Hatiku cuma satu. Mengapa lagu ini jadi seperti menyindir aku, sih? Baper deh..." batinnya.

Mengapa cinta seringkali tak tepat waktu? Saat aku tak menyukainya, dia menyukaiku. Saat dia sudah tak menyukaiku, aku perlahan menyukainya. Dan sulit bagiku untuk melupakan bila sudah menyukai seseorang. Menyebalkan. Tika melanjutkan keluhannya dalam hati, sementara mulutnya terus menyanyi bersama anak-anak dan senyum terus terpasang, diiringi gerakannya  yang lincah. Betapa hebatnya wanita! Bisa mengalami dua emosi bersamaan sekaligus menutupi perasaan yang sesungguhnya.

Meletus balon hijau
Dor!!
Hatiku sangat kacau

Yaa... hatiku saat ini sangat kacau. Persis balon hijau itu! Betapa ingin rasanya aku yang menjelma menjadi balon hijau itu di hadapannya. Sekadar untuk mengacaukan hatinya. Aah... tapi boro-boro dia memikirkanku. Dumelan Tika terus berlanjut dalam hati. Otaknya bernyanyi, tapi hatinya menangis.

Balonku tinggal empat
Kupegang erat-erat

Hatiku tetap tinggal satu. Dari awal pun cuma satu. Tapi selepas dia pergi, kupegangi hatiku semakin erat. Begitu erat. Sebab aku takut, bila hatiku terbawa olehnya, tak akan lagi kudapati sepotong hati yang baru.

*cerita lirik "Balonku". Special untuk Chyntiarama Fajriyan Tika.

Meta morfillah

[Cerita lirik] Cintai aku lagi

Setiap malam aku selalu merenung
Terbayang dapat menyentuh wajahmu
Ingin kuulangi sekali lagi
Rasa indah yang pernah kualami

Shanti menatap layar ponsel lamat-lamat. Foto itu. Foto dia dan lelaki itu dengan lanskap pegunungan di belakang mereka. Perjalanan mendaki bersama kawan pecinta gunung yang begitu menyenangkan. Amat menyenangkan terutama bepergian dengan orang yang kausukai, bukan? Shanti sangat suka momen itu. Membayangkan saat kedekatan mereka dahulu. Rasa terindah yang pernah ia miliki seumur hidupnya. Betapa masa depan tergenggam begitu nyata baginya. Tapi itu tiga bulan sebelum sebuah undangan berwarna emas bertintakan nama lelaki itu dengan nama wanita lain tiba di tangannya.

Kurasakan… kehampaan
Kuinginkan… kehangatan

Apa yang salah? Seketika Shanti merasa begitu hampa. Bukankah segalanya begitu lancar? Memang lelaki itu belum menyatakan, tetapi perilakunya berbicara lantang mengenai perasaan lelaki itu padanya. Bagaimana tidak, rumahnya di bilangan Jakarta Timur dengan rumah lelaki itu cukup jauh. Tapi lelaki itu bersedia mengantar jemputnya. Mengajaknya kondangan ke acara teman lelaki itu. Memperlakukannya istimewa. Bukankah itu sebuah bukti? Saat menggenggam undangan itu, sekujur tubuhnya terasa dingin. Ia butuh kehangatan. Sebuah pelukan. Tapi, siapa?

Cintai aku lagi seperti waktu itu
Tak bisa kuhindari, hati selalu merindu
Sayangi aku lagi, Tak mampu kusendiri
Tanpa hadirmu, tanpa cintamu

Menatap lelaki itu bersanding dengan wanita lain. Menatap sisi lelaki itu yang seharusnya diisi olehnya. Rasanya seperti melayang dan lupa berpijak pada bumi. Ia sendiri tak mengenali dirinya. Mengapa ia datang, bila tak sanggup menyaksikan? Mengapa ia tertawa seakan dirinya baik-baik saja, sementara teman-temannya pun mengkhawatirkan dirinya, sebab mereka tahu apa yang terjadi antara dirinya dan lelaki itu? Bodohnya lagi... ia masih berharap lelaki itu mencintainya seperti waktu dulu. Hatinya tak bisa menghindari, bahwa ia rindu. Ia ingin disayang lagi... seperti saat ia diperlakukan istimewa di gunung, kondangan, dan di masa lalunya.

Rasa sayang, rasa cinta
Yang selalu kudambakan
Tak ‘kan lelah hati ini
Menantimu ‘kan kembali

Genap enam bulan berlalu, dan ia masih belum lelah menanti lelaki itu kembali. Meski mungkin bukan kembali untuk menjadikan dirinya masa depan. Tapi ia masih mendamba pengakuan rasa lelaki itu. Hutang penjelasan. Bahwa ada beberapa cinta yang hanya butuh pengakuan, tanpa perlu penyatuan.

*cerita lirik "Cintai Aku Lagi" oleh Sania. Special untuk Shanti Nur Oktavia

Meta morfillah

27 August, 2015

[Cerita lirik] Human

I can hold my breath
I can bite my tongue
I can stay awake for days
If that's what you want
Be your number one

"Kamu terlalu asyik dengan mereka. Sadarkah kamu terlalu mendominasi? Seperti bukan dirimu yang kukenal dahulu."

Kalimatmu membuatku berpikir lamat-lamat. Seketika anak-anak di grup ramai membelaku. Mengatakan bahwa kalimatmu itu hanya ungkapan kecemburuan padaku. Aku yang kamu kenalkan pada mereka. Lalu menjadi jauh lebih akrab, memenangkan perhatian, dan begitu disayang mereka dalam hitungan bulan. Jauh lebih tenar dan bersinar, kata Jo. Kamu berang mendengar jawaban mereka. Kamu pun keluar dari grup. Mereka tak kehilanganmu, bahkan menghiburku.

Aku memang tersenyum dan bertingkah seolah-olah semua baik-baik saja. Menerima hiburan mereka dengan senyum. Padahal hatiku sakit. Satu kata bergaung di kepalaku.

Mendominasi.

Apakah aku telah mendominasi?

I can fake a smile
I can force a laugh
I can dance and play the part
If that's what you ask
Give you all I am

Tentu saja aku membujukmu untuk kembali. Apa rasanya ketika orang yang mengenalkanmu, membawamu pada dunia yang ceria, lalu pergi memendam sakit hati karenamu? Aku tak ingin hal itu terjadi. Aku bahkan menjanjikan hal tak perlu. Bahwa aku tidak akan banyak bicara lagi di grup. Tidak akan dekat-dekat lagi dengan orang yang kamu kurang sukai. Tidak akan tertawa, tersenyum, apa pun yang kamu minta, bahkan bersedia pergi, asalkan kamu kembali.

Tapi aku bodoh. Malah kalimat ini yang aku dapatkan.

"Kembalilah ke mereka. Kamu yang disayangi mereka, bukan aku. Tidak usah membujuk dan berharap aku akan kembali ke kelompok kalian yang eksklusif itu."

Apa kau lupa, siapa pendiri kelompok eksklusif itu? Siapa yang membawaku ke sana?

But I'm only human
And I bleed when I fall down
I'm only human
And I crash and I break down
Your words in my head, knives in my heart
You build me up and then I fall apart
'Cause I'm only human

Aku menyerah. Kurasa tidak perlu ada yang harus diperjuangkan menilik sikapmu padaku. Aku tetap menjalani hariku, meski menyayangkan hubungan kita yang retak. Sekuat tenaga aku menahan diri untuk tidak membenci dirimu dan diriku. Sekuat hati aku mencoba bersikap biasa bila tak sengaja bertemu denganmu, meski kau membuang muka.

Lama-lama hatiku mendingin. Saat aku berpikir ulang tentang kesalahanku di masa lalu. Tidak ada niat sedikit pun untuk mendominasi. Aku selalu berusaha menjaga batas tahu diri, bahwa aku adalah anak baru. Lalu, salahkah bila ternyata aku dicintai? Aku tak pernah meminta cinta mereka. Berharap pun tidak. Mengapa aku harus bersalah? Mungkin bintang yang terlalu bersinar terang, akan menyilaukan dan menyakiti sekitarnya. Bintang itu harus rela meredupkan sinarnya. Maka kulakukan itu, seiring redup dan dinginnya hatiku.

Dua tahun berlalu, perkataanmu tetap menancap di hatiku. Bekasnya tak pernah hilang. Menimbulkan sedikit trauma. Tanpa dinyana, aku kembali menghadapi hal sama. Dengan orang lain. Kali ini, aku memutuskan untuk memutus rasa didominasi itu sebelum hubunganku dengannya retak.

I can turn it on
Be a good machine
I can hold the weight of worlds
If that's what you need
Be your everything

I can do it
I'll get through it

I can take so much
'Til I've had enough

But I'm only human
Just a little human

Sejauh ini... aku bisa menghadapi semuanya. Aku bisa melakukannya sendirian. Tapi, ada saat di mana aku ingin berteriak pada kalian, bahwa aku juga hanyalah manusia biasa. Bahwa tawaku, senyumku terkadang dijalin di atas luka. Palsu. Aku tak setegar yang kalian kira. Bila aku terus tersenyum, bukanlah karena aku bahagia. Semata aku lupa bagaimana aku harus bersedih atau membalas marah. Aku lelah.

Mengapa aku harus menjaga perasaan kalian? Kapan kalian yang akan menjaga perasaanku? Kapan kalian akan mendengarkan apa yang tidak kukatakan?

*cerita lirik Human - Christina Perri

Meta morfillah

20 July, 2015

Assalammualaikum beijing

Assalammualaikum kekasih hati
Assalammualaikum pendamping diri
Tak pernah kubayangkan
Kautawarkan genggaman
mengobati luka di jiwa

Assalammualaikum cinta sejati
Assalammualaikum penghias mimpi
Dari negeri yang jauh, menelusuri waktu
Kau datang penuhi takdirku

Kasih tak pernah menyerah
Walau ujian datang menyapa
Cinta yang dulu timbulkan luka
Kini pernah berganti cahaya

Assalammualaikum beijing...

***

Dari awal nonton filmnya, langsung jatuh hati sama soundtrack ini. Mudah terbaca di liriknya, bahkan menjelaskan keseluruhan film. Entahlah... ada yang menyeruak di dada saat mendengar lagu ini di kali pertama. Pernah merasa seperti itu terhadap sebuah lagu yang asing? Begitu yakin bahwa akan menyukai lagu ini dalam penggalan mau pun keutuhannya?

Saya mencari-cari dan pada akhirnya dibantu oleh seorang kawan dokter di seberang pulau untuk mendapatkan lagu ini. Butuh lima kali putar untuk hafal dan menuliskan lirik lagu ini. Beginilah... kalau sudah suka, saya putar terus. Bosan? Itu urusan belakangan.

Haha... karakter lelaki di film ini... bikin melting banget. Awalnya sudah sesak nafas saat tahu ada jurang perbedaan iman. Berharap ada hidayah menyentuhnya, lalu saat tersentuh... tokoh wanitanya yang ngedrop. Meski orang melihat banyak kelebihan, tapi wanita itu melihat pada satu kekurangan. Penyakitnya. Mungkin kenaifan tokoh wanitanya yang membuat saya merasa begitu dekat. Seringkali, di hadapan orang yang sangat kita sayangi dan kita harapkan menjadi pendamping, kita merasa begitu jauh dari kata pantas. Bahwa dia terlalu baik untuk disulitkan menerima kekurangan kita. Ah, paradoks wanita. Atau saya saja yang seperti ini?

Well... inilah rasa yang bangkit saat mendengar lagu ini. Enaknya, dalam lagu ini happy ending. Kalau dalam kisah saya, bagaimana ya? Semoga tidak harus jauh-jauh menjemput jodoh ke negeri cina.

"Apa yang bisa diberikan oleh perempuan sepertiku?" (Asma)

"Aku juga takut, Asma. Tapi Cinta romantis ada. Dan tidak butuh fisik yang sempurna untuk miliki kisah cinta sempurna.." (Chungwan)

Meta morfillah

10 May, 2015

[Cerita lirik] Rapuh

Belum sempat kumembagi kebahagiaanku
Belum sempat kumembuat dia tersenyum
Haruskah ku kehilangan, untuk kesekian kali
Tuhan kumohon jangan lakukan itu

Kosong. Pikirannya terasa begitu kosong. Menatap tubuh yang terbaring di hadapannya, berbalut kain putih. Rumahnya ramai, tapi ia merasa begitu sepi. Sendiri. Ia diam. Bukan diam yang tenang. Lebih kepada tak tahu harus berbuat apa. Berusaha mencerna keadaan. Lalu kesadaran datang menyergapnya. Matanya berkabut. Kerongkongannya tercekat. Susah payah ia menelan air liurnya sendiri. Satu kesimpulan ia dapatkan. Tubuh itu, tubuh yang terbaring berbalut kain putih itu... adalah tubuh seseorang yang sangat ia cintai. Satu-satunya keluarga yang ia miliki, setelah kepergian ayahnya lima belas tahun lalu. Perlahan matanya merintik. Kelebat kejadian melintas dalam pikirannya. Bagaimana ia sampai di sini, ditelepon saat sedang bekerja. Sepanjang perjalanannya tadi, ia bagai mayat berjalan. Tak sadar. Kecerdasannya hilang begitu saja saat mendengar kabar duka itu. Ibunya meninggal.

Sebab kusayang dia
Sebab kukasihi dia
Sebab kutak rela
Tak selalu bersama

Matanya hujan. Penyangkalan mulai membuatnya menggugat Tuhan. Ia merasa ini tak pantas terjadi. Tidak. Satu-satunya orang yang ia sayang, kasihi diambil kembali. Lalu... ia akan sendiri. Sendiri menghadapi dunia ini. Mengapa Tuhan begitu tega? Pikirnya.

Kurapuh tanpa dia
Seperti kehilangan arah

Dulu, saat ayahnya meninggal separuh dirinya ikut hilang. Ia yang begitu dekat dengan ayahnya, merasa kekosongan di sebagian hatinya. Lalu kini, ibunya... sempurnalah sudah. Ia merasa begitu rapuh. Bagaimana ia bisa menghadapi dunia ini sendiri? Siapa yang akan mengarahkannya? Memberinya nasehat-nasehat saat ia berlaku bodoh. Mendoakannya tanpa dipinta. Siapa?

Jikalau memang harus kualami duka
Kuatkan hati ini menerimanya

Hanya sebentar. Lalu ia teringat bahwa orang tuanya tak pernag menginginkan dia menggugat Tuhannya. Penyangkalan berangsur menjelma penerimaan. Bagaimanapun, yang pergi tetap akan pergi. Kematian itu niscaya. Dan ia bukanlah orang pertama atau satu-satunya yang pernah mengalami ini. Ditinggalkan. Meski terpaksa... satu-satunya cara adalah menerima. Berdamai dengan dirinya sendiri.

*cerita lirik rapuh - agnes monica

Meta morfillah

11 March, 2015

[Cerita Lirik] Ibu

Sebening tetesan embun pagi...
Secerah sinarnya mentari...
Bila ku tatap wajahmu oh ibu...
Ada kehangatan di dalam hatiku...


Boleh setuju, boleh tidak... bila saya membuat pernyataan bahwa obat dari segala obat adalah wajah ibu yang teduh, pelukan ibu yang hangat dan menenteramkan. Terlebih bagi mereka yang terpisah jarak dengan ibunya. Bahkan kehadiran ibu saja, bisa mengali-lipatkan kekuatan dan semangatmu. Menatap wajahnya, membuat hangat hati yang resah dan menghilangkan cemas yang merona.

Air wudhu' selalu membasahimu...
Ayat suci selalu dikumandangkan...
Suaramu penuh keluh dan kesah...
Berdoa untuk putra putrinya...


Satu hal yang paling kuingat tentang ibuku adalah saat ia beribadah pada Allah. Ibu senantiasa terbasuh wudhu, dan tak henti mengumandangkan ayat suciNya. Terlebih di waktu isya dan tahajjud malam. Saat terbangun dari tidurku, sering kudapati ia berdoa dengan suara penuh keluh dan kesah. Memohon mesra pada Rabb. Bahkan pernah kudengar ia menyebut nama lengkapku binti nama ayahku, mendoakan kelancaran urusanku tanpa kupinta. Doanya, adalah untaian kasih sayang yang mewujud keberuntungan bagiku. Semakin dewasa, semakin sering kukatakan ini padanya, saat mencium mesra tangannya yang bengkok dan penuh keriput
“Ma, doain yaa..”
Meski aku tahu ia akan senantiasa mendoakanku. Itu kulakukan semata untuk menegaskan penguatan dan menumbuhkan semangatku mendengar jawabannya “Iya, Mama doain. Semoga lancar urusannya.”

Oh ibuku...
Engkaulah wanita...
Yang kucinta selama hidupku...
Maafkan anakmu bila ada salah...
Pengorbananmu tanpa balas jasa...


Pernah suatu ketika, seorang kawan berkata padaku “Kelak, saat kau jadi ibu, kau akan jauh lebih mencintai ibumu. Setelah kautahu apa yang harus dilewati seorang ibu. Ibu yang mengurusmu dengan mengharapkan kehidupanmu, sementara kau mengurusnya dengan mengharapkan kematiannya.”
Mungkin memang benar. Tapi, tak perlu menunggu menjadi ibu... saat usia bertambah, aku semakin jauh mencintai ibuku. Membayangkan di usia sekian, ibu harus bekerja sekaligus menjadi istri dan ibu. Banyak peran yang ia jalani, dan tak satu pun dalam ingatanku yang muncul tentang ibu mengeluhkan pekerjaannya. Ibu selalu tampak tak ada beban. Sesekali ia terlihat sibuk terbenam dalam tumpukan kertas. Namun bila aku mengganggu dan menyita perhatiannya, ia tak menolakku dan tak mengeluh sedang ada kerjaan. Ia hanya mengalihkan perhatianku, tanpa membuatku merasa dinomorduakan. Akhir-akhir ini, aku semakin sering menangis. Menyadari bahwa waktuku dengan ibu semakin berkurang. Sebab bertambahnya usiaku menunjukkan berkurangnya jatah kebersamaanku dengan ibu. Sementara aku bertumbuh, ibuku bertambah lemah, renta, dan tua.

Ya Allah ampuni dosanya...
Sayangilah dia seperti menyayangiku...
Berilah dia kebahagiaan...
Di dunia juga diakhirat...


Di sela tangisanku, aku hanya bisa lirih memeluknya dalam doa. Memohon pada Rabb, agar ibuku disayangiNya sebagaimana ibu menyayangiku. Agar Rabb mengampuninya dan mengizinkan aku membahagiakan ibuku dengan usahaku sendiri. Mewujudkan kebahagiaannya di dunia dan akhirat, dengan beragam prestasi dan tetap menjaga akhlak. Berharap semoga di akhirat kami diperkenankan bersama kembali. Betapa kematian adalah niscaya, yang begitu menohok kesadaran tentang diri yang tak ada artinya.

*cerita lirik lagu Ibu - Sakha
Meta morfillah

Text Widget