Pages

Showing posts with label Learning by Reading. Show all posts
Showing posts with label Learning by Reading. Show all posts

06 May, 2014

Guru Terbaik

Apakah Anda ingat akan guru terbaik anda pada masa sekolah, guru yang memberi inspirasi bagi anda untuk belajar dan mengerjakan yang terbaik?

Guru tersebut memberi tantangan bagi anda untuk maju, lebih dari guru-guru lain. Awalnya, mungkin tantangan ekstra itu terasa tidak adil, atau malah kejam. Tetapi sekarang anda seakan memandang berbeda. Anda memandangnya dengan rasa hormat dan percaya, bahwa karena tantangan itulah anda bisa maju.

Saat ini ada guru hebat yang masih mengajar anda. Ia adalah “kehidupan”.

Kehidupan adalah guru yang terbaik. Tapi pelajarannya sering terasa keras, tajam, dan kadang kejam. Di sana ada kekecewaan, kesedihan, kebingungan, kesendirian, dan frustasi dalam setiap pengajarannya.

Pelajaran dari kehidupan adalah keras, tetapi karenanya kita memperoleh pelajaran dan pertumbuhan terbesar. Kehidupan menantang kita dan mendorong kita lebih tinggi. Ia membantu menyingkapkan karakter sejati kita, dan dengan cara itu mendorong kita membangun karakter yang lebih kuat.

Di luar segala pelajaran itu, renungkanlah. Guru yang paling mencintai dan memelihara kita itu telah membangun yang terbaik dari diri kita. Mungkin kita sekarang tidak menghargainya, tetapi akan tiba harinya anda akan bersyukur. Sama seperti kita bersyukur atas guru sekolah kita terdahulu.

30 April, 2014

Sehelai daun

Pada sebatang pohon kecil, hiduplah beberapa daun yang tumbuh bersama. Di antara daun-daun tersebut terdapat sebuah daun yang sangat besar dan kuat. Daun itu diagung-agungkan karena kekuatannya. Dialah yang dianggap pelindung bagi daun-daun lainnya dari badai, hujan, panas matahari yang terik, dan bahaya lainnya.

 
Suatu ketika datanglah musim kemarau yang panjang. Daun-daun di pohon kecil itu mulai layu karena tidak mendapat air dan makanan. Daun besar yang tadinya kuat dan besar mulai terlihat keriput. Ia berusaha melindungi daun-daun lainnya dari matahari yang bersinar sangat terik sehingga daun-daun sahabatnya itu tidak kehilangan air lebih banyak lagi. Hari berganti hari, daun besar itu sudah sampai pada puncak usahanya. Ia mulai sobek-sobek sehingga sinar matahari mulai menembusnya. Ia mulai kehilangan kekuatannya dan daun-daun lainnya pun sudah mulai mengabaikannya karena ia tidak kuat lagi seperti dulu.

Beberapa hari kemudian daun besar itu merasa tidak kuat lagi akhirnya ia berkata kepada teman-temannya,
"Teman-teman, aku tidak lagi mempunyai kekuatan untuk melindungi kalian, aku akan gugur. Selamat tinggal."

Setelah berkata demikian akhirnya daun besar itu pun gugur. Musim kemarau terus berlanjut, daun-daun di pohon kecil itu saling bertahan untuk hidup. Mereka sama sekali sudah melupakan daun besar yang telah berjasa melindungi mereka sehingga mereka dapat bertahan sampai sekarang. Musim kemarau tidak juga berakhir. Daun-daun di pohon kecil itu sudah mulai kehilangan harapan. Mereka merasa sangat kelaparan, kehausan dan akan mati.

Di saat mereka putus asa, tiba tiba dirasakan adanya air dan makanan dari tanah. Mereka terheran-heran akan adanya keajaiban itu. Setelah lama mencari-cari, mereka menyadarinya. Mereka melihat bahwa daun besar itu sudah membusuk dan menghasilkan air dan sari makanan bagi mereka. Akhirnya dengan air dan sari makanan dari daun besar tadi, daun-daun di pohon kecil itu berhasil bertahan sampai musim hujan datang. Daun-daun di pohon kecil itu sangat menyesal karena telah melupakan daun besar itu. Padahal sampai akhir hayatnya daun besar itu tetap menjadi pahlawan bagi daun-daun lainnya.

Renungan bagi kita,
Janganlah menilai seseorang dengan penampilan dan kekuatannya. Tuhan memberikan bantuan kepada kita melalui siapa saja bahkan melalui orang yang kita anggap telah jatuh dan hina. Ingatlah rencana Tuhan itu ajaib dan tidak pandang bulu terhadap semua hambanya.


28 April, 2014

How long you can hold

Saat memberikan kuliah tentang Manajemen Stress, Steven Covey mengangkat segelas air dan bertanya kepada para siswanya:

“Seberapa berat menurut anda kira segelas air ini?” 

Para siswa menjawab mulai dari 200 gr sampai 500 gr.

“Ini bukanlah masalah berat absolutnya, tapi tergantung berapa lama anda memegangnya,” kata Covey.

“Jika saya memegangnya selama 1 menit, tidak ada masalah. Jika saya memegangnya selama 1 jam, lengan kanan saya akan sakit. Dan jika saya memegangnya selama 1 hari penuh, mungkin anda harus memanggilkan ambulans untuk saya. Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin berat.”

“Jika kita membawa beban kita terus menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. Beban itu akan meningkat beratnya,” lanjut Covey.

Sobat, apa yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi.

Kita harus meninggalkan beban kita secara periodik, agar kita dapat lebih segar dan mampu membawanya lagi. Jadi sebelum pulang ke rumah dari pekerjaan sore ini tinggalkan beban pekerjaan atau masalah sekolah/kampus sejenak. Jangan bawa pulang. Beban itu dapat diambil lagi besok. Apapun beban yang ada di pundak sobat hari ini, coba tinggalkan sejenak jika bisa. Setelah beristirahat nanti dapat diambil lagi……

Hidup ini singkat, jadi cobalah menikmatinya dan memanfaatkannya. Hal terindah dan terbaik di dunia ini tak dapat dilihat, atau disentuh, tapi dapat dirasakan jauh di relung hati kita.

Selain itu, beristirahat sejenak untuk dapat mengayuh kembali hidup dengan lebih kuat. Jadi sisakan porsi aktivitas keseharian Anda untuk mengistirahatkan, badan, pikiran (otak), dan rohani.

27 November, 2013

1 jam saja

Suatu hari seorang anak kecil datang kepada ayahnya dan bertanya, “Apakah kita bisa hidup tidak berdosa selama hidup kita?”.

Ayahnya memandang kepada anak kecil itu dan berkata, “Tidak, nak”.

Putri kecil ini kemudian memandang ayahnya dan berkata lagi, “Apakah kita bisa hidup tanpa berdosa dalam setahun?”

Ayahnya kembali menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum kepada putrinya.

“Oh ayah, bagaimana kalau 1 bulan, apakah kita bisa hidup tanpa melakukan kesalahan?”

Ayahnya tertawa, “Mungkin tidak bisa juga, nak”.

“OK ayah, ini yang terakhir kali, apakah kita bisa hidup tidak berdosa dalam 1 jam saja?”.

Akhirnya ayahnya mengangguk, "Kemungkinan besar, bisa nak dan kasih Tuhanlah yang akan memampukan kita untuk hidup benar".

Anak ini tersenyum lega. 

"Jika demikian, aku akan hidup benar dari jam ke jam, ayah. Lebih mudah menjalaninya, dan aku akan menjaganya dari jam ke jam, sehingga aku dapat hidup dengan benar...."

Pernyataan ini mengandung kebenaran sejati.

Marilah kita hidup dari waktu ke waktu, dengan memperhatikan cara kita menjalani hidup ini.

Dari latihan yang paling kecil dan sederhana sekalipun, akan menjadikan kita terbiasa, dan apa yang sudah biasa kita lakukan akan menjadi sifat, dan sifat akan berubah jadi karakter, dan karakter akan menjadi takdir.

Hiduplah 1 jam :

* TANPA kemarahan,
* tanpa hati yang jahat,
* tanpa pikiran negatif,
* tanpa menjelekkan orang,
* tanpa keserakahan,
* tanpa pemborosan,
* tanpa kesombongan,
* tanpa kebohongan,
* tanpa kepalsuan...

Lalu ulangi lagi untuk 1 jam berikutnya.. .

Hiduplah 1 jam

dengan kasih,
dengan sukacita,
dengan damai sejahtera,
dengan kesabaran,
dengan kelemahlembutan,
dengan kemurahan hati,
dengan kerendahan hati,
dengan penguasaan diri...

Dan ulangilah untuk 1 jam berikutnya.. .

Jalanilah kehidupan yang berkenan kepada Tuhan, dengan menjalaninya dari waktu ke waktu, dari 1 jam ke jam berikutnya..


But the fruit of the Spirit is love, joy, peace, patience, kindness, goodness, faithfulness, gentleness and self-control.

24 September, 2013

Wortel, Telur dan Kopi

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjjw46H2ZV-XkNQd-wX89wMDvirgnYU9cdsBTF02lLIAOoIWI5nW5alVUxbpBaqwwjNx1YrmtLG3uRd6pc8wvyfzUnnxCmFn1n-CUec0IsX70-aq6AoX58ANulYb0XjckSJmDwgyv6G1vB_/s320/WORTEL+TELUR+DAN+KOPI.jpg
gambar diambil di sini

Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya dan menanyakan mengapa hidup ini terasa begitu berat baginya. Ia tidak tahu bagaimana menghadapinya dan hampir menyerah. Ia sudah lelah untuk berjuang. Sepertinya setiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru.

Ayahnya, seorang koki, membawanya ke dapur. Ia mengisi 3 panci dengan air dan menaruhnya di atas api. Setelah air di panci-panci tersebut mendidih. Ia menaruh wortel di dalam panci pertama, telur di panci kedua dan ia menaruh kopi bubuk di panci terakhir. Ia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata. Si anak membungkam dan menunggu dengan tidak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan sang ayah. Setelah 20 menit, sang ayah mematikan api. Ia menyisihkan wortel dan menaruhnya di mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lainnya.

Lalu ia bertanya kepada anaknya, “Apa yang kau lihat, nak?” “Wortel, telur, dan kopi” jawab si anak. Ayahnya mengajaknya mendekat dan memintanya merasakan wortel itu. Ia melakukannya dan merasakan bahwa wortel itu terasa lunak. Ayahnya lalu memintanya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia mendapati sebuah telur rebus yang mengeras. Terakhir, ayahnya memintanya untuk mencicipi kopi. Ia tersenyum ketika mencicipi kopi dengan aromanya yang khas.

Setelah itu, si anak bertanya, “Apa arti semua ini, Ayah?” Ayahnya menerangkan bahwa ketiganya telah menghadapi kesulitan yang sama, perebusan, tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang beribueda.
Wortel sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, wortel menjadi lembut dan lunak.

Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkang tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras.
Bubuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, bubuk kopi merubah air tersebut. “Kamu termasuk yang mana?,” tanya ayahnya. “Ketika kesulitan mendatangimu, bagaimana kau menghadapinya? Apakah kamu wortel, telur atau kopi?”

Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu adalah wortel yang kelihatannya keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kamu menyerah, menjadi lunak dan kehilangan kekuatanmu.

Apakah kamu adalah telur, yang awalnya memiliki hati lembut? Dengan jiwa yang dinamis, namun setelah adanya kematian, patah hati, perceraian atau pemecatan menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kamu menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku?

Ataukah kamu adalah bubuk kopi? Bubuk kopi merubah air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasanya yang maksimal pada suhu 100 derajat Celcius. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat. Jika kamu seperti bubuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk, kamu akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitarmu juga membaik.

22 May, 2013

Gaji Ayah



Suatu hari, seorang anak menunggu sang ayah yang pulang bekerja. Si anak tak sabar seraya melirik jam dinding yang tergantung di ruang depan. Pukul 16.00. Belum ada tanda-tanda kepulangan sang ayah. Hingga pukul 18.00,deru mesin mobil sang ayah terdengar. Si anak meloncat gembira dan berlari menuju pintu rumahnya.

"Anakmu sedari tadi menunggu kedatanganmu, Ayah" ujar Bunda.
"Ada apa anak ayah ini?" tanya sang ayah sambil menggendong dan menciumi pipi anaknya.
"Aku ingin bertanya, Ayah.. Berapa gaji Ayah dalam 1 jam?"
"Hmm.. 1 hari ayah bekerja 10 jam dengan gaji 100 ribu per hari," jawab sang ayah.
"Berarti, ayah dibayar 10 ribu untuk 1 jam?" sahut si anak.
"Tepat sekali, anak pintar," ayah memuji.
Si anak terdiam dan tertunduk lesu. Wajahnya menunjukkan kekecewaan,
"Ayah, bolehkah aku meminjam uang 5 ribu pada ayah? Aku janji akan menggantinya,"
"Berhentilah bermain, anakku. Ayah lelah dan ingin istirahat," seru sang ayah yang mulai malas menanggapi permintaan aneh gadis kecilnya.
Mendapati sang ayah tak peduli, gadis kecil itu mulai menangis dan berlari ke kamar. Sang bunda, hanya bisa menatap kesedihan putrinya.
"Turuti saja keinginannya, belakangan.. Ia sering sekali murung,"
Sang ayah terenyuh. Diundurkan niatnya untuk mandi dan beranjak ke kamar si anak.
"Gadis kecilku, bukan maksud ayah menyakitimu. Maafkan ayah ya.. Kalau kamu ingin sesuatu katakan saja, tidak perlu meminjam uang seperti itu," ayah mengusap kepala anaknya.
Gadis kecil terisak pelan sambil menatap kumpulan uang logam dan kertas di tangannya.
"Tidak, Ayah. Aku tidak mau mengganggu pekerjaan Ayah. Tapi, aku cuma punya 15 ribu untuk membayar Ayah menemaniku, padahal aku ingin bersama dengan Ayah dalam 2 jam hari ini saja."
Sang ayah terhenyak dan memeluk erat gadis kecilnya seraya menghujaninya dengan ribuan kasih sayang..

"Tak seharusnya cinta dan kasih sayang ditukar dengan materi apa pun.. Karena cinta kasih itu tak ternilai dan tak terbatas.. Didapat bukan karena uang, tapi ketulusan untuk saling menyayangi tanpa mengharapkan imbalan...
Saatnya kita menyayangi orang-orang yang telah ada untuk kita kapanpun dan di mana pun mereka.." 

Text Widget