Pages

Showing posts with label Refleksi Kuliah tha. Show all posts
Showing posts with label Refleksi Kuliah tha. Show all posts

25 June, 2013

Kualifikasi seperti apa yang dibutuhkan dalam membuat artikel penelitian?


Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membuat sebuah artikel hasil penelitian. Kualifikasinya harus berupa karya tulis ilmiah, di antaranya,
   a.       Ragam bahasa
Bahasa yang digunakan dalam membuat sebuah artikel hasil penelitian haruslah lugas, lurus, monosemantis, dan ajeg (Harjasujana,1993:3). Bahasa dalam ragam keilmuan harus cermat dan hemat karena menghendaki respon yang pasti dari pembacanya.kelugasan, keobjektifitasan, dan keajegan bahasa artikel hasil penelitian membedakannya dari ragam yang lain, seperti ragam bahasa sastra yang halus, estetis, dan ragam bahasa jurnalistik yang singkat, jelas dan padat.
  b.      Struktur artikel hasil penelitian
Artikel ilmiah yang didasarkan hasil penelitian secara umum terdiri atas tujuh hal yaitu judul, abstrak, pendahuluan, cara penelitian, hasil penelitian dan pembahasan, simpulan dan daftar pustaka.
1.      Judul artikel
Tidak harus sama dengan judul laporan penelitian. Di bawah judul dicantumkan nama penulis tanpa gelar dan lembaga tempat bertugas.
2.      Abstrak
Memuat inti permasalahan, cara penelitian, hasil dan kesimpulan. Abstrak tidak boleh lebih dari 100 kata. Artikel berbahasa Indonesia, abstrak ditulis berbahasa inggris. Artikel berbahasa inggris, abstrak ditulis berbahasa Indonesia. Di akhir abstrak ditulis kata-kata kunci (keywords).
3.      Pendahuluan
Berisi latar belakang masalah (mengapa masalah itu diteliti), perumusan masalah, tinjauan pustaka, dan keterangan-keterangan terkait dengan tulisan.
4.      Cara penelitian
Menguraikan cara-cara pelaksanaan penelitian mencakup subjek penelitian, populasi dan sampel, pengumpulan data dan teknik analisis data.
5.      Hasil penelitian pembahasan
Berisi uraian hasil yang diperoleh kemudian diberi pembahasan(penjelasan) ilmiah berdasarkan rujuka tertentu sehingga masalah yang dikemukakan dapat dipecahkan. Hasil penelitian juga dibandingkan dengan hasil-hasil penelitian yang relevan.
6.      Simpulan
Memuat pernyataan singkat tentang hasil penelitian yang diperoleh sesuai dengan rumusan permasalahan.
7.      Daftar pustaka
Hanya memuat pustaka yang dipakai dalam penyusunan artikel ilmiah saja. Tidak perlu sama dengan daftar pustaka yang terdapat dalam laporan penelitian.
  c.       Etika penulisan
Ciri-ciri keilmiahan artikel ilmiah (hasil penelitian) seperti berikut ini. Pertama, objektif, artinya isi artikel hanya dapat dikembangkan dari keadaan actual yang memang exist, walaupun eksistensi fenomena yang menjadi focus bahasannya berbeda antar bidang ilmu yang satu dengan yang lain. Kedua, rasional yang merupakan tradisi ilmuwan. Ketiga, kritis karena berfungsi sebagai wahana menyampaikan kritik timbale balik terhadap sesuatu yang dipersoalkan. Keempat, reserved(menahan diri, hati-hati) jujur, lugas dan tidak menyertakan motif-motif pribadi dan kepentingan tertentu. Pengutipan sumber harus disertai identitas sumber yang jelas.

Menulis Artikel Hasil Penelitian


1.      Alasan perlunya pemahaman penulisan tentang artikel hasil penelitian
Menulis merupakan sebuah kegiatan aktualisasi diri. Berdasarkan tujuannya, kegiatan menulis terbagi menjadi dua. Pertama, kegiatan menulis didasarkan pada tugas dan tuntutan profesinya. Contohnya, seorang mahasiswa S1 menulis skripsi agar ia memperoleh ijazah. Penelitian merupakan salah satu contoh produk karya tulis ilmiah.  Kedua, kegiatan menulis karena ingin mengekspresikan gagasannya tanpa harus dikaitkan dengan tugas dengan tujuan rekreasi dan kontemplasi. Contohnya, seorang ibu rumah tangga menulis novel atau cerpen bertemakan cerita cinta anak remaja.
Menurut medianya, menulis dapat dilakukan di jurnal ilmiah, majalah, surat kabar dan media online. Menurut jenisnya, dibedakan menjadi karya ilmiah dan nonilmiah seperti cerpen, novel dan esai sastra budaya. Menurut tingkat keilmiahannya, karya ilmiah secara gradasi diurutkan (a) jurnal ilmiah, (b) buku ilmiah, (c) laporan penelitian, (d) makalah seminar, (e) karya ilmiah popular di media massa seperti opini dan feature. Kualifikasi ilmiah ditandai oleh seperangkat pernyataan pikiran yang tegas, ringkas, jelas dan menggunakan ragam bahasa baku.[1]
Dan dalam kaitannya dengan pemberdayaan guru dan dosen dalam dunia pendidikan perlu merealisasikan publikasi ilmiah dalam bentuk karya ilmiah. Karya tulis guru dan dosen merupakan salah satu tolok ukur serta barometer kualitas pendidikan. Gagasan, pemikiran, refleksi dan temuan harus disampaikan pada masyarakat. Di antaranya melalui pembuatan sebuah artikel hasil penelitian yang biasanya banyak terdapat di jurnal-jurnal sekolah ataupun kampus. Dan salah satu kendala yang dihadapi guru dan dosen dalam pengembangan keilmuan adalah kecil dan rendahnya mutu karya ilmiah yang diterbitkan dalam setiap tahun (Rifai,1993:3). Oleh karenanya diperlukan adanya sebuah pemahaman mengenai penulisan tentang artikel hasil penelitian.

2.      Masalah seperti apa yang dapat dijadikan penelitian?
Untuk menentukan apakah masalah yang akan ditulis tepat atau tidak, perlu diajukan berbagai pertanyaan. Jika jawabannya positif maka masalah tersebut memang perlu ditulis dalam artikel. Pertanyaan-pertanyaan tersebut di antaranya:
  a.       Dapatkah masalah tersebut ditulis secara ilmiah, adakah data atau informasi yang relevan dan dapat dikumpulkan untuk menguji teori atau memecahkan masalah?
Maksudnya, pemikiran tentang data dan informasi yang mendukung dan relevan  untuk menguji teori ada atau tidak. Jika tidak ada, maka masalah tersebut tidaklah layak diangkat menjadi sebuah artikel karena tidak mempunyai dasar atau landasan dalam mengembangkannya.
  b.      Apakah masalah tersebut cukup bermanfaat?
Maksudnya, bila anda telah menemukan sebuah masalah untuk diteliti, anda harus memikirkan untuk apa sebenarnya masalah ini dibahas. Apakah ada kebermanfaatan apabila masalah ini berhasil dipecahkan? Bila tidak membawa perubahan yang lebih baik, maka masalah tersebut tidak layak untuk dijadikan artikel karena tidak berguna.
  c.       Apakah masalah tersebut memang baru?
Melihat pada isu perubahan yang terjadi disertai perkembangannya. Bila masalah yang ingin anda teliti out of date maka tidak perlu dibuat sebagai sebuah artikel.
  d.      Apakah masalah tersebut layak ditulis?
Yang dimaksud dengan kelayakan di sini didasarkan pertimbangan seperti kemampuan yang dimiliki, kemungkinan diperoleh informasi yang diperlukan, tersedianya dana, waktu, memiliki keberanian moral, berpikir logis dan memiliki keyakinan apa yang akan ditulis. Kemampuan yang dimiliki lebih kepada bidang yang anda kuasai, bila anda merasa tidak cocok dan tidak begitu paham dengan penelitian yang anda lakukan maka gantilah sesuai dengan bidang yang anda kuasai. Kemungkinan diperoleh informasi yang diperlukan, mengukur tingkat kesulitan mendapat berbagai data yang mendukung penelitian anda. Tersedianya dana dan waktu, sangat jelas harus disesuaikan dengan sumber daya yang anda miliki dan bagaimana memanajemennya. Memiliki keberanian moral, tentunya dalam membuat sebuah artikel hasil penelitian anda harus siap untuk dikritik atau dimintai pertanggungjawaban atas tulisan anda. Berpikir logis, artikel hasil penelitian yang anda tulis harus rasional sesuai dengan pemahaman manusia. Dan jika anda ingin membuat sebuah artikel hasil penelitian, anda harus yakin sepenuhnya dengan apa yang akan anda tulis.


[1] Suroso. Menulis Karya Tulis Ilmiah dengan Gaya Penulisan. Teknodik. 2007. h 211

Perubahan Organisasi Tradisional menjadi Organisasi Belajar



Seperti konsep organisasi belajar yang telah kita pelajari sebelumnya, berubah menjadi organisasi yang belajar bukanlah hal yang mudah. Karena dalam perubahan suatu organisasi, tidaklah hanya strategi organisasi saja yang akan berubah melainkan juga berbagai unsur-unsur organisasi lainnya. Utamanya adalah dalam merubah budaya organisasi misalnya, untuk merubah budaya organisasi yang telah mengakar kuat dan bahkan telah mendarah daging dibutuhkan usaha yang sangat kuat, baik itu dilakukan oleh pemimpin organisasi maupun juga oleh para anggota organisasi. Perubahan yang dilakukan pun bukanlah perubahan yang sifatnya fundamental melainkan suatu perubahan berkala yang dilakukan secara terus menerus hingga organisasi tersebut benar-benar telah menjadi seuatu organisasi yang belajar.
Ada 3 konsep cara yang dapat ditempuh untuk melakukan suatu perubahan di dalam tubuh organisasi yang sifatnya tradisional, yakni:
1)                  Melihat
Melihat dalam konteks ini adalah bahwa setiap individu yang ada di dalam tubuh organisasi dapat melihat dan menilai bahwa suatu perubahan itu adalah suatu kebutuhan bukan menjadi suatu keharusan. Pemimpin mempunyai tugas untuk dapat membuka sudut pandang anggota organisasi tersebut serta merubah paradigma lama menjadi sebuah paradigma baru yang dapat merubah budaya kerja yang lebih positif (Menuju pencapaian visi bersama).
2)                  Bergerak
Permasalahan berikutnya adalah setelah individu-individu tersebut melihat bahwa perubahan adalah menjadi bagian dari kebutuhan organisasi, ternyata ada sebagian individu yang tidak dapat langsung bergerak (tidak responsif) terhadap kebutuhan perubahan di suatu organisasi. Ataupun yang bergerak, tetapi tidak dapat menyelesaikan (gagal) untuk mewujudkan perubahan organisasi hingga tuntas. Sehingga dengan demikian peran pemimpin organisasi sangat dibutuhkan untuk dapat mengakomodasi setiap pergerakan yang dilakukan menuju kearah yang tepat.
3)                  Penyelesaian perubahan hingga tuntas
Perubahan harus dilakukan hingga tuntas dan sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan organisasi. Karena jika hal tersebut tidak dapat dilaksanakan dengan baik, maka setiap perubahan tersebut menjadi tidak efektif (terhadap pencapaian tujuan perubahan) dan juga dapat menghabiskan sumber daya yang digunakan (tidak efisien). Dan pemimpin mempunyai peranan untuk memberi energi sampai individu-individu tersebut dapat menyelesaikan perubahan tersebut hingga tuntas.

Perubahan Organisasi Tradisional menjadi Organisasi Belajar



Seperti konsep organisasi belajar yang telah kita pelajari sebelumnya, berubah menjadi organisasi yang belajar bukanlah hal yang mudah. Karena dalam perubahan suatu organisasi, tidaklah hanya strategi organisasi saja yang akan berubah melainkan juga berbagai unsur-unsur organisasi lainnya. Utamanya adalah dalam merubah budaya organisasi misalnya, untuk merubah budaya organisasi yang telah mengakar kuat dan bahkan telah mendarah daging dibutuhkan usaha yang sangat kuat, baik itu dilakukan oleh pemimpin organisasi maupun juga oleh para anggota organisasi. Perubahan yang dilakukan pun bukanlah perubahan yang sifatnya fundamental melainkan suatu perubahan berkala yang dilakukan secara terus menerus hingga organisasi tersebut benar-benar telah menjadi seuatu organisasi yang belajar.
Ada 3 konsep cara yang dapat ditempuh untuk melakukan suatu perubahan di dalam tubuh organisasi yang sifatnya tradisional, yakni:
1)                  Melihat
Melihat dalam konteks ini adalah bahwa setiap individu yang ada di dalam tubuh organisasi dapat melihat dan menilai bahwa suatu perubahan itu adalah suatu kebutuhan bukan menjadi suatu keharusan. Pemimpin mempunyai tugas untuk dapat membuka sudut pandang anggota organisasi tersebut serta merubah paradigma lama menjadi sebuah paradigma baru yang dapat merubah budaya kerja yang lebih positif (Menuju pencapaian visi bersama).
2)                  Bergerak
Permasalahan berikutnya adalah setelah individu-individu tersebut melihat bahwa perubahan adalah menjadi bagian dari kebutuhan organisasi, ternyata ada sebagian individu yang tidak dapat langsung bergerak (tidak responsif) terhadap kebutuhan perubahan di suatu organisasi. Ataupun yang bergerak, tetapi tidak dapat menyelesaikan (gagal) untuk mewujudkan perubahan organisasi hingga tuntas. Sehingga dengan demikian peran pemimpin organisasi sangat dibutuhkan untuk dapat mengakomodasi setiap pergerakan yang dilakukan menuju kearah yang tepat.
3)                  Penyelesaian perubahan hingga tuntas
Perubahan harus dilakukan hingga tuntas dan sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan organisasi. Karena jika hal tersebut tidak dapat dilaksanakan dengan baik, maka setiap perubahan tersebut menjadi tidak efektif (terhadap pencapaian tujuan perubahan) dan juga dapat menghabiskan sumber daya yang digunakan (tidak efisien). Dan pemimpin mempunyai peranan untuk memberi energi sampai individu-individu tersebut dapat menyelesaikan perubahan tersebut hingga tuntas.

Sekilas tentang Organisasi


A. Pengertian organisasi
Organisasi adalah suatu sekumpulan individu yang mempunyai tujuan dan aktifitas yang sama dalam rangka mewujudkan visi organisasi tersebut demi tercapainya kesejahteraan bersama. Pengertian organisasi seperti ini adalah pengertian organisasi tradisional yang artinya organisasi ini belum dapat memfasilitasi kegiatan belajar anggotanya sehingga potensi yang dimiliki oleh para anggotanya belum dapat tergali secara optimal. Sedang Menurut Marquardt, organisasi belajar adalah organisasi yang belajar bersama dengan sungguh-sungguh, dan senantiasa mentransformasikan diri dengan mengumpulkan, mengelola, dan menggunakan pengetahuan untuk keberhasilan usaha. Ia memberdayakan orang-orang baik di dalam maupun luar organisasi belajar sambil bekerja. Dalam sub system organisasi belajar terdapat beberapa unsur, yakni:
§  Visi Organisasi
§  Struktur Organisasi
§  Strategi Organisasi
§  Budaya Organisasi
Keseluruhan unsur tersebut merupakan bagian penting dalam organisasi, karena unsur-unsur tersebut memiliki keterkaitan satu sama lainnya guna mewujudkan tujuan bersama yang telah ditentukan oleh para anggota organisasi tersebut. Untuk lebih memperjelas unsur tersebut, berikut adalah penjelasan tentang unsur-unsur yang dimaksud:

I. Visi Organisasi
Visi merupakan suatu perwujudan dari tujuan organisasi dan alasan organisasi tersebut didirikan. Visi merupakan hakikat dasar dari organisasi yang menjadi tolak ukur setiap kinerja, karena itu setiap aktifitas yang dilakukan harus dapat sejalan dengan visi organisasi. Visi bentuknya singkat, padat dan mempunyai makna yang jelas serta merupakan representasi dari setiap para anggota organisasi.
(Mis: Menjadi perusahaan perbankan terbaik di Indonesia yang mampu mensejahterakan karyawannya)
Visi bersama mengarahkan individu dan organisasi untuk mencapai tujuan. Langkah yang penting menjadi organisasi belajar ialah membangun pondasi organisasi yang kuat melalui visi bersama tentang pembelajaran, disertai penilaian organisasi untuk menjadi sebuah organisasi belajar. Dengan visi, maka pekerjaan menjadi fokus dan adanya energi untuk belajar. Visi menyebabkan orang ingin mewujudkan apa yang diinginkan, menggambarkan tentang harapan dan mimpi yang ingin diwujudkan. Dengan visi pula, menimbulkan energi untuk berpikir cara baru dan melakukannya untuk mencapai target.
Dan hendaknya visi tersebut tidak hanya sekedar diketahui, melainkan juga di pahami sehingga dapat mempermudah untuk di afiliasikan pada setiap anggota organisasi tersebut agar menjadi visi bersama. Ini lah peranan seorang pemimpin, karena ia yang memiliki andil untuk menyamakan persepsi para anggotanya terhadap visi bersama organisasi tersebut.

II. Struktur Organisasi
Dalam setiap organisasi terdapat struktur organisasi yang bertjuan untk membantu para anggota organisasi dalam menjalankan fungsi dan tanggung jawabnya di organisasi. Karena dalam aktifitasnya setiap anggota dituntut untuk dapat bekerja secara tim, sehingga strukturisasi organisasi sangatlah dibutuhkan utamanya dalam menentukan pemimpin organisasi serta jobdesk yang menjadi tanggung jawab setiap bagian organisasi.
Kekuatan pimpinan sangat dipengaruhi oleh struktur dalam organisasi. Kualitas struktur sangat menentukan dalam mengontrol ke dalam organisasi berupa pekerjaan, monitoring kerja, garis komunikasi dan proses pembuatan keputusan yang dikeluarkan oleh organisasi. Adapun karakteristik organisasi belajar, strukturnya bersifat fleksibel, terbuka, bebas, dan memiliki banyak peluang untuk belajar.


III. Strategi Organisasi
Strategi dalam suatu organisasi bertujuan untuk mengarahkan segala tindakan serta kebijakan-kebijakan yang ada dalam organisasi menjadi efektif dan efisien. Strategi tersebut dapat dipengaruhi oleh 2 faktor, yakni faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam organisasi itu sendiri, baik terkait pemimpin organisasi, anggota organisasi, budaya kerja organisasi, dll. Sedangkan untuk faktor eksternal hal ini dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitar organisasi, baik itu dalam perubahan lingkungan, isu-isu yang sedang berkembang maupun tuntutan masyarakat yang datang ke organisasi itu sendiri. Untuk itu dalam konteks ini organisasi harus mampu mengembangkan kemampuannya dalam mempertahankan eksistensinya terhadap lingkungan sekitar, dan ini sejalan pula dengan konsep “organisasi belajar”.

IV. Budaya Organisasi
Menurut The American Herritage Dictionary mengartikan kebudayaan adalah sebagai suatu keseluruhan dari pola perilaku yang dikirimkan melalui kehidupan sosial, seni, agama, kelembagaan, dan semua hasil kerja dan pemikiran manusia dari suatu kelompok manusia.
Menurut Koentjaraningrat, budaya adalah keseluruhan sistem gagasan tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan cara belajar.
Budaya kerja adalah suatu falsafah dengan didasari pandangan hidup sebagai nilai-nilai yang menjadi sifat, kebiasaan dan juga pendorong yang dibudayakan dalam suatu kelompok dan tercermin dalam sikap menjadi perilaku, cita-cita, pendapat, pandangan serta tindakan yang terwujud sebagai kerja.
Sedangkan tujuan atau manfaat dari budaya kerja memiliki tujuan untuk mengubah sikap dan juga perilaku SDM yang ada agar dapat meningkatkan produktivitas kerja untuk menghadapi berbagai tantangan di masa yang akan datang.
Manfaat dari penerapan budaya kerja yang baik :                 
1.                   meningkatkan jiwa gotong royong
2.                   meningkatkan kebersamaan
3.                   saling terbuka satu sama lain
4.                   meningkatkan jiwa kekeluargaan
5.                   meningkatkan rasa kekeluargaan
6.                   membangun komunikasi yang lebih baik
7.                   meningkatkan produktivitas kerja
8.                   tanggap dengan perkembangan dunia luar, dll.
Sedangkan menurut Michael J. Marquardt, jalan, hal kepercayaan, berpikir dan bertindak dalam simbol kepahlawanan, nilai-nilai dalam organisasi disebut sebagai budaya organisasi. Menurut Marquardt, untuk menjadi sebuah organisasi belajar harus mempunyai nilai-nilai, menerima resiko, mencoba pendekatan baru dan berbagi informasi. Nilai-nilai budaya yang sebaiknya diterapkan dalam organisasi dijabarkan sebagai berikut :
  1. Iklim perusahaan yang menghargai belajar dengan nilai tinggi.
  2. Tanggung jawab belajar ialah milik semua elemen dalam perusahaan atau organisasi. Artinya budaya menjadi roda pada organisasi belajar dalam mencapai visi melalui belajar.
  3. Kepercayaan dan otonomi. Setiap orang saling mempercayai dan memberi perhatian satu sama lain.
  4. Dukungan untuk inovasi, eksperimen, dan menerima resiko. Organisasi belajar harus mampu dan melangkah dengan pasti untuk mendorong anggota organisasi sebanyak mungkin untuk menerima resiko, berpikir inovatif dan keluar dari kebiasaan meminta dan menunggu instruksi.
  5. Komitmen keuangan kepada pelatihan dan pengembangan anggota. Organisasi belajar harus memiliki komitmen kuat dalam mengalokasikan keuangan dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya mereka melalui program pelatihan dan pengembangan.
  6. Komitmen untuk terus meningkatkan produk dan pelayanan.
  7. Respon terhadap perubahan dan kekacauan yang mungkin terjadi.
  8. Kualitas kehidupan dalam bekerja. Organisasi belajar komitmen terhadap pengembangan tentang potensi manusia di dalam lingkungan yang mengundang partisipasi dan kenikmatan dalam bekerja.

Text Widget