Pages

18 August, 2025

[Review buku] Lima cerita: kisah-kisah menjadi dewasa




Judul: Lima cerita (kisah-kisah menjadi dewasa)
Penulis: Desi Anwar
Penerbit: GPU
Dimensi: 5 bab epub, cetakan pertama 2019, edisi digital RBK
ISBN: 9786020613673

Lima cerita pendek dengan tokoh utama perempuan, menggambarkan ragam konflik yang dialami saat menuju dewasa. Pahitnya perbedaan pandangan yang pada akhirnya menemukan solusi meski tidak sepakat. Seperti tokoh Aku di cerita "Kematian", yang menggambarkan renggangnya hubungan putri dan ayah. Padahal ayahnya terkenal baik, dosen yang pintar dan ramah, namun di mata anaknya ia hanyalah sebentuk kegagalan dan banyak kekurangan. Tapi, saat kematian ayahnya terjadi, ia merasakan suatu emosi yang histeris dan bagai kehilangan jangkar sejenak.

Lalu tokoh Djuna di "Cerita Delia", yang menemukan sosok panutan dalam diri Delia yang lebih tua 10 tahun darinya. Aktivis feminis, memiliki suami dan kucing, pintar dan sangat sehat. Sayang, panutannya itu bernasib menyedihkan setelah bercerai dan akhirnya terlantar.

Sementara kisah "Pedihnya pendewasaan" mengingatkanku pada novel A untuk Amanda di mana tokoh utamanya juga merasa fake terhadap dirinya dan ketakutan bahwa semua kehebatan yang ia bangun akan hancur ketika ada yang sadar bahwa ia tidak sehebat itu. Ia tidak pernah gagal sehingga mengalami nervous breakdown (gangguan saraf).

Lalu tokoh Adela di "Cinta sempurna" yang seumur hidupnya menginginkan cinta yang sempurna dan pada akhirnya mendapatkan kenyataan bahwa kesempurnaan itu didapatkan dari pertumbuhan yang melalui luka, bukan sekadar romansa.

Terakhir ada May di "Ibu yang baik" yang cukup membuat saya sedih dengan love hate relationship mereka. Bagaimana pandangan ibu yang melampaui zamannya dan cara mengasuh yang melukai ternyata berasal dari luka masa kecil akibat pengabaian ayah (kakek May) dan ibu (nenek May) yang mati muda. 

Cocok untuk yang suka kumpulan cerpen dengan tokoh utama perempuan dan alur menjadi dewasa.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

Meta Morfillah

#1hari1tulisan #bookstagram #oneweekonebook #resensibuku #reviewbuku #bacabuku #limacerita #kisahkisahmenjadidewasa #desianwar #metamorfillah #fiksi

13 August, 2025

[Review buku] #DearTomorrow



Judul: #DearTomorrow Notes to my future self
Penulis: Maudy Ayunda
Penerbit: Bentang
Dimensi: 193 hal, cetakan pertama April 2018, edisi digital ipusnas
ISBN: 9786024301934

Penulis yang juga artis ini dikenal dengan kecintaannya pada ilmu, hingga ia lulus dari Oxford. Meski begitu, ia tetaplah manusia, perempuan, milenial yang juga memiliki pemikiran dan perjuangannya sendiri. Dalam buku ini, kita bisa mengenal lebih dekat sosok Maudy Ayunda yang terlihat smart dan introvert dengan lebih baik.

Ditulis dalam bahasa inggris yang easy, buku ini berisi pemikiran penulis dengan 4 tema besar: being yourself, dreams, love, dan mindsets. Meski halamannya sedikit, tapi isinya dalam dan merupakan refleksi gagasan yang tidak enteng. Sehingga saya perlu memperpanjang masa pinjam di ipusnas untuk menikmatinya. Membaca buku ini seperti kita diajak berdialog tentang diri, ada pertanyaan sebelum tidur, pertanyaan saat bangun, playlist di suasana hati tertentu, kata-kata penguat, dan foto penulis yang menarik dan mempertajam pesan. 

Saya tidak mengapresiasi 5 bintang, meski banyak sekali quote yang saya notice dari buku ini, sebab ada pemikiran penulis yang agak bertentangan (tentang feminisme) dengan prinsip saya. Tapi tak apa, seperti yang dikatakan penulis, untuk menghindari salah paham mungkin kita perlu ngobrol langsung.

Cocok untuk yang suka genre non fiksi, self development, dan ditulis dalam bahasa inggris.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

Meta Morfillah

#1hari1tulisan #bookstagram #oneweekonebook #resensibuku #reviewbuku #bacabuku #notestomyfutureself #maudyayunda #metamorfillah #nonfiksi #OWOBMembaca2025

[Review buku] Cursed bunny



Judul: Cursed bunny
Penulis: Bora Chung
Penerbit: Haru
Dimensi: 396 hal, cetakan pertama September 2022, edisi digital RBK
ISBN: 9786235467023

Sepuluh cerita pendek yang membuat bulu kuduk merinding, tapi mikir setelah bacanya. Sebab pada dasarnya semua tokoh memiliki satu kesamaan: kesepian. Selain itu kritik sosial pun terasa meski tidak tajam, seperti patriarki (penulis asal korea selatan), isu sampah, kapitalis, dan lainnya. 

Di antara 10 cerpen, saya paling suka judul "Perangkap" yang memadukan mitologi rubah penghasil emas dengan keserakahan manusia. Lalu 2 cerpen yang membuat saya merenung panjang yaitu "Si Kepala" yang menyadarkan betapa ngerinya bila kita tidak aware dengan sampah yang kita hasilkan, dan "Menstruasi" yang menyindir fatherless dengan bentuk bayi surealis.

Empat cerpen horor tentang hantu ada di "Kelinci terkutuk", "Jari-jari yang dingin", "Rumahku istanaku", dan "Reuni". Lalu ada 2 cerpen fantasi yang tetap dark/gore berjudul "Bekas luka" dan "Penguasa angin dan pasir". Terakhir cerpen "Selamat tinggal, Cintaku" bertema futuristik dan fiksi ilmiah tentang android yang bisa merasa dan memilih keputusan.

Cocok untuk yang suka genre horor, thriller, surealis, dan fantasy dalam bentuk kumpulan cerpen.

Saya apresiasi 5 dari 5 bintang.

Meta Morfillah

#1hari1tulisan #bookstagram #oneweekonebook #resensibuku #reviewbuku #bacabuku #cursedbunny #borachung #metamorfillah #fiksi 

11 August, 2025

[Review buku] Purple eyes



Judul: Purple eyes
Penulis: Prisca Primasari
Penerbit: Inari
Dimensi: 144 hal, cetakan pertama Mei 2016, edisi digital RBK
ISBN: 9786027432208

Ivarr Amundsen memilih mematikan hatinya agar tidak merasa, setelah kematian adiknya, Nikolai. Dengan penyakit kanker darah yang dimilikinya, serta kehilangan beruntun dari kematian orangtua yang kecelakaan dan adiknya yang dibunuh, ia tidak lagi semangat menjalani hidup. Tinggal menunggu kematian menjemput. Namun, hal itu berubah dengan kedatangan Solveig dan atasannya, Halstein. Gadis Inggris yang terasa janggal namun menghidupkan hatinya, ternyata memiliki misi misterius. Solveig tidak boleh jatuh cinta pada manusia. Sayangnya, Ivarr dan Solveig bagai kepingan puzzle yang cocok. Bisakah mereka bersatu, dengan segala perbedaan mereka? Apakah misi Halstein dan Solveig untuk menemukan pembunuh berantai yang membunuh Nikolai tercapai?

Awal hingga tengah kisah begitu menarik. Saya suka sekali penggambaran karakter Hades dan Lyre, didukung latar musim dingin di Norwegia dan penguat pencarian pembunuh berantai. Namun, buku ini memang bukan genre thriller/misteri, sehingga dengan halaman yang sedikit, fokus penulis kembali pada romance yang dibalut mitologi/fairytale di negara latarnya. Di sanalah kurang serunya dimulai. Sebab tidak dibahas bagaimana Hades mendapat ide dan menemukan pembunuh, romansa Ivarr dan Solveig pun terasa kurang dalam (sebab waktunya singkat), lalu kelanjutan Lyre setelah kembali dari bumi. Endingnya memang tersirat happy, namun masih banyak pertanyaan yang mengganjal di kepala.

Cocok untuk yang suka genre fantasy, romance, dan fairy tale/mitologi.

Saya apresiasi 3 dari 5 bintang.

Meta Morfillah

#1hari1tulisan #bookstagram #oneweekonebook #resensibuku #reviewbuku #bacabuku #purpleeyes #priscaprimasari #metamorfillah #fiksi #fantasy

07 August, 2025

[Review buku] Tingka (buku 3)



Judul: Tingka (buku 3)
Penulis: Nicco Machi
Penerbit: Elex Media Komputindo
Dimensi: 143 hal, cetakan pertama 2021, edisi digital ipusnas
ISBN: -

Wor membuat Joe pingsan saat ia berusaha masuk ke dalam mercusuar. Namun di mercusuar itu akhirnya Joe, Sir, dan Wor menemukan kenyataan pahit akan sosok Hamba Agung Dei. Hubungannya dengan Tazky dan Sir, serta masa lalu yang menjadi ironi di masa depan. Keputusan Sir yang berdampak pada hidup Wor, serta hubungan Bri dan Nis pada akhirnya. Akankah takdir berulang seperti itu di Pulau Tingka?

Wah, plot twist banget! Siapa sangka ternyata Sir adalah tokoh utama dan kunci dari semua takdir memilukan di trilogi buku ini. Meski tetap ada yang tidak saya pahami sebab kurang kuat untuk dasar konflik. Paradoks jati diri Dei dan fitrahnya yang dilampiaskan pada wanita setempat, tapi beralasan suci yang ternyata demi putri. Semua itu bertentangan dan kayak aneh banget gak, sih? Kurang masuk dengan Dei yang digambarkan Sir serta Wor sebelum berangkat merantau. Lalu misi Joe juga antiklimaks banget di ending ini. Belum lagi kunjungan singkat Mindy dan Tazky saat itu, buat apa dan kurang jadi dasar untuk Tazky menurut saya, sebab hanya sekali dan sebentar. Dari mana dia lihat sosok ayahnya? Itu sih kritikan terkait ending kisah ini. Soalnya buku satu dan dua keren, tapi di buku ketiga ada yang kurang make sense bagi saya.

Cocok untuk yang suka genre thriller, misteri, dan antropologi tentang kepercayaan.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

Meta Morfillah

#1hari1tulisan #bookstagram #oneweekonebook #resensibuku #reviewbuku #bacabuku #tingka #bagiantiga #niccomachi #metamorfillah #fiksi

[Review buku] Tingka (buku 2)



Judul: Tingka (buku 2)
Penulis: Nicco Machi
Penerbit: Elex Media Komputindo
Dimensi: 131 hal, cetakan pertama 2021, edisi digital ipusnas
ISBN: -

Joe memulai wawancaranya tentang kepercayaan Midaya di Pulau Tingka. Namun, saat menanyakan sosok Hamba Agung Dei semua menjawab tidak pernah ada nama itu. Bahkan data penduduk pun tidak memuatnya. Hampir saja Joe meyakini itu sebagai sebuah kebenaran, kalau saja ia tidak ingat pada Tazky yang mengajarkannya untuk membaca gestur manusia. Semua gestur yang didapat bermuara pada satu kesimpulan: bohong. Di manakah sebenarnya Hamba Agung Dei berada? Apa yang ditutupi dari sosok tersebut?

Buku dua ini jauh lebih page turner ya, meski halamannya lebih banyak. Sebab inilah klimaks konfliknya. Kisah kelam beberapa tokoh mulai terkuak dan mendekati konklusi. Saya masih terpukau dengan ide penulis mengangkat konflik penghayatan kepercayaan dan membuat tempat fiksi menjadi believeable. Lanjut lah ke buku ketiga!

Cocok untuk yang suka genre thriller, misteri, dan antropologi tentang kepercayaan.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

Meta Morfillah

#1hari1tulisan #bookstagram #oneweekonebook #resensibuku #reviewbuku #bacabuku #tingka #bagiandua #niccomachi #metamorfillah #fiksi

06 August, 2025

[Review buku] Tingka (buku 1)



Judul: Tingka (buku 1)
Penulis: Nicco Machi
Penerbit: Elex Media Komputindo
Dimensi: 112 hal, cetakan pertama 2021, edisi digital ipusnas
ISBN: -

Joe datang ke Pulau Tingka dengan menyamar jadi Tazki yang akan melakukan penelitian terhadap kepercayaan Midaya. Ia membawa misi pribadi. Sementara itu, ada tragedi yang terjadi 3 tahun lalu, yang berdampak pada kesehatan Hamba Agung Yul. Semua berpusat di mercusuar yang terbengkalai dan menjadi sumber cerita hantu bagi anak remaja seperti Fikar, Nis, dan Bri. Apakah misi Joe? Tragedi apa yang terjadi 3 tahun lalu? Apa yang ada di mercusuar?

Begitu banyak pertanyaan di buku bagian satu dari trilogi Tingka. Dari awal kisah kepercayaan Midaya, kalimatnya memikat saya dan membuat tak berhenti ingin membaca (page turner banget!) hingga tak sadar sudah tamat. Untungnya bagian 2 dan 3 sudah saya pinjam juga di ipusnas, sehingga bisa saya lanjutkan segera. Saking Pulau Tingka rasanya nyata, saya sampai searching apakah benar ada pulau dan kepercayaan itu. Lalu saya ketemu blog penulisnya ( https://apotekhidupkartikajaya.wordpress.com/2021/05/05/tingka-si-anak-dengan-effort-terbesar/ ) dan banyak pertanyaan di kepala terjawab saat membacanya. Ukuran font yang cukup besar di ipusnas ini juga bikin gak pusing, jadi bisa untuk yang lagi reading slump juga. Di bagian 1 ini masih orientasi dan membangun karakter serta history, jadi memang banyak pengenalan tokoh. Kuy, lanjut buku kedua!

Cocok untuk yang suka genre thriller, misteri, dan antropologi tentang kepercayaan.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

Meta Morfillah

#1hari1tulisan #bookstagram #oneweekonebook #resensibuku #reviewbuku #bacabuku #tingka #bagiansatu #niccomachi #metamorfillah #fiksi

[Review buku] Lord Edgware dies



Judul: Lord Edgware dies
Penulis: Agatha Christie
Penerbit: GPU
Dimensi: 336 hal, cetakan kedelapan Oktober 2013, edisi digital ipusnas
ISBN: 9786020610375

Jane Wilkinson, seorang aktris cantik dan terkenal, menyatakan keinginan membunuh suaminya, Lord Edgware pada Hercule Poirot dan tamu undangan. Tak lama, Poirot menerima kabar bahwa Lord Edgware mati dibunuh. Tersangka utamanya adalah Jane. Di saat yang sama, alibi Jane begitu kuat sebab sedang menghadiri pesta di Chiswick. Dengan menelusuri motif, didapat nama kemenakan, Ronald Marsh yang diduga kuat sebagai pembunuh. Namun pembunuhan kedua dan ketiga yang menimpa Carlotta dan Ross menunjukkan bukan Ronald pelakunya. Dengan celetukan orang di jalan, akhirnya Poirot berhasil menemukan pelaku yang memainkan pikiran Poirot. Hampir saja kasus ini menjadi kegagalan terbesarnya.

Secara cerita, dari awal saya sudah menebak pelaku dan caranya, sebab memang clue sejelas itu. Distraksi yang diberikan pun tetap menguatkan saya pada pelaku sebenarnya. Hanya lagi-lagi motif yang kurang saya pahami sebab memang berdasarkan kultural dan religiusitas masa itu. Hal lain yang disayangkan, sebab saya membacanya di ipusnas adalah edisi digitalnya begitu buruk. Seperti scan buku, diubah ke pdf, dan tidak konsisten. Ada yang jelas, ada yang buram sekali, bahkan nyaris hilang hurufnya seperti buku bajakan.

Cocok untuk yang suka genre thriller, misteri, pembunuhan, dan tokoh detektif Hercule Poirot.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

Meta Morfillah

#1hari1tulisan #bookstagram #oneweekonebook #resensibuku #reviewbuku #bacabuku #lordedgwaredies #matinyalordedgware #agathachristie #metamorfillah #fiksi #herculepoirot

04 August, 2025

[Review buku] Three act tragedy



Judul: Three act tragedy
Penulis: Agatha Christie
Penerbit: GPU
Dimensi: 288 hal, cetakan keenam Agustus 2018
ISBN: 9786020383682

Poirot diundang ke sebuah jamuan yang diadakan oleh mantan aktor berusia 55 tahun. Di sana terbunuh seorang pastor tua yang baik. Tak lama, ada jamuan kedua dan menyebabkan kematian dokter saraf terkenal yang juga menjadi tamu di pesta sebelumnya. Dengan modus yang sama, keracunan nikotin, kedua kejadian itu pun dianggap berkaitan dan dilakukan oleh orang yang sama. Tepatnya orang yang menjadi tamu dalam 2 pesta itu. Hal ini mengerucutkan pada 7 nama tamu yang hadir. Berbekal itulah, Poirot menyelidiki masa lalu untuk mengetahui motif dasar sebuah pembunuhan.

Dari awal membaca, kecurigaan saya besar terhadap pelaku. Sebab judul dan narasinya mendukung sekali pada seorang pelaku. Saat terbukti benar dugaan saya, tetap saja dalam proses menuju ending banyak pengalih perhatian yang sempat menggoyahkan. Meski begitu, memang masih tetap porsi besar kecurigaan saya tertebak saat wawancara satu per satu tamu dilakukan. Endingnya pun khas Poirot, yang selalu menekankan bahwa motif utama pembunuhan selalu tentang keinginan dasar. Kali ini tentang keserakahan dan cinta yang terhalang agama dan negara. Urutan pembunuhan pun saya bisa tebak, sebab familiar pada sebuah cerita di mana ada pembunuhan pengalih perhatian untuk tidak dicurigai pembunuhan utamanya. Bahasanya ringan dan seru untuk dinikmati sekali duduk.

Cocok untuk yang suka genre thriller, misteri, pembunuhan, dan tokoh detektif Hercule Poirot.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

Meta Morfillah

#1hari1tulisan #bookstagram #oneweekonebook #resensibuku #reviewbuku #bacabuku #threeacttragedy #trageditigababak #agathachristie #metamorfillah #fiksi #herculepoirot

03 August, 2025

[Review buku] Jatuh hati pada Montessori



Judul: Jatuh hati pada Montessori
Penulis: Vidya Dwina Paramita
Penerbit: B first
Dimensi: 216 hal, cetakan ketujuh Agustus 2019
ISBN: 9786024260750

Apa yang terbayang saat mendengar kata "Montessori"?

Bagi saya aparatusnya yang mahal, baru tokoh bernama Maria Montessori. Baru setelah membaca buku ini saya memahami filosofi Montessori dari sejarahnya hingga praktik penulisnya. Meski saat menuliskan buku ini, penulis belum memiliki anak kandung, namun terasa sekali perjuangannya memahami dunia anak sebagai orang dewasa yang sadar. Penerapan Montessori pun berdampak baik bagi manajemen emosi dan kesadaran berperan penulis di pendidikan anak usia dini.

Banyak kalimat yang lahir dan "jleb" sebab memang hasil observasi dan pengalaman jujur. Meski saya bukan Montessorian dan anak saya tidak sekolah di sekolah yang menerapkan Montessori, buku ini tetap useful dan memberi perspektif baru serta dalam untuk melihat kembali cara belajar anak yang berfokus pada proses. Tidak seperti orang dewasa yang berfokus pada hasil. Bahasanya ringan dan dilengkapi foto-foto kegiatan serta sedikit penjelasan aparatus Montessori dan fungsinya. Ada juga beberapa contoh lesson plan.

Cocok untuk orangtua, guru paud, dan yang tertarik pada montessori.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

Meta Morfillah

#1hari1tulisan #bookstagram #oneweekonebook #resensibuku #reviewbuku #bacabuku #jatuhhatipadamontessori #montessori #vidyadwinaparamita #metamorfillah #nonfiksi #parenting

Text Widget